Showing posts with label Taufik Ismail. Show all posts
Showing posts with label Taufik Ismail. Show all posts

02 November 2019

Saat Buya HAMKA Didakwa Melakukan Plagiat



Situasi Politik Indonesia tahun 1960-an membuat polarisasi tajam di masyarakat. Di lapangan sastra, terjadi kegaduhan karena Hamka didakwa plagiat.

Malang nian nasib Zainuddin dan Hayati. Cinta mereka dirintangi adat. Bertahun-tahun kemudian, saat ada kesempatan untuk bersatu dalam ikatan rumahtangga, nasib buru-buru menenggelamkan Hayati lewat tragedi kapal Van der Wijck yang karam di perairan Lamongan. Kisah ini berhasil membuat ribuan bahkan jutaan pembaca menumpahkan air mata.

Roman Tenggelamnya Kapal Van der Wijck karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka) pertama kali terbit tahun 1938. Kisah ini awalnya adalah cerita bersambung di majalah Pedoman Masjarakat pimpinan Hamka, yang kemudian diterbitkan sebagai buku oleh penerbit M. Sjarkawi, Medan.

Buku ini laris manis di pasaran. Pada cetakan keempat, seperti dikutip Asep Sambodja dalam Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (2010), Hamka mengakui hal tersebut. “Belum berapa lama tersiar, dia pun habis," tulisnya (hlm. 159).

Tahun 1962, roman ini menyulut keriuhan di lapangan sastra Indonesia. Tak tanggung-tanggung, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck didakwa plagiat, menjiplak Sous les Tilleuls karya pengarang Perancis Jean-Baptiste Alphonse Karr. Hamka diduga mengambilnya dari saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, Majdulin atau Magdalena (Di Bawah Naungan Pohon Tilia).

Harian Bintang Timur lewat lembaran “Lentera” yang dinakhodai Pramoedya Ananta Toer, menabuh gendang perang terbuka dengan mengobarkan kasus ini.

Muhidin M. Dahlan membongkar tumpukan koran Bintang Timur yang merekam kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck tersebut, dan menerbitkannya dengan tajuk Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 (2011).

Pada 7 September 1962, Abdullah Said Patmadji (Abdullah SP) menulis di lembar “Lentera” Bintang Timur: “Sekali Lagi Membaca Buah Tangan Hamka: Benarkah Dia Manfaluthi Indonesia?”

Dalam tulisannya, seperti dikutip Muhidin, Abdullah SP mula-mula menceritakan pengalamannya membaca Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang berhasil menumpahkan air matanya. Ia amat terkesan.

“Karya Hamka itu (cetakan pertama, th 1938), entah, sudah tujuh kali kubaca, kutelentang-telengkupkan, kutelentang-bukakan lagi, kubaca lagi, tak jemu-jemunya laksana surat Al-Fatihah. Begitu asik aku dipukau Hamka. Ia telah mengetuk gerbang hatiku, hati insani. Pernah aku membaca semalam suntuk, pernah pula pada suatu hari—sesudah membacanya, menangis sendirian di sudut sunyi…,” tulisnya.

Sukacita Abdullah SP buyar manakala mengetahui bahwa karya Hamka tersebut mirip dengan film Dumu el Hub (Airmata Cinta) yang diadaptasi dari karya Al-Manfaluthi, Majdulin atau Magdalena (Di Bawah Naungan Pohon Tilia). Abdullah SP yakin bahwa Hamka menjiplak mentah-mentah karya Al-Manfaluthi.

“… Temanya, isinya, napasnya, cuma tempat kejadian dan tokoh-tokohnya yang disulap, dengan menggunakan warna setempat …,” tambahnya.

Seminggu kemudian, Abdullah menulis lagi di media yang sama: “Aktor Tunggal dalam Bohong di Dunia”. Ia mencoba membandingkan beberapa paragraf antara Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dengan Magdalena untuk membuktikan keyakinannya bahwa Hamka plagiat.

Bohong di Dunia adalah salah satu buku Hamka yang terbit pertama kali pada tahun 1949. Judul buku tersebut sengaja ia gunakan dalam tajuk tulisan Abdullah. Tujuannya tentu untuk menyindir Hamka.

Dalam esai tersebut, ada dua hal yang menurut Abdullah memiliki kesamaan: Pertama, Hamka dan Alphonse Karr/Al-Manfaluthi menggunakan hubungan antarmanusia melalui surat persahabatan sebagai titik tolak. Kedua, jika Alphonse Karr/Al-Manfaluthi menggunakan surat-surat Magdalena kepada Suzanne, maka Hamka menggunakan surat-surat Hayati kepada Chadijah.

Setelah beberapa minggu tidak ada bahasan tentang kasus ini, Abdullah menulis lagi pada 5 Oktober 1962 dan tidak mengendurkan serangan sedikit pun. Tulisannya yang ketiga bahkan makin keras: “Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” demikian judul tulisannya.

Dua hari kemudian, 7 Oktober 1962, Bintang Timur di lembaran “Lentera” menghadirkan lagi tulisan Abdullah yang kali ini esainya dilengkapi dengan “idea-script” dan “idea-strip”, membandingkan dua cerita itu dengan detail dalam beberapa bagian.

“Secara kronologis pemuatan, dilihat dari judul-judul resensi-esai Abdullah SP, tampak bahwa Pram merancang polemik ini dengan metode ‘masak air’. Mula-mula dipasang resensi-esai perkenalan masalah, lalu dinaikkan tensinya menjadi hangat untuk meminta perhatian publik dengan menampilkan perbandingan alakadarnya, yakni surat-surat. Setelah itu barulah kemudian titik didihnya dipolkan,” tulis Muhidin (hlm. 39).


Tanggapan Pembaca dan Sikap Hamka

Untuk menampung respons pembaca yang ternyata mayoritas kecewa dengan kasus ini, Bintang Timur menyediakan rubrik “Varia Hamka”. Rubrik tersebut menambah ruang untuk pembaca selain rubrik “Saran & Sasaran” yang sudah ada sejak “Lentera” hadir di Bintang Timur. Pembaca menyayangkan sikap Hamka yang bungkam, sejalan dengan seruan Abdullah SP dalam salah satu esainya: “Bicaralah Hamka! Hayaa alah falaah! Tuan Hamka!”

Endo Suwartono, pembaca yang kala itu beralamat di Cawang III, Jatinegara, berpendapat bahwa kasus ini adalah pukulan telak bagi Hamka yang telah populer dengan karya-karyanya. Ia mendesak Hamka untuk segera buka mulut menjelaskan hal ini.

“Untuk tuan Doktor tenar yang sampai sekarang masing bungkam-gagu tidak membuka suara untuk mempertahankan gelarnya. Kalau toh tuan Doktor Hamka memang di pihak yang benar artinya tidak menjiplak, apa yang tuan Doktor takutkan untuk membalas pukulan atau setidak-tidaknya menangkis tinju Abdullah yang kerdil itu?” tulisnya (hlm. 84).

Sementara Sugeng Sriadi yang beralamat di Sostrokusuman, Yogyakarta, menyambut positif langkah yang ditempuh Abdullah SP dalam usaha membongkar kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Ia berpendapat bahwa Abdullah telah menggoyang angkatan muda untuk tidak percaya begitu saja kepada apa yang telah ada.

Bagi Sugeng, seperti dikutip Muhidin, ia akan lebih berhati-hati saat berhadapan lagi dengan karya sastra Hamka yang lain, sebab selama ini ia sudah terlanjur menikmati hasil-hasil karya Hamka yang ternyata bermasalah, "... yang hanya palsu, yang diperoleh tanpa mencucurkan keringat,” begitu ia menggambarkan kekecewaannya (hlm. 85).

Pembaca lain masih banyak yang menyatakan pendapatnya, seperti Bogas Pandi dari Rawasari Jakarta, Rasuan Effendi, seorang pelajar Indonesia di Moskow, dll.

Selain para pembaca tersebut, dalam catatan Muhidin, para sastrawan pun ikut berkomentar. Sebagian membela Hamka, misalnya H.B. Jassin yang mengatakan bahwa Hamka tidak plagiat, tapi “Hamka ada pengungkapan sendiri, pengalaman sendiri, permasalah sendiri. Kubu pro-Hamka lainnya adalah Goenawan Mohamad (yang tidak membahas inti persoalan Hamka, tapi membicarakan soal konsepsi), Usmar Ismail (yang hati-hati dalam menyikapi kasus ini), Anas Ma’ruf (yang menyebut tulisan Abdullah SP kurang meyakinkan).

Hamka yang bungkam, kutip Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (Asep Sambodja, 2010) dari Kritik Sastra Indonesia Modern (2002) karya Rachmat Djoko Pradopo, sebenarnya mengakui terpengaruh karya Manfaluthi. Hal itu ia sampaikan kepada wartawan Berita Minggu (30 September 1962).

Asep menambahkan bahwa sebagai terdakwa di pusaran kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Hamka mengharapkan agar kasus ini diteliti oleh ahli sastra untuk menentukan apakah romannya hasil curian, saduran, atau asli.

“Hamka mengatakan bahwa caci maki dan tuduhan plagiat itu tidak akan menjatuhkan dia dan persoalan belum selesai […] Hamka berharap dibentuk Panitia Kesusastraan yang bersifat ilmiah di bawah Fakultas Sastra Universitas Indonesia dan ia bersedia memberikan keterangan,” tulisnya (hlm. 158-159).


Bukan Sekadar Persoalan Sastra

Dalam Historiografi Sastra Indonesia 1960-an (2010), Asep Sambodja menjelaskan bahwa kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck bukan hanya persoalan sastra, tapi juga persoalan politik. Kebetulan, Hamka punya latar belakang Masyumi.

Situasi politik di sekeliling kasus dugaan plagiarisme Hamka memang sedang panas. Kekuatan politik doyong ke kiri. Pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatra Barat telah lumat disapu operasi militer pemerintah. Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang terlibat PRRI, juga sudah dibubarkan Presiden Sukarno.

Partai Komunis Indonesia (PKI) dan ormas-ormas terafiliasi sedang di atas angin. Palagan kebudayaan mereka kuasai. Pihak yang berseberangan disebut kontrarevolusioner. Polarisasi amat tegas, antara kawan atau lawan.

Sementara Yudiono K.S. dalam Pengantar Sejarah Sastra Indonesia (2006) menyebut kasus ini sebagai salah satu gerakan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang agresif menyingkirkan pihak-pihak yang menurut mereka tidak sejalan dengan semangat revolusi.

Ia menambahkan, selain menghajar Hamka, Lekra juga menuduh Sutan Takdir Alisjahbana dan Idrus yang waktu itu sedang berada di Malaysia sebagai orang-orang yang kontrarevolusioner. Lekra pun menuntut pemerintah pemerintah melarang buku-buku yang berseberangan dengan pahamnya.

“Pada waktu itu tuduhan [plagiat] tersebut bukan sekadar kasus kritik sastra, melainkan kegiatan bertendensi politik terhadap Hamka sebagai seorang tokoh Islam,” tulisnya (hlm. 132).

Taufiq Ismail, salah satu penandatangan Manifes Kebudayaan yang disusun kelompok anti-Lekra, menggambarkan situasi ini lewat puisi “Catatan Tahun 1965”:

“… Kita semua diperanjingkan / Gaya rabies klongsongan / Hamka diludahi Pram / Masuk Penjara Sukabumi / Jassin dicaci diserapahi / Terbenam daftar hitam …”

Meski situasi politik memengaruhi lapangan sastra, tapi menurut Rachmat Djoko Pradopo dalam Kritik Sastra Indonesia Modern (2002), dalam perspektif sejarah kritik sastra, kasus Tenggelamnya Kapal Van der Wijck dapat dipandang objektif sebagai masalah hubungan intertekstual.

Keriuhan di lapangan sastra ini kemudian mereda dan padam saat angin politik berbaik arah. G30S meletus. PKI kalah. Lekra disembelih. Kekuatan kiri padam. Kasus ini terhenti karena para penyulutnya keburu digetok Gestok. Setelah itu, giliran mereka yang—meminjam kata Taufiq Ismail—diperanjingkan oleh pihak yang menang.

Dalam pembuka buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat, Muhidin menegaskan bahwa inilah rupa sejarah sastra Indonesia yang masih sangat muda: penuh cadas, bergelombang-gelombang romantikanya, keras, gelap, manipulatif, bohong, dan culas.

“Mau ditangisi, ya. Mau diratapi, ya. Tapi itu adalah rantai. Suka atau tak suka. Semua-muanya kita terima dengan syarat-syarat dan pertimbangan karena ini sejarah kita, sejarah sastra Indonesia,” tulisnya.
(irf)


Ket:

- Pertama kali tayang di tirto.id pada 29 Maret 2018
- Foto: goodnewsfromindonesia.id 

23 September 2015

Teks yang Berlarian ke Frankfurt

Sejak menerbitkan kumpulan puisi “Abad yang Berlari” pada 1984, karya-karya Afrizal Malna, yang tak melulu puisi, kerap “dikeluhkan” para pembaca sebagai karya yang sulit dimengerti. Dan “ketidakmengertian” para pembaca ini kadang masih terdengar sampai sekarang, ketika si pengarang cum penyair ini masih produktif menulis di berbagai surat kabar.
Ketika menulis pengantar untuk buku kumpulan prosanya yang berjudul “Seperti Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia”, Afrizal Malna mencoba mengidentifikasi dirinya sebagai seorang pengarang yang “peduli dengan begitu banyak lorong dalam bahasa”. Menurutnya, ia memahami kerja dalam kesusastraan seperti ledakan dalam sebuah bangunan dan strukturnya melarikan diri lalu membuat bangunan yang lain.
Sementara dalam sebuah kesempatan wawancara dengan Emilio Arauxo (salah seorang penerjemah karyanya), Afrizal mengatakan, dan ini semacam konsepsi kepenyairannya, “Pengalaman saya dalam menulis puisi membawa saya kepada pemahaman terhadap bahasa yang terbuka. Puisi tidak menciptakan bahasa baru dalam bahasa, melainkan memainkan medan bahasa yang hidup dalam berbagai gejala komunikasi di sekitar kita dalam rangka sebuah permainan lain di medan politik pemaknaan. Bahasa dalam banyak kerja penulisan puisi-puisi saya lebih banyak dilahirkan lewat cara berpikir dengan gambar dan benda-benda.”
“Lorong”, “melarikan diri”, “permainan”, dan “politik pemaknaan”, setidaknya empat hal itu yang dapat diidentifikasi dari dua pernyataan Afrizal tersebut. Dari empat hal itu, barangkali sebagian “keidakmengertian” karya-karyanya bermula.
“Lorong-lari-main-politik”; rasa-rasanya bukanlah kumpulan kata yang bermakna statis, diam, dan lalu mudah untuk “ditangkap”, namun justru sebaliknya. Dalam “lorong” selalu ada kemungkinan situasi yang tak berujung, sementara “lari” jelas adalah kata kerja yang lahir karena adanya gerak, dan gerak adalah perlawanan terhadap diam. Kata “main” juga bukanlah sebuah makna diam, ia seringkali bermakna sebagai proses menuju kegembiraan yang lahir dari adanya gerak—fisik ataupun pikiran (imajinasi). Lalu “politik”, juga adalah gerak dinamis dalam soal siasat dan tata kelola.
Dari penggeledahan beberapa kata tersebut, jelas bahwa karya-karya Afrizal memang tidak dilahirkan—terutama, untuk diam dan lalu mudah dipahami, tapi ia seringkali menghembuskan “anak-anak rohaninya” sebagai wujud teks dalam bentuknya yang bebas berlari dan bermain di lorong bahasa yang mungkin tak berujung.
Pada sebuah catatan pengantar untuk novelnya yang berjudul “Lubang dari Separuh Langit” yang terbit pada tahun 2004, ia lagi-lagi menegaskan “keteguhan”nya terhadap pemilihan gerak.
Begini tulisnya, “Novel untuk saya adalah dunia di mana manusia seperti memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam ususnya dan meledakkan dengkulnya menjelang tidur. Pada momen-momen tertentu, berhadapan dengan seseorang kadang saya rasakan sedang berhadapan dengan waktu yang bergerak berantakan, dan manusia adalah makhluk yang tidak bisa berjalan mundur.”
Karya penyair kelahiran Jakarta ini pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh John H. McGlynn, Linda Owens, Marianne Konig, Michael Bodden, Sarah Nuranto, dan Taufik Ismail. Buku berisi 19 sajak Afrizal itu kemudian diberi judul “Biography of Reading”.
Di Frankfurt, karya-karya “gerak” Afrizal akan ikut dipamerkan. Teks-teks yang sudah ia lahirkan akan berlesatan dan hinggap di ruang-ruang imajinasi publik dunia. Adalah menjadi tidak penting, apakah akhirnya tulisan-tulisan Afrizal bisa dimengerti atau tidak, bisa dinikmati atau sebaliknya, namun dari sini; minimal bisa mengenalkan satu bentuk ekspresi dari sastrawan Indonesia.
Ekspresi yang, seperti kata Afrizal, “sebuah kerja metaforis melalui transformasi pesan, dislokasi konteks dan latar, alurnya lebih sebuah komposisi musik atau gerak daripada sebagai kereta sambung untuk jalannya cerita.”

Pada karya-karyanya terpahat narasi tentang salah satu pelaku sastra Indonesia yang sangat sadar tentang kekuatan bahasa Indonesia, berikut lorong-lorong yang kadang penuh jebakan makna. Dan Oktober nanti karya-karyanya akan “melarikan diri” ke Frankfurt. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Dengan Puisi Aku ke Frankfurt

Dalam riwayat dunia sastra di Indonesia, terjadi "pembelahan" beberapa periode yang menandai lahirnya generasi pengarang dan penyair baru. Hal itu ditandai peristiwa yang menjadi pembabakan riwayat perjalanan Indonesia sebagai sebuah bangsa. Sebagai contoh, angkatan 66 adalah periode yang lahir dari masa transisi peralihan kekuasaan dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru.
Salah satu penyair yang lahir dari angkatan ini adalah Taufik Ismail. Ia yang sekarang telah menginjak usia 80 tahun ini, di Frankfurt nanti, termasuk penyair yang akan hadir dengan membawa karya-karyanya.
Taufik telah melahirkan beberapa buku puisi, dan karyanya dikenal masyarakat secara luas. Hal ini, selain karena puisi-puisinya memang banyak tersebar di beberapa buku pelajaran sekolah, juga karena ia bekerjasama dengan grup musik yang melagukan beberapa puisinya, terutama dengan Bimbo. Langkah musikalisasi puisi ini kemudian banyak juga dikerjakan oleh grup-grup musik terhadap puisi-puisi para sastrawan Indonesia yang lain.
Hari Jum’at, tanggal 14 Agustus 2015, ketika ditemui di gedung Kemendikbud pada acara pertemuan antara penulis dan Komite Nasional Frankfurt Book Fair, ia menunjukkan selembar catatan tentang sejarah penerjemahan karya-karyanya ke dalam berbagai bahasa asing. Ia orang paling tua yang datang di acara tersebut, namun juga salah satu yang datang paling awal, sangat amat tidak terlambat, jauh lebih tepat waktu ketimbang para pengarang lainnya (yang lebih muda) yang banyak datang belakangan.
Berikut riwayatnya:
Tahun 2013 dan 2015, sejumlah puisinya diterjemahkan ke Bahasa Bosnia oleh Prof. Ferid Muhic dan Edin Hadzalic dengan judul “Prah na Zrnu Praha”. Lalu masih pada tahun 2015, diterjemahkan ke Bahasa Prancis oleh Prof. Etienne Naveau dengan judul “Cendres sur Cendres”. Terjemahan ke Bahasa Belanda oleh Prof. E. P. Wieringa dengan judul “Stof op Stof” dikerjakan juga pada 2015. Sedangkan terjemahan ke Bahasa Arab oleh Prof. Nabilah Lubis dengan judul “Turab Fauqat Turab” dilakukan pada 2013.
Riwayatnya tidak berhenti sampai di situ, karena masih pada 2015 sejumlah puisinya diterjemahkan pula ke Bahasa Farsi oleh Prof. Vahed Semnani dan Bastian Zulyeno, Ph.D. dengan judul “Khak rouy-e Khak”. Terjemahan ke Bahasa Jerman diberi judul “Staub auf Staub” dikerjakan Prof. E. P. Wieringa dan Carsten U. Beermann juga pada 2015. Tahun 2013 pernah juga diterjemahkan ke Bahasa Inggris oleh Prof. Amin Sweeney dengan judul “Dust on Dust”.
Satu buah puisinya yang berjudul “Dengan Puisi, Aku” diterjemahkan ke 80 bahasa asing pada 2015 dengan diberi pengantar oleh Prof. Victor A. Pogadaev.
Tahun 1966, ketika demo-demo mahasiswa menentang rezim Orde lama mencapai titik didihnya yang paling panas, Taufik Ismail melahirkan “Tirani” dan “Benteng”; dua kumpulan puisi yang berhasil merekam suasana di sekitar peristiwa tersebut.
Waktu mahasiswa Universitas Indonesia tewas dalam sebuah bentrokan dengan aparat keamanan, Taufik Ismail menulis puisi yang lirih dan murung, puisi yang mengantar jenazah dari almamaternya itu diberi judul “Salemba”.
“Almamater, janganlah bersedih / bila arakan ini bergerak perlahan / menuju pemakaman / siang ini. / Anakmu yang berani / telah tersungkur ke bumi / ketika melawan tirani.”
Keberhasilan Taufik merekam setiap cemas dan cekam yang terjadi di sekitar demo dan bentrok para mahasiswa dengan alat negara, juga keresahan masyarakat yang dihimpit situasi ekonomi yang tak pasti, membuat penyair ini cukup ikonik, setidaknya untuk periode 1966.
Di sekitar 1998, ketika akhirnya Orde Baru tumbang, Taufik pun kembali membuat beberapa karya yang menjelentrehkan kondisi kehidupan berbangsa yang sudah keropos di berbagai sektor. Ya, di luar karya-karyanya yang lahir di beberapa titimangsa lain, namun ia lagi-lagi hadir di tahun-tahun ketika bangsa ini berada di situasi pelik yang begitu menentukan.
Meskipun sampai sekarang ia masih terus berkarya, namun riwayat kepengarangannya penting juga untuk dihadirkan di Frankfurt. Ini akan menjadi semacam mosaik perjalanan bangsa yang berhasil direkam oleh puisi. Di titik ini, sastra telah terbukti menjadi penjaga ingatan kolektif bangsa. Taufik dan karya-karyanya, adalah juga bagian dari keragaman Indonesia yang hendak ditampilkan itu

“Dengan puisi aku berdoa, perkenankanlah kiranya”. Sepenggal puisi Taufik itu, terkait dengan Frankfurt Book Fair, barangkali adalah juga harapan si penyair terhadap perkembangan literasi dunia. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

23 April 2014

Ironi Kaum Terpelajar

Farid Gaban dalam bukunya yang berjudul Belajar Tidak Bicara pernah berkisah mengenai seorang oknum aparat militer yang bertengkar dengan seorang sopir angkot. Mereka beradu mulut, lalu oknum aparat tersebut mengancam dengan menyebut-nyebut jabatannya selaku pemegang hak legal senjata api. “Tunggu di sini!,” gertaknya. Merasa tidak bersalah, sopir angkot itu tak pergi. Selang beberapa saat oknum aparat datang lagi beserta seorang anak buahnya sambil menenteng sepucuk pistol. “Dor!” tembakan justru mengarah ke anak buahnya, sebab sebelum peluru itu muntah sopir angkot menangkis tangan si empunya senjata. Anak buahnya si oknum itu terkapar bersimbah darah.

Berita dari surat kabar, sekira bulan Juli 2013, seorang pengendara mobil yang masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Jakarta, membuka portal yang sengaja dipasang di jalur bus Transjakarta. Waktu petugas menegurnya, dia menunjukkan kartu nama seorang Jenderal Kepolisian untuk menakut-nakuti petugas tersebut. Dia akhirnya lolos dan melenggang mengendarai mobilnya di jalur khusus bus.

Dua kejadian ini menegaskan kembali apa yang sering terjadi di republik tercinta, bahwa kekuasaan, otoritas, masih mempunyai kekuatan untuk “menegakkan” hukum sesuai keinginan si pemilik kekuasan. Aparat yang di tangannya bersemayam senjata seringkali masih didudukkan dan persepsikan sebagai “si pemenang” jika dihadapkan dengan warga sipil.

Petugas Transjakarta tahu yang ditunjukkan mahasiswa itu hanyalah selembar kartu, namun nama yang tertera pada kartu tersebut membuatnya mengerti bahwa persepsi tentang “si pemenang” tak bisa di lawan. Persepsi ini telah mengurat-mengakar di masayarakat kita, oleh sebab itu penyalahgunaan dan pelanggaran masih kerap terjadi. Membaca dua kisah di atas, saya tiba-tiba teringat sepotong puisi Rendra :
Mengapa harus kita terima hidup seperti begini? / seseorang berhak diberi ijazah dokter / dianggap sebagai orang terpelajar / tanpa diuji pengetahuannya akan keadilan.
Dokter di sini menjelma dalam wujud aparat militer dan mahasiswa. Bukankan mereka juga orang-orang yang sering kita anggap terpelajar?.

***

Cerita dua pelanggaran hukum itu pernah saya bicarakan dengan seorang kawan yang sekaligus tetangga rumah kontrakan di Jakarta. Di sebuah warung kopi kami ngobrol. “Alam reformasi saat ini mestinya harus bisa membersihkan persepsi seperti itu. Hukum yang kata Taufik Ismail dalam puisinya ‘doyong berderak-derak’ harus mulai ditegakkan.” Kawan saya tak menjawab, dia hanya tersenyum dan kemudian menyeruput kopi dari gelasnya.

Kawan saya mungkin kurang tertarik dengan apa yang saya bicarakan. “Bung ini katanya kuliah lagi?, mengambil S2 ya?,” saya mencoba mengganti topik pembicaraan. Dan dia mulai berbicara. Lumayan panjang. Setelah dia selesai menjawab pertanyaan, saya menghela nafas. Ada yang perih entah di mana.

Dia ini adalah seorang dosen dan sedang mengambil S2 di sebuah perguruan tinggi swasta di bilangan Jakarta Pusat. Menjadi dosen memang dituntut untuk terus meningkatkan pengetahuan, salah satunya dengan jalan meng-upgrade level pendidikan. Tapi apa yang dilontarkan kawan saya cukup membuat kaget. Katanya, ijazah S2 kalau nanti sudah lulus bisa menjadi uang dengan jalan “dijual”.

Begini penjelasannya : perguruan tingggi swasta yang semakin menjamur tentu membuat persaingan dalam menjaring calon mahasiswa semakin ketat. Jalan untuk menarik para calon mahasiswa dan terutama orangtuanya adalah dengan membuat perguruan tinggi seolah-olah hebat. Hal ini karena diisi oleh para pengajar yang gelar akademiknya meyakinkan. Adalah suatu nilai jual apabila di brosur-brosur perguruan tinggi (swasta) berderet nama-nama pengajar yang gelarnya tidak hanya sarjana. Untuk itulah dia menempuh jalan pasca sarjana.

Ijazah itu bisa “dijual” dengan nilai kontrak yang lumayan besar. Untuk satu tahun kalender akademik saja ijazah bisa dihargai senilai limapuluh juta. Soal mengajar menjadi sekunder. Cukup dengan masuk dua atau tiga kali tatap-muka persoalan selesai, selebihnya tanggungjawab mengajar diemban oleh staf pengajar perguruan tinggi bersangkutan. Kita terima uang tanpa harus bersusah payah mengajar di banyak tempat, cukup nama saja terdaftar sebagai pengajar, begitu terangnya.

Selesai obrolan saya kemudian pulang dan menyalakan televisi. Di Metro tv terlihat ada Prof. Tjipta Lesmana tengah membicarakan soal lembaga survey yang baru-baru merilis hasil kerjanya mengenai tingkat elektabilitas calon presiden menghadapi tahun politik 2014.

Beliau menyayangkan orang-orang terpelajar yang berada di belakang lembaga survey tersebut. Sikap beliau itu dilatarbelakangi oleh kontroversi seputar hasil kerja lembaga survey yang dirilis ke publik. Dalam rilisan itu terlihat jelas ada tendensi yang mengarahkan hasil kepada salah seorang calon presiden, seolah-olah tingkat elektabilitasnya meyakinkan. Padahal hasil survey-survey yang berkembang selama ini angkanya tidak berpihak kepada calon presiden tersebut. Dalam penelitian sosial sekalipun presisi masih bisa dikalkulasi secara akal sehat. Nah, lembaga survey yang satu ini ditengarai menabrak logika akal sehat. Prof Tjipta terlihat berang, “jangan sampai orang-orang terpelajar yang berada di belakangnya menjadi pelacur-pelacur intelektual!”

Penjelasan kawan saya di warung kopi, dan pro dan kontra di ranah politik tersebut tentu masih bisa diperdebatkan. Namun sejauh mana kesadaran kaum terpelajar yang berada di dalamnya barangkali patut kita pertanyakan. Saya tidak mau dan tidak berhak menghakimi, namun mungkin kita bisa sama-sama belajar meraba kembali nurani.

Di tengah hari-hari yang payah karena serbuan headlines berita berpijar di televisi dan surat kabar yang membuat kita marah, apa yang saya catat dari mula kisah oknum aparat sampai lembaga survey, pada akhirnya mengantar saya untuk berdiri di Karet, ziarah ke makam Pram. Di depan kuburan sastrawan besar itu saya lamat-lamat merapal apa yang pernah ditulisnya :
Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. [ ]

04 September 2012

3 Bung, 3 Behel, dan Tradisi yang Memudar [3]

Maka buat kami---atau barangkali buat saya---membakar cigarette sambil menulis itu adalah salahsatu waktu terbaik yang membuat saya betah berlama-lama di kamar. Kalau saja para pengusaha cigarette, terutama yang raksasa macam Gudang Garam, Djarum, dan Philip Morris tahu kebiasaan saya ini, bolehlah kiranya mereka membiayai pembuatan film yang di dalamnya banyak betul adegan menghisap cigarette, dan meng-hire saya sebagai penulis skenarionya, hmm..a nice dream. Tapi memang begitu bengal dan keras kepala saya ini---kawan saya juga mungkin seperti itu, bahkan puisi Taufik Ismail yang berjudul “Tuhan 9 cm” pun tak mempan, apalagi khotbah tentang kesehatan dan kemiskinan, ah omong kosong semua.  Para penulis adalah mereka yang kami hormati dan berada dalam kelompok strata pertama. Jika penulis pun sudah tidak kami hiraukan, maka tak usahlah kau banyak berkhotbah di depan kami.

Pecah kongsi adalah bukti bahwa saya dan dua orang kawan itu adalah orang-orang yang tidak gampang ditaklukkan. Seperti kata Ernest Hemingway dalam “The Old Man and The Sea” : Manusia bisa dihancurkan, tapi dia tidak bisa ditaklukkan. Lama tidak bertemu, tapi saling mengintip di media online masing-masing. Dan di sinilah kami sekarang, di sebuah kopi darat yang panas oleh debat dan adu argument.  Dari film terbaru besutan Paul Thomas Anderson, inflasi sehabis lebaran, penyerangan jamaah syiah di Sampang, ruang baca paling nyaman di Bandung, novel terbaru Andrea Hirata, siapa penemu petasan, kode produksi cigarette di bungkus bagian bawah, sampai panasnya suhu politik di Jakarta terkait dengan Pemilukada; semaunya kami perdebatkan. Barangkali orang-orang akan menyebutnya hanya tindakan konyol yang meributkan pepesan kosong, atau debat kusir yang mubazir, terserah, kami tak punya urusan dengan mereka. Mereka menilai, silahkan, but we don’t care!. 

Tapi di atas itu semua, saya hantam kedua Bung yang batang hidungnya terlihat sangat jelas itu dengan sebuah statement, bahwa ini adalah pesta lisan yang harus ditulis!. Dan sebuah aklamasi kemudian menyusul : “Setujuuu”, persis koor para wakil rakyat ketika masih zaman Orde Baru.

Kami tak banyak bacot dan ilfiltrasi mengenai tulang rusuk. Tahu sama tahu saja. Urusan yang begitu tak perlulah dibawa-bawa ke meja debat yang berasap oleh cigarette. Satu hal saja, dan ini pasti sebuah kebetulan; bahwa tulang rusuk kami sama-sama si pemilik gigi rapi pagar kelurahan. Ini pasti jasa behel. Tapi yang paling cantik memang Sigi---kedua Bung itu pasti mengerutkan kening dan mendengus---, kurang apa coba?; rambut pendek, berkacamata frame hitam, gemar memakai baju biru, dan amboi pintar betul, terutama masalah film!. Saya tak berani sok tahu mengenai film di depan dia, bisa dibantai habis-habisan soalnya. Wajar saja, dia lulusan cinematografi, menjad kontributor di beberapa majalah film dan media online, juga aktif menulis kritik film di salahsatu situs para pegiat film. Sesekali, dia diundang ke festival film di luar negeri, entah sebagai apa kapasitasnya. 

Maka tadi ketika kami membicarakan film terbaru garapan Paul Thomas Anderson yang berjudul “The Master”, mereka, kedua Bung itu nyaris mati kutu dan tak banyak berkicau. Mereka segan berdebat dengan saya, sebab di belakang saya ada seorang kritikus film yang tulisannya sangat sengit dan tajam. “Bung tentu lebih tahu daripada kami untuk soal film. Kami angkat topi, bukan buat Bung, tapi buat tulang rusuk Bung yang berkacamata itu,” demikian Bung Joni berkicau. Lihat, bukankah saya berada di bawah bayang-bayang Sigi?. Saya seolah-olah menjadi epigon perempuan cantik itu. Tapi tak apa, no problemo, sebab ini hanyalah masalah wawasan dan pengetahuan, bukan masalah prinsip. 

Dan tak usahlah saya ceritakan kisah absurd mereka dengan tulung rusuknya masing-masing, sebab setiap kisah punya logika dan jalan ceritanya masing-masing. Satu hal saja yang mesti dihindari, bahkan kalau perlu dikutuk. Perlu ditegaskan; bahwa para pengkhianat, jalan pulang mereka, selamanya adalah altar penyembelihan. Jangan sekalipun bicara tentang rekonsiliasi dengan mereka, kecuali untuk kepentingan strategi demi menghancurkan titik kurang ajarnya. “Jangan sombong, di atas kita sekarang langit. Di atas kita nanti tanah!.” 

Ini adalah hari kedua. Kopi darat yang memakan banyak amunisi. Entah sudah berapa batang cigarette yang kami bakar. Tapi selama yang dibakar itu adalah cigarette milik para pengusaha lokal, dan menggunakan tembakau dari para petani di pedesaan, maka membakar dan menghisap cigarette adalah tugas nasional. Ini mestinya menjadi titik belok bagi para penghisap cigarette putih---dengar wahai kau Bung Nova yang masih setia dengan produksi Philip Morris---yang bahan bakunya kertas dan pemiliknya orang asing. Ya, cigarette juga bisa menggelorakan nasionalisme.     
         
Tunggu dulu, tapi kenapa ketika malam mulai mendekati pagi, kami mulai membicarakan masadepan dengan tulang rusuk masing-masing?. Sambil tiduran---karena sudah malas menyeduh kopi dan dada mulai sesak karena asap---kami dengan sedikit malu-malu mulai berbicara. Tapi ini pun harus tetap di sensor, karena terlalu banyak wartawan infotainment yang berkilaran di sekitar kita. Dan begitulah, sekira jam tujuh pagi kami baru bangun, melewatkan sholat subuh, menguap, dan tidur kembali. Kami baru benar-benar bangun sekitar jam setengah duabelas siang ketika matahari telah garang membakar ubun-ubun. 

Besok hari ketiga, dan siang menjelang sore itu pergilah kami ke pantai. Tujuannya jelas, mau mencegat matahari yang akan ditelan garis bumi. Orang-orang barat menyebutnya sunset. Di bibir pantai semuanya begitu lepas, dan kami merasa kecil. Cigarette di tangan, dan matahari begitu anggun dengan sinar oranye yang hangat pudar. Lukisan alam yang terasa magis. Dan laut terus saja berdebur, bergemuruh, dan tak henti-hentinya mempermainkan perahu para nelayan. 

Malam beranjak. Pembicaraan lagi. Kopi lagi. Cigarette lagi. Masalalu dan masadepan lagi. Humor segar lagi. Impian. Harapan. Kegagalan. Keyakinan. Ludah untuk pengkhianatan. Kekecewaan. Tulang Rusak. Kosong. Kabur. Realita. Manisnya mempertahankan prinsip. Jari tengah untuk para asshole. Penghormatan bagi para penulis.

Esoknya, ketika pagi masih dingin, kami berlari ke dermaga. Dan di ujung dermaga itu kami melompat ke laut sambil berteriak : “Asuuu!!!”. [ ]