11 November 2019

Dunia Baru dan Parade Kecemasan dalam "Peer Gynts di Larantuka"


Dunia yang kian berubah membawa konsekuensi baru seperti kecemasan. Teater Garasi merespons isu tersebut dengan pertunjukan "Peer Gynts di Larantuka"

“Sebentar malam ada pesta,” ucap Geri disambung senyum. Pemuda jatmika ini adalah salah seorang karyawan di penginapan tempat saya tinggal selama di Larantuka. Bila pagi dan petang datang, ia menawarkan teh, kopi, dan camilan. Keramahannya membikin sajian yang ia antarkan terasa semakin sedap.

Pesta yang ia maksud adalah saat para remaja dan pemuda berkumpul di pusat kota Larantuka, memutar musik bervolume keras sembari bercengkerama. Larantuka memang kota yang gandrung musik, setidaknya itulah kesan yang saya rasakan selama empat hari berkunjung di ibu kota Kabupaten Flores Timur tersebut.

Hampir semua angkutan umum dilengkapi pemutar musik dan pengeras suara. Musik menghentak sepanjang kendaraan berjalan dan berhenti. Bila malam hampir larut, masih terdengar alunan musik dari sejumlah rumah warga.

Meski demikian, semua bunyi-bunyian yang terdengar sejak siang sampai menjelang larut malam itu masih dalam batas yang wajar. Hentakan musik tak membuat pekak. Demikian pula suara motor yang kadang dipacu cukup kencang pada malam hari, yang sesekali ban depannya diangkat sebagai ikhtiar atraksi anak muda di ruang publik.

Kota yang sempat dijadikan judul lagu oleh grup musik SAS ini lebih menguarkan keramahan ketimbang keresahan. Singkatnya, baik-baik saja. Sampai akhirnya pertunjukan “Peer Gynts di Larantuka (Kisah Para Pengelana dari Asia)” pada 6 Juli 2019 di Taman Kota Larantuka, yang diproduksi Teater Garasi mewedarkan hal lain.



Para Pengelana yang Resah

Peer Gynt tanpa “s” merupakan naskah kanon karya Henrik Ibsen, dramawan asal Norwegia, yang ditulis pada pertengahan abad ke-19. Naskah ini mengisahkan petualangan Peer Gynt dalam memasuki dunia yang tengah berubah.

Ia menentang nilai-nilai yang berlaku di masyarakat karena membuatnya resah. Selama perjalanan, pelbagai pengalaman menderanya. Peer Gynt akhirnya pulang, kembali ke kampung halamannya.

Keresahan ternyata tak hanya dirasakan Peer Gynt, tapi juga oleh Anitra (diperankan oleh Venuri Perera asal Sri Lanka)—pemimpin suku tempat Peer Gynt sempat terdampar.

Di panggung pertunjukan, perempuan itu bercerita dalam bahasa Sinhala. Saat narator menerjemahkan kisah yang ia sampaikan, penonton akhirnya tahu, Venuri ternyata mengabarkan situasi di Sri Lanka yang bertubi-tubi dilanda kekacauan politik dan kekerasan sektarian.

Narator terus bercerita, sementara Venuri menyunggi batu sembari mengangkat salah satu kaki dan menekuknya. Ia susah payah menjaga keseimbangan. Mulutnya komat-kamit, tatapannya nyalang, bola matanya bergerak-gerak. Beban dan keresahan yang ia rasakan, juga warga Sri Lanka lainnya, tergambar dalam adegan tersebut.

Sementara sebelumnya, Peer Gynt yang berkelana, yang diperankan Takao Tawaguchi asal Jepang, berguling-guling, mengganyang daun, bergelantungan, dan meringis kesakitan.

Dua adegan paling dramatis dalam pertunjukan teater itu membuat penonton termangu. Tak hanya itu, “pengelana dari Asia” lainnya, baik yang ikut tampil di atas panggung, maupun berperan sebagai pendukung pertunjukan yang membuat kisah menjadi utuh, membuat penonton tak beranjak sampai pertunjukan yang berdurasi sekitar 1 jam itu selesai.

Selain Venuri Perera (Sri Lanka) dan Takao Tawaguchi (Jepang), ada pula Micari dan Yasuhiro Morinaga (keduanya berasal dari Jepang), M.N. Qomaruddin, Arsita Iswardhani, dan Ignatius Sugiarto (Teater Garasi), serta sejumlah seniman dari Flores Timur, yakni Silverter Petara Hurit, Inno Koten, Dominikus Dei, Lidvina Lito Kellen, Aloysius Wadan Gawang, Veronika Ratumakin, Stanley Tukan, Philipus Tukan, Magdalena Oa Eda Tukan, Rusmin Kopong Hoda, dan Beatrix Tukan.

Sehari sebelum “Peer Gynts di Larantuka” dipentaskan, sebagaimana Venuri yang mengabarkan keresahannya tentang pelbagai peristiwa yang mendera Sri Lanka, Takao Tawaguchi juga mengutarakan isu sosial yang tengah terjadi di negaranya.

Baginya, masyarakat dunia yang menganggap Jepang sebagai negara maju adalah sesuatu yang rumit, sebab kenyataannya Jepang juga tak lepas dari pelbagai peristiwa sosial yang meresahkan.

Isu tentang pekerjaan, gaji, jomplangnya antara si miskin dan si kaya, kiwari tengah meruyak di negaranya. Mereka juga masih dalam tahap pemulihan pascabencana gempa bumi dan tsunami di Tohoku pada 2001, serta bencana nuklir di Fukushima.

“Dan globalisasi tidak [selamanya] membawa sesuatu yang positif. Dalam pelbagai aspek dan terutama pada kehidupan sehari-hari, tidak sebaik yang orang kira,” ucapnya.



Trauma dan Kegelisahan Kultural

“Ketika kami di Flores Timur, saya mendapatkan inspirasi untuk membuat satu proyek seni pertunjukan perihal rasa takut, kecemasan, dalam hubungannya dengan dunia yang semakin kompleks, dan semakin terhubung,” ujar Yudi Ahmad Tajudin, sang sutradara pertunjukan.

Ia kemudian menyadari bahwa isu tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia, khususnya Flores Timur, tapi juga di terjadi di banyak tempat, di pelbagai belahan dunia. Setelah berdiskusi dengan para seniman Teater Garasi lainnya, sebuah gagasan tercetus: mereka berniat membuat proyek kolaborasi dengan sejumlah seniman Asia.

“Interaksi ini juga lahir dari satu cerita saya,” timpal Silvester Petara Hurit, salah seorang yang tampil dalam pertunjukan, yang juga penggerak teater di Flores Timur.

Kegelisahan yang ditampilkan di panggung pertunjukan nyatanya terkait erat dengan situasi sosial yang tengah terjadi di Flores Timur, khususnya Larantuka.

Silvester bertutur, tahun 1970 rumah adat Lewotala, Lewolema, Flores Timur dibongkar dan dibakar. Sejumlah ekspresi kultural masyarakat seperti menyanyi, menari, menenun, dan tato etnik dilarang.

“[Dilarang] Oleh entahlah, olehnya itu juga kami bingung, [tapi] kami lihat ada dua institusi yang barangkali berperan di situ,” imbuhnya.

Kedua institusi yang ia maksud adalah agama dan negara. Agama menuduh tradisi leluhurnya sebagai praktik kekafiran dan pemujaan terhadap berhala. Sementara kondisi sosial politik mendorong negara mengharuskan masyarakat memiliki agama yang diakui pemerintah. Selain itu, masyarakat juga dipaksa meninggalkan kampung, membangun desa baru, membuat sistem administrasi, dan lain-lain.

Keresahannya juga menimbulkan kecurigaan bahwa di balik pemusnahan tradisi itu bisa jadi ada kekuatan pasar yang mengincar dan memburu barang-barang antik. Sebab setelah kejadian tersebut banyak barang pusaka yang diperjualbelikan.

Kekalutan itu semakin menjadi-jadi lantaran peristiwa pembongkaran rumah adat itu dilakukan oleh masyarakat setempat. Mula-mula anak-anak muda dididik di sekolah, kemudian menjadi aparat hansip, lalu entah kenapa mereka kemudian yang mengeksekusi pembongkaran rumah adat.

Para tetua tak berdaya menggugat dan melawan. Mereka hanya bisa menyaksikan warisan nenek moyang mereka sejak berabad-abad lampau itu hancur tak bersisa.
Silvester dan para pemuda lain yang mempunyai kesadaran yang sama dengannya menyayangkan kejadian itu. Ia melihat bahwa para tetua dan orang-orang terdahulu di kampung halamannya, yang ekspresi kulturalnya dituduh praktik kekafiran dan pemujaan berhala, adalah orang-orang yang lurus, jujur, dan menjaga kebersamaan.

“Karena bagaimana pun hidup di alam yang keras seperti ini tentu ada ketergantungan produktif satu sama lain, itu juga yang kemudian membuat toleransi menjadi kuat. Orang yang ada di gunung, kebutuhannya di-support oleh orang-orang pesisir yang rata-rata Muslim. Banyak hal yang indah dan dirawat bersama,” ungkapnya.

Contoh lain dari kebersamaan yang mewujud menjadi sikap toleransi adalah tentang konsep mayoritas-minoritas. Menurutnya, masyarakat Flores Timur mempunyai pandangan khusus terhadap tamu, meskipun sekarang sudah agak bergeser. Bagi mereka, tamu dipercaya sebagai pembawa keberuntungan dan keberkahan, karenanya mesti diutamakan dengan diperlakukan sebaik-baiknya.

Di sejumlah desa di Larantuka, imbuhnya, bukan sesuatu yang janggal apabila di sebuah desa hanya terdapat satu orang Muslim di tengah warga Katolik, dan orang Muslim itu diangkat sebagai kepala desa.

“Karena itu konsep mayoritas minoritas sebenarnya dalam kearifan masyarakat di sini justru yang minoritas itu diutamakan. [Namun] ketika institusi agama menguat, justru kami merasakan bahwa yang membedakan kami dan bukan kami malah menjadi kuat. Ini kan persoalan,” ujarnya.



Antara Tuan Ma dan Tanah Ekan

Maria, atau orang Larantuka menyebutnya Tuan Ma, adalah sosok yang begitu penting bagi masyarakat kota tersebut. Salah satu penghormatan kepadanya telah dilakukan sejak ratusan tahun silam yang bernama ritual Semana Santa atau Pekan Suci Paskah. Patungnya yang dulu ditemukan warga di tepi laut, setiap tahun diarak keliling kota.

Menurut Silvester, kuatnya sosok Maria dibanding Yesus di Larantuka tak lepas dari tradisi masyarakat lokal yang sangat menghormati ibu. Dalam kepercayaan masyarakat Lamaholot ada ungkapan “Rera Wulan Tanah Ekan” atau artinya kurang lebih “matahari bulan dan bumi dengan segala isinya”.

Ungkapan tersebut adalah simbol keilahian, dan bumi—sebagaimana terjadi di banyak tempat di Indonesia—dimaknai sebagai ibu, perempuan, kesuburan, dan sebagainya.

“Rumah itu perempuan, makanan juga lahir dari perempuan, mata air adalah perempuan, dan lain-lain,” ungkap Silvester.

Maka tak mengherankan jika kemudian Tuan Ma menjadi sosok yang begitu dihormati di Larantuka jika melihat konsep kedewian Ilahi tersebut. Namun ketegangan kemudian terjadi saat gereja merasa punya hak atas Tuan Ma. Padahal menurut Silvester, masyarakat lokal juga merasa bahwa itu tradisi mereka, milik suku mereka, yang telah berabad silam menghormati sosok ibu.

“Saya pernah garap pertunjukan Tuan Ma, tapi malah tidak jadi pentas, [karena] diancam [akan] diserang. Saya garap kedatangannya, tapi saya tafsir dalam perspektif kedewian Ilahi orang Lamaholot. Kan di sini ada figur perempuan juga,” ucapnya.

Di titik ini, keresahan yang dirasakan Silvester dan kawan-kawan atas situasi sosial yang terjadi di Flores Timur jelas amat beririsan dengan apa yang dipentaskan dalam lakon “Peer Gynts di Larantuka”. Dan memang dari cerita merekalah gagasan pertunjukan tersebut bermula.

Penuturan Yudi, terlebih Silvester, akhirnya mengubah simpulan saya terhadap Larantuka dalam amatan yang sangat singkat dari tanggal 4 sampai 7 Juli 2019. Kota ini seolah-olah terdiri dari lapisan-lapisan yang rumit.

Geri sang pelayan jatmika, para nelayan, orang-orang di pasar, menguarkan keramahan dan tentang hidup yang baik-baik saja. Sementara ekspresi para remaja dan pemuda yang gandrung terhadap musik memberikan gambaran lain tentang tradisi yang berkawin dengan modernitas. Dan lapisan yang sulit dilihat sekilas, tak tampak dari luar, adalah apa yang dikisahkan dan menjadi sumber keresahan sebagian pemuda setempat seperti Silvester.

Parade keresahan Venuri, Takao, Silvester, dan para seniman lainnya menjadi secuplik kisah tentang isu ketakutan dan kecemasan, juga keterhubungan, akibat dunia yang kian berubah dan semakin kompleks. Mereka hanya sampel atas isu yang terjadi di banyak tempat.

Karena itu Yudi mengatakan, “Dan memang kami kepingin proyek ini, membicarakan isu ini, juga [dilakukan] di banyak tempat lain di Asia dengan konteks yang berbeda-beda.” (irf)




Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 17 Juli 2019

02 November 2019

Sobron Aidit yang Berenang-renang ke Surga



Di hari tuanya, Sobron Aidit banyak menulis kuliner, pengalaman masa kecil, serta kegalauan ditinggal kawan-kawan lama. 

“Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna ‘yang kalah’, air terus berpendar berkecipak menciumi tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejumput abu Bro. ‘Tuhan, siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.’ Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga…”

Begitu akhir hidup Bro dalam cerpen Melarung Bro di Nantalu karya Martin Aleida yang sempat memicu 
perdebatan tentang Trotskyisme. Dalam cerpen tersebut diceritakan kehidupan Bro ketika hidup di luar negeri, yakni di Tiongkok dan Prancis. Narasi riwayat kehidupan inilah yang memicu silang pendapat antara Martin Aleida dengan Tatiana Lukman.

Tatiana menuduh Martin telah berbohong dengan mengisahkan Bro sebagai orang yang amat sengsara dan blangsak dirundung Revolusi Kebudayaan dan sempat luntang-lantung di Paris. Padahal menurut Tatiana, hidup Bro tak seburuk itu. Siapa sebetulnya tokoh yang mereka perdebatkan?

Bro atau Sobron Aidit lahir di Tanjung Pandan, Belitung, pada 2 Juni 1934. Dia adik dedengkot PKI, Dipa Nusantara Aidit. Abdullah Aidit, ayahnya, menikah dua kali. Pertama beristrikan Nyi Ayu Mailan dan mempunyai anak: Achmad (DN. Aidit), Basri, Ibrahim, dan Murad. Dari pernikahannya yang kedua, yaitu dengan Marisah, punya anak lagi: Sobron dan Asahan.

Tahun 1948 Sobron merantau ke Jakarta. Dalam Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara (2010) karya Tempo, di Jakarta Sobron bertemu dengan Chairil Anwar dan sastrawan lainnya seperti Rivai Apin, Asrul Sani, dan H.B. Jassin. Sobron sejak remaja menyukai sastra. Pada usia 13 tahun, atas bantuan Chairil Anwar, puisinya dimuat di Mimbar Indonesia.

“Malam setelah sajak itu dimuat, Chairil mentraktirnya makan-makan. Sobron menyantap soto, empal, nasi campur, dan rupa-rupa lauk. Sesudah makan, Sobron baru tahu bahwa uang makan itu adalah honor puisinya di Mimbar Indonesia,” tulis Tempo.

Sebagai pengarang muda, Sobron juga bertemu dengan pengarang muda yang lain seperti Ajip Rosidi, SM Ardan, Soekanto S.A., Sjumandjaja, Riyono Pratikno, dll. Bersama Ajip dan Ardan, mereka membuat buku kumpulan puisi bersama bertajuk Ketemu di Jalan (1955). Menurut Ajip, judul buku diusulkan Ardan dan proyek buku tersebut terinspirasi Tiga Menguak Takdir (1950) karya Chairil Anwal, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Sekali waktu mereka mengadakan perjalanan ke kampung Ajip di Jatiwangi. Mula-mula mereka turun di stasiun Bandung, disambung becak ke Dago, dan esoknya dilanjutkan pakai bus ke Cirebon. Perjalanan mereka, kata Ajip, menyenangkan karena belum ada pertikaian berdasarkan paham politik atau keyakinan agama.

“Aku satu becak dengan Soekanto. Sobron dengan Sjumandjaja. Tukang becak yang menarik Sobron ngos-ngosan karena Sobron tubuhnya gendut. Sjumandjaja menyuruh tukang becak itu turun, lalu dia yang menggenjot becak yang ditumpangi Sobron sampai ke tujuan. Tukang becak itu mendorong sambil lari-lari kecil di belakangnya,” tulis Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah (2008: 101)

Sebelum badai politik 65 terjadi, bersama sejumlah wartawan dan seniman Indonesia, Sobron berangkat ke Tiongkok untuk memenuhi undangan pemerintah Tiongkok dalam rangka HUT RRT. Sejak itu ia kesulitan untuk kembali ke tanah air. Baru tahun 1996 ia pulang untuk pertama kalinya ke Belitung. Dan setelah Soeharto lengser, Sobron mulai kerap pulang ke Indonesia.


Suka Masak dan Doyan Makan

Setelah keluar dari Tiongkok ketika Revolusi Kebudayaan berlangsung, Sobron kemudian pindah ke Eropa dan menetap di Paris. Bersama beberapa orang koleganya, ia membuka restoran “Indonesia” yang menyajikan ragam hidangan Nusantara. Kisah jatuh bangun memperjuangkan restoran tersebut ia tulis dalam Melawan dengan Restoran (2007).

Selama tinggal di Eropa dan teknologi komunikasi memungkinkan ia berhubungan langsung dengan orang-orang di Indonesia, Sobron mulai aktif di berbagai grup milis. Ia rajin menuliskan ketertarikan dan pengalamannya dengan kuliner. Beberapa catatannya tentang kuliner sempat dihimpun dalam memoar Surat Kepada Tuhan (2003).

Sekali waktu ia menceritakan cara memasak Sop Buntut dan ketertarikan kepada Guo Ba—masakan Cina yang ia dapatkan ketika singgah di Chengdu, ibukota Provinsi Sechuan di barat laut Tiongkok.

“Di sebuah restoran kami lihat, petugas resto menyiramkan sup yang entah apa isinya, ke dalam mangkuk besar atau pinggan cekung besar yang ada gorengan kerak. Dan bunyinya berdesis…serrr…panjang sekali. Dan lalu asap membubul ke atas, bagus sekali. Dan bunyi desis goreng kerak panas itu ditengok orang-orang yang sedang makan di meja lain. Bau aroma harumnya sangat memikat,” tulisnya.

Di lain waktu ia 
menulis surat dari Jakarta membicarakan tentang makanan dan selera. Menurutnya, Jakarta adalah kota yang melimpah oleh makanan lezat, ada bakmi, tahu nenek-moyang, roti cane, dll. Ia juga menulis kenangannya pada tahun 1950-an dan 1960-an tentang para pedagang makanan yang berjajar sepajang jalan Pacenongan, Sawah Besar, Pintu Besi, Glodok, Jatinegara, dan Margonda.

“Saya sangat suka roti cane, katanya asal mulanya dari Aceh. Rotinya berbentuk ada jaringan jala, karena itu ada juga yang menamakannya roti jala. Makannya pakai kuah, saos gulai kambing, acar segar, dan sambal khusus. Tapi jangan sampai kekenyangan kalau mau merasakan enak dan nikmatnya. Dan kalau kekenyangan, lalu tak terasa nikmat sedapnya,” tulis Sobron.

Selanjutnya ia bercerita ihwal sate kambing lezat di penjual yang ada di warung dan yang memakai gerobak dorong. Ia lancar berkisah, memandu pembaca mengetahui seluk beluk kuliner yang pernah ia cicip.

“Perkara sate misalnya, banyak jenisnya. Ada sate kambing Pak Kumis, ada sate kambing Mak Jalal, ada sate kambing Mpok Jarot, dan banyak lagi. Masing-masing bumbunya tidak sama dan selalu ada rahasia menunya, hak patennya,” tambahnya.

Sekali waktu Sobron dijamu makan oleh koleganya yang aktif di grup milis Jalan Sutra yang dikelola Bondan Winarno. Ia mengeluh melihat kawan-kawannya yang doyan makan tapi tubuhnya tidak gemuk seperti dirinya.


Hindun Tersayang

Sewaktu bocah dan tinggal di kampung halamannya di Tanjung Pandan, Sobron sempat berjualan makanan kecil yang ia jajakan sambil berjalan kaki dan tanpa alas kaki, sekitar tahun 1946 sampai 1948. Ia menjual kue kontol bebek atau untir-untir, pulut panggang, ketan, goreng pisang, lemper, nasi lemak, nagasari, bugis telanjang, cucur, dll.

Di kampungnya banyak terdapat permukiman orang Bugis yang berada di pelabuhan dan pasar ikan. Sobron yang menjajakan jualannya sambil berteriak, kerap merasa khawatir ketika melewati perkampungan orang Bugis tersebut. Sebabnya adalah ia menjual kue bugis telanjang. Takut orang-orang Bugis tersinggung, maka ia cukup meneriakkan hanya, “kue bugiisss…kue bugiisss…”, tanpa ditambahi kata “telanjang”. (Potret Diri dan Keluarga: 2015 hlm. 52)

Dalam berjualan, Sobron mempunyai kawan perempuan yang sama-sama menjual kue. Namanya Hindun. Kue yang dijual Hindun kebetulan berbeda dengan yang dijual Sobron. Maka mereka kerap berjalan bersama menjajakan jualannya. Lama-kelamaan, karena sering bersama, Sobron menaruh hati pada gadis itu.

“Lama-lama saya suka dengannya. Anaknya baik. Putih dan ada tahi lalat dekat bibirnya. Rambutnya halus dan hitam legam. Bila tertawa manis sekali,” kenangnya.

Sekali waktu Sobron berjualan sendirian karena Hindun sakit cacar air. Ia sambangi rumahnya sambil membawa dua buah jambu bol yang ia bungkus dengan sapu tangan bersih. Maklum orang yang tengah sakit, Hindun sangat susah makan. Namun saat Sobron membawakannya jambu bol, Hindun mau memakannya. Saat ibunya pergi ke dapur untuk memasak, ia melihat wajah Hindun agak merah, agak segar.

“Abang tetap berjaja?” Tanya Hindun

“Ya, Ndun, abang tetap berjaja dan selalu datang ke tempat yang kita biasa bertemu itu,” jawabnya.

Kisah persahabatan yang mulai menumbuhkan benih cinta itu berakhir saat Sobron harus merantau ke Jakarta. Sebelum Sobron pergi, Hindun menulis surat buat dirinya. Ia hendak menunggu Sobron walaupun entah kapan bujang pujaannya itu akan kembali.

“Berapa lama Abang akan melanjutkan sekolah di Betawi itu, rasanya Ndun akan tetap menunggu Abang. Kira-kira kita sudah pada berbesaran, mendewasa, dan kita tidak lagi berjaja seperti beberapa bulan yang lalu,” tulisnya.

Lalu Hindun bercerita kenangan-kenangannya yang indah selama bersama Sobron saat naik pohon bakau yang dihiasai pemandangan perahu-perahu nelayan di kejauhan, yang Sobron bilang sebagai kupu-kupu putih yang berkilat. Kenangan waktu menangkap ikan di muara Sungai Baro, dan kisah lainnya.

Surat itu, seperti permulaannya, dipungkas oleh kesediaannya menunggu Sobron yang hendak belajar jauh ke pulau Jawa.

“Tetapi Bang, semua ini hanyalah akan jadi kenangan yang paling menyenangkan, paling indah dalam hidup Ndun. Sekarang yang jadi pertanyaan Ndun dalam hati, akan berapa lama kita terpisah karena Abang harus meneruskan sekolah ini. Rasanya, Bang, sekali lagi, rasanya, Ndun akan bertahan tetap menunggu Abang pulang, menunggu Abang, dan semoga kesampaian,” pungkasnya.

Nyatanya harapan Hindun tak kesampaian, ia tak berjodoh dengan Sobron. Hindun menikah dengan Baha, kawan dekat Sobron semasa kecil.

 

Galau Menjelang Pungkas Hayat

Setahun sebelum ajal menjemput, Sobron sempat menulis kegalauannya tentang kawan-kawannya yang sudah mulai berkurang, tua dan sakit, serta pergi mendahului dia. Catatan bertitimangsa 4 Mei 2006 itu dihimpun dalam Surat kepada Tuhan (2003) bertajuk “Semakin Kekeringan Persinggahan, Semakin Landai Pantai”.

Setiap pulang ke Indonesia, ia kerap berkunjung ke rumah Joebaar Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, HR. Bandaharo, Bakri Siregar, dll. Mereka mengobrol, bertukar kisah, berdebat dan bercanda. Bagi Sobron, kawan-kawannya itu ibarat persinggahan, gunung tinggi sekaligus teluk yang dalam.

Setelah Rivai Apin wafat, Joebaar Ajoeb meninggal pada tahun 1997, dan Pramoedya menyusulnya pada 30 April 2006, sementara kawan-kawannya yang lain kian tua dan sakit-sakitan, tempat persinggahan itu semakin berkurang. Ia bingung hendak ke mana lagi.

“Dulu masih begitu banyak daerah persinggahan, masih begitu banyak gunung tinggi dan teluk yang dalam yang luas. Tetapi kini rasanya sudah semakin mengecil. Sudah semakin mengering dan pantainya sudah semakin landai. Dan saya dalam hati terisak-isak sendiri. Mau ke mana saya sesudah ini? Sudah begitu kekeringan tempat persinggahan. Sudah begitu landai pantai yang dulu sangat bagus, sangat menarik dan asyik. Kini tak tahulah saya. Barangkali memang begitulah adat dunia dalam kehidupan ini,” tulisnya.

10 Februari 2007, di Paris, Sobron Aidit meninggal. Menyusul kawan-kawannya yang telah mendahului. Ia dalam kata-kata Martin di penghabisan cerpen Melarung Bro di Nantalu: “sedang berenang-renang ke surga….” (irf)



Ket:

- Pertama kali tayang di tirto.id pada 23 Maret 2018
- Foto: budidayak.blogspot.com

Saat Buya HAMKA Didakwa Melakukan Plagiat



Situasi Politik Indonesia tahun 1960-an membuat polarisasi tajam di masyarakat. Di lapangan sastra, terjadi kegaduhan karena Hamka didakwa plagiat.

Malang nian nasib Zainuddin dan Hayati. Cinta mereka dirintangi adat. Bertahun-tahun kemudian, saat ada kesempatan untuk bersatu dalam ikatan rumahtangga, nasib buru-buru menenggelamkan Hayati lewat tragedi kapal Van der Wijck yang karam di perairan Lamongan. Kisah ini berhasil membuat ribuan bahkan jutaan pembaca menumpahkan air mata.

Roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) pertama kali terbit tahun 1938. Kisah ini awalnya adalah cerita bersambung di majalah Pedoman Masjarakat pimpinan Hamka, yang kemudian diterbitkan sebagai buku oleh penerbit M. Sjarkawi, Medan.

Buku ini laris manis di pasaran. Pada cetakan keempat, seperti dikutip Asep Sambodja dalam Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (2010), Hamka mengakui hal tersebut. “Belum berapa lama tersiar, dia pun habis," tulisnya (hlm. 159).

Tahun 1962, roman ini menyulut keriuhan di lapangan sastra Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck didakwa plagiat, menjiplak Sous les Tilleuls karya pengarang Perancis Jean-Baptiste Alphonse Karr. Hamka diduga mengambilnya dari saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, Majdulin atau Magdalena (Di Bawah Naungan Pohon Tilia).

Harian Bintang Timur lewat lembaran “Lentera” yang dinakhodai Pramoedya Ananta Toer, menabuh gendang perang terbuka dengan mengobarkan kasus ini.

Muhidin M. Dahlan membongkar tumpukan koran Bintang Timur yang merekam kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tersebutdan menerbitkannya dengan tajuk Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 (2011).

Pada 7 September 1962, Abdullah Said Patmadji (Abdullah SP) menulis di lembar “Lentera” Bintang Timur: “Sekali Lagi Membaca Buah Tangan Hamka: Benarkah Dia Manfaluthi Indonesia?”

Dalam tulisannya, seperti dikutip Muhidin, Abdullah SP mula-mula menceritakan pengalamannya membaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang berhasil menumpahkan air matanya. Ia amat terkesan.

“Karya Hamka itu (cetakan pertama, th 1938), entah, sudah tujuh kali kubaca, kutelentang-telengkupkan, kutelentang-bukakan lagi, kubaca lagi, tak jemu-jemunya laksana surat Al-Fatihah. Begitu asik aku dipukau Hamka. Ia telah mengetuk gerbang hatiku, hati insani. Pernah aku membaca semalam suntuk, pernah pula pada suatu hari—sesudah membacanya, menangis sendirian di sudut sunyi…,” tulisnya.

Sukacita Abdullah SP buyar manakala mengetahui bahwa karya Hamka tersebut mirip dengan film Dumu el Hub (Airmata Cinta) yang diadaptasi dari karya Al-Manfaluthi, Majdulin atau Magdalena (Di Bawah Naungan Pohon Tilia). Abdullah SP yakin bahwa Hamka menjiplak mentah-mentah karya Al-Manfaluthi.

“… Temanya, isinya, napasnya, cuma tempat kejadian dan tokoh-tokohnya yang disulap, dengan menggunakan warna setempat …,” tambahnya.

Seminggu kemudian, Abdullah menulis lagi di media yang sama: “Aktor Tunggal dalam Bohong di Dunia”. Ia mencoba membandingkan beberapa paragraf antara Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dengan Magdalena untuk membuktikan keyakinannya bahwa Hamka plagiat.

Bohong di Dunia adalah salah satu buku Hamka yang terbit pertama kali pada tahun 1949. Judul buku tersebut sengaja ia gunakan dalam tajuk tulisan Abdullah. Tujuannya tentu untuk menyindir Hamka.

Dalam esai tersebut, ada dua hal yang menurut Abdullah memiliki kesamaan: Pertama, Hamka dan Alphonse Karr/Al-Manfaluthi menggunakan hubungan antarmanusia melalui surat persahabatan sebagai titik tolak. Kedua, jika Alphonse Karr/Al-Manfaluthi menggunakan surat-surat Magdalena kepada Suzanne, maka Hamka menggunakan surat-surat Hayati kepada Chadijah.

Setelah beberapa minggu tidak ada bahasan tentang kasus ini, Abdullah menulis lagi pada 5 Oktober 1962 dan tidak mengendurkan serangan sedikit pun. Tulisannya yang ketiga bahkan makin keras: “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” demikian judul tulisannya.

Dua hari kemudian, 7 Oktober 1962, Bintang Timur di lembaran “Lentera” menghadirkan lagi tulisan Abdullah yang kali ini esainya dilengkapi dengan “idea-script” dan “idea-strip”, membandingkan dua cerita itu dengan detail dalam beberapa bagian.

“Secara kronologis pemuatan, dilihat dari judul-judul resensi-esai Abdullah SP, tampak bahwa Pram merancang polemik ini dengan metode ‘masak air’. Mula-mula dipasang resensi-esai perkenalan masalah, lalu dinaikkan tensinya menjadi hangat untuk meminta perhatian publik dengan menampilkan perbandingan alakadarnya, yakni surat-surat. Setelah itu barulah kemudian titik didihnya dipolkan,” tulis Muhidin (hlm. 39).


Tanggapan Pembaca dan Sikap Hamka

Untuk menampung respons pembaca yang ternyata mayoritas kecewa dengan kasus ini, Bintang Timur menyediakan rubrik “Varia Hamka”. Rubrik tersebut menambah ruang untuk pembaca selain rubrik “Saran & Sasaran” yang sudah ada sejak “Lentera” hadir di Bintang Timur. Pembaca menyayangkan sikap Hamka yang bungkam, sejalan dengan seruan Abdullah SP dalam salah satu esainya: “Bicaralah Hamka! Hayaa alah falaah! Tuan Hamka!”

Endo Suwartono, pembaca yang kala itu beralamat di Cawang III, Jatinegara, berpendapat bahwa kasus ini adalah pukulan telak bagi Hamka yang telah populer dengan karya-karyanya. Ia mendesak Hamka untuk segera buka mulut menjelaskan hal ini.

“Untuk tuan Doktor tenar yang sampai sekarang masing bungkam-gagu tidak membuka suara untuk mempertahankan gelarnya. Kalau toh tuan Doktor Hamka memang di pihak yang benar artinya tidak menjiplak, apa yang tuan Doktor takutkan untuk membalas pukulan atau setidak-tidaknya menangkis tinju Abdullah yang kerdil itu?” tulisnya (hlm. 84).

Sementara Sugeng Sriadi yang beralamat di Sostrokusuman, Yogyakarta, menyambut positif langkah yang ditempuh Abdullah SP dalam usaha membongkar kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Ia berpendapat bahwa Abdullah telah menggoyang angkatan muda untuk tidak percaya begitu saja kepada apa yang telah ada.

Bagi Sugeng, seperti dikutip Muhidin, ia akan lebih berhati-hati saat berhadapan lagi dengan karya sastra Hamka yang lain, sebab selama ini ia sudah terlanjur menikmati hasil-hasil karya Hamka yang ternyata bermasalah, "... yang hanya palsu, yang diperoleh tanpa mencucurkan keringat,” begitu ia menggambarkan kekecewaannya (hlm. 85).

Pembaca lain masih banyak yang menyatakan pendapatnya, seperti Bogas Pandi dari Rawasari Jakarta, Rasuan Effendi, seorang pelajar Indonesia di Moskow, dll.

Selain para pembaca tersebut, dalam catatan Muhidin, para sastrawan pun ikut berkomentar. Sebagian membela Hamka, misalnya H.B. Jassin yang mengatakan bahwa Hamka tidak plagiat, tapi “Hamka ada pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalah sendiri. Kubu pro-Hamka lainnya adalah Goenawan Mohamad (yang tidak membahas inti persoalan Hamka, tapi membicarakan soal konsepsi), Usmar Ismail (yang hati-hati dalam menyikapi kasus ini), Anas Ma’ruf (yang menyebut tulisan Abdullah SP kurang meyakinkan).

Hamka yang bungkam, kutip Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (Asep Sambodja, 2010) dari Kritik Sastra Indonesia Modern (2002) karya Rachmat Djoko Pradopo, sebenarnya mengakui terpengaruh karya Manfaluthi. Hal itu ia sampaikan kepada wartawan Berita Minggu (30 September 1962).

Asep menambahkan bahwa sebagai terdakwa di pusaran kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Hamka mengharapkan agar kasus ini diteliti oleh ahli sastra untuk menentukan apakah romannya hasil curian, saduran, atau asli.

“Hamka mengatakan bahwa caci maki dan tuduhan plagiat itu tidak akan menjatuhkan dia dan persoalan belum selesai […] Hamka berharap dibentuk Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah di bawah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan ia bersedia memberikan keterangan,” tulisnya (hlm. 158-159).


Bukan Sekadar Persoalan Sastra

Dalam Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (2010), Asep Sambodja menjelaskan bahwa kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukan hanya persoalan sastra, tapi juga persoalan politik. Kebetulan, Hamka punya latar belakang Masyumi.

Situasi politik di sekeliling kasus dugaan plagiarisme Hamka memang sedang panas. Kekuatan politik doyong ke kiri. Pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat telah lumat disapu operasi militer pemerintah. Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang terlibat PRRI, juga sudah dibubarkan Presiden Sukarno.

Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormas terafiliasi sedang di atas angin. Palagan kebudayaan mereka kuasai. Pihak yang berseberangan disebut kontrarevolusioner. Polarisasi amat tegas, antara kawan atau lawan.

Sementara Yudiono K.S. dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (2006) menyebut kasus ini sebagai salah satu gerakan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang agresif menyingkirkan pihak-pihak yang menurut mereka tidak sejalan dengan semangat revolusi.

Ia menambahkan, selain menghajar Hamka, Lekra juga menuduh Sutan Takdir Alisjahbana dan Idrus yang waktu itu sedang berada di Malaysia sebagai orang-orang yang kontrarevolusioner. Lekra pun menuntut pemerintah pemerintah melarang buku-buku yang berseberangan dengan pahamnya.

“Pada waktu itu tuduhan [plagiat] tersebut bukan sekadar kasus kritik sastra, melainkan kegiatan bertendensi politik terhadap Hamka sebagai seorang tokoh Islam,” tulisnya (hlm. 132).

Taufiq Ismail, salah satu penandatangan Manifes Kebudayaan yang disusun kelompok anti-Lekra, menggambarkan situasi ini lewat puisi “Catatan Tahun 1965”:

“… Kita semua diperanjingkan / Gaya rabies klongsongan / Hamka diludahi Pram / Masuk Penjara Sukabumi / Jassin dicaci diserapahi / Terbenam daftar hitam …”

Meski situasi politik memengaruhi lapangan sastra, tapi menurut Rachmat Djoko Pradopo dalam Kritik Sastra Indonesia Modern (2002), dalam perspektif sejarah kritik sastra, kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dapat dipandang objektif sebagai masalah hubungan intertekstual.

Keriuhan di lapangan sastra ini kemudian mereda dan padam saat angin politik berbaik arah. G30S meletus. PKI kalah. Lekra disembelih. Kekuatan kiri padam. Kasus ini terhenti karena para penyulutnya keburu digetok Gestok. Setelah itu, giliran mereka yang—meminjam kata Taufiq Ismail—diperanjingkan oleh pihak yang menang.

Dalam pembuka buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat, Muhidin menegaskan bahwa inilah rupa sejarah sastra Indonesia yang masih sangat muda: penuh cadas, bergelombang-gelombang romantikanya, keras, gelap, manipulatif, bohong, dan culas.

“Mau ditangisi, ya. Mau diratapi, ya. Tapi itu adalah rantai. Suka atau tak suka. Semua-muanya kita terima dengan syarat-syarat dan pertimbangan karena ini sejarah kita, sejarah sastra Indonesia,” tulisnya.
(irf)


Ket:

- Pertama kali tayang di tirto.id pada 29 Maret 2018
- Foto: goodnewsfromindonesia.id 

01 November 2019

Heboh Sastra Indonesia: Mengadili Imajinasi, Jassin Masuk Bui



Cerpen "Langit Makin Mendung" karangan Kipanjikusmin menghebohkan dunia sastra Indonesia tahun 1968.
 
Para nabi yang telah pensiun dari tugas-tugasnya merasa bosan tinggal terus-menerus di surga. Mereka ingin diberi cuti untuk bergiliran turba ke bumi. Oleh karena itulah mereka kemudian membuat petisi kepada Tuhan.

Refreshing sangat perlu. Kebahagiaan berlebihan justru siksaan bagi manusia yang biasa berjuang. Kami bukan malaikat atau burung perkutut. Bibir-bibir kami sudah pegal-pegal kejang memuji kebesaran-Mu; beratus tahun tanpa henti,” begitu keluhannya.

Menanggapi hal tersebut, Tuhan hanya geleng-geleng kepala. Tak paham apa lagi yang diinginkan manusia, para nabi yang bosan itu. Maka dipanggillah Muhammad, penandatangan petisi pertama. Ditanyakan kepadanya, apakah kiranya surga selama ini kurang memberi kesenangan. Ternyata bukan itu penyebabnya, sebab surga adalah puncak kelimpahan nikmat yang tiada tara.

Lalu Tuhan bertanya lagi. Menyelidik apa kiranya alasan Muhammad ingin turba ke bumi.

“Hamba ingin mengadakan riset […] Akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga,” jawab Muhammad.

Setelah melanjutkan percakapan, dan izin sudah dikantongi, maka Muhammad bersiap turun ke bumi.

“Mintalah surat jalan pada Sulaiman yang bijak di sekretariat,” kata Tuhan.

Di surga acara pelepasan cukup meriah. Muhammad naik ke punggung buroq dan meluncur ke bumi, diikuti Jibril yang terengah-engah di belakang.

Di bumi, mereka turun di Jakarta. Aduhai kota berjuta masalah. Orang-orang sakit. Harga barang-barang melonjak. Kemiskinan. Pelacuran. Situasi politik berderak-derak. Paduka Yang Mulia Pemimpin Besar Revolusi yang sudah menjadi nabi palsu tengah mengobarkan Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komonisme). Ia juga hendak mengganyang negara tetangga yang dianggap antek Nekolim.

Istana penuh pesta. Pengemis-pengemis di luar pagar menyesali diri kenapa menjadi manusia, bukan menjadi anjing yang kekenyangan di dalam istana.

Stasiun Senen dipenuhi kecabulan yang jorok dan jijik. Dari atas atap seng, Muhammad dan Jibril yang mengubah dirinya menjadi sepasang burung elang menyaksikan kekumuhan itu.

“Di bawah-bawah gerbong, beberapa sundal tua mengerang—lagi palang merah, kena raja singa. Kemaluannya penuh borok, lalat-lalat pesta mengisap nanah […] Pemuda tanggung masuk kamar mandi berpagar sebatas dada, cuci lendir. Menyusul perempuan gemuk penuh panu di punggung, kencing dan cebok. Sekilas bau jengkol mengambang. Ketiak berkeringat amoniak, masih main akrobat di ranjang reot,” begitu keadaannya.

Presiden banyak omong dan banyak bohong. Namun Muhammad dan Jibril melihat rakyat biasa saja. Tak heran dan tak marah. Mereka seperti sudah terbiasa menghadapi presiden yang buka mulut seenaknya. Rakyat itu begitu pemaaf dan baik hati. Kebobrokan pemimpin selalu diterima dengan lapang dada.


Siapa Menabur Angin, Dia Menuai Badai

Kisah tersebut berjudul Langit Makin Mendung, ditulis oleh Kipanjikusmin dalam majalah Sastra Th. VI No. 8, Agustus 1968, yang dipimpin oleh H.B. Jassin. Dalam beberapa catatan, penulisan nama pengarang cerpen ini cukup beragam: Ki Pandji Kusmin, Ki Panji Kusmin, Kipandjikusmin, dan Kipanjikusmin. Saya mengacu pada penulisan yang ada dalam pledoi Jassin, yaitu Kipanjikusmin.

Cerita ini tentu saja meledakkan amarah umat Islam yang menganggap cerita itu menghina Tuhan, malaikat dan nabi. Kipanjikusmin dan redaktur Sastra dikecam. Kantor majalah pun dirusak oleh massa yang muntab. 4 Februari 1970, Jassin diseret ke pengadilan. Sementara Kipanjikusmin (nama pena), dirahasiakan oleh Jassin. Paus sastra itu maju sebagai martir.

Agus Rois dalam Teror, Catatan Filsafat dan Politik tentang Firman dan Iman (2016) menerangkan bahwa pasca Orde Lama runtuh, situasi Jakarta sudah tidak panas. Tak ada lagi teriakan “ganyang setan-setan kota”, “seret kabir, gantung pencoleng, dan koruptor ke pengadilan terbuka”, atau teriakan “hidup Nasakom”.

Namun, ketika Jassin maju ke muka pengadilan, suasana Jakarta kembali menghangat. Ibu-ibu yang sabar mengantre beras karena demokrasi terpimpin bangkrut, sibuk juga oleh kasus Langit Makin Mendung. Orang-orang marah tak menerima nabinya olok-olok oleh si kurang ajar.

Di persidangan, pengunjung menyesaki ruangan. Mereka geram terhadap terdakwa, dan hendak mengetahui hukuman apa yang kiranya akan dijatuhkan kepada si penista agama itu.

“Sidangnya dibuka dengan satu ketukan palu. Tapi, lima menit kemudian sidang ditutup suara koor pengunjung. Persoalannya sepele, pembela Jassin belum kelar membaca berkas perkara. Sidang dilanjutkan enam hari kemudian,” tulisnya.

Agus menambahkan, pada sidang selanjutnya ruangan penuh sesak oleh tukang ojek, dosen, mahasiswa, sastrawan, wartawan, serta ulama. Jassin duduk tenang di kursi pesakitan. Sementara beberapa juru foto tak hentinya mengarahkan kamera ke arah terdakwa.

Sebagian lainnya yang menghadiri persidangan tertahan di luar karena gedung telah sesak. Mereka membentangkan poster dan berteriak-teriak.

“Jassin, seorang penulis yang gagah berani, hari itu selama beberapa puluh menit dicecar hakim,” tulis Agus.


Pembelaan Jassin

Setelah menghaturkan hormat kepada hakim dan pengadilan, Jassin kemudian membuka pledoinya dengan tenang. Menurutnya, inilah kesempatan baginya untuk menjelaskan sesuatu yang penting bagi pengarang Indonesia dan masyarakat umum yang menanggapinya.

“Saya merasa gembira pula, karena inilah yang pertama kali suatu peristiwa sastra mendapat kehormatan bersejarah berdiri di tengah-tengah perhatian, sekalipun sebagai terdakwa di depan forum pengadilan,” ujarnya.

Jassin menjelaskan kenapa ia berani maju mempertanggungjawabkan naskah yang ia terbitkan di majalah Sastra. Selain karena memang kewajibannya, juga hendak menerangkan hal-hal yang kiranya dapat menjadi perhitungan hakim dalam mengambil keputusan.

Ia tak takut ancaman dan cemoohan. Meskipun katanya ada sebagian orang yang menasihatinya untuk tidak berpanjang lebar apalagi membela pendirian, sebab konon hal tersebut berbahaya dan akan kena ganyang, tapi Jassin tak gentar. Ia malah menyerang balik orang-orang tersebut dengan sinis.

“Demikianlah Saudara Hakim situasi di negara kita ini, sebagian orang masih hidup dalam semangat berkelompok seperti serigala, menyerbu beramai-ramai, tak berani bertanggung jawab sendiri. Sebagian orang masih mendasarkan pendiriannya pada ketakutan dan keselamatan diri, bukan pada apa yang dianggapnya kebenaran dan keadilan,” kata Jassin.

Sebelum masuk ke pokok persoalan dakwaan, Jassin terlebih dulu mempersoalkan urusan status hukum dirinya. Dua hal yang ia pertanyakan.

Pertama, cerpen Langit Makin Mendung yang terbit pada Agustus 1968, sudah dicabut oleh si pengarang dalam surat permohonan maafnya pada 22 Oktober 1968, dan ia meminta cerpen tersebut dianggap tidak ada saja.

“Maka bagaimanakah kita bisa bicara tentang suatu hal yang tidak ada lagi dan malahan menuntut orang yang sudah mencabut sumber perkara itu?” ujarnya.

Kedua, berdasarkan KUHP Pasal 78, Jassin menganggap perkara ini sudah kadaluwarsa. Sebab cerpen ini terbit pada Agustus 1968, sementara penuntutan ke muka pengadilan baru diajukan 17 bulan kemudian. Padahal dalam pasal tersebut, jangka waktu kadaluwarsa untuk pelanggaran dengan barang cetakan adalah 12 bulan.

Setelah mengemukakan dua soal tersebut, barulah Jassin masuk ke pokok masalah Langit Makin Mendung, cerpen yang ia bela.

Ia menyebutkan bahwa yang diadili bukanlah dirinya, bukan pula Kipanjikusmin si pengarang cerpen tersebut, yang diadili adalah imajinasi milik seniman Indonesia. Dan pemilik hasil imajinasi itu adalah masyarakat Indonesia.

“Saudara sedang mengadili imajinasi kreatif yang sedang menuntut kebebasannya, hendak melepaskan segala belenggunya, demi kemajuan seni dan pemikiran di Indonesia,” tambahnya.

Titik tolak Jassin untuk membantah segala tuduhan Penuntut Umum dan Saksi Pemberat adalah bahwa ada perbedaan yang mendasar antara dunia imajinasi dengan dunia historis. Langit Makin Mendung, tambah Jassin, adalah karya fiksi, dunia imajinasi. Bukan sejarah, bukan kenyataan objektif, oleh karenanya akan sia-sia jika berbicara dari dunia yang berlainan ini.

Menurut pengamatannya selama persidangan, hukum positif tidak mengandung aturan-aturan yang menampung alam dunia imajinasi seniman. Sehingga alam dunia imajinasi seniman ditanggapi seolah-olah menanggapi dunia hukum positif.

“Dengan demikian para seniman senantiasa terancam bahaya rongrongan sebagai penjahat-penjahat yang selalu mau merusak hukum-hukum positif dengan dunianya yang imajiner,” tambah Jassin.

Jassin menyebut seluruh spekulasi manusia tentang Ketuhanan, hanyalah satu pembuktian dari ketidakmampuan manusia menggambarkan Tuhan dengan sifat-sifat manusia, yang memakai alat-alat komunikasi manusia.

“Maka apa gunanya kita menghebohkan seorang Kipanjikusmin yang menggambarkan Tuhan sebagai seorang tua yang berkaca emas model kuno dan menggeleng-geleng memikirkan tingkah laku manusia? Apakah Kipanjikusmin telah membikin penemuan baru yang memutlakkan kebenarannya tentang Zat Tuhan? Ataukah dia pun hanya seorang dari kita manusia yang membuktikan ketidakmampuannya merangkum Zat Tuhan? Kipanjikusman tahu dan setiap orang pun tahu bahwa rupa yag digambarkannya itu bukanlah Tuhan yang sesungguhnya,” terang Jassin.

Dalam konteks seni, menurut Jassin, imajinasi seperti itu diperlukan, sebab tak ada seni tanpa imajinasi. Tak ada penghayatan estetis oleh peminat. Seni akan kering, tak hidup. Maka jika seniman, pengarang, mengadakan orang atau peristiwa atau keadaan yag tidak ada dalam sejarah, tambahnya, itu bukan karena mau mengada-ngada, tapi supaya lukisan dalam karyanya menjadi hidup dan mengesan kepada peminat.

Panjang lebar Jassin menjelaskan hal ini dalam pembelaannya. Pledoi yang dibacanya kemudian dihimpun dalam bagian akhir buku Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia (1983) halaman 96 sampai 182.

Namun hal tersebut tak menyelamatkannya dari hukuman. Tanggal 28 Oktober 1970, Jassin dijebloskan ke penjara dengan hukuman satu tahun penjara dan dua tahun percobaan.


Siapa Sebenarnya Kipanjikusmin?

Sikap Jassin yang teguh tak mengungkap identitas Kipanjikusmin membuat masyarakat bertanya-tanya, siapa sesungguhnya penulis celaka itu. Donny Anggoro dalam “36 Tahun Kontroversi Kusmin”, Sinar Harapan, 26 Juni 2004, menjelaskan bahwa sikap Jassin didasari pada UU Pers Tahun 1966 yang menyatakan: “Bila sang pengarang tidak membuka identitasnya, redaksi mempunyai hak tolak memberitahukan identitas pengarang sesungguhnya.”

Sementara catatan Agus Rois dalam Teror, Catatan Filsafat dan Politik tentang Firman dan Iman (2016), menceritakan bahwa ketidakpastian ini membuat orang menebak-nebak. Ada yang menebak-nebak Kipansjikusmin adalah satu di antara Goenawan Mohamad, Sutardji Calzoum Bachri, Arifin C. Noer, dan Slamet Sukirnanto, yang sama-sama lahir pada tahun 1941 (tahun kelahiran Kipanjikusmin).

Sebagian masyarakat ada juga yang menebak-nebak Kipanjikusmin sebagai W.S. Rendra. Meski Rendra kelahiran 1935, tapi mereka menebaknya dari puisi “Bersatulah Para Pelacur Jakarta” dalam buku Blues untuk Bonnie (1971), yang katanya isi puisi tersebut sama dengan yang diceritakan Kipanjikusmin dalam Langit Makin Mendung.

Namun hal ini kemudian menemui titik terang saat majalah Ekspres, lewat Usamah (Redaktur Pelaksana) berhasil mewawancarai dirinya. Nama asli si pengarang ternyata Soedihartono. Hal ini dibenarkan oleh Jassin dalam pembelaannya yang menceritakan saat dia bertemu dengan orangtua Kipanjikusmin.

Dari cerita orangtuanya, Kipanjikusmin adalah seorang yang pendiam dan pemalu, tidak pandai bergaul, dan suka menyisihkan diri. Tidak memperhatikan pakaian, dan suka merenung serta menulis. Ia lahir pada 1941, sekolah sampai selesai di Akademi Pelayaran, dan sempat bekerja sebagai mualim.

Sifat pemalu dan tak suka menonjolkan diri itu sudah terlihat oleh Jassin saat pertama kali menerima naskahnya. Setiap naskah pengarang yang lolos dalam majalah Sastra, Jassin mengiriminya formulir biografi pengarang untuk dokumentasi.

“Saya baru mulai, Pak. Belum sepatutnya saya memberikan biografi saya. Nantilah apabila saya telah maju dalam karang-mengarang, akan saya kirimkan,” jawab Kipanjikusmin.


Komentar terhadap Langit Makin Mendung

A.A. Navis dalam pengantar buku kumpulan cerpennya, Bertanya Kerbau pada Pedati (2004), menyebut kasus cerpen ini sebagai “bobroknya kadar pemikiran kebudayaan kita”.

“Kantor majalah Sastra diobrak-abrik, H.B. Jassin dihukum oleh Pengadilan Negeri Jakarta. Padahal kalau masih ada kebebasan berpolemik, masyarakat akan lebih tahu betapa buruknya cerpen itu. Akibat teror tersebut penerbit menjadi insan penakut, masyarakat cerdas berhenti untuk berpikir dan menyatakan pendapat,” tulisnya.

Sementara Bahrum Rangkuti dalam “Imajinasi, Observasi dan Intuisi pada cerpen Langit Makin Mendung”, Merdeka, Th. XXIV No. 6915, 25 Februari 1970, menyebut si pangarang hendak mensucikan Islam dari racun-racun paham baru yang menyesatkan (Nasakom).

“Sehingga banyak dari pengikut-pengikutnya [Islam] dengan sadar ataupun tidak memperpincang dan melumpuhkan Islam. Iman dan Islam menjadi permainan bibir semata-mata,” tambah Rangkuti.

Menteri Agama waktu itu berkomentar keras, “Tulisan Langit Makin Mendung itu berusaha untuk melenyapkan agama dari muka bumi Indonesia, yang berarti berusaha juga untuk mentorpedir Pancasila dan UUD 45.”

Dan Ali Audah, seperti dikutip Jassin dalam pleidoinya, menyebut Langit Makin Mendung sebagai cerita yang tak akan mempengaruhi keimanan seseorang, betapapun lemah imannya.

Komentar-komentar lain berseliweran. Pro dan kontra. Mendesak-desak cerpen ini hingga menjadi kehebohan di lapangan sastra saat itu. Kisah diadili, Jassin jadi terdakwa dan masuk penjara. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 20 Maret 2018
- Foto: basabasi.co

Alexander Jacob Patty, Tokoh Nasionalis Ambon Pendobrak Privilese



Meski kerap dianggap sebagai anak emas Belanda, Maluku melahirkan tokoh pergerakan seperti Alexander Jacob Patty.

Setelah puluhan tahun terpendam di Tempat Permakaman Umum Pandu, Kota Bandung, kuburan Alexander Jacob Patty (selanjutnya ditulis A.J. Patty) akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kapahana, Kota Ambon.

Rabu, 22 Maret 2017, kerangka jenazahnya digali dan langsung diterbangkan ke Kota Ambon. Esoknya, acara pemakaman ulang dilangsungkan.

Terdapat beberapa versi tentang waktu dan tempat kelahirannya, juga waktu kapan ia meninggal dunia. Rudi Fofid menulis di Maluku Post yang ia kutip dari pelbagai sumber tentang ragam versi kelahiran dan kematian ini.

Beberapa variasi tempat dan titimangsa kelahiran A.J. Patty, berdasarkan sumber yang dikumpulkan Fofid, yakni Nolloth, 15 Agustus 1901; Nolloth, 12 Desember 1889; Nolloth, 1894; Banda, 1894; dan Ambon, 1894. Meski catatan tentang tempat meninggalnya semua di Bandung, titimangsanya berlainan: 15 Juli 1947 dan 1952 hingga 16 Januari 1953, 1955, dan 1957.

Dieter Bartels, antropolog Jerman-Amerika yang melakukan penelitian di Maluku Tengah selama 40 tahun lebih, dalam bukunya bertajuk Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku Jilid II: Sejarah (2017), menyertakan selembar foto A.J. Patty dengan keterangan yang menyebutkan bahwa A.J. Patty dilahirkan pada 1901 dan meninggal pada 1957.


Patty, Tokoh Ambon Nasionalis

Betapa rumitnya menentukan satuan waktu dan tempat yang menandai hayat A.J. Patty. Di luar hal tersebut, terhampar pula satuan karya dari tokoh ini sehingga ia disebut sebagai salah seorang tokoh perintis kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Bartels, Revolusi Komunis yang terjadi di Rusia pada 1917 menjadi pendorong Belanda untuk mengawasi dengan ketat para aktivis dan organisasinya di Hindia Belanda, seperti Insulinde atau Nationaal Indische Partij (NIP) hingga Sarekat Islam.

Bangkitnya gelombang nasionalisme di kalangan intelektual pribumi di sejumlah wilayah Hindia Belanda, juga berjangkit di kalangan terpelajar Maluku—wilayah, yang menurut Bartels, “sudah cukup lama mengambil keuntungan lewat hubungan simbiosis dengan Belanda”.

“[Keuntungan] menikmati status khusus mereka, dan terus berusaha menjadi ‘Belanda Hitam’ [tapi] ada segelintir orang Maluku, baik di Maluku maupun di luar Maluku, bahkan yang bergabung dengan KNIL, merasa bahwa ‘Kesetiaan Sepanjang Masa’ hanya menguntungkan kebijakan penindasan kolonial Belanda, bukan terutama terhadap kelompok etnik lain, melainkan juga penindasan terhadap orang Ambon sendiri,” tulis Bartels.

A.J. Patty adalah salah seorang dari yang segelintir itu. Untuk memperjuangkan kepentingan moral dan material rakyat Ambon, serta mengembangkan ekonomi tanah leluhurnya, ia mendirikan Sarekat Ambon. Sebagai ketua, ia dikukuhkan di Semarang pada 9 Mei 1920 yang mayoritas dihadiri oleh serdadu KNIL.

Saat organisasi ini didirikan, di kalangan serdadu KNIL tengah terjadi tuntutan untuk menyamakan status dan besaran upah tanpa melihat latar belakang etnis. Serdadu yang berasal dari Ambon dan Minahasa saat itu memiliki status dan upah yang lebih tinggi dari etnis lainnya.

Kehadiran Sarekat Ambon, yang ikut memperjuangkan persamaan status, bukan hanya antar-serdadu pribumi, melainkan juga antara serdadu pribumi dan Eropa, dianggap ancaman oleh sebagian serdadu KNIL asal Ambon. Oleh karena itu, mereka mendirikan organisasi tandingan yang bernama Onderlinge Steun (Bantuan Timbal Balik) dan De Amboinees.

“Patty teguh berpendirian bahwa orang Ambon harus bersatu dengan semua kelompok etnik lain di Indonesia demi memperoleh kemajuan dalam sistem kolonial. Dia mendukung pihak yang tidak populer dalam masalah persamaan hak, meskipun sadar bahwa sebagian besar orang Ambon yang hidup di Jawa adalah serdadu KNIL beserta keluarganya,” imbuh Bartels.

Mendapati sejumlah serdadu KNIL mendukung perjuangan Sarekat Ambon, pemerintah kolonial Belanda melawannya dengan ancaman pemecatan terhadap serdadu KNIL yang bergabung secara aktif dalam pelbagai organisasi yang tidak disetujui Belanda, termasuk Sarekat Ambon.

Ancaman tersebut otomatis memutus hubungan Sarekat Ambon dengan mayoritas pendukungnya sehingga vakum beberapa saat. Warsa 1922, organisasi ini mulai bangkit kembali, dan setahun kemudian mendirikan Ina Toeni—sebagian sumber menulisnya Inna Toeni—yang berarti Wanita Sejati, sebagai organisasi kewanitaan.

Pendirian Ina Toeni tidak terlepas dari tingginya dukungan dari para istri serdadu KNIL yang telah diancam pemerintah kolonial Belanda. Untuk memecah dukungan serdadu KNIL, beserta istri-istrinya kepada Sarekat Ambon, pada 1925—tahun yang sama dengan dibuangnya A.J. Patty ke Bengkulu—Belanda menegaskan kembali perbedaan status di kalangan bala tentara pribumi.

Sebelum dibuang ke Bengkulu, Patty sempat pergi ke Maluku Tengah untuk melebarkan sayap Sarekat Ambon. Ia diterima oleh kalangan terdidik seperti para guru yang juga memperjuangkan kepentingan warga. Namun, kalangan pemangku adat dan pemimpin agama menentangnya karena merasa kedudukannya terancam.

“Karena pandai berpidato, ia [A.J. Patty] mendapat sambutan hangat dari rakyat. Di mana-mana mulai berdiri ‘kring-kring’ Sarekat Ambon. Akan tetapi, ternyata, usaha A.J. Patty ini mula-mula mendapat tantangan dari para regenten [Kepala Negeri] yang merasa takut dan terancam wibawa mereka di kalangan rakyatnya,” tulis penyusun buku Sejarah Daerah Maluku (1976).

Rintangan tersebut tak membuatnya patah arang. Pada pemilihan calon-calon Ambonraad atau Dewan Ambon, ia beserta para pembantu utamanya terpilih pada 1924. Namun, kaum loyalis Belanda menekannya dengan memanfaatkan kekhawatiran Belanda akan pergerakan Sarekat Ambon di tubuh Dewan Ambon.

“Kawan-kawan terdekat A.J. Patty juga terancam bahkan ada yang sampai meninggalkan Sarekat Ambon. Meskipun sudah meninggalkan Sarekat Ambon, tetapi ide-ide A.J. Patty tetap menjiwai mereka,” tulis penyusun Sejarah Daerah Maluku (1976).


Tetap Berpolitik

A.J. Patty akhirnya ditangkap Belanda dan diadili di Makassar. Warsa 1925, ia dibuang ke Bengkulu. Riwayatnya di tempat pembuangan pertama dalam hidupnya itu beberapa kali diwartakan oleh surat kabar Pertja Selatan.

Seperti dikutip Basilius Triharyanto, dalam Pers Perlawanan: Politik Wacana Antikolonialisme Pertja Selatan (2009), meski pada mulanya hidup sengsara karena dilanda bahaya kelaparan, Patty mendapat pekerjaan di residentie kantoor Palembang dengan pangkat commies.

Di tempat pembuangannya, status tahanan politik tak menghentikan aktivitas politiknya. Menurut Triana Wulandari dalam Sarekat Islam dan Pergerakan Politik di Palembang (2001), dikenal sebagai pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) di Palembang. Ia juga aktif di Badan Permufakatan Pergerakan Palembang (BPPP) yang memprotes pembubaran PNI dan penangkapan para pemimpinnya.

Pergerakan politik yang terus menyala-nyala membuatnya dipindahkan ke Ruteng, Flores, pada 1930. Menurut Triharyanto, pemindahan ini diputuskan lewat Besluit Gouvernement tanggal 12 Desember 1927 No. 2 X yang disepakati Raad van Indie (Dewan Hindia).

Dari Digoel ke Australia

Dua tahun kemudian, A.J. Patty dibuang ke Boven Digoel, Papua, sebuah kamp isolasi yang didirikan Belanda setelah pemberontakan PKI 1926 di Jawa dan Sumatra. Kisah-kisah mengerikan dicatat sejumlah tahanan dalam memoarnya tentang kamp isolasi ini.

Takashi Shiraishi, sejarawan asal Jepang, menggambarkan kamp isolasi ini dalam Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial (2001) sebagai “[kamp yang] memaksa para interniran hidup normal di bawah kondisi yang tidak normal."

Dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku Jilid II: Sejarah (2017), Dieter Bartels menulis tempat ini dikhususkan bagi tawanan nasionalis paling berbahaya. A.J. Patty satu-satunya orang Ambon nasionalis yang mendapat “kehormatan” tinggi itu.

Di Bovel Digoel, menurut Koesalah Soebagyo Toer dalam Tanah Merah yang Merah (2010), A.J. Patty dipekerjakan sebagai asisten apoteker dan sangat dihormati para dokter karena kecerdasannya.

“Ia seorang nasionalis yang pernah diasingkan ke beberapa tempat akibat tiga peristiwa yang berbeda-beda,” tulis Molly Bondan dalam Spanning A Revolution: Kisah Mohamad Bondan, Eks-Digulis, dan Pergerakan Nasional Indonesia (2008).

Saat Jepang telah menguasai Hindia Belanda, tepatnya pada 1943, A.J. Patty bersama sejumlah tahanan lain dipindahkan ke Cowra, Australia. Di tempat barunya, ia bersama tahanan yang lain yakni Yahya Nasution, Ali Siregar, dan Abdul Kadir, berhasil menyelundupkan surat-surat kepada Partai Buruh Australia cabang Cowra.

Dalam surat-suratnya, A.J. Patty dan kawan-kawan menyatakan bahwa mereka bukan tawanan perang, melainkan kaum pergerakan yang terlibat perjuangan politik untuk kemerdekaan Indonesia.

“Mereka minta perhatian kepada Pemerintah Australia, agar para tapol Indonesia ini bisa dibebaskan dari kamp, juga menyatakan kesanggupan mereka bekerja dalam usaha perang bersama melawan fasisme,” tulis Molly Bondan.

Pada 1946, A.J. Patty dan para tahanan lainnya kembali ke Indonesia. Di Bandung, pada titimangsa yang mempunyai ragam versi, ia menghembuskan napas terakhir. Namanya diabadikan pada sebuah ruas jalan di Kota Ambon, juga sebuah yayasan di Amsterdam.

Penanda Retaknya "Kesetiaan" Maluku terhadap Belanda

Kelompok pergerakan Maluku yang berjuang untuk Indonesia tentu tak hanya A.J. Patty. Sejumlah nama lain terpacak dalam sejarah republik ini, seperti G.A. Siwabessy, Johannes Leimena, Johannes Latuharhary, dan lain-lain.

Kehadiran orang-orang Maluku nasionalis dalam gerbong kelompok pergerakan Indonesia, menurut narasi Dieter Bartels dalam Di Bawah Naungan Gunung Nunusaku Jilid II: Sejarah (2017), merupakan sebuah keretakan bangunan yang bernama “Kesetiaan Sepanjang Masa”.

Setelah pemberontakan Thomas Matulessy (Pattimura) pada 1817, masyarakat Maluku perlahan mulai bekerja sama dengan Belanda.

Bartels mencatat pemberontakan Pattimura menjadi salah satu batu tapal dalam penulisan sejarah Indonesia. Ia juga menandai titik balik hubungan Ambon-Belanda.

Merosotnya harga rempah-rempah yang menyebabkan perubahan ekonomi membikin Belanda mulai memerhatikan daerah lain di Hindia Belanda sebagai sumber pendapatan baru. Komoditas pengganti rempah-rempah seperti gula, karet, kopi, coklat, tembakau mulai diusahakan secara besar-besaran di sejumlah daerah di luar Maluku, terutama di Jawa dan Sumatra.

Bartles menambahkan, kondisi ekonomi yang memburuk serta kebutuhan Belanda terhadap sumber daya manusia, membuat orang-orang Maluku akhirnya bersedia bekerja sama dengan Belanda.

Sistem pendidikan dibangun dan rekrutmen serdadu dibuka. Perlawanan terhadap Belanda yang kian gencar di sejumlah daerah mendorong dibentuknya Koninklijke Nederlansch Indisch Leger (KNIL) atau Tentara Kerajaan Hindia Belanda pada 1830.

Mula-mula, tulis Bartels, jumlah orang Maluku yang mendaftar untuk masuk KNIL tak terlalu signifikan. Baru pada 1896, sekitar 1.000 orang mendaftarkan diri dari yang biasanya tidak melebihi 100 orang per tahun. Saat itulah pendaftar dari Maluku meningkat tajam. Lonjakan besar itu sempat membuat pendaftaran KNIL dibatasi.

“Namun sebenarnya, yang tiba-tiba menyebabkan kesediaan orang Ambon bergabung dengan KNIL bukan semata-mata harga cengkeh yang jatuh, melainkan juga jurang tingkat kehidupan antara warga kampung dengan serdadu KNIL yang semakin lebar. Itulah yang membuat banyak orang Ambon mendaftar sengaja KNIL,” tulisnya.

Kerjasama saling menguntungkan itulah yang kemudian melahirkan loyalitas. Pada akhir 1946, sebuah monumen dibangun Belanda di luar Kota Ambon bertuliskan “Door de Eeuwen Trouw” atau “Kesetiaan Sepanjang Masa”.

Seiring bergantinya zaman, bangunan kesetiaan kepada Belanda itu kemudian retak. Lahir orang-orang seperti A.J. Patty yang bertungkus-lumus untuk Indonesia.

“Tak lama kemudian [setelah monumen mengenang kesetiaan didirikan] para pemuda nasionalis menuntut ‘koreksi historis’ dengan diam-diam membuang huruf “T” dari “Trouw”, dan huruf “r” diganti dengan huruf besar, menjadi ‘Door de Eeuwen Rouw’ atau ‘Menangis Sepanjang Masa’,” terang Bartels. (irf)


Ket:

-Pertama kali tanyang di tirto.id pada 4 Maret 2019
-Foto: Kompas.com