Showing posts with label Agustinus Wibowo. Show all posts
Showing posts with label Agustinus Wibowo. Show all posts

30 September 2015

Kelas Resensi Pekan ke-3

  1. Burung-burung Manyar (YB Mangunwijaya)
Ini adalah kisah tentang sejarah yang tidak tampil dengan narasi hitam putih. Sejarah orang-orang kecil, yang kerap hadir hanya “di pinggiran” catatan resmi, justru membuat sudut pandang kita semakin kaya. Manusia yang hadir di tengah pusaran sejarah, ternyata tak sesederhana tampaknya. Mereka terlibat dalam kegagapan keberpihakan yang kompleks. Dengan demikian, kisah ini memerikan satu hal, bahwa dalam lingkup yang lebih luas, sejarah tak lagi relevan untuk dikutubkan menjadi dua bagian; antara lawan dan kawan, namun lebih layak untuk dihamparkan sebagai riwayat manusia yang bergelut di pusarannya, lengkap dengan keyakinan dan pilihan-pilihan hidup.
  1. Animal Farm (George Orwell)
Sebuah olok-olok terhadap pemerintahan Komunis Uni Soviet. Novel alegori ini—lengkap dengan penokohan para binatang, menghujam tepat di jantung. Sistem pemerintahan yang dianut selama lebih dari 70 tahun, akhirnya runtuh. Komunisme yang didadarkan Orwell di buku ini, tak lebih dari sebuah sistem yang hanya berhasil melahirkan para pemimpin yang diktator. Revolusi kaum Bolshevik yang mulanya menjanjikan perbaikan hidup, pada akhirnya hanya melahirkan kesengsaraan baru bagi rakyat. Novel ini berhasil melambungkan nama Orwell di kancah sastra dunia.
  1. Titik Nol (Agustinus Wibowo)
Setelah berkelana di buku “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, di buku ini pun Agustinus Wibowo masih mengarungi kerasnya kehidupan di berbagai belahan dunia. Ia menembus kerasnya Kashmir, Himalaya yang anggun dan misterius, serta gejolak sosial yang mengerikan. Namun buku ini juga menjadi semacam titik balik dari petualangannya yang telah ditempuh selama bertahun-tahun. Ia yang sudah menghabiskan waktunya dalam perjalanan sejauh ribuan kilometer, ternyata justru menemukan makna perjalanan dari seseorang yang tak pernah ke mana-mana sepanjang hayatnya. Si musafir bersujud di samping ibunya yang tengah terbaring sakit.
  1. Siau Ling (Yapi Tambayong)
Yapi Tambayong alias Dova Zila alias Alif Dahya Munsyi alias Juliana C. Panda alias Jubal Anak Perang Imanuel alias Remy Sylado, di buku ini seperti hendak memotret akulturasi antar bangsa, terutama antara Jawa dengan Tionghoa. Lewat kisah yang mengangkat tema cinta, Yapi juga menjelentrehkan bagaimana kekuasaan yang disalahgunakan kerap semena-mena menggasak kehidupan rakyat, termasuk kehidupan cinta. Sesuai sub-judulnya yang berbunyi “Drama Musik Kemempelaian Budaya”, buku ini pun bercerita bagaimana alat musik bisa lahir dari akulturasi budaya.
  1. Oeroeg (Hella S. Hasse)
Ditulis oleh sastrawan Belanda, buku ini berkisah tentang persahabatan dua anak manusia beda ras dan beda bangsa, yang kemudian terpisahkan oleh gejolak politik. Oeroeg, anak pribumi, bersahabat dengan tokoh “aku” yang keturunan Belanda. Mereka—di masa kolonial, sejak kecil sampai remaja bersahabat dengan baik. Sampai kemudian arah politik mulai berubah, dan hubungan keduanya perlahan merenggang. Ditulis oleh seorang yang lahir dan tumbuh di Indonesia, kisah ini begitu hidup menggambarkan lanskap alam dan kehidupan sehari-hari. Karya Hella ini pada akhirnya mencuatkan beberapa pertanyaan, tentang apa sesungguhnya sahabat sejati? Apakah ia layak untuk diceraikan oleh perbedaan-perbedaan yang telah melekat dalam diri manusia?
  1. Jurnalisme Sastrawi (Linda Chrystanty dkk)
Buku ini oleh beberapa pembaca diberi bintang lima dari skala lima, sebagai nilai tertinggi dari kepuasan pembaca. Isinya menuliskan hal yang—di Indonesia relatif baru, yaitu jurnalisme sastrawi. Perpaduan antara jurnalisme yang ketat dan sastra yang melambungkan keindahan, berhasil membuat tulisan-tulisan di buku ini begitu memikat. Dengan mewawancarai puluhan bahkan bisa sampai ratusan narasumber–yang mayoritas adalah rakyat kecil, laporan-laporan yang dihasilkannya sangat kaya dan menarik. Linda Chrystanty, Andreas Harsono, dan yang lainnya, berhasil menghadirkan satu gaya penulisan berita tanpa dihantui oleh resiko yang cepat basi, malah sebaliknya—gaya ini, karena memakai pendekatan sastra, selalu menarik untuk dibaca ulang.
  1. Guerrilla Warfare (Che Guevara)
Pria kelahiran Argentina yang meninggal di Bolivia ini menghabiskan sebagian hidupnya di ladang-ladang pertempuran Amerika Latin. Bersama Fidel Castro ia berhasil menggulingkan pemerintahan diktator Batista. Buku ini disebut-sebut sebagai rujukan perang gerilya di seluruh dunia dengan berbagai macam penerapannya. Perjalanan hidup Che Guevara berpindah-pindah dari satu negara ke negara berikutnya. Ia membantu mereka yang ditindas oleh para pemimpin yang diktator. Prinsip gerilya yang ia terapkan, oleh beberapa kalangan diprediksi karena ia banyak membaca buku Mao, meskipun ia sendiri membantahnya. Inilah salah satu warisan berharga tentang prinsip perang gerilya, dari seorang pejuang yang sosoknya sangat ikonik. [ ]

23 September 2015

Debu-debu yang Sampai di Frankfurt

Dalam keragaman karya, selain buku-buku fiksi, buku para penulis non fiksi pun akan ikut dipamerkan di gelaran Frankfurt Book Fair. Satu dari ragam non-fiksi itu adalah tulisan-tulisan perjalanan Agustinus Wibowo menjelajahi negeri-negeri dunia ketiga yang murung, penuh marabahaya, namun sekaligus indah.
Penulis kelahiran Lumajang yang pada awalnya adalah anak rumahan, nyaman dalam kepompong keluarga, namun pada akhirnya justru melakukan perjalanan menembus batas-batas negara dengan cara yang mencengangkan. Alih-alih menggunakan moda transportasi udara, ia malah menghindarinya. Orang boleh bilang caranya adalah pembenaran terhadap dana yang minim, dan itu memang tidak ia sangkal, bahwa ia kerap kekurangan uang tiap kali akan naik pesawat. Namun sesungguhnya ada hal lain yang patut untuk diapresiasi.
”Saya menghindari perjalanan dengan pesawat. Perjalanan udara menghalangi saya menyerap saripati tempat-tempat yang saya kunjungi. Menyatu dengan budaya setempat, menjalin persahabatan dengan banyak orang di tiap tempat, merasakan kehidupan masyarakat di suatu tempat adalah hal-hal yang tidak mungkin saya dapatkan jika saya menggunakan pesawat terbang,” terangnya.

Buku pertama yang berjudul “Selimut Debu” merekam perjalanannya waktu berkunjung ke Afghanistan. Negeri yang porak-poranda oleh perang berkepanjangan itu ia datangi dengan semangat yang tak luruh. Meskipun masih menyisakan kengerian di hampir semua penjuru, namun Agustinus tak gentar untuk datang ke kantong-kantong tempat interaksi masyarakat, untuk mengakrabi dan memahami kehidupan warganya.

“Perjalanan mengajarkan saya tentang warna-wani hidup, ragam budaya dan manusia. Perjalanan ini juga memaparkan pada saya bahwa dunia tidak seindah yang kita impikan. Hidup ini cantik sekaligus buruk rupa, bahagia sekaligus muram, berwarna sekaligus kelabu,” ujarnya.

Pada buku berikutnya yang kemudian diberi judul “Garis Batas”, ia melanjutkan perjalanannya ke beberapa negara bekas pecahan Uni Soviet. Kesadaran yang mencuat dari realitas yang ia temui, salah satunya adalah tentang bagaimana negara sebagai sebuah institusi, lengkap dengan simbol-simbolnya, ternyata terlalu banyak menciptakan garis batas yang pada akhirnya memisahkan manusia dengan manusia yang lainnya, di mana sebetulnya kemesraan kemanusiaan dapat terjalin.

Lalu pada karya selanjutnya, ia menulis “Titik Nol”. Kali ini Agustinus mencoba menembus kerasnya Kashmir, Himalaya yang anggun dan misterius, serta gejolak sosial yang mengerikan. Buku ini menjadi semacam titik balik dari petualangannya yang telah ditempuh selama bertahun-tahun. Ia yang sudah menghabiskan waktunya dalam perjalanan sejauh ribuan kilometer, ternyata justru menemukan makna perjalanan dari seseorang yang tak pernah ke mana-mana sepanjang hayatnya. Si musafir bersujud di samping ibunya yang tengah terbaring sakit.

Sekarang, setelah ibu yang sangat dicintainya meninggal, Agustinus terus melanjutkan perjalanannya menyinggahi negeri-negeri jauh di berbagai pelosok dunia. Petualangannya dalam mengakrabi ragam manusia lengkap dengan konflik dan budayanya, akan terus berlanjut sampai batas waktu yang entah.

“Hidup ini adalah sebuah perjalanan. Kita tidak tahu kapan perjalanan hidup kita akan selesai. Begitu pula saya tidak tahu kapan petualangan saya ini akan berakhir. Yang saya tahu, saya masih ingin terus melanjutkan petualangan saya. Masih ada banyak tempat yang ingin saya kunjungi,” tuturnya.

Dan sekali ini, di Frankfurt, Agustinus beserta buku-bukunya akan ikut juga memperkaya perspektif tentang kondisi Indonesia kontemporer. Ia yang dibentuk oleh ke-Indonesia-an, baik secara pribadi maupun budaya, kini berkat perjalanan-perjalanannya, telah menjadi warga dunia. Hal ini merupakan modal penting untuk bahan dialog, tentang bagaimana hasil perjalanannya dilihat secara luas, lalu dijadikan bahan renungan bersama.

Debu-debu kehidupan, debu-debu peperangan dan sisa-sisa kematian, dan debu-debu perjalanan yang disesap Agustinus pun akhirnya akan sampai juga di Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.