29 December 2019
28 December 2019
Pulang: Tidak Semua Pemuda Jadi Pahlawan
"Tujuh tahun lamanya saya pergi meninggalkan kampung lantaran perang yang meminta. Ketika damai yang diharapkan datang dan saya pulang dengan pengharapan dapat mengerjakan sawah kembali, hati seluruh desa telah berubah dan saya tidak menemukan damai dalam hati sendiri. Alangkah aneh untuk mengetahui kenyataan bahwa ada sesuatu yang lebih menenteramkan hati di dalam peperangan daripada kini."
27 December 2019
Burj Khalifa dan Obsesi Manusia pada Bangunan Tinggi
Burj Khalifa dibangun dengan ambisi serba superlatif. Ia mengingatkan kisah dalam Alkitab tentang Menara Babel.
Pada 4 Januari 2010, tepat hari ini 9 tahun lalu, di
tengah keterpurukan bisnis properti Dubai, Burj Khalifa diresmikan. Menara
tertinggi di dunia ini semula bernama Burj Dubai. Namun, untuk menghormati
Presiden Uni Emirat Arab Syekh Khalifa bin Zayid al-Nahyan, namanya diganti
menjadi Burj Khalifa.
Desainnya merupakan abstraksi dari bunga Hymenocallis, salah satu jenis bunga bakung atau Amaryllidaceae. Menaranya meruncing ke atas, kelopaknya mengupas beberapa bagian, dan akhirnya benang sari baja tunggal menjulang.
Burj Khalifa juga dirancang dengan pengaruh Timur Tengah, menggambarkan pola-pola dan arsitektur tradisional, seperti kisi-kisi jendela mashrabiya yang menyaring sinar matahari gurun.
Ketinggian bangunan yang dikerjakan selama 6 tahun ini lebih dari 828 meter dan memiliki lebih dari 160 lantai. Burj Khalifa dirancang oleh Chicago Skidmore, Owings & Merrill LLP (SOM) dan Adrian Smith FAIA serta Royal Institute of British Architects (RIBA).
Desainnya merupakan abstraksi dari bunga Hymenocallis, salah satu jenis bunga bakung atau Amaryllidaceae. Menaranya meruncing ke atas, kelopaknya mengupas beberapa bagian, dan akhirnya benang sari baja tunggal menjulang.
Burj Khalifa juga dirancang dengan pengaruh Timur Tengah, menggambarkan pola-pola dan arsitektur tradisional, seperti kisi-kisi jendela mashrabiya yang menyaring sinar matahari gurun.
Ketinggian bangunan yang dikerjakan selama 6 tahun ini lebih dari 828 meter dan memiliki lebih dari 160 lantai. Burj Khalifa dirancang oleh Chicago Skidmore, Owings & Merrill LLP (SOM) dan Adrian Smith FAIA serta Royal Institute of British Architects (RIBA).
Kemegahan Superlatif
Saking tingginya, Burj Khalifa mempunyai tiga waktu buka puasa.
Pertama, waktu buka puasa normal sesuai dengan yang berlaku di Dubai, yakni
dari lantai dasar sampai lantai 80. Kedua, dari lantai 81 hingga lantai 150,
dengan penambahan waktu 2 menit. Dan ketiga dari lantai 151 ke atas, penambahan
waktunya tiga menit dari waktu buka puasa normal.
Ini karena setiap ketinggian bertambah 100 meter, waktu magrib juga bertambah 1 menit. Dalam posisi yang semakin tinggi, ufuk terlihat semakin rendah.
Ini karena setiap ketinggian bertambah 100 meter, waktu magrib juga bertambah 1 menit. Dalam posisi yang semakin tinggi, ufuk terlihat semakin rendah.
Selain memiliki tiga waktu buka puasa yang berbeda, Burj
Khalifa menjadi bangunan serba “paling” di dunia: bangunan tertinggi, struktur
berdiri bebas tertinggi, lantai yang ditempati tertinggi, dek observasi luar
ruang tertinggi, dan lift dengan jarak perjalanan terpanjang.
Pada 5 Oktober 2013, New York Times memuat pengalaman Lauren Arnold dan Mike Arnold, pemukim yang tinggal di Burj Khalifa sejak 2011, saat mereka naik ke lantai 123.
“Seolah-olah kami adalah benda tanpa bobot yang mudah diangkat ke udara. Telinga kami menyesuaikan beberapa kali saat melaju dengan kecepatan hampir 60 kaki per detik,” tulis mereka.
Dari lantai 123, saat hari begitu cerah, lewat panel kaca raksasa pemandangan yang terhampar mencapai pantai Iran, Selat Hormuz, dan pergunungan berbatu Oman. Pada sisi lain, terlihat juga Teluk Persia.
Menurut mereka, sangat sulit bagi banyak pengunjung untuk memahami Dubai. Seseorang mesti melihat masa kini dan melampauinya untuk menghargai seperti apa masa depannya.
“Orang perlu memahami dampak nyata dari kota ini untuk mendefinisikan kembali citra diri pribadi dan kolektif orang Emirat, orang Arab, dan penduduk internasional,” imbuhnya.
Burj Khalifa yang menampilkan kemegahan yang serba superlatif seolah-olah menjadi tonggak masa depan dan masa lalu sekaligus. Ia juga memegang sejumlah rekor yang belum mampu dilampaui bangunan apapun di dunia. Karena itu, menjadi tantangan bagi siapa saja di masa depan untuk melampaui capaiannya.
Pada 5 Oktober 2013, New York Times memuat pengalaman Lauren Arnold dan Mike Arnold, pemukim yang tinggal di Burj Khalifa sejak 2011, saat mereka naik ke lantai 123.
“Seolah-olah kami adalah benda tanpa bobot yang mudah diangkat ke udara. Telinga kami menyesuaikan beberapa kali saat melaju dengan kecepatan hampir 60 kaki per detik,” tulis mereka.
Dari lantai 123, saat hari begitu cerah, lewat panel kaca raksasa pemandangan yang terhampar mencapai pantai Iran, Selat Hormuz, dan pergunungan berbatu Oman. Pada sisi lain, terlihat juga Teluk Persia.
Menurut mereka, sangat sulit bagi banyak pengunjung untuk memahami Dubai. Seseorang mesti melihat masa kini dan melampauinya untuk menghargai seperti apa masa depannya.
“Orang perlu memahami dampak nyata dari kota ini untuk mendefinisikan kembali citra diri pribadi dan kolektif orang Emirat, orang Arab, dan penduduk internasional,” imbuhnya.
Burj Khalifa yang menampilkan kemegahan yang serba superlatif seolah-olah menjadi tonggak masa depan dan masa lalu sekaligus. Ia juga memegang sejumlah rekor yang belum mampu dilampaui bangunan apapun di dunia. Karena itu, menjadi tantangan bagi siapa saja di masa depan untuk melampaui capaiannya.
Keangkuhan
Menara Babel
Jika ditarik ke masa lalu, Burj Khalifa mengingatkan kembali
pada cerita tentang obsesi manusia terhadap ketinggian. Salah satunya adalah
kisah dalam Alkitab tentang Menara Babel.
Peter Atkinson dalam Encyclopedia of The Bible (2011) menyebutkan, kisah menara Babel terdapat dalam Kitab Kejadian tentang orang-orang yang memutuskan untuk membangun sebuah menara yang tinggi sampai ke langit sebagai simbol kekuatan dan kebanggaan.
“Tetapi Allah mengacaubalaukan bahasa mereka sehingga orang-orang tidak dapat lagi mengerti apa yang mereka katakan satu sama lain. Mereka tercerai-berai dalam kebingungan dan hidup di bagian-bagian berbeda dari dunia ini dengan bahasa yang berbeda-beda pula,” imbuhnya.
Kisah ini disebut-sebut sebagai penjelasan tentang asal mula perbedaan bahasa manusia di dunia. Bahkan sekarang, tambah Atkinson, perbedaan bahasa adalah rintangan terbesar bagi orang-orang untuk saling memahami dan hidup bersama dalam damai.
“Dulu semua orang bersatu dan berbahasa yang sama, sekarang tidak. Orang-orang membangun sebuah kota dalam menara, lalu Yahwe (Tuhan) menghukum mereka,” terang Dianne Bergant dan Robert J. Karis dalam Tafsir Alkitab Perjanjian Lama (2002).
Dalam sebuah pameran di British Museum bertajuk “Babylon: Myth and Reality” yang berlangsung pada November 2008-Maret 2009, Menara Babel dihadirkan dalam pelbagai bentuk karya seni.
“[Pameran] Babylon menunjukkan bagaimana kekuatan abadi reputasi kota [Babilonia] dengan semua kekayaannya telah mengilhami karya seni dan imajinasi yang hebat,” tulis siaran pers pameran tersebut.
Jonathan Jones menulis di Guardian bahwa pameran itu menghadirkan Babilonia dalam benaknya sebagai tempat untuk menginspirasi mimpi, kota yang menakutkan sekaligus memesona.
Tentang Menara Babel yang hadir dalam sejumlah karya seni pada pameran tersebut, ia menyebutnya sebagai “menarik untuk melukiskan kisah terhebat yang pernah diceritakan tentang sebuah bangunan”.
Mengutip dari Alkitab, ia menerangkan, keturunan Nuh yang selamat setelah banjir besar memutuskan untuk membangun sebuah kota dan menara yang sangat tinggi, yang puncaknya mencapai “surga”.
Tuhan tidak senang, imbuhnya, karena jika orang dapat melakukan itu, “tidak ada yang dapat ditahan dari mereka”. Tuhan kemudian menghantam keangkuhan mereka, menceraiberaikan dan mengacaukan bahasa mereka.
“Kisah Menara Babel bersemayam di hati tentang bagaimana kita membayangkan arsitektur. Mitos ini melayang di tiap bangunan tinggi. Di balik semua kritik terhadap gedung pencakar langit, mengintai momok Babel, memukul keangkuhannya,” tulis Jones.
Kita belum tahu, apakah momok Babel juga akan memukul keangkuhan Burj Khalifa. (irf)
Ket:
- Tayang pertama kali di tirto.id pada 4 Januari 2019
- Foto: otis.com
25 December 2019
A.S. Dharta dalam Kecamuk Revolusi, Asmara, dan Kemesuman Borjuis
A.S. Dharta adalah sastrawan romantis yang memilih jalur kiri. Pramoedya Ananta Toer menganggap Dharta sebagai guru politiknya.
Kepergian A.S. Dharta pada 7 Februari 2007, tepat hari ini
12 tahun silam, diikuti kisruh obituari tentang dirinya. Harian Pikiran
Rakyat menjadi medan laga. Sepuluh hari setelah hayatnya tumpas,
tulisan Ajip Rosidi muncul.
Menurut Ajip, tulisannya semula berjudul “A.S. Dharta 1923-2007”, tapi diubah redaksi Pikiran Rakyat menjadi “Akhir Hidup Pengarang Lekra”. Tulisannya dingin dan cenderung sinis. Ia secara terbuka menyatakan tidak hormat terhadap A.S. Dharta setelah kasus perselingkuhan yang membuat penyair asal Cibeber, Cianjur tersebut dipecat dari Konstituante dan Lekra.
Rasa tidak hormat itu, menurutnya, terutama dilandasi karena A.S. Dharta menyesali perbuatannya dan meminta ampun kepada partai agar ia diterima kembali menjadi kader.
“Saya sendiri sejak itu tidak bisa menaruh respek kepada Dharta,” tulisnya.
Tak hanya itu, Ajip pun mengisahkan sebuah fragmen saat dirinya bertemu dengan A.S. Dharta di Bandung pada akhir November 1965 atau sebulan setelah peristiwa G30S.
Ia dalam perjalanan pulang dari percetakan Ganaco di Jalan Gereja (sekarang Jalan Peristis Kemerdekaan), sementara A.S. Dharta selesai melapor dari kantor polisi di ujung utara Jalan Braga. Dalam pertemuan itu, imbuh Ajip, A.S. Dharta meminta uang kepadanya, tapi ia tolak.
“Dharta memang cenderung suka meminta uang kalau bertemu walaupun sebenarnya kami tidak begitu akrab,” terangnya.
Pada dua alinea terakhir, Ajip lagi-lagi menunjukkan ketidaksukaannya. Sebulan sebelum A.S. Dharta meninggal, anak penyair itu menelepon Ajip mengabarkan jika bapaknya yang tengah sakit keras ingin dijenguk olehnya. Namun, sampai ajal menjemput, keinginan tersebut tak dipenuhinya.
“[…] tapi dia (A.S. Dharta) sendiri sudah mulai pikun. Cibeber letaknya di luar jalur perjalanan saya sehingga kecil kemungkinan saya dapat memenuhinya. Saya tidak berani berjanji,” begitu alasannya.
Lalu ia pungkasi tulisannya dengan pertanyaan skeptis yang menghubungkan pilihan politik A.S. Dharta dengan alam setelah kematian. Ia menulis, “Tapi mungkin sebagai komunis dia tidak percaya akan adanya alam di balik kematian, sehingga dapatkah saya mengucapkan selamat jalan kepadanya?”
3 Maret 2007, di surat kabar yang sama, Martin Aleida—mantan wartawan Harian Rakjat—menanggapi tulisan itu. Ia menyayangkan Ajip Rosidi yang mengiringi kematian A.S. Dharta dengan tulisan yang menurutnya penuh caci maki.
“Tanpa diperiksa dengan seksama, sehina macam apakah Dharta sehingga dalam kematiannya ini sang istri, anak, dan cucu-cucunya yang belum kering airmata dukanya harus menanggung malu lewat kata-kata yang diumbar oleh budayawan kaliber internasional asal Jawa Barat itu?” tulis Martin.
Tujuh hari kemudian, giliran tulisan Budi Setiyono—editor buku kumpulan esai sastra A.S. Dharta yang bertajuk Kepada Seniman Universal (2010)—hadir ke hadapan pembaca Pikiran Rakyat.
Ia menitikberatkan kiprah A.S. Dharta sebagai sastrawan Sunda. Rachmatullah Ading Affandie—wartawan dan sastrawan Sunda—seperti dikutip Setiyono, menyebut A.S. Dharta sebagai salah satu sosok yang ikut mengembangkan bahasa dan sastra Sunda setelah perang. Ia disejajarkan dengan Achdiat Kartamihardja, Utuy Tatang Sontani, Rusman Sutiasumarga, Rustandi, dan Ajip Rosidi.
“Semestinya pembicaraan tentang karya dan sosok sastrawan Sunda inilah yang kita harapkan dari Ajip Rosidi, dalam pembicaraan soal ‘Akhir Hidup Pengarang Lekra’, sehingga akan lebih memperkaya bahasa dan kesusastraan Sunda,” tulisnya.
Dua “serangan” itu membuat Ajip Rosidi akhirnya menulis ulang. 7 April 2007 tulisannya muncul lagi di Pikiran Rakyat. Setelah menerima surat dari A. Makmur K., kerabat A.S. Dharta, yang mengabarkan bahwa saudaranya itu adalah orang beriman, Ajip kali ini mengakui kesilapannya dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga mendiang atas tulisan obituarinya yang pertama, yang memojokkan A.S. Dharta.
Meski demikian, pada permulaan tulisannya Ajip tetap menyodorkan satu pembelaan. Menurutnya, mengenang hidup orang yang telah meninggal tergantung kepada hubungan yang dikenang dengan yang mengenang.
“Setiap orang niscaya punya kenangan atau anggapan yang berlainan tentang seseorang,” imbuhnya.
Menurut Ajip, tulisannya semula berjudul “A.S. Dharta 1923-2007”, tapi diubah redaksi Pikiran Rakyat menjadi “Akhir Hidup Pengarang Lekra”. Tulisannya dingin dan cenderung sinis. Ia secara terbuka menyatakan tidak hormat terhadap A.S. Dharta setelah kasus perselingkuhan yang membuat penyair asal Cibeber, Cianjur tersebut dipecat dari Konstituante dan Lekra.
Rasa tidak hormat itu, menurutnya, terutama dilandasi karena A.S. Dharta menyesali perbuatannya dan meminta ampun kepada partai agar ia diterima kembali menjadi kader.
“Saya sendiri sejak itu tidak bisa menaruh respek kepada Dharta,” tulisnya.
Tak hanya itu, Ajip pun mengisahkan sebuah fragmen saat dirinya bertemu dengan A.S. Dharta di Bandung pada akhir November 1965 atau sebulan setelah peristiwa G30S.
Ia dalam perjalanan pulang dari percetakan Ganaco di Jalan Gereja (sekarang Jalan Peristis Kemerdekaan), sementara A.S. Dharta selesai melapor dari kantor polisi di ujung utara Jalan Braga. Dalam pertemuan itu, imbuh Ajip, A.S. Dharta meminta uang kepadanya, tapi ia tolak.
“Dharta memang cenderung suka meminta uang kalau bertemu walaupun sebenarnya kami tidak begitu akrab,” terangnya.
Pada dua alinea terakhir, Ajip lagi-lagi menunjukkan ketidaksukaannya. Sebulan sebelum A.S. Dharta meninggal, anak penyair itu menelepon Ajip mengabarkan jika bapaknya yang tengah sakit keras ingin dijenguk olehnya. Namun, sampai ajal menjemput, keinginan tersebut tak dipenuhinya.
“[…] tapi dia (A.S. Dharta) sendiri sudah mulai pikun. Cibeber letaknya di luar jalur perjalanan saya sehingga kecil kemungkinan saya dapat memenuhinya. Saya tidak berani berjanji,” begitu alasannya.
Lalu ia pungkasi tulisannya dengan pertanyaan skeptis yang menghubungkan pilihan politik A.S. Dharta dengan alam setelah kematian. Ia menulis, “Tapi mungkin sebagai komunis dia tidak percaya akan adanya alam di balik kematian, sehingga dapatkah saya mengucapkan selamat jalan kepadanya?”
3 Maret 2007, di surat kabar yang sama, Martin Aleida—mantan wartawan Harian Rakjat—menanggapi tulisan itu. Ia menyayangkan Ajip Rosidi yang mengiringi kematian A.S. Dharta dengan tulisan yang menurutnya penuh caci maki.
“Tanpa diperiksa dengan seksama, sehina macam apakah Dharta sehingga dalam kematiannya ini sang istri, anak, dan cucu-cucunya yang belum kering airmata dukanya harus menanggung malu lewat kata-kata yang diumbar oleh budayawan kaliber internasional asal Jawa Barat itu?” tulis Martin.
Tujuh hari kemudian, giliran tulisan Budi Setiyono—editor buku kumpulan esai sastra A.S. Dharta yang bertajuk Kepada Seniman Universal (2010)—hadir ke hadapan pembaca Pikiran Rakyat.
Ia menitikberatkan kiprah A.S. Dharta sebagai sastrawan Sunda. Rachmatullah Ading Affandie—wartawan dan sastrawan Sunda—seperti dikutip Setiyono, menyebut A.S. Dharta sebagai salah satu sosok yang ikut mengembangkan bahasa dan sastra Sunda setelah perang. Ia disejajarkan dengan Achdiat Kartamihardja, Utuy Tatang Sontani, Rusman Sutiasumarga, Rustandi, dan Ajip Rosidi.
“Semestinya pembicaraan tentang karya dan sosok sastrawan Sunda inilah yang kita harapkan dari Ajip Rosidi, dalam pembicaraan soal ‘Akhir Hidup Pengarang Lekra’, sehingga akan lebih memperkaya bahasa dan kesusastraan Sunda,” tulisnya.
Dua “serangan” itu membuat Ajip Rosidi akhirnya menulis ulang. 7 April 2007 tulisannya muncul lagi di Pikiran Rakyat. Setelah menerima surat dari A. Makmur K., kerabat A.S. Dharta, yang mengabarkan bahwa saudaranya itu adalah orang beriman, Ajip kali ini mengakui kesilapannya dan menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga mendiang atas tulisan obituarinya yang pertama, yang memojokkan A.S. Dharta.
Meski demikian, pada permulaan tulisannya Ajip tetap menyodorkan satu pembelaan. Menurutnya, mengenang hidup orang yang telah meninggal tergantung kepada hubungan yang dikenang dengan yang mengenang.
“Setiap orang niscaya punya kenangan atau anggapan yang berlainan tentang seseorang,” imbuhnya.
Si
Banyak Alias Didikan Digulis
A.S. Dharta lahir pada 7 Maret 1924. Nama kecilnya adalah
Endang Rodji. Pada perjalanannya, nama itu bersulih menjadi Adi Sidharta,
kemudian A.S. Dharta. Sebagai seorang penyair dan penulis, ia juga mempunyai
sejumlah nama pena, yakni Klara Akustia, Kelana Asmara, Jogaswara, Barmara
Putra, dan lain-lain.
Salah satu nama itu, yakni Kelana Asmara, menurut Ajip menunjukkan bahwa A.S. Dharta pada dasarnya adalah orang yang romantis. Nama tersebut sempat digunakan saat ia menulis sajak di majalah Gelombang Zaman yang berkantor di Garut, pimpinan Achdiat K. Mihardja dan Tatang Sastrawiria.
“Kita tahulah kira-kira orangnya bagaimana kalau menggunakan nama seperti itu. Entah Kelana yang mencari asmara, entah Asmara yang berkelana,” tulisnya.
Asrul Sani mengatakan, Klara Akustia diambil dari nama Hongaria. Namun, menurut Ajip pendapat itu keliru, sebab Klara adalah nama panggilan bagi istrinya yang melarikan diri bersama serdadu KNIL ke negeri Belanda. Sementara Akustia, tambahnya, adalah “Akus(e)tia” meski sang istri telah mengkhianatinya.
Keterangan Ajip tersebut agak berlainan dengan yang ditulis Budi Setiyono. Nama asli Klara adalah Aini, pelabuhan hati A.S. Dharta saat cinta remaja mulai mekar. Aini tak disebutkan sebagai istrinya. Dan saat api revolusi berkobar, Aini dikawin paksa oleh tentara Belanda. Artinya, Klara tidak berkhianat tapi karena terpaksa.
Dan nama Jogaswara—entah sesuai dengan alasan A.S. Dharta atau sebaliknya—Ajip melekatkannya dengan nama tokoh dalam kisah Mantri Jero karangan R. Memed Sastrahadiprawira. Ia menebak A.S. Dharta mengagumi Jogaswara yang merupakan ksatria muda yang jujur dan berpegang teguh pada kebenaran.
Menurut Asep Sambodja dalam Asep Sambodja Menulis tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra (2011), nama Jogaswara digunakan A.S. Dharta saat ia menulis esai yang penuh elan bertajuk “Angkatan 45 Sudah Mampus” di Spektra edisi Th. 1, No. 15, 27 Oktober 1949.
Budi Setiyono yang menjadi anak angkat keluarga A.S. Dharta menulis, pada usia enam tahun penyair ini ditinggal wafat oleh ibunya yang bernama Fatimah. Lalu Moh. Usman, ayahnya, menyusul kemudian. Kepergian kedua orang tuanya benar-benar memukulnya.
“Saya seolah terlempar ke neraka,” ujar A.S Dharta kepada Budi Setiyono.
Lebih lanjut ia mengabarkan, jiwa A.S. Dharta bergejolak ketika diangkat anak oleh Okayaman, seorang tokoh pergerakan yang dibuang ke Boven Digul. Ia juga sempat dididik Douwes Dekker saat sekolah di Nationaal Handele Lallegiun (NHL).
Pada masa revolusi, imbuh Setiyono, A.S. Dharta bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang beralamat di Menteng 31. Ia turut bertempur dalam pelbagai palagan. Ia juga aktif dalam sejumlah organisasi dengan memimpin Serikat Buruh Kendaraan Bermotor, Serikat Buruh Batik, dan Serikat Buruh Pelabuhan.
Dalam beberapa esainya yang kemudian dihimpun menjadi buku Kepada Seniman Universal (2010), A.S. Dharta rajin menyeru para sastrawan untuk turut lebur dalam revolusi dan ikut mewarnai arah kehidupan masyarakat. Kata-katanya bergemuruh atau, meminjam ungkapan Wiji Thukul, “berkeringat dan berdesakan mencari jalan”.
Menurutnya, lewat kata-kata, sastrawan wajib berontak terhadap segala yang tak lurus dan menentang segala yang tak adil. Dalam esai bertajuk “Sastrawan di Tengah Api Revolusi” yang memakai nama Purwa Atmadja - Barisan Rakyat, ia menulis:
“[…] dalam detik-detik keadilan seakan sayup-redup membayang dihadang gelombang napas akhir imperealisme… dan kekuatan proletar mendidih-menyusun dalam kanal persatuan kekuatan raksasa, sastrawan turun dari ke-akua-annya, cair membanjir dalam kesadaran murba, serta bergumul memeras air mata jiwa di gelanggang kodratnya.”
“Sastrawan menegakkan tenaga raksasa di hati massa, menempa keyakinan granit di kalbu patriot, memelopori massa ke arah cita yang tinggi murni: bandar humanisme damai bahagia,” imbuhnya.
Maka saat peristiwa Madiun 1948 meletus, A.S. Dharta kecewa terhadap Angkatan 45 yang menurutnya tidak ikut menjadi bagian dalam gelombang sejarah itu. Lewat esai “Angkatan 45 Sudah Mampus”, ia menganggap angkatan itu telah usai dan akan segera berganti oleh angkatan baru yang lebih sempurna dan lebih kuat.
Saat Mochtar Lubis menulis artikel dalam Siasat edisi 4 Desember 1949 yang bertajuk “Hidup, Mati?” ia menanggapinya dalam Spektra edisi Th. 1 No. 27, 27 Februari 1950. Ia menerangkan beberapa poin tentang angkatan 45. Menurutnya angkatan tersebut bukanlah sebuah ideologi, melainkan mata rantai yang menyambungkan angkatan lama dan angkatan baru.
Kritik ia paparkan terhadap angkatan tersebut yang menurutnya terlampau terlena dengan cinta abstrak. Pergerakannya semu dan hanya akan mengklaim apa yang diperjuangkan oleh rakyat dan pemuda progresif.
“Dalam tubuh Angkatan 45 merajalela anasir kelas pertengahan. Mereka senang semboyan-semboyan hampa, asal menggetarkan rasa. Mereka senang dan dengan penuh elan berjuang di tengah massa, selama kelihatan tenaga massa dapat menyelamatkan kepentingan mereka,” tulisnya.
Kenyataan itu membuat A.S. Dharta mengajukan hal baru: “dari agitasi ke organisasi, dari elan keinginan ke energi pelaksanaan”.
Dan enam belas hari sebelum tulisannya itu terbit, dengan memakai nama pena Jogaswara, ia terlebih dahulu menulis sebuah sajak yang ditujukan kepada Chairil Anwar, sosok yang menjadi simbol Angkatan 45:
“Dan engkau mengamuk/berani menghantam, gempur segala/asal ngamuk, asal pukul/pukul! pukul! pukul!/jangan tanya karena apa, untuk apa…
Ach, Chairil!/Mengamuk semata untuk ngamuk/sama dengan mereka peminum candu: Nol Besar!”
Guru Pram yang Terjerat Kemesuman Borjuis
Sekali waktu di bulan Agustus 2001, seperti dituturkan
Koesalah Soebagyo Toer dalam Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (2006),
Pramoedya Ananta Toer dan sejumlah kawannya menghadiri undangan Ajip Rosidi di
rumahnya di kawasan Rawa Bambu, Pasar Minggu. Acara itu dimaksudkan untuk
menyambut kedatangan kawan mereka, yakni Sobron Aidit.
Selesai makan, mereka berbincang. Saat asyik mengisap rokok, Pram tiba-tiba dikejutkan oleh perkataan tuan rumah.
“Pram, aku kecewa sekali. Dalam buku Nyanyi Sunyi itu kau kagumi A.S. Dharta,” ucap Ajip.
“Kemudian aku kecewa sekali!” jawab Pram spontan.
“Semua guru saya mengecewakan saya: A.S. Dharta, H.B. Jassin, Pak Said!” imbuhnya.
“Kalau aku, dari semula nggak bisa menghargai Dharta,” ucap Ajip sambil tertawa.
“Ya, Dharta itu yang narik-narik saya ke politik. Waktu itu saya kan nggak tahu apa-apa. Dia itu yang ngajak-ngajak,” sahut Pram.
Dalam Nyanyi Sunyi Seorang Bisu Jilid 1 (2000), Pram memang menceritakan A.S. Dharta kepada anaknya, Titiek, dalam sebuah surat. Setelah menikah dengan Maemunah Thamrin, pengantin baru itu tak diperbolehkan keluar rumah selama dua minggu. Sementara ia tak punya uang.
“Dan bagiku sendiri merupakan hari-hari yang sangat berat. Padaku sama sekali tidak ada uang. Dan aku malu setengah mati menumpang seperti itu. Dalam waktu semacam itu A.S. Dharta datang menyerahkan buku Mother Gorki,” tulisnya.
“Kau tak ada keberatan toh, menerjemahkan ini?” ucap A.S. Dharta kepadanya.
Pram pun menyanggupinya dan akhirnya mempunyai uang.
Setelah pindah ke sebuah rumah petak yang butut, yang terletak pada tanah yang
miring di dekat sawah, kawan-kawannya menjadi sering berkunjung, terutama A.S.
Dharta.
Episode hidup ini Pram ceritakan juga dalam “Sunyisenyap di Siang Hidup”, sebuah cerita cukup panjang yang dihimpun dalam Menggelinding 1 (2004).
Pram menambahkan, A.S. Dharta banyak membicarakan sejumlah soal yang sebelumnya tak terpikirkan olehnya, sehingga ia mempunyai pandangan baru dalam bidang seni dan sastra.
“Dia yang menerangkan: tidak ada sesuatu bisa terlepas dari persoalan politik. Dengan kata-katanya yang bersemangat disertai hujan tampias dari mulutnya aku dengarkan dia dengan cermat. Aku tak tahu sesuatu tentang politik sebagaimana aku sangka semula,” terangnya.
Entah bagaimana mula kekecewaannya kepada A.S. Dharta, gurunya itu, yang jelas sang guru pernah terpeleset dalam kasus perselingkuhan yang akhirnya membuat ia dipecat dari Konstituante dan Lembaga Kebudayaan Rakyat, di mana ia sebagai pendiri sekaligus sekjen. Dalam autokritiknya, A.S. Dharta menyebut kasus itu dengan istilah “kemesuman borjuis”.
Selain dirinya, kasus serupa juga menjerat S. Sudjojono, pelukis yang juga anggota Konstituante. Berbeda dengan dirinya yang meminta kembali ke partai, S. Sudjojono dalam autobiografinya, Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya (2017), justru memilih keluar dari partai.
“Cinta saya pada Rose (kekasihnya) tidak bisa diputuskan, sebab saya tidak mau jadi orang munafik dan terus-terusan berzinah […] Saya minta keluar, dan mereka boleh mengumumkan: Saya dipecat. Itu terjadi tahun 1958, saya keluar dari partai, dari parlemen, dan dari Lekra. Karier saya sebagai politikus berakhir, saya komplet sepenuhnya bisa melukis,” tulisnya.
Episode hidup ini Pram ceritakan juga dalam “Sunyisenyap di Siang Hidup”, sebuah cerita cukup panjang yang dihimpun dalam Menggelinding 1 (2004).
Pram menambahkan, A.S. Dharta banyak membicarakan sejumlah soal yang sebelumnya tak terpikirkan olehnya, sehingga ia mempunyai pandangan baru dalam bidang seni dan sastra.
“Dia yang menerangkan: tidak ada sesuatu bisa terlepas dari persoalan politik. Dengan kata-katanya yang bersemangat disertai hujan tampias dari mulutnya aku dengarkan dia dengan cermat. Aku tak tahu sesuatu tentang politik sebagaimana aku sangka semula,” terangnya.
Entah bagaimana mula kekecewaannya kepada A.S. Dharta, gurunya itu, yang jelas sang guru pernah terpeleset dalam kasus perselingkuhan yang akhirnya membuat ia dipecat dari Konstituante dan Lembaga Kebudayaan Rakyat, di mana ia sebagai pendiri sekaligus sekjen. Dalam autokritiknya, A.S. Dharta menyebut kasus itu dengan istilah “kemesuman borjuis”.
Selain dirinya, kasus serupa juga menjerat S. Sudjojono, pelukis yang juga anggota Konstituante. Berbeda dengan dirinya yang meminta kembali ke partai, S. Sudjojono dalam autobiografinya, Cerita tentang Saya dan Orang-orang Sekitar Saya (2017), justru memilih keluar dari partai.
“Cinta saya pada Rose (kekasihnya) tidak bisa diputuskan, sebab saya tidak mau jadi orang munafik dan terus-terusan berzinah […] Saya minta keluar, dan mereka boleh mengumumkan: Saya dipecat. Itu terjadi tahun 1958, saya keluar dari partai, dari parlemen, dan dari Lekra. Karier saya sebagai politikus berakhir, saya komplet sepenuhnya bisa melukis,” tulisnya.
Rosihan Anwar, wartawan yang mengaku tidak mengenal A.S. Dharta secara pribadi, menulis dalam Sejarah Kecil Indonesia Jilid 3 (2009), “The time of great passion is over, zaman bergairah dan bersyahwat besar sudah lewat. Selamat jalan, penyair!” (irf)
Ket:
- Tayang pertama kali di tirto.id pada 7 Februari 2019
- Foto: sejarahsosial.org
23 December 2019
Keluarga Cemara dan Novel Arswendo tentang Kebobrokan Keluarga
Selain Keluarga Cemara, Arswendo menulis cerita tentang keluarga dengan plot, situasi, dan konflik yang berbeda-beda.
Film Keluarga Cemara tayang mulai 3
Januari 2019. Kisah yang diangkat dari buku karangan Arswendo Atmowiloto
(selanjutnya di tulis Arswendo) ini mula-mula terbit pada 1981. Pertengahan
1990-an sampai medio 2000-an, cerita ini pernah hadir dalam bentuk sinetron.
Belakangan, sebuah stasiun televisi nasional kembali menayangkannya.
Kehidupan Abah dan keluarganya di pelosok Sukabumi banyak menginspirasi pemirsa. Kejujuran, kerja keras, dan keceriaan seakan-akan jadi penawar kesusahan mereka dalam menjalani hidup yang pas-pasan.
Tak heran jika lagu tema, baik sinetron maupun filmnya, menyebut keluarga sebagai harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara.
Kisah Keluarga Cemara barangkali mewakili definisi keluarga seperti yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Menggelinding 1 (2004): “Lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan”.
Di luar kekurangan harta benda, kehidupan Keluarga Cemara banyak disebut sebagai contoh keluarga Indonesia yang ideal. Namun, tentu saja dalam kehidupan nyata, tak semua keluarga tumbuh seperti Keluarga Cemara.
Kehidupan Abah dan keluarganya di pelosok Sukabumi banyak menginspirasi pemirsa. Kejujuran, kerja keras, dan keceriaan seakan-akan jadi penawar kesusahan mereka dalam menjalani hidup yang pas-pasan.
Tak heran jika lagu tema, baik sinetron maupun filmnya, menyebut keluarga sebagai harta yang paling berharga, istana yang paling indah, puisi yang paling bermakna, dan mutiara tiada tara.
Kisah Keluarga Cemara barangkali mewakili definisi keluarga seperti yang pernah ditulis Pramoedya Ananta Toer dalam Menggelinding 1 (2004): “Lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan istri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan”.
Di luar kekurangan harta benda, kehidupan Keluarga Cemara banyak disebut sebagai contoh keluarga Indonesia yang ideal. Namun, tentu saja dalam kehidupan nyata, tak semua keluarga tumbuh seperti Keluarga Cemara.
Tak
Cuma soal Keluarga Harmonis
Sebagai salah satu pengarang produktif, Arswendo sejatinya
tak hanya menulis tentang keluarga utuh dan harmonis. Ia juga berkisah tentang
pola kehidupan keluarga yang berbeda, dengan tantangan yang beragam.
Dua Ibu misalnya. Buku yang pertama kali terbit pada 1980 ini menceritakan tentang pasangan suami istri yang menampung anak-anak dari keluarga lain. Sang istri oleh anak-anak asuhnya dipanggil “Ibu”.
Ibu membesarkan dan merawat anak-anak. Namun, saat mereka
dewasa, tak jarang ada yang diambil oleh orang tua kandungnya, atau diambil
sebagai istri orang. Bahkan Ibu sempat dituduh tidak mau melepaskan seorang
anak, saat orang tua kandungnya datang untuk mengambilnya.
Adam, anak itu, memilih tetap tinggal bersama Ibu. “Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan menguburkan Ibu,” kata Adam.
Hal serupa diucapkan juga oleh Mamid, anak asuhnya yang lain, “Kalau mungkin aku ingin kawin dengan Ibu. Padanya aku tak pernah sangsi bahwa aku mencintainya, dan padanya aku tak pernah sangsi bahwa ia mencintaiku.”
Meski kisah ini menghamparkan kasih sayang antara Ibu dan anak-anaknya, ada kenyataan lain yang tak bisa ditutupi. Anak-anak yang ditelantarkan orang tua kandungnya, juga ibu yang harus rela kehilangan anak-anak asuhnya satu persatu. Kasih sayang tumbuh justru di tengah renggangnya ikatan keluarga sebagai lembaga resmi.
Sementara dalam Projo dan Brojo yang mula-mula terbit pada 1994, Arswendo menulis kehidupan keluarga dengan begitu rumit. Projo hidup dalam penjara karena terjerat kasus hukum. Sementara Brojo menuju belangsak karena kehilangan pekerjaan.
Meski bukan saudara kandung, wajah mereka mirip. Sangat mirip. Atas peran seorang kepercayaan Projo, Brojo mau berganti peran dengan Projo karena sejumlah uang. Brojo tinggal di penjara, dan Projo bebas di luar.
Masalah timbul karena mereka berdua harus berhadapan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan orang yang mereka gantikan. Brojo menghadapi kekasih gelap Projo, dan Projo menghadapi istri Brojo.
Di luar penjara, Projo mendapati Lil, istrinya, ternyata berselingkuh dengan orang kepercayaannya yang menolong dia untuk bertukar peran dengan Brojo.
Kejadian perselingkuhan ini, juga karena ia tinggal bersama Wisuni, istri Brojo—Wisuni tahu Brojo berganti peran dengan Projo—membuatnya perlahan mulai merasakan kedamaian, dan bisa menerima apa yang terjadi selama ini dalam hidupnya. Projo pun kembali ke penjara.
Adam, anak itu, memilih tetap tinggal bersama Ibu. “Saya akan buktikan bahwa saya tidak akan pernah meninggalkan Ibu. Sampai Ibu mati, saya akan tetap bersama Ibu. Kalau tak ada orang lain, saya yang akan menguburkan Ibu,” kata Adam.
Hal serupa diucapkan juga oleh Mamid, anak asuhnya yang lain, “Kalau mungkin aku ingin kawin dengan Ibu. Padanya aku tak pernah sangsi bahwa aku mencintainya, dan padanya aku tak pernah sangsi bahwa ia mencintaiku.”
Meski kisah ini menghamparkan kasih sayang antara Ibu dan anak-anaknya, ada kenyataan lain yang tak bisa ditutupi. Anak-anak yang ditelantarkan orang tua kandungnya, juga ibu yang harus rela kehilangan anak-anak asuhnya satu persatu. Kasih sayang tumbuh justru di tengah renggangnya ikatan keluarga sebagai lembaga resmi.
Sementara dalam Projo dan Brojo yang mula-mula terbit pada 1994, Arswendo menulis kehidupan keluarga dengan begitu rumit. Projo hidup dalam penjara karena terjerat kasus hukum. Sementara Brojo menuju belangsak karena kehilangan pekerjaan.
Meski bukan saudara kandung, wajah mereka mirip. Sangat mirip. Atas peran seorang kepercayaan Projo, Brojo mau berganti peran dengan Projo karena sejumlah uang. Brojo tinggal di penjara, dan Projo bebas di luar.
Masalah timbul karena mereka berdua harus berhadapan dengan orang-orang yang selama ini dekat dengan orang yang mereka gantikan. Brojo menghadapi kekasih gelap Projo, dan Projo menghadapi istri Brojo.
Di luar penjara, Projo mendapati Lil, istrinya, ternyata berselingkuh dengan orang kepercayaannya yang menolong dia untuk bertukar peran dengan Brojo.
Kejadian perselingkuhan ini, juga karena ia tinggal bersama Wisuni, istri Brojo—Wisuni tahu Brojo berganti peran dengan Projo—membuatnya perlahan mulai merasakan kedamaian, dan bisa menerima apa yang terjadi selama ini dalam hidupnya. Projo pun kembali ke penjara.
Rumitnya kehidupan keluarga juga hadir
dalam 3 Cinta 1 Pria (2008). Kali ini Arswendo menghadirkan
seorang lelaki yang dicintai oleh tiga orang perempuan beda generasi. Bong
namanya. Mula-mula ia jatuh cinta kepada seorang perempuan bernama Keka.
Namun, Bong tak kunjung menikahinya. Keka kemudian menikah dengan laki-laki lain dan mempunyai anak perempuan bernama Keka atau Keka Kecil.
Keka Kecil ternyata jatuh hati juga kepada Bong. Dan lagi-lagi Keka Kecil pun menikah dengan laki-laki lain serta mempunyai anak perempuan bernama Keka Siang.
Keka Siang sebagai generasi ketiga juga jatuh cinta kepada Bong. Sehingga ada tiga Keka dalam hidup Bong yang semuanya mencintainya.
Tak Selamanya "Baik-Baik Saja"
Namun, Bong tak kunjung menikahinya. Keka kemudian menikah dengan laki-laki lain dan mempunyai anak perempuan bernama Keka atau Keka Kecil.
Keka Kecil ternyata jatuh hati juga kepada Bong. Dan lagi-lagi Keka Kecil pun menikah dengan laki-laki lain serta mempunyai anak perempuan bernama Keka Siang.
Keka Siang sebagai generasi ketiga juga jatuh cinta kepada Bong. Sehingga ada tiga Keka dalam hidup Bong yang semuanya mencintainya.
Tak Selamanya "Baik-Baik Saja"
Kasih sayang dari ibu angkat dalam Dua Ibu bisa jadi masih dianggap wajar. Namun, dalam Projo & Brojo, kasih sayang dan kesadaran hidup justru datang dari hubungan yang awalnya direkayasa.
Sementara dalam 3 Cinta 1 Pria, kasih sayang yang tampil justru dalam hubungan-hubungan normal, tapi dilatari riwayat yang di luar kebiasaan. Kisah ini jauh meninggalkan segala hal normatif seperti yang tersaji dalam Keluarga Cemara.
Kisah-kisah keluarga yang tumbuh di luar pandangan normatif ala Arswendo bukan untuk menggugat lembaga pernikahan. Namun, mereka hadir sebagai pandangan alternatif tentang kehidupan keluarga yang tidak selamanya “baik-baik saja”.
Lagi pula, pembaca pun tentu tahu belaka bahwa Keluarga Cemara hanyalah sebuah contoh manis. Di luar itu, kisah keluarga adalah sejumlah bianglala, peristiwa beraneka rasa, yang mau tak mau—seperti ditulis Arswendo—mesti dihadapi. (irf)
Ket:
- Tayang pertama kali di tirto.id pada 4 Januari 2019
- Foto:
Subscribe to:
Posts (Atom)





