02 December 2012

Atambua 39 Derajat Celcius : Gejolak Personal Pasca Referendum



Sekali ini matilah segala slogan dan jargon yang berbunyi: "Support your local films". Kenyataannya film Atambua 39 Derajat Celcius mati kutu. Tak lebih dari sepekan, secara serentak di seluruh jaringan 21 dan XXI, film tersebut turun layar. 

Hal ini mungkin pernah dialami juga oleh film Rayya Cahaya di atas Cahaya. Tapi kalau saja siang itu kau ikut dengan saya pergi ke Kelapa Gading, maka saya tidak akan duduk sendirian di ruangan gelap berpendingin itu. 

Mulanya diketahui ketika membeli tiket di loket. "Belum putar mas, sebentar lagi," begitu kata si mbak cantik (cantik standar penjual tiket sih), padahal sudah lewat lima menit dari jadwal yang tertulis. 

"Mau duduk di mana mas?" Dan lihatlah belum ada satu pun kursi yang berwarna merah, artinya belum satu pun tiket yang terjual. 

Saya berpikir sebentar, menimbang antara setengah horor dan waktu yang mendesak. Horor sebab saya akan duduk sendirian di studio 4 yang besar, dingin, dan gelap, plus trailer film-film untuk menyambut Halloween, mana tak boleh membakar cigarette pula, aih mantap betul. 

Mendesak sebab tinggal hari itu saja Atambua 39 Derajat Celcius akan diputar. Pertanyaannya, kenapa saya begitu memaksa mesti nonton film tersebut? Setidaknya, saya tidak akan muntah seperti jika nonton film Breaking Down (versi olok-oloknya : Berakin donk) atau hantu-hantu lokal berbonus artis-artis sexy kaum skuter.

Sebenarnya saya masih sempat berdoa, mudah-mudahan di sela film-film trailer yang diputar sebelum film utama itu akan datang satu atau dua penonton lain yang minatnya sama dengan saya. Tapi sampai lampu perlahan dimatikan dan akhirnya gelap total tak satu kepala pun yang memasuki ruangan, "mampus dah gw!" 

Kemudian dingin. Dingin yang menekan-mendesak. Antara AC dan perasaan entah apa, mungkin takut namanya. Tapi bukan takut sebetulnya, hanya saja kiri-kanan adalah kursi kosong yang sewaktu-waktu bisa saja diisi oleh "entah siapa".

Lupakan prolog itu. Sebab sekitar 15 menit film berjalan, si mbak tukang sobek karcis yang seksi (seksi standar tukang sobek karcis sih) masuk dan ikut nonton. Dia juga sepertinya agak "sungkan" nonton dengan kondisi sepi, itu terlihat dari mukanya yang melihat ke atas demi memastikan ada saya di situ. 

Tapi kan gelap? Bagaimana dia bisa melihat? Maka dengan terpaksa batuklah saya demi memberi tahu dia bahwa artinya, "Hei, jangan takut, kita nonton berdua, sayang." 

Dan dia duduk di kursi bawah, jauh di bawah saya. Dia rupanya tahu dan sadar, bahwa saya bukan muhrimnya, maka duduk pun dibuat berjarak sedemikian rupa. Ah sudahlah. Bagaimana filmnya?

***

Atambua 39 Derajat Celcius adalah karya terbaru dari duet maut Mira Lesmana dan Riri Riza. Ya, duo kribo itu berhasil membuat film yang bersetting di kota Atambua yang panas, berdebu, dan "menyengat". 

Riri Riza sebenarnya tidak berbicara muluk dengan film ini, dia hanya memotret gejolak dan kegalauan personal dari orang-orang yang berkait langsung dengan peristiwa politik terlepasnya Timor Timur (Timor Leste) dari NKRI.

Adalah Ronaldo, seorang laki-laki beranak tiga yang memilih pergi ke Indonesia pasca referendum yang dimenangkan oleh orang-orang yang pro kemerdekaan. Dia membawa serta Joao, anak laki-laki satu-satunya yang dipercaya akan meneruskan garis keluarga. Sementara Istri dan dua anak perempuannya yang memilih tetap di Timor Leste, dia tinggalkan.

Atambua, kota perbatasan di Timor Barat yang panas itu seakan tidak mampu memujudkan harapan orang-orang yang memilih Indonesia sebagai pilihan politiknya. Di Atambua, Ronaldo mencari nafkah dengan menjadi sopir bus antar kota, dan Joao anaknya, menjadi tukang ojeg di pasar yang berdebu. 

Hampir setiap hari, setelah bekerja Ronaldo mabuk sampai muntah. Sedangkan Joao, di usianya yang sedang puber, sesekali pergi ke rumah kawannya untuk ramai-ramai menikmati film-film porno. Kehidupan memang masih bisa mereka sambung, tapi tanpa arah dan tujuan yang jelas. Mereka seperti kehilangan alasan untuk apa mereka bekerja, selain untuk makan (dan mabuk bagi Ronaldo).

Satu-satunya alasan bagi Joao adalah dia rindu dan ingin bertemu dengan ibunya yang tidak pernah (atau samar-samar) dia kenali ketika dia masih sangat kecil. Setelah mereka berpisah (dipisahkan oleh hasil referendum), ibunya sempat merekam dalam pita kaset yang meminta kepada Ronaldo suaminya, untuk mengembalikan Joao ke Timor Leste. Dari suara kaset itulah, hampir setiap hari Joao mengobati kerinduan kepada ibunya.       

Film ini berjalan datar, dan mulai naik serta terjadi konflik ketika Nikia (woman interest-nya Joao) hadir. Sementara Ronaldo pun tersangkut masalah ketika dia menghajar kawan mabuknya dengan botol minuman keras, dia dipenjara. 

Joao dan Nikia (sebagaimana biasanya ada dalam sebuah film), menjalani hari-hari dengan romansa yang sunyi, cinta yang malu-malu, dan rintangan klasik. Nikia adalah perempuan remaja yang tidak tahu asal-usulnya. Dia juga adalah manusia pengungsian yang menjadi korban konflik. 

Dia tinggal bersama kakeknya yang sudah tua (tua banget), hidupnya tidak lama lagi, dan benar saja sutradara membunuhnya. Ketika Joao sedang "on fire", Nikia malah memilih pergi ke Kupang, ikut bersama suster-suster yang hidupnya mengabdi kepada Tuhan yang mereka yakini. Tentu saja Joao merasa kehilangan, lalu dia menyusul Nikia pergi ke Kupang.

Sementara Ronaldo, selepas dari tahanan kepolisian, berangsur sadar; bahwa dia membutuhkan sebuah keluarga yang utuh. Dia pun kemudian mencari Joao, sampai akhirnya bertemu dengan anaknya itu di Kupang. Sama dengan ayahnya, Joao pun mendambakan keluarganya bisa berkumpul semuanya. 

Maka setelah pamit kepada Nikia, ayah-anak itu kembali ke Atambua dan melanjutkan perjalanan ke Timor Leste lewat jalur alternatif (karena tersandung masalah paspor dan visa). Berhari-hari mereka melewati sungai dan hutan dengan berkumpul lagi dengan keluarganya.

Di palung paling akhir film ini, beberapa pertanyaan retoris muncul: Apakah kondisi seperti ini yang diinginkan oleh kemerdekaan dan merah-putih? Apakah kemerdekaan itu adalah menceraikan manusia dari keluarganya? Lalu terdengar sebuah narasi indah, bahwa "tak seorang pun bisa dicabut dari asal-usulnya, dari keluarga dan tanah tempat mereka ditadah mula-mula dan menjalani kehidupannya." (irf)

14 November 2012

Buka Puasa


Dan di bawah tumpukan buku yang menyentuh langit-langit itu saya berdiri. Di Palasari, segala yang melambai-lambai di belakang saya bakar seluruhnya. Sekali ini saya berseberangan dengan The Corrs, ya forgotten but not forgiven. Saya akrabi lagi dapur-dapur kata yang senyap. Sementara sandaran saya fokuskan kepada yang mampu menghargai. Baru-baru ada yang melintas batas, maka condonglah segala usaha dan niat demi mengikuti jejak para pelintas batas. 

Lampu-lampu kota telah padam, dan kubah mesjid tersungkur mencium tanah. Malam hari tak lagi bisa ditemui :  malaikat yang terbang rendah melintas di atas jalan setapak yang terarah. 

04 November 2012

Ode to My Cigarettes


"Aih datuk...tak payahlah vocal yang nice, sebab kan die jadi merdu sangat...aih rase nak swimming pulang ke daratan."

"Tak ada yang special selain Bung yang saya undang lewat pulsa yang tinggal 800 rupiah, biar Bung datang tanggal 10 November nanti, biar Bung lihat saya sedang duduk keren di pelaminan, jika memohon saja tidak cukup, maka tindak kekerasan akan diambil."

"Akan awak usahakan Pak Cik, aih lihat Pak Cik duduk di pelaminan rasanya macam lihat bintang kejora...ini sedang di warungkopi, membakar cigarettes dan menyantap tiga kerat gorengan."

***

Nah, hanya kalimat-kalimat seperti itu yang bisa dimasukkan ke dalam botol, lalu botol itu dilemparkan ke laut, dan entah kapan akan ditemukan oleh nelayan yang tersesat. Jadi jauh-jauh hari mereka telah mengibarkan bendera, bahwa saat-saat terbaik menopang bahu adalah ketika terjadi perang puputan. Tak peduli siapa yang duluan maju ke medan laga, bagi saya semuanya sama saja. Satu titian perpindahan episode akan segera dilewati. Bersiaplah untuk hidup yang sering menjelma dalam wujud yang tidak menarik lagi. Tapi kemarin sudah saya putuskan bersama pemburu bulubabi Kepulauan Seribu, bahwa botol air mineral itu akan tetap dipotong dua, dan ke dalamnya kita masih akan menuangkan cairan hitam pekat itu.    

Bersiaplah untuk Desember yang tidak lagi disambut oleh satu tangan, untuk Desember yang kali ini akan menjelma menjadi mimpi-mimpi yang dipeluk erat oleh Tuhan, ya dipeluk erat. Mencatat perjalanan tanggal menuju jurang penghujung tahun seperti terduduk di sebuah dermaga pada suatu sore yang murung, tapi sekaligus puitis. Stagnasi meledak ketika segalanya menjadi pragmatis. Transaksi menjadi hantu dominan dalam setiap sendi, segala yang abstrak dan samar dipadatkan menjadi tablet hisap ketika lokomotif transenden diserang penyakit ringkih.

Anggap saja ini sebagai pembatas bagi halaman-halaman waktu yang entah kapan akan selesai. Dan sekali ini saya menemui hujan yang kembali menebar wangi. Seperti biasa segala kamuflase saya istirahatkan. Dalam wujudnya yang dibalut pendar matahari, perlahan saya menemuinya dan mulai bicara. "Dalam milyaran manusia pun radar selalu bekerja," maka duduklah sebentar di sini, sebab keinginan untuk dimengerti selalu saja menjadi boomerang yang menjegal setiap perjalanan. Ya, try to be sure right from the start. 

Selamat melintas batas kawan, jangan tertipu dengan riuhnya do'a dan tepuk tangan. Mereka hanyalah penonton, sebab kendali ada sepenuhnya di tanganmu. Berangkatlah dengan tidak ragu-ragu, jangan melihat ke belakang kecuali untuk membersihkan sisa nyeri yang mungkin belum sempat terobati. Sekarang, sepotong senandung Melayu telah sah menjadi milikmu. [irf]