Showing posts with label Usep Romli. Show all posts
Showing posts with label Usep Romli. Show all posts

02 December 2020

Buku-buku yang Saya Baca Selama Pandemi 2020 - bagian 2

Angkong Hantu (Rudyard Kipling)

Hanya terdiri dari dua cerpen: Angkong Hantu dan Sebuah Penipuan Bank. Sesuai dengan latar belakang penulisnya yg lahir dan banyak menghabiskan waktunya di India, dua cerpen ini berlatar kehidupan di India.

Cerita pertama tentang seseorang yg terus menerus dihantui kesalahan lewat kehadiran angkong (gerobak/kereta bertenaga manusia) dari dunia gaib. Sementara kisah kedua tentang menunda kematian dengan berbohong: menyenangkan orang yg sekarat agar mampu bertahan, menunda kematiannya hari demi hari.

Bagi saya, Rudyard Kipling amat asing, tak pernah sekalipun mendengar namanya, juga karya-karyanya. Dalam keterangan tentang pengarang di buku tipis ini disebutkan bahwa saat berusia enam tahun ia dibawa pulang ke Inggris dan pada umur 17 tahun kembali ke India.

Konon ia menderita kurang penglihatan. Celakanya, ia kerap tertawa hingga hampir nangis dan dipastikan kacamata tebalnya akan berembun. Barangkali kondisi inilah--menurut informasi di buku ini--yg mendorong ia menulis novel pertamanya yg bercerita tentang kebutaan yg semakin parah.

 

Ibunda (James Joyce)

Terdiri dari empat cerpen James Joyce: Pasar Malam, Adik Perempuan, Eveline, dan Ibunda. Sebagai cerpen yg dijagokan penerbit, buat saya, Ibunda tak begitu menarik, ceritanya mirip sinetron.

Pasar Malam lebih baik, memotret tragedi yg begitu dekat dengan keseharian: tentang keterlambatan, ketololan orang dewasa, dan kekecewaan yg bisa melahirkan dendam.

Alkisah, seorang bocah laki-laki jatuh cinta pada perempuan yg lebih tua dari dirinya. Mulanya, perbedaan usia membuat si bocah malu dan segan untuk mengutarakan ketertarikannya.

"Saat kami hampir bersisian, aku mempercepat langkah dan melewatinya. Terus begitu dari pagi ke pagi. Aku tak pernah bicara padanya. Namun, namanya selalu membuat darahku tersirap," ungkap di bocah.

Namun akhirnya timbul juga keberanian si bocah untuk sekadar bercakap-cakap dengan gadis idamannya. Si perempuan berkata bahwa dirinya suka akan pasar malam, tapi tak bisa pergi karena ada misa. "Jika aku ke sana (pasar malam), akan kubawakan sesuatu untukmu," ujar si bocah.

Dan terjadilah tragedi itu. Pamannya si bocah yg akan memberinya uang pulang terlambat sehingga semuanya menjadi ambyar: sudah larut malam, kereta hampir penghabisan, pasar malam telah berkemas, si bocah hanya menelan kesia-siaan.

"Mataku terbakar oleh air mata kemarahan dan kesakitan," ujarnya.

 

Madiun 1948: PKI Bergerak (Harry A. Poeze)

Merupakan jilid ke-6 dari seri "Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia". Pada jilid ini Tan Malaka sangat minim disebut, dan kisah memang terpusat pada peristiwa di Solo dan Madiun.

Kedatangan Moeso setelah lama mukim di Moskow, ReRa Hatta, keadaan di Solo yg membuat Siliwangi frustasi, penculikan dan pembunuhan para perwira Panembahan Senopati, perseteruan FDR dengan GRR, dll: membuat Solo menjadi wild west.

Komunis terdesak dan memusatkan kekuatan di Madiun. Akibat "provokasi Hatta"--begitu mereka menyebut--perebutan kekuasaan terjadi di Madiun.

Sukarno-Hatta mengirim Siliwangi, juga pasukan Soengkono di Jawa Timur memilih pemerintah. Madiun terjepit. PKI membentuk satu kolone panjang dan melakukan longmars. Basis-basis gerilya di Jawa Timur keteteran karena kehadiran pasukan Soengkono. Kolone itu bertahan kurang lebih dua bulan sebelum akhirnya banyak yg menyerah atau tertangkap dan dieksekusi.

Moeso tewas. Amir Sjarifoeddin, Maroeto Daroesman, Oei Gee Hwat, dll yg berjumlah sebelas orang dibawa ke Ngalihan, sebelah timur Solo. Atas keputusan Gatot Subroto selaku Gubernur Militer, mereka semua dieksekusi.

Dramatis dan brutal!

Poeze melengkapinya dengan pelbagai pandangan politik dan sejarah dari pihak-pihak yg terlibat, historiografi "resmi", historiografi lain, dan pandangan Barat.

 

Locéng Garéja Bérécoli (Adang S)

Adang S. wafat pada Februari 2020. Ia mantan prajurit baret hijau Batalion 330/Kujang I Siliwangi yg sekarang menjadi bagian dari Kostrad. Salah satu karyanya yg cukup terkenal adalah "Ngepung Kahar Muzakar": semacam jurnal dari garis depan penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan.

Buku ini terdiri dari 14 cerpen berbahasa Sunda yg tujuh di antaranya menceritakan kehidupan tentara yg beberapa mungkin diangkat dari pengalamannya sendiri: penugasan di Kongo, pertempuran di Timor Timur, terjun di hutan Papua, terkurung di rawa Kalimantan, dan perang di zaman Jepang.

Dua di antara tujuh cerita tentang kehidupan tentara adalah kisah kasih prajurit yg beda pangkat dan kisah klise tentang percintaan yg putus karena penugasan.

"Sedeng ari atasan téa, wajib dihormat--tur sagala paréntahna wajib dilakonan. Teu meunang henteu. Bongan kuring jadi tentara," batin Mayor Sutrisno dalam cerpen "Tentara Reuneuh" yg jatuh cinta pada Letnan Mulyani, atasannya.

"Teu kungsi lila, si perwira ngora datang deui. Saperti kadatangan ti heula, anyeuna gé panon teu ngiceup. Lantis melong manéhna ti mimiti pipina, biwirna, panonna, bulu panonna, buukna jeung...eusi pésakna! Ari kitu, ari awéwé maké pakéan seragam téh, jiga mésakan buah!" tutur Mayor Sutrisno yg kian tergila-gila pada atasannya.

Tujuh cerita lain yg tak ada kaitannya dengan ketentaraan, beberapa terasa terburu-buru dalam memungkasi kisah, seperti cerpen "Dewi Sinta ti Sunyaruri" dan "Lahar Amarah". Sisanya lumayan ditulis secara sabar.

Adang S. seorang kombatan, petempur, bukan perwira yg sibuk ngurus taktik dan strategi. Karena itu kisah-kisah yg ditulisnya terasa amat nyata menggambarkan situasi di garis depan: ledakan, darah, meregang nyawa, lebaran di rawa, tersangkut di pohon besar hutan Papua, desing peluru, dll.

 

Sanggeus Umur Tunggang Gunung (Usep Romli H.M.)

Usép Romli H.M wafat pada Rabu, 8 Juli 2020 di Limbangan, Garut. Judul buku ini, juga beberapa cerpen di dalamnya terasa pas dengan berita duka ini.

Di lingkaran pertemanan saya yg kecil, mantan wartawan Pikiran Rakyat ini sempat menjadi bahan "guyonan", sebab ia amat produktif menulis di beberapa koran, majalah, dan tabloid berbahasa Sunda dan Indonesia. Kalau di antara kawan ada yg rajin menulis, maka dia akan dipanggil "Pa Usép".

Buat saya, buku kumpulan cerpen ini seperti siniar Simamaung yg oleh salah seorang pendengarnya didengarkan sedikit demi sedikit karena isinya menarik. Khawatir cepat sampai di pengujung.

"Sanggeus Umur Tunggang Gunung" merupakan salah satu dari sembilan cerpen di buku ini. Secara keseluruhan, Usép Romli tampak maras dengan kondisi kiwari: kerusakan alam dalam "Lauk Cimanuk", pergeseran yg sakral menjadi profan dalam "Néangan Pajaratan", laku transaksional antara pengusaha dengan pemerintah yg hanya menyengsarakan rakyat kecil dalam "Tower", kesia-siaan demokrasi karena banyak melahirkan para koruptor pada "Aki Jumli Milu Pemilu", dll.

Sebagai tokoh NU Jabar, ia juga tak jarang menghadirkan sosok ajengan dan santri dalam karyanya, disertai satu dua dalil sebagai penguat. Tak ketinggalan ia juga menyebut gerombolan DI/TII dalam beberapa fragmen sebagai tengara bahwa periode itu amat lekat dengan ingatan warga Jabar.

"Pemilu harita, éstuning keur prihatin. Jaman kacow ku gorombolan. Dua poé saméméh poéan nyolok, lembur Cipalung diduruk. Sapoé sabada nyolok, bagéan Pasanggrahan géhéng. Ngan taya korban jiwa wungkul," tulisnya.

Di pengujung "Néangan Pajaratan", dua alineanya mengingatkan saya pada puisi "Pastoral" Acep Zamzam Noor:

"Maut bukanlah kabut yg mengendap-ngendap/tapi salju/yg berloncatan bagai waktu/dan menyumbat pernapasanmu.

Maut bukanlah kata-kata/tapi doa/yg memancar bagai cahaya surga/dan membakarmu tiba-tiba."

 

Siti Rayati (Moh. Sanoesi)

Perlawanan Haji Hasan dalam Peristiwa Cimareme, Garut, pada 1919 mendorong Moh. Sanoesi menulis dangding berjudul "Garut Génjlong" di surat kabar Pajajaran. Karya itu mengkritik keserakahan Bupati Garut. Warsa 1923, "Siti Rayati" yg menceritakan kelaliman pegawai kontrak (perkebunan) asal Belanda, diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Dachlan Bekti, Bandung.

Steenhart nama orang Belanda itu. Dia baru kehilangan nyai karena meninggal dunia. Sedih belaka, tetapi hanya sebentar, sebab berahinya mendorong dia untuk segera mencari perempuan lain. Steenhart sosok yg kasar dan hampang leungeun, mudah memukul para pekerja pribumi. Yg tertimpa sial adalah Patimah. Buruh pemetik teh itu menjadi sasaran berahi Steenhart selanjutnya.

Penderitaan panjang Patimah seperti paduan antara nasib Nyai Ontosoroh dalam "Bumi Manusia" dengan Laura dalam "Orang-orang Oetimu". Patimah melahirkan dalam perjalanan di sebuah kebun di Desa Cirayati. Anaknya ia tinggalkan dalam kesedihan yg memuncak.

Kelahiran anaknya membuka babak baru penceritaan. Sanoesi membawa pembaca pada masa-masa awal pergerakan nasional saat pendidikan mulai membuka kesadaran pribumi. Pers mulai ditakuti para priyayi karena membongkar borok-boroknya, seperti percakapan ini:

"Pikir baé Ti, ulah gancang-gancang, kolot mah sok tara salah," saur Pangawulaan, "moal enya Titi teu nyaho naon gawéna tukang surat kabar..."

"Kantenan terang mah, éta margina nu mawi abdi teu risi deui."

"Enya tukang ngorék-ngorék jeung ngabongkar kasalahan priyayi."

"Tah éta nu mawi abdi satuju téh, margi di dieu perlu pisan diayaan tukang kitu..."

"Siti Rayati" dianggap sebagai salah satu karya penting dalam literatur Sunda klasik abad ke-20. Keberanian sang pengarang banyak menginspirasi pengarang Sunda lain setelahnya.

Tahun 1926 Moh. Sanoesi dibuang ke Boven Digul, Papua, dan baru dibebaskan pada 1931. Setelah kembali ke Bandung ia kembali aktif di dunia pergerakan dan jurnalistik.

 

Rasiah nu Goréng Patut (Soekria/Joehana)

Gelombang aksi mogok melanda Jawa. Para buruh kereta api tak sudi diupah rendah. 8 Mei 1923, Semaoen ditangkap di Semarang. Oleh pemerintah kolonial, ia dianggap telah menyalakan api protes. Di titimangsa yg sama dengan penangkapan Semaoen, buruh kereta api di Bandung melakukan aksi serupa.

Jika para pentolan ditangkap, mereka yg turut serta dalam pemogokan dipecat. Salah seorang peserta aksi mogok di Bandung adalah Akhmad Basah alias Joehana, pengarang buku ini.

Ia aktif di Sarekat Rakjat dan tercatat sebagai salah seorang pimpinan pengurus cabang Bandung. Istrinya bekerja sebagai guru sekolah dasar yg didirikan organisasi tersebut. Setelah diberhentikan dari jawatan kereta api, ia menulis sejumlah karangan berbentuk roman, cerita pendek, dangding, kumpulan anekdot, dan makalah.

Sebagai seorang yg anti kolonialisme, Joehana tak sudi karangan-karangannya diterbitkan Balai Pustaka, dan memang tak mungkin lolos seleksi. Hal ini membuat karangan-karangannya tidak pernah diperkenalkan dalam pengajaran sastra di sekolah-sekolah.

Dalam "Rasiah nu Goréng Patut"--terbit pertama kali tahun 1928--Joehana menggugat norma-norma kehidupan yg diciptakan oleh manusia-manusia lain dalam lingkungannya.

Meski kisah ini menceritakan kebrengsekan Karnadi (tokoh utamanya), Joehana pada dasarnya hendak membongkar jurang kesetaraan antara orang kaya dan orang miskin. Ia mengkritik lewat tokoh Karnadi yg cukup licin menipu, yg tidak ingin didahului oleh norma-norma baku buatan segelintir pihak.

Meski menulis sejumlah karangan, Joehana tak pernah mengaku diri sebagai pengarang, apalagi sastrawan. Ia lebih senang mengaku sebagai seorang wartawan.

 

Béntang Pasantrén (Usep Romli H.M)

Tak seperti kakak-kakaknya yg meneruskan belajar di sekolah umum, selepas SMP Aép belajar di sebuah pesantren tradisional. Ibu, bapak, dan pamannya mendorong ia agar menjadi kiai sebagai pengganti kakeknya yg dulu pernah mempunyai pesantren.

Aép belajar di pesantren yg dipimpin oleh sahabat kakeknya, yg juga ayah Imas, perempuan yg ia sukai.

"Alhamdulillah! Geuning aya pibakaleun étah. Sugan baé tapak lacak éyangna kapapay. Ka Jombang, ka Buntet, ka Bangkalan. InsyaAlloh, ku Mama dilalanyah. Ditampi ku asta kalih kapercantenan kulawargi Kang Haji ka Mama. Bet asa ararisin...," ucap gurunya saat Aép diantarkan ke pesantren untuk pertama kali.

Perjalanan Aép menuntut ilmu diwarnai pelbagai kejadian di lingkungan belajarnya yg menjadi ciri khas kehidupan pesantren tradisional.

Bagi Aép, Imas sang bintang pesantren ibarat jarak pendek menuju impian dalam "5 Cm" Donny Dhirgantoro. Ia amat dekat, nyata, dan menjadi pelecut bagi dirinya.

 

Surat-surat ti Jepang 1 (Ajip Rosidi)

Juni 1980, atas undangan dari The Japan Foundation, Ajip Rosidi mukim di Jepang selama 6 bulan ditemani istrinya. Mereka tinggal di Iwakura, Kyoto. Rumah mereka terletak di sebuah daerah yg dikelilingi sawah dan pergunungan.

Di sana, Ajip menulis ribuan surat dalam bahasa Indonesia dan Sunda yg ditujukan kepada para koleganya. Surat-surat dalam bahasa Indonesia yg ditulis dari tahun 1980 sampai 2002 dikurasi oleh JJ Rizal dan diterbitkan KPG dengan judul "Yang Datang Telanjang". Sementara surat-surat dalam bahasa Sunda dikurasi oleh Usép Romli H.M. dan diterbitkan oleh Kiblat Buku Utama sebanyak 6 jilid. Buku ini bagian pertamanya yg terdiri dari 30 surat.

Karena ditulis dalam bahasa Sunda dan ditujukan kepada orang yg berbeda-beda, baik secara status sosial maupun kedekatan pergaulan, maka bahasa yg digunakan pun dibalut undak usuk basa yg beragam. Misal, kepada kawan dekatnya seperti Ramadhan K.H., Ajip menyebut dirinya "déwék" (saya) yg terbilang kasar, dan di pengujung cukup hanya menulis "nu tansah sono". Sementara kepada Ilén Surianegara, Ajip menyebut dirinya "abdi", juga di pengujung surat menulis "wasalamna, pun".

Salah satu alasan surat-surat ini dibukukan adalah mendokumentasikan gagasan-gagasan Ajip dalam menegakkan kesusastraan Sunda. "...katangén paéh posona Ajip nanjeurkeun basa jeung sastra Sunda. Éstuning pok-pék-prak. Gagasan. Rarancang, diwujudkeun dina kanyataan. Lain ukur 'mandahong'--mamandapan bari ngabohong--nu mindeng kasaksian dina pakumbuhan sapopoé...," tulis Usep Romli.

Dalam otobiografinya yg bertajuk "Hidup Tanpa Ijazah", salah satu kisah yg kerap muncul dalam buku setebal 1000 halaman lebih itu adalah tentang kawan-kawan dan saudara-saudaranya yg tinggal bersama dalam rentang waktu yg berlainan. Singkatnya Ajip banyak menolong.

Hal itu kemudian dijelaskan Ajip dalam suratnya kepada Sadeli Winantadireja bertanggal 7 Juli 1980: "Ngan sidik boh déwék boh pamajikan ana barangbéré téh lain hayang meuli-meuli atawa aya pangarahan. Istuning clik putih clak hérang tina haté baé."

 

Lembur Singkur (Abdullah Mustappa)

Tidak sulit mendapatkan narasumber yg mengalami peristiwa perlawanan DI/TII di Jawa Barat. Di daerah Bandung selatan misalnya, saya hanya perlu pergi ke warung, pilih warung mana saja semaunya secara acak, memesan kopi, dan menunggu orang tua datang. Atau kalau si pemilik warungnya sudah tua, bisa langsung bertanya kepadanya: apakah dia mengalami zaman gerombolan atau tidak. Jika mengalami, maka mereka biasanya akan mudah menceritakan pengalamannya. Peristiwa ini kiranya telah menjadi pengalaman banyak orang.

Sejumlah pengarang yg menulis karyanya dalam bahasa Sunda banyak yg mengangkat tragedi ini dalam beberapa kisah, di antaranya Ahmad Bakri dalam cerpen "Dokumén" dan Usép Romli H.M. dalam cerpen "Tangkal Buah Pipireun Imah". Juga Abdullah Mustappa dalam roman pendek ini.

"Lembur Singkur" menceritakan tokoh "kuring", bocah yg tak mengenal rupa bapaknya karena bergabung dengan gerombolan. Dia tinggal di kampung bersama ibu dan dua orang kakaknya yg enggan ikut ke hutan bersama kombatan DI/TII. Si bapak kadang pulang ke rumah pada tengah malam dan selalu terburu-buru. Celakanya, setelah kedatangan bapaknya itu, kampung dan markas tentara kerap diserang gerombolan. Akibatnya sang ibu dan kakak-kakaknya disiksa tentara karena dianggap menyembunyikan musuh negara, bapaknya.

Konflik antara pemerintah dengan DI/TII membuat rakyat terjebak dalam penderitaan tak berkesudahan. "Karto vs Karno, yg korban Karta jeung Karna." [irf]

01 September 2020

Usép Romli jeung Modernisasi


Ku: Cecep Burdansyah

Mun nilik lalampahan hirupna, Usép Romli HM (1949-2020)--kang Usép, kitu kuring nyebut ka suargi--lain tipe urang Indonesia sakumaha anu digambarkeun ku Mochtar Lubis dina Manusia Indonesia.

Kang Usép lain tipe jalma anu ngudag-ngudag jabatan jeung lélétak ka dunungan sakumaha karéréanana urang Indonesia dina sawangan Mochtar Lubis. Jadi mun aya nu nyebutkeun Kang Usép mirip Ajip Rosidi atawa Ali Sadikin, merenah waé.

Kaasup jalma langka. Teu kabita ku jabatan jeung ludeung paséa. Poksangna nu matak kayungyun téh deuih.

Da enya langka atuh urang Sunda nu ludeung paséa. Paséana lain dor-dar teu puguh marebutkeun paisan kosong siga tatangga marebutkeun kabogoh, gara-gara budak atawa alatan panasbaran, tapi paséa ideu, kontra pamanggih jeung nu séjén.

Mun Kang Usép tipe héroy ku jabatan, tangtu basa diangkat tina guru SD jadi kepala séksi di Dinas Pendidikan Kebudayaan Provinsi Jawa moal ditinggalkeun. Taun 1980-an mah, jaman Orde Baru ngabibita rayat ku harta jeung jabatan, apan sakitu paboro-borona hayang boga jabatan téh.

Komo deui di lével provinsi. Cacak ukur boga jabatan di Dinas Pendidikan tingkat kacamatan gé, beu, agul jeung adigungna jaman harita, sugan mah raja wé. Pangna apal lantaran pun bapa guru. Keur mah loba babaturan jadi guru deuih. Jadi apal dongéngna kumaha guménakna nu baroga jabatan.

Ku Kang Usép jabatan bergéngsi téh diécagkeun. Der ngablu asruk-asrukan ka pilemburan ngadon jadi wartawan. Tulisan jurnalistikna boca ciri nu mandiri. Haat nulis jalma-jalma leutik anu tagen ngayonan hirup anu pohara beuratna. Jalma-jalma leutik anu henteu gampang ngangluh ku bangbaluh.

Genah jeung betah macana. Di antara tulisan Kang Usép nu napel nepi ka ayeuna, ngeunaan tukang ngaput di sisi jalan. Asana di Pasar Baru, tungtung Jalan ABC. Onjoyna Kang Usép minangka sastrawan, nulis jalma leutik henteu sakadar réportase salancar (liniér), tapi dipiguraan ku émpati. Nepi ka nu maca ngarasa sanasib jeung sakapeurih.

Manakomo mun nyanghareupan lebaran, tulisan Kang Usép beuki remen muncul di Pikiran Rakyat. Hawa lebaran anu paboro-boro balanja baju anyar jadi kontras jeung kahirupan jalma laleutik samodél tukang ngaput téa.

Resep aprak-aprakanana kaanteur sabada remen ngaliput obyék wisata nu dikokolakeun ku Perhutani. Nu inget kénéh, tulisanana ngeunaan uncal di Rancaupas.

Méh saban reportaseuna teu weléh aya poto. Hartina Kang Usép boga kaparigelan motrét ku kaméra analog. Da harita mah can usum digital.

Rada kaharti jalan pikiranana naon sababna resep ngaliput leuweung jeung tempat-tempat anu dikokolakeun ku Perhutani. Basa di paméran buku, di landmark Braga, Kang Usép anu tagogna gagah, jangkung badag, raray mirip-mirip urang India atawa Arab, nyarios pertentang pisan.

"Resep kénéh ngaliput ka daérah mencil sabangsaning Laut Jayanti, Cianjur kidul, batan di kota, lantaran salian ti nulis réportaseu, bisa nulis novél kahirupan urang lembur," saurna.

Kabiasaan macana anu hese katuturkeun téh. Sanajan jadi wartawan bari pulang anting Limbangan - Bandung, mun naék mobil umum, salawasna bari maca. Kungsi papanggih dina beus kota jurusan Jatinangor-Cibeureum. Kang Usép badé ka kantorna di Jalan Soekarno-Hatta. Kasampak nuju calik caket kaca bari maca buku.


Matak Kapiasem

Poksangna matak pikayungyuneun. Mun urang teu apal kana watekna, tangtu bakal gagal ngabédakeun antara anjeuna nu nyarios guyon jeung daria. Contona soal ngawayuh.

“Tong sok ngomong soal nyandung ari euweuh kawani mah,” saurna.

Dikedalkeun tara sakali dua kali. Lantaran éksprési antara daria jeung heureuy sami, tara dibarung ku gumujeng, pasti bakal aya nu nganggap cariosanana daria. Rék disebut teu daria, apan anjeuna mah tos kabuktian kawanina deuih. Ěstuning lain surahaneun jalma joré-joré.

Aya deui dongéngna nu matak kapiasem. Saurna, di kantorna ngan anjeuna nu wantun nyuhunkeun artos ka Pa Atang Ruswita, bigbos di Pikiran Rakyat. Nu séjén mah tara aya nu wantuneun.

“Akang mah mun keur butuh, sup wé ka ruangan Pa Atang. Alhamdulillah tara dipersabenan. Batur mah boro-boro aya nu wani,” saurna.

Lantaran matak panasaran, harita ditaros, naha ka Akang mani bageur?

“Da Pa Atang mah apaleun kana kualitas tulisan Akang,”pokna.

Ku saliwatan siga nu sombong. Tapi mun ras kana tulisanana, kudu diaku tulisan reportaseuna di Pikiran Rakyat, mun ceuk pakar Marketing Hermawan Kartajaya mah, boga diférénsiasi. Jadi teu mustahil mun Pa Atang Ruswita kacida ngaaprésiasina. Cindekna, Kang Usép kagungan branding.

Sikepna ka Gus Dur jeung NU gé matak ahéng. Sakaterang Kang Usép téh NU bolongkotan. Malah asana kantos jadi pangurus NU di Garut. Ngan sabada Gus Dur dirorod ti Istana, sikepna ka NU janten robah. Katara tina obrolan politik jeung sababaraha tulisan éséyna.

Kasakit ateul biwir sok tara katahan, kungsi naros, naha Akang sapertos anu sinis ka NU? Sanesna Akang téh NU?

“NU mah bener jaman ketuana Gus Dur jeung Kiai Ilyas,” pokna. Tara dikobét papanjangan, salian ti teu kaélmuan, nu ngadenge cukup ku surti.

Anu robah téh soal pandanganana ka Yahudi. Ti saprak wanoh jeung Kang Usép, mun ngobrolkeun kasusastraan atawa kapangarangan, nyabit-nyabit waé Saul Bellow, pangarang Amérika katurunan Yahudi nu dileler Nobél. Katingal kasengsremna téh.

Padahal harita nu remen disabit ku Duduh Durahman, Rustandi Kartakusumah, Abdullah Mustappa jeung sastrawan Sunda mah kayaning Hemingway, Steinbeck, Saroyan, jeung sastrawan ti Prancis atawa Rusia. Ti Kang Usép pisan apal ka ngaran Saul Bellow nepi ka panasaran hayang maca karyana.

Ka dieunakeun, ti sabada medal kumpulan carpon Jiad Ajengan, Kang Usép tara nyabit-nyabit deui Saul Bellow jeung sikepna ka Yahudi jadi nembrak: ngéwa. Mun geus ngobrolkeun Yahudi, ijidna nataku. Sanajan ari kapinteran urang Yahudi mah tetep diangken, ngan sok ditungtungan ku kalimah kieu,

“Gusti Alloh mah ngahaja nurunkeun umat Yahudi jeung pinterna, ngarah kaciri culasna.”

Tara papanjangan, sakumaha biasa, cukup ku surti.


Nolak Modernisasi

Gurat karyana dina sastra Sunda bisa disebutkeun aya dua wanda. Reljiius jeung modernisasi.

Nu paling ngoncrang tur harus karya-karyana nu merkarakeun modernisasi. Cohagna mah, korban modernisasi. Nu ngalangkang dina karya sastrana sajalan jeung tulisan jurnalistikna nu ngabéla jalma-jalma leutik nu kadempét ku modernisasi.

Ceurik Santri kaasup karya fénomenal nu merkarakeun jalma nu salah kaprah nyorang alam modernisasi. Alur caritana saenyana basajan, tapi problematika, dilema jeung konflikna natrat tur kuat, nepi ka ngajanggélék karakter tokoh anu kuat, pangpangna tokoh Sarip, santri di hiji pasantrén nu kudu narima bantuan ti Gunawan, jalma atéis nu ngarasa pangmodérenna.

Sanajan karampa aya pangaruh novél Atheis karya Ahdiat Kartahadimadja, Ceurik Santri lahir dina konteks Orde Baru keur kuat-kuatna. Sajaba ti ngandung aspék relijius, Ceurik Santri jadi antitésis ka pamarentah Orde Baru nu keur getol-getolna ngabuldoser rayat ku program pangwangunan. Diukur ku jaman harita, kaludeng Usép Romli lain meumeueusan.

Konsisténsi nolak modernisasi manjang dugi ka pupusna. Karya-karyana dina mangsa anjeuna pangsiun tur produktif, keukeuh modernisasi téh salah kaprah lantaran béhna mah ngagunasika hirup urang lembur jeung ngarogahala lingkungan.

Dikontraskeun jeung kearifan lokal, diwakilan ku tokoh-tokohna ti kalangan pilemburan, modernisasi ibarat kajahatan nu ngabinasakeun kamanusaan jeung alam nu sakitu suburna. Tokoh jahat alias modernisasi umumna diwakilan ku urang kota.

Ngan aya bedana jeung Ceurik Santri. Mun Ceurik Santri kuat lebah diléma, konflik, plot jeung karakter tokoh-tokohna, carpon-carponna kadieunakeun salancar pisan, tos teu merhatikeun plot minangka sasahiji éstétika sastra. Carponna jadi mirip éséy anu ngiritik modernisasi.

Mun dina Ceurik Santri nu nyoara téh sora batin tokoh-tokoh samodél Sarip, nepi ka nu maca ngarasakeun kana nu karandapan ku tokoh Sarip, dina carpon-carpon kadieunakeun mah tokoh-tokohna laleungit boh sora batin boh karakterna, nu harus téh sora pangarangna. Antukna carpon jadi leungit éksisténsi sastrana, diperkosa jadi corong pangarang.

Sapeuting di Cipawening (jadi judul kumpulan carpon terbitan Kiblat) kaasup carpon anu henteu puguh plotna. Saukur dialog tokoh kuring jeung hiji ajengan di Cipawening anu ngarasa melang lantaran lembur Cipawening mimiti robah ninggalkeun taliparanti kaséréd ku modernisasi.

Taya konflik, diléma, angot alur carita. Malah sama sakali teu kapapaykeun rék naon si tokoh kuring sapeuting aya di Cipawening sajaba ti ukur ngadéngékeun humandeuarna tokoh ajengan nu melang kana kaayaan lemburna. Logika caritana teu kasusud.

Jiad Ajengan (jadi judul kumpulan carpon terbitan Rahmat Cijulang) kaasup carpon anu saukur dijadikeun alat keur da’wah pangarangna. Beuki jauh ti Ceurik Santri anu kuat diléma, konflik, problematikana jeung plotna, Jiad Ajengan mah lempeng pisan.

Sanajan dina kahirupan nyata teu mustahil aya, ari dicaritakeun salancar mah tangtu jadi matak kerung. Ieu carpon nyaritakeun jalma anu mangtaun-taun gering, ubar-abér ka ditu ka dieu boh ka dokter boh ka dukun tapi teu cageur-cageur. Barang datang ka ajengan terus dijiad, saharita kénéh cageur. Amanat pangarangna minangka juru da’wah écés, urang salaku umat muslim kudu solat.

Pertanyaanana, naha enya jalma anu geringna teu cageur-cageus otomatis cageur ku solat? Lamun enya kitu, moal aya rumahsakit, dokter jeung perawat. Jalma-jalma garering ngadadak calageur cukup dijiad ku ajengan.

Kulantaran Kang Usép nyerat dina wanda realis, lain wanda simbolik, logika carita Jiad Ajengan kaluli-luli.

Buku Jiad Ajengan terbit taun 1991. Sakumaha watekna, Kang Usép kagungan percaya diri anu kuat bari poksang. Harita anjeuna kantos nyarios tur yakin taun 1992 buku Jiad Ajengan bakal kéngéng hadiah sastra Rancagé. Tara ditémpas, ngan ukur ngagerentes dina haté, maenya carpon kitu meunang Rancagé.

Kanyataanana nu kéngéng Rancagé novel Tanjeur di Juritan Jaya di Buana karya Yoséph Iskandar. Kulantaran sok géték biwir, kungsi naros ka Kang Ajip (harita mah juri Rancage tunggal kénéh ku Ajip Rosidi).

“Naha Jiad Ajengan karya Kang Usep henteu kengeng?”

“Teu logis. Maenya aya jalma gering teu cageur-cageur, dijampé ku ajengan langsung cageur,” saur Kang Ajip, tandes. Lantaran ngarasa akur, teu papanjangan ngobrolkeun Jiad Ajengan téh.

Ti saprak tijengkang ku Jiad Ajengan, Kang Usép tara ngobrolkeun deui ngarep-ngarep kéngéng Rancagé sanajan merul karya-karyana. Taun 2010 anjeunna nembé kéngéng Rancagé dumasar karyana Sanggeus Umur Tunggang Gunung jeung 2011 dumasar kana jasa-jasana.

Ciri hasna anu teu leungit tina tulisanana dugi ka pupusna, gaya basana anu angger genah dibacana, pangpangna lebah ngadéskripsikeun pilemburan. [ ]

29 September 2015

Beberapa Kepiluan di Perpustakaan Ajip Rosidi


Kira-kira bulan April atau Mei 2015, saya berkunjung ke perpustakaan Pusat Studi Sunda di Jalan Garut No. 2 Bandung. Perpustakaan itu baru pindah dari daerah Buah Batu, kalau tidak salah di Jalan Karawitan. Di dalam, buku-buku belum tertata, dan hanya ada seorang petugas yang kemudian menginformasikan bahwa perpustakaan tersebut akan diresmikan sekitar bulan Juni 2015. Saya menunggunya dengan sabar. “Teu nanaonlah, sakeudeung deui gė da rėk diresmikeun,” begitu kata saya dalam hati.

Juni kemudian lewat, begitu pun Juli, dan perpustakaan itu belum kunjung diresmikan. Peresmian bagi saya penting, sebab saya berpikir bahwa itulah batu tapal untuk bisa mengakses buku-buku dan dokumen lainnya secara terbuka, termasuk meminjamnya untuk dibawa pulang ke rumah.

Di tengah Agustus, tepatnya hari Sabtu, tanggal 15 Agustus 2015; acara yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Dengan dihadiri Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Usep Romli (penulis favoritnya Mang Alex), Deddy Mizwar aka Naga Bonar selaku Wakil Gubernur Jawa Barat, serta beberapa tokoh seni dan budaya Sunda lainnya, perpustakaan itu akhirnya diresmikan dan dan diberi nama “Perpustakaan Ajip Rosidi”.

Hari ini, tanggal 30 September 2015, saya berkunjung ke perpustakaan tersebut untuk mencari beberapa buku tentang sejarah dan kebudayaan Sunda, khususnya wilayah Ciamis dan Pangandaran. Saat masuk ke ruangan perpustakaan, saya langsung mendaftarkan diri untuk menjadi anggota. Prosesnya sebentar, hanya mengisi formulir singkat, difoto, dan membayar uang sebesar 100 ribu rupiah. Biaya untuk menjadi anggota dibedakan menjadi dua. Untuk pelajar dan mahasiswa cukup hanya membayar 50 ribu rupiah, sedangkan untuk dosen, peneliti, dan umum harus membayar dua kali lipatnya.

Ketika proses pendaftaran selesai, dan pembuatan kartu anggota sedang dikerjakan, saya bertanya kepada petugas, apakah saya bisa langsung meminjam buku untuk dibawa pulang atau tidak. Dan jawabannya sangat mengagetkan, bahwa semua buku dan dokumen di perpustakan tersebut tidak bisa dipinjam untuk dibawa keluar!

Bagaimana mungkin sebuah perpustakaan yang mempunyai anggota, dan data anggota tersebut sudah lengkap dimiliki, tapi tidak mengijinkan anggotanya untuk meminjam dan membawa pulang buku. Jadi buat apa segala identitas anggota itu? “Pemilik buku ini, yaitu Pak Ajip, tidak memperbolehkan buku-bukunya untuk dipinjam keluar, kata beliau takut hilang,” begitu terang si petugas. Saya hanya bisa tersenyum pahit.

“Jadi di sini hanya boleh difotocopy, itu pun proses fotocopy-nya harus sama petugas,” begitu lanjutnya. Kemudian saya bertanya, “Kalau misalnya ada pengunjung, dan dia tidak terdaftar sebagai anggota, apakah bisa memfotocopy juga?” Petugas langsung langsung menjawab, “bisa.” What? Naon maksudna ieu? Atuh euweuh bėdana antara anggota jeung nu lain anggota! Nyaho kieu mah kuring teu kudu jadi anggota!

Saya mencoba meyakinkan diri sendiri dengan bertanya lagi, “Yang bukan anggota bisa memfotocopy juga?!” Barulah kemudian petugas itu menyadari, dan memberikan jawaban yang bernada ralat, “Oh, kalau yang bukan anggota mah tidak bisa memfotocopy.” Har, ari tadi ngajawabna “bisa”. Inilah kepiluan yang pertama; buku yang tak bisa dipinjam ke rumah, dan petugas yang nampaknya tidak menguasai peraturan perpustakaan yang mereka buat—kalau ada ini juga.

Dengan kecewa saya akhirnya mencoba berdamai, “Geuslah teu nanaon teu bisa dibawa balik gė, nu penting bukuna aya.” Lalu mendekati rak yang berjajar untuk mencari buku yang dibutuhkan. Dan lagi-lagi timbul keprihatinan, ternyata buku-buku itu belum dikelompokan dan diklasifikasi. Semuanya masih bercampur. Dalam satu rak berjejal buku-buku sejarah, sastra, budaya, dan filsafat sekaligus!

Fiksi dan non fiksi campur aduk dalam satu rak. Selain itu, buku-buku itupun masih banyak yang belum tersusun rapi, beberapa malah tergeletak begitu saja. “Gusti, asa asup ka leuweung ari kieu carana mah, kuring kudu nėangan hiji-hiji sabari teu jelas kelompokna di mana.” Saya menggelengkan kepala. Begitu memilukannya perpustakaan ini. Tapi saya belum menyerah, saya dekati petugas dan menanyakan barangkali ada mesin pencari untuk memastikan bahwa buku yang saya cari ada, jadi kalau pun harus tersesat di rimba rak, tapi kalau bukunya ada, pencarian saya tak akan sia-sia.

“Oh ada, itu cari aja di komputer,” begitu jawabnya. Kemudian saya pun memasukan judul-judul buku yang dibutuhkan, dan semuanya tak ada. Entah memang tidak ada, atau mungkin belum dientry oleh petugasnya. Akhirnya saya angkat tangan. Harapan besar pada perpustakaan yang namanya diambil dari seorang yang sebagian besar hidupnya diabdikan kepada kebudayaan Sunda itu, akhirnya perlahan pupus.

Sebagai orang Sunda, dan berminat kepada kebudayaan Sunda--menghadapi perpustakaan yang koleksi bukunya sebagian besar milik budayawan Sunda itu, bagi saya sangat mengecewakan. Betapa buruknya pengelolaan, sedangkan statusnya sudah diresmikan. Saya sebetulnya amat bertoleransi sekiranya perpustakaaan itu belum diresmikan. Kalau belum siap, bo ya jangan dulu diresmikanlah, jangan php-in oranglah ya.

Sebelum pulang, akhirnya saya menulis beberapa buku di secarik kertas, dan diserahkan ke petugas. “Dua hari lagi, insyaAlloh saya kembali, dan usahakan bukunya sudah ada, sekalian kalau bisa mah boleh dipinjam ke rumah.” Kemudian saya turun ke tempat parkir, sementara kartu anggota belum juga selesai. Dan kepiluan semakin berparade. [ ]


Postscript :

Ini adalah catatan otokritik. Sebagai orang yang berkhidmat di ruang baca kecil yang bernama Pustaka Preanger—meski tak diresmikan oleh Wakil Gubernur dan tak pernah dikunjungi oleh para seniman kondang, saya juga belum berhasil mengelolanya dengan baik.