Showing posts with label eksil. Show all posts
Showing posts with label eksil. Show all posts

24 October 2017

Melarung Bro di Nantalu (Oleh: Martin Aleida)


Tak pernah kami perkatakan bagaimana nanti kami menjemput ajal. Kami sadar, pertanyaan itu di luar jangkauan kodrat kami untuk menjawabnya. Tetapi, niat kami sudah teguh. Kalau kami mati, kami ingin dikuburkan di daratan Nantalu, di hulu sungai ini, di mana hutan tak mengenal tepi. Kami merasa tak nyaman dengan pekuburan umum, yang membuat kami terus-menerus merasa dikejar-kejar perasaan bersalah, karena membiarkan orang tua kami menjalani istirahat penghabisan dengan ancaman banjir dan limbah rumah tangga yang amis.
Angan-angan kami adalah sebuah istirahat kubur yang damai di bawah langit biru di lingkungan hutan hujan. Betapa bahagianya kami nanti dari dalam liang lahad bisa menyaksikan air yang menderu tak habis-habisnya, berebutan jatuh meluncur membasuh tebing. Akangkah nikmatnya menyaksikan hablur air yang deras menghanyutkan jutaan kiambang buih ke Selat Malaka, meninggalkan jejak pelangi di pucuk-pucuk pohon.
Tetapi, apa mau dikata, cita-cita yang sudah berusia lebih setengah abad itu hanyut sudah. Sekarang aku berdiri seorang diri di tubir sungai ini, di Nantalu. Hati terluka, karena apa yang dulu telah bulat kami tancapkan sebagai niat tinggal angan-angan hampa belaka. Paling tidak untuk Bro, kawanku….
Dulu, ketika baru balig, tak pernah kami bayangkan bahwa kematian tidak selamanya harus berakhir di liang persegi panjang di sebidang tanah. Agama yang kami anut tidak memungkinkan khayal kami untuk berpikir tentang akhir hayat seperti itu. Yang tidak memerlukan tanah barang sejengkal pun sebagai kuburan. Dan bahwa dengan panasnya tungku krematorium, tulang dan daging seonggok jasad bisa tinggal hanya segumpal debu. Namun, justru jalan kematian yang berapi seperti itulah yang telah ditempuh Bro, setelah dia mengembara berpuluh tahun di dua daratan benua.
Sendirian aku di tepi sungai ini. Di kakiku air berkecipak berlomba ke muara. Di tanganku telentang cawan seputih gading. Di dalamnya tertumpuk jasad Bro yang hanya tinggal abu, seujung tajuk bunga kamboja banyaknya. Dari Prancis, anaknya, Suilien, memohon agar aku berkenan melarung abu ayahnya itu di sungai ini, di tumpah darahnya ini. Suilien tak bisa datang. Bukan karena tak ada waktu untuk sang ayah. Masalahnya, dia membayangkan betapa dia takkan kuasa menahan getirnya perasaan melihat mulut-mulut yang mencibir, yang ditujukan kepadanya. “Cis najis, cucu berdarah iblis….” Begitulah mungkin umpat semua mata begitu menyaksikan kedatangannya.
Suilien ingat bagaimana jasad atoknya, ayah dari ayahnya, 45 tahun lalu, dibiarkan dingin membatu, sampai-sampai cairan tubuhnya sudah merembes dari celah kuku. Lalat dan belatung mengerubung, tapi tak ada warga yang mau merapat. Tak ada yang ridho menguburkannya baik-baik, dengan doa, walau hanya selenting. Dendam yang sesat telah menjadikan orang tua itu lebih hina daripada ikan patin yang terapung membusuk. Padahal, dia yang terbujur itu bukanlah pembangkang Tuhan. Dia pernah menjadi anggota parlemen, berulang-ulang naik kapal laut untuk menunaikan ibadah haji. Tetapi, di mata mereka yang telah merampas pedang dari tangan Tuhan, jasadnya tak layak dimakamkan, karena anaknya dipercaya jadi dalang pembantaian para jenderal.

Beberapa tahun sebelum peristiwa berdarah yang menjungkirbalikkan jalannya sejarah negeri ini, Bro dan istrinya bertolak memenuhi undangan ke Tiongkok. Dia mendapat tawaran yang baik, menjadi guru Bahasa Indonesia di sana. Malang, hanya sekejap dia menikmati hidup sebagai seorang guru besar. Ajakan penyair Boejoeng Saleh melalui puisi pendeknya, “Datanglah ke Tiongkok/tengok hari esok,”hanya menemukan kenyataan seperti tuba di dasar gelas. Revolusi Kebudayaan melanda Tiongkok. Bukan cuma kaum komunis yang dicap jadi borjuis di negeri itu saja yang jadi sasaran. Juga orang-orang Indonesia yang menjadi tamu perayaan hari jadi Republik Rakyat Tiongkok. Mereka tak bisa kembali ke kampung, kecuali siap untuk ditangkap dengan tuduhan terlibat persekongkolan membantai para jenderal.

Bro dan kawan-kawannya disingkirkan dari kota. Sama dengan kaum komunis lokal, yang dituduh terjangkit penyakit borjuis dan harus dicuci otaknya, Bro juga menemukan nasib yang tak kalah buruk. Bersama kawan-kawannya, dia digiring ke pedesaan. Dia dipaksa melakukan kerja badan, bertani, sebagai hukuman untuk gaya hidup yang dicap berleha-leha ala tuan tanah selama ini. Bro yang semasa kecil di kota kami ikut mengejek dan melempari apek, yaitu Cina tua dan papa yang sedang membuang kotoran manusia ke sungai, sekarang nyahok. Dia dipaksa memungut kotoran manusia untuk disiramkan ke tanaman sebagai pupuk, semacam pembenaran terhadap petuah Ketua Mao bahwa pabrik pupuk terbesar di dunia ada di perut manusia.

Akhirnya, Bro berniat melarikan diri, dan dia menemukan jalan untuk menyingkir dari siksaan berkepanjangan. Melalui perjalanan darat beribu kilometer, yang tak pernah dia bayangkan, sampailah dia di Paris. Di kota itu dia bertemu dengan seorang kawan yang juga tak bisa pulang ke Jakarta, kecuali siap ditangkap, disiksa, dan dibunuh.

Museum yang mengagumkan, restoran-restoran dengan bangunan antik yang menggiurkan, menyaksikan Bro dan kawan-kawan yang bertubuh kecil itu, menyeret-nyeret kaki, luntang-lantung mencari jalan untuk bertahan hidup. Didorong angin musim panas, terkadang tubuh Bro yang gembor kelihatan sempoyongan seperti layang-layang putus tali teraju. Sambil berjalan, hernianya kerap kumat. Untung di Paris. Orang-orang di sini takkan melirik pisak celananya yang menjendol sebesar kelapa. Di kota kami, penyakit itu akan menjadi olok-olok. Akan ada orang yang iseng, membeli jeruk purut, dibubuhi garam, diperas, dan ditiupkan jampi dari kejauhan, bikin kantong buah pelir membengkak, gatal tak karuan.

Pada sebuah daun pintu, di sebelah gereja tua, harap-harap cemas dua sahabat sepenanggungan itu mengetuk dengan kepala merunduk. Bolak-balik beberapa kali bertemu dengan pengurus perkumpulan yang berkantor di sebelah gereja itu, akhirnya mereka memperoleh pinjaman untuk mendirikan restoran masakan Indonesia. Turis rupa-rupa bangsa, yang mencari-cari makanan eksotis, menemukan yang mereka buru di situ. Mereka yang dikejar-kejar pemerintah Indonesia menjadikan restoran yang taplak mejanya berwarna merah itu sebagai pusat temu kangen. Buat pejabat dari Jakarta, kecuali seniman, yang mampir di Paris, restoran tersebut adalah tujuan yang harus dihindari. Seperti ada wabah lepra di situ.

Restoran bertaplak merah itu menarik perhatian Jio, teman Bro ketika masih di Jakarta. Jio yang tak tahan menanggung siksa membelot menjadi interogator terhadap para tahanan politik yang adalah kawan-kawannya sendiri. Dia pelukis, dan dialah yang memberikan ilham jahat kepada penguasa militer, bahwa di pedestal, di atas tempat patung Dirgantara akan ditempatkan, yang lancip berdiri diperempatan Pancoran, Jakarta, adalah patung pencungkil mata. Untuk membangkitkan amarah masyarakat terhadap pembunuhan jenderal, koran-koran yang berada di bawah kontrol militer, yang bernafsu untuk menjatuhkan Soekarno dengan membantai para pendukungnya, melansir berita bahwa para jenderal, setelah dibunuh, dimutilasi dalam seribu potong. Dicungkil matanya. Patung pencungkil mata itu buktinya.

Sebelum meninggal karena dibunuh kencing manis, Jio berniat memata-matai restoran bertaplak merah itu. Tak sulit buatnya. Kekuasaan dekat ketiaknya. Duit, apalagi. Dia pun terbang ke Paris. Bro kaget ketika melihat Jio sudah berdiri di depan hidungnya. Nama Jio dan seluruh kelakuannya sudah lama jadi bahan cemooh di kalangan mereka yang terdampar di Eropa. “Apakah sudah sejauh ini tugas yang diterima kawan ini…?” tanya Bro di dalam hati.

Tenang, dengan keramahan setengah hati, dia melayani tamu istimewanya hari itu. Yang tidak bisa dia patuhi adalah ketika Jio ingin menginap di apartemennya. “Apakah sebagai interogator dan intel, tugasnya termasuk memenggal kepalaku selagi tidur?” teriak Bro di dalam hati.

“Ingat kau,” tiba-tiba dia berbicara dalam nada tinggi, tak tahan membendung amarah. “Ini bukan Kota Paris, sarang lonte di Senen, Jakarta. Ini Paris, ibu kota negara di mana hukum jadi ukuran peradaban. Ini bukan negaramu, negara hukuman…!” Sebagai warga negara Prancis, Bro tentu tak bisa disentuh seorang pendurhaka semacam Jio.

Bro adalah sebuah perjalanan hidup yang tidak biasa, yang tiada tara. Bertahun menetap di Beijing. Dihinakan Revolusi Kebudayaan. Kehilangan istri di sini. Melompati Tembok Besar, melarikan diri ke Eropa. Berpuluh tahun hidup bukan dari buku, tetapi dari ulekan sambal di dapur.

Semasa anak-anak, kami sepengajian. Kuingat benar, tiga kali kami tamat membaca Alquran. Tiga kali pula diupah-upah berbarengan. Tapi, ah…. Lututku lemas. Empat tahun sebelum Bro jatuh terduduk dan tak bangun-bangun lagi di restoran bertaplak merah itu, agama yang sama-sama kami yakini ternyata dia tinggalkan. Ke mana pun pergi, sebentuk salib perak menggantung pas di tentang jantungnya. Apakah perjalanan hidup yang kelabu, yang dia tempuh berpuluh tahun, sama menyiksanya dengan yang dialami kawan-kawannya di tahanan dan di pulau pembuangan Indonesia, di mana para penceramah agama dan Pancasila menyumpahi mereka sebagai komunis, biang kufur?! Membuat iman si pesakitan guncang?!

“Seberat apa pun cobaan, pantang kami menyerahkan iman.” Itu kata penyair Aceh, sahabat Bro, begitu mendengar kabar terakhir tentang dirinya. Pengusung salib sejati Bro juga tidak. Dia bersahabat dengan seorang pendeta Buddha yang sama-sama ditindas komunis radikal di Tiongkok tempo hari. Cahaya persahabatan itulah yang di kemudian hari mengilhami Bro dalam mengatasi kemusykilan ketika akan menuliskan wasiat kepada anaknya, dengan jalan bagaimana dia akan kembali kepada pencipta-Nya. Sebab, dia ingin jasadnya yang sudah ditinggalkan rohnya—ibarat rumah yang sudah kosong—tidak hanya berada di Paris, tetapi juga ada di Amsterdam, Beijing, Berlin, dan Nantalu. Bro memilih jalan kematian seorang Buddhis: kremasi.

Bro telah menulis beberapa buku kenang-kenangannya semasa dia masih berada di Indonesia. Dalam bayanganku, Bro tentulah akan menulis sebuah buku dengan kisah yang merenggut perhatian, juga simpati, apabila dia menceritakan perjalanan hidupnya di daratan jauh. Dan menumpahkan pengakuan bagaimana kepercayaan, juga iman, telah menjadi permainan yang lapuk dalam sebuah perjalanan hidup yang buruk dan tak pernah dia mimpikan.

Di Nantalu, ya, di Nantalu, nama yang bermakna “yang kalah,” air terus berpendar berkecipak menciumi tebing. Tinggi-tinggi kuangkat cawan berisi sejumput abu Bro. “Tuhan, siapa pun Kau, terimalah kawanku ini. Dia orang baik-baik, sebagaimana yang telah kau tentukan bagi jalan hidupnya.” Lututku ngilu. Aku membungkuk dalam-dalam, membenamkan cawan perlahan ke pusaran air. Bro lenyap dalam sekejap. Aku percaya, kawanku itu sedang berenang-renang ke surga… [ ]

Tayang di Jawa Pos edisi 12 Desember 2010

15 May 2017

Utuy T. Sontani: Kisah Cinta yang Tak Kunjung Kering


“Nama dan bukunya yang di waktu-waktu yang lalu berkumandang ke seluruh penjuru Indonesia hampir-hampir dilupakan dan menjadi kenang-kenangan belaka. Hanya kadang-kadang dramanya terdengar dimainkan dengan minta nama Utuy T. Sontani muncul di alam pikiran sebagai raksasa dramaturg yang terbesar di masanya,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam buku Menggelinding 1.

Utuy Tatang Sontani lahir di Cianjur pada 1 Mei 1920. Sebelum menjadi eksil dan meninggal di Moskow dan dilupakan orang, ia adalah penulis drama terkemuka di Indonesia. Karya-karyanya—bahkan sampai sekarang—kerap dipentaskan di berbagai panggung.

Utuy banyak menimba daya kreatif dari mata air kegagalan percintaannya. Dengan menyampaikan informasi itu, tulisan ini tak bermaksud mengerdilkan Utuy, melainkan justru memandangnya sebagai manusia dengan segenap kerumitan pengalamannya, manusia yang lengkap, bukan sekadar “pengarang penting yang tersia-sia.” Siapa, memangnya, yang tak pernah remuk redam karena asmara?

Dalam memoarnya Di Bawah Langit Tak Berbintang, Utuy bercerita bahwa ia adalah anak seorang saudagar batik di Cianjur. Kakaknya sempat belajar di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah yang memakai bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar serta hanya menampung anak-anak ningrat dan kaum kaya. Tetapi si kakak keburu mati dimakan wabah pes sebelum menyelesaikan sekolah.

Utuy sendiri mulanya disekolahkan di sekolah Desa karena situasi keuangan keluarganya memburuk. Kemudian, setelah bisnis ayahnya mulai pulih, ia dipindahkan ke sekolah Schakel atau sekolah perantara antara sekolah dasar Ongko Loro (Kelas Dua) dan sekolah menengah Middelbare Universile Laager Onderwijs (MULO). Di sekolah itu ada pelajaran bahasa Belanda. Namun, pada tahun keduanya di sekolah itu, Utuy minggat.

“Soalnya sederhana. Karena aku kurang baik menghafal, aku disetrap, disuruh berdiri di depan kelas. Dan karena aku merasa dibikin malu, keesokannya aku pun tidak masuk sekolah. Dan karena aku tidak masuk sekolah, maka ketika aku datang lagi ke sekolah, aku disetrap lagi—kali ini oleh Belanda kepala sekolah, dengan dikatakan pula kepada murid-murid lainnya, ‘Ni dia, contoh anak Inlander!’”

Sekali waktu, ketika Utuy bersekolah di Taman Siswa, ia bertetangga dengan keluarga ningrat pensiunan amtenar pegadaian. Keluarga itu mempunyai seorang anak angkat perempuan. Hati Utuy panas. Meski sama-sama berusia 15 tahun, gadis itu telah duduk di kelas enam—sementara ia kelas lima—dan gadis itu pandai berbahasa Belanda karena bersekolah di HIS.

Entah kepalanya terbentur apa, Utuy kemudian mendapat gagasan supaya si gadis balik mengagumi dia: menulis. Ia mengirimkan puisi dan cerita pendek ke koran Sinar Pasundan. Utuy menggunakan nama pena Sontani, yang diambil dari karakter novel berjudul Pelarian dari Digoel, karya yang tidak diketahui siapa pengarangnya, tampaknya seorang Digoelis. Novel tersebut diperkenalkan kepadanya oleh Wiranta, seorang Digoelis yang menulis Boeron dari Digoel, yang juga adalah paman si gadis yang disukai Utuy (C.W. Watson, Of Self and Injustice: Autobiography and Repression in Modern Indonesia, hal. 90).

Naskah yang ia kirimkan ke Sinar Pasundan ternyata disambut baik oleh redaktur dan ditayangkan. Berkat itulah pihak sekolah memberi Utuy kesempatan untuk melanjutkan sekolah ke Taman Dewasa di Bandung tanpa ujian. Ia pindah bersama keluarganya karena ayahnya juga hendak membuka restoran di Bandung. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak: baru sekolah empat bulan di Bandung, Utuy harus kembali ke Cianjur karena bisnis ayahnya rontok. Tak lama setelah itu, kedua orangtuanya bercerai. Ayahnya pergi entah ke mana, meninggalkan ia dan ibunya dalam rumah yang kosong tanpa perabotan dan gelap tanpa aliran listrik.

Ibunya kemudian memutuskan untuk menggadaikan rumah tersebut, lalu mereka kembali ke Bandung. Dua tahun di kota itu, Utuy mendengar kabar bahwa gadis tetangga yang ia sukai menikah dengan seorang pegawai pegadaian.

“Berita itu cukup membikin aku jadi terhuyung-huyung beberapa hari lamanya,” tulis Utuy. Namun, pada tahun yang sama, ia berhasil menulis dua karya: Mahala Bapa (Membinasakan Bapak) dan Tambera, keduanya dalam bahasa Sunda.

Di Bandung, Utuy dititipkan di rumah seorang janda tua—tukang jahit yang pernah menjadi pembantu ayahnya sewaktu masih berjualan batik. Utuy tidur dan menulis di tempat yang sama, yaitu di atas selembar tikar yang dibentangkannya di balik pintu. Suatu hari, ketika ia menulis, seorang perempuan muda dengan wajah dan perawakan Indo-Eropa berkunjung.

Perempuan itu kerabat si janda tukang jahit. Nama panggilannya Onih, dari Nonih, sebutan yang lazim untuk anak-anak perempuan Indo. Bapak Onih memang orang Belanda, seorang penguasa perkebunan, sedangkan ibunya gundik. Setelah jumpa berkali-kali, Onih dan Utuy saling menyukai.

Sekali waktu Utuy hendak pergi ke tempat tinggal Onih, namun dilarang oleh induk semangnya. “Jangan! Biar dia saja yang datang ke sini,” ujarnya. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.

Namun, Utuy yang penasaran terus menerus mendesak induk semangnya agar memberitahukan alamat Onih.

“Kalau di sana ditemukan hal-hal yang tidak menyenangkan, jangan Dadang bertambah menyesal lagi,” ujar perempuan itu.

Tiba di tempat tujuan, Utuy mendapati rumah panjang dengan banyak pintu. Pintu kamar tempat Onih tertutup. Saat pintu itu terbuka, seorang laki-laki keluar sambil membetulkan pecinya. Utuy menyelonong masuk dan melihat Onih yang hanya bersarung dan telanjang dada. Perempuan yang ia cintai ternyata seorang pekerja komersial.

Onih si pekerja seks komersial, atau cabol dalam bahasa Utuy, lantas menjelma jadi tokoh Titi dalam lakon karangannya Selamat Jalan Anak Kufur.

“Laki-laki gila. Setelah masuk kamar, dia tidak berbuat apa-apa selain duduk terdiam kaya tihul. Diajak tidur menggelengkan kepala. Setelah lama terdiam, tiba-tiba dia berair mata. Dan setelah ditanya apa sebabnya bukan dia menyahut, tapi jatuh terguling kaya orang sekalor. Lantas dia memeluk kaki sambil menangis. Saya jadi jengkel. Tidak tahan. Terus saya sepak, saya suruh keluar,” ujar Titi kepada germonya dalam lakon itu.

Yang menarik, istilah “kufur” dalam lakon itu tak merujuk kepada praktik prostitusi, melainkan sikap Titi yang menyimpang dari cabol pada umumnya.

“Cabol itu tidak lebih dan tidak kurang dari perempuan sewaan. Dan sekali kau jadi cabol, pendirian itu mesti kau jadikan pegangan. Lepas dari pegangan itu, kau jadi orang kufur,” bentak Si Ibu. “Ya, kufur. Orang Islam yang melanggar agama Islam disebut kufur sebagai orang Islam. Maka cabol yang tidak bertindak sebagai cabol pun kufur sebagai cabol,” kata tokoh germo kepada Titi.

Utuy menyudahi kisah tersebut dengan kepergian Titi bersama Rais, tukang becak yang kerap mengantarkan tamu ke tempat Titi. Menurut si cabol, Rais punya pendirian tegas dan karena itulah ia berminat kepadanya.

Selain menampilkan potret nyata dan umum tentang praktik pelacuran di masyarakat, lakon itu juga menghadirkan pengalaman personal Utuy. Secara tak langsung, ia menyatakan bahwa ada tarik-menarik antara laku asusila dengan kodrat manusia yang mengharapkan sebuah hubungan yang normal.

Dalam lakon Awal dan Mira, Utuy lagi-lagi menjadikan sebagian pengalamannya dengan Onih sebagai bahan. Mira, sebagaimana Onih yang dikenal Utuy sebelum pertemuan yang menghancurkan hatinya di rumah bordir, adalah seorang penjaga kedai kopi cantik, dan kecantikannya itulah yang membuat pengunjung laki-laki berdatangan. Berlatar tahun 1951, dua tahun setelah Belanda mengakui kedaulatan Republik Indonesia, Utuy menghamparkan situasi kacau di mana orang-orang tak dapat saling percaya.

“Di zaman ini, di mana ada manusia? Maksud saya manusia yang bisa dipercaya? Memang, Mira, sebagai orang tua, hidup di zaman sekarang ini, aku pun sering bertanya-tanya, apakah dunia sekarang sudah akan kiamat? Di mana-mana terjadi kekacauan, di mana-mana terjadi penggedoran, perampokan, pembunuhan, seolah-olah sudah tidak ada lagi cinta di antara sesama manusia,” ujar seorang pengunjung kedai kopi kepada Mira.

Awal adalah pemuda berbadan ringkih dan pemarah yang mencintai Mira. Situasi pascaperang membuatnya putus asa. Di kedai kopi Mira, setiap kali ada yang menyalakan radio, Awal mencak-mencak dan menyuruhnya mematikan radio tersebut.

“Apa arti golongan atas di zaman edan seperti sekarang ini? Sangka ibu perempuan yang tadi berpidato di radio itu dari golongan atas? Perempuan bicara asal berbunyi? Orang-orang semacam itulah yang mengusai masyarakat kita sekarang, orang-orang yang maunya mengatasi orang lain dengan bicara terus bicara, tak tahu jiwanya sendiri kering-dangkal, dunianya sendiri sempit. Lebih sempit dari ini: kedai-kopi!” kata Awal kepada tokoh Ibu Mira yang menyalakan radio di depannya.

Berbeda dari Titi dalam Selamat Jalan Anak Kufur, Mira tak menyambi sebagai pelacur. Namun, bukan berarti nasib mereka tak paralel. Keduanya ialah korban keadaan. Jika Titi—dan Onih dalam hidup Utuy—menjadi pelacur karena tak ada cara lain yang mereka ketahui untuk bertahan hidup, Mira cacat karena perang.

“Inilah kenyataanku. Kakiku buntung. Buntung karena peperangan. Tapi lantaran inilah Mas, lantaran ke atas aku cantik ke bawah aku cacat, selama ini aku bagimu merupakan teka-teki,” kata Mira kepada Awal.

Drama Bunga Rumah Makan berkisah tentang seorang gadis cantik bernama Ani. Ia sebatang kara dan bekerja di sebuah rumah makan.

Seperti dalam dua lakon sebelumnya, Utuy kembali menghadirkan tokoh laki-laki yang menyadarkan karakter gadis cantik. Iskandar, seorang gelandangan, mengingatkan Ani bahwa ia hanya dijadikan penarik pelanggan—dengan kata lain, dijual juga—oleh pemilik rumah makan.

“Aku memang gelandangan. Tapi bagiku lebih baik gelandangan daripada kau, diam di sini untuk jadi boneka yang mendagangkan kecantikan!” ujarnya.

Dan sebagaimana yang sudah-sudah, Ani akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja dari rumah makan tersebut dan pergi bersama Iskandar.

Kisah-kisah dalam tiga lakon itu adalah artefak pengalaman Utuy yang jatuh hati kepada Onih. Ia sendirilah yang menyatakan itu dalam memoarnya.

“Apa dan siapa Onih itu, asal kau teliti memeriksanya, akan kaujumpai dia dalam berbagai karanganku. Dan sekalipun sudah berpuluh tahun lamanya aku berpisah dengan dia, nama dan kedudukannya sebagai pelacur itu masih terus meminta tempat untuk ditulis; sedang peranan wanita penjual kopi dengan suasana di sekitarnya berkali-kali pula muncul di dalam drama-dramaku. Ini tidak lain, karena haru yang kurasakan akibat perkenalan dengan dia itu bagiku tak ada habis-habisnya.”

Ada pula pantulan diri Utuy—atau, setidaknya, apa-apa yang dibayangkan Utuy tentang dirinya sendiri—dalam karakter Rais, Awal, dan Iskandar. Mereka bukan tipe laki-laki penggoda, terus terang, tetapi cenderung terpinggirkan. Pada mulanya, mereka tampak remeh namun senantiasa muncul sebagai juru selamat.

Meski kerap mengolah pengalaman pribadinya, Utuy tak berhenti sebatas itu. Ia justru menjadikannya pijakan buat mengangkat soal-soal rumit dan gawat yang disaksikannya: pelacuran, kondisi pascaperang yang menggiriskan, dan kekayaan watak manusia.

Menjelang kejatuhan Sukarno, Utuy yang sudah bergabung dengan Lekra, pergi ke Cina. Kepahitan pun datang: Utuy tak bisa kembali ke Indonesia karena pergantian rezim. Ia dianggap bagian dari PKI, sebagaimana ribuan pelajar dan mahasiswa lain yang sedang menuntut ilmu di negara-negara kiri, sehingga tak bisa kembali pulang.

Ia terpisahkan dari keluarganya, termasuk dari istrinya. Kerinduan pun menumpuk, dan menebal, dari waktu ke waktu. Salah satu yang ia lakukan untuk menawarkan kerinduan pada istrinya adalah dengan merepro foto istrinya. Saat ia wafat pada 1979, repro foto istrinya itu sudah sangat banyak, tanda bahwa Utuy merepro foto istrinya dari waktu ke waktu, terus menerus.

Lakon-lakon Utuy tak hanya menjadikannya sebagai “Raksasa dramaturg yang terbesar pada masanya”, tetapi juga memberitahu kita bahwa tak ada kehidupan yang terlepas dari situasi sosial. Dan karena itulah, kesedihan pribadi Utuy dapat menjelma jadi—meminjam kata-katanya sendiri: haru yang tak kunjung kering. (tirto.id - irf/dea)

Tayang pertamakali di tirto.id
tanggal 6 Mei 2017