Showing posts with label Tiongkok. Show all posts
Showing posts with label Tiongkok. Show all posts

24 October 2017

Melarung Bro di Nantalu (Oleh: Martin Aleida)


Tak pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjemput ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami merasa tak nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis.
Angan-angan kami adalah sebuah istirahat kubur yang damai di bawah langit biru di lingkungan hutan hujan. Betapa bahagianya kami nanti dari dalam liang lahad bisa menyaksikan air yang menderu tak habis-habisnya, berebutan jatuh meluncur membasuh tebing. Akangkah nikmatnya menyaksikan hablur air yang deras menghanyutkan jutaan kiambang buih ke Selat Malaka, meninggalkan jejak pelangi di pucuk-pucuk pohon.
Tetapi, apa mau dikata, cita-cita yang sudah berusia lebih setengah abad itu hanyut sudah. Sekarang aku berdiri seorang diri di tubir sungai ini, di Nantalu. Hati terluka, karena apa yang dulu telah bulat kami tancapkan sebagai niat tinggal angan-angan hampa belaka. Paling tidak untuk Bro, kawanku….
Dulu, ketika baru balig, tak pernah kami bayangkan bahwa kematian tidak selamanya harus berakhir di liang persegi panjang di sebidang tanah. Agama yang kami anut tidak memungkinkan khayal kami untuk berpikir tentang akhir hayat seperti itu. Yang tidak memerlukan tanah barang sejengkal pun sebagai kuburan. Dan bahwa dengan panasnya tungku krematorium, tulang dan daging seonggok jasad bisa tinggal hanya segumpal debu. Namun, justru jalan kematian yang berapi seperti itulah yang telah ditempuh Bro, setelah dia mengembara berpuluh tahun di dua daratan benua.
Sendirian aku di tepi sungai ini. Di kakiku air berkecipak berlomba ke muara. Di tanganku telentang cawan seputih gading. Di dalamnya tertumpuk jasad Bro yang hanya tinggal abu, seujung tajuk bunga kamboja banyaknya. Dari Prancis, anaknya, Suilien, memohon agar aku berkenan melarung abu ayahnya itu di sungai ini, di tumpah darahnya ini. Suilien tak bisa datang. Bukan karena tak ada waktu untuk sang ayah. Masalahnya, dia membayangkan betapa dia takkan kuasa menahan getirnya perasaan melihat mulut-mulut yang mencibir, yang ditujukan kepadanya. “Cis najis, cucu berdarah iblis….” Begitulah mungkin umpat semua mata begitu menyaksikan kedatangannya.
Suilien ingat bagaimana jasad atoknya, ayah dari ayahnya, 45 tahun lalu, dibiarkan dingin membatu, sampai-sampai cairan tubuhnya sudah merembes dari celah kuku. Lalat dan belatung mengerubung, tapi tak ada warga yang mau merapat. Tak ada yang ridho menguburkannya baik-baik, dengan doa, walau hanya selenting. Dendam yang sesat telah menjadikan orang tua itu lebih hina daripada ikan patin yang terapung membusuk. Padahal, dia yang terbujur itu bukanlah pembangkang Tuhan. Dia pernah menjadi anggota parlemen, berulang-ulang naik kapal laut untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi, di mata mereka yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan, jasadnya tak layak dimakamkan, karena anaknya dipercaya jadi dalang pembantaian para jenderal.

Beberapa tahun sebelum peristiwa berdarah yang menjungkirbalikkan jalannya sejarah negeri ini, Bro dan istrinya bertolak memenuhi undangan ke Tiongkok. Dia mendapat tawaran yang baik, menjadi guru Bahasa Indonesia di sana. Malang, hanya sekejap dia menikmati hidup sebagai seorang guru besar. Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, “Datanglah ke Tiongkok/tengok hari esok,”hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar gelas. Revolusi Kebudayaan melanda Tiongkok. Bukan cuma kaum komunis yang dicap jadi borjuis di negeri itu saja yang jadi sasaran. Juga orang-orang Indonesia yang menjadi tamu perayaan hari jadi Republik Rakyat Tiongkok. Mereka tak bisa kembali ke kampung, kecuali siap untuk ditangkap dengan tuduhan terlibat persekongkolan membantai para jenderal.

Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama dengan kaum komunis lokal, yang dituduh terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga menemukan nasib yang tak kalah buruk. Bersama kawan-kawannya, dia digiring ke pedesaan. Dia dipaksa melakukan kerja badan, bertani, sebagai hukuman untuk gaya hidup yang dicap berleha-leha ala tuan tanah selama ini. Bro yang semasa kecil di kota kami ikut mengejek dan melempari apek, yaitu Cina tua dan papa yang sedang membuang kotoran manusia ke sungai, sekarang nyahok. Dia dipaksa memungut kotoran manusia untuk disiramkan ke tanaman sebagai pupuk, semacam pembenaran terhadap petuah Ketua Mao bahwa pabrik pupuk terbesar di dunia ada di perut manusia.

Akhirnya, Bro berniat melarikan diri, dan dia menemukan jalan untuk menyingkir dari siksaan berkepanjangan. Melalui perjalanan darat beribu kilometer, yang tak pernah dia bayangkan, sampailah dia di Paris. Di kota itu dia bertemu dengan seorang kawan yang juga tak bisa pulang ke Jakarta, kecuali siap ditangkap, disiksa, dan dibunuh.

Museum yang mengagumkan, restoran-restoran dengan bangunan antik yang menggiurkan, menyaksikan Bro dan kawan-kawan yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, terkadang tubuh Bro yang gembor kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus tali teraju. Sambil berjalan, hernianya kerap kumat. Untung di Paris. Orang-orang di sini takkan melirik pisak celananya yang menjendol sebesar kelapa. Di kota kami, penyakit itu akan menjadi olok-olok. Akan ada orang yang iseng, membeli jeruk purut, dibubuhi garam, diperas, dan ditiupkan jampi dari kejauhan, bikin kantong buah pelir membengkak, gatal tak karuan.

Pada sebuah daun pintu, di sebelah gereja tua, harap-harap cemas dua sahabat sepenanggungan itu mengetuk dengan kepala merunduk. Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan restoran masakan Indonesia. Turis rupa-rupa bangsa, yang mencari-cari makanan eksotis, menemukan yang mereka buru di situ. Mereka yang dikejar-kejar pemerintah Indonesia menjadikan restoran yang taplak mejanya berwarna merah itu sebagai pusat temu kangen. Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang mampir di Paris, restoran tersebut adalah tujuan yang harus dihindari. Seperti ada wabah lepra di situ.

Restoran bertaplak merah itu menarik perhatian Jio, teman Bro ketika masih di Jakarta. Jio yang tak tahan menanggung siksa membelot menjadi interogator terhadap para tahanan politik yang adalah kawan-kawannya sendiri. Dia pelukis, dan dialah yang memberikan ilham jahat kepada penguasa militer, bahwa di pedestal, di atas tempat patung Dirgantara akan ditempatkan, yang lancip berdiri diperempatan Pancoran, Jakarta, adalah patung pencungkil mata. Untuk membangkitkan amarah masyarakat terhadap pembunuhan jenderal, koran-koran yang berada di bawah kontrol militer, yang bernafsu untuk menjatuhkan Soekarno dengan membantai para pendukungnya, melansir berita bahwa para jenderal, setelah dibunuh, dimutilasi dalam seribu potong. Dicungkil matanya. Patung pencungkil mata itu buktinya.

Sebelum meninggal karena dibunuh kencing manis, Jio berniat memata-matai restoran bertaplak merah itu. Tak sulit buatnya. Kekuasaan dekat ketiaknya. Duit, apalagi. Dia pun terbang ke Paris. Bro kaget ketika melihat Jio sudah berdiri di depan hidungnya. Nama Jio dan seluruh kelakuannya sudah lama jadi bahan cemooh di kalangan mereka yang terdampar di Eropa. “Apakah sudah sejauh ini tugas yang diterima kawan ini…?” tanya Bro di dalam hati.

Tenang, dengan keramahan setengah hati, dia melayani tamu istimewanya hari itu. Yang tidak bisa dia patuhi adalah ketika Jio ingin menginap di apartemennya. “Apakah sebagai interogator dan intel, tugasnya termasuk memenggal kepalaku selagi tidur?” teriak Bro di dalam hati.

“Ingat kau,” tiba-tiba dia berbicara dalam nada tinggi, tak tahan membendung amarah. “Ini bukan Kota Paris, sarang lonte di Senen, Jakarta. Ini Paris, ibu kota negara di mana hukum jadi ukuran peradaban. Ini bukan negaramu, negara hukuman…!” Sebagai warga negara Prancis, Bro tentu tak bisa disentuh seorang pendurhaka semacam Jio.

Bro adalah sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa, yang tiada tara. Bertahun menetap di Beijing. Dihinakan Revolusi Kebudayaan. Kehilangan istri di sini. Melompati Tembok Besar, melarikan diri ke Eropa. Berpuluh tahun hidup bukan dari buku, tetapi dari ulekan sambal di dapur.

Semasa anak-anak, kami sepengajian. Kuingat benar, tiga kali kami tamat membaca Alquran. Tiga kali pula diupah-upah berbarengan. Tapi, ah…. Lututku lemas. Empat tahun sebelum Bro jatuh terduduk dan tak bangun-bangun lagi di restoran bertaplak merah itu, agama yang sama-sama kami yakini ternyata dia tinggalkan. Ke mana pun pergi, sebentuk salib perak menggantung pas di tentang jantungnya. Apakah perjalanan hidup yang kelabu, yang dia tempuh berpuluh tahun, sama menyiksanya dengan yang dialami kawan-kawannya di tahanan dan di pulau pembuangan Indonesia, di mana para penceramah agama dan Pancasila menyumpahi mereka sebagai komunis, biang kufur?! Membuat iman si pesakitan guncang?!

“Seberat apa pun cobaan, pantang kami menyerahkan iman.” Itu kata penyair Aceh, sahabat Bro, begitu mendengar kabar terakhir tentang dirinya. Pengusung salib sejati Bro juga tidak. Dia bersahabat dengan seorang pendeta Buddha yang sama-sama ditindas komunis radikal di Tiongkok tempo hari. Cahaya persahabatan itulah yang di kemudian hari mengilhami Bro dalam mengatasi kemusykilan ketika akan menuliskan wasiat kepada anaknya, dengan jalan bagaimana dia akan kembali kepada pencipta-Nya. Sebab, dia ingin jasadnya yang sudah ditinggalkan rohnya—ibarat rumah yang sudah kosong—tidak hanya berada di Paris, tetapi juga ada di Amsterdam, Beijing, Berlin, dan Nantalu. Bro memilih jalan kematian seorang Buddhis: kremasi.

Bro telah menulis beberapa buku kenang-kenangannya semasa dia masih berada di Indonesia. Dalam bayanganku, Bro tentulah akan menulis sebuah buku dengan kisah yang merenggut perhatian, juga simpati, apabila dia menceritakan perjalanan hidupnya di daratan jauh. Dan menumpahkan pengakuan bagaimana kepercayaan, juga iman, telah menjadi permainan yang lapuk dalam sebuah perjalanan hidup yang buruk dan tak pernah dia mimpikan.

Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna “yang kalah,” air terus berpendar berkecipak menciumi tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejumput abu Bro. “Tuhan, siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.” Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga… [ ]

Tayang di Jawa Pos edisi 12 Desember 2010

23 September 2015

Debu-debu yang Sampai di Frankfurt

Dalam keragaman karya, selain buku-buku fiksi, buku para penulis non fiksi pun akan ikut dipamerkan di gelaran Frankfurt Book Fair. Satu dari ragam non-fiksi itu adalah tulisan-tulisan perjalanan Agustinus Wibowo menjelajahi negeri-negeri dunia ketiga yang murung, penuh marabahaya, namun sekaligus indah.
Penulis kelahiran Lumajang yang pada awalnya adalah anak rumahan, nyaman dalam kepompong keluarga, namun pada akhirnya justru melakukan perjalanan menembus batas-batas negara dengan cara yang mencengangkan. Alih-alih menggunakan moda transportasi udara, ia malah menghindarinya. Orang boleh bilang caranya adalah pembenaran terhadap dana yang minim, dan itu memang tidak ia sangkal, bahwa ia kerap kekurangan uang tiap kali akan naik pesawat. Namun sesungguhnya ada hal lain yang patut untuk diapresiasi.
”Saya menghindari perjalanan dengan pesawat. Perjalanan udara menghalangi saya menyerap saripati tempat-tempat yang saya kunjungi. Menyatu dengan budaya setempat, menjalin persahabatan dengan banyak orang di tiap tempat, merasakan kehidupan masyarakat di suatu tempat adalah hal-hal yang tidak mungkin saya dapatkan jika saya menggunakan pesawat terbang,” terangnya.

Buku pertama yang berjudul “Selimut Debu” merekam perjalanannya waktu berkunjung ke Afghanistan. Negeri yang porak-poranda oleh perang berkepanjangan itu ia datangi dengan semangat yang tak luruh. Meskipun masih menyisakan kengerian di hampir semua penjuru, namun Agustinus tak gentar untuk datang ke kantong-kantong tempat interaksi masyarakat, untuk mengakrabi dan memahami kehidupan warganya.

“Perjalanan mengajarkan saya tentang warna-wani hidup, ragam budaya dan manusia. Perjalanan ini juga memaparkan pada saya bahwa dunia tidak seindah yang kita impikan. Hidup ini cantik sekaligus buruk rupa, bahagia sekaligus muram, berwarna sekaligus kelabu,” ujarnya.

Pada buku berikutnya yang kemudian diberi judul “Garis Batas”, ia melanjutkan perjalanannya ke beberapa negara bekas pecahan Uni Soviet. Kesadaran yang mencuat dari realitas yang ia temui, salah satunya adalah tentang bagaimana negara sebagai sebuah institusi, lengkap dengan simbol-simbolnya, ternyata terlalu banyak menciptakan garis batas yang pada akhirnya memisahkan manusia dengan manusia yang lainnya, di mana sebetulnya kemesraan kemanusiaan dapat terjalin.

Lalu pada karya selanjutnya, ia menulis “Titik Nol”. Kali ini Agustinus mencoba menembus kerasnya Kashmir, Himalaya yang anggun dan misterius, serta gejolak sosial yang mengerikan. Buku ini menjadi semacam titik balik dari petualangannya yang telah ditempuh selama bertahun-tahun. Ia yang sudah menghabiskan waktunya dalam perjalanan sejauh ribuan kilometer, ternyata justru menemukan makna perjalanan dari seseorang yang tak pernah ke mana-mana sepanjang hayatnya. Si musafir bersujud di samping ibunya yang tengah terbaring sakit.

Sekarang, setelah ibu yang sangat dicintainya meninggal, Agustinus terus melanjutkan perjalanannya menyinggahi negeri-negeri jauh di berbagai pelosok dunia. Petualangannya dalam mengakrabi ragam manusia lengkap dengan konflik dan budayanya, akan terus berlanjut sampai batas waktu yang entah.

“Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini akan berakhir. Yang saya tahu, saya masih ingin terus melanjutkan petualangan saya. Masih ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi,” tuturnya.

Dan sekali ini, di Frankfurt, Agustinus beserta buku-bukunya akan ikut juga memperkaya perspektif tentang kondisi Indonesia kontemporer. Ia yang dibentuk oleh ke-Indonesia-an, baik secara pribadi maupun budaya, kini berkat perjalanan-perjalanannya, telah menjadi warga dunia. Hal ini merupakan modal penting untuk bahan dialog, tentang bagaimana hasil perjalanannya dilihat secara luas, lalu dijadikan bahan renungan bersama.

Debu-debu kehidupan, debu-debu peperangan dan sisa-sisa kematian, dan debu-debu perjalanan yang disesap Agustinus pun akhirnya akan sampai juga di Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.


15 May 2012

Membaca Njoto, Membaca Sejarah yang Diliputi Kabut

“Jangse mengalir
Kepalku menghilir
Dari Cangking ke Wuhan
Kejelajahi haridepan
Kujelajahi haridepan”

***

Menghadirkan kembali tokoh-tokoh PKI dalam sebuah buku tentu saja masih selalu mengundang kontroversi, meskipun reformasi sudah berjalan hampir tigabelas tahun semenjak Orde Baru jatuh. Di jalanan kadang-kadang terlihat spanduk yang memasang tulisan “ Awas Bahaya Laten Komunis!!”. Komunisme dan PKI ternyata masih menjadi hantu yang menakutkan, terutama setelah gempa politik 1965. Ruang sejarah yang seharusnya menulis peristiwa dari berbagai perspektif, ternyata masih saja memberikan sedikit ruang bagi penulisan kembali sejarah “gelap” yang selama ini memojokkan salah satu pelakonnya. Tapi sebenarnya kondisi sekarang lebih mulai terbuka daripada beberapa puluh tahun ke belakang, ketika buku-buku sejarah, terutama yang dipelajari di sekolah, ditulis menjadi dua blok : penjahat dan pahlawan. Penulisan sejarah digiring oleh kepentingan penguasa yang takut oleh kemungkinan-kemungkinan fakta yang sebenarnya bisa saja dihadirkan secara seimbang.

Adalah majalah TEMPO yang pada tahun 1994 sempat dibredel dan kembali hadir di tengah ruang public yang mencoba menghadirkan penulisan sejarah dengan pendekatan jurnalistik. Dalam kata pengantarnya, yang ditulis oleh Arif Zulkifli (Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO), menulis : “Kami sadar bahwa kami bukan sejarawan. Edisi khusus yang kini diterbitkan dalam versi buku tidak berpretensi untuk menguji masa lalu dengan metodologi sejarah yang ketat. Dalam pendekatan jurnalistik, yang diharapkan muncul adalah pesona sejarah---meski tidak berarti fakta disajikan serampangan dan tanpa verifikasi. Tujuan jurnalisme adalah mengetengahkan fakta dengan menarik, dramatic tanpa mengabaikan presisi.”

Seri buku TEMPO, setidaknya yang sudah beredar di toko buku, “baru” hadir tiga pembagian besar : Bapak Bangsa (Soekarno, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir), Tokoh Islam Awal Kemerdekaan (Daud Beureuh, Sekar Maridjan Kertosuwirjo, Mohammad Natsir, Wahid Hasyim), dan Orang Kiri Indonesia (Dipa Nusantara Aidit, Muso, Njoto, Sjam Kamaruzaman). Kata “baru” dimaksudkan sebagai sebuah harapan pribadi, harapan saya yang masih menantikan buku-buku lainnya tentang sejarah yang ditulis oleh TEMPO. Salah satu yang menarik dari seri buku ini adalah penulisannya yang cerdas; ditulis dengan angle lain dan pemilihan diksi yang “bertenaga”, sebagai ciri khas tulisan waratawan. Dalam kata pengantar buku Bapak Bangsa, hal ini diakui oleh TEMPO : “Menulis para tokoh punya kompleksitasnya sendiri, kami harus pandai-pandai mencari sudut pandang yang tak dilihat media atau penulis lain. Padahal buku, artikel, dan hasil studi tentang empat tokoh ini (Bapak Bangsa) sudah setumpuk. Kami tentu bisa mengutip mereka, tapi kami tak bisa melulu mengunyah-ngunyah informasi lama.”

Dari ketiga seri buku yang telah terbit, menulis kembali Orang Kiri Indonesia mempunyai tantangannya tersendiri, bahkan sejak dari awal. Seorang pensiunan letnan jenderal Angkatan Darat, seperti dituturkan Arif Zulkifli, dalam acara silaturahmi Idul Fitri di kantor TEMPO sempat berkata setengah menghardik, “Kalian tak mengerti sejarah!”, waktu tahu bahwa TEMPO akan menerbitkan buku Orang Kiri Indonseia yang salah satu tokohnya adalah D.N. Aidit. Dalam pandangannya, Aidit tak selayaknya ditulis panjang lebar dalam sebuah laporan utama yang kemudian menjadi buku. Sebagai sebuah tangkisan kepada pandangan purnawirawan Angkatan Darat tersebut, TEMPO menulis : “Sesungguhnya tak ada fatwa yang mengharamkan media massa menulis tentang orang yang paling jahat sekalipun. Dasar media menulis adalah kemenarikan suatu peristiwa. Di atas itu ada hak public untuk tahu. Dalam hal tiga sosok orang kiri Indonesia, informasi yang diterima public kebanyakan berselimut kabut. Sang jenderal menganggap orang-orang kiri Indonesia berkhianat kepada republic dank arena itu wajib ditumpas. Segi-segi detail tentang sosok itu tak perlu dibahas. Juga cerita dia sebagai manusia. Padahal cerita tentang Aidit misalnya, mestinya diletakkan dalam sebuah bingkai yang lebih utuh. Inilah kisah tentang tragedy anak manusia. Tentang seorang yang punya cita-cita---betapapun sepakat/tak sepakatnya kita pada cita-cita itu dan cara mewujudkannya.”

Saya sebenarnya ingin menulis semacam resensi untuk semua buku tersebut, tapi yang mula-mula akan dihadirkan di sini adalah Njoto, salah satu orang kiri Indonesia yang bukunya dengan mudah dapat ditemui di toko buku besar. Hal ini mungkin dipengaruhi olah gaya menulis TEMPO yang menyebutnya sebagai seorang komunis yang tak biasa. Selain itu, Njoto juga dalam pembendaharaan pengetahuan saya yang sangat sedikit termasuk tokoh komunis yang sangat jarang terdengar. Tidak seperti Aidit dan Muso, Njoto sangat jarang ditulis dalam buku-buku sejarah mainstream. Sedangkan TEMPO menulisnya seperti ini : “Njoto, yang namanya nyaris tak menyimpan pesona, adalah seorang berbeda dari orang komunis pada umumnya. Ia necis dan piawai nermain biola dan saksofon. Ia menimati music simfoni, menonton teater, dan menulis puisi yang tak melulu ‘pro-rakyat’ dan menggelorakan ‘semangat perjuangan’. Ia menghapus The Old Man and The Sea---film yang diangkat dari novel Ernest Hemingway---dari daftar film Barat yang diharamkan Partai Komunis Indonesia. Ia menghayati Marxisme dan Leninisme, tapi tak menganggap yang ‘kapitalis’ harus selalu dimusuhi.”

Menyusuri Njoto, dalam buku yang ditulis para wartawan TEMPO ini, kita mula-mula diajak ke masa kecilnya di Jember. Njoto adalah anak Raden Sosro Hartono, seorang keturunan ningrat Solo yang disegani karena perbawanya.  Njoto kecil sudah “nyentrik”. Di usia 12 tahun, Njoto terpesona pada sepatu roda, mainan yang tergolong mewah waktu itu, apalagi di Jember, kota kecil di ujung Jawa Timur. Njoto kecil tumbuh dengan cita-cita menjadi jurnalis. Kepada ayahnya, Njoto juga menyampaikan tekadnya untuk mengusai berbagai bahasa asing, seperti Inggris, Jerman, Belanda, Rusia, dan Prancis. Selain itu, seperti sudah digariskan pada awalnya, Njoto sejak kecil tidak menyukai struktur social yang bertingkat dan cenderung kaku. Pada hari raya Idul Fitri, misalnya, dia merasatak nyaman menyaksikan suasana feodal Jawa di rumah orangtuanya.

Dalam sejarah yang terus bergulir, Njoto beranjak besar dan pada sebuah relativitas waktu, Njoto  akhirnya bertemu dengan Aidit dan Lukman---orang-orang muda yang bergiat di PKI. Njoto bersama Aidit dan Lukman kemudian masuk Komisi Penterjemah PKI pada awal 1948, yang tugasnya menerjemahkan Manifes Partai Komunis, karya Karl Marx dan Friedrich Engels. Pada Agustus 1948, tiga serangkai ini sama-sama jadi anggota Comite Central PKI. Aidit mengurus bidang Agraria, Lukman awalnya di Sekretariat Agitasi dan Propaganda, sedangkan Njoto menjalin relasi dengan badan-badan perwakilan. Ketika pemberontakan PKI Madiun pecah, partai limbung, tercerai-berai. Aidit, Njoto, Lukman bagaikan Three Musketeers. Mereka muncul menjadi tulang punggung partai. Tokoh-tokoh muda ini kemudian berhasil menggusur tokoh-tokoh tua dan akhirnya mengambil alih kepemimpinan partai, dan semunya “habis” tidak lama setelah G30S pecah.

Tentu semua orang faham belaka, bahwa semua orang PKI, dari para elite sampai simpatisannya, baik di kota maupun di daerah,  habis di babat semenjak gempa politik 1965, tak terkecuali Njoto. Ia diculik, hilang, dan tak kembali hingga kini. Jejak kematiannya tak terlacak.

Sebagai sebuah ikhtiar mengumpulkan bahan penulisan, juga untuk melacak yang selama ini tak terlacak, TEMPO menyempatkan berkunjung ke keluarga besarnya. Dari Soetarni, istrinya, didapat informasi bahwa Njoto merayu calon istrinya itu dengan puisi cinta. Jarak yang menjauhkan antara dirinya dan Soetarni dia lipat dengan surat yang amat panjang, lengkap dengan berbaris-baris puisi cintanya. “Itu surat apa koran?,” kata ayah Soetarni waktu itu. Selain itu, minat Njoto pada sastra pun begitu besar. Mantan pemimpin redaksi Harian Rakjat itu berminat pada karya-karya pengarang Rusia seperti Nikolai Gogol dan Dostoevsky, hingga penulis yang ideologinya berseberangan. Bahkan dia juga menyukai karya H.B. Jassin dan HAMKA. Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan, sekitar bulan September 2008 sempat mengumpulkan beberapa puisi Njoto dan menerbitkannya dalam buku Gugur Merah : Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965. Salah satu puisinya adalah seperti yang saya kutip di awal tulisan ini yang ditulisnya pada tanggal 14 Oktober 1959.

Beberapa waktu sebelumnya peristiwa 30 September 1965, Njoto yang sering pergi ke Moskow unutk berkomunikasi dengan partai komunis internasional, dikabarkan berselingkuh dan hendak menikahi seorang gadis yang kuliah di jurusan sastra Indonesia Universitas di Moskow yang bernama Rita. Hal ini yang kemudian membuat Aidit marah dan mempreteli jabatan Njoto. Tapi walaupun begitu, bagi Soetarni, kesetiaan Njoto telah teruji. Apa pun kata orang tentang elegy cinta Njoto-Rita, baginya itu hanyalah dongeng. Pada masa kelam, tatkala dia dipenjara selama 11 tahun, tercerai-berai, berpisah dengan suami dan anak-anaknya yang tak tentu rimbanya, dia yakin Njoto adalah kekasihnya yang dulu. Njoto tetaplah lelaki pemujanya, yang mengiriminya berlaksa-laksa surat hingga mereka menikah dan dikaruniai tujuh anak.

Seri buku TEMPO ini, selain mengetengahkan aktivitas politik juga menghadirkan sisi personal tokoh-tokohnya, tak terkecuali Njoto. Hal ini barangkali, membuat siapapun yang membaca sejarah, tidak melulu melihatnya dari segi hitam-putih saja. “Menulis Njoto adalah ikhtiar untuk tak terseret logika tumpas kelor. PKI bukanlah sebuah entitas yang utuh. Sejarah selalu menyimpan orang yang berbeda. Njoto salah satunya,” demikian kata TEMPO. Tapi bukan berarti buku ini tanpa kekurangan, selain tidak mengujinya dengan metodologi sejarah yang ketat, juga para penulis pun senantiasa dikejar-kejar waktu deadline sebagai wartawan. “Idealnya, kami mengembangkan versi buku dengan pendalaman liputan. Tapi kami tak bisa menaklukkan waktu. Kesibukan sebagai wartawan majalah berita membuat yang ideal untuk sementara harus masuk laci. Kami sadar kami harus bergegas sehingga---untuk sementara---tak bisa menukik lebih dalam. Dalam hal kami harus berendah hati : makanan yang kami masak barulah sebatas hidangan siap saji,” begitu kata Arif Zulkifli.

Dan saya sendiri, yang menulis catatan ini dengan hanya bermodalkan minat pada buku, tentu tak hendak menawarkan sebuah referensi sejarah yang utuh dan lengkap, melainkan hanya membagi apa yang telah dan tengah saya baca. [ ]

4 Juni ‘11