31 May 2025

Sripanggung: Merekam Perubahan Zaman dari Perkebunan


Patmah alias Empat adalah seorang kuli kontrak. Seperti ratusan kuli lainnya, setiap pagi mulai pukul 05.00, dia harus segera ke perkebunan teh untuk memetik pucuk. Mereka bergegas melawan udara dingin, sementara embun masih bersemayam di daun-daun.

Empat baru 15 tahun. Selain memetik pucuk teh, dia juga ternyata mahir menembang. Serupa suaranya, wajahnya juga jauh dari kesan buruk. Dia anak pasangan cacah—ibunya kuli di pabrik teh, sementara bapaknya kuli harian di rumah juragan mandor besar perkebunan.

Sekali waktu, Tatang, anak juragan mandor besar yang sekolah di MULO Bandung Jalan Belitung, liburan. Dia yang tengah berjalan di tengah perkebunan teh takjub dengan suara Empat yang berdendang karena disuruh mandor.

Pendek kisah, keduanya berkenalan dan saling jatuh cinta. Ibunya Tatang tentu tak setuju dengan kedekatan anaknya yang jelas-jelas menak dengan Empat yang hanya anak pasangan cacah. Lain itu, seorang penembang kala itu juga dianggap hina. Sekali waktu, dia menjemput anaknya yang tengah berkunjung ke rumah Empat.

“Cécép [Tatang] mah sakola luhur, putra Papih kakasih Juragan Kawasa, turunan ménak, kapan Cécép téh Radén. Naha teu lingsem maké ngawawuhan Si Empat bujang petik jadi doger?” ujarnya.

Tapi cinta tak dapat dicegah. Tatang tetap rajin mengunjungi Empat yang sengaja ia suruh untuk tak memetik teh. Alasannya, hendak belajar menembang. Saat waktu vakansi hampir habis, Tatang kian kerap berkunjung. Hingga suatu hari terjadilah “janji” itu. “Janji” yang digambarkan Tjaraka, sang pengarang, secara sugestif—membangkitkan citra dalam pikiran.

“Jem jempé, taya sora nu kadéngé ka luar bilik, ngan cakcak nu keur nyempod dina pangeret, nyeréngéh nénjo peta lakuna Cép Tatang jeung Nyi Empat,” tulis Tjaraka.

Hal ini diperkuat dengan penggambaran selanjutnya saat Tatang telah pulang, meninggalkan Empat yang kelelahan.

“Panonna katénjo cénghar, tapi masih kénéh lungsé, masih kénéh lesu, leuleus asa dipupul bayu. [...] Balik ti cai, terus ka enggonna deui, angenna seueul, lalendeng, ditumbu ku asa panas tiris, dug ngedeng deui,” imbuh Tjaraka.

Di alam kolonial, juga zaman menak yang melahirkan feodalisme, garis batas norma-norma agama begitu longgar—setidaknya yang digambarkan dalam novel ini. Dijadikan nyai oleh orang Eropa, mayoritas dianggap sebagai sebuah keberuntungan: pandangan yang kiranya dibalut juga oleh rasa takut.  

Alasannya setidaknya dua. Pertama, akan menerima harta benda yang tak lazim dimiliki oleh perempuan cacah pribumi. Kedua, jika punya keturunan, dipercaya akan rupawan.

Maka ketika ibunya Tatang menyampaikan kegelisahannya soal Tatang yang dekat dengan Empat, respons mandor besar (bapaknya Tatang) berbeda. Ia tak khawatir sama sekali. Ini kaitannya dengan garis batas norma-norma agama yang begitu longgar.

“Atuh keun baé ari budakna geulis mah, jeung jamakna ari boga budak lalaki keur mangkat begér mah..., keun baé antep maké dihulag sagala...,” kata bapaknya.

“Kumaha lamun reuneuh?” tanya istrinya.

“Keun baé reuneuh mah. Teu anéh di kontrak mah aya parawan reuneuh, atawa boga anak téh... Tuh Si Saimah, geuning sok ka dieu ngangais budak, jiga sinyoh pan éta budakna téh anak Juragan Anom Borrel... Tuh, Si Kasih nu anyar ngajuru, pan nu ngareuneuhanana teh Anom Hendrik... Saha téh budakma teh?” jawab bapaknya Tatang.

Mendengar jawaban suaminya, ibunya Tatang tercenung. Dia teringat akan polahnya di masa lalu, yang lagi-lagi disampaikan oleh Tjaraka secara sugestif.

“Mamih bengong, olohok mencrong ka Papih. Ras éling kana dirina sorangan, rét deui nénjo ka Papih, inget deui ka Cép Tatang... rupana, dedeg-pangadegna Cép Tatang téh bet jiga Juragan Kawasa,” tulis Tjaraka.

***

Latar waktu Sripanggung meliputi era penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan. Maka itu, perubahan-perubahan sosial dan politik pun setia mengikuti alur kisah. Misalnya, tentang situasi di perkebunan yang berubah, dan stigma terhadap penembang perempuan yang mulai luntur. Seniwati dalam cerita ini mulai mendapat tempat yang terhormat di mata masyarakat.

Dalam penilaian saya, novel ini secara umum cukup memuaskan. Seperti salah satu cerpen Tjaraka yang berjudul “Haturan Agan Nunung Rajainten” yang dihimpun dalam buku Awéwé Dulang Tinandé (2011), pengarang begitu tapis dalam memotret situasi zaman yang tecermin dalam kehidupan sosial sehari-hari.

Kekurangannya hanya satu, dan sayangnya cukup menonjol, yakni Tjaraka tak berani memungkasi kisahnya dengan cara yang “kejam”. Dia seolah hendak menyenangkan semua tokoh yang terlibat di dalamnya.

Dalam pengantar buku ini, Ajip Rosidi juga ternyata sependapat. Dia menyayangkan akhir cerita yang terkesan dibuat-buat.

“...Panutup caritana anu karasa dijieun-jieun teuing nepi ka nimbulkeun kesan murahan,” ungkapnya. [irf]

 

  

27 January 2025

Ziarah ke Makam Pak Tirto

Tak sepeti biasanya, saya baru pulang Sabtu. Lazimnya Kamis atau Jumat sudah kembali ke Sukabumi dengan KA Pangrango. Dari kantor Tirto di Cipete Selatan, saya meluncur sekira pukul 8.00 pagi. Tiba di Stasiun Pasar Minggu, calon penumpang tak begitu ramai. Peron tampak lengang.

Pundak sebelah kanan, juga kiri, bergantian diberati laptop dan baju kotor. Saat itu, memakai travel bag alih-alih ransel adalah keputusan yang patut disesali. Bagaimana tidak, beban jadi tak seimbang, belum lagi saat naik motor, mesti dipegangi agar tak jatuh atau berpindah tangan jika ada tangan jahil yang menyambar.

Penitipan barang di Stasiun Bogor hanya tersedia PopBox, layanan loker pintar yang tak mudah dimanfaatkan oleh generasi milenial. Demikianlah, akhirnya travel bag yang menjadi beban itu saya bawa serta ke TPU Blender, tempat Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dimakamkan ulang.    

“Oh, yang di Kebon Pedes, ya?” tanya pengemudi ojek online.

Motor matik kemudian membelah Kota Bogor yang panas. Setelah melintasi rel kereta api, tujuan kian dekat. Namun, alih-alih menemukan gerbang utama, motor nyatanya masuk TPU Blender lewat belakang, mengikuti petunjuk warga. Beruntung saya menemukan kantor pengelola TPU tersebut.  

“Pak Tirto pahlawan nasional?”

Saya mengiyakan, motor matik kemudian menembus permakaman. Tak lama kemudian bertemu dengan penjual bunga yang mengerutkan dahinya saat ditanya letak makam Tirto.

“Kompleks makam keluarga Dewi Yull,” saya menegaskan. Barulah dia paham dan menunjukkan letaknya.

Saya sudahi duduk di belakang pengemudi ojek dan menyuruhnya kembali, lalu kasih tabik. Nyatanya, saya mesti bertanya kepada tiga orang lagi sampai akhirnya menemukan makam Tirto dalam kompleks berpagar yang dikunci.

Sabtu siang, 11 Januari 2025, Matahari kian membakar, keringat berleleran. Saat mulai duduk di pinggir sebuah pusara, seorang laki-laki paruh baya bertanya hendak ke siapa. Saya sejenak mencerna pertanyaannya. “Hendak ke siapa?” Kok seperti mau menemui orang hidup, padahal ini di pekuburan.

Setelah tahu maksud saya, dia segera pergi memanggil “kuncen”, orang yang memegang kunci kompleks pekuburan keluarga Dewi Yull yang di dalamnya terletak makam Tirto.

Angin pelit berembus. Pusara begitu padat berdempetan. Tak sekali dua saya menginjak kubur. Memang hampir tak ada celah untuk meniti tanah kosong. Tak begitu jauh, terdengar suara motor melintasi permakaman.

Laki-laki setengah baya telah kembali, sementara “kuncen” belum kelihatan batang hidungnya.

“Kemarin-kemarin juga ada yang datang ke sini, alhamdulillah ngasih duit, lumayan buat beli rokok,” ujarnya.

Tak lama “kuncen” datang, membuka gembok, dan mempersilakan saya masuk ke kompleks makam keluarga Dewi Yull. Dari luar kompleks permakaman keluarga Dewi Yull, pusara Sang Pemula terhalang tembok—bangunan yang melindungi beberapa kubur di luar kompleks tersebut. Maka, jika peziarah melongok dari luar pagar, memang akan terlihat jauh dan tak bisa dijangkau.

Tiga kuntum al-Fatihah saya kirimkan, membubung, menabrak dahan pohon kamboja dan terbang ke langit luas. Langit tanah air merdeka yang berderak-derak diterjang gelombang pasang. Gelombang yang meruntuhkan pagar api jurnalistik.

Saat berdoa, seseorang berdiri di balik punggung. Rohman namanya. Dia mengaku berusia 56 tahun. Mulai menjadi perawat makam keluarga Dewi Yull sejak 2006. Pendahulunya telah meninggal digerogoti usia.

Rohman tak banyak tahu tentang Tirto. Termasuk bagaimana kisah “penemuan” makam Tirto di Mangga Dua, Jakarta, hingga akhirnya dimakamkan ulang pada 30 Desember 1973 di TPU Blender, Bogor. Dia justru banyak bercerita tentang keluarganya. Konon, bapaknya seorang keturunan Tionghoa yang dibuang oleh keluarga karena menikah dengan ibunya yang seorang bumiputra.

Di kiri dan kanan pusara Tirto, terdapat makam istri, anak, dan cucunya. Berturut-turut:

·      Rd. Ajusuhaehar Tirto Adhi Soerjo (wafat 3 Juni 1975 dalam usia sekitar 102 tahun karena tanggal lahirnya tidak diketahui) à istri Tirto

·      R.M. Priatman Tirto Adhi Soerjo (lahir 15 Mei 1905-wafat 1982) à anak Tirto

·      R.A. Siti Halimah Priatman Tirto Adhi Soerjo (wafat 1965) à menantu Tirto

·      H. R.M. Soendarjo, SH bin R.M. Priatman Tirto Adhi Soerjo (lahir 20 Agustus 1930-wafat 12 September 1987) à cucu Tirto

·      Hj. Ramie Modjo, SH binti H. Djamil Modjo (lahir 27 November 1935-wafat 23 April 2019) à istri cucu Tirto

Kira-kira setelah waktu berjalan 45 menit, saya pamit. Rohman dan laki-laki paruh baya yang memanggil Rohman di awal cerita ziarah ini—yang sabar menanti, saya kasih uang rokok. Saat hendak memesan ojek online, saya baru sadar ternyata makam Tirto tak jauh dari gerbang utama atau tempat parkir TPU Blender.

Kepada pengendara ojek online yang datang beberapa menit kemudian, saya minta tolong agar rutenya melewati Jalan Tirto Adhi Soerjo atau yang semula bernama Jalan Kesehatan, lokasinya di Kecamatan Tanah Sareal, masih satu kecamatan dengan TPU Blender.

Pada 10 November 2021, Wali Kota Bogor kala itu, Bima Arya Sugiarto, resmi mengganti Jalan Kesehatan menjadi Jalan Tirto Adhi Soerjo atas permohonan Yayasan Priatman untuk Negeri. Muhidin M. Dahlan alis Gus Muh menduga dipilihnya Jalan Kesehatan karena Tirto sempat belajar di STOVIA—Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra.

Sebelum Zuhur, saya telah kembali ke Stasiun Bogor. Pundak kepayahan, matahari kian garang. Karena terlambat pulang ke rumah alias bergeser satu hingga dua hari dari jadwal biasanya, roti unyil dan asinan jadi terlihat pantas dibawa serta. Tapi karena hal itulah kelelahan makin menjadi karena keduanya berada di luar area stasiun.

Sekira pukul 13.10 bokong telah duduk di bangku tunggu. Dan pukul 14.00 KA Pangrango mulai berjalan ke selatan, melintasi Bogor Paledang, Batutulis, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parungkuda, Cibadak, Karangtengah, Cisaat, dan berakhir di Stasiun Sukabumi.

***  

Dua hari kemudian, yakni 13 Januari 2025, karena tidak tahu cerita ihwal pemindahan makam Tirto dari Jakarta ke Bogor, pukul 13.10, lewat DM Instagram, saya mengirim pesan kepada Raden Adjeng Dewi Pudjijati alis Dewi Yull, putri pasangan H. R.M. Soendarjo dan Hj. Ramie Modjo, SH.

Tak kurang, begini pesannya:

 

“Assalamualaikum

Selamat Siang, Bu Dewi

Perkenalkan saya Irfan Teguh, wartawan dari media online Tirto.id. Saya bermaksud untuk menulis ficer/feature tentang Pak Tirto.

Di media kami, tulisan tentang sejarah dan riwayat Pak Tirto, baik sebagai tokoh pers maupun sebagai pahlawan nasional sudah cukup banyak. Hanya saja informasi tentang pemindahan makam Pak Tirto pada 30 Desember 1973 dari Mangga Dua ke Bogor belum banyak kami ketahui.

Maka itu saya hendak mengetahui bagaimana cerita di balik ‘penemuan’ makam Pak Tirto yang wafat pada 1918 dan pemakaman ulangnya di Bogor pada 1973.

Pada Sabtu (11 Januari 2025), saya ziarah ke makam Pak Tirto di TPU Blender dan bertemu dengan Pak Rohman sebagai penjaga makam tersebut. Namun beliau tidak mengetahui persis bagaimana proses pemindahan makam itu.

Saya juga mengunjungi Jalan Kesehatan yang kini telah berganti menjadi Jalan R.M. Tirto Adhi Soejo. Namun lagi-lagi di sekitar ruas jalan tersebut tidak ada yang bisa saya tanya soal riwayat Pak Tirto.

Dengan demikian, kiranya Bu Dewi berkenan, saya bermaksud menimba cerita dan kisah di balik hal-hal yang saya utarakan di atas. Juga dengan ini saya ingin mengonfirmasi apakah betul keturunan dari Pak Tirto dari Boki Fatimah/Prinses Kasiruta di Pulau Bacan memakai marga Sadar Alam atau Sedaralam.

Jawaban dari Ibu Dewi amat berharga bagi saya yang menanti dengan pengharapan yang besar. Terima kasih. Hatur nuhun.”

 

Pesan tak kunjung dibalas. Mengetahui saya sedang menulis tentang Tirto, wapemred melempar satu nomor yang katanya milik Okky, kerabat Tirto, namun tak jelas sebagai apa, entah cucu, buyut, atau yang lain. Omong-omong, wapemred memang pernah terlibat dalam proyek “Seabad Pers Kebangsaan” yang dikomandoi Muhidin M. Dahlan.

Tak banyak tanya, Rabu 22 Januari 2025, saya segera mengirim pesan via WA ke nomor tersebut yang isinya sama seperti yang saya sampaikan ke Dewi Yull via Instagram. Centang satu. Pesan tak juga terkirim. (irf)  

12 October 2024

Moby Dick Rasa Kari Ayam

Sekali waktu, Eka Kurniawan diminta seseorang untuk menyebutkan tiga buku sebagai bekal untuk calon penulis. Eka menjawab, jika calon penulis itu adalah dirinya sendiri sekitar 25 tahun yang lalu, maka ia merekomendasikan buku-buku karya Franz Kafka, Toni Morrison, dan satu lagi antara Moby Dick atau Don Quixote.

“Kafka mah sebenarnya [judulnya] apa aja lah, tapi saya pilih The Castle,” kata Eka.

Moby Dick atau Don Quixote, dua judul ini sangat sering saya dengar, tapi belum kesampaian membacanya. Maka dengan bujet terbatas, meluncurlah saya ke loka pasar hijau, memindai, dan menukar sejumlah rupiah dengan dua buku versi ringkas Moby Dick atau Don Quixote. Empat hari berselang, mereka datang.  

“Takdir Moby Dick di negeri ini tampak mirip novel-novel legendaris lain yang lebih sering disebut daripada dibaca,” tulis Cep Subhan KM dalam pengantarnya.

Alasannya, kata dia, mungkin karena novel ini tebal sehingga belum ada terjemahan lengkapnya dalam bahasa Indonesia. Alasan lanjutannya, pikir saya, barangkali ketebalan itu membuat para penerbit gentar, takut biaya produksi tak sebanding dengan penjualan.

Setelah menyelesaikan Moby Dick versi ringkas dalam sekali duduk, saya yakin bahwa novel ini, tentu dalam versi lengkapnya, menyajikan pertualangan yang dahsyat. Semua material, termasuk plot dan penokohan, juga lanskap cerita, amat menjanjikan: pertualangan, dendam, ikan paus, laut, para penombak, darah, badai, dll.

Perhatikan paragraf pembukanya:   

“Panggil aku Ismail. Mengajar adalah profesiku. Tetapi dari waktu ke waktu, aku merasakan hasrat untuk bertualang. Ketika hasrat itu datang, aku akan meninggalkan ruang kelas dan pergi ke laut. Ketika aku merasa terjatuh, lautan terbuka memiliki sesuatu yang dapat mengangkat kembali semangatku.”

Lalu muncul tokoh Queequeg, si penombak bertato, putra seorang kepala suku yang meninggalkan kampung halamannya untuk melihat dunia. Sukunya tinggal di sebuah tanah yang jauh bernama Aotearoa, yang berartinya “awan putih yang panjang”. Ismail menyebut Queequeg sebagai “raksasa berhati lembut.”

Keduanya bertualang dengan menumpang Kapal Pequod, kapal penangkap paus yang dipimpin Kapten Ahab yang salah satu kakinya buntung dimangsa paus putih alias Moby Dick. Dan atas itulah, dendam kesumatnya menyala sepanjang cerita. Benar-benar bahan cerita yang bagus, bukan?

Para awak kapal lain tak kurang menarik. Ada Starbuck, seorang pria yang kehilangan ayah dan saudara lelakinya di laut. Orang kedua bernama Stubb, seseorang yang tidak suka serius. Lalu ada Flask, dia yang hidup untuk membunuh paus.

Lain itu, ada juga para penombak yang keberadaannya amat penting di kapal pemburu paus. Mereka orang-orang berani, sangat kuat, dengan mata yang jernih dan lengan perkasa. Selain Queequeg, penombak lain bernama Tashtego, seorang Indian Amerika. Dia anggota dari suku New England yang terkenal kuat. Seorang lagi bernama Daggoo asal Afrika. Rekan-rekan Daggoo adalah para pejuang pemberani dari sebuah suku di Afrika.

Sementara penombak pilihan Kapten Ahab adalah seorang pria Arab bernama Fedallah. Dialah si penombak yang bernubuat bahwa dirinya akan mati duluan dan menuntun sang kapten ke dunia selanjutnya.

“Adalah seutas tali, yang akan membunuhmu,” kata Fedallah meramal kematian Sang Kapten.

Moby Dick versi lengkap berisi 135 bab plus epilog. Sementara versi pendek hasil meringkas Janet Lorimer ini hanya berisi 10 bab. Saya membayangkan versi pendek ini ibarat kari ayam, atau soto mie, atau rendang, atau ayam bawang, yang semuanya dalam bentuk mie instan. Sedikit terbayang, mencecap secuil, tapi masih jauh dari wujudnya yang hakiki. [irf]

Selayang Dendang

Belakangan, nyaris setiap tahun, tempat kerja menjadi media partner sejumlah acara musik. Dari Synchronize, Prambanan Jazz, hingga Pestapora. Sejumlah tiket jatah media biasanya digunakan anak-anak mulmed dan sosmed.

Redaksi? Biasanya kami sudah terlalu lelah mengurusi naskah yang berjejal di hampir 15 jam yang dicacah dalam sejumlah sif. Meski demikian, ada juga sesekali reporter yang ikut nonton, biasanya anak muda yang energinya masih penuh meski seharian telah dibantai tenggat.

Editor news hampir bisa dipastikan tak pernah ada yang ikut acara musik. Alasannya cuma dua: tak berminat dan tuntutan keluarga.

Bagi saya, konsep festival barangkali juga berpengaruh untuk terus menunda menyamber tiket-tiket itu. Lagi pula, seumur hidup rasanya baru dua kali saya nonton acara musik. Pertama saat /rif konser di Sukabumi tahun 2000 dalam rangka promosi album Nikmati Aja. Kedua, konser album Roekmana’s Repertoire Tigapagi di De Majestic, Braga, Bandung, tahun 2023.

Kala itu, harga tiket /rif hanya Rp 12.000, seharga rokok Lucky Strike tanpa filter yang biasa dibeli seorang kawan di Jalan Ciwangi, Sukabumi. Konser digelar di sebuah gedung kecil di sisi Lapang Merdeka yang ditutup dengan lagu “Loe Toe Ye”.

Rasa-rasanya, Maggy kala itu masih “segar”, belum terlihat renta seperti Andy, dan masih sangat lincah menggebuk drum. Tapi belakangan karena band ini termasuk salah satu “drunken master”, maka lama-lama Maggy pun terlihat ringkih.

Sedangkan Roekmana’s Repertoire Tigapagi dibandrol dengan harga Rp 200.000, termasuk CD album tersebut sebagai tanda masuk. Artinya saya jadi punya dua CD album itu. Secara keseluruhan konser Tigapagi amat memuaskan, hanya sedikti gangguan kecil saat sejumlah penonton lain di sebelah saya ikut bernyanyi. Bagi saya, lagu-lagu Tigapagi bukan jenis yang layak dinyanyikan bareng-bareng, tapi cukup didengarkan, diresapi, dihayati.

Baru-baru ini, setelah 10 tahun lebih sejak album pertama menetas, Tigapagi akhirnya mengeluarkan album kedua bertajuk Rukiah’s Suites. Temanya masih sekitar 1965 dan Siti Rukiah Kertapati adalah sastrawan serta aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi sayap PKI. Lagu-lagunya pun sepintas masih sama dengan album pertama, harmoni-harmoni yang “Tigapagi banget”.

Album Rukiah’s Suites hanya dicetak dalam bentuk piringan hitam. Ini dikonfirmasi oleh Tigapagi di akun Instagram-nya. Bagi saya dan mungkin mayoritas pendengar yang bisa saja dicap sebagai “rombongan mendang-mending”, hal ini tentu sangat disayangkan. Harga piringan hitam jelas lebih mahal dari cakram padat. Lagi pula tak semua orang punya turntable. Tigapagi sebaiknya tak beranjak menjadi “band mahal dan eksklusif”.

Namun barangkali dalam dua acara musik itu ada juga yang pernah saya hadiri, tapi kemungkinan lupa. Tak apa. Yang cukup saya sesali adalah tak hadir dalam acara dendang sore Semakbelukar di Kineruku pada 2013 saat mereka akhirnya membubarkan diri yang menghancurkan semua alat musiknya. Lalu hanya menyisakan sang vokalis, David Hersya, yang kini mulai aktif lagi membuat sejumlah syair. [irf]


14 September 2024

Puding Telur Bebek

Selasa, sekira pukul 15.45 WIB, koordinator liputan (korlip) sif pagi-siang kirim pesan pendek. Isinya saya harus stop ngedit, rehat dulu, karena katanya selepas Magrib diprediksi akan banjir naskah. Beberapa hari itu memang berita sering menumpuk dari sore menjelang malam.

Saya akhirnya rebahan di kamar. Sementara di ruangan tengah istri menyuapi Daria dengan menu MP ASI hasil daur cipta dari video pendek di TikTok. Bagi orang dewasa, khususnya saya, menunya cukup mengerikan: puding yang dicampur telur bebek. Dari namanya sudah terbayang amisnya.

Awalnya saya tak tahu menu itu. Tapi menjelang Magrib, Daria tiba-tiba muntah. Kira-kira pukul 18.30, saat waktunya saya kembali ke laptop, Daria sudah muntah tiga kali. Saya pikir hanya mual biasa, lagu pula tak enak meninggalkan pekerjaan yang sudah dua jam dijeda.

Tapi saat menyunting satu naskah ekonomi, Daria muntah lagi dan menangis. Isi perutnya sudah cukup banyak terkuras. Ketika naskah hampir rampung diedit, dia lagi-lagi muntah, kini hanya cairan. Saya akhirnya menutup laptop dan segera menghubungi korlip sif sore-malam. Lalu memesan gocar, sementara di luar sudah hujan.

Gocar pertama minta di-cancel karena katanya kejauhan. Kepada pengemudi gocar kedua, saya sampaikan pesan, “Anak saya muntah-muntah.” Dia langsung menjawab, “Siap!”

Sesampainya di RS Hermina, Daria langsung dibawa ke IGD dan muntah-muntah lagi. Sampai akhirnya diinfus, total dia muntah sebanyak sepuluh kali, hingga cairan lambung yang berwarna kuning dan pahit ikut keluar.

Dia sebelumnya tak pernah sakit. Hanya sesekali demam jika habis diberi vaksin imunisasi. Beberapa bulan sempat meraih predikat bayi terlucu se-Baleendah. Jangan heran, memang begitu faktanya.     

Kali ini, pada sakitnya yang pertama, bocah 15 bulan ini punggung lengannya mesti dikoyak jarum infus. Tentu saja dia ngamuk, meski masih dalam tahap wajar. Sebelum tetes pertama air infus masuk ke tubuhnya, wajahnya sudah agak pucat dan lesu, maklum cairan sudah banyak keluar.

Daria dirawat rawat inap dua hari dua malam, di rumah sakit yang pemandangannya langsung ke arah Gunung Gede. Jarum infus sempat lepas karena dia tarik terus. Risikonya mesti disuntik ulang. Dan drama pun berulang. Beruntung setelah itu hingga diperbolehkan pulang oleh dokter semuanya berjalan lancar.

Dua antibiotik cair dibawa sebagai oleh-oleh, menyisakan PR bagaimana caranya membujuk anak mengonsumsi obat lewat mulut. Begitulah jadinya, rangkaian jadwal minum obat diisi dengan pelbagai drama.

Seorang kawan yang juga pejuang MP ASI mengatakan bahwa telur bebek memang tinggi kalorinya dan bagus buat anak. Tapi menurutnya, memasaknya harus sampai matang karena rawan terkena bakteri. Nah, barangkali puding telur bebek itu belum terlalu matang sehingga bakteri menyambar pencernaan dan bertarung melawan sel darah putih.

Namun demikian, itulah perjuangan ibu-ibu yang berkejaran dengan waktu untuk meningkatkan berat badan anaknya. [ ]