Showing posts with label Sinar Pasundan. Show all posts
Showing posts with label Sinar Pasundan. Show all posts

15 May 2017

Utuy T. Sontani: Kisah Cinta yang Tak Kunjung Kering


“Nama dan bukunya yang di waktu-waktu yang lalu berkumandang ke seluruh penjuru Indonesia hampir-hampir dilupakan dan menjadi kenang-kenangan belaka. Hanya kadang-kadang dramanya terdengar dimainkan dengan minta nama Utuy T. Sontani muncul di alam pikiran sebagai raksasa dramaturg yang terbesar di masanya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam buku Menggelinding 1.

Utuy Tatang Sontani lahir di Cianjur pada 1 Mei 1920. Sebelum menjadi eksil dan meninggal di Moskow dan dilupakan orang, ia adalah penulis drama terkemuka di Indonesia. Karya-karyanya—bahkan sampai sekarang—kerap dipentaskan di berbagai panggung.

Utuy banyak menimba daya kreatif dari mata air kegagalan percintaannya. Dengan menyampaikan informasi itu, tulisan ini tak bermaksud mengerdilkan Utuy, melainkan justru memandangnya sebagai manusia dengan segenap kerumitan pengalamannya, manusia yang lengkap, bukan sekadar “pengarang penting yang tersia-sia.” Siapa, memangnya, yang tak pernah remuk redam karena asmara?

Dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang, Utuy bercerita bahwa ia adalah anak seorang saudagar batik di Cianjur. Kakaknya sempat belajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar serta hanya menampung anak-anak ningrat dan kaum kaya. Tetapi si kakak keburu mati dimakan wabah pes sebelum menyelesaikan sekolah.

Utuy sendiri mulanya disekolahkan di sekolah Desa karena situasi keuangan keluarganya memburuk. Kemudian, setelah bisnis ayahnya mulai pulih, ia dipindahkan ke sekolah Schakel atau sekolah perantara antara sekolah dasar Ongko Loro (Kelas Dua) dan sekolah menengah Middelbare Universile Laager Onderwijs (MULO). Di sekolah itu ada pelajaran bahasa Belanda. Namun, pada tahun keduanya di sekolah itu, Utuy minggat.

“Soalnya sederhana. Karena aku kurang baik menghafal, aku disetrap, disuruh berdiri di depan kelas. Dan karena aku merasa dibikin malu, keesokannya aku pun tidak masuk sekolah. Dan karena aku tidak masuk sekolah, maka ketika aku datang lagi ke sekolah, aku disetrap lagi—kali ini oleh Belanda kepala sekolah, dengan dikatakan pula kepada murid-murid lainnya, ‘Ni dia, contoh anak Inlander!’”

Sekali waktu, ketika Utuy bersekolah di Taman Siswa, ia bertetangga dengan keluarga ningrat pensiunan amtenar pegadaian. Keluarga itu mempunyai seorang anak angkat perempuan. Hati Utuy panas. Meski sama-sama berusia 15 tahun, gadis itu telah duduk di kelas enam—sementara ia kelas lima—dan gadis itu pandai berbahasa Belanda karena bersekolah di HIS.

Entah kepalanya terbentur apa, Utuy kemudian mendapat gagasan supaya si gadis balik mengagumi dia: menulis. Ia mengirimkan puisi dan cerita pendek ke koran Sinar Pasundan. Utuy menggunakan nama pena Sontani, yang diambil dari karakter novel berjudul Pelarian dari Digoel, karya yang tidak diketahui siapa pengarangnya, tampaknya seorang Digoelis. Novel tersebut diperkenalkan kepadanya oleh Wiranta, seorang Digoelis yang menulis Boeron dari Digoel, yang juga adalah paman si gadis yang disukai Utuy (C.W. Watson, Of Self and Injustice: Autobiography and Repression in Modern Indonesia, hal. 90).

Naskah yang ia kirimkan ke Sinar Pasundan ternyata disambut baik oleh redaktur dan ditayangkan. Berkat itulah pihak sekolah memberi Utuy kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Taman Dewasa di Bandung tanpa ujian. Ia pindah bersama keluarganya karena ayahnya juga hendak membuka restoran di Bandung. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: baru sekolah empat bulan di Bandung, Utuy harus kembali ke Cianjur karena bisnis ayahnya rontok. Tak lama setelah itu, kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan ia dan ibunya dalam rumah yang kosong tanpa perabotan dan gelap tanpa aliran listrik.

Ibunya kemudian memutuskan untuk menggadaikan rumah tersebut, lalu mereka kembali ke Bandung. Dua tahun di kota itu, Utuy mendengar kabar bahwa gadis tetangga yang ia sukai menikah dengan seorang pegawai pegadaian.

“Berita itu cukup membikin aku jadi terhuyung-huyung beberapa hari lamanya,” tulis Utuy. Namun, pada tahun yang sama, ia berhasil menulis dua karya: Mahala Bapa (Membinasakan Bapak) dan Tambera, keduanya dalam bahasa Sunda.

Di Bandung, Utuy dititipkan di rumah seorang janda tua—tukang jahit yang pernah menjadi pembantu ayahnya sewaktu masih berjualan batik. Utuy tidur dan menulis di tempat yang sama, yaitu di atas selembar tikar yang dibentangkannya di balik pintu. Suatu hari, ketika ia menulis, seorang perempuan muda dengan wajah dan perawakan Indo-Eropa berkunjung.

Perempuan itu kerabat si janda tukang jahit. Nama panggilannya Onih, dari Nonih, sebutan yang lazim untuk anak-anak perempuan Indo. Bapak Onih memang orang Belanda, seorang penguasa perkebunan, sedangkan ibunya gundik. Setelah jumpa berkali-kali, Onih dan Utuy saling menyukai.

Sekali waktu Utuy hendak pergi ke tempat tinggal Onih, namun dilarang oleh induk semangnya. “Jangan! Biar dia saja yang datang ke sini,” ujarnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Namun, Utuy yang penasaran terus menerus mendesak induk semangnya agar memberitahukan alamat Onih.

“Kalau di sana ditemukan hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan Dadang bertambah menyesal lagi,” ujar perempuan itu.

Tiba di tempat tujuan, Utuy mendapati rumah panjang dengan banyak pintu. Pintu kamar tempat Onih tertutup. Saat pintu itu terbuka, seorang laki-laki keluar sambil membetulkan pecinya. Utuy menyelonong masuk dan melihat Onih yang hanya bersarung dan telanjang dada. Perempuan yang ia cintai ternyata seorang pekerja komersial.

Onih si pekerja seks komersial, atau cabol dalam bahasa Utuy, lantas menjelma jadi tokoh Titi dalam lakon karangannya Selamat Jalan Anak Kufur.

“Laki-laki gila. Setelah masuk kamar, dia tidak berbuat apa-apa selain duduk terdiam kaya tihul. Diajak tidur menggelengkan kepala. Setelah lama terdiam, tiba-tiba dia berair mata. Dan setelah ditanya apa sebabnya bukan dia menyahut, tapi jatuh terguling kaya orang sekalor. Lantas dia memeluk kaki sambil menangis. Saya jadi jengkel. Tidak tahan. Terus saya sepak, saya suruh keluar,” ujar Titi kepada germonya dalam lakon itu.

Yang menarik, istilah “kufur” dalam lakon itu tak merujuk kepada praktik prostitusi, melainkan sikap Titi yang menyimpang dari cabol pada umumnya.

“Cabol itu tidak lebih dan tidak kurang dari perempuan sewaan. Dan sekali kau jadi cabol, pendirian itu mesti kau jadikan pegangan. Lepas dari pegangan itu, kau jadi orang kufur,” bentak Si Ibu. “Ya, kufur. Orang Islam yang melanggar agama Islam disebut kufur sebagai orang Islam. Maka cabol yang tidak bertindak sebagai cabol pun kufur sebagai cabol,” kata tokoh germo kepada Titi.

Utuy menyudahi kisah tersebut dengan kepergian Titi bersama Rais, tukang becak yang kerap mengantarkan tamu ke tempat Titi. Menurut si cabol, Rais punya pendirian tegas dan karena itulah ia berminat kepadanya.

Selain menampilkan potret nyata dan umum tentang praktik pelacuran di masyarakat, lakon itu juga menghadirkan pengalaman personal Utuy. Secara tak langsung, ia menyatakan bahwa ada tarik-menarik antara laku asusila dengan kodrat manusia yang mengharapkan sebuah hubungan yang normal.

Dalam lakon Awal dan Mira, Utuy lagi-lagi menjadikan sebagian pengalamannya dengan Onih sebagai bahan. Mira, sebagaimana Onih yang dikenal Utuy sebelum pertemuan yang menghancurkan hatinya di rumah bordir, adalah seorang penjaga kedai kopi cantik, dan kecantikannya itulah yang membuat pengunjung laki-laki berdatangan. Berlatar tahun 1951, dua tahun setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Utuy menghamparkan situasi kacau di mana orang-orang tak dapat saling percaya.

“Di zaman ini, di mana ada manusia? Maksud saya manusia yang bisa dipercaya? Memang, Mira, sebagai orang tua, hidup di zaman sekarang ini, aku pun sering bertanya-tanya, apakah dunia sekarang sudah akan kiamat? Di mana-mana terjadi kekacauan, di mana-mana terjadi penggedoran, perampokan, pembunuhan, seolah-olah sudah tidak ada lagi cinta di antara sesama manusia,” ujar seorang pengunjung kedai kopi kepada Mira.

Awal adalah pemuda berbadan ringkih dan pemarah yang mencintai Mira. Situasi pascaperang membuatnya putus asa. Di kedai kopi Mira, setiap kali ada yang menyalakan radio, Awal mencak-mencak dan menyuruhnya mematikan radio tersebut.

“Apa arti golongan atas di zaman edan seperti sekarang ini? Sangka ibu perempuan yang tadi berpidato di radio itu dari golongan atas? Perempuan bicara asal berbunyi? Orang-orang semacam itulah yang mengusai masyarakat kita sekarang, orang-orang yang maunya mengatasi orang lain dengan bicara terus bicara, tak tahu jiwanya sendiri kering-dangkal, dunianya sendiri sempit. Lebih sempit dari ini: kedai-kopi!” kata Awal kepada tokoh Ibu Mira yang menyalakan radio di depannya.

Berbeda dari Titi dalam Selamat Jalan Anak Kufur, Mira tak menyambi sebagai pelacur. Namun, bukan berarti nasib mereka tak paralel. Keduanya ialah korban keadaan. Jika Titi—dan Onih dalam hidup Utuy—menjadi pelacur karena tak ada cara lain yang mereka ketahui untuk bertahan hidup, Mira cacat karena perang.

“Inilah kenyataanku. Kakiku buntung. Buntung karena peperangan. Tapi lantaran inilah Mas, lantaran ke atas aku cantik ke bawah aku cacat, selama ini aku bagimu merupakan teka-teki,” kata Mira kepada Awal.

Drama Bunga Rumah Makan berkisah tentang seorang gadis cantik bernama Ani. Ia sebatang kara dan bekerja di sebuah rumah makan.

Seperti dalam dua lakon sebelumnya, Utuy kembali menghadirkan tokoh laki-laki yang menyadarkan karakter gadis cantik. Iskandar, seorang gelandangan, mengingatkan Ani bahwa ia hanya dijadikan penarik pelanggan—dengan kata lain, dijual juga—oleh pemilik rumah makan.

“Aku memang gelandangan. Tapi bagiku lebih baik gelandangan daripada kau, diam di sini untuk jadi boneka yang mendagangkan kecantikan!” ujarnya.

Dan sebagaimana yang sudah-sudah, Ani akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dari rumah makan tersebut dan pergi bersama Iskandar.

Kisah-kisah dalam tiga lakon itu adalah artefak pengalaman Utuy yang jatuh hati kepada Onih. Ia sendirilah yang menyatakan itu dalam memoarnya.

“Apa dan siapa Onih itu, asal kau teliti memeriksanya, akan kaujumpai dia dalam berbagai karanganku. Dan sekalipun sudah berpuluh tahun lamanya aku berpisah dengan dia, nama dan kedudukannya sebagai pelacur itu masih terus meminta tempat untuk ditulis; sedang peranan wanita penjual kopi dengan suasana di sekitarnya berkali-kali pula muncul di dalam drama-dramaku. Ini tidak lain, karena haru yang kurasakan akibat perkenalan dengan dia itu bagiku tak ada habis-habisnya.”

Ada pula pantulan diri Utuy—atau, setidaknya, apa-apa yang dibayangkan Utuy tentang dirinya sendiri—dalam karakter Rais, Awal, dan Iskandar. Mereka bukan tipe laki-laki penggoda, terus terang, tetapi cenderung terpinggirkan. Pada mulanya, mereka tampak remeh namun senantiasa muncul sebagai juru selamat.

Meski kerap mengolah pengalaman pribadinya, Utuy tak berhenti sebatas itu. Ia justru menjadikannya pijakan buat mengangkat soal-soal rumit dan gawat yang disaksikannya: pelacuran, kondisi pascaperang yang menggiriskan, dan kekayaan watak manusia.

Menjelang kejatuhan Sukarno, Utuy yang sudah bergabung dengan Lekra, pergi ke Cina. Kepahitan pun datang: Utuy tak bisa kembali ke Indonesia karena pergantian rezim. Ia dianggap bagian dari PKI, sebagaimana ribuan pelajar dan mahasiswa lain yang sedang menuntut ilmu di negara-negara kiri, sehingga tak bisa kembali pulang.

Ia terpisahkan dari keluarganya, termasuk dari istrinya. Kerinduan pun menumpuk, dan menebal, dari waktu ke waktu. Salah satu yang ia lakukan untuk menawarkan kerinduan pada istrinya adalah dengan merepro foto istrinya. Saat ia wafat pada 1979, repro foto istrinya itu sudah sangat banyak, tanda bahwa Utuy merepro foto istrinya dari waktu ke waktu, terus menerus.

Lakon-lakon Utuy tak hanya menjadikannya sebagai “Raksasa dramaturg yang terbesar pada masanya”, tetapi juga memberitahu kita bahwa tak ada kehidupan yang terlepas dari situasi sosial. Dan karena itulah, kesedihan pribadi Utuy dapat menjelma jadi—meminjam kata-katanya sendiri: haru yang tak kunjung kering. (tirto.id - irf/dea)

Tayang pertamakali di tirto.id
tanggal 6 Mei 2017

26 November 2014

Mang Utuy


Dina raraga nyanghareupan watés ahir bulan Séptember jeung mimiti bulan Oktober, di mana di dinya aya hiji kajadian anu ahéng, nu pinuh ku rupa-rupa kasieun jeung katineung, kuring alakadarna baris ngabébérkeun hiji tokoh nu ngilu kageutahan, alatan kungsi milu dina orhanisasi hiji partéy nu ceunah mah geus wani-wani arék ngarebut kakawasaan tina pamaréntahan anu sah.

Tokoh ieu teu sanés deui nyaeta Utuy Tatang Sontani. Numutkeun sababaraha katerangan, anjeunna dibabarkeun di Cianjur ping 1 Mei 1920, sareng ngantunkeun di Moskwa ping 17 September 1979. Basa kajadian taun 1965 di lemahcai keur geunjleung, Utuy jeung sababaraha pangarang katut wartawan nu sanésna nuju aya di Beijing, dina raraga ngahadiran hiji acara nu diayakeun ku pamaréntah Tiongkok. Kusabab Utuy kacatet jadi anggota orhanisasi Lékra nu aya patalina jeung PKI, janten anjeunna teu tiasa mulih deui ka lemah cai dugi ka ngantunkeunna.

Sababaraha taun ka tukang, sateuacan Lékra ngilu dirarad ku pamaréntah, dumasar tina seratan Pramoedya Ananta Toer dina buku Menggelinding 1, Utuy mineng pisan katingali nuju ameng sareng putrana paduduan waé. Iwal ti eta, saur Pram, Utuy ogé mineng teu panuju sareng kahirupan jalma-jalma beunghar nu caricing di gedong nu sigrong. Saur anjeunna ka Pram, “Tempo ku anjeun, heueuh gé imah maranehna gedong sigrong, tapi can tangtu di jerona aya buku jang dibaca. Kahirupan urang sabenerna can merdéka mun kaayaanna tuluy-tuluyan kieu mah!”

Utuy sateuacan asup orhanisasi Lekra geus turun ilubiung dina widang sastera, anjeunna nulis hiji novel nu judulna Tambera. Novel ieu nyaritakeun sajarah nu lumangsung di Maluku dina abad ka-17. Carita ieu kungsi dimuat di koran Sipatahoenan jeung Sinar Pasundan.

Sawatara waktu ti harita, Utuy teras nyerat jeung nerbitkeun kumpulan carita pondok nu dipasihan judul Orang-orang Sial. Nanging nu ngajantenkeun anjeunna kasohor mah nyaeta carita-carita lakon nu di antarana nyaeta : Suling, Bunga Rumahmakan, Awal dan Mira, Sayang Ada Orang Lain, Di Langit Ada Bintang, Sang Kuriang, Selamat Jalan Anak Kufur, Si Kabayan, jeung Tak Pernah Menjadi Tua.

***

Hiji waktu, mangsa pasosore, numutkeun catetan Ajip Rosidi nu jadi baturna, Utuy dongkap ka bumi Ajip sabari nyandak pameunteu nu kiruh, anjeunna teras masihkeun kertas téléhram. Eusi éta kertas nyaéta nyuhungkeun Utuy kanggo calik jadi anggota pangurus Lékra anu baris disusun. Téléhram éta dikintunkeun ku Kongres Lékra nu munggaran nu diayakeun di Solo.

“Naon masalahna?” saur Ajip.

“Kuring bingung. Ceuk anjeun kumaha? Ditarima atawa ulah?” Utuy kalahka malik naros.

“Kunaon maké bingung?” Ajip naros deui.

Nyak derekdek baé Utuy ngadadarkeun nu jadi cukang lantaran kabingungna. Ajip ngaregepkeun pinuh daria. Saba’da réngsé ngabudalkeun nu jadi kabingungna, teras baé Ajip masihan bongbolongan ka nu jadi baturna.

“Lékra téh orhanisasi budaya PKI. Hartina paham jeung pamadéganna ngarah ka kénca. Jadi, dina hal ieu pasualan nu utamana nyaéta kumaha sikap Utuy kana komunisme? Satuju atawa henteu? Mun satuju teu paduli bisa gawé bareng atawa henteu jeung batur nu lian, anjeun kudu narima tawaran ieu. Engké sanggeus di jero orhanisasi, anjeun kudu motékar mikirkeun kumaha carana sangkan bisa nalapung jalma-jalma nu ceuk panénjo anjeun goreng gawéna.”

Teu lami Utuy naros deui, “Anjeun sorangan kumaha? Satuju teu kana komunisme?”

“Lain pasualan kuring ieu mah. Nu ditawaran jadi pangurus Lékra pan anjeun, jadi nu penting kumaha pamadegan anjeun sorangan,” saur Ajip.

Obrolan terus rada manjang antawis dua babaturan éta. Sababaraha poé ti harita dina koran diwawarkeun hasil kongres Lékra di Solo. Nami Utuy teu aya dina réngréngan pangurus anu anyar disusun. Anjeunna nolak tawaran pikeun jadi pangurus Lékra.

***

Dina bulan Désémbér taun 1958, di Bandung diayakeun Kongrés Basa Sunda nu tempatna di gedung YPK di Jalan Naripan. Nu ngahadiran diantawisna aya Ajip Rosidi ti Sumedang, aya ogé Boejoeng Saléh, Ramadhan Karta Hadimadja, Rukasah, Ismail Wiriadinata, jeung Utuy Tatang Sontani ti Jakarta.

Mangsa Utuy ningali Ajip, langsung baé anjeunna médol Ajip ka luar terus ngajak leumpang nepika Jalan Braga. Utuy tuluy ningalikeun Negeri Soviét, hiji majalah citakan ti Kedutaan Besar Soviét (harita ngaranna acan Rusia) di Jakarta, nu eusi éta majalah téh nyaéta pikeun ngenalkeun nagara Soviét ka bangsa Indonesia.

Dina eta majalah aya catetan interviu wartawan jeung Utuy. Foto nu dipajang gedé pisan. Tapi naha Utuy bet kalahkah bingung jeung muyung?

Sihoréng nu ngajadikeun anjeunna kitu téh nyaéta eusi interviu nu aya dina majalah teu sarua eujeung anu sabenerna basa anjeunna diinterviu ku wartawan ti majalah éta.

“Kuring teu nyaritakeun sababaraha hal nu ditulis dina éta majalah. Basa ditanya ku wartawan kumaha pendapat kuring ngeunaan sistim tani koléktif di Uni Soviét, ceuk kuring mun cocok jang urang Soviét nyak alus baé; jelema moal bisa digawé sorangan di gurun pasir, ” kitu pokna.

Tapi orokaya éta majalah tungtungna nulis anu sabenerna teu diomongkeun ku Utuy ka wartawan. Balukarna jadi pangbeurat ka Utuy dina nyorang lalakon ka hareupna.

“Da memang kitu carana komunisme mah!” saur Ajip mairan.

“Enya, tapi hal éta jadi pasualan. Anjeun apal sorangan, kuring kungsi diondang ka Cina jeung Soviét, anyeuna kuring baris diondang ka Amérika, jeung geus aya urang Kedutaan Amérika nu datang ka imah, malah mah kuring anyeuna keur diajar basa Inggris ka Drs. Lie Tie Gwan. Tapi ku dimuatna foto jeung interviu kuring di majalah Negeri Soviét, komo jeung kuring saolah-olah ngalus-ngalus komunisme nu sabenerna teu diomongkeung ku kuring, balukarna kuring bisa waé teu jadi indit ka Amérika!”

Ti dinya duanana teu loba carita deui, bral bae baralik deui ka gedung YPK di Jalan Naripan pikeun ngahadiran Kongrés Basa Sunda.

***

Sanajan dina sababaraha kasempetan Utuy kungsi teu nyanggupan pikeun jadi anggota Lékra, tapi tungtungna sanggeus dideukeutan ku Héndra Gunawan (babaturanna mangsa sakola di Bandung jaman saacan perang), anjeunna asup jadi anggota pangurus Lékra.

Basa di lemahcai aya kajadian Gestapu jeung loba anggota PKI katut Lékra nu dipaéhan, sakumaha nu geus diterangkeun di luhur, dina mimiti ieu tulisan; kaleresan Utuy nuju di Beijing jadi teu kaasup nu diala pati diarah nyawa, tapi balukarna Utuy teu bisa balik deui ka lemahcai pikeun salilana tug dugi ka ngantunkeunna.

Harita basa di Tiongkok aya Révolusi Kabudayaan, Utuy jeung sababaraha baturna indit ka Eropa, niatna rek tuluy ka Perancis. Tapi barang nepi ka Rusia, Utuy lirén di éta nagara. Dongkapna Utuy di Rusia matak pikabungaheun pikeun urang Rusia anu geus kungsi maca tulisan-tulisanna. Anjeunna teras janten dosen di salah sahiji Universitas di Rusia.

Nuju Ajip kaleresan aya di luar nagri, Ajip nyempetkeun ngalongok Utuy anu nuju teu damang parna. Barang Ajip dongkap ka rumah sakit, Utuy kacida atohna.

“Gering naon?”

“Teu, kuring geus cageur sabab panggih deui jeung anjeun, kuring jadi bisa deui ngawangkong make basa Sunda. Di dieu euweuh nu bisa diajak ngomong basa Sunda,” saur Utuy sabari némbongkeung kabungah.

Sababaraha taun di harita, nyaéta taun 1979; Utuy ngantunkeun sabari teu kungsi panggih heula jeung nu jadi anak pamajikanna. Kanggo ngaajénan jasa-jasana, pamaréntah Rusia ngurebkeun sareng ngadamel makam khusus kanggo umat Islam, nyaéta kanggo Utuy.

Hawar-hawar kuring inget deui kana cacariosan mang Utuy basa aya kénéh di lemahcai. Pokna, “Kuring néangan manusa, tapi nu kapanggih ngan ukur badut.” Wallo’alam, duka naon maksadna. [irf]