Showing posts with label martin aleida. Show all posts
Showing posts with label martin aleida. Show all posts

08 April 2022

Cerpen yang Memicu Perdebatan Lama tentang Trotskyisme


 “Tak pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjempul ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi […]”

Nurlan alias Martin Aleida (selanjutnya ditulis Martin) membuka cerpennya yang bertajuk Melarung Bro di Nantalu dengan kata-kata “ajal”, “mati”, dan “kubur”. Ia menceritakan seorang tokoh yang terkatung-katung di negeri orang, dan tak bisa kembali ke tanah air Indonesia karena terhalang situasi politik pasca 1965.

Jika membaca buku Melawan dengan Restoran (2007) karya Sobron Aidit & Budi Kurniawan, Surat Kepada Tuhan (2002) yang merupakan memoar Sobron Aidit, dan buku-buku lain—baik karya Sobron sendiri maupun karya orang lain yang menceritakan dirinya, tokoh dalam cerpen Martin ini merupakan kisah kawannya tersebut.

Sebagai contoh, Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil “Petite Histoire” Indonesia, Jilid 3 (2009) menulis tentang Sobron Aidit yang diundang ke Beijing dan menetap di Prancis.

“Saat meletus G30S 1965, Sobron berada di Beijing bersama sejumlah seniman dan wartawan Indonesia yang diundang ke RRT merayakan HUT RRT. Sejak itu Sobron menetap di luar negeri. Dari RRT bersama wartawan Umar Said ia boyong ke Perancis. Bersama Umar Said yang kini sudah jadi warga negara Perancis, Sobron mendirikan restoran ‘Indonesia’ di Paris,” (hlm. 184)

Apalagi Martin menulis dalam sebuah paragraf tentang tokohnya ini yang mendirikan restoran Indonesia di Paris, maka teranglah siapa tokoh yang dimaksud olehnya.

“Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan restoran masakan Indonesia […] Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang mampir di Paris, restoran tersebut adalah tujuan yang harus dihindari,” tulis Martin.

Melarung Bro di Nantalu tayang di Jawa Pos edisi 12 Desember 2010. Martin menulis cerpennya dengan liris. Ada emosi tertahan, kesedihan, dan kenangan-kenangan yang membubung dalam relasi perkawanan yang jujur: tentang pertemanan masa kecil, kematian ayah sahabat yang giris, melarat di negeri orang, pertarungan batin yang merubah keyakinan, serta kesulitan pulang ke puak akibat badai politik di tanah air.

Cerpen ini kemudian dihimpun beserta cerita Martin lainnya dalam buku berjudul Mati Baik-baik, Kawan (2009). Di sampul belakang buku terdapat komentar Agung Ayu Ratih—direktur 
Institut Sejarah Sosial Indonesia, ia menulis perasan dan kesannya terhadap salah satu cerpen Martin.

“Melarung Bro di Nantalu membuatku menangis […],” tulis Ratih.


 Kritik Tatiana Lukman

 Tujuh tahun sejak terbit di Jawa Pos, cerpen ini “baik-baik saja” karena respons pembaca cukup positif. Sampai akhirnya pada Juli 2017, Tatiana Lukman (anak mantan Wakil Ketua I CC PKI, MH. Lukman)—penulis buku Panta Rhei: Tidak Ada Pengorbanan yang Sia-sia Air Sungai Digul Mengalir Terus!: 2014, menulis di Suluh Indonesia mengkritik cerpen ini karena salah satu fragmennya dianggap “kebohongan, memutarbalikkan fakta, fitnah, dan ejekan terhadap rakyat Tiongkok dan Ketua Mao”.

Fragmen yang diserang oleh Tatiana adalah ketika si tokoh (Bro/Sobron Aidit) yang tengah berada di Tiongkok bersama istrinya untuk memenuhi undangan menjadi guru bahasa Indonesia di sana, disapu Revolusi Kebudayaan (Tatiana menyebutnya Revolusi Besar Kebudayaan Proletar atau RBKP) yang membuat mereka disingkirkan dari kota, digiring ke perdesaan dan dipaksa melakukan kerja badan, bertani, serta memungut kotoran manusia untuk pupuk tanaman.

“Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, ‘Datanglah ke Tiongkok/tengok hari esok,’ hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar gelas,” tulis Martin menggambarkan prahara yang menempa Bro.

Karena tak tahan dalam pusaran Revolusi Kebudayaan, Bro akhirnya menyingkir dari Tiongkok lewat perjalanan darat yang panjang sampai akhirnya tiba di Paris.

Martin Aleida, Penulis “Ulung”, begitu judul tulisan Tatiana pada Juli 2017 di Suluh Indonesia. Ia mengawali tulisannya dengan membandingkan kualitas penulis zaman Sukarno dan Orde Baru. Martin Aleida meraih penghargaan cerpen terbaik Kompas yang berjudul Tanah Air. Dalam tulisannya Tatiana bertanya, apakah hanya Martin satu-satunya penulis, di antara 20 kandidat lain, yang mempunyai latar belakang hubungan dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra).

“Kalau jawabannya positif, maka tidak terlalu mengherankan kemenangannya dalam kompetisinya dengan penulis-penulis yang lahir dan besar di zaman Orde Baru,” tulisnya.

Ada nada meremehkan para penulis pasca Orde Lama dari anak MH. Lukman tersebut. Ia yang hidup di Indonesia waktu Sukarno gilang-gemilang di tampuk kekuasaannya, dan saat Lekra berkibar sebagai motor kebudayaan, menganggap masa itu lebih baik daripada zaman Orde Baru: rezim yang menumpas dan menyingkirkan ia, keluarga, beserta penumpang gerbong “komunis” lainnya.

Meski demikian, dalam artikelnya Tatiana justru bukan hendak menyanjung Martin, melainkan mengkritiknya. Jika Agung Ayu Ratih dibuat menangis oleh Melarung Bro di Nantalu, ia sebaliknya. Tatiana kecewa dan marah karena Martin yang dianggapnya telah berbohong tentang kehidupan Sobron Aidit dan orang-orang Indonesia lainnya di Tiongkok, serta terhadap RBKP.

“Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama dengan kaum komunis lokal, yang dituduh terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga menemukan nasib yang tak kalah buruk,” tulis Martin.

Hal ini dibantah Tatiana yang menyebutkan bahwa selama Revolusi Kebudayaan, Sobron dan orang-orang Indonesia lainnya mendapatkan makan, minum, tempat tinggal gratis, dan untuk menghadapi suhu panas lebih dari 40 derajat celcius, orang bisa beli balok es untuk ditaruh di bawah tempat tidurnya. Pendingin tersebut adalah barang mewah di waktu itu.

“Siapa yang mencap dan menjadikan orang-orang Indonesia sasaran Revolusi Kebudayaan? Siapa yang menyingkirkan dan menuduh orang-orang Indonesia terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya? Dari 120 orang Indonesia yang tinggal satu kompleks dengan saya, tak satupun yang pernah jadi sasaran RBKP!” tambah Tatiana.

Tak cukup itu, Tatiana juga menyebutkan bahwa untuk menghindari panas yang sangat menyengat, orang-orang Indonesia malah pernah diundang tuan rumah untuk berlibur ke 
Tsingdao, kota pesisir di timur Tiongkok. Dan mereka dijamu dengan tinggal di hotel, pemandangan tepi laut, serta makan enak. Hanya karena pertentangan internal saja sebagian dari mereka akhirnya tidak ikut ke Tsingdao.

Revolusi Kebudayaan yang dikobarkan Mao mendorong mahasiswa dan kaum intelektual lainnya untuk pergi ke perdesaan, tinggal dan bekerja bersama kaum tani. Hal ini, menurut Tatiana, juga pernah dilakukan Lekra dengan program “turba” (turun ke bawah) yang mengedepankan doktrin “tiga sama”: sama bekerja, sama makan, sama tidur. Martin sebagai bekas sastrawan Lekra dan wartawan Harian Rakjat, tambah Tatiana, mestinya paham dengan kebijakan tersebut.

“Apa Martin sudah lupa [dengan kebijakan Lekra]? Mao juga mengajarkan rakyatnya untuk belajar kepada kaum tani,” ujarnya.

Fragmen lain yang tidak berkenan bagi Tatiana adalah ketika Martin menceritakan nasib Sobron saat mula-mula tiba di Paris. Martin menggambarkan Sobron tak ubahnya gelandangan yang tak habis dirundung malang.

“Bro dan kawan-kawannya yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, terkadang Bro yang gembor kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus tali teraju,” tulis Martin.

Ia menegaskan bahwa Sobron sudah ditunggu banyak kawan yang lebih duluan menetap di Paris. Adik D.N. Aidit tersebut tidak terdampar sendiri, juga tidak kelaparan di Paris.

“Lukisan patetis ini hanyalah fantasi!” bantahnya.

Kegeraman Tatiana bertalu-talu. Saat Martin melukiskan perjalanan hidup Sobron sebagai hidup yang tidak biasa dan tiada tara, ia menyangkalnya dengan sinis, “Aduh, begitu dramatis dan penuh heroisme!"

Ia menjelaskan bahwa kehidupan Sobron sama seperi orang kebanyakan: makan, minum, dan tidur gratis. Ia menambahkan, istrinya meninggal pun bukan karena “hukuman” atau “siksaan” atau tidak bisa bayar ongkos pengobatan.

Setelah menjelaskan hakikat Revolusi Kebudayaan dan situasi politik Tiongkok pasca Mao Tse-Tung, serta menuduh orang-orang Indonesia yang keluar dari Tiongkok dan hidup makmur di negeri-negeri maju sebagai revisionis dan pendukung restorasi kapitalis Deng Xiao-ping, Tatiana mengusulkan agar Martin mempelajari Revolusi Besar Kebudayaan Proletar.

“Usul saya kepada Martin, pelajari sendiri apa sebenarnya hakikat dari RBKP. Jangan hanya menelan bulat-bulat propaganda imperialis anti-Mao dan anti-komunis seperti mereka yang masing ‘mengunyah-ngunyah’ propaganda Orde Baru tentang peristiwa 1965,” ujarnya.


Tanggapan Martin Aleida dan Ihwal Sumber Sekunder

20 Juli 2017, Martin menanggapi kritik Tatiana yang cukup panjang tersebut di status facebook-nya. Pendek dan santai saja ia menanggapinya. Ia bahkan membuka facebook dalam perjalanan pulang sehabis belanja dari Pasar Minggu. Sebuah foto menyertai: foto dirinya yang tengah duduk di pagar tembok sebuah rumah. Ia bercelana pendek, mengenakan sepatu, dan memegang dua buah jinjingan.

Dalam tanggapannya yang pendek tersebut, ia menekankan pada tuduhan Tatiana tentang kaum imperialis dan orang-orang Trotskyis yang menganggap Revolusi Kebudayaan sebagai hukuman dan siksaan, serta sikap mereka yang meremehkan dan menghina kaum tani.

“[…] Saya senang dia cap saya sebagai Trotskyis, budayawan yang saya kagumi. Ketika berkunjung ke Turki beberapa tahun lalu, saya mampir ke pulau Buyucuda di mana Trotsky sempat bersembunyi dari persekusi rezim Stalin sebelum dia terdampar di Meksiko tempat kepalanya dipenggal dengan kampak oleh pemuja setan. Saya anjurkan Tatiana membaca Trotsky dalam Literature and Marxism-nya Terry Eagleton dan meneliti Trotsky bukan dari tulisan mereka yang berbulu dan berhati musang […],” tulisnya.

Kritik Tatiana terhadap karya Martin khususnya cerpen Melarung Bro di Nantalu, awalnya dipicu saat Martin berkomentar di acara diskusi buku karya Tatiana berjudul Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? (2016) yang diadakan pada Mei 2017.

Kata Tatiana, Martin berkomentar dan menyatakan pendapatnya terhadap buku tersebut bahwa ia tidak percaya pada tulisan yang berasal dari sumber sekunder. Menanggapi hal tersebut, Tatiana menyebut bahwa kalau begitu semua buku sejarah tidak ada yang patut dipercayai jika kita mengikuti logika Martin.

“Lantas bagaimana mereka yang ingin menulis dan menganalisa kejadian-kejadian sejarah yang para pelakunya sudah meninggal? […] Tidak mungkin kita mewawancarai langsung, misalnya, Pangeran Diponegoro, atau Lenin, atau Trotsky, atau Napoleon!” tambahnya.

Dua bulan setelah acara diskusi tersebut, terbitlah tulisan Tatiana di 
Suluh Indonesia daring, yang selain menyerang soal Revolusi Kebudayaan, juga menyerang sumber yang digunakan Martin dalam menulis cerpen Melarung Bro di Nantalu.

Karena beberapa fragmen kisah dalam cerpen tersebut bertentangan dengan realita, maka Tatiana meragukan sumber penulisannya. Ia tahu bahwa kisah yang diceritakan Martin adalah perjalanan hidup Sobron Aidit, tapi ia meragukan apakah benar Sobron menceritakannya langsung kepada Martin pengalamannya hidupnya selama di luar negeri? Karena hal ini akan menentukan sumber tersebut, apakah primer atau sekunder.

Sampai di sana sebetulnya serangan Tatiana sudah cukup untuk membalas ketidakpercayaan Martin terhadap sumber sekunder dalam diskusi buku Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? (2016). Namun rupanya Tatiana meneruskannya dengan sergapan lain.

“Anggaplah Martin bertolak dari sumber primer, karena ia tidak percaya pada sumber primer sekunder. Bagaimana kalau sumber primernya itu berisi kebohongan dan memutarbalikkan fakta, seperti yang terjadi pada Melarung Bro di Nantalu?” ujarnya.

Dari sini kemudian Tatiana menjelentrehkan kehidupan Sobron Aidit saat di Tiongkok dan Paris, kehidupan orang-orang Indonesia di Tiongkok saat terjadi Kebudayaan Revolusi, dan pandangannya terhadap orang-orang yang ia anggap sebagai pengkhianat.

Karena buku Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen? (2016) dan cerpen Melarung Bro di Nantalu adalah dua teks yang berbeda, yang satu fiksi dan satu lagi nonfiksi, maka Martin dalam status facebooknya menjawab:

“Sayang eksil yang pernah menetap lama di Kubanya Castro ini tak bisa membedakan cara membaca fiksi dan nonfiksi. Dia jadikan kenyataan literer dalam cerita pendek saya sebagai fakta historis,” tulisnya.

Tanggapan Martin di Facebook kemudian 
ditanggapi lagi oleh Tatiana di media yang sama dengan tulisan pertamanya, yang membuat persoalan menjadi berlarat-larat. Karena disebut tak bisa membedakan teks fiksi dan nonfiksi, pada tulisannya yang kedua ini Tatiana berusaha memblejeti apa yang dimaksud dengan cerita fiksi.

Ia memperkuat argumennya dengan mengutip Hilmar Farid yang ikut mengomentari cerpen Melarung Bro di Nantalu. Menurut Hilmar Farid, cerpen tersebut menghidupkan pertanyaan lama tentang batas prosa dan puisi, fiksi dan fakta, dalam hal ini obituari dan cerita.

“Bahkan, menurut Hilmar, obituari! Obituarinya Sobron Aidit!” tulis Tatiana yang tengah berargumen bahwa Melarung Bro di Nantalu menceritakan kehidupan nyata, bukan rekaan.

Setelah itu Tatiana kembali tancap gas dengan menyerang Martin soal sumber sekunder lagi. Lalu soal Trotsky dan Lenin.

Tulisan keduanya ini tak ditanggapi oleh Martin. Perdebatan terhenti. Dan hanya menyisakan serak jejak digital.

Saat dihubungi Tirto.id, Selasa (13/3/2018), apakah dia ada tanggapan lain yang lebih komprehensif terhadap kritikan Tatiana, Martin Aleida hanya menjawab singkat, “Tidak! Saya tidak tertarik pada Tatiana. Ibarruri (anak sulung D.N. Aidit) bilang, 'cuma Tuhan yang tidak (dia) debat.' Salam.” (irf)

25 December 2019

A.S. Dharta dalam Kecamuk Revolusi, Asmara, dan Kemesuman Borjuis


A.S. Dharta adalah sastrawan romantis yang memilih jalur kiri. Pramoedya Ananta Toer menganggap Dharta sebagai guru politiknya.

Kepergian A.S. Dharta pada 7 Februari 2007, tepat hari ini 12 tahun silam, diikuti kisruh obituari tentang dirinya. Harian Pikiran Rakyat menjadi medan laga. Sepuluh hari setelah hayatnya tumpas, tulisan Ajip Rosidi muncul.

Menurut Ajip, tulisannya semula berjudul “A.S. Dharta 1923-2007”, tapi diubah redaksi Pikiran Rakyat menjadi “Akhir Hidup Pengarang Lekra”. Tulisannya dingin dan cenderung sinis. Ia secara terbuka menyatakan tidak hormat terhadap A.S. Dharta setelah kasus perselingkuhan yang membuat penyair asal Cibeber, Cianjur tersebut dipecat dari Konstituante dan Lekra.

Rasa tidak hormat itu, menurutnya, terutama dilandasi karena A.S. Dharta menyesali perbuatannya dan meminta ampun kepada partai agar ia diterima kembali menjadi kader.

“Saya sendiri sejak itu tidak bisa menaruh respek kepada Dharta,” tulisnya.

Tak hanya itu, Ajip pun mengisahkan sebuah fragmen saat dirinya bertemu dengan A.S. Dharta di Bandung pada akhir November 1965 atau sebulan setelah peristiwa G30S.

Ia dalam perjalanan pulang dari percetakan Ganaco di Jalan Gereja (sekarang Jalan Peristis Kemerdekaan), sementara A.S. Dharta selesai melapor dari kantor polisi di ujung utara Jalan Braga. Dalam pertemuan itu, imbuh Ajip, A.S. Dharta meminta uang kepadanya, tapi ia tolak.

“Dharta memang cenderung suka meminta uang kalau bertemu walaupun sebenarnya kami tidak begitu akrab,” terangnya.

Pada dua alinea terakhir, Ajip lagi-lagi menunjukkan ketidaksukaannya. Sebulan sebelum A.S. Dharta meninggal, anak penyair itu menelepon Ajip mengabarkan jika bapaknya yang tengah sakit keras ingin dijenguk olehnya. Namun, sampai ajal menjemput, keinginan tersebut tak dipenuhinya.

“[…] tapi dia (A.S. Dharta) sendiri sudah mulai pikun. Cibeber letaknya di luar jalur perjalanan saya sehingga kecil kemungkinan saya dapat memenuhinya. Saya tidak berani berjanji,” begitu alasannya.

Lalu ia pungkasi tulisannya dengan pertanyaan skeptis yang menghubungkan pilihan politik A.S. Dharta dengan alam setelah kematian. Ia menulis, “Tapi mungkin sebagai komunis dia tidak percaya akan adanya alam di balik kematian, sehingga dapatkah saya mengucapkan selamat jalan kepadanya?”

3 Maret 2007, di surat kabar yang sama, Martin Aleida—mantan wartawan Harian Rakjat—menanggapi tulisan itu. Ia menyayangkan Ajip Rosidi yang mengiringi kematian A.S. Dharta dengan tulisan yang menurutnya penuh caci maki.

“Tanpa diperiksa dengan seksama, sehina macam apakah Dharta sehingga dalam kematiannya ini sang istri, anak, dan cucu-cucunya yang belum kering airmata dukanya harus menanggung malu lewat kata-kata yang diumbar oleh budayawan kaliber internasional asal Jawa Barat itu?” tulis Martin.

Tujuh hari kemudian, giliran tulisan Budi Setiyono—editor buku kumpulan esai sastra A.S. Dharta yang bertajuk Kepada Seniman Universal (2010)—hadir ke hadapan pembaca Pikiran Rakyat.

Ia menitikberatkan kiprah A.S. Dharta sebagai sastrawan Sunda. Rachmatullah Ading Affandie—wartawan dan sastrawan Sunda—seperti dikutip Setiyono, menyebut A.S. Dharta sebagai salah satu sosok yang ikut mengembangkan bahasa dan sastra Sunda setelah perang. Ia disejajarkan dengan Achdiat Kartamihardja, Utuy Tatang Sontani, Rusman Sutiasumarga, Rustandi, dan Ajip Rosidi.

“Semestinya pembicaraan tentang karya dan sosok sastrawan Sunda inilah yang kita harapkan dari Ajip Rosidi, dalam pembicaraan soal ‘Akhir Hidup Pengarang Lekra’, sehingga akan lebih memperkaya bahasa dan kesusastraan Sunda,” tulisnya.

Dua “serangan” itu membuat Ajip Rosidi akhirnya menulis ulang. 7 April 2007 tulisannya muncul lagi di Pikiran Rakyat. Setelah menerima surat dari A. Makmur K., kerabat A.S. Dharta, yang mengabarkan bahwa saudaranya itu adalah orang beriman, Ajip kali ini mengakui kesilapannya dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga mendiang atas tulisan obituarinya yang pertama, yang memojokkan A.S. Dharta.

Meski demikian, pada permulaan tulisannya Ajip tetap menyodorkan satu pembelaan. Menurutnya, mengenang hidup orang yang telah meninggal tergantung kepada hubungan yang dikenang dengan yang mengenang.

“Setiap orang niscaya punya kenangan atau anggapan yang berlainan tentang seseorang,” imbuhnya.

Si Banyak Alias Didikan Digulis

A.S. Dharta lahir pada 7 Maret 1924. Nama kecilnya adalah Endang Rodji. Pada perjalanannya, nama itu bersulih menjadi Adi Sidharta, kemudian A.S. Dharta. Sebagai seorang penyair dan penulis, ia juga mempunyai sejumlah nama pena, yakni Klara Akustia, Kelana Asmara, Jogaswara, Barmara Putra, dan lain-lain.

Salah satu nama itu, yakni Kelana Asmara, menurut Ajip menunjukkan bahwa A.S. Dharta pada dasarnya adalah orang yang romantis. Nama tersebut sempat digunakan saat ia menulis sajak di majalah Gelombang Zaman yang berkantor di Garut, pimpinan Achdiat K. Mihardja dan Tatang Sastrawiria.

“Kita tahulah kira-kira orangnya bagaimana kalau menggunakan nama seperti itu. Entah Kelana yang mencari asmara, entah Asmara yang berkelana,” tulisnya.

Asrul Sani mengatakan, Klara Akustia diambil dari nama Hongaria. Namun, menurut Ajip pendapat itu keliru, sebab Klara adalah nama panggilan bagi istrinya yang melarikan diri bersama serdadu KNIL ke negeri Belanda. Sementara Akustia, tambahnya, adalah “Akus(e)tia” meski sang istri telah mengkhianatinya.

Keterangan Ajip tersebut agak berlainan dengan yang ditulis Budi Setiyono. Nama asli Klara adalah Aini, pelabuhan hati A.S. Dharta saat cinta remaja mulai mekar. Aini tak disebutkan sebagai istrinya. Dan saat api revolusi berkobar, Aini dikawin paksa oleh tentara Belanda. Artinya, Klara tidak berkhianat tapi karena terpaksa.

Dan nama Jogaswara—entah sesuai dengan alasan A.S. Dharta atau sebaliknya—Ajip melekatkannya dengan nama tokoh dalam kisah Mantri Jero karangan R. Memed Sastrahadiprawira. Ia menebak A.S. Dharta mengagumi Jogaswara yang merupakan ksatria muda yang jujur dan berpegang teguh pada kebenaran.

Menurut Asep Sambodja dalam Asep Sambodja Menulis tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra (2011), nama Jogaswara digunakan A.S. Dharta saat ia menulis esai yang penuh elan bertajuk “Angkatan 45 Sudah Mampus” di Spektra edisi Th. 1, No. 15, 27 Oktober 1949.

Budi Setiyono yang menjadi 
anak angkat keluarga A.S. Dharta menulis, pada usia enam tahun penyair ini ditinggal wafat oleh ibunya yang bernama Fatimah. Lalu Moh. Usman, ayahnya, menyusul kemudian. Kepergian kedua orang tuanya benar-benar memukulnya.

“Saya seolah terlempar ke neraka,” ujar A.S Dharta kepada Budi Setiyono.

Lebih lanjut ia mengabarkan, jiwa A.S. Dharta bergejolak ketika diangkat anak oleh Okayaman, seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Ia juga sempat dididik Douwes Dekker saat sekolah di Nationaal Handele Lallegiun (NHL).

Pada masa revolusi, imbuh Setiyono, A.S. Dharta bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang beralamat di Menteng 31. Ia turut bertempur dalam pelbagai palagan. Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi dengan memimpin Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, dan Serikat Buruh Pelabuhan.

Dalam beberapa esainya yang kemudian dihimpun menjadi buku Kepada Seniman Universal (2010), A.S. Dharta rajin menyeru para sastrawan untuk turut lebur dalam revolusi dan ikut mewarnai arah kehidupan masyarakat. Kata-katanya bergemuruh atau, meminjam ungkapan Wiji Thukul, “berkeringat dan berdesakan mencari jalan”.

Menurutnya, lewat kata-kata, sastrawan wajib berontak terhadap segala yang tak lurus dan menentang segala yang tak adil. Dalam esai bertajuk “Sastrawan di Tengah Api Revolusi” yang memakai nama Purwa Atmadja - Barisan Rakyat, ia menulis:

“[…] dalam detik-detik keadilan seakan sayup-redup membayang dihadang gelombang napas akhir imperealisme… dan kekuatan proletar mendidih-menyusun dalam kanal persatuan kekuatan raksasa, sastrawan turun dari ke-akua-annya, cair membanjir dalam kesadaran murba, serta bergumul memeras air mata jiwa di gelanggang kodratnya.”

“Sastrawan menegakkan tenaga raksasa di hati massa, menempa keyakinan granit di kalbu patriot, memelopori massa ke arah cita yang tinggi murni: bandar humanisme damai bahagia,” imbuhnya.

Maka saat peristiwa Madiun 1948 meletus, A.S. Dharta kecewa terhadap Angkatan 45 yang menurutnya tidak ikut menjadi bagian dalam gelombang sejarah itu. Lewat esai “Angkatan 45 Sudah Mampus”, ia menganggap angkatan itu telah usai dan akan segera berganti oleh angkatan baru yang lebih sempurna dan lebih kuat.

Saat Mochtar Lubis menulis artikel dalam Siasat edisi 4 Desember 1949 yang bertajuk “Hidup, Mati?” ia menanggapinya dalam Spektra edisi Th. 1 No. 27, 27 Februari 1950. Ia menerangkan beberapa poin tentang angkatan 45. Menurutnya angkatan tersebut bukanlah sebuah ideologi, melainkan mata rantai yang menyambungkan angkatan lama dan angkatan baru.

Kritik ia paparkan terhadap angkatan tersebut yang menurutnya terlampau terlena dengan cinta abstrak. Pergerakannya semu dan hanya akan mengklaim apa yang diperjuangkan oleh rakyat dan pemuda progresif.

“Dalam tubuh Angkatan 45 merajalela anasir kelas pertengahan. Mereka senang semboyan-semboyan hampa, asal menggetarkan rasa. Mereka senang dan dengan penuh elan berjuang di tengah massa, selama kelihatan tenaga massa dapat menyelamatkan kepentingan mereka,” tulisnya.

Kenyataan itu membuat A.S. Dharta mengajukan hal baru: “dari agitasi ke organisasi, dari elan keinginan ke energi pelaksanaan”.

Dan enam belas hari sebelum tulisannya itu terbit, dengan memakai nama pena Jogaswara, ia terlebih dahulu menulis sebuah sajak yang ditujukan kepada Chairil Anwar, sosok yang menjadi simbol Angkatan 45:

“Dan engkau mengamuk/berani menghantam, gempur segala/asal ngamuk, asal pukul/pukul! pukul! pukul!/jangan tanya karena apa, untuk apa…

Ach, Chairil!/Mengamuk semata untuk ngamuk/sama dengan mereka peminum candu: Nol Besar!”

Guru Pram yang Terjerat Kemesuman Borjuis

Sekali waktu di bulan Agustus 2001, seperti dituturkan Koesalah Soebagyo Toer dalam Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006), Pramoedya Ananta Toer dan sejumlah kawannya menghadiri undangan Ajip Rosidi di rumahnya di kawasan Rawa Bambu, Pasar Minggu. Acara itu dimaksudkan untuk menyambut kedatangan kawan mereka, yakni Sobron Aidit.

Selesai makan, mereka berbincang. Saat asyik mengisap rokok, Pram tiba-tiba dikejutkan oleh perkataan tuan rumah.

“Pram, aku kecewa sekali. Dalam buku Nyanyi Sunyi itu kau kagumi A.S. Dharta,” ucap Ajip.

“Kemudian aku kecewa sekali!” jawab Pram spontan.

“Semua guru saya mengecewakan saya: A.S. Dharta, H.B. Jassin, Pak Said!” imbuhnya.

“Kalau aku, dari semula nggak bisa menghargai Dharta,” ucap Ajip sambil tertawa.

“Ya, Dharta itu yang narik-narik saya ke politik. Waktu itu saya kan nggak tahu apa-apa. Dia itu yang ngajak-ngajak,” sahut Pram.

Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Jilid 1 (2000), Pram memang menceritakan A.S. Dharta kepada anaknya, Titiek, dalam sebuah surat. Setelah menikah dengan Maemunah Thamrin, pengantin baru itu tak diperbolehkan keluar rumah selama dua minggu. Sementara ia tak punya uang.

“Dan bagiku sendiri merupakan hari-hari yang sangat berat. Padaku sama sekali tidak ada uang. Dan aku malu setengah mati menumpang seperti itu. Dalam waktu semacam itu A.S. Dharta datang menyerahkan buku Mother Gorki,” tulisnya.

“Kau tak ada keberatan toh, menerjemahkan ini?” ucap A.S. Dharta kepadanya.
Pram pun menyanggupinya dan akhirnya mempunyai uang. Setelah pindah ke sebuah rumah petak yang butut, yang terletak pada tanah yang miring di dekat sawah, kawan-kawannya menjadi sering berkunjung, terutama A.S. Dharta.

Episode hidup ini Pram ceritakan juga dalam “Sunyisenyap di Siang Hidup”, sebuah cerita cukup panjang yang dihimpun dalam Menggelinding 1 (2004).

Pram menambahkan, A.S. Dharta banyak membicarakan sejumlah soal yang sebelumnya tak terpikirkan olehnya, sehingga ia mempunyai pandangan baru dalam bidang seni dan sastra.

“Dia yang menerangkan: tidak ada sesuatu bisa terlepas dari persoalan politik. Dengan kata-katanya yang bersemangat disertai hujan tampias dari mulutnya aku dengarkan dia dengan cermat. Aku tak tahu sesuatu tentang politik sebagaimana aku sangka semula,” terangnya.

Entah bagaimana mula kekecewaannya kepada A.S. Dharta, gurunya itu, yang jelas sang guru pernah terpeleset dalam kasus perselingkuhan yang akhirnya membuat ia dipecat dari Konstituante dan Lembaga Kebudayaan Rakyat, di mana ia sebagai pendiri sekaligus sekjen. Dalam autokritiknya, A.S. Dharta menyebut kasus itu dengan istilah “kemesuman borjuis”.

Selain dirinya, kasus serupa juga menjerat S. Sudjojono, pelukis yang juga anggota Konstituante. Berbeda dengan dirinya yang meminta kembali ke partai, S. Sudjojono dalam autobiografinya, Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya (2017), justru memilih keluar dari partai.

“Cinta saya pada Rose (kekasihnya) tidak bisa diputuskan, sebab saya tidak mau jadi orang munafik dan terus-terusan berzinah […] Saya minta keluar, dan mereka boleh mengumumkan: Saya dipecat. Itu terjadi tahun 1958, saya keluar dari partai, dari parlemen, dan dari Lekra. Karier saya sebagai politikus berakhir, saya komplet sepenuhnya bisa melukis,” tulisnya.

Saat gempa politik 1965 berguncang, A.S. Dharta ditahan di penjara Kebonwaru, Bandung dan baru dibebaskan pada 1978. Orde Baru membatasi aktivitasnya. Dalam hari-hari penuh pengawasan dan stigma, ia menyusun kamus Sunda-Inggris di kampung halamannya di Cibeber, Cianjur, yang sayangnya tak sempat diselesaikan sampai ia pergi untuk selama-lamanya.

Rosihan Anwar, wartawan yang mengaku tidak mengenal A.S. Dharta secara pribadi, menulis dalam Sejarah Kecil Indonesia Jilid 3 (2009), “The time of great passion is over, zaman bergairah dan bersyahwat besar sudah lewat. Selamat jalan, penyair!” (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 7 Februari 2019

- Foto: sejarahsosial.org

02 November 2019

Sobron Aidit yang Berenang-renang ke Surga



Di hari tuanya, Sobron Aidit banyak menulis kuliner, pengalaman masa kecil, serta kegalauan ditinggal kawan-kawan lama. 

“Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna ‘yang kalah’, air terus berpendar berkecipak menciumi tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejumput abu Bro. ‘Tuhan, siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.’ Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga…”

Begitu akhir hidup Bro dalam cerpen Melarung Bro di Nantalu karya Martin Aleida yang sempat memicu 
perdebatan tentang Trotskyisme. Dalam cerpen tersebut diceritakan kehidupan Bro ketika hidup di luar negeri, yakni di Tiongkok dan Prancis. Narasi riwayat kehidupan inilah yang memicu silang pendapat antara Martin Aleida dengan Tatiana Lukman.

Tatiana menuduh Martin telah berbohong dengan mengisahkan Bro sebagai orang yang amat sengsara dan blangsak dirundung Revolusi Kebudayaan dan sempat luntang-lantung di Paris. Padahal menurut Tatiana, hidup Bro tak seburuk itu. Siapa sebetulnya tokoh yang mereka perdebatkan?

Bro atau Sobron Aidit lahir di Tanjung Pandan, Belitung, pada 2 Juni 1934. Dia adik dedengkot PKI, Dipa Nusantara Aidit. Abdullah Aidit, ayahnya, menikah dua kali. Pertama beristrikan Nyi Ayu Mailan dan mempunyai anak: Achmad (DN. Aidit), Basri, Ibrahim, dan Murad. Dari pernikahannya yang kedua, yaitu dengan Marisah, punya anak lagi: Sobron dan Asahan.

Tahun 1948 Sobron merantau ke Jakarta. Dalam Aidit: Dua Wajah Dipa Nusantara (2010) karya Tempo, di Jakarta Sobron bertemu dengan Chairil Anwar dan sastrawan lainnya seperti Rivai Apin, Asrul Sani, dan H.B. Jassin. Sobron sejak remaja menyukai sastra. Pada usia 13 tahun, atas bantuan Chairil Anwar, puisinya dimuat di Mimbar Indonesia.

“Malam setelah sajak itu dimuat, Chairil mentraktirnya makan-makan. Sobron menyantap soto, empal, nasi campur, dan rupa-rupa lauk. Sesudah makan, Sobron baru tahu bahwa uang makan itu adalah honor puisinya di Mimbar Indonesia,” tulis Tempo.

Sebagai pengarang muda, Sobron juga bertemu dengan pengarang muda yang lain seperti Ajip Rosidi, SM Ardan, Soekanto S.A., Sjumandjaja, Riyono Pratikno, dll. Bersama Ajip dan Ardan, mereka membuat buku kumpulan puisi bersama bertajuk Ketemu di Jalan (1955). Menurut Ajip, judul buku diusulkan Ardan dan proyek buku tersebut terinspirasi Tiga Menguak Takdir (1950) karya Chairil Anwal, Asrul Sani, dan Rivai Apin.

Sekali waktu mereka mengadakan perjalanan ke kampung Ajip di Jatiwangi. Mula-mula mereka turun di stasiun Bandung, disambung becak ke Dago, dan esoknya dilanjutkan pakai bus ke Cirebon. Perjalanan mereka, kata Ajip, menyenangkan karena belum ada pertikaian berdasarkan paham politik atau keyakinan agama.

“Aku satu becak dengan Soekanto. Sobron dengan Sjumandjaja. Tukang becak yang menarik Sobron ngos-ngosan karena Sobron tubuhnya gendut. Sjumandjaja menyuruh tukang becak itu turun, lalu dia yang menggenjot becak yang ditumpangi Sobron sampai ke tujuan. Tukang becak itu mendorong sambil lari-lari kecil di belakangnya,” tulis Ajip Rosidi dalam Hidup Tanpa Ijazah (2008: 101)

Sebelum badai politik 65 terjadi, bersama sejumlah wartawan dan seniman Indonesia, Sobron berangkat ke Tiongkok untuk memenuhi undangan pemerintah Tiongkok dalam rangka HUT RRT. Sejak itu ia kesulitan untuk kembali ke tanah air. Baru tahun 1996 ia pulang untuk pertama kalinya ke Belitung. Dan setelah Soeharto lengser, Sobron mulai kerap pulang ke Indonesia.


Suka Masak dan Doyan Makan

Setelah keluar dari Tiongkok ketika Revolusi Kebudayaan berlangsung, Sobron kemudian pindah ke Eropa dan menetap di Paris. Bersama beberapa orang koleganya, ia membuka restoran “Indonesia” yang menyajikan ragam hidangan Nusantara. Kisah jatuh bangun memperjuangkan restoran tersebut ia tulis dalam Melawan dengan Restoran (2007).

Selama tinggal di Eropa dan teknologi komunikasi memungkinkan ia berhubungan langsung dengan orang-orang di Indonesia, Sobron mulai aktif di berbagai grup milis. Ia rajin menuliskan ketertarikan dan pengalamannya dengan kuliner. Beberapa catatannya tentang kuliner sempat dihimpun dalam memoar Surat Kepada Tuhan (2003).

Sekali waktu ia menceritakan cara memasak Sop Buntut dan ketertarikan kepada Guo Ba—masakan Cina yang ia dapatkan ketika singgah di Chengdu, ibukota Provinsi Sechuan di barat laut Tiongkok.

“Di sebuah restoran kami lihat, petugas resto menyiramkan sup yang entah apa isinya, ke dalam mangkuk besar atau pinggan cekung besar yang ada gorengan kerak. Dan bunyinya berdesis…serrr…panjang sekali. Dan lalu asap membubul ke atas, bagus sekali. Dan bunyi desis goreng kerak panas itu ditengok orang-orang yang sedang makan di meja lain. Bau aroma harumnya sangat memikat,” tulisnya.

Di lain waktu ia 
menulis surat dari Jakarta membicarakan tentang makanan dan selera. Menurutnya, Jakarta adalah kota yang melimpah oleh makanan lezat, ada bakmi, tahu nenek-moyang, roti cane, dll. Ia juga menulis kenangannya pada tahun 1950-an dan 1960-an tentang para pedagang makanan yang berjajar sepajang jalan Pacenongan, Sawah Besar, Pintu Besi, Glodok, Jatinegara, dan Margonda.

“Saya sangat suka roti cane, katanya asal mulanya dari Aceh. Rotinya berbentuk ada jaringan jala, karena itu ada juga yang menamakannya roti jala. Makannya pakai kuah, saos gulai kambing, acar segar, dan sambal khusus. Tapi jangan sampai kekenyangan kalau mau merasakan enak dan nikmatnya. Dan kalau kekenyangan, lalu tak terasa nikmat sedapnya,” tulis Sobron.

Selanjutnya ia bercerita ihwal sate kambing lezat di penjual yang ada di warung dan yang memakai gerobak dorong. Ia lancar berkisah, memandu pembaca mengetahui seluk beluk kuliner yang pernah ia cicip.

“Perkara sate misalnya, banyak jenisnya. Ada sate kambing Pak Kumis, ada sate kambing Mak Jalal, ada sate kambing Mpok Jarot, dan banyak lagi. Masing-masing bumbunya tidak sama dan selalu ada rahasia menunya, hak patennya,” tambahnya.

Sekali waktu Sobron dijamu makan oleh koleganya yang aktif di grup milis Jalan Sutra yang dikelola Bondan Winarno. Ia mengeluh melihat kawan-kawannya yang doyan makan tapi tubuhnya tidak gemuk seperti dirinya.


Hindun Tersayang

Sewaktu bocah dan tinggal di kampung halamannya di Tanjung Pandan, Sobron sempat berjualan makanan kecil yang ia jajakan sambil berjalan kaki dan tanpa alas kaki, sekitar tahun 1946 sampai 1948. Ia menjual kue kontol bebek atau untir-untir, pulut panggang, ketan, goreng pisang, lemper, nasi lemak, nagasari, bugis telanjang, cucur, dll.

Di kampungnya banyak terdapat permukiman orang Bugis yang berada di pelabuhan dan pasar ikan. Sobron yang menjajakan jualannya sambil berteriak, kerap merasa khawatir ketika melewati perkampungan orang Bugis tersebut. Sebabnya adalah ia menjual kue bugis telanjang. Takut orang-orang Bugis tersinggung, maka ia cukup meneriakkan hanya, “kue bugiisss…kue bugiisss…”, tanpa ditambahi kata “telanjang”. (Potret Diri dan Keluarga: 2015 hlm. 52)

Dalam berjualan, Sobron mempunyai kawan perempuan yang sama-sama menjual kue. Namanya Hindun. Kue yang dijual Hindun kebetulan berbeda dengan yang dijual Sobron. Maka mereka kerap berjalan bersama menjajakan jualannya. Lama-kelamaan, karena sering bersama, Sobron menaruh hati pada gadis itu.

“Lama-lama saya suka dengannya. Anaknya baik. Putih dan ada tahi lalat dekat bibirnya. Rambutnya halus dan hitam legam. Bila tertawa manis sekali,” kenangnya.

Sekali waktu Sobron berjualan sendirian karena Hindun sakit cacar air. Ia sambangi rumahnya sambil membawa dua buah jambu bol yang ia bungkus dengan sapu tangan bersih. Maklum orang yang tengah sakit, Hindun sangat susah makan. Namun saat Sobron membawakannya jambu bol, Hindun mau memakannya. Saat ibunya pergi ke dapur untuk memasak, ia melihat wajah Hindun agak merah, agak segar.

“Abang tetap berjaja?” Tanya Hindun

“Ya, Ndun, abang tetap berjaja dan selalu datang ke tempat yang kita biasa bertemu itu,” jawabnya.

Kisah persahabatan yang mulai menumbuhkan benih cinta itu berakhir saat Sobron harus merantau ke Jakarta. Sebelum Sobron pergi, Hindun menulis surat buat dirinya. Ia hendak menunggu Sobron walaupun entah kapan bujang pujaannya itu akan kembali.

“Berapa lama Abang akan melanjutkan sekolah di Betawi itu, rasanya Ndun akan tetap menunggu Abang. Kira-kira kita sudah pada berbesaran, mendewasa, dan kita tidak lagi berjaja seperti beberapa bulan yang lalu,” tulisnya.

Lalu Hindun bercerita kenangan-kenangannya yang indah selama bersama Sobron saat naik pohon bakau yang dihiasai pemandangan perahu-perahu nelayan di kejauhan, yang Sobron bilang sebagai kupu-kupu putih yang berkilat. Kenangan waktu menangkap ikan di muara Sungai Baro, dan kisah lainnya.

Surat itu, seperti permulaannya, dipungkas oleh kesediaannya menunggu Sobron yang hendak belajar jauh ke pulau Jawa.

“Tetapi Bang, semua ini hanyalah akan jadi kenangan yang paling menyenangkan, paling indah dalam hidup Ndun. Sekarang yang jadi pertanyaan Ndun dalam hati, akan berapa lama kita terpisah karena Abang harus meneruskan sekolah ini. Rasanya, Bang, sekali lagi, rasanya, Ndun akan bertahan tetap menunggu Abang pulang, menunggu Abang, dan semoga kesampaian,” pungkasnya.

Nyatanya harapan Hindun tak kesampaian, ia tak berjodoh dengan Sobron. Hindun menikah dengan Baha, kawan dekat Sobron semasa kecil.

 

Galau Menjelang Pungkas Hayat

Setahun sebelum ajal menjemput, Sobron sempat menulis kegalauannya tentang kawan-kawannya yang sudah mulai berkurang, tua dan sakit, serta pergi mendahului dia. Catatan bertitimangsa 4 Mei 2006 itu dihimpun dalam Surat kepada Tuhan (2003) bertajuk “Semakin Kekeringan Persinggahan, Semakin Landai Pantai”.

Setiap pulang ke Indonesia, ia kerap berkunjung ke rumah Joebaar Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer, Rivai Apin, HR. Bandaharo, Bakri Siregar, dll. Mereka mengobrol, bertukar kisah, berdebat dan bercanda. Bagi Sobron, kawan-kawannya itu ibarat persinggahan, gunung tinggi sekaligus teluk yang dalam.

Setelah Rivai Apin wafat, Joebaar Ajoeb meninggal pada tahun 1997, dan Pramoedya menyusulnya pada 30 April 2006, sementara kawan-kawannya yang lain kian tua dan sakit-sakitan, tempat persinggahan itu semakin berkurang. Ia bingung hendak ke mana lagi.

“Dulu masih begitu banyak daerah persinggahan, masih begitu banyak gunung tinggi dan teluk yang dalam yang luas. Tetapi kini rasanya sudah semakin mengecil. Sudah semakin mengering dan pantainya sudah semakin landai. Dan saya dalam hati terisak-isak sendiri. Mau ke mana saya sesudah ini? Sudah begitu kekeringan tempat persinggahan. Sudah begitu landai pantai yang dulu sangat bagus, sangat menarik dan asyik. Kini tak tahulah saya. Barangkali memang begitulah adat dunia dalam kehidupan ini,” tulisnya.

10 Februari 2007, di Paris, Sobron Aidit meninggal. Menyusul kawan-kawannya yang telah mendahului. Ia dalam kata-kata Martin di penghabisan cerpen Melarung Bro di Nantalu: “sedang berenang-renang ke surga….” (irf)



Ket:

- Pertama kali tayang di tirto.id pada 23 Maret 2018
- Foto: budidayak.blogspot.com

24 October 2017

Melarung Bro di Nantalu (Oleh: Martin Aleida)


Tak pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjemput ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami merasa tak nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis.
Angan-angan kami adalah sebuah istirahat kubur yang damai di bawah langit biru di lingkungan hutan hujan. Betapa bahagianya kami nanti dari dalam liang lahad bisa menyaksikan air yang menderu tak habis-habisnya, berebutan jatuh meluncur membasuh tebing. Akangkah nikmatnya menyaksikan hablur air yang deras menghanyutkan jutaan kiambang buih ke Selat Malaka, meninggalkan jejak pelangi di pucuk-pucuk pohon.
Tetapi, apa mau dikata, cita-cita yang sudah berusia lebih setengah abad itu hanyut sudah. Sekarang aku berdiri seorang diri di tubir sungai ini, di Nantalu. Hati terluka, karena apa yang dulu telah bulat kami tancapkan sebagai niat tinggal angan-angan hampa belaka. Paling tidak untuk Bro, kawanku….
Dulu, ketika baru balig, tak pernah kami bayangkan bahwa kematian tidak selamanya harus berakhir di liang persegi panjang di sebidang tanah. Agama yang kami anut tidak memungkinkan khayal kami untuk berpikir tentang akhir hayat seperti itu. Yang tidak memerlukan tanah barang sejengkal pun sebagai kuburan. Dan bahwa dengan panasnya tungku krematorium, tulang dan daging seonggok jasad bisa tinggal hanya segumpal debu. Namun, justru jalan kematian yang berapi seperti itulah yang telah ditempuh Bro, setelah dia mengembara berpuluh tahun di dua daratan benua.
Sendirian aku di tepi sungai ini. Di kakiku air berkecipak berlomba ke muara. Di tanganku telentang cawan seputih gading. Di dalamnya tertumpuk jasad Bro yang hanya tinggal abu, seujung tajuk bunga kamboja banyaknya. Dari Prancis, anaknya, Suilien, memohon agar aku berkenan melarung abu ayahnya itu di sungai ini, di tumpah darahnya ini. Suilien tak bisa datang. Bukan karena tak ada waktu untuk sang ayah. Masalahnya, dia membayangkan betapa dia takkan kuasa menahan getirnya perasaan melihat mulut-mulut yang mencibir, yang ditujukan kepadanya. “Cis najis, cucu berdarah iblis….” Begitulah mungkin umpat semua mata begitu menyaksikan kedatangannya.
Suilien ingat bagaimana jasad atoknya, ayah dari ayahnya, 45 tahun lalu, dibiarkan dingin membatu, sampai-sampai cairan tubuhnya sudah merembes dari celah kuku. Lalat dan belatung mengerubung, tapi tak ada warga yang mau merapat. Tak ada yang ridho menguburkannya baik-baik, dengan doa, walau hanya selenting. Dendam yang sesat telah menjadikan orang tua itu lebih hina daripada ikan patin yang terapung membusuk. Padahal, dia yang terbujur itu bukanlah pembangkang Tuhan. Dia pernah menjadi anggota parlemen, berulang-ulang naik kapal laut untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi, di mata mereka yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan, jasadnya tak layak dimakamkan, karena anaknya dipercaya jadi dalang pembantaian para jenderal.

Beberapa tahun sebelum peristiwa berdarah yang menjungkirbalikkan jalannya sejarah negeri ini, Bro dan istrinya bertolak memenuhi undangan ke Tiongkok. Dia mendapat tawaran yang baik, menjadi guru Bahasa Indonesia di sana. Malang, hanya sekejap dia menikmati hidup sebagai seorang guru besar. Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, “Datanglah ke Tiongkok/tengok hari esok,”hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar gelas. Revolusi Kebudayaan melanda Tiongkok. Bukan cuma kaum komunis yang dicap jadi borjuis di negeri itu saja yang jadi sasaran. Juga orang-orang Indonesia yang menjadi tamu perayaan hari jadi Republik Rakyat Tiongkok. Mereka tak bisa kembali ke kampung, kecuali siap untuk ditangkap dengan tuduhan terlibat persekongkolan membantai para jenderal.

Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama dengan kaum komunis lokal, yang dituduh terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga menemukan nasib yang tak kalah buruk. Bersama kawan-kawannya, dia digiring ke pedesaan. Dia dipaksa melakukan kerja badan, bertani, sebagai hukuman untuk gaya hidup yang dicap berleha-leha ala tuan tanah selama ini. Bro yang semasa kecil di kota kami ikut mengejek dan melempari apek, yaitu Cina tua dan papa yang sedang membuang kotoran manusia ke sungai, sekarang nyahok. Dia dipaksa memungut kotoran manusia untuk disiramkan ke tanaman sebagai pupuk, semacam pembenaran terhadap petuah Ketua Mao bahwa pabrik pupuk terbesar di dunia ada di perut manusia.

Akhirnya, Bro berniat melarikan diri, dan dia menemukan jalan untuk menyingkir dari siksaan berkepanjangan. Melalui perjalanan darat beribu kilometer, yang tak pernah dia bayangkan, sampailah dia di Paris. Di kota itu dia bertemu dengan seorang kawan yang juga tak bisa pulang ke Jakarta, kecuali siap ditangkap, disiksa, dan dibunuh.

Museum yang mengagumkan, restoran-restoran dengan bangunan antik yang menggiurkan, menyaksikan Bro dan kawan-kawan yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, terkadang tubuh Bro yang gembor kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus tali teraju. Sambil berjalan, hernianya kerap kumat. Untung di Paris. Orang-orang di sini takkan melirik pisak celananya yang menjendol sebesar kelapa. Di kota kami, penyakit itu akan menjadi olok-olok. Akan ada orang yang iseng, membeli jeruk purut, dibubuhi garam, diperas, dan ditiupkan jampi dari kejauhan, bikin kantong buah pelir membengkak, gatal tak karuan.

Pada sebuah daun pintu, di sebelah gereja tua, harap-harap cemas dua sahabat sepenanggungan itu mengetuk dengan kepala merunduk. Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan restoran masakan Indonesia. Turis rupa-rupa bangsa, yang mencari-cari makanan eksotis, menemukan yang mereka buru di situ. Mereka yang dikejar-kejar pemerintah Indonesia menjadikan restoran yang taplak mejanya berwarna merah itu sebagai pusat temu kangen. Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang mampir di Paris, restoran tersebut adalah tujuan yang harus dihindari. Seperti ada wabah lepra di situ.

Restoran bertaplak merah itu menarik perhatian Jio, teman Bro ketika masih di Jakarta. Jio yang tak tahan menanggung siksa membelot menjadi interogator terhadap para tahanan politik yang adalah kawan-kawannya sendiri. Dia pelukis, dan dialah yang memberikan ilham jahat kepada penguasa militer, bahwa di pedestal, di atas tempat patung Dirgantara akan ditempatkan, yang lancip berdiri diperempatan Pancoran, Jakarta, adalah patung pencungkil mata. Untuk membangkitkan amarah masyarakat terhadap pembunuhan jenderal, koran-koran yang berada di bawah kontrol militer, yang bernafsu untuk menjatuhkan Soekarno dengan membantai para pendukungnya, melansir berita bahwa para jenderal, setelah dibunuh, dimutilasi dalam seribu potong. Dicungkil matanya. Patung pencungkil mata itu buktinya.

Sebelum meninggal karena dibunuh kencing manis, Jio berniat memata-matai restoran bertaplak merah itu. Tak sulit buatnya. Kekuasaan dekat ketiaknya. Duit, apalagi. Dia pun terbang ke Paris. Bro kaget ketika melihat Jio sudah berdiri di depan hidungnya. Nama Jio dan seluruh kelakuannya sudah lama jadi bahan cemooh di kalangan mereka yang terdampar di Eropa. “Apakah sudah sejauh ini tugas yang diterima kawan ini…?” tanya Bro di dalam hati.

Tenang, dengan keramahan setengah hati, dia melayani tamu istimewanya hari itu. Yang tidak bisa dia patuhi adalah ketika Jio ingin menginap di apartemennya. “Apakah sebagai interogator dan intel, tugasnya termasuk memenggal kepalaku selagi tidur?” teriak Bro di dalam hati.

“Ingat kau,” tiba-tiba dia berbicara dalam nada tinggi, tak tahan membendung amarah. “Ini bukan Kota Paris, sarang lonte di Senen, Jakarta. Ini Paris, ibu kota negara di mana hukum jadi ukuran peradaban. Ini bukan negaramu, negara hukuman…!” Sebagai warga negara Prancis, Bro tentu tak bisa disentuh seorang pendurhaka semacam Jio.

Bro adalah sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa, yang tiada tara. Bertahun menetap di Beijing. Dihinakan Revolusi Kebudayaan. Kehilangan istri di sini. Melompati Tembok Besar, melarikan diri ke Eropa. Berpuluh tahun hidup bukan dari buku, tetapi dari ulekan sambal di dapur.

Semasa anak-anak, kami sepengajian. Kuingat benar, tiga kali kami tamat membaca Alquran. Tiga kali pula diupah-upah berbarengan. Tapi, ah…. Lututku lemas. Empat tahun sebelum Bro jatuh terduduk dan tak bangun-bangun lagi di restoran bertaplak merah itu, agama yang sama-sama kami yakini ternyata dia tinggalkan. Ke mana pun pergi, sebentuk salib perak menggantung pas di tentang jantungnya. Apakah perjalanan hidup yang kelabu, yang dia tempuh berpuluh tahun, sama menyiksanya dengan yang dialami kawan-kawannya di tahanan dan di pulau pembuangan Indonesia, di mana para penceramah agama dan Pancasila menyumpahi mereka sebagai komunis, biang kufur?! Membuat iman si pesakitan guncang?!

“Seberat apa pun cobaan, pantang kami menyerahkan iman.” Itu kata penyair Aceh, sahabat Bro, begitu mendengar kabar terakhir tentang dirinya. Pengusung salib sejati Bro juga tidak. Dia bersahabat dengan seorang pendeta Buddha yang sama-sama ditindas komunis radikal di Tiongkok tempo hari. Cahaya persahabatan itulah yang di kemudian hari mengilhami Bro dalam mengatasi kemusykilan ketika akan menuliskan wasiat kepada anaknya, dengan jalan bagaimana dia akan kembali kepada pencipta-Nya. Sebab, dia ingin jasadnya yang sudah ditinggalkan rohnya—ibarat rumah yang sudah kosong—tidak hanya berada di Paris, tetapi juga ada di Amsterdam, Beijing, Berlin, dan Nantalu. Bro memilih jalan kematian seorang Buddhis: kremasi.

Bro telah menulis beberapa buku kenang-kenangannya semasa dia masih berada di Indonesia. Dalam bayanganku, Bro tentulah akan menulis sebuah buku dengan kisah yang merenggut perhatian, juga simpati, apabila dia menceritakan perjalanan hidupnya di daratan jauh. Dan menumpahkan pengakuan bagaimana kepercayaan, juga iman, telah menjadi permainan yang lapuk dalam sebuah perjalanan hidup yang buruk dan tak pernah dia mimpikan.

Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna “yang kalah,” air terus berpendar berkecipak menciumi tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejumput abu Bro. “Tuhan, siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.” Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga… [ ]

Tayang di Jawa Pos edisi 12 Desember 2010