Showing posts with label Iran. Show all posts
Showing posts with label Iran. Show all posts

18 October 2013

The Hidden Face of Iran

Di Sukajadi ternyata ada semacam pusat jalan-jalan, pusat belanja buat orang-orang yang punya duit, namanya PVJ, singkatan dari apa itu? : silahkan cari sendiri. Saya juga pernahlah ke sana, di suatu siang yang cukup terik, waktu liburan kerja sedang datang. Saya lihat orang-orang banyak betul yang belanja ini-itu, ada juga yang duduk-duduk manis menikmati minuman dingin di tempat-tempat bagus. Saya jalan sendirian mencari toko buku, tapi tidak tahu letaknya di mana, lalu bertanyalah kepada satpam yang sorot matanya penuh kecurigaan. "Oke pak, terimakasih !", lalu saya turun ke bawah, ke toko buku itu. Amboi, ternyata selain toko buku, di bawah juga sedang ada pameran buku yang sedang berbanyak discount !!. Kemudian saya tenggelam.

Stand-stand penerbit buku berjajar panjang seperti orang sedang antri di ATM. Di setiap stand saya berhenti : lihat-lihat, siapa tahu ada buku yang mantap. Udara dingin setia menyapa, maklum AC berhembus kencang. Seorang ibu membawa semacam keranjang, isinya buku melulu, mungkin jumlahnya sudah sebelas buku, tapi dia masih saja mengaduk-ngaduk buku yang lain. Saya sempat berpikir : mungkin si ibu ini mau jualan buku, mau ambil untung dari selisih penjualan, ah tapi kayaknya gak mungkin. Di sebelahnya ada anak kecil, mungkin anaknya, sebab dia ikut terus ke mana si ibu pergi. Sempat saya dengar dia berucap pada anak kecil itu : "Ayo ade, kamu mau buku yang mana?, ambil aja, mama aja udah ambil dua belas, masa ada belum satu pun". Ampun lur, rakus betul si ibu ini sama buku, kayak beli sayuran aja. Pasti di rumahnya sudah ada perpustakaan, begitu sangkaan saya.

Hari sudah mulai sore, tapi saya belum beli buku satu pun. Setengah stand sudah saya kunjungi, walau pun sambil berdesakan dengan pengunjung yang lain. Banyak betul buku-buku baru, sampai saya pusing harus ambil yang mana, mau ngeborong tidak enak hati, nanti seperti pemborosan kesannya. Lagi pula duit bukan buat beli buku saja, masih ada pos-pos lain yang memerlukan suntikan dana : macam makan-makan dan bayar kostan. Lalu saya datangi satu stand yang menggelar jualannya lesehan alias tidak pake rak, macam orang jual gudeg. Dan bertemulah saya dengan buku itu.

The Hidden Face of Iran adalah catatan perjalanan sebuah keluarga warga Amerika ke jantung kota Iran. Pastilah buku ini terjemahan, karena saya tidak sanggup kalau isinya berbahasa Inggris, payah betul soalnya. Judul aslinya adalah "Searching for Hassan; a journey to the heart of Iran". Saya tidak mau meresensi isinya, karena saya tidak bisa. Tapi isinya lumayan rame, sampai saya sudah khatam dua kali, dan kerap mengutip kata-kata dari buku ini. Sampai seorang kawan sempat berucap : "dasar kau plagiat !!". [ ]

Andaikan Buku itu Sepotong Pizza

Kau tidak perlu tahu, bahwa di Gramedia jalan Merdeka itu ada semacam toko cadangan. Ruangan untuk menampung buku-buku yang nilai penjualannya agak memprihatinkan, alias kurang laku. Sampai nanti akan kau temui ada yang harganya 5 ribu, karena sepertimya main obral begitu saja daripada tidak ada yang membeli. Tapi jangan harap buku-buku karangan Andrea Hirata, Dee, dan Habiburrahman akan nongkrong di sini. Setidaknya untuk saat ini hal itu sulit terwujud, barangkali nanti beberapa tahun ke depan. “Andaikan Buku itu Sepotong Pizza”, saya lihat tengah meringkuk di pojok toko cadangan itu, barangkali dia malu, sebab orang-orang kurang berminat kepadanya. Padahal penulisnya lumayan terkenal, dia pernah menulis buku “Aku Ingin Bunuh Harry Potter” dan “Mengikat Makna” yang konon best seller : Hernowo.

Coba bayangkan, bagaimana kalau buku itu adalah sepotong pizza yang lezat, banyak taburan ini-itu, dan ada toppingnya juga. Tentu kita akan lahap menyantapnya. Begitulah Hernowo menulis buku ini : banyak betul taburan cerita, kata-kata mutiara, pengalaman yang (menurut dia) berharga. Hernowo seperti ingin mengajak para pembacanya untuk masuk ke setapak jalan yang dia lalui, maka bersiasatlah dia dengan mengemas tulisannya semenarik mungkin.

Kalau gak salah dia juga sempat mengutip kata-kata Ali Syariati (penulis Iran) : “Jangan jadikan rumahmu sebagai kandang, yang isinya hanya makanan dan minuman saja. Isi juga dia dengan buku, sebagai makanan ruhanimu. Jika ruhanimu haus, maka kau dapat memenuhinya dari buku-buku itu.” Tapi, bagaimanapun Hernowo bersiasat, buku tetaplah buku : penjualannya dipengaruhi oleh banyak factor, diantaranya selera pembeli dan kondisi keuangan.

Saya sempat membayangkan, bagaimana jadinya kalau judul buku ini diganti : “Andaikan Buku itu Sepotong Bala-bala”, akankah dia menjadi lebih laku?. Ah, jangan banyak melamun kau !. [ ]