Showing posts with label Lekra. Show all posts
Showing posts with label Lekra. Show all posts

30 October 2019

"Yang Tak Terpadamkan": Kumpulan Cerpen PKI Sebelum Malam Jahanam



Sejumlah penulis membuat cerpen yang terbuhul dalam Yang Tak Terpadamkan (1965) untuk menyambut ulang tahun PKI yang ke-45.


Lima bulan sebelum malam berdarah yang menutup riwayat Partai Komunis Indonesia, delapan penulis menerbitkan kumpulan cerpen bertajuk Yang Tak Terpadamkan dalam rangka menyambut ulang tahun ke-45 partai.

Cerpen pertama berjudul Paman Martil, ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Tujuh cerpen lain masing-masing ditulis oleh A. Kohar Ibrahim (Guruh), T. Iskandar AS (Komunis Pertama), Mara LP (Catatan Seorang Prajurit), Bambang Sukowati Dewantoro (Peristiwa 19 Desember 48), Sugiarti (Anak Desa), Hidayat Sastra Mulyana IW (Dia Seorang Lelaki), dan Zubir AA (Terkepung).

Lewat Paman Martil, Pram mengenang pemberontakan PKI 1926 dan hari-hari penuh ketegangan karena berseteru dengan Sarekat Hijau yang disponsori Belanda.

Orang-orang memanggilnya Paman Martil. Nama lahirnya tak diketahui. Martil menjadi perkakas andalan dalam pekerjaannya membetulkan sepatu rusak. Ia hidup bersama dua orang bocah yang tak jelas siapa orangtuanya.

Paman Martil dan kedua bocah tinggal di sebuah petak sewaan milik seorang janda. Si janda sendiri ditinggal mati oleh seorang singkek yang menikahinya selama 40 tahun.

Para pemuda penasaran dan menanyakan namanya. Dari sana mengalirlah kisah-kisah sedap.

Paman Martil mengaku ingin jadi tukang sepatu sejak dulu. Keterangannya cukup pragmatis. Menurutnya, ketika ia masih bocah, jarang ada orang yang mengenakan sepatu. Wedana saja cuma memakai selop. Sepatu kedudukannya hampir sama dengan payung mas sebagai lambang kekuasaan. Namun lebih dari itu, sepatu bersinonim dengan uang.

“Ada payung mas, ada kekuasaan. Ada sepatu, ada uang. Aku tidak butuh kekuasaan, aku butuh uang untuk makan. Jadi kupilih sepatu sajalah, jadi aku belajar bikin sepatu. Bercita-cita jadi tukang sepatu. Nyatanya 20 tahun jadi tukang sepatu, cuma martil saja yang aku punya. Barangkali dengan martil itu juga aku mati,” ungkapnya.

Kawan sekaligus tetangga Paman Martil bernama Mirjan, yang lebih suka menyebut dirinya "Mariana Proletar". Dibandingkan dengan Paman Martil yang meledak-ledak, Mariana Proletar lebih hati-hati menyikapi ketegangan dengan kaum anti-komunis yang didukung pemerintah kolonial Belanda.

Pada suatu malam, seseorang bersepatu serdadu menendang pintu petak Paman Martil hingga bolong. Sebelum kaki itu ditarik si empunya, martil mendarat di kaki sang 'serdadu' yang langsung meraung kesakitan. Tapi rupanya kaki itu bukan milik serdadu alih-alih seorang tetangga yang tergabung dalam Sarekat Hijau.

Keesokan harinya, istri Mariana Proletar menyampaikan pesan sang suami agar Paman Martil segera pindah. Paman Martil malah naik pitam.

“Pindah? Seluruh Sarekat Hijau boleh dituang kemari. Paling-paling aku mampus! Pemimpin-pemimpin kita sudah ajarkan: kita harus berjuang. Kita harus binasakan kapitalisme-imprealisme dan anjing-anjingnya. Kalau kita kalah, kita cuma kehilangan belenggu kita. Tak bakal rugi apa-apa!” ujarnya geram.

Tak lama setelah ia kembali dari kakus, tiga orang Sarekat Hijau telah datang menunggunya. Paman Martil babak belur dihajar. Martilnya tak ampuh untuk menangkis serangan.

Kira-kira sebulan kemudian, Mariana Proletar datang ke petak Paman Martil dan menyerahkan sepucuk senapan Vickers.

“Jadi,” bisik Mariana Proleter. “Kita jadi berontak.”

“Kalau di empat tempat, empat penjuru, malah hari, ada rumah terbakar, itulah tandanya. Aku akan datang membawa kau,” imbuh Mariana Proletar.


Malam yang dijanjikan pun tiba. Rumah-rumah terbakar. Paman Martil dan empat puluh orang sipil bersenjata menyerang kantor telepon. Dua bocah yang tinggal bersamanya turut serta. Empat jam kantor itu mereka kuasai sebelum akhirnya dikuasai serdadu kolonial.

Paman Martil berhasil lolos. Tapi tak lama kemudian, serdadu-serdadu itu mendatangi rumahnya. Dua bocah selamat, sementara Paman Martil kian terdesak. Senapan Vickersnya sudah tak berfungsi. Ia sempat lari melalui kamar mandi, tapi akhirnya terkurung di bawah sebatang pohon durian.

Pelor serdadu berhamburan menghancurkan dadanya. Paman Martil menjelempah. ia tak bergerak lagi.

“Waktu sebuah durian jatuh di dekat kepalanya ia pun tiada berbuat sesuatu apa pun. Di sebelah sana menggeletak Vickersnya yang basah dalamnya. Di bawah tubuhnya menongol tangkai martilnya. Tapi seluruh tubuhnya berselimutkan bendera merah palu-arit, dan darahnya sendiri,” tulis Pram.

Di bawah cerpennya, Pram menulis catatan: “Ditulis berdasarkan berita-berita dari Sin Po 1926-27, dan beberapa individu, tanpa mengurangi jasa pimpinan penyerbuan, yang terdiri dari Idris, Rais, dan Nur.”


Sarekat Hijau Menyerang Kaum Pergerakan

Ada pemandangan agresivitas Sarekat Hijau terhadap kaum komunis dan pemberontakan yang gagal. Latar peristiwa yang ditulis Pram pada cerpen tersebut merupakan satu babak dalam riwayat pergerakan nasional.

Menurut M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008), pemerintah kolonial melakukan represi besar-besaran terhadap kaum pergerakan pada 1924. Mereka mendukung kelompok-kelompok masyarakat yang bukan saja menyerang PKI, tapi juga Sarekat Islam. Kelompok inilah yang bernama Sarekat Hijau. Mereka sangat kuat di daerah Priangan.

“Kelompok-kelompok tersebut merupakan gerombolan-gerombolan penjahat, para anggota polisi, dan para kiai yang mendapat dukungan pemerintah Belanda dan pejabat-pejabat priayi. Pada awal tahun 1925, sekitar 20.000 orang anggotanya menyerang rapat-rapat PKI dan SI serta mengancam para anggota mereka. Pengawasan pemerintah semakin diperketat, dan pimpinan PKI yang tersisa sering ditahan,” tulisnya.

Keterangan lain disampaikan oleh Ruth T. McVey dalam Kemunculan Komunisme Indonesia (2010). Menurut McVey, karena pada paruh kedua tahun 1924 komunisme berkembang pesat di daerah Priangan, khususnya di Sumedang, pemerintah kolonial mendukung pembentukan "paguyuban tolong-menolong" yang berhaluan anti-komunis.

Paguyuban yang hadir di setiap desa ini didukung oleh Bupati Sumedang dan pejabat lainnya. McVey menambahkan, paguyuban ini telah menjalar ke sejumlah daerah lain di Pulau Jawa sejak awal 1925, misalnya di Bogor, Cirebon, Kediri, Ngawi, Madiun, dan Jepara.

“Perkumpulan Tolong-Menolong, Kaum Pamitran di Priangan, Sarekat Hitam dan Sarekat Kematren Cirebon, dan Anti-Komunisme di Bogor—mereka dikenal luas dengan nama Kelompok Sumedang, Sarekat Hijau,” terangnya.

Massa paguyuban yang menurut Ricklefs secara keseluruhan berjumlah sekitar 20.000 orang ini kerap mengacaukan pertemuan PKI dan Sarekat Rakyat (SR), mengganggu sekolah-sekolah SR, menghajar pengikut komunis, menghancurkan harta benda milik orang komunis, dan mengusir pengikut PKI dari desa mereka.

Berbeda dengan Ricklefs, McVey tak memperkirakan jumlah massa yang menurutnya “masih misteri”. Namun yang pasti, ia mencatat jumlahnya cukup besar di Priangan. Sejumlah surat kabat memang pernah mengabarkan insiden penyerangan oleh ratusan anggota Sarekat Hijau.

Situasi saat itu kacau. Bentrok, sebagaimana dikisahkan Pram dalam cerita Paman Martil memang kerap terjadi. Masih dalam buku yang sama, Ruth T. McVey menyebutkan PKI membentuk sistem penjagaan lingkungan terutama karena para pemimpin mereka menjadi target penyerangan.

Sistem ini mereka buat karena birokrasi dan penegak hukum sudah tak bisa diandalkan. Polisi bahkan menjadi aparat pengawas aktivitas komunis yang dibantu oleh kelompok-kelompok anti-komunis.

Penangkapan dan penyerangan terhadap para pemimpin PKI ini disinggung juga dalam lakon Paman Martil. Koran-koran yang dibaca Paman Martil mengabarkan tentang salah seorang pemimpin PKI yang baru pulang dari Singapura dan ditangkap di daerah Meester Cornelis, lalu dijebloskan ke penjara di Pekalongan.

Kabar susulan datang dari Mariana Proletar. Menurutnya, pemimpin yang ditangkap itu telah dibunuh oleh PID (Politieke Inlichtingen Dienst) alias Dinas Intelijen Politik Hindia Belanda wilayah Semarang dengan cara dihancurkan kemaluannya dengan martil.

“Satu demi satu pimpinan kita ditangkap, dibunuh. Di desa-desa kawan-kawan kisa disiksa, dianiaya, dirampok, digantung, ditembak…,” ujar Paman Martil kepada dua bocah yang tinggal bersamanya dan ia didik untuk jadi kader komunis.


Eksekusi Para Pemberontak

Kisah tentang gagalnya pemberontakan PKI pada 1926 yang ditulis Pram lewat cerita Paman Martil, Mariana Proletar, dan kawan-kawannya, ditulis juga oleh A. Kohar Ibrahim dalam Guruh.

Jika Paman Martil menuturkan latar pemberontakan dan situasi di sekitar kejadian itu, maka Guruh langsung ke jantung peristiwa.

Kisah dimulai dengan kemunculan senandika Soleh, seorang yang ditahan Belanda setelah pemberontakan dipadamkan. Ia gelisah, menebak-nebak waktu, kapan kiranya eksekusi akan mengakhiri hayatnya. Ia lalu mengenang malam 12 November, saat aksi dijalankan.

“Kawan-kawan, bertindaklah dengan serentak. Pimpin regu masing-masing dengan baik. Kita dan semua Rakyat yang kita pimpin harus yakin akan kemenangan—kemenangan buat hari depan kita—Rakyat yang tertindas. Kemenangan kaum yang lapar. Batavia adalah pusat kekuasaan kolonial, oleh sebab itu kita mendapat tugas besar untuk menumbangkan dan merebut kekuasaan dari tangan Belanda,” tutur seorang pimpinannya pada malam itu.

Pasukan bergerak menuju kantor telepon dan menguasainya. Setelah itu mereka berencana menuju penjara Glodok. Namun, sebelum sampai ke sana, mereka keburu terkepung dan dicokok aparat kolonial.

Kini Soleh dan kawan-kawannya mendekam di penjara: menunggu maut menjemput. Saat ia duduk terpejam, aparat kepolisian menyeret tahanan baru dan menjebloskannya ke sel Soleh.

“Akan kalian rasakan pada gilirannya nanti!” ujar polisi.

Manusia-manusia kalah itu terkejut saat terdengar letusan senapan. Selang beberapa saat letusan terdengar lagi. Kawan-kawannya telah dieksekusi. Polisi datang dan memanggil Soleh. Kini saatnya ia dimangsa peluru.

Sebelum benar-benar menjauhi sel, Soleh dan kawannya terlibat percakapan: saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa kemenangan suatu saat akan memihak kepada mereka.

“Sudah, sudah, jangan banyak cakap, anjing merah!” gertak polisi yang membawanya.

Di lapangan tempat eksekusi, Soleh menolak matanya ditutup. Ia tatap algojo yang akan menghabisi jiwanya. Setelah peluru pertama mengoyak dadanya, ia berteriak:

“Tembaklah! Tembaklah sampai peluru kalian habis untuk mengoyakkan tubuhku! Tapi komunisme tidak bisa kalian koyakkan dan kalian bunuh…!”

Rentetan peluru berikutnya menghancurkan tulang rusuk dan memecahkan jantungnya. Soleh tak berkutik lagi. Kisah pun usai.

Pemberontakan PKI di Jawa yang terjadi pada 12 November 1926 memang mudah dipatahkan. Pasukan Belanda kembali merebut Batavia sehari setelah kejadian. Sementara pemberontakan di Banten dan Priangan dipadamkan pada Desember. Tak hanya di Jawa, pemberontakan pun terjadi di Sumatra. Meski lebih sengit, tapi para pemberontak Sumatra juga cepat dibabat Belanda.

“Setelah pemberontakan di Jawa benar-benar ditumpas, meletus pemberontakan di Sumatra pada tanggal 1 Januari 1927. Pertempuran di sini lebih berat, tetapi pemberontakan itu dapat dipadamkan pada tanggal 4 Januari. Seorang Eropa lainnya terbunuh oleh kaum pemberontak,” tulis M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (2008).

Pemberontakan pertama PKI di Nusantara itu kiranya amat menarik perhatian dua penulis di atas, yakni Pramoedya Ananta Toer dan A. Kohar Ibrahim. Atau karena memang Yang Tak Terpadamkan diterbitkan untuk menyambut ulang tahun PKI ke-45, jadi peristiwa itu sengaja diangkat untuk mengobarkan semangat heroisme, menyanjung partai lewat narasi kepahlawanan kader zaman baheula.


Pergulatan dalam Keluarga

Agak berbeda dengan narasi Pramoedya Ananta Toer dan A. Kohar Ibrahim—meski tetap memuja-muja PKI—T. Iskandar A.S. lewat Komunis Pertama menceritakan pergolakan di dalam keluarga Islam yang taat yang salah seorang anaknya masuk PKI.

Kisah ini sedikit mirip dengan satu fragmen Atheis (1949) karya Achdiat K. Mihardja, ketika Hasan bersilang pendapat dan bertengkar dengan bapaknya.

Ismet, nama sang tokoh, telah menjadi anggota PKI ketika pulang kampung untuk menengok ibu dan pamannya. Mula-mula percakapan Ismet dan pamannya baik-baik saja. Namun, saat ia mengaku bahwa telah menjadi seorang komunis dan anggota PKI, nada bicara sang paman langsung meninggi.

“Bukan kebiasaan turunan kita, paman, untuk menelan air ludah yang sudah diludahkan,” ucap Ismet di pengujung percakapannya.

Esoknya, Ismet menjelaskan panjang lebar alasan dan motivasinya masuk PKI. Ia yang masih kecil saat ditinggal mati ayahnya, berpindah dari satu rumah saudara ke rumah saudara lainnya: dititipkan, kurang perhatian, dan kurang kasih sayang. Setelah dewasa dan merantau, Ismet berkenalan dengan orang-orang komunis yang ternyata memberikan hampir semua yang tak ia terima sejak kecil.

Kisah panjang yang Ismet tuturkan rupanya mengharu-biru pamannya, hingga orang tua itu luluh, tak lagi keras terhadap seorang komunis yang ada di hadapannya.

“Kau tak salah. Kamilah yang salah, karena kami tidak memahami penderitaanmu. Terlebih-lebih karena tidak memahami perkembangan yang terus berjalan tanpa stop. Kamilah yang salah, yang terlambat pada masa lampau yang kuno,” ucap pamannya.

Hari berikutnya Ismet pamit kepada ibu, paman, dan keluarganya yang lain. Sang bunda meminta maaf kepada Ismet karena kurang memerhatikannya.

“Telah kutimbang, telah kupikir-pikir tadi malam semalam suntuk. ‘Anakku seorang kominis’. Aku menangis, kemudian menimbang-nimbang. Menangis lagi dan menimbang-nimbang lagi. Ketika fajar barulah pikiranku terbuka, barulah aku bisa mengambil suatu keputusan. Kuserahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Adil. Kuserahkan segalanya kepada Tuhan. Tuhanlah yang berhak mengadilimu, bukan aku, sekalipun aku ibumu,” ucap ibunya.

Ismet lalu pergi melangkah meninggalkan keluarganya. Tiba-tiba terdengar lagi suara ibunya: “Kominis pun kau, Ismet, jangan tinggalkan sembahyangmu.”

Cuplikan tiga cerpen pertama dalam Yang Tak Terpadamkan (1965), beberapa bulan sebelum PKI digulung militer dan sipil bersenjata, masih menunjukkan semangat yang menyala-nyala. Kisah pemberontakan dan 'penaklukan' hati orangtua disusun sedemikian rupa.

Keberlimpahan penulis dalam organ-organ kebudayaannya, membuat PKI tak kesulitan menyusun buku kumpulan cerpen untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-45. Dan itulah perayaannya yang terakhir. (irf) 


Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 23 Februari 2019
- Sumber ilustrasi: prhasa.tumblr.com

21 October 2015

Kelas Resensi Pekan ke-4

      1) Jalan Raya Pos Jalan Daendels (Pramoedya Ananta Toer)

Dengan cara bertutur yang mengalir, Pram mencoba mengulas Jalan Raya Pos yang memakan korban ribuan warga pribumi. Dari kota ke kota, tiap titik Pram ulas lengkap dengan sejarah kerajaan pra kolonial, juga potensi masa lalunya. Ada juga hal-hal yang sebetulnya tidak relevan dengan Jalan Raya Pos, tapi dipaksakan untuk ditulis; seperti kisah pribadi si penulis ketika singgah di Cirebon. Dari Anyer sampai Panarukan, Jalan Raya Pos terbentang dan menjadi warisan penting bagi infrastruktur Pulau Jawa. Dan di jalan ini pula ribuan manusia meregang nyawa.


2) Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Pramoedya Ananta Toer)

Ini adalah kisah yang disandarkan para hasil reportase singkat Pram ke wilayah Banten Selatan; sebuah masyarakat yang miskin dan tertindas. Pemberontakan panjang dari DI/TII masuk juga ke wilayah ini, dan masyarakat terseret menjadi korban. Dengan latar waktu di sekitar tahun 50-an, kisah ini mencuatkan satu kesadaran, bahwa penindasan dan kesewenang-wenangan dapat dilawan dengan persatuan dan gotong royong. Dan kebenaran, walau bagaimanapun harus diperjuangan. Pram menulis “Di mana-mana aku selalu dengar; yang benar juga yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.”

3) Larasati (Pramoedya Ananta Toer)

“Kalau mati dengan berani. Kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” Roman “Larasati” memotret kehidupan revolusi pasca proklamasi. Di dalamnya terhampar kisah yang tidak hanya bait-bait kepahlawanan, namun juga sisi-sisi lain yang kerap terabaikan, seperti; kemunafikan, pengkhianatan, dan percintaan. Para pelaku revolusi, semuanya begulat di pusaran-pusaran seperti itu. Revolusi dalam narasi yang dibangun oleh Pram, bukanlah sebuah periode suci yang steril dari polusi omong kosong, bahkan sebaliknya. Pram dengan brilian menyigi revolusi dari kacamata manusia-manusia republik.

4) Humor-humor Sufi (Massud Farzan)

Baru-baru ini di media sosial muncul kata “kurang piknik”, sebagai sindiran bagi orang-orang yang, di antaranya; jika berbeda pendapat cepat tersulut emosi. “Piknik” sebagai laku bersenang-senang adalah bentuk latihan untuk mengendurkan urat syaraf. Dalam perspektif lain, “piknik” juga kerap diartikan sebagai memperkaya wawasan dan berlatih mengontrol emosi. Dari sini, frase “kurang piknik” kemudiaan dilekatkan. Sufi sebagai orang yang telah mencapai derajat tertentu dalam koridor keagamaan, dalam teks-teks yang hadir di keseharian, sering tampil dengan luwes, punya selera humor yang bagus, namun mencuatkan petuah-petuah yang tak menggurui. Buku yang ditulis oleh Massud Farzan ini mencatat hal yang demikian.    

5) Manėhna (Sjarif Amin)

Syarif Amin alias Moehammad Koerdie adalah seorang sastrawan Sunda yang sekaligus salah satu tokoh perintis pers Indonesia. “Manėhna” adalah salah satu karyanya dari sekian banyak buku yang telah ia lahirkan. Buku ini berbahasa Sunda, bercerita tentang momentum. Tentang waktu yang tersia-siakan, dan tak akan pernah kembali lagi. Adalah seorang pemuda yang hatinya patah sebab tidak jadi menikah dengan kekasihnya. Kegagalan itu disebabkan karena si pemuda tidak bisa memanfaatkan momentum dengan baik. Ketika waktu telah lewat sedetik, maka sedetik sebelumnya telah menjadi masalalu yang tak bisa disinggahi lagi.

6) Suara Penyair (Khalil Gibran)

Gibran di Indonesia begitu ramai diperbincangkan dan diapresiasi. Beberapa grup band lokal tak segan untuk mengadopsi dan mengadaptasi syair-syairnya ke dalam lirik lagu. Lebih dari itu, bahkan ada yang mengutipnya secara langsung dan terang-terangan. Penyair kelahiran Lebanon ini memang begitu memesona. Cinta ditakar dalam diksi-diksi dan kisah yang menggetarkan. Kebijaksanaan hidup dihamparkan dalam syair-syair yang memukau. Di Indonesia, Gibran adalah salah satu penyair asing yang karya-karyanya begitu terkenal, dan mungkin yang paling populer.   


7) Tuan Tanah Kawin Muda (LEKRA)

Lembaga kebudayaan yang diisi oleh para seniman organik ini, sekurangnya dalam satu dekade kejayaannya telah menggoreskan riwayat penting dalam sejarah Indonesia. Lekra bekerja dan menggarap ladang-ladang kebudayaan yang mata airnya digali dari kehidupan rakyat sehari-hari, dari mulai seni rupa, tari, drama, lundruk, puisi, dll. “Tuan Tanah Kawin Muda” merupakan kumpulan catatan yang menjelaskan hubungan Lekra dengan seni rupa.   



8) Perang, Cinta, dan Revolusi (Anton Kurnia-ed)

Perang selamanya menyajikan kekerasan dan penderitaan. Kumpulan cerita pendek dalam buku ini menghamparkan kengerian kisah perang dari berbagai sudut pandang. Manusia yang hadir di pusarannya tak bisa menghindar, namun selalu diberi insight sebagai mata pisau. Kiranya sehimpunan kisah yang terbuhul dalam buku ini semacam catatan kontemplasi. Perenungan dari dari riwayat perang yang berparade di sepanjang titian zaman. Sebuah antologi yang hadir untuk melihat masa lalu, namun ditujukan agar  masa kini tidak segelap waktu ke belakang.    


9) Anak Tanah Air (Ajip Rosidi)

Ajip kerap menulis cerita pendek dan novel yang disandarkan pada kisah hidupnya sendiri, “Anak Tanah Air” pun demikian. Jika kita membaca “Hidup Tanpa Ijazah”, memoarnya yang diterbitkan pada ulang tahun dia yang ke-70, maka kisah yang diceritakan di novel ini persis seperti yang dituturkan pada buku memoar, hanya saja tokoh-tokoh yang hadir diberi nama lain. Dalam berbahasa, Ajip pun tak hendak membagus-baguskan dengan bunga-bunga, ia begitu datar. Novel ini sendiri membicarakan para seniman di pusaran politik Indonesia, yang akhirnya membuat mereka terkutub-kutub.


10) Baruang ka nu Ngarora (Daeng Kanduruan Ardiwinata)

Buku ini menceritakan tentang perbedaan kelas sosial yang berimbas kepada perlakuan yang merugikan kepada pihak lain. Ujang Kusen, Nyi Rapiah, dan Aom Usman adalah tokoh-tokoh yang dibangun oleh Ardiwinata untuk menjelentrehkan persoalan ini. Periode ketika menak dan rakyat jelata jaraknya begitu jomplang, Ardiwinata—yang punya darah Makassar, menuliskannya dalam cerita yang begitu menohok. Buku yang terbit pertama kali pada masa Balai Pustaka ini, menambah daftar kisah tentang pertentangan kelas, sesuatu yang selama ini dikenal berasal dari tanah Minang, cerita “Siti Nurbaya” misalnya. “Baruang ka nu Ngarora” kiranya pengecualian, kisah dari tanah Sunda yang menyoroti ketimpangan kelas. [ ]

26 November 2014

Mang Utuy


Dina raraga nyanghareupan watés ahir bulan Séptember jeung mimiti bulan Oktober, di mana di dinya aya hiji kajadian anu ahéng, nu pinuh ku rupa-rupa kasieun jeung katineung, kuring alakadarna baris ngabébérkeun hiji tokoh nu ngilu kageutahan, alatan kungsi milu dina orhanisasi hiji partéy nu ceunah mah geus wani-wani arék ngarebut kakawasaan tina pamaréntahan anu sah.

Tokoh ieu teu sanés deui nyaeta Utuy Tatang Sontani. Numutkeun sababaraha katerangan, anjeunna dibabarkeun di Cianjur ping 1 Mei 1920, sareng ngantunkeun di Moskwa ping 17 September 1979. Basa kajadian taun 1965 di lemahcai keur geunjleung, Utuy jeung sababaraha pangarang katut wartawan nu sanésna nuju aya di Beijing, dina raraga ngahadiran hiji acara nu diayakeun ku pamaréntah Tiongkok. Kusabab Utuy kacatet jadi anggota orhanisasi Lékra nu aya patalina jeung PKI, janten anjeunna teu tiasa mulih deui ka lemah cai dugi ka ngantunkeunna.

Sababaraha taun ka tukang, sateuacan Lékra ngilu dirarad ku pamaréntah, dumasar tina seratan Pramoedya Ananta Toer dina buku Menggelinding 1, Utuy mineng pisan katingali nuju ameng sareng putrana paduduan waé. Iwal ti eta, saur Pram, Utuy ogé mineng teu panuju sareng kahirupan jalma-jalma beunghar nu caricing di gedong nu sigrong. Saur anjeunna ka Pram, “Tempo ku anjeun, heueuh gé imah maranehna gedong sigrong, tapi can tangtu di jerona aya buku jang dibaca. Kahirupan urang sabenerna can merdéka mun kaayaanna tuluy-tuluyan kieu mah!”

Utuy sateuacan asup orhanisasi Lekra geus turun ilubiung dina widang sastera, anjeunna nulis hiji novel nu judulna Tambera. Novel ieu nyaritakeun sajarah nu lumangsung di Maluku dina abad ka-17. Carita ieu kungsi dimuat di koran Sipatahoenan jeung Sinar Pasundan.

Sawatara waktu ti harita, Utuy teras nyerat jeung nerbitkeun kumpulan carita pondok nu dipasihan judul Orang-orang Sial. Nanging nu ngajantenkeun anjeunna kasohor mah nyaeta carita-carita lakon nu di antarana nyaeta : Suling, Bunga Rumahmakan, Awal dan Mira, Sayang Ada Orang Lain, Di Langit Ada Bintang, Sang Kuriang, Selamat Jalan Anak Kufur, Si Kabayan, jeung Tak Pernah Menjadi Tua.

***

Hiji waktu, mangsa pasosore, numutkeun catetan Ajip Rosidi nu jadi baturna, Utuy dongkap ka bumi Ajip sabari nyandak pameunteu nu kiruh, anjeunna teras masihkeun kertas téléhram. Eusi éta kertas nyaéta nyuhungkeun Utuy kanggo calik jadi anggota pangurus Lékra anu baris disusun. Téléhram éta dikintunkeun ku Kongres Lékra nu munggaran nu diayakeun di Solo.

“Naon masalahna?” saur Ajip.

“Kuring bingung. Ceuk anjeun kumaha? Ditarima atawa ulah?” Utuy kalahka malik naros.

“Kunaon maké bingung?” Ajip naros deui.

Nyak derekdek baé Utuy ngadadarkeun nu jadi cukang lantaran kabingungna. Ajip ngaregepkeun pinuh daria. Saba’da réngsé ngabudalkeun nu jadi kabingungna, teras baé Ajip masihan bongbolongan ka nu jadi baturna.

“Lékra téh orhanisasi budaya PKI. Hartina paham jeung pamadéganna ngarah ka kénca. Jadi, dina hal ieu pasualan nu utamana nyaéta kumaha sikap Utuy kana komunisme? Satuju atawa henteu? Mun satuju teu paduli bisa gawé bareng atawa henteu jeung batur nu lian, anjeun kudu narima tawaran ieu. Engké sanggeus di jero orhanisasi, anjeun kudu motékar mikirkeun kumaha carana sangkan bisa nalapung jalma-jalma nu ceuk panénjo anjeun goreng gawéna.”

Teu lami Utuy naros deui, “Anjeun sorangan kumaha? Satuju teu kana komunisme?”

“Lain pasualan kuring ieu mah. Nu ditawaran jadi pangurus Lékra pan anjeun, jadi nu penting kumaha pamadegan anjeun sorangan,” saur Ajip.

Obrolan terus rada manjang antawis dua babaturan éta. Sababaraha poé ti harita dina koran diwawarkeun hasil kongres Lékra di Solo. Nami Utuy teu aya dina réngréngan pangurus anu anyar disusun. Anjeunna nolak tawaran pikeun jadi pangurus Lékra.

***

Dina bulan Désémbér taun 1958, di Bandung diayakeun Kongrés Basa Sunda nu tempatna di gedung YPK di Jalan Naripan. Nu ngahadiran diantawisna aya Ajip Rosidi ti Sumedang, aya ogé Boejoeng Saléh, Ramadhan Karta Hadimadja, Rukasah, Ismail Wiriadinata, jeung Utuy Tatang Sontani ti Jakarta.

Mangsa Utuy ningali Ajip, langsung baé anjeunna médol Ajip ka luar terus ngajak leumpang nepika Jalan Braga. Utuy tuluy ningalikeun Negeri Soviét, hiji majalah citakan ti Kedutaan Besar Soviét (harita ngaranna acan Rusia) di Jakarta, nu eusi éta majalah téh nyaéta pikeun ngenalkeun nagara Soviét ka bangsa Indonesia.

Dina eta majalah aya catetan interviu wartawan jeung Utuy. Foto nu dipajang gedé pisan. Tapi naha Utuy bet kalahkah bingung jeung muyung?

Sihoréng nu ngajadikeun anjeunna kitu téh nyaéta eusi interviu nu aya dina majalah teu sarua eujeung anu sabenerna basa anjeunna diinterviu ku wartawan ti majalah éta.

“Kuring teu nyaritakeun sababaraha hal nu ditulis dina éta majalah. Basa ditanya ku wartawan kumaha pendapat kuring ngeunaan sistim tani koléktif di Uni Soviét, ceuk kuring mun cocok jang urang Soviét nyak alus baé; jelema moal bisa digawé sorangan di gurun pasir, ” kitu pokna.

Tapi orokaya éta majalah tungtungna nulis anu sabenerna teu diomongkeun ku Utuy ka wartawan. Balukarna jadi pangbeurat ka Utuy dina nyorang lalakon ka hareupna.

“Da memang kitu carana komunisme mah!” saur Ajip mairan.

“Enya, tapi hal éta jadi pasualan. Anjeun apal sorangan, kuring kungsi diondang ka Cina jeung Soviét, anyeuna kuring baris diondang ka Amérika, jeung geus aya urang Kedutaan Amérika nu datang ka imah, malah mah kuring anyeuna keur diajar basa Inggris ka Drs. Lie Tie Gwan. Tapi ku dimuatna foto jeung interviu kuring di majalah Negeri Soviét, komo jeung kuring saolah-olah ngalus-ngalus komunisme nu sabenerna teu diomongkeung ku kuring, balukarna kuring bisa waé teu jadi indit ka Amérika!”

Ti dinya duanana teu loba carita deui, bral bae baralik deui ka gedung YPK di Jalan Naripan pikeun ngahadiran Kongrés Basa Sunda.

***

Sanajan dina sababaraha kasempetan Utuy kungsi teu nyanggupan pikeun jadi anggota Lékra, tapi tungtungna sanggeus dideukeutan ku Héndra Gunawan (babaturanna mangsa sakola di Bandung jaman saacan perang), anjeunna asup jadi anggota pangurus Lékra.

Basa di lemahcai aya kajadian Gestapu jeung loba anggota PKI katut Lékra nu dipaéhan, sakumaha nu geus diterangkeun di luhur, dina mimiti ieu tulisan; kaleresan Utuy nuju di Beijing jadi teu kaasup nu diala pati diarah nyawa, tapi balukarna Utuy teu bisa balik deui ka lemahcai pikeun salilana tug dugi ka ngantunkeunna.

Harita basa di Tiongkok aya Révolusi Kabudayaan, Utuy jeung sababaraha baturna indit ka Eropa, niatna rek tuluy ka Perancis. Tapi barang nepi ka Rusia, Utuy lirén di éta nagara. Dongkapna Utuy di Rusia matak pikabungaheun pikeun urang Rusia anu geus kungsi maca tulisan-tulisanna. Anjeunna teras janten dosen di salah sahiji Universitas di Rusia.

Nuju Ajip kaleresan aya di luar nagri, Ajip nyempetkeun ngalongok Utuy anu nuju teu damang parna. Barang Ajip dongkap ka rumah sakit, Utuy kacida atohna.

“Gering naon?”

“Teu, kuring geus cageur sabab panggih deui jeung anjeun, kuring jadi bisa deui ngawangkong make basa Sunda. Di dieu euweuh nu bisa diajak ngomong basa Sunda,” saur Utuy sabari némbongkeung kabungah.

Sababaraha taun di harita, nyaéta taun 1979; Utuy ngantunkeun sabari teu kungsi panggih heula jeung nu jadi anak pamajikanna. Kanggo ngaajénan jasa-jasana, pamaréntah Rusia ngurebkeun sareng ngadamel makam khusus kanggo umat Islam, nyaéta kanggo Utuy.

Hawar-hawar kuring inget deui kana cacariosan mang Utuy basa aya kénéh di lemahcai. Pokna, “Kuring néangan manusa, tapi nu kapanggih ngan ukur badut.” Wallo’alam, duka naon maksadna. [irf]

15 May 2012

Membaca Njoto, Membaca Sejarah yang Diliputi Kabut

“Jangse mengalir
Kepalku menghilir
Dari Cangking ke Wuhan
Kejelajahi haridepan
Kujelajahi haridepan”

***

Menghadirkan kembali tokoh-tokoh PKI dalam sebuah buku tentu saja masih selalu mengundang kontroversi, meskipun reformasi sudah berjalan hampir tigabelas tahun semenjak Orde Baru jatuh. Di jalanan kadang-kadang terlihat spanduk yang memasang tulisan “ Awas Bahaya Laten Komunis!!”. Komunisme dan PKI ternyata masih menjadi hantu yang menakutkan, terutama setelah gempa politik 1965. Ruang sejarah yang seharusnya menulis peristiwa dari berbagai perspektif, ternyata masih saja memberikan sedikit ruang bagi penulisan kembali sejarah “gelap” yang selama ini memojokkan salah satu pelakonnya. Tapi sebenarnya kondisi sekarang lebih mulai terbuka daripada beberapa puluh tahun ke belakang, ketika buku-buku sejarah, terutama yang dipelajari di sekolah, ditulis menjadi dua blok : penjahat dan pahlawan. Penulisan sejarah digiring oleh kepentingan penguasa yang takut oleh kemungkinan-kemungkinan fakta yang sebenarnya bisa saja dihadirkan secara seimbang.

Adalah majalah TEMPO yang pada tahun 1994 sempat dibredel dan kembali hadir di tengah ruang public yang mencoba menghadirkan penulisan sejarah dengan pendekatan jurnalistik. Dalam kata pengantarnya, yang ditulis oleh Arif Zulkifli (Redaktur Eksekutif Majalah TEMPO), menulis : “Kami sadar bahwa kami bukan sejarawan. Edisi khusus yang kini diterbitkan dalam versi buku tidak berpretensi untuk menguji masa lalu dengan metodologi sejarah yang ketat. Dalam pendekatan jurnalistik, yang diharapkan muncul adalah pesona sejarah---meski tidak berarti fakta disajikan serampangan dan tanpa verifikasi. Tujuan jurnalisme adalah mengetengahkan fakta dengan menarik, dramatic tanpa mengabaikan presisi.”

Seri buku TEMPO, setidaknya yang sudah beredar di toko buku, “baru” hadir tiga pembagian besar : Bapak Bangsa (Soekarno, Tan Malaka, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir), Tokoh Islam Awal Kemerdekaan (Daud Beureuh, Sekar Maridjan Kertosuwirjo, Mohammad Natsir, Wahid Hasyim), dan Orang Kiri Indonesia (Dipa Nusantara Aidit, Muso, Njoto, Sjam Kamaruzaman). Kata “baru” dimaksudkan sebagai sebuah harapan pribadi, harapan saya yang masih menantikan buku-buku lainnya tentang sejarah yang ditulis oleh TEMPO. Salah satu yang menarik dari seri buku ini adalah penulisannya yang cerdas; ditulis dengan angle lain dan pemilihan diksi yang “bertenaga”, sebagai ciri khas tulisan waratawan. Dalam kata pengantar buku Bapak Bangsa, hal ini diakui oleh TEMPO : “Menulis para tokoh punya kompleksitasnya sendiri, kami harus pandai-pandai mencari sudut pandang yang tak dilihat media atau penulis lain. Padahal buku, artikel, dan hasil studi tentang empat tokoh ini (Bapak Bangsa) sudah setumpuk. Kami tentu bisa mengutip mereka, tapi kami tak bisa melulu mengunyah-ngunyah informasi lama.”

Dari ketiga seri buku yang telah terbit, menulis kembali Orang Kiri Indonesia mempunyai tantangannya tersendiri, bahkan sejak dari awal. Seorang pensiunan letnan jenderal Angkatan Darat, seperti dituturkan Arif Zulkifli, dalam acara silaturahmi Idul Fitri di kantor TEMPO sempat berkata setengah menghardik, “Kalian tak mengerti sejarah!”, waktu tahu bahwa TEMPO akan menerbitkan buku Orang Kiri Indonseia yang salah satu tokohnya adalah D.N. Aidit. Dalam pandangannya, Aidit tak selayaknya ditulis panjang lebar dalam sebuah laporan utama yang kemudian menjadi buku. Sebagai sebuah tangkisan kepada pandangan purnawirawan Angkatan Darat tersebut, TEMPO menulis : “Sesungguhnya tak ada fatwa yang mengharamkan media massa menulis tentang orang yang paling jahat sekalipun. Dasar media menulis adalah kemenarikan suatu peristiwa. Di atas itu ada hak public untuk tahu. Dalam hal tiga sosok orang kiri Indonesia, informasi yang diterima public kebanyakan berselimut kabut. Sang jenderal menganggap orang-orang kiri Indonesia berkhianat kepada republic dank arena itu wajib ditumpas. Segi-segi detail tentang sosok itu tak perlu dibahas. Juga cerita dia sebagai manusia. Padahal cerita tentang Aidit misalnya, mestinya diletakkan dalam sebuah bingkai yang lebih utuh. Inilah kisah tentang tragedy anak manusia. Tentang seorang yang punya cita-cita---betapapun sepakat/tak sepakatnya kita pada cita-cita itu dan cara mewujudkannya.”

Saya sebenarnya ingin menulis semacam resensi untuk semua buku tersebut, tapi yang mula-mula akan dihadirkan di sini adalah Njoto, salah satu orang kiri Indonesia yang bukunya dengan mudah dapat ditemui di toko buku besar. Hal ini mungkin dipengaruhi olah gaya menulis TEMPO yang menyebutnya sebagai seorang komunis yang tak biasa. Selain itu, Njoto juga dalam pembendaharaan pengetahuan saya yang sangat sedikit termasuk tokoh komunis yang sangat jarang terdengar. Tidak seperti Aidit dan Muso, Njoto sangat jarang ditulis dalam buku-buku sejarah mainstream. Sedangkan TEMPO menulisnya seperti ini : “Njoto, yang namanya nyaris tak menyimpan pesona, adalah seorang berbeda dari orang komunis pada umumnya. Ia necis dan piawai nermain biola dan saksofon. Ia menimati music simfoni, menonton teater, dan menulis puisi yang tak melulu ‘pro-rakyat’ dan menggelorakan ‘semangat perjuangan’. Ia menghapus The Old Man and The Sea---film yang diangkat dari novel Ernest Hemingway---dari daftar film Barat yang diharamkan Partai Komunis Indonesia. Ia menghayati Marxisme dan Leninisme, tapi tak menganggap yang ‘kapitalis’ harus selalu dimusuhi.”

Menyusuri Njoto, dalam buku yang ditulis para wartawan TEMPO ini, kita mula-mula diajak ke masa kecilnya di Jember. Njoto adalah anak Raden Sosro Hartono, seorang keturunan ningrat Solo yang disegani karena perbawanya.  Njoto kecil sudah “nyentrik”. Di usia 12 tahun, Njoto terpesona pada sepatu roda, mainan yang tergolong mewah waktu itu, apalagi di Jember, kota kecil di ujung Jawa Timur. Njoto kecil tumbuh dengan cita-cita menjadi jurnalis. Kepada ayahnya, Njoto juga menyampaikan tekadnya untuk mengusai berbagai bahasa asing, seperti Inggris, Jerman, Belanda, Rusia, dan Prancis. Selain itu, seperti sudah digariskan pada awalnya, Njoto sejak kecil tidak menyukai struktur social yang bertingkat dan cenderung kaku. Pada hari raya Idul Fitri, misalnya, dia merasatak nyaman menyaksikan suasana feodal Jawa di rumah orangtuanya.

Dalam sejarah yang terus bergulir, Njoto beranjak besar dan pada sebuah relativitas waktu, Njoto  akhirnya bertemu dengan Aidit dan Lukman---orang-orang muda yang bergiat di PKI. Njoto bersama Aidit dan Lukman kemudian masuk Komisi Penterjemah PKI pada awal 1948, yang tugasnya menerjemahkan Manifes Partai Komunis, karya Karl Marx dan Friedrich Engels. Pada Agustus 1948, tiga serangkai ini sama-sama jadi anggota Comite Central PKI. Aidit mengurus bidang Agraria, Lukman awalnya di Sekretariat Agitasi dan Propaganda, sedangkan Njoto menjalin relasi dengan badan-badan perwakilan. Ketika pemberontakan PKI Madiun pecah, partai limbung, tercerai-berai. Aidit, Njoto, Lukman bagaikan Three Musketeers. Mereka muncul menjadi tulang punggung partai. Tokoh-tokoh muda ini kemudian berhasil menggusur tokoh-tokoh tua dan akhirnya mengambil alih kepemimpinan partai, dan semunya “habis” tidak lama setelah G30S pecah.

Tentu semua orang faham belaka, bahwa semua orang PKI, dari para elite sampai simpatisannya, baik di kota maupun di daerah,  habis di babat semenjak gempa politik 1965, tak terkecuali Njoto. Ia diculik, hilang, dan tak kembali hingga kini. Jejak kematiannya tak terlacak.

Sebagai sebuah ikhtiar mengumpulkan bahan penulisan, juga untuk melacak yang selama ini tak terlacak, TEMPO menyempatkan berkunjung ke keluarga besarnya. Dari Soetarni, istrinya, didapat informasi bahwa Njoto merayu calon istrinya itu dengan puisi cinta. Jarak yang menjauhkan antara dirinya dan Soetarni dia lipat dengan surat yang amat panjang, lengkap dengan berbaris-baris puisi cintanya. “Itu surat apa koran?,” kata ayah Soetarni waktu itu. Selain itu, minat Njoto pada sastra pun begitu besar. Mantan pemimpin redaksi Harian Rakjat itu berminat pada karya-karya pengarang Rusia seperti Nikolai Gogol dan Dostoevsky, hingga penulis yang ideologinya berseberangan. Bahkan dia juga menyukai karya H.B. Jassin dan HAMKA. Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan, sekitar bulan September 2008 sempat mengumpulkan beberapa puisi Njoto dan menerbitkannya dalam buku Gugur Merah : Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965. Salah satu puisinya adalah seperti yang saya kutip di awal tulisan ini yang ditulisnya pada tanggal 14 Oktober 1959.

Beberapa waktu sebelumnya peristiwa 30 September 1965, Njoto yang sering pergi ke Moskow unutk berkomunikasi dengan partai komunis internasional, dikabarkan berselingkuh dan hendak menikahi seorang gadis yang kuliah di jurusan sastra Indonesia Universitas di Moskow yang bernama Rita. Hal ini yang kemudian membuat Aidit marah dan mempreteli jabatan Njoto. Tapi walaupun begitu, bagi Soetarni, kesetiaan Njoto telah teruji. Apa pun kata orang tentang elegy cinta Njoto-Rita, baginya itu hanyalah dongeng. Pada masa kelam, tatkala dia dipenjara selama 11 tahun, tercerai-berai, berpisah dengan suami dan anak-anaknya yang tak tentu rimbanya, dia yakin Njoto adalah kekasihnya yang dulu. Njoto tetaplah lelaki pemujanya, yang mengiriminya berlaksa-laksa surat hingga mereka menikah dan dikaruniai tujuh anak.

Seri buku TEMPO ini, selain mengetengahkan aktivitas politik juga menghadirkan sisi personal tokoh-tokohnya, tak terkecuali Njoto. Hal ini barangkali, membuat siapapun yang membaca sejarah, tidak melulu melihatnya dari segi hitam-putih saja. “Menulis Njoto adalah ikhtiar untuk tak terseret logika tumpas kelor. PKI bukanlah sebuah entitas yang utuh. Sejarah selalu menyimpan orang yang berbeda. Njoto salah satunya,” demikian kata TEMPO. Tapi bukan berarti buku ini tanpa kekurangan, selain tidak mengujinya dengan metodologi sejarah yang ketat, juga para penulis pun senantiasa dikejar-kejar waktu deadline sebagai wartawan. “Idealnya, kami mengembangkan versi buku dengan pendalaman liputan. Tapi kami tak bisa menaklukkan waktu. Kesibukan sebagai wartawan majalah berita membuat yang ideal untuk sementara harus masuk laci. Kami sadar kami harus bergegas sehingga---untuk sementara---tak bisa menukik lebih dalam. Dalam hal kami harus berendah hati : makanan yang kami masak barulah sebatas hidangan siap saji,” begitu kata Arif Zulkifli.

Dan saya sendiri, yang menulis catatan ini dengan hanya bermodalkan minat pada buku, tentu tak hendak menawarkan sebuah referensi sejarah yang utuh dan lengkap, melainkan hanya membagi apa yang telah dan tengah saya baca. [ ]

4 Juni ‘11     

14 May 2012

Gelanggang yang Kian Redup


Ketika sebuah kelompok ketoprak di Yogyakarta mementaskan lakon “Pamit Mati”, dan itu adalah ungkapan sebenarnya, bahwa mereka, kelompok kesenian rakyat yang kere dan tidak menghasilkan uang itu akan segera bubar. Persis setelah pertunjukan terakhirnya selesai, maka kuburan kesenian rakyat menambah daftar panjang para pelakonnya yang habis digerus industri pertunjukkan yang serba gemerlap dan bermodal besar. 

Ironi tumbuh di mana-mana. Pertunjukkan musik rock, metal, dan sejenisnya yang kental dengan semangat pemberontakan dan anti kemapanan dijual dengan tiket selangit. Log Zlebour yang dulu pernah berjaya dengan mengusung rock, sempat bertutur bahwa peta pertunjukkan kini sudah bergeser. 

Dulu music rock digelar di daerah. Kota-kota kecil di Pulau Jawa rutin mengelar pertunjukkan music rock. Kini sebaliknya. Tengok saja, para penimat musik rock dan metal yang kebetulan kere tak mampu membeli tiket Java Rock in Land. Konser hanya terpusat di Jakarta dan sesekali di Bali, dan tiket dijual mahal, tapi untunglah masih ada Bandung Brisik.

Teater Koma mungkin menjadi satu-satunya yang mampu bertahan secara kreatif ketika pertunjukkan Wayang Bharata dan Srimulat gulung tikar. Para promotor lebih tertarik menampilkan para pemusik asing yang bersinar dengan bantuan lampu sorot media. 

Begitu pun dengan para penonton terkini, mereka lebih tertarik menyaksikan Java Jazz yang terkesan lebih keren, dan terdengar seperti mengerti musik, dan lagi-lagi, semuanya dibandrol dengan harga yang menggantung di awan tinggi. 

Kesenian, petunjukkan kebudayaan, dan segala jenis pagelaran lainnya tak ubahnya seperti manara gading yang tidak sanggup dijangkau rakyat yang pendapatannya berada di ambang batas garis kemiskinan.

Meskipun tidak terlampau mengembirakan, tapi di wilayah sastra setidaknya masih ada Forum Lingkar Pena yang masih tetap produktif dan terus melebarkan sayap organisasinya. Komunitas para penulis yang sangat kental hubungannnya dengan salah satu partai politik ini sedikit banyaknya telah ikut mewarnai peta pertumbuhan sastra di Indonesia, meskipun para pionirnya masih tetap belum berganti, masih yang itu-itu saja, masih Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Pipiet Senja, dan Izzatul Jannah. 

Organisasi penulis ini memikili banyak perwakilan di luar negeri, dan anggotanya mencapai ribuan orang. Tapi ada satu hal yang membuat organisasi ini terasa kurang “menghunjam” ke jantung sosial masyarakat luas, yaitu terlampau eksplisit dalam mengolah dan menyampaikan pesan. Beberapa kalangan menyebutnya sebagai sastra ibadah.

Kalau kita sempat menengok ke beberapa surat kabar, terutama yang edisi Minggu, kita dapat menjumpai bahwa sebenarnya komunitas-komunitas kesenian dan sastra di daerah itu ada dan dijagai oleh para pelakonnya yang militan. Tapi komunitas-komunitas tersebut terasa lambat dan bahkan mandeg dalam perkembangannya. 

Mereka tumbuh dalam kesepian, termaginalkan dari masyarakatnya sendiri. Orang-orang lebih gampang digiring ke depan televisi dan disuguhi opera sabun atau perlombaan calon bintang dengan bahan bakar karbit. Mereka lebih senang menyuntuki para bintang dengan mental editing daripada para seniman kere yang menjadi gembel kebudayaan.

Di titik inilah kita bisa mengengok ke belakang, kepada tahun-tahun sebelum gempa politik dahsyat memporak-porandakan sendi-sendi politik dan kebudayaan. Jauh sebelum perseteruan antara Lekra versus Manikebu memanas, sayap kebudayaan sebuah partai yang sering kita anggap setan, bahkan lebih mengerikan dari setan itu, telah menggoreskan sebuah jejak sejarah, yang barangkali masih relevan kita bandingkan dengan kondisi sekarang.

Dalam buku yang berjudul Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat yang ditulis oleh Muhidin M. Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri, kita bisa mengikuti jejak rekamnya. Selama 15 tahun semenjak kelahirannya pada tanggal 17 Agustus 1950 sampai akhirnya divonis hukuman mati di depan mahkamah sejarah pada 1 Oktober 1965, Lekra adalah limabelas tahun bekerja agar kebudayaan mendapatkan tempat terhormat di tengah kehidupan politik Indonesia. 

"Kebudayaan tak boleh hanya jadi suplemen dari kehidupan ekonomi dan politik. Pengekor tanpa tendens atau diabaikan seperti makhluk tiada guna. Kebudayaan harus menjadi bidang utama yang menentukan bulat-lonjong-persegi raut Indonesia. Lekra sudah menunjukan dengan segamblang-gamblangnya bagaimana cara menghormati kebudayaan Indonesia, menghormati tradisi yang dilahirkan rakyat, membawa pulang sastra ke pangkuan si pemiliknya, yakni rakyat."

Sastra masuk ke kampung dan pabrik-pabrik. Masyarakat belajar menulis puisi, anak-anak muda dibina menulis cerpen dan novel. Dongeng-dongeng Nusantara direvitalisasi dan dipanggungkan di pentas ketoprak, teater, arena deklamasi, bahkan dalam lukisan-lukisan. Di wilayah musik, lagu-lagu daerah dikumpulkan dan diperkenalkan secara nasional. Tari-tari daerah pun direvitalisasi, diberi isi baru, bukan hanya sebagai tari penghibur dan objek turisme.  

Kesenian tidak berhenti hanya sebatas seni untuk seni, tapi juga menjadi bahan bakar perlawanan. Amerika Serikat yang waktu itu otomatis menjadi lawan politik, karena Indonesia lebih condong ke Uni Soviet, tidak pernah berhenti diserang dengan propaganda. 

Lekra tak pernah kehabisan stok energi. Mereka sebar seluruh pasokan logistik perlawanan di mana-mana. Di sidang-sidang kongres, pleno, di rapat-rapat umum, di ruang-ruang seminar, di atas kanvas pelukis, di kuplet-kuplet puisi, di dinding-dinding mural, di halaman-halaman koran, buku, di atas panggung pertunjukan, di layar putih, dan di sekujur jalanan kota yang memungkinkan mengalirnya sumpah dan protes.

Meski tidak bisa lepas dari propaganda politik komunis yang kental, dan kita sadar ataupun tidak, masih sangat takut untuk banyak omong mengenai partai terlarang tersebut, tapi sedikit banyaknya kita bisa belajar dari sayap kebudayaan partai tersebut yang dihuni oleh para cendikiawan organik yang bertalenta. 

Barangkali kita tidak perlu tahu petitih sakti Nelson Mandela yang beresonansi di langit Jakarta, tepat pada Hari Kesaktian Pancasila, saat keturunan tokoh bangsa yang pernah terlibat konflik di masa lalu berkumpul di gedung tempat MPR bersidang. 

Di podium kehormatan secara bergantian tampil Chaterine Pandjaitan (putri pahlawan revolusi, Mayjen DI Pandjaitan), Ilham Aidit (putra pemimpin PKI, DN Aidit), Sarjono Kartosuwiryo (putra Imam Besar DI/TII Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo), Perry Omar Dani (putra mantan KSAU Marsekal Omar Dani), Sukmawati Soekarnoputri (putri Presiden Soekarno), Hutomo Mandala Putra (putra Presiden Soeharto), dan lainnya. Mereka melantunkan kesaksian (testimony), penyesalan (repentance), dan pengasihan (compassion), seperti yang sering dianjurkan teolog rekonsiliasi Afrika Selatan, Desmond Tutu.

Mungkin resonansi yang diperlukan di parit-parit kebudayaan kita sekarang adalah sebuah gerakan semesta yang tidak menganaktirikan salah satu komponen anggota kehidupan sosial yang terus berdenyut. Tidak memarginalkan akar rumput dengan hanya disuguhi produk-produk kebudayaan yang instant, tak banyak pikir, hanya mengedepankan gebyar, dan sekaligus mahal. 

Jika hal ini diabaikan, maka jangan heran jika sastra, seni, dan kebudayaan selamanya hanya akan menjadi makhluk tiada guna, atau hanya naik kelas menjadi sebatas penghibur saja, dan foto para seniman hanya menjadi gantungan kunci pintu kamar. [ ]



itp, 27 Okt '11

Ilustrasi: Pantai Minajaya