Showing posts with label Daendels. Show all posts
Showing posts with label Daendels. Show all posts

10 November 2021

Hikayat Panjang Banjir di Bandung


Banjir di Bandung, terutama di sejumlah daerah di sekitar tepi sungai Citarum, adalah kisah berulang. Setiap tahun, pelbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menanggulangi atau bahkan mencegahnya. Dana yang dikeluarkan pun tidak sedikit. Namun, kabar belum juga berubah.

Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, Bojongsoang, Rancaekek, Cileunyi, Majalaya, Cicalengka, Kutawaringin, dan Ibun, yang semuanya masuk wilayah Kabupaten Bandung, menjadi langganan banjir ketika musim hujan datang.

Salah satu daerah yang paling parah mengalami banjir adalah Dayeuhkolot. Sebagai contoh, sejak Selasa (9/4/2019), di sejumlah kanal media sosial beredar video tentang seorang 
suami menggendong istrinya yang tengah hamil menembus banjir setinggi leher.


Pemindahan Ibukota

Sejak wilayah Priangan dimekarkan oleh Sultan Agung setelah penangkapan Dipati Ukur pada 1632, ibukota Kabupaten Bandung mula-mula berada di daerah yang dulu bernama Karapyak, terletak persis di tepi sungai Citarum. Daerah ini kelak bernama Dayeuhkolot yang artinya kota tua.

Setelah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels merampungkan pembangunan Jalan Raya Pos (De Groote Postweg) yang terbentang dari Anyer sampai Panarukan, ia memerintahkan kepada sejumlah bupati untuk memindahkan ibukota kabupaten.

Di Priangan, ibukota yang harus dipindahkan ke tepi Jalan Raya Pos adalah ibukota Kabupaten Bandung dan Kabupaten Parakanmuncang. Lewat surat keputusan bertitimangsa 25 Mei 1810, Daendels memerintahkan Bupati Bandung Wiranatakusumah II untuk memindahkan ibukota ke tepi Jalan Raya Pos.

“Zorg, dat als ik terug kom hier een stad in gebouwd!” (Coba usahakan, bila aku datang kembali ke sini telah dibangun sebuah kota!)” ucap Daendels kepada Wiranatakusumah II seperti terdapat dalam Sejarah Kota Bandung 1945-1979 (1985) yang ditulis oleh Edi S. Ekadjati dan kawan-kawan.

Konon, Daendels berkata seperti itu sambil menancapkan tongkat di pinggir Jalan Raya Pos yang kini menjadi titik nol kilometer Kota Bandung di sisi Jalan Asia Afrika. Pemindahan sejumlah ibukota kabupaten tersebut dilakukan untuk memudahkan koordinasi.

Dalam laporan jurnalistik Kompas yang bertajuk Ekspedisi Anjer-Panaroekan (2008) disebutkan, Jalan Raya Pos mula-mula difungsikan untuk memperlancar komunikasi antara Batavia dengan daerah-daerah di Jawa. Setelah selesai dibangun, jalan ini mampu memangkas waktu tempuh pengiriman pesan dan surat.

“Semula dari Batavia ke Surabaya memerlukan waktu tempuh satu bulan. Dengan adanya jalan ini, waktu tempuh menjadi 3 sampai 4 hari saja,” tulis Kompas.

Selain itu, jalan ini juga dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Ketika Daendels tiba di Hindia Belanda, posisi angkatan perang Inggris telah mengancam Jawa. Jadi, jika suatu saat Inggris menyerang Jawa, maka jalan ini digunakan untuk mobilitas pasukan Belanda.

“Apa pun tugas yang dikatakan diembannya, yang terpenting adalah pertahanan militer terhadap serangan Inggris,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels (2005) menerangkan tugas Gubernur Jenderal tersebut.

Kisah tentang pembangunan Jalan Raya Pos inilah yang menjadi narasi utama dalam pelbagai catatan sejarah tentang pemindahan ibukota Kabupaten Bandung dari Karapyak ke sekitar Alun-alun Bandung sekarang. Pemindahan ibukota ini pula yang sekarang dijadikan sebagai 
hari ulangtahun Kota Bandung.


Banjir dan Inisiatif Wiranatakusumah II

Narasi tersebut tidak sedikit pun menyinggung soal banjir yang kerap menerjang Karapyak yang letaknya di tepi sungai Citarum. Namun, menurut catatan Haryoto Kunto dalam Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986), satu tahun sebelum turun perintah Daendels, Wiranatakusumah II telah berinisiatif hendak memindahkan ibukota Kabupaten Bandung ke arah utara karena sering dilanda banjir.

Mula-mula Wiranatakusumah II mencari lokasi baru untuk ibukota Kabupaten Bandung di daerah Bojonagara, tepatnya di Kampung Cikalintu, dekat masjid besar Jalan Cipaganti sekarang.

“Di tempat itu, pertama kali Wiranatakusumah II membangun rumah tinggalnya” tulis Kunto.

Ia menambahkan, Kampung Cikalintu dipilih Wiranatakusumah II sebagai calon ibukota baru berdasarkan sejumlah alasan. Pertama, mengacu pada catatan Andries de Wilde (tuan tanah di daerah Priangan), yang menyebut lahan sebelah selatan adalah daerah basah yang berawa-rawa. Sementara daerah Bandung utara lebih cocok untuk permukiman karena hawanya sejuk dan lingkungannya sehat.

Alasan kedua, sebelah utara Bandung terdapat sejumlah perkampungan penduduk seperti Kampung Balubur, Kampung Gadog, Dago, Gegerkalong Girang, dan Babakan Bogor.

Dan pertimbangan ketiga adalah karena daerah tersebut memenuhi syarat kepercayaan lokal, yakni bekas kubangan badak putih yang berarti lahan itu memiliki sumber air, baik berupa mata air ataupun aliran sungai.

Tidak jauh dari Kampung Cikalintu yang dipilih oleh Wiranatakusumah II, memang terdapat mata air Pancuran Tujuh di daerah Cikendi, Ledeng di daerah Jalan Setiabudi, dan Sungai Cikapundung. Dan tak jauh dari sana terdapat juga daerah yang bernama Rancabadak. Dulu orang Bandung menyebut Rumah Sakit Hasan Sadikin dengan sebutan Rumah Sakit Rancabadak.

Namun, saat perintah pemindahan ibukota turun, ternyata Kampung Cikalintu jaraknya jauh dari Jalan Raya Pos. Oleh karena itu Wiranatakusumah II mencari lokasi lain. Pilihan selanjutnya adalah Babakan Bogor yang sekarang bernama Kebonkawung (daerah sekitar Stasiun Bandung).

Babakan Bogor juga memenuhi syarat lokal dengan terdapatnya mata air Ciguriang yang sampai sekarang masih ada, dan dulu dijadikan sebagai pusat mencuci oleh para penatu.

“Namun, rupanya Kebonkawung (Babakan Bogor) masih belum memenuhi syarat buat mendirikan kabupaten beserta alun-alunnya,” imbuh Kunto.

Akhirnya, Wiranatakusumah II menemukan lokasi yang cocok sebagai ibukota, yakni di sisi Jalan Raya Pos dan tak jauh dari aliran Sungai Cikapundung. Selain itu, di lokasi ini pun terdapat sejumlah mata air yang disebut Sumur Bandung.

Jika dibandingkan dengan perintah Daendels untuk memindahkan ibukota ke sisi Jalan Raya Pos, pemilihan lokasi yang dilakukan oleh Wiranatakusumah II ternyata sesuai. Narasi ini barangkali versi lokal untuk menafikan atau setidaknya tidak terlalu mengagungkan pengaruh kolonialisme dalam peristiwa pemindahan ibukota Kabupaten Bandung.

Dan dari keseluruhan kedua versi ini, banjir di Bandung tempo dulu tak terlampau banyak dikisahkan. (irf)

21 October 2015

Kelas Resensi Pekan ke-4

      1) Jalan Raya Pos Jalan Daendels (Pramoedya Ananta Toer)

Dengan cara bertutur yang mengalir, Pram mencoba mengulas Jalan Raya Pos yang memakan korban ribuan warga pribumi. Dari kota ke kota, tiap titik Pram ulas lengkap dengan sejarah kerajaan pra kolonial, juga potensi masa lalunya. Ada juga hal-hal yang sebetulnya tidak relevan dengan Jalan Raya Pos, tapi dipaksakan untuk ditulis; seperti kisah pribadi si penulis ketika singgah di Cirebon. Dari Anyer sampai Panarukan, Jalan Raya Pos terbentang dan menjadi warisan penting bagi infrastruktur Pulau Jawa. Dan di jalan ini pula ribuan manusia meregang nyawa.


2) Sekali Peristiwa di Banten Selatan (Pramoedya Ananta Toer)

Ini adalah kisah yang disandarkan para hasil reportase singkat Pram ke wilayah Banten Selatan; sebuah masyarakat yang miskin dan tertindas. Pemberontakan panjang dari DI/TII masuk juga ke wilayah ini, dan masyarakat terseret menjadi korban. Dengan latar waktu di sekitar tahun 50-an, kisah ini mencuatkan satu kesadaran, bahwa penindasan dan kesewenang-wenangan dapat dilawan dengan persatuan dan gotong royong. Dan kebenaran, walau bagaimanapun harus diperjuangan. Pram menulis “Di mana-mana aku selalu dengar; yang benar juga yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.”

3) Larasati (Pramoedya Ananta Toer)

“Kalau mati dengan berani. Kalau hidup dengan berani. Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita.” Roman “Larasati” memotret kehidupan revolusi pasca proklamasi. Di dalamnya terhampar kisah yang tidak hanya bait-bait kepahlawanan, namun juga sisi-sisi lain yang kerap terabaikan, seperti; kemunafikan, pengkhianatan, dan percintaan. Para pelaku revolusi, semuanya begulat di pusaran-pusaran seperti itu. Revolusi dalam narasi yang dibangun oleh Pram, bukanlah sebuah periode suci yang steril dari polusi omong kosong, bahkan sebaliknya. Pram dengan brilian menyigi revolusi dari kacamata manusia-manusia republik.

4) Humor-humor Sufi (Massud Farzan)

Baru-baru ini di media sosial muncul kata “kurang piknik”, sebagai sindiran bagi orang-orang yang, di antaranya; jika berbeda pendapat cepat tersulut emosi. “Piknik” sebagai laku bersenang-senang adalah bentuk latihan untuk mengendurkan urat syaraf. Dalam perspektif lain, “piknik” juga kerap diartikan sebagai memperkaya wawasan dan berlatih mengontrol emosi. Dari sini, frase “kurang piknik” kemudiaan dilekatkan. Sufi sebagai orang yang telah mencapai derajat tertentu dalam koridor keagamaan, dalam teks-teks yang hadir di keseharian, sering tampil dengan luwes, punya selera humor yang bagus, namun mencuatkan petuah-petuah yang tak menggurui. Buku yang ditulis oleh Massud Farzan ini mencatat hal yang demikian.    

5) Manėhna (Sjarif Amin)

Syarif Amin alias Moehammad Koerdie adalah seorang sastrawan Sunda yang sekaligus salah satu tokoh perintis pers Indonesia. “Manėhna” adalah salah satu karyanya dari sekian banyak buku yang telah ia lahirkan. Buku ini berbahasa Sunda, bercerita tentang momentum. Tentang waktu yang tersia-siakan, dan tak akan pernah kembali lagi. Adalah seorang pemuda yang hatinya patah sebab tidak jadi menikah dengan kekasihnya. Kegagalan itu disebabkan karena si pemuda tidak bisa memanfaatkan momentum dengan baik. Ketika waktu telah lewat sedetik, maka sedetik sebelumnya telah menjadi masalalu yang tak bisa disinggahi lagi.

6) Suara Penyair (Khalil Gibran)

Gibran di Indonesia begitu ramai diperbincangkan dan diapresiasi. Beberapa grup band lokal tak segan untuk mengadopsi dan mengadaptasi syair-syairnya ke dalam lirik lagu. Lebih dari itu, bahkan ada yang mengutipnya secara langsung dan terang-terangan. Penyair kelahiran Lebanon ini memang begitu memesona. Cinta ditakar dalam diksi-diksi dan kisah yang menggetarkan. Kebijaksanaan hidup dihamparkan dalam syair-syair yang memukau. Di Indonesia, Gibran adalah salah satu penyair asing yang karya-karyanya begitu terkenal, dan mungkin yang paling populer.   


7) Tuan Tanah Kawin Muda (LEKRA)

Lembaga kebudayaan yang diisi oleh para seniman organik ini, sekurangnya dalam satu dekade kejayaannya telah menggoreskan riwayat penting dalam sejarah Indonesia. Lekra bekerja dan menggarap ladang-ladang kebudayaan yang mata airnya digali dari kehidupan rakyat sehari-hari, dari mulai seni rupa, tari, drama, lundruk, puisi, dll. “Tuan Tanah Kawin Muda” merupakan kumpulan catatan yang menjelaskan hubungan Lekra dengan seni rupa.   



8) Perang, Cinta, dan Revolusi (Anton Kurnia-ed)

Perang selamanya menyajikan kekerasan dan penderitaan. Kumpulan cerita pendek dalam buku ini menghamparkan kengerian kisah perang dari berbagai sudut pandang. Manusia yang hadir di pusarannya tak bisa menghindar, namun selalu diberi insight sebagai mata pisau. Kiranya sehimpunan kisah yang terbuhul dalam buku ini semacam catatan kontemplasi. Perenungan dari dari riwayat perang yang berparade di sepanjang titian zaman. Sebuah antologi yang hadir untuk melihat masa lalu, namun ditujukan agar  masa kini tidak segelap waktu ke belakang.    


9) Anak Tanah Air (Ajip Rosidi)

Ajip kerap menulis cerita pendek dan novel yang disandarkan pada kisah hidupnya sendiri, “Anak Tanah Air” pun demikian. Jika kita membaca “Hidup Tanpa Ijazah”, memoarnya yang diterbitkan pada ulang tahun dia yang ke-70, maka kisah yang diceritakan di novel ini persis seperti yang dituturkan pada buku memoar, hanya saja tokoh-tokoh yang hadir diberi nama lain. Dalam berbahasa, Ajip pun tak hendak membagus-baguskan dengan bunga-bunga, ia begitu datar. Novel ini sendiri membicarakan para seniman di pusaran politik Indonesia, yang akhirnya membuat mereka terkutub-kutub.


10) Baruang ka nu Ngarora (Daeng Kanduruan Ardiwinata)

Buku ini menceritakan tentang perbedaan kelas sosial yang berimbas kepada perlakuan yang merugikan kepada pihak lain. Ujang Kusen, Nyi Rapiah, dan Aom Usman adalah tokoh-tokoh yang dibangun oleh Ardiwinata untuk menjelentrehkan persoalan ini. Periode ketika menak dan rakyat jelata jaraknya begitu jomplang, Ardiwinata—yang punya darah Makassar, menuliskannya dalam cerita yang begitu menohok. Buku yang terbit pertama kali pada masa Balai Pustaka ini, menambah daftar kisah tentang pertentangan kelas, sesuatu yang selama ini dikenal berasal dari tanah Minang, cerita “Siti Nurbaya” misalnya. “Baruang ka nu Ngarora” kiranya pengecualian, kisah dari tanah Sunda yang menyoroti ketimpangan kelas. [ ]