Showing posts with label Cigarette. Show all posts
Showing posts with label Cigarette. Show all posts

23 September 2015

"Gadis Kretek" yang Meniupkan Aroma Cengkeh dan Tembakau ke Frankfurt

Ratih Kumala termasuk salah seorang pengarang yang cukup produktif. Kurang dari sepuluh tahun dia sudah menghasilkan lima karya yang terdiri dari empat novel dan satu himpunan cerpen. Pada 2012 ia menerbitkan “Gadis Kretek”. Menjelang perhelatan Frankfurt Book Fair 2015, novel ini termasuk salah satu buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman, dan akan diterbitkan penerbit Culturbooks dengan judul “Das Zigarettenmadchen” pada gelaran Frankfurt Book Fair 2015.
Novel ini ditulis berdasarkan riset yang cukup panjang. Ratih mengaku juga terinspirasi dari kakeknya sendiri. “Ibu saya sering cerita jaman kecil dulu, kalau ayahnya (eyang kakung saya) adalah pengusaha kretek, meski cuma kretek lokal yang kemudian gulung tikar. Saya terinspirasi dari situ.”
Di luar pro-kontra bahaya rokok bagi kesehatan, yang akhir-akhir ini kampanye dan perdebatannya semakin sengit, diakui atau pun tidak, di negeri ini kehadiran dan budaya kretek punya riwayat panjang yang tidak main-main. Inilah salah satu magnum-opus Nusantara.
Tahun 1870-an, Haji Djamhari, seorang warga Kudus menderita penyakit bengek alias asma. Ia mengoleskan minyak cengkeh sebagai langkah awal pengobatan. Ketika kondisinya dirasa membaik, ia kemudian memotong cengkeh menjadi bagian kecil-kecil dan mencampurkannya dengan racikan tembakau. Dari dua komoditas penting itu kemudian terciptalah kretek.
Itulah yang dimaksud dengan riwayat panjang yang bukan main-main. Sebab jika dirunut dari titimangsa tersebut, maka perjalanan dan kehadiran kretek di Indonesia sudah lebih dari satu abad. Di titik ini, kehadiran “Gadis Kretek” menjadi penting sebab ia mencoba memotret satu warisan yang hari-hari ini seolah hendak disingkirkan.
Kretek adalah salah satu helai benang yang merajut kain perca imajinasi tentang Indonesia.
Pramoedya Ananta Toer, dengan cara yang plastis, pernah menulis sebuah cerita yang kini telah menjadi legenda dalam kata pengantar untuk buku berjudul "Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia's Clove Cigarettes" yang disusun oleh Mark Hanusz.
Syahdan, di sebuah perjamuan diplomatik yang terjadi di awal kemerdekaan Indonesia, seorang lelaki pendek dan kurus yang mengenakan songkok di kepalanya memantik rokok dan mengepulkan asap dari mulutnya di tengah para diplomat. Aroma kretek dengan cepat merebak ke seantero ruangan. Seseorang, diduga Pangeran Philip, menghampirinya, dan bertanya: ”Apakah yang sedang Tuan hisap itu?” tanyanya.
”Inilah Yang Mulia,” tutur lelaki bernama Haji Agus Salim itu, ”yang menjadi alasan mengapa Barat menjajah dunia.”
Novel "Gadis Kretek" bisa menjadi pintu pembuka bagi publik Jerman yang ingin mengenal kretek, bukan sekadar komoditas, melainkan juga sebagai bagian tak terpisahkan dari sejarah dan kebudayaan Indonesia. Ratih dengan rinci bisa menguraikan bagaimana kretek dibuat, dari satu tahapan ke tahapan berikutnya, hingga akhirnya siap untuk dihisap. Komposisi bahan-bahan yang digunakan dalam kretek, dari tembakau dan cengkeh hingga saus, juga dihidangkan oleh Ratih dengan tidak kalah sedapnya.
Dalam balutan cerita mengenai bisnis kretek, juga persaingannya yang sengit, yang beririsan dengan pertaruhan soal harga diri dan kisah cinta, “Gadis Kretek” juga menghamparkan kretek sebagai komoditas yang berkaitan langsung dengan konstelasi ekonomi-politik di masa yang menjadi latar cerita, dari masa kolonial hingga dekade-dekade pertama kemerdekaan Indonesia.
Dengan diterjemahkannya novel ini, satu sudut wajah kontemporer Indonesia dengan latar tradisinya yang kuat akan turut diperkenalkan ke publik luar. Inilah satu hal penting dari citra keragaman yang hendak diangsurkan itu. [irf ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

04 November 2012

Ode to My Cigarettes


"Aih datuk...tak payahlah vocal yang nice, sebab kan die jadi merdu sangat...aih rase nak swimming pulang ke daratan."

"Tak ada yang special selain Bung yang saya undang lewat pulsa yang tinggal 800 rupiah, biar Bung datang tanggal 10 November nanti, biar Bung lihat saya sedang duduk keren di pelaminan, jika memohon saja tidak cukup, maka tindak kekerasan akan diambil."

"Akan awak usahakan Pak Cik, aih lihat Pak Cik duduk di pelaminan rasanya macam lihat bintang kejora...ini sedang di warungkopi, membakar cigarettes dan menyantap tiga kerat gorengan."

***

Nah, hanya kalimat-kalimat seperti itu yang bisa dimasukkan ke dalam botol, lalu botol itu dilemparkan ke laut, dan entah kapan akan ditemukan oleh nelayan yang tersesat. Jadi jauh-jauh hari mereka telah mengibarkan bendera, bahwa saat-saat terbaik menopang bahu adalah ketika terjadi perang puputan. Tak peduli siapa yang duluan maju ke medan laga, bagi saya semuanya sama saja. Satu titian perpindahan episode akan segera dilewati. Bersiaplah untuk hidup yang sering menjelma dalam wujud yang tidak menarik lagi. Tapi kemarin sudah saya putuskan bersama pemburu bulubabi Kepulauan Seribu, bahwa botol air mineral itu akan tetap dipotong dua, dan ke dalamnya kita masih akan menuangkan cairan hitam pekat itu.    

Bersiaplah untuk Desember yang tidak lagi disambut oleh satu tangan, untuk Desember yang kali ini akan menjelma menjadi mimpi-mimpi yang dipeluk erat oleh Tuhan, ya dipeluk erat. Mencatat perjalanan tanggal menuju jurang penghujung tahun seperti terduduk di sebuah dermaga pada suatu sore yang murung, tapi sekaligus puitis. Stagnasi meledak ketika segalanya menjadi pragmatis. Transaksi menjadi hantu dominan dalam setiap sendi, segala yang abstrak dan samar dipadatkan menjadi tablet hisap ketika lokomotif transenden diserang penyakit ringkih.

Anggap saja ini sebagai pembatas bagi halaman-halaman waktu yang entah kapan akan selesai. Dan sekali ini saya menemui hujan yang kembali menebar wangi. Seperti biasa segala kamuflase saya istirahatkan. Dalam wujudnya yang dibalut pendar matahari, perlahan saya menemuinya dan mulai bicara. "Dalam milyaran manusia pun radar selalu bekerja," maka duduklah sebentar di sini, sebab keinginan untuk dimengerti selalu saja menjadi boomerang yang menjegal setiap perjalanan. Ya, try to be sure right from the start. 

Selamat melintas batas kawan, jangan tertipu dengan riuhnya do'a dan tepuk tangan. Mereka hanyalah penonton, sebab kendali ada sepenuhnya di tanganmu. Berangkatlah dengan tidak ragu-ragu, jangan melihat ke belakang kecuali untuk membersihkan sisa nyeri yang mungkin belum sempat terobati. Sekarang, sepotong senandung Melayu telah sah menjadi milikmu. [irf]     

06 August 2012

Wangihujan Menjelang Malam

Wangi itu mendekapku dalam gigil. Cahaya lampu yang berpendaran dirobek arsiran hujan seperti nuansa sebuah film noir. Aku mencoba menyulut cigarette, tapi dia melarangnya. Mulut menjadi kecut dan asam, hanya tanganku yang merangkul bahunya dalam diam. Tanah yang basah dan wangi permen menyeruak mencucuk penciuman. Langit mulai hitam jelaga, kelip bintang tertutup; tak satu pun. Dalam diam tanpa kata-kata aku ingin menulis, memfosilkan jenak waktu ini untuk dibawa ke masadepan sebagai kenang-kenangan untuk hidup yang begitu biru. Tapi aku sadar, tidak semua kenangan akan menjelma bangunan yang kokoh, adakalanya aku harus mengalah, mengendapkan semuanya demi sesuatu yang lebih penting; lembaga kehidupan yang mengabadi. 

Di sini, di dekat wujudnya yang menebarkan aroma permen, aku melukis impian itu. Segala konflik ingin aku istirahatkan. Aku hanya tajam menatap matanya yang berkilauan nuansa biru. Capucino hangat tinggal setengah, dan pembicaraan belum usai. Memang banyak diamnya, tapi sesekali ada juga pandangan-pandangan terlontar, tentang pikiran yang terkadang kalut, atau pendapat yang jernih. Aku genggam tangannya yang kecil dan sedikit menciut. Aku rasakan ketakutannya yang tersembunyi jauh di balik wajah cerah itu. 

Bulan telah melewati Juni, tapi aku sering ingat Sapardi, begitu juga malam itu. Ya, “Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan---suaranya bisa dibeda-bedakan, kau akan mendengarnya meski sudah kau tutup pintu dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu. Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan---menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh, waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan.”

Tapi sekarang malam terus beranjak, dan aku harus segera mengantarkannya pulang. Tanpa jaket, akhirnya ranger hijau centil itu meluncur, meninggalkan jejak yang terbaca waktu. Wangihujan di belakangku, membuka jaketnya dan menutupi dadaku yang terus-menerus diserang angin malam. Dalam catatan ini, aku mencoba memfosilkannya. Bukan untuk menajamkan pisau, tapi mencoba menumpulkan konflik yang mungkin akan masih meledak. Semoga saja tidak. [ ]   
     

14 May 2012

The Intruders



“Terdengar suara gemeretak diikuti aroma khas yang baunya acap dibenci mayoritas kaum bule. Bau yang berasal dari rempah harum bernama kruidnagel. Rempah yang bila diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi clove, dan dalam bahasa pergaulan sehari-hari taipan Putera Sampoerna menjadi cengkih.
……..
Dan terjadilah sudah. Sebuah pertemuan tak sengaja yang tanpa disadari akan membelokkan jalan hidup mereka. Berkat badai, kretek, dan takdir.” (Negeri van Oranje)

***
Entah kenapa saya tidak pernah selesai membaca novel Norwegian Wood. Tapi baru belakangan ini saya identifikasi, bahwa ternyata tulisan Haruki Murakami, menurut saya, tidak pernah berhasil “menembak” dengan “manis”, sehingga gagal menghasilkan daya kejut yang optimal. Saya tidak tahu, mungkinkah ini kesalahan penerjemahan bukunya? Sebab para pelaku alih bahasa adalah ujung tombak bagi umat manusia yang berbeda bahasa. Lagi pula Norwegian Wood lumayan tebal, maka jadilah saya selalu gagal menghabiskan ceritanya. Tapi kemarin, waktu Jakarta berwajah seperti monster yang terserang anemia, langit pucat, hujan deras baru selesai menjalankan hajatnya, saya meluncur lagi ke Matraman. Sekali ini Murakami tampil dalam kemasan yang tipis dan minimalis. Saya kurang berminat, tapi harganya lima ribu rupiah, jadi saya bawa pulanglah dia.

Di bawah guyuran cahaya lampu neon, asap rokok tidak terlihat seperti asap kemeyan. Itu mungkin sebabnya para pegiat dunia klenik dan supranatural sangat menyukai pencahayaan yang temaram. Murakami tipis saya buka dengan tanpa minat. Pembukanya lumayan menarik:

“Tidak ada kalimat yang sempurna. Sama seperti tidak ada keputusasaan yang sempurna. Seorang pengarang yang kukenal secara kebetulan ketika aku masih mahasiswa berkata demikian kepadaku. Jauh di kemudian hari aku baru memahami makna kalimat tersebut. Setidaknya, kuanggap kalimat itu sebagai kata-kata penghibur.”

Masih dengan tanpa minat, saya buka halamannya secara acak. Selintas teringat lagi adegan-adegan di Norwegian Wood : seks, bir, wiski, dan rokok. Murakami rupanya cukup berminat pada gejolak kehidupan kaum muda Jepang yang berada pada titian transisi identitas. Setiap saya membuka halaman secara acak, entah kenapa pasti saja menemui kalimat yang di dalamnya terdapat kata rokok. Maka tiba-tiba ada yang bergerak entah di mana, yang jelas mendorong saya untuk semacam meng-indeks kata rokok dalam novel tipis tersebut. Tanpa motivasi yang jelas, saya mulai menulis ulang kalimat-kalimat itu:

* Di konter Jay’s Bar digantung sebuah lukisan cetak dari kayu yang warnanya sudah berubah akibat nikotin rokok.  Ketika merasa sangat suntuk, aku terus memandangi lukisan itu selama beberapa jam tanpa ingat makan.

* Nezumi mematikan mesin mobil, memasukkan kotak rokok yang tergeletak di atas dasbord ke dalam sakunya, lalu perlahan-lahan mencengkram lenganku dan merayap naik ke atap mobil.

* Nezumi mematikan rokok dengan tumit sepatu tenisnya, lalu menjentikkan puntung rokok ke arah kandang monyet.

* Sementara itu, dengan rikuh Nezumi merogoh-rogoh sakunya tanpa tujuan yang jelas. Setelah berhenti merokok selama tiga tahun, tiba-tiba dia ingin merokok lagi.

 * Aku bersandar pada sandaran tempat tidur. Setelah menyalakan rokok, kupandangi gadis yang tidur di sebelahku. Dari jendela yang menghadap ke selatan, sinar matahari yang langsung menerobos masuk menyelimuti sekujur tubuhnya.

* Selesai mengisap rokok, aku mencoba mengingat nama gadis itu  kira-kira selama sepuluh menit, tapi sia-sia saja. Lagipula aku juga tidak ingat apakah aku mengetahui namanya atau tidak.

* Dia mengambil rokok yang ada di bawah bantal lalu menyalakannya, menghembuskan asap rokok bersamaan dengan hela nafasnya, dan tiba-tiba melemparkan batang korek api ke arah pelabuhan melalui jendela yang terbuka.

* “Tolong ambilkan pakaian.” / “Yang seperti apa?” / Sambil menyelipkan rokok di bibir, sekali lagi dia memejamkan mata. / “Terserah. Tolong ya kamu tidak perlu bertanya macam-macam.”

* Aku terus bungkam sampai rokokku habis terbakar. Sambil tetap memunggungiku, dari dalam cermin tampak dia menekan-nekan garis hitam yang muncul di bawah matanya.

* Dia hanya terus-menerus menyeka keringat yang mengalir dengan menggunakan handuk kecil dan tak henti-hentinya mengisap rokok. Setelah rokok dinyalakan dan hisap kira-kira tiga kali, dia menatap rokok itu seolah-olah memeriksa noda lipstick yang menempel di filter, menjejalkan rokok itu ke asbak mobil, kemudian menyalakan rokok baru.

* Di dalam bar, menyebarlah bau rokok, wiski, kentang goreng, ketiak, dan air selokan yang bergabung menjadi satu bagaikan baumkuchen.

* Aku mengeluarkan rokok dari dalam saku, menyalakan ujungnya dengan pemantik, kemudian memandangi apa yang dia kerjakan untuk beberapa saat.

* Dia menghela nafas, kudengar dia sedang menyalakan rokok dari seberang gagang telepon. Dari arah belakang terdengar lagu Nashville Skyline dari Bob Dylan. Mungkin dia menelepon dari toko.

* Aku menyalakan rokok dan kuberikan sebatang kepadanya. Mataku terasa perih seolah-olah ditusuk-tusuk gara-gara kemasukkan gas air mata.

*  Perempuan sangat pendiam itu tinggal di apartemenku selama kira-kira satu minggu. Setiap hari dia bangun setelah lewat tengah hari, makan, merokok, membaca buku sambil termenung, menonton TV, dan kadang-kadang bercinta denganku walaupun tanpa minat.

*  Suatu hari, ketika aku pulang dari supermarket sambil membawa sekantong makanan, dia sudah tidak ada. Tas kanvas putihnya pun telah lenyap. Selain itu, ada juga beberapa barang yang hilang. Sedikit uang recehan yang kusebar di atas meja, satu karton rokok, dan T-shirt milikku yang baru saja dicuci.

*  Dia tertawa lalu menyalakan rokok. Selama tiga kali mengembuskan asap rokok, dia tetap diam sembari memandangi fitur kayu yang ditempel di konter.

Ini baru sampai halaman 71 dari total 146 halaman. Dan kata “rokok”, di novel tipis itu, masih bertebaran dengan ganasnya. Tidak seperti di Negeri van Oranje, di novel tipis ini dia muncul seumpama penyusup yang tampak tidak terlalu penting tapi berdaya laten. Dalam cerita anak muda Jepang yang dalam masa penuh gejolak, Murakami memang membutuhkan rokok untuk mendandani para tokohnya agar terlihat cocok dengan jamannya.

Dalam film Grand Torino, rokok pun berhasil menjadi penyusup ke dalam film untuk mendandani Clint Eastwood yang murung, tua, agak ringkih tapi masih sanggup menghajar para bajingan tengik. Waktu membaca buku atau menonton film, kita kerapkali bertemu dengan para penyusup itu, dan rokok adalah salah satunya. Mereka seperti taburan bawang Bombay di pizza fiksi yang kita nikmati.

Barangkali, selain referensi yang kuat dan diksi yang menghantam, para penyusup juga bisa membantu kita dalam belajar menyusun cerita. Ah, terdengar seperti sebuah kesimpulan yang dipaksakan. [irf]

29 Desember 2011