05 May 2019

Paman Martil (3) - Pramoedya Ananta Toer



Subuh hari jam tiga itu “Mariana Proletar” datang, setelah membangunkannya dengan galah bambu panjang yang dicobloskan melalui lobang pintu.

“Tetanggamu sebelah sana itu sedang duduk mengintip di bawah pohon di depan gang sana.”

Paman Martil meluap mendengar berita itu.

“Hus, jangan pergunakan senjata api. Bagianmu cuma sekitar 100 pelor.”

“Dia akan intip kita.”

“Dia sedang intip kita.”

“Biar aku keluar dari pintu belakang. Biar aku kemplang otak-coronya itu.”

“Ya, kemplang dia, asal jangan sampai mati.”

Paman Martil melompat, meninggalkan rumah dari kamar belakang. “Mariana Proletar” menyanyi memanggil tetangga sebelah sana untuk mendekati pintu dan mengintip. Dan perhitungan itu memang tidak meleset. Sebentar kemudian terdengar batang bambu mendapat landasan batok kepala, dan satu sosok tubuh rubuh sambil melenguh. Barulah “Mariana Proletar” menengok ke belakang sambil tersenyum. Kemudian menghampiri pintu, dan bersama Paman Martil menyeret tubuhnya masuk ke dalam rumah.

“Begini tampangnya coro Belanda,” Paman Martil berbisik.

“Sayang sekali tampang sebagus ini.”

Setelah berunding didapatkan kata sepakat untuk mengantarkan orang pingsan itu ke depan pintu rumahnya sendiri, setelah mengalunginya dengan kardus yang telah ditulisi dengan “Nasib Sarekat Hijau, coro Belanda”. Tubuh itu mereka buat demikian rupa sehingga berdiri tegak bersandar pada pintunya sendiri sambil menghisap rokok kretek. Kalau nanti istrinya menjerit, itulah tanda pintu dibuka, dan tubuh yang belum tentu akan hidup itu akan menjatuhinya.

Kedua-duanya telah mandi keringat.

“Hari hampir siang.”

“Itulah hari kita.”

“Makin banyak orang kita tertangkap.”

“Kita sudah akan bergerak.”

“Kapan?”

“Hati-hati. Kita sudah kebocoran. Pos kita di Gambir telah digulung semuanya. Dua puluh satu orang ditangkap hari kemarin.”

“Misnan tertangkap?”

“Ya, sudah mati tadi sore.”

“Mati?”

“Siapapun akan mati diinjak-injak polisi satu seksi.”

“Kopral Masdi, bagaimana bantuannya?”

“Celaka, Til, seminggu yang lalu dia sudah dipindah ke Malang.”

“Iblis. Bagaimana pimpinan tertinggi kita?”

“Komando sudah diberikan. Jangan tidur malam-malam dalam seminggu ini, Til. Jangan sampai tertangkap. Kau tak usah pergi. Dia akan pingsan dalam seminggu ini, tetanggamu itu.”

“Paman ‘Mariana Proletar!’” salah seorang di antara kedua bocah itu menegur dengan suara masih mengantuk.

“Paman Proletar” melompat, keluar cepat-cepat dari pintu, kemudian menerobosi embun pagi.

Tak lebih dari 17 jam kemudian “Mariana Proletar” mengetuk pintu dan dengan mata terbelalak menyeret Paman Martil yang sedang melamun di atas ambinnya.

“Cepat, ayo.”

Paman Martil melompat, kemudian menyumbat mulut “Mariana Proletar” dan berbisik:

“Ada tiga orang Sarekat Hijau menjaga rumah tetangga sana. Coro itu sudah diangkut ke rumah sakit sepagi.”

“Goblok! Apa kau tak tahu empat rumah sudah terbakar di empat penjuru kota?”

“Ha?”

Cepat-cepat diambilnya Viskers itu dari atas penglari dan dan dimasukkan di dalam kantong celananya.

“Bagaimana anak-anak itu? tanya “Mariana Proletar”.

Tapi sebelum matanya sampai kepada kedua orang bocah itu, mereka telah bangun dan bersiap-siap.

“Barangkali kita takkan kembali kemari, mari berangkat.”

Mereka berangkat memasuki malam, memasuki awalnya hari esok.

“Apa? Anak-anak juga dibawa?”

“Mengapa? Mereka harus juga belajar membenci.”

“Begitu kecil.”

“Mereka telah menanggungkan apa yang kita selama ini tanggungkan.”

“He, anak-anak, kalian mau ikut ke mana?”

Tapi Paman Martil telah lari mendahului mereka.

Kebakaran di empat penjuru malam itu memucatkan langit. Orang-orang kampung keluar belaka dari rumahnya dan menuju tempat kebakaran. Jalan-jalan menjadi ramai. Lonceng pemadam kebakaran antara sebentar membikin udara menjadi kering.

Di satu dua tempat terdengar tembakan pestol.

Rombongan “Mariana Proletar” dan Paman Martil makin lama makin menjadi besar. Beberapa orang yang berjongkok di bawah-bawah pohon jalanan berdiri waktu ia lewat dengan selendang merah terkalung pada lehernya. Mereka mengikuti di belakangnya dengan diam-diam. Ternyata “Mariana Proletar” seorang pemimpin penyerangan di daerah Kota.

“Martilnya kau bawa?” ia tanya pada Paman Martil.

“Milikku cuma dua, kan? Kau tahu sendiri: impian hancurkan Belanda dan martil.”

“Sudah seribu kali aku dengar.”

“Untuk apa kau tanyakan?”

“Lebih baik kau ikut dengan rombongan lain. Kita harus bareng menyerang. Hancurkan kantor tilpun Kota.”

“Berapa orang bersama aku?”

“Empat puluh.”

“Mariana Proletar” memberikan kepada Paman Martil tiga buah mercun celurut. Kemudian berbisik:

“Kau bawa geretan?”

Paman Martil berdehem sebagai jawaban.

“Bakar semuanya kalau kau telah hancurkan pesawatnya. Nah, berangkatlah dulu.”

Bondongan orang menuju ke jurusan-jurusan kebakaran yang belum juga reda. Dan bondongan Paman Martil bergegas menuju ke arah kantor tilpun Kota. Dua bocah, yang tak ketahuan siapa rahim yang melahirkannya itu, menguntit di belakangnya.

Rombongan itu memasuki pekarangan kantor tilpun. Tidak dijaga. Seorang opas duduk menghadapi cangkir kopi pada meja jaga. Melihat orang banyak datang ia tertawa girang dan berseru:

“Wah di sini nggak ada kebakaran, Mang. Sana, sana,” ia menunjuk sekena-kenanya. Tapi waktu ia melihat wajah orang-orang yang mendatangi itu begitu bersungguh-sungguh ia terdiam.

Seseorang mengambil cangkir kopi dan melemparkannya pada mukanya.

“Tuan lu ada?” seseorang meraung.

Opas itu menggigil:

“Kagak ada,” jawabnya.

“Siapa yang ada?”

“Cuma tuan-tuan telefonis dan mandor kantor,” dengan suara terus menggigil.

“Ayo, maju di depan, antarkan kami padanya.”

Dengan kaki goyah opas itu berjalan di depan, menaiki jenjang dan memasuki ruangan wisselbord. Paman Martil berteriak:

“Semua yang di sini berdiri!”

Melihat orang begitu banyak masuk dengan sikap mengancam, beberapa orang telefonis berdiri menggigil. Seorang pensiunan serdadu, berkumis bapang terpilin ke atas, memaki dari sebuah pojokan:

“Apa ini? Bandit-bandit? Ayo pergi, sebelum aku panggilkan polisi.”

“Anjing Belanda!” Paman Martil meraung.

“Lu mau apa?” sambil menghampiri mandor kantor di pojokannya.

Tapi sebentar kemudian Paman Martil meliuk dan menjelempah di lantai geladak loteng. Sebuah tinju telah mengemplangnya tanpa diduga-duga. Waktu ia bangun mandor itu telah menjelampah di geladak yang sama—kena keroyokan 40 orang.

“Babi Belanda!” Paman Martil memaki.

“Stop. Biarkan babi anjing itu. Dengan satu orang masih hidup udara toh takkan habis. Hancurkan semua pesawat!”

Dengan kursi, dengan segala benda yang bisa dipergunakan alat-alat kantor tilpun itu pun dirusakkan. kabel-kabel dibetot. Di sana-sini nampak percikan api listrik. Dan gedebak-gedebuk 40 orang di atas geladak loteng itu nampak begitu mawut di bawah listrik laksana kemidi putar.

“Ada polisi datang!!” si bocah berteriak.

Gedebak-gedebuk tiba-tiba berhenti. Mantor kantor yang tak dapat berdiri lagi karena patah sebelah kakinya itu melirik ke kiri dan ke kanan sambil mengerang. Semua orang menuju ke jendela, dan dengan mata curiga menembusi jarak di depan kantor yang remang-remang diterangi lampu jalanan.

Benar. Seorang polisi sedang lewat mengayuh sepedanya. Dengan sendirinya saja dari setiap jendela yang menghadap jalan dimuntahkan peluru. Waktu polisi itu meliuk kemudian jatuh dari sepedanya, semua orang sorak. Tapi polisi itu tidak mati. Ia merangkak-rangkak, terlindung oleh pepohonan dan kaki lima, kemudian hilang dari pemandangan.

Segera orang meninggalkan jendela waktu terdengar mandor itu mengejek keras di antara keluhannya:

“Kalian mau berontak rupanya. Perang macam apa begitu itu?”

Seseorang menginjakkan sandalnya pada mulut bekas serdadu itu, dan untuk waktu yang lama orang itu tak bersuara lagi.

“Pasang mercun!”

“Pasang bendera.”

Mercun pun dipasang, dan sebentar kemudian melesit ke udara meruntun-runtun.

“Mana benderanya?”

“Siapa bawa bendera kita?”

“Mardi. Dia ikut rombongan lain.”

Paman Martil terkejut. Ia ingat bendera belum dibawanya.

“Sialan. Kita menang, bendera tak naik.”

Sekarang mereka melepaskan lelah sambil menyanyi “Saya Mariana Proletar”. Mereka menari dan berjingkrak. Tuan-tuan telefonis duduk di pojokan mengawasi.

“Ada serdadu dataaang!” sekali lagi si bocah berteriak.

 Nyanyian berhenti. Jingkrak dan tari padam.

“Pecahkan kepala anjing-anjing Belanda itu kalau mereka melawan.”

Dari bawah terdengar peluit serdadu ditiup.

“Itu dia serdadu tangsi Kota. Ha, komendan Diemont sendiri yang datang. Biar kita hajar mereka. Jam kantor memukul lagi. Jam 02.30 tepat.”

“Mereka mulai mengepung,” seseorang memberitakan.

“Biar saja. Kita juga punya senjata api. Sama-sama punya. Biar saja.”

“Matikan listrik!” Paman Martil memberi perintah.

Dalam sekejap mata itu juga listrik padam.

“Dua puluh orang turun ke bawah. Bunuh semua yang mencoba masuk. Hemat-hemat dengan pelor kalian,” sekali lagi Paman Martil memberi perintah.

Dengan sendirinya separoh dari pasukan itu pun turun ke bawah.

“Siapa yang pakai pakaian putih-putih di depan Diemont itu? Ha? Residen Betawi sendiri? Terhormat betul kita nih!”

Residen J. Ch. de Bergh itu maju ke depan. Dengan kedua belah tangan dicorongkan ia berteriak-teriak parau:

“Turun! Turun semua kowe! Serahkan golok kowe orang!”

Paman Martil sengaja tertawa terbahak-bahak. Semua pun mengikuti tertawa terbahak-bahak.

“Ikut prentah tidak? Tidak ikut, serdadu tembak, ya? Turun lekas!”

“Tembak saja, tembak saja,” orang-orang berseru-seru.

Para serdadu dari tangsi Kota telah mulai mengepung dengan senapan tertuju ke kantor tilpun. Komandan Diemont terdengar memberikan perintah: “Vuuur!”

Senapan dari bawah berjederon, dan peluru berhamburan menghantami tembok kantor tilpun. Pasukan Paman Martil bersorak dan membalas tembakan itu dengan tembakan pestol, revolver, dan parabellum.

Dalam rembang caya lampu jalanan nampak beberapa orang serdadu sempoyongan, dan kepungan itu pun pecah berantakan. Berkali-kali peluit ditiup di bawah sana. Beberapa orang serdadu digotong, dan akhirnya semua serdadu ditarik ke gedung Chartered Bank, tepat di seberang kantor tilpun Kota.

“Mestinya bank itu juga kita serbu.”

Tembak-menembak telah berhenti. Tetapi dari suatu jarak—pastilah itu dari sekitar penjara Glodok—tembak-menembak terdengar riuh. Caya merah yang dipancarkan oleh api kebakaran telah lama padam.

Seorang kepala panas—nampaknya seorang agen polisi yang kepingin dapat bintang tanjung dari Belanda—seorang diri menyerbu ke halaman kantor tilpun.

“Babi itu minta dibikin tertib rupanya,” seseorang menggerutu.

Paman Martil mengeluarkan martil dari balik kemejanya. tapi martil itu kemudian dimasukkannya kembali.

“Biar dia sampai di depan pintu. Sediakan kursi. Jatuhi dia dengan kursi!”

Dan waktu polisi yang nampaknya tak tahan hidup tanpa bintang tanjung itu sampai di depan pintu kantor, sebuah kursi jati berat tepat mengenai bahunya, dan meliuk ia tak bangun lagi. Seseorang nampak keluar dari kantor dan menghantamkan batu pada kepalanya. Mungkin ia tidak akan bangun untuk selama-lamanya.

Satu jam telah lewat. Serdadu-serdadu di seberang sana, di gedung Chartered Bank, berkelap-kelip mengawasi kantor tilpun.

“Ayo maju!!” pasukan pendudukan kantor tilpun itu berseru-seru menantang.

Nampaknya serdadu-serdadu di sana itu tak tahan terkena provokasi, kemudian menyerbu kembali. Mereka mendekat dan kian mendekat. Waktu sudah dekat benar orang pun mulai menembak. Ternyata lebih separoh dari senjata pasukan pendudukan sudah kehabisan pelor. Mereka yang ada di bawah mulai menembaki para serdadu. Yang kehabisan pelor melempar-lemparkan barang apa saja. Beberapa orang serdadu menjelampah lagi, dan mereka mundur lagi.

Waktu sejam lagi keadaan tenang, langit telah mulai memucat. Paman Martil mulai menjadi bimbang, apa akan jadinya 3 jam kemudian kalau hari menjadi siang? Ia memerintahkan untuk siap-siap turun dari sebelah belakang melalui tali. Ia memberi perintah mencari tali di gudang. Dan tali untuk turun dari jendela belakang itu pun disediakan.

“Tantang lagi mereka,” Paman Martil memberi perintah.

“Serdadu apa itu!” seseorang memulai.

“Serdadu? Uh, beraninya cuma sama ayam orang kampung. Ayo maju!”

Terkena kembali oleh provokasi, serdadu-serdadu itu maju lagi. Tembakan yang menyambutnya semakin berkurang. Lebih banyak barang-barang yang beterbangan. Dan waktu barang-barang untuk dilemparkan habis, seseorang terdengar mengeluh:

“Tidak punya peluru lagi kita.”

“Lemparkan botol penghabisan.”

“Sudah habis.”

“Lemparkan mandor kantor tilpun itu.”

Dan mandor yang sudah tak bisa bicara itu pun diangkat beramai-ramai dengan aba-aba. Sebentar kemudian orang celaka itu telah melompati jendela loteng tanpa semaunya sendiri, melayang sebentar di udara, dan dan jatuh menindih kaki seorang serdsan.

“Turun cepat!”

Semua orang memerosotkan diri dengan tambang, lari berantakan menyeberangi kali yang dingin dan hitam. Juga dua bocah pengikut Paman Martil. Juga Paman Martil sendiri. Mereka lari dan lari. Mereka lari tak tahu ke mana harus pergi. Akhirnya pasukan itu bubar sendiri. Yang tertinggal adalah Paman Martil dan kedua orang bocahnya.  

(BERSAMBUNG)

15 January 2019

Senja Pegunungan


"Pusat telaga tidak lagi dihajar angin
Hutan sepi sudah dari riuh dewa-dewa
Menari hati pun dingin
Sedang gunung-gunung jingga cemas
Menemu kelam kesangsian malam
Elang mencoba masih mengejar matahari
Dan antara gunung, telaga, dan matahari
Lari terurai tanya abadi"

--Sitor Situmorang

31 October 2018

Haji Empan



Dalam waktu beberapa minggu, kabar duka datang berturut-turut dari kampung. Belum lama Gajih, kawan saya sejak SD pergi selama-lamanya, kini giliran Haji Empan yang meninggal. Paman berkabar lewat WA.

Haji Empan masih saudara. Saudara jauh barangkali. Istrinya adalah sepupu mama. Para orangtua mungkin saja merasa sebagai saudara dekat, tapi bagi saya sebagai generasi yang lebih muda, hal-hal seperti itu terasa kurang sebagai sebuah pengalaman. Saya mengingat Haji Empan justru lewat mesin fotocopy.

Dulu, setahu saya, Haji Empan adalah orang pertama di kampung yang mempunyai mesin pengganda itu. Sedari SD, bapak yang seorang guru sering menyuruh saya memfotocopy pelbagai teks yang terkait dengan pekerjaannya.

Jarak rumah dengan warung fotocopy Haji Empan kira-kira satu kilometer. Saya mencapainya dengan berjalan kaki. Pernah juga memakai sepeda saat sepeda tua warisan kakak pertama diperbaiki dengan jok yang tetap dibiarkan terbuka tanpa alas busa, hanya per besi yang kerap mengganggu bokong.

Karena satu-satunya, maka di tempat forocopy itu kerap bertemu dengan guru-guru yang hendak memperbanyak teks-teks entah. Sebagai bocah, saya cukup tersiksa dengan tipe warung Haji Empan, sebab tak satu pun menjual makanan ataupun minuman. Ya, selain jasa fotocopy, warung tersebut hanya menjual alat tulis kantor dan beberapa perlengkapan otomotif.

Kalau sedang mengantri, saya duduk pada sebuah bangku di depan warung yang menghadap jalan, dan di baliknya tampak bukit. Orang-orang menyebutnya Pasir (bukit) Pogor. Di sesela gangguan suara motor dan mobil yang melintas, saya selalu membayangkan rumah Mang Sanud yang berada di bukit itu.

Mang Sanud adalah kawan sejalan Mang Supri yang kedua merupakan petugas kebersihan alias pengangkut sampah legendaris di kampung saya. Mang Sanud perawakannya bongkok, sedangkan Mang Supri tegap. Keduanya perokok. Hanya saja rokok Mang Supri agak menyeramkan, sebab beraroma kemenyan.

Saat saya membayangkan rumah Mang Sanud yang berada di Pasir Pogor dan antrian telah habis, Haji Empan selalu membuyarkan lamunan.

“Cép, badé motokopi naon?” ujarnya.    

Saya pun terperanjat.

Selain mesin fotocopy, tersedia juga mesin laminating tempat orang-orang melapisi KTP, Ijazah, NEM, dan lain-lain dengan plastik yang direkatkan secara kencang. Bapak pun melakukan hal yang sama.

Kini Haji Empan telah tiada. Juga Mang Sanud dan Mang Supri. Yang masih tersisa hanya kenangan. (irf)      

17 October 2018

Gajih Telah Pergi



Sekolah kami berhadap-hadapan. Saya di SDN Jampangkulon 2, dia di SDN Jampangkulon 4. Kedua sekolah ini pernah terlibat pertikaian gara-gara sepakbola di halaman kedua bangunan sekolah yang memanjang. Genteng banyak yang pecah dihajar bola. 

Guru menghukum kami dengan mewajibkan mengganti genteng yang pecah itu dari rumah. Maka pagi-pagi sejumlah anak SD seperti tukang bangunan karena masing-masing menjingjing genteng.

Salah seorang “musuh” saya yang sekolah di SDN Jampangkulon 4 adalah Dudi yang biasa saya panggil dengan sebutan “Gajih” karena badannya gempal. Gajih adalah lemak sapi yang kerap dijadikan campuran nasi goreng. Sementara dia memanggil saya “Areng” yang artinya arang karena kulit saya hitam dan badan kering meranggas.

Saya tidak tahu, entah mulai kapan kami jadi akrab. Waktu terjadi “perang” bola pun sebenarnya kami sudah berkawan. Agak aneh sebetulnya, sebab kami tidak pernah satu sekolah, dari SD sampai SMA, bahkan pilihan sekolah agama pada sore hari pun tidak pernah sama.

Kiranya kami berkawan dari saling ejek, saling mengolok-olok. Tapi kalau ketemu, sejak kecil, kami akrab, bercanda saling tukar tawa. Dia hampir seumur hidup tinggal di kampung, orangtuanya salah satu orang berada di desa kami. Setelah dewasa ia menikah dengan seorang kawan saya waktu kelas 6 SD. Mereka berumahtangga dengan disangoni sejumlah toko untuk membiayai hidup.

Saya mulai kelas 1 SMA merantau dan sampai sekarang tak tinggal lagi di kampung. Setiap kali pulang dan melewati rumahnya, lalu kebetulan dia tengah duduk di pinggir jalan, saya selalu berteriak, “Gajih!”

Dalam kendaraan yang terus melaju, terdengar samar ia menjawab, “Heh siah Areng!”

Setahu saya, kata “Gajih” memang hanya dilontarkan oleh saya, begitu juga sebaliknya, kata “Areng” yang ditujukan kepada saya hanya dia seorang yang melontarkannya.

Belakangan, saya dengar dia bergiat di komunitas motor trail di kampung. Kerap menyambangi hutan, pantai, perdesaan, dan tempat-tempat antah berantah lainnya. Selain itu, ia juga aktif di organisasi Pemuda Anshor yang dimotori oleh anak bungsu ajengan yang ditinggal di Kecamatan Cimanggu.

Beberapa tahun ke belakang ia dan istrinya menunaikan ibadah haji. Sepulang dari tanah haram, kawan-kawan yang lain memanggilnya Haji Dudi. Sementara saya tak mengubah panggilan: tetap “Gajih”. Itulah panggilan yang murni, saya kira. Tak ada embel-embel haji di depannya, bahkan nama aslinya pun jarang saya sebut. Ia bagaimana pun adalah kawan saya sejak kecil, dan panggilan-panggilan “aneh” hanya akan membuat kami berjarak.

Selasa, 16 Oktober 2018, Abu, kawan saya sebangku selama sembilan tahun memberi kabar: Haji Dudi meninggal dunia diserang stroke.

“Peuting jam 11 di RS Jampangkulon,” katanya.

Sesaat saya terdiam, mengenang lagi waktu yang tercecer di belakang. Selamat jalan Gajih. (irf)

16 September 2018

Paman Martil (2) - Pramoedya Ananta Toer



Melihat tiga orang yang kuat-cukup makan itu sekaligus Paman Martil menyesali dirinya, karena tidak bersiap-siap dengan pertahanan. Padanya hanya ada sebuah martil.

“He, mengapa diam saja? Kecut?” dan belum sampai ia menghabiskan kata-katanya, dua kali ayunan cambuk karet telah menghamtam  mukanya.

Ia rasai darah asinnya mengalimantang menepi lidahnya. Ia rasai dunia berputar penuh bintik-bintik putih, hijau, putih, ungu yang cemerlang. Dan sebelum ia dapat melihat dengan jelas, tendangan-tendangan sepatu berat telah menghunjam kaki dan punggungnya. Ia rasai segala perasaan yang tidak menyenangkan. Nafasnya terasa macet di dalam kerongkongan, dan kerongkongan itu panas terbakar. Kuning-kuning pancawarna itu kini beterbangan dengan cepat dan berkeliling.

Sarekat Hijau ini sedang mencoba merenggutkan belenggu imperialis dari tanganku,” pikirnya.

Ia rebah di tanah. Pukulan-pukulan itu dirasainya sakit lagi. Dan matanya sudah tidak berguna, tak bisa melihat lagi. Namun dalam rejangan itu ia masih mendengar sayup-sayup:

“Kapok tidak lu jadi komunis? Kapok tidak?”

Ia menelani ludahnya yang asin.

Ia bangun waktu matahari telah tenggelam, tapi ia tak dapat melihat sesuatu pun. Lampu itu tidak menyala, minyak tak ada. Waktu tangannya mulai meraba-raba, ia dapat meraba dua kepala bocah itu merungkupinya. Dan mereka sudah tertidur, tanpa makan sejak pagi.

Waktu ia mendahak dengan keras ia dengar dari depan rumahnya suara tawa, kemudian menyusul komentar:

“Satu-satu,Til!”

Segera ia dapat mengingat suara tetangga di ujung sana yang telah ia martil kakinya.
Anak-anak yang tertidur berbantalkan tubuhnya pada terbangun. Dengan tangannya yang kasar ia usap-usap kepala mereka.

“Mari naik ke ambin, Paman, kami tak kuat mengangkat.”

Paman Martil berdiri, tetapi segera rubuh kembali. Kini ia rasai seluruh anggotanya berdenyut dan menolak disuruh bergerak. Ia tertawa mengejek tubuhnya yang kalah kena pukulan itu:

“Uh-uh, mestinya kau membantu aku, daging, tulang, syaraf. Dalam keadaan begini aku butuh bantuanmu…”

“Kami mencoba membantu, Paman, tapi tak bisa.”

“Uh-uh,” Paman Martil mencoba sekali lagi berdiri. Ia berdiri terhuyung-huyung, kemudian rebah di ambin.

Anak-anak itu menolong menaikkan kakinya ke atas.

“Uh-uh. Tidurlah lagi. Hari ini kita tidak makan,” dan itu bukanlah kata-katanya yang pertama kali.

“Orang situ tadi datang mengambil semua perkakas.”

“Biarlah, memang kepunyaannya.”

“Yang punya rumah datang, bilang, kita harus pergi dari sini.”

“Biarlah, memang dia punya rumah.”

“Paman tak bisa betulkan sepatu lagi sekarang. Kita takkan punya rumah lagi sekarang, Paman.”

“Jangan pikir itu. Apa Paman selalu bilang, belajar baca-tulis yang benar. Sudah bisa belum?”

“Sudah, Paman.”

“Kuncilah pintu depan itu.”

“Mengapa mereka siksa Paman? Apa salah Paman?”

“Salahku? Brrr,” ia tidak meneruskan hanya berkamit-kamit tak nyata kemudian terdiam. Tapi tiba-tiba suaranya meledak-ledak: “Dengar. Selama anjing-anjing Belanda itu masih dilahirkan Tuhan di atas bumi kita, kini kita tidak akan pernah aman. Kita tidak akan pernah aman!” Napasnya terengah-engah.

Ia terdiam lagi waktu telapak tangannya yang kasar itu meraba dada si bocah, dan menangkap detakan jantung bocah itu yang kejar-mengejar.

“Anjing Belanda.”

“Ya. Anjing Belanda. Cepat-cepatlah pandai, bukan pandai dari Belanda, jadilah pandai, belajarlah dari bumi ini dari orang-orang yang mencintai kita, dari orang-orang yang melawan anjing-anjing Belanda. Uh-uh, tak tahu aku apa mesti bilang.”

Dalam waktu sebulan berjalan itu hampir saban hari pemilik rumah datang untuk mengusirnya. Paling akhir Paman Martil mengeluarkan martilnya dan mengayun-ngayunkannya di mata pemilik rumah. Mengancam:

“Bilanglah sekali lagi! Anjing Belanda keparat. Ayoh bilang, biar kau rasai martil ini menggiling bola matamu yang mata duitan itu!”

Ia lihat pemilik rumah itu menggigil.

“Siapa suruh kau datang kemari buat usir aku?”

Dengan tangan menggigil ia menuding ke arah ujung petak sana.

“Keparat. Orang-orang seperti kau ini bikin dunia jadi neraka saja. Pergi!”

Begitulah dari tukang sepatu Paman Martil merosok menjadi bukan tukang sepatu. Sekarang, sebagai orang rumahan ini terancam menjadi orang gelandangan pula. Kalau di dunia ini tak ada dua orang bocah yang tak ketahuan rahim yang melahirkannya, ia bisa menguli, tinggal di rumah majikan, mendapat makan di sana. Tapi bocah tanpa rahim ini ikut menjadi beban tambahan. Kadang-kadang ia mengutuk rahim yang berkepentingan.

Ia tahu anak-anak itu sekarang mencari makan untuknya. Ia tahu betul anak-anak itu hanya hanya dengan jalan meminta-minta dapat memberinya makan. Ia malu menelan nasi yang dibawa mereka pulang dan disodorkan kepadanya. Tapi dalam sebulan ini kesehatannya belum pulih sama sekali.

Kemudian “Mariana Proletar” datang pada suatu malam sunyi. Anak-anak sudah tidur nyenyak pada waktu itu, dan sekeliling rumah tiada bunyi. Tempat “Mariana Proletar” telah diisi oleh orang lain limabelas hari yang lalu.

“Jadi,” bisik “Mariana Proletar”, “kita jadi berontak.”

Ia mengeluarkan sepucuk Vickers yang telah berisi peluru dengan tidak kurang dari 100 peluru cadangan.

“Nah, ini buat kau. Hati-hati, tunggu kalau isyarat sudah diberikan.”

“Apa isyaratnya?”

“Kalau di empat tempat, empat penjuru, malah hari, ada rumah terbakar, itulah tandanya. Aku akan datang membawa kau.”

Tanpa menunggu jawaban, “Mariana Proletar” melompat pergi ke dalam kegelapan.

Paman Martil terlongok-longok dengan Vickers pada tangannya. Waktu ia menyadari, bahwa di tangannya ada senjata api yang berbahaya segera ia berdiri dan menyembunyikannya di atas kayu penglari. Dan sekarang ia merasa begitu berkecil hati, senjata yang sudah lama diimpikannya itu—ia tak mengerti menggunakannya.

Tak pernah seperti sekarang ini ia merasa begitu tergantung pada “Mariana Proletar”. Tak pernah ia merindukannya seperti sekarang ini.

“Mariana Proletar!” “Mariana Proletar!”

Dan waktu mentari pagi telah memulai dinas hariannya, dan anak-anak telah bangun, ia masih juga timbul tenggelam antara dua perasaan: girang karena telah memiliki impiannya, dan kecil hati karena tidak bisa menggunakannya. Sebentar kemudian timbul geram lama, dendan terhadap mereka yang tekah buang dan bunuhi pemimpin-pemimpinnya. Dahulu aku hanya dengan martil, sekarang dengan senjata api. Aku akan belah jantung mereka dengan peluru! Jangan permainkan kami.

Waktu anak-anak hendak pergi mencari makan untuk hari itu ia kembali menegur:

“Kalian sudah belajar baca-tulis?”

Bocah-bocah itu menghampirinya, dan dengan manja duduk di tanah pada kakinya.
Sebenarnya Paman Martil tak perlu menanyakan lagi. Mereka telah dapat baca-tulis—bocah-bocah di bawah sepuluh tahun itu.

Tapi hari ini semangat Paman begitu tingginya.

“Apa klas kalian?” ia menguji bocah itu.

“Proletar.”

“Betul.”

“Mengapa kita sengsara?”

“Karena diperas Belanda melalui anjing-anjingnya.”

“Tepat.”

“Berani kalian melawan Belanda dan anjing-anjingnya?”

Kedua anak itu terdiam mengawasinya. Dan Paman Martil berbisik hati-hati, seperti mendongengi mereka bagaimana seorang jembel tiba-tiba bisa berubah menjadi pangeran:
“Berani. Bilang: berani! Dengar—hanya dengan melawan, Belanda dan anjing-anjingnya bisa dikalahkan. Hanya dengan melawan, jembel-jembel itu bisa jadi pangeran. Hanya dengan melawan, orang bisa jadi komunis!”

Tiba-tiba ia terdiam, mengawasi kedua bocah yang tak ketahuan rahim siapa yang melahirkannya itu.

“Mengapa kalian terdiam? Ulangi—ha-nya-de-ngan-me-la-wan.”

“Hanya dengan melawan—“

“—kita menang.”

“—kita menang.”

“Bagus. Itu cukup buat hari ini.”

“Tapi dulu kita kalah,” seorang di antaranya memprotes.

Paman Martil tertawa terbahak.

“Kita kalah, katanya,” serunya kemudian. “Kita kalah, kalah melawan Sarekat Hijau. Kalah! Adakah kita lantas jadi Sarekat Hijau karena kalah?” Paman Martil menggeleng-geleng. 

“Tidak. Ibarat kita ini baru lahir, masih bayi, mereka—Belanda dan anjing-anjingnya itu—sudah dewasa, sudah lebih dulu lahir. Tentu saja kita mula-mula kalah, kalah, kalah terus, kalah lagi. Kalau tidak kuat kita tentu sudah lebur. Tapi kita berdiri lagi, melawan lagi, melawan lagi, melawan lagi. Akhirnya mereka menjadi lemah karena kita melawan terus, tapi kita menjadi kuat karena melawan terus. Dengan melawan… dengan melawan…” 

Paman Martil terdiam. Dengan pandang kosong ia mengawasi lobang pintu.

Ya, ia terkenang pada Karta. Dia sudah coba membuat lagu itu: Dengan melawan, dengan melawan. Ah, tukang kaleng itu. Belum lagi dua baris lagunya selesai, sebutir peluru telah menembusi pinggangnya dan menerobosi jantungnya. Setengah tahun yang lalu, waktu dia membuka pidato propaganda di stasiun Senen, di bawah gerbong. Tukang kaleng itu yang telah mendidiknya, menggemblengnya, mengajarinya, dan menjadikannya kader komunis.

Dan ia mau gembleng dua bocah itu untuk setia pada klasnya, untuk mengenal musuh-musuhnya, untuk mencintai lawan-lawan musuhnya.

(BERSAMBUNG)