Showing posts with label George Orwell. Show all posts
Showing posts with label George Orwell. Show all posts

08 July 2022

Rumah-Rumah yang Hilang dan Hancur


 "Jika bedil sudah disimpan, cuma kenangan berdebu

Kita memburu arti atau diserahkan kepada anak lahir sempat

Karena itu jangan mengerdip, tatap dan penamu asah

Tulis karena kertas gersang, tenggorokan kering sedikit mau basah!"

(kutipan dari "Catetan Th. 1946" karya Chairil Anwar)


Kisah Helikopter 

Sekali sore, saat hendak berziarah ke makam orang tua, seperti biasa melewati perkampungan di belakang Masjid Agung Jampang Kulon. Di sebelah kiri jalan, sebuah rumah tampak mengenaskan: atapnya rusak parah dan hampir ambrol. Itu adalah rumah Pak Memed Sudarman, salah satu tokoh masyarakat di kampung saya yang telah lama meninggal dunia. 

Dulu, salah seorang anaknya merupakan perwira Polri. Jika mengunjungi orang tuanya, sang anak datang menggunakan helikopter yang diparkir di alun-alun. Warga heboh, entah mimpi apa semalam ujug-ujug helikopter yang begitu nyata singgah di kampung. 

Pada kedatangan pertama, saya sedang mandi di Cikaum--pemandian umum di seberang alun-alun. Tiba-tiba terdengar suara bergemuruh seperti hendak membelah langit. Rumput dan sampah beterbangan, orang-orang berlarian menuju alun-alun. Saya segera melilit diri dengan handuk dan bertelanjang dada, lalu berlari ke pusat kegaduhan. MasyaAlloh.. seekor helikopter yang begitu gagah telah hinggap di tanah lapang. Sang perwira bersama ajudannya terlihat tengah berjalan ke arah barat menuju rumah Pak Memed.

Setiap kali datang, helikopter itu tidak pernah mau berlama-lama. Barangkali paling lama hanya setengah jam sejak kemunculannya, sang perwira kembali ke medan tugasnya di wilayah hukum entah. Setelah kedatangannya yang ketiga entah keempat, waktu bergerak bergulung-gulung, ia tak menunggu siapa pun, melesat meninggalkan siapa saja yang tercecer di belakang. Hingga akhirnya sore itu, rumah tua yang mengenaskan itu mengembalikan semua ingatan.

   

Lima Hasta

Ini tetangga saya sendiri. Mak Engkom namanya. Pemilik warung nasi di pasar lama. Anaknya empat, perempuan dua, laki-laki dua. Dalam ingatan masa kecil, beliaulah penyandang raja kuliner yang tak terbantahkan. Ayam-ayam kampungnya yang setiap pagi menemui ajal, diolah sedemikian rupa: digoreng, disup, dan jeroannya dipepes. Semuanya gak ada obat!  

Jika petang datang atau tidak sedang berjualan, ia kerap duduk di sebuah bangku panjang di sisi utara rumahnya, menghadap ke kali kecil: melamun, atau entah apa namanya yang jelasnya tatapannya kosong. Suaminya telah lama pergi. Bahkan sejak saya mulai bisa mengingat, suaminya memang telah tiada.

Salah seorang anaknya yang paling akrab bernama Mang Engkos, sementara orang-orang tua memanggilnya Aja. Jika bermain sepak bola ia berdiri di bawah mistar gawang alias jadi kiper. Ketika PSSI Primavera terkenal, panggilannya berubah menjadi Kurnia Okon, merujuk kepada kiper Timnas: Kunia Sandy.  

Kira-kira lima tahun terakhir, setiap kali pulang kampung, rumah Mak Engkom yang jaraknya hanya lima hasta dari rumah saya itu selalu sangat sunyi dan gelap. Kiwari bahkan hampir rata dengan tanah. Entah di mana anak-anaknya, yang jelas sebuah kisah telah berakhir. 


Jambu Air dan Stiker PDI

Letaknya persis di pinggir jalan raya Jampang Kulon-Sukabumi. Halamannya dirimbuni pohon jambu air, tempat favorit bermain kelereng. Itulah dia rumah si Iki alias Pepeng (pemuda pengkolan) karena memang pas di depan rumahnya jalan raya agak berbelok. Ia anak laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara. 

Yang paling saya ingat dari rumah itu adalah sebuah stiker PDI lama (bukan perjuangan) yang menempel di kaca jendela paviliun. Tak istimewa, tapi sungguh tak menyangka, di tengah hegemoni Golkar dan PPP di era Orde Baru, di kampung saya ternyata sampai juga suara kaum Marhaen. Memang minoritas, tapi minimal ada.

Di belakang rumah si Iki ada pemandian umum yang dipenuhi ikan gurame dan ikan mas yang ukurannya besar-besar. Kami biasa menyebutnya Cimangtajudin karena letaknya menempel dengan rumah Mang Tajudin. Airnya bersih meski kalah jernih dangan pemandian Cikaum. Sekarang pemandian itu hanya jadi kolam ikan biasa setelah rumah Mang Tajudin dijual, dan oleh pemilik baru dirombak habis-habisan.

Sebelum si Iki dan keluarganya pindah ke Bekasi, orang tuanya sempat berjualan bubur ayam dan sate kambing. Namun tak lama, karena segera gulung tikar. Rumahnya kemudian dijual, sekarang menjelma jadi dealer motor Yamaha. Bekas rumahnya benar-benar tak bersisa. 


Kelerang dan Alat Memancing

Saat George Orwell menceritakan George Bowling--sales asuransi yang keranjingan memancing dalam buku Coming Up for Air (2021)--saya langsung teringat toko ini. Letaknya di pojok tenggara alun-alun, dipisahkan sebuah jalan yang cukup lebar. Pemiliknya suami istri yang sudah sepuh: Wa Heni dan Wa Empip. Cucu mereka banyak, beberapa di antaranya kawan saya.

Selain menjual perlengkapan memancing seperti joran (jeujeur), kail, kukumbul, dan babanem, mereka juga menjual kelereng. Dan jika bulan puasa tiba, mereka tak ketinggalan menjual layangan, gelasan, nilon, dan golong. Singkatnya surga bagi hobi dan permainan anak laki-laki. Selain dimakan usia, bisnis mereka juga digerogoti kerusakan lingkungan. Kali mengering, sungai kotor, dan kolam satu-satu mulai menghilang. Para pemancing haurs pergi ke sungai-sungai yang jauh atau ke laut selatan untuk menyalurkan hobinya.

Di sebelah toko itu ada warung kelontong milik Ceu Miming yang sudah tua dan berdebu. Ini warung legendaris karena menyediakan perlengkapan nyeupah alias menyirih, di antaranya gambir dan apu. Entah kapan masa jayanya, yang jelas ketika saya mulai bisa mengingat, warung kelontong ini sudah sepi dan barang-barangnya telah kuno.

Kini toko dan warung itu telah tiada. Digantikan toko hp merek Oppo dan kantor ekspedisi JNE. Perekonomian Jampang Kulon memang beranjak maju meski tak secepat habisnya generasi tua yang layaknya pasar malam: satu persatu dijemput ajal. 

Dan daftar ini akan terus bertambah. Demikianlah sejarah bergerak bersama gelinding roda zaman. Dari tempat dan waktu yang telah berjarak, saya hanya bisa menggapai-gapai lewat ingatan. [irf]  

30 September 2015

Kelas Resensi Pekan ke-3

  1. Burung-burung Manyar (YB Mangunwijaya)
Ini adalah kisah tentang sejarah yang tidak tampil dengan narasi hitam putih. Sejarah orang-orang kecil, yang kerap hadir hanya “di pinggiran” catatan resmi, justru membuat sudut pandang kita semakin kaya. Manusia yang hadir di tengah pusaran sejarah, ternyata tak sesederhana tampaknya. Mereka terlibat dalam kegagapan keberpihakan yang kompleks. Dengan demikian, kisah ini memerikan satu hal, bahwa dalam lingkup yang lebih luas, sejarah tak lagi relevan untuk dikutubkan menjadi dua bagian; antara lawan dan kawan, namun lebih layak untuk dihamparkan sebagai riwayat manusia yang bergelut di pusarannya, lengkap dengan keyakinan dan pilihan-pilihan hidup.
  1. Animal Farm (George Orwell)
Sebuah olok-olok terhadap pemerintahan Komunis Uni Soviet. Novel alegori ini—lengkap dengan penokohan para binatang, menghujam tepat di jantung. Sistem pemerintahan yang dianut selama lebih dari 70 tahun, akhirnya runtuh. Komunisme yang didadarkan Orwell di buku ini, tak lebih dari sebuah sistem yang hanya berhasil melahirkan para pemimpin yang diktator. Revolusi kaum Bolshevik yang mulanya menjanjikan perbaikan hidup, pada akhirnya hanya melahirkan kesengsaraan baru bagi rakyat. Novel ini berhasil melambungkan nama Orwell di kancah sastra dunia.
  1. Titik Nol (Agustinus Wibowo)
Setelah berkelana di buku “Selimut Debu” dan “Garis Batas”, di buku ini pun Agustinus Wibowo masih mengarungi kerasnya kehidupan di berbagai belahan dunia. Ia menembus kerasnya Kashmir, Himalaya yang anggun dan misterius, serta gejolak sosial yang mengerikan. Namun buku ini juga menjadi semacam titik balik dari petualangannya yang telah ditempuh selama bertahun-tahun. Ia yang sudah menghabiskan waktunya dalam perjalanan sejauh ribuan kilometer, ternyata justru menemukan makna perjalanan dari seseorang yang tak pernah ke mana-mana sepanjang hayatnya. Si musafir bersujud di samping ibunya yang tengah terbaring sakit.
  1. Siau Ling (Yapi Tambayong)
Yapi Tambayong alias Dova Zila alias Alif Dahya Munsyi alias Juliana C. Panda alias Jubal Anak Perang Imanuel alias Remy Sylado, di buku ini seperti hendak memotret akulturasi antar bangsa, terutama antara Jawa dengan Tionghoa. Lewat kisah yang mengangkat tema cinta, Yapi juga menjelentrehkan bagaimana kekuasaan yang disalahgunakan kerap semena-mena menggasak kehidupan rakyat, termasuk kehidupan cinta. Sesuai sub-judulnya yang berbunyi “Drama Musik Kemempelaian Budaya”, buku ini pun bercerita bagaimana alat musik bisa lahir dari akulturasi budaya.
  1. Oeroeg (Hella S. Hasse)
Ditulis oleh sastrawan Belanda, buku ini berkisah tentang persahabatan dua anak manusia beda ras dan beda bangsa, yang kemudian terpisahkan oleh gejolak politik. Oeroeg, anak pribumi, bersahabat dengan tokoh “aku” yang keturunan Belanda. Mereka—di masa kolonial, sejak kecil sampai remaja bersahabat dengan baik. Sampai kemudian arah politik mulai berubah, dan hubungan keduanya perlahan merenggang. Ditulis oleh seorang yang lahir dan tumbuh di Indonesia, kisah ini begitu hidup menggambarkan lanskap alam dan kehidupan sehari-hari. Karya Hella ini pada akhirnya mencuatkan beberapa pertanyaan, tentang apa sesungguhnya sahabat sejati? Apakah ia layak untuk diceraikan oleh perbedaan-perbedaan yang telah melekat dalam diri manusia?
  1. Jurnalisme Sastrawi (Linda Chrystanty dkk)
Buku ini oleh beberapa pembaca diberi bintang lima dari skala lima, sebagai nilai tertinggi dari kepuasan pembaca. Isinya menuliskan hal yang—di Indonesia relatif baru, yaitu jurnalisme sastrawi. Perpaduan antara jurnalisme yang ketat dan sastra yang melambungkan keindahan, berhasil membuat tulisan-tulisan di buku ini begitu memikat. Dengan mewawancarai puluhan bahkan bisa sampai ratusan narasumber–yang mayoritas adalah rakyat kecil, laporan-laporan yang dihasilkannya sangat kaya dan menarik. Linda Chrystanty, Andreas Harsono, dan yang lainnya, berhasil menghadirkan satu gaya penulisan berita tanpa dihantui oleh resiko yang cepat basi, malah sebaliknya—gaya ini, karena memakai pendekatan sastra, selalu menarik untuk dibaca ulang.
  1. Guerrilla Warfare (Che Guevara)
Pria kelahiran Argentina yang meninggal di Bolivia ini menghabiskan sebagian hidupnya di ladang-ladang pertempuran Amerika Latin. Bersama Fidel Castro ia berhasil menggulingkan pemerintahan diktator Batista. Buku ini disebut-sebut sebagai rujukan perang gerilya di seluruh dunia dengan berbagai macam penerapannya. Perjalanan hidup Che Guevara berpindah-pindah dari satu negara ke negara berikutnya. Ia membantu mereka yang ditindas oleh para pemimpin yang diktator. Prinsip gerilya yang ia terapkan, oleh beberapa kalangan diprediksi karena ia banyak membaca buku Mao, meskipun ia sendiri membantahnya. Inilah salah satu warisan berharga tentang prinsip perang gerilya, dari seorang pejuang yang sosoknya sangat ikonik. [ ]

08 July 2015

Kisah Babi-babi Keblinger

Di sebuah ladang peternakan, seekor babi tua penuh pengalaman mengorganisasi massa untuk melawan dan menggulingkan kesemena-menaan manusia, yaitu seorang tua pemilik ladang dan para pegawainya. Dalam sekali serbu, sang pemilik yang suka mabuk dan para pegawainya lari kocar-kacir. Rezim manusia seketika tumbang.

Setelah kembali mengusai massa dan keadaan, sang babi tua menyerukan tentang pentingnya kerja keras, solidaritas, kebersamaan, dan kesetaraan. Hal itu kemudian mengejawantah ke dalam sebuah kesepakatan yang berisi tujuh poin yang berisi semacam aturan dan pandangan hidup berbangsa. Para binatang yang ikut serta dalam pertempuran melawan manusia, di antaranya biri-biri, sapi, kuda, angsa, burung, kucing, keledai, dan masih banyak lagi, tanpa banyak interupsi kemudian menyetujui kesepakatan tersebut.

Selang beberapa waktu setelah kemenangan gilang-gemilang, sang babi tua mati. Tampuk pimpinan kemudian diteruskan oleh dua ekor babi muda yang keduanya sama pintar. Golongan babi dikisahkan sebagai kelompok binatang yang paling pintar dan secara kepemimpinan paling bisa diandalkan. Maka bergulirlah kehidupan baru, sebuah tatanan hidup para binatang yang telah terbebas dari penjajahan manusia.

Dengan penuh semangat dan harapan yang bergelombang, para binatang bahu-membahu bekerja keras untuk membangun ladang dan demi kesejahteraan hidup yang lebih baik. Usaha ini tak perlu menunggu waktu lama sudah memperlihatkan hasil yang menggembirakan. Kesejahteraan meningkat dan kemakmuran ladang sebuah tatanan bangsa baru mulai mencuat.

Namun pada perjalanannya, tidak seperti pendahulunya--yaitu si babi tua, kedua babi pemegang tampuk kepemimpinan mulai menunjukkan sikapnya yang asli. Watak haus kuasa dan otoriter perlahan mulai dijalankan. Kondisi binatang lain yang berperan sebagai rakyat ladang--yaitu pekerja keras dan setia, mereka manfaatkan untuk kepentingan golongannya, yaitu golongan babi, dan juga golongan para penjaga atau militer, peran militer ini diemban oleh para anjing.

Hasil bumi yang mereka panen untuk lumbung nasional malah ditumpuk untuk kesejahteraan dua golongan ini. Rakyat dikurangi jatahnya, siapa pun yang mencoba kritis dan melawan harus bersiap dengan hukuman yang kejam. Korban bergelimpangan, dan kebanyakan rakyat tak berani melawan. Cita-cita agung kolektif yang semula murni, kemudian melenceng jauh dari niatnya.

Rakyat hanya “kenyang” dengan simbol-simbol keagungan bangsa yang semu, yang diciptakan oleh para penguasa. Di mana-mana slogan dan semboyan. Lagu-lagu pemujaan terhadap bangsa diciptakan. Proyek-proyek yang ditujukan untuk membuai rakyat dan politik mercusuar dikembangkan. Banyak yang muak namun tak berani dan tak mampu melawan. Beberapa pemberontakan kecil dapat dengan mudah dipatahkan rezim dua babi ini.

Jiwa serakah dan haus kuasa ternyata juga membuat kedua babi ini pecah kongsi. Antara yang satu dengan yang lain saling adu kuat, yang pada akhirnya membuat salahsatu dari babi itu tersingkir dari lingkar kekuasaan. Setekah berhasil disingkirkan, babi yang kalah ini dihinakan oleh kampanye-kampanye yang menggiring rakyat untuk berpihak kepada si babi pemenang. Ejekan, fitnah, dan tekanan yang terus-menerus membuat si babi kalah akhirnya meninggalkan ladang para binatang. Namun namanya tetap hadir dalam bentuk cerita-cerita tentang pengkhianatan.

Dalam kekuasan tunggal yang absolut, si babi pemenang semakin leluasa sekehendak hatinya ketika menjalankan roda pemerintahan di peternakan binatang. Lama-kelamaan kondisi ini akhirnya membuat sadar para binatang, bahwa ternyata antara babi dan manusia tak ada bedanya, dua-duanya adalah para penindas!

***

Orwell begitu lihai dalam menyusun cerita alegorinya. Kisah para babi keblinger yang mengkhianati dan menindas rakyat binatang ini adalah sindiran keras terhadap system kekuasaan Uni Soviet yang tengah berkuasa. Bagaimana pemerintahan komunis ini yang semula dibangun oleh semangat kesetaraan, ternyata pada akhirnya hanya memunculkan penguasa yang diktator.

Jika kita menelusuri setiap karakter perumpamaan binatang, maka kita akan terkagum-kagum, sebab Orwell begitu presisi dalam menulisnya. Kekaisaran Rusia, pemimpin komunis, para rakyat, negara sahabat, si babi kalah, dan peletak dasar atau sang ideolog komunisme; semuanya dibangun oleh tokoh para binatang tadi dengan karakter yang serupa. Sehingga jika para binatang ini diumpamakan sebuah system kekuasaan lain di luar Uni Soviet namun memiliki corak yang sama, maka niscaya akan tetap relevan. Seperti misalnya mengaitkan para binatang ini dengan rezim Kim Jong Un di Korea Utara, dan bahkan rezim Orba di Indonesia!

Inilah kisah alegori yang nyaris sempurna! Tak heran jika Animal Farm berhasil melejitkan nama Orwell di kancah sastra dunia. [ ]


Foto : histoforum.net