18 March 2012

17 Film Favorit (Edisi 01 – Januari 2012)

“Sinema adalah medium yang dapat dengan efektif menangkap kegelisahan-kegelisahan manusia.” (Riri Riza)

***

Jangan salah mengerti. Ini bukan film-film favorit yang tayang di bulan Januari 2012, tapi maksudnya adalah film-film favorit saya dari pertamakali mengenal film (entah tahun berapa) sampai bulan Januari 2012, bulan yang rajin sekali mandi. Serbuk hujan hampir setiap hari berhamburan. Ini memang sangat subyektif, sangat tergantung selera. Dan tak penting betul sebenarnya diketahui oleh orang lain. Tapi selama masih bisa menuliskannya, kenapa menyembunyikannya?. Inilah dia sehimpunan film itu :

· Mary and Max (Adam Elliot) --- Film animasi dengan tema yang tidak ditujukan buat anak-anak. Mary adalah seorang anak kecil yang tersisih dan kesepian secara sosial. Ibunya seorang alcoholic dan sangat menjengkelkan. Dia tinggal di Australia. Suatu hari dia mau curhat dengan mengirimkan sebuah surat, tapi bingung harus mengirimaan ke siapa?, kawan saja tidak punya. Akhirnya dia menemukan sebuah nama dari buku telepon macam Yellow Page. Dan dialah Max orangnya. Max tinggal di Amerika, usianya tak kurang dari 40 tahun, dan seperti halnya Mary, dia juga tersisih secara sosial. Kedua pecundang sosial yang umurnya berbeda itu akhirnya berkomunikasi lewat surat, mereka bercerita tentang masalahnya masing-masing. Sebuah komunikasi tentang orang-orang yang “tidak diterima” dunia.

· The Namesake (Mira Nair) --- Jangan terlanjur phobia. Ini memang film India. Pemainnya ada orang India, sutradaranya keturunan India, dan penulis novelnya pun (film ini diangkat dari novel) konon berdarah India juga. Tapi kawan akan terbebas dari adegan kejar-kejaran di bawah guyuran hujan, atau menari sambil sesekali bersembunyi di balik pohon. Mira Nair memang berkhotbah di ujung film ini, tapi itu tak mengurangi citarasanya. Novelnya pun sama bagusnya dengan film.

· Goodby Lenin (Wolfgang Becker) --- Ketika tembok Berlin runtuh, anda tidak bisa lagi mengurung diri. Dunia semakin borderless.

· (500) Days of Summer (Marc Web) --- Yang paling menggetarkan adalah di penghujung film, waktu Summer mengatakan kenapa dia tidak memilih Tom : “Karena aku tidak yakin kamu benar-benar bisa diandalkan”. Ah, juara!.

· The Song of Sparrows (Majid Majidi) --- Sudah pernah nonton film Children of Heaven?. Sepasang kakak beradik yang bermasalah dengan sepatu itu?. Nah, film ini juga disutradarai oleh orang yang sama. Dan hasilnya memang tidak mengecewakan.

· Departure (Yojiro Takita) --- Menonton film ini membuat saya ingin segera berumahtangga, hahaha.

· No Country for Old Men (Joel dan Ethan Coen) --- Pure adrenalin. Nafas banyak tertahan sepanjang film diputar. Begitu menegangkan. Tapi endingnya kenapa agak sedikit membingungkan?.

· Fiksi (Mouly Surya) --- Ini adalah kebalikan dari film Alice in Wonderland. Debut Mouly Surya yang cukup menjanjikan.

· A Curious Case of Benjamin Button (David Fincher) --- Saya curiga, jangan-jangan penulis narasi di film ini pernah membaca juga buku Einsten’s Dream karya Alan Lightman. Tapi film ini memang berbicara tentang waktu secara memesona. Misterius sekaligus mengundang kontemplasi. Dan satu lagi, tekhnologi merekayasa wajah para pemeran yang betul-betul meyakinkan. Salut!.

· Changeling (Clint Eastwood) --- Setelah menonton film ini, seorang kawan sempat berkata, “Di mana-mana, polisi memang menjengkelkan.” Buat para penggemar scene “panas” Angelina Jolie, jangan berharap banyak di film ini, sebab dia sedang bermain watak.

· Burn After Reading (Joel dan Ethan Coen) --- Film yang menyegarkan, seperti makan semangka setelah lari jarak jauh. Humor yang cerdas, dan para pemain yang brilliant.

· Melancholia (Lars von Trier) -- Lupakan Armagedon, 2012, The Day After Tomorrow, dan film-film tentang kehancuran dunia lainnya. Film ini datar dan cenderung membosankan di awal, tapi mencekam di belakang. Lebih manis, dan lebih bisa diterima akal.

· Daun Di Atas Bantal (Garin Nugroho) -- Acting anak-anak di film Laskar Pelangi akan terlihat sangat menyedihkan jika dibandingkan dengan anak-anak jalanan yang bermain di film ini. Begitu lepas, begitu natural.

· Grand Torino (Clint Eastwood) --- Kakek tua menghajar para begundal dalam suasana krisis rasial. Clint Eastwood, salahsatu actor yang actingnya tidak pernah menyebalkan. Dua jempol!.

· Eternal Sunshine of The Spotless Mind (Michel Gondry) --- Ingatan dan kenangan yang begitu kuat.

· Gie (Riri Riza) --- Sebuah statement sejarah dan tentang belajar malu. Kerja panjang duet kribo Riri-Mira dan soundtrack “dark” dari Eross. Mr. Ego dari Speaker 1st cocok diputar di pagi hari untuk kawan minum kopi.

· Le Grand Voyage (Ismaël Ferroukhi) --- Anak : ”Mengapa Ayah tidak naik pesawat terbang saja ke Makkah?. Ini akan lebih mudah.” Ayah : ”Air laut baru akan kehilangan rasa pahitnya setelah ia menguap ke langit.” [ ]

---31 Jan ‘12

9 Film Dokumenter Favorit

Tak terbilang banyaknya film documenter yang telah dibuat oleh para pegiatnya, tapi rupa-rupanya film macam begini tidak terlalu menarik hati para penonton, alasannya barangkali sudah jelas : film macam begini kurang atau bahkan tidak menghibur. Lagi pula, publikasinya pun tidak seramai film-film biasa. Sehimpunan film documenter di bawah ini adalah yang pernah saya tonton, beberapa film saya punya kasetnya (bajakan dan ori), sebagian lagi tidak ada. Tapi perkembangan film documenter sepertinya mulai menggembirakan, setidaknya itu yang dapat disimpulkan dari makin maraknya anak-anak muda Indonesia yang bergiat membuat film. Kawan tentu tahu belaka, bahwa sudah beberapa tahun ini, sebuah station tv swasta rutin mengadakan perlombaan pembuatan film documenter. Maka baiklah, tak usah terlampau banyak prolog :

· The Cove --- Teluk kecil tempat pembantaian kawanan lumba-lumba. Dengan dalih bahwa lumba-lumba adalah hama bagi ikan segar yang dikonsumsi cukup tinggi, maka orang-orang Jepang itu menggiringnya ke sebuah teluk kecil dan membantainya. Darah. Air berwarna merah. Aktivis hewan dan lingkungan yang berupaya merekam kejadian yang berulang-ulang ini dihalang-halangi. Hanya sebuah kerja team yang keras, bersungguh-sungguh, dan berdedikasi tinggi, akhirnya aksi pembantaian lumba-lumba ini berhasil direkam dan dipublikasikan tepat ketika para pemimpin negara-negara sedang melakukan konferensi. Satu hal yang berhasil membuka borok cara-cara diplomasi negara maju (hal ini dilakukan oleh Jepang) adalah : mereka membantu negara-negara miskin dan berkembang, agar di konferensi-konferensi tingkat dunia yang melakukan voting untuk sebuah keputusan, negara-negara yang menerima “hibah” itu menggadaikan suaranya. Inilah perdagangan suara di tingkat atas. Maka jika selama ini kita mendengar kabar bahwa Indonesia sering menerima dana “hibah”, jangan-jangan suara kita banyak yang dilacurkan. Semoga saja tidak.

· Waiting for Superman --- Siapa bilang masalah pendidikan hanya terjadi di negara-negara dunia ketiga saja?. Di jantung segala mitos kedigdayaan pun masalah pendidikan ternyata cukup menghantui. Di USA, banyak betul guru yang tidak berkualitas, dan mereka (guru yang tidak berkualitas dan jumlahnya banyak itu) di pingpong dari satu sekolah ke sekolah yang lain, maka ketika para orangtua melepas pergi anak-anaknya ke sekolah, sesungguhnya mereka, para orangtua itu sedang berjudi. Solusi yang dibangun bukannya membabat guru-guru buruk dan meregerasinya dengan yang lebih bagus, tapi hanya memutar-mutar saja, keluar dari satu sekolah pindah ke sekolah yang lain. Belum lagi cerita tentang anak-anak yang putus sekolah. Timbunan masalah pendidikan yang terjadi di USA membuat anak-anak dan para orangtuanya menunggu sosok Superman untuk menyelamatkan nasib mereka.

· Sicko --- Inilah dia orangnya yang doyan “membakar jenggot” Gedung Putih. Setelah membuat film documenter Bowling for Columbine dan Fahrenheit 9/11, Michael Moore kembali mengkritik pedas kebijakan pemerintahnya. Dia “mengolok-ngolok” tentang mahalnya biaya kesehatan di USA dibandingkan negara-negara maju lainnya, bahkan dia membandingkan harga obat dengan Kuba!. Dia mengunjungi Kanada, Prancis, dan Inggris. Dan hasil kunjungannya hanya memberikan fakta dan sebuah kesimpulan bagi dia : bahwa negaranya terlampau sibuk mengurusi urusan-urusan negara lain, terlampau ikut campur tangan, dan hal itu membuat rakyatnya sendiri terlantar : biaya kesehatan mahal!.

· Death in Gaza --- Sebuah epic tentang jurnalis yang meliput konflik Israel-Palestina, yang menitikberatkan liputannya kepada anak-anak korban perang. Dia tewas ditembak militer Israel ketika bendera putih telah dikibarkan.

· Morning Light --- Mulanya tidak menarik, seperti sebuah perlombaan biasa yang sering ditayangkan tv-tv swasta di Indonesia. Tapi kemudian film bergerak menanjak. Konflik, kerja keras, dan sebuah pelajaran. Perlombaan berlayar yang mengesankan.

· Tragedi Mei 1998 --- Tahun puncak sekaligus persimpangan. Ketika mahasiswa dan pemuda mempunyai musuh bersama yang bernama rezim Orde Baru, maka gelombang tak bisa lagi ditahan-tahan. Ketika dukungan ulama dan tokoh masyarakat tidak lagi di dapat, maka beliau pun terjungkal. Film yang menampilkan detik-detik penuh heroik itu berhasil merekam banyak wawancara dengan para pimpinan gerakan mahasiswa. Tapi memang setelah tahun itu lewat, semuanya kembali menjadi pekerjaan rumah yang menyebalkan.

· On The Tightrope --- Politik pemerintah Cina yang komunis dalam rangka mengendalikan komunitas Muslim Uyghur, sebuah komunitas minoritas di negeri Tirai Bambu tersebut. Anak-anak Muslim Uyghur setiap harinya harus bersumpah setia kepada komunisme dan wajib menghormati tokoh-tokohnya. Tapi di atas kenyataan kebijakan politik tersebut, kita jadi tahu bahwa anak-anak Cina memang berbakat dalam bidang olahraga yang menonjolkan kelenturan tubuh.

· 10 Conditions of Love --- Masih Uyghur. Seorang tokohnya membawa suara rakyat Uyghur ke dunia luas. Pemerintah Cina tak bisa lagi menghalang-halangi. Kisah tokh ini dibumbui oleh cerita kehidupan pribadinya yang cukup melankolis.

· Burma VJ : Reporting from A Closed Country --- Meskipun pemerintahan militer Burma terlihat lebih keras dan lebih brutal daripada rezim Orde Baru, tapi entah kenapa waktu menonton film ini saya tiba-tiba teringat sebuah puisi yang ditulis Wiji Thukul, mungkin karena modusnya sama : sama-sama melarang rakyat bersuara :

Peringatan

Jika rakyat pergi

Ketika penguasa pidato

Kita harus hati-hati

Barangkali mereka putus asa

Kalau rakyat bersembunyi

Dan berbisik-bisik

Ketika membicarakan masalahnya sendiri

Penguasa harus waspada dan belajar mendengar

Bila rakyat tak berani mengeluh

Itu artinya sudah gawat

Dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah

Kebenaran pasti terancam

Apabila usul ditolak tanpa ditimbang

Suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan

Ditudih subversif dan menggangu keamanan

Maka hanya ada satu kata : lawan!!. [ ]

--- 1 Feb ‘12

17 March 2012

Para Penguasa Warung Kopi [4]

Sehari sebelumnya, sebelum tugas cerpen itu dikumpulkan, saya berdiri di balik pintu yang tertutup, pintu yang dipenuhi oleh tempelan stiker, coretan spidol, dan sebuah poster. Di dalam terdengar suara orang tengah mengobrol menggunakan ponsel. Saya ketuk pintu sambil menghantamnya dengan ucapan keselamatan, “Assalamu’alaikum”. Pintu tak bergeming, yang berbicara masih terdengar. Saya ulangi sampai tiga kali, pintu belum juga terbuka. Saya hantam dengan ucapan yang lain, “Sepadaa…”, tetap tak ada perubahan. Akhirnya saya duduk di depan pintu itu dan membelakanginya sambil mulai bertanya-tanya, “Sejak kapan bang Joni berubah menjadi Bolot?, apakah kamarnya yang kedap suara?”. Tak lama, tiba-tiba saya mendengar suara di belakang, “Sudah lama ente duduk di sini?”, saya lihat ke belakang, bang Joni sudah berdiri di ambang pintu dengan penampilan dalam kondisinya yang sangat memprihatinkan. Tak ada yang lebih mengenaskan selain seorang mahasiswa yang belum mandi, rambutnya acak-acakan, mukanya lengket oleh minyak alami, berjerawat, bibirnya menghitam karena cigarette, dan perutnya tidak simetris karena terlalu sering dijejali mie instant. Dan sekarang, di depan saya, makhluk seperti itu tengah berdiri.


“Lumayanlah bang sudah satu jam menunggu,” kata saya sambil mulai berdiri. “Kenapa tidak kamu ketuk saja pintunya?, atau teriak ucapkan salam?,” ini dia salah satu penyakit orang budeg, dia selalu menanyakan hal yang sebenarnya telah oranglain ucapkan. Saya tak mau berlama-lama dengan menjelaskan secara detail apa yang telah saya lakukan tadi, saya hanya mau pinjam buku kumpulan cerpen. “Bang, punya buku kumpulan cerpen ga?”, dia tidak menjawab malah masuk lagi ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang berbunyi. Kalau dilihat dari muka dan cara bicaranya, dia pasti bukan sedang berbicara dengan laki-laki, karena dia terkesan melembut-lembutkan suara dan seperti ada senyum yang tertahan. “Ayo masuk, jangan di luar saja, cari tuh di rak buku?,” ponselnya agak dijauhkan dari kuping waktu dia menyuruh saya masuk. Dia duduk di ambang pintu waktu saya mengacak-ngacak rak bukunya.


Koleksi bukunya lumayan banyak, tapi anehnya, dari yang banyak itu, sangat sedikit saya temui buku-buku yang berhubungan dengan pelajaran kuliah. Bang Joni kuliah di program studi Administrasi Bisnis, tapi bukunya hampir 99 persen didominasi oleh novel, memoar, biography, catatan perjalanan, cerpen, sejarah, dan puisi. Buku yang berhubungan dengan mata kuliah hanya ada karangan The Liang Gie untuk mata kuliah kearsipan, dan…. Lalu saya menemukan sebuah buku bersampul coklat bergambar seorang kakek berjenggot lebat yang sedang menulis, saya buka secara acak dan berhenti pada sebuah cerita berjudul Matinya Ivan Ilych. Sementara bang Joni masih bicara di telepon dengan suara yang dilembut-lembutkan, dan masih dengan senyum yang tertahan tanda ada kebahagiaan di pedalaman dirinya, saya hanyut dalam cerita yang ditulis oleh pengarang buku bersampul coklat itu.


Alangkah tragis kisah hidup Ivan Ilych. Tanpa melihat lagi buku cerita yang lain, saya langsung putuskan, bahwa buku yang covernya berwarna coklat ini, yang pengarangnya adalah ternyata Leo Tolstoy, adalah buku yang akan saya pinjam buat memnuhi tugas pelajaran bahasa Indonesia. Sambil membereskan lagi buku yang tadi sempat keluar dari rak, saya mulai berpikir, tiba-tiba seperti ada yang menyalakan pemantik lalu membakar dan mengingatkan saya, bahwa penyelidikan saya terhadap bang Bisma, bang Joni, dan bang Erlan belumlah berakhir, bahkan sesungguhnya baru dimulai. Maka demi ingat misi tersebut, saya langsung memasang radar dan memutar otak, dan sebuah lampu berwatt tinggi langsung menyala terang di kepala saya.


Pengamatan saya yang dulu, yang meyakini bahwa bang Joni adalah bertype seorang pemuda misterius karena tidak pernah menggoda perempuan-perempuan cantik yang lewat di depan warung kopi bu Risna, yang menyebabkan saya menarik semacam kesimpulan sementara, bahwa bang Joni belum puber, belum suka dengan makhluk yang bernama perempuan, saat ini keyakinan itu goyah. Kalau bicara dengan seorang laki-laki, mana mungkin tutur bicaranya halus dan lembut?, pasti kata-kata seperti “aing, maneh, lo, urang dan sia” akan berhamburan dari mulutnya. Tapi kali ini, oh bukan main, untuk kata ganti diri sendiri dia pakai kata “aku”, dan untuk kata ganti orang yang berbicara di ujung ponsel, dia pakai kata “kamu”. Ini sangat tidak lazim, pasti sesuatu telah terjadi. Mungkinkah hati bang Joni sedang ditawan ranger pink?. Siapa pula perempuan malang yang berhasil dirayunya?.


***


Lapangan komplek, kalau sore, semenjak trio penguasa warung kopi sering nongkrong di sana, sudah hampir menyerupai taman kanak-kanak. Dua kali seminggu, bang Bisma akan duduk atau berdiri di pinggir lapang sambil membawa topeng dan beberapa mainan anak, dan yang paling sering dia bawa, apalagi kalau bukan topeng Gorgom. Lalu anak-anak akan berkumpul di dekatnya, mendengarkan dongeng yang diceritakan oleh bang Bisma. Saya tidak pernah sekali pun mendekati kerumunan yang diciptakan bang Bisma itu, saya sudah besar, masa harus bergabung dengan bocah-bocah SD?. Lagipula, saya yakin, dongeng bang Bisma itu pasti garing alias tidak menarik, pasti akan terdengar kaku, seperti dirinya yang sering berlama-lama di kamar dan di warung kopi.


Bang Joni tidak mau kalah, dua kali seminggu dia akan membawa gitarnya yang ramai ditempeli stiker ke lapangan komplek, dia selalu mengadakan semacam kuis tebak judul lagu, tebak penyanyi, atau tebak lirik. Tebak-tebakan yang diciptakan bang Joni itu sudah menyerupai macam acara Kuis Dangdut yang disiarkan TPI yang pembawa acaranya Djadja Miharja. Anak-anak senang dengan apa yang dilakukan oleh bang Bisma dan bang Joni, sebab selama ini mereka hanya bisa bermain bola, main sepeda, dan main gundu. Sementara anak-anak perempuannya hanya tahu permainan loncat tali dan petak umpet.


Pernah sekali waktu saya ikut nimbrung dalam kerumunan anak-anak yang sedang main tebak lagu dengan bang Joni. Tentu saya tidak ikut menebak, sebab saya bukan bocah SD lagi, sudah tidak doyan permen, lagipula semua lagu yang dibawakan bang Joni, saya tahu belaka. Waktu itu saya lihat dengan mata kepala saya sendiri, bang Joni terlihat kaget waktu seorang anak bertanya mengenai arti sebuah tulisan berbahasa Inggris yang ada pada stiker yang menempel pada gitar bang Joni. Stiker itu memang tidak terlalu besar, tapi karena bentuknya yang menyerupai bercak air dan berwarna dasar biru, maka telihat jelas menempel pada gitar yang berwarna krem. Tulisannya terdengar prokokatif :“Onani is not a crime”. Ditanya arti tulisan seperti itu, tentu saja bang Joni kaget sebab yang bertanyanya anak kecil, bahkan masih dalam fase ingusan. Dia garuk-garuk kepala sebentar, menarik nafas, lalu berkata, “Euh.., itu artinya : Jangan meludah sembarangan.” Beberapa hari setelah itu, saya melihat lagi gitarnya, dan stiker itu telah tidak ada. Bang Joni tidak ingin terperosok dua kali pada lubang yang sama, karena yang berhak melakukan hal seperti itu adalah keledai.


Tapi yang agak aneh, dari trio penguasa warung kopi itu hanya bang Erlan yang belum terlihat beraksi. Hampir setiap sore, dia terlihat hanya duduk-duduk saja di depan kantor RT; mendengarkan cerita kang Agus Godeg, tertawa nikmat, menghisap cigarette, main domino, main kerambol, main catur, dan ngobrol dengan orang-orang yang nongkrong di sana. Jika dibandingkan dengan dua kawannya, bang Erlan terlihat kurang ada kontribusinya dalam gerakan semesta yang mereka lakukan. Tapi kemudian pengamatan saya ini terbukti tidak benar, sebab pada sebuah malam yang kering, ketika mereka kembali berkumpul di warung kopi bu Risna, saat jalan gang tidak disinari cahaya bulan, sebab dia sedang berbentuk sabit, dan waktu saya memesan segelas susu coklat panas, strategi mereka sedikit terungkap. Mereka ternyata sengaja membagi kerja seperti itu. Bang Erlan yang terlihat santai-santai saja ternyata sedang melaksanakan tugas yang sangat keren, dia berlaku macam intel sekaligus diplomat yang bergerak menyusup ke dalam denyut nadi pergaulan sosial, berbaur, mencoba mewarnai tema pembicaraan, dan sekaligus menjadi juru bicara kalau ada yang bertanya, “Apa sih yang sedang dilakukan oleh si Joni sama si Bisma?.”


Meskipun begitu, sampai saat ini, saya belum benar-benar paham apa sesungguhnya tujuan di balik semua yang mereka lakukan. Tapi saksikanlah, saya tidak menyerah untuk itu, saya akan terus mencoba menyambungkan semua benang merah kegiatan mereka. Semenjak saya berjanji pada diri sendiri, bahwa saya akan menyelidiki semuanya dengan mendeklarasikan diri menjadi detektif Kogoro Mori, maka lebih baik saya harakiri dari pada mundur dari arena penyelidikan ini. Saya harus menyelesaikan apa yang telah saya mulai. Siapa memulai tidak boleh melarikan diri, sebab melarikan diri hanya pantas dilakukan oleh para criminal, dan karena saya bukan seorang criminal, maka saya akan jalan terus.


Dan ketika saya jalan terus, saya menemukan kembali kenyataan lain yang membuat keyakinan saya kembali goyah, keyakinan tentang pemuda-pemuda misterius yang belum dihinggapi masa puber itu. Setelah mendapati bang Joni berbicara di ponselnya dengan suara sengaja dilembut-lembutkan, yang terdengar seperti sedang merayu seorang perempuan, kini saya mendapati bang Bisma berpindah aliran. Music yang dia dengarkan setiap hari kini mengalami perubahan. Biasanya setiap pagi, sesudah mandi dan sebelum pergi kuliah, dia akan memutar The Sigit dengan volume keras, tapi sekarang dia malah menggantinya dengan Mocca. Kalau sore, sesudah pulang kuliah dan sebelum mandi, dia biasanya akan mendengarkan Nudist Island dan Alone At Least, tapi kini malah sering mendengarkan Ten2five. Sampai larut malam, kadang-kadang lagu-lagu bersuara perempuan itu masih terdengar dari kamarnya dengan volume yang sangat sopan. Meskipun lirik lagu Mocca dan Ten2five yang didengarkan bang Bisma berbahasa Inggris, tapi jangan sepelekan saya, meskipun saya akui, saya ini suka mencuri rambutan, mangga, dan belimbing, tapi di kelas, Alhamdulillah saya paling keren dalam mata pelajaran English. Maka waktu Arina, vokalis Mocca benyanyi, saya dengan otomatis tahu artinya. Alangkan mudahnya menterjemahkan lirik lagu seperti ini :


What if I give you my smile?

Are you gonna stay for a while?

What if I put you in my dreams tonight?

Are you gonna stay till its bright?

What if I give you my story?

Are you gonna listen to me?

What if I give you my heart?

Are we never gonna be apart?

Tidak saya sangka sebelumnya, ternyata darah muda bang Bisma tetap mengalir dengan lancar, hanya saja dia sembunyikan arusnya itu dengan rapi dalam lirik-lirik lagu, dalam hening malam, dan mungkin juga dalam pisau cukur yang berhasil menggugurkan kumis tipisnya yang terlihat menyerupai lele. Ya, dia sekarang terlihat lebih rapi dengan penampilan tanpa akar bibir walaupun rambutnya masih eksis bergaya sarang burung. Siapakah gerangan perempuan kurang beruntung yang telah berhasil menawan hatinya bang Bisma?, ini menambah daftar panjang poin penyelidikan saya selanjutnya.


Dua orang sudah diketahui kondisi arus darah mudanya, setidaknya dalam gelanggang eceng gondok, kondisi dua orang pemuda itu, walaupun masih bersifat kesimpulan sementara, namun sudah mulai dapat saya deteksi. Kini tinggal menyelidiki bang Erlan, apakah hati dia juga sudah mulai tertawan oleh ranger pink?, apakah dia juga menyimpan semacam misteri seperti tugasnya yang bersifat macam intel dan diplomat dalam kegiatan trio penguasa watung kopi tersebut?. Dan lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan saya itu akhirnya dapat terjawab, di mana lagi kalau bukan di warung kopinya bu Risna.


Malam itu cuacanya sedang lembab, sore; beberapa jam sebelumnya, hujan baru saja menyelesaikan tugasnya dengan sempurna. Apakah laki-laki diciptakan untuk menghisap cigarette?, karena hei lihatlah, ketiga penguasa kopi itu sedang nikmat betul membakar tembakau yang berkolaborasi dengan cengkeh dari merek yang berbeda-beda. Bang Bisma menghisap cigarette bermerek benda tajam yang sangat kecil, bang Joni bermerek alphabet urutan pertama, dan bang Erlan menghisap cigarette legendaris bermerek deret hitung dengan susunan yang konstan. Sementara saya belum cukup umur untuk diijinkan berani mengotori paru-paru. Saya hanya serius meniup susu putih cap bendera yang masih panas di gelas bening.


Perbincangan kali ini sedikit beraroma infotainment, sebab virus ranger pink dilemparkan dalam wacana yang masih abu-abu, masih butuh klarifikasi. Bang Bisma angkat bicara sambil menepuk-nepuk lutut bang Joni yang sengaja diangkat ke atas kursi panjang, “Amboi Bung, apakah tadi siang saya tak salah lihat ya?, rupanya kawan kita ini, kawan calon manager bank ini, sudah ambil start duluan ternyata.” Bang Joni langsung menyambar bagai bensin mencium api, “Apa yang telah terjadi Bung?.” Lalu bang Bisma bercerita bahwa tadi siang, waktu dia makan di kantin kampus, dia melihat bang Erlan makan bersama seorang perempuan, yang kalau dalam pandangan bang Bisma, perempuan itu bukan hanya teman, tapi teman kuadrat, artinya sudah setara dengan pangkat ranger pink yang sering dia rindukan lewat lagu Mocca. Tafsir sederhananya, bang Erlan divonis telah punya pacar. Dan bang Erlan hanya senyum kecil saja sambil menghembuskan asap cigarette yang kemudian menyesaki warung kopi.


“Ente tahu siapa perempuan itu bung?,” bang Joni geleng kepala, lalu bang Bisma bicara lagi, “Dia tak lain adalah kawan satu program studi dengan saya bung, anak Teknik Sipil. Kagum saya pada pergerakan bung Erlan ini, tak pernah saya lihat dia nongkrong di gedung saya, tapi tiba-tiba sudah berhasil menawan seorang ranger pink made in Teknik Sipil.” Bang Erlan tak bergeming, dia tetap tidak berkicau, memang kadang-kadang dia semacam suka tampil cool. “Siapa namanya bung?,” lalu bang Bisma menjawab, “Syafitri”. Wajah bang Joni tiba-tiba sedikit berubah, mungkin ada yang kurang beres dengan nama yang disebutkan oleh bang Bisma tersebut. “Kenapa muka ente jadi berubah begitu bung?,” bang Joni tidak langsung menjawab, tapi hanya menghisap cigarette dan menghembuskan asapnya ke atas. Dan dengarlah ini, bang Joni mulai berkicau, “Bung, nama perempuan seperti ini, menurut saya, adalah nama yang kurang bagus untuk dipanggil.” Bang Bisma mengkerutkan dahi, “Maksud bung?”. Lalu bang Joni berkicau lagi, kali ini cukup panjang, “Coba bung bayangkan, kalau dia dipanggil dengan nama lengkap, dengan nama Syafitri, akan terdengar terlalu panjang dan repot mengucapkannya. Terus misalkan saja dia dipanggi Pipit, oh, ini akan sangat beraroma sawah menjelang panen padi. Dan bung harus ingat, burung pipit itu bertabiat agak oportunis. Waktu padi masih hijau dan buahnya masih belum berisi, dia jarang menyatroni padi, tapi ketika padi mulai menguning, dia akan mengganggu para petani, sehingga dia harus ditakut-takuti oleh orang-orangan sawah. Terus kalau sosok manusia tipuan itu sudah tidak membuat mereka takut, terpaksa bapak tani harus berjaga sepanjang hari dengan menarik-narik tali yang dibentangkan sampai ke tengah sawah, oh, pengganggu yang sejati. Lagipula bung, menurut saya, di dunia ini, yang namanya Pipit dan terdengar tidak janggal hanyalah Pipit Senja, itulah dia sang penulis produktif, yang telah melahirkan puluhan bahkan ratusan novel, yang royaltynya dia gunakan untuk membiayai cuci darah yang harus dia lakukan setiap minggu. Bukan main Pipit Senja ini, penyakit yang menggerogotinya tak membuat dia mundur sejengkal pun dari aktivitas menulis.”


“Iya juga ya,” bang Bisma rupanya setuju dengan kicauan bang Joni, tapi kemudian bang Bisma berkata lagi, “Tapi bung, bukankah dia juga bisa dipanggil Syasya atau Sasa, atau mungkin Riri?.” Demi mendengar perkataan bang Bisma, bang Joni langsung tertawa keras dan terdengar nikmat betul. Setelah tawanya reda, dia langsung berkicau lagi, “Bung..bung…, kalau dia dipanggil Syasya, akan terdengar terlalu mendesis, persis seperti suara orang sedang mengusir ayam. Kalau dia dipanggil Sasa, apakah bung tidak ingat dengan merek dagang sebuah pruduk MSG?, ah, akan buruk terdengarnya bung. Dan apa satu lagi, Riri?, ah ini juga berat, sebab yang pantas dipanggil Riri, di kolong langit ini hanya dua orang; DJ Riri dan Riri Riza.


Bang Bisma belum menyerah, dia lemparkan lagi alternatif terakhir, “Kenapa dari tidak kita susah-susah mencari nama panggilannya, bukankah dia bisa dipanggil Fitri?!.” Tapi bang Joni ternyata tidak tinggal diam, dia mengelus dadanya lalu menepuk bahu bang Bisma, “Bung, janganlah kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mendukung sinetron bersekuel-sekuel yang membuat perut kita mulas, apakah bung lupa dengan sinetron Cinta Fitri?, saya kira, cukuplah perut kita saja yang dibikin mulas, jangan kita tularkan juga pada nama panggilan girlfriend-nya bung Erlan ini.”


Dari tadi, dari semenjak bang Bisma dan bang Joni asyik membahas nama panggilkan Syafitri, bang Erlan tak mengeluarkan komentar sedikit pun, dia tetap terlihat syahdu dengan kopi hitam dan cigarette kreteknya, dan saya tetap pura-pura fokus pada susu panas cap bendera, dan di luar, malam semakin gelap dan udara masih lembab, dingin mulai berkuasa. Kemudian terdengarlah lagi sebuah kicauan, “Bung, saya kira, tak usahlah kita terlampau banyak cakap mengenai nama panggilan ini, lebih baik kita serahkan saja pada bung Erlan, karena dia yang lebih berhak,” demikian kata bang Joni, dia rupanya insyaf, bahwa nama yang tadi dia jelek-jelekkan itu adalah sebuah nama yang sangat berarti bagi kawannya yang agak pendiam, bagi bang Erlan.


Diam. Tak ada suara. Bang Erlan tidak merespon perkataan bang Joni. Dia hanya tersenyum kecil. Dua orang kawannya kembali bertanya, “Siapa panggilan bung?, bagaimana kau bisa memanggilnya?’, kata bang Bisma dan bang Joni serempak. Saya memasang kuping dengan awas, menunggu jawaban bang Erlan. Warung kopi masih tersandera aroma kopi dan asap cigarette. Bu Risna duduk di pojok sedang sibuk mengisi TTS, wajahnya belum terlihat ngantuk, maklum saja masih di bawah jam sepuluh malam. Saya fokuskan pandangan pada bang Erlan, dia menghisap cigarettenya yang hampir habis, bara api sudah mendekati bibirnya yang tidak estetik. Akhirnya, setelah meneguk kopinya yang habis, dan menghisap cigarettenya yang sudah semakin pendek, dia dengan setengah berbisik berkata, “Saya biasa memanggilnya….Bintang Jatuh.” [ ]


itp, 27/2/2011