Showing posts with label Hujan. Show all posts
Showing posts with label Hujan. Show all posts

23 April 2014

Wangi Hujan

Saya menyukai aroma tanah sehabis hujan, saat bola-bola air masih menggantung di kabel telepon dan pucuk daun. Itu saat yang tepat bagi dua ekor burung untuk terbang menyobek pemandangan awan. Beberapa waktu sebelumnya, angin berhembus kencang, lalu air berebut mencium bumi, melepaskan rindunya. Hari-hari belakangan ini, kerinduan air tumpah juga di Jakarta. Langit kelabu hampir sepanjang waktu. Jalanan becek, dan orang-orang mulai pandai mengumpat.

Arsiran hujan samar-samar terlihat dari jendela kantor yang dikuasai hawa gigil dari pendingin ruangan. Suara klakson dan derum mobil terdengar bersahutan dari jalan raya yang ditawan kemacetan. “Tanabang, Tanabang, Tanabang!,” kondektur bus kota berteriak lantang merayu calon penumpang. Pejalan kaki yang tanpa payung bergerak tergesa. Para pencopet mungkin tengah bersiap melancarkan aksinya. Berlima, berenam, atau bahkan bertujuh; mereka siap memangsa penumpang bus yang kurang waspada.

Adzan ashar hampir dua jam telah lewat, dan hujan membawa kelam yang datang lebih cepat. Komputer sudah dimatikan, tapi kerja belum selesai, dia menagih jatah lagi esok hari. “Pulang Bung, sudah sore,” kawan sebelah hanya mengangkat jempol, pandangannya masih tertuju pada rumus excel. Ada pula suara Benyamin dan Ida Royani dari speaker meja yang lain. Yang punya meja masih sibuk menghitung biaya kuli bongkar muat yang laporannya baru sampai dari kantor cabang. Lamat-lamat memang, tapi saya hafal betul liriknya.

Waktu sampai di lobi, rintik hujan masih turun. Saya menerobosnya sampai masuk ke mikrolet yang hendak berangkat ke Kota. “Mangga Dua, Mangga Dua!. Ayo bu, geser-geser bu!.” Tak sampai lima menit mikrolet telah penuh, lalu meluncur.

Percakapan memenuhi ruang kecil angkutan umum itu. Seorang ibu memulai, “ujan mulu ye mpok, cucian kemarin aje belom pada kering!,” Yang diajak bicara menyahut, “iye, padahal mah udah dikasih Molto, tau tuh, masih wangi apa kagak, soalnye cuma kena angin doang, ga ada mataharinye.” Obrolan ibu-ibu terus berlanjut. Yang duduk di pojok, berhadap-hadapan, dua orang anak baru pulang dari sekolah sore, membicarakan acara live musik pagi. Mereka khawatir hujan turun pas hari H, lalu mengutuknya. Persis di sebelah saya, seorang perempuan muda, berbicara dengan seseorang, lewat ponsel, lawan bicaranya entah di mana. “Halo, masih di Pulo Mas, hujan sayaaang, macetnya jadi parah.”

Saya hanya diam, tak ada orang yang hendak diajak dan mengajak bicara. Seolah-olah saya pendengar setia ragam percapakan mereka. Duduk di belakang sopir menghadirkan pemandangan pinggir jalan yang kurang sempurna, sebab sebagian terhalangi orang yang duduk di dekat pintu, yang menghadap ke belakang. Tapi masih bisa saya lihat sepanjang jalan itu, rahmat hujan mendekap mesra tukang gorengan yang dikerubungi pembeli yang kedinginan. Dingin menghujam, perut segera mengisyaratkan rasa lapar. Gorengan menjadi sasaran. Uap air tampak mengepul dari gerobak tukang mie ayam. Penjual sibuk melayani pembeli yang mulai antri. Penjual sate Padang gesit menjaga bara api yang tengah bekerja menghangatkan potongan daging yang agak keras.

Di tengah gerimis yang masih berkuasa, denyut ekonomi para pedagang makanan itu menemui saatnya. Bagi mereka, hujan bukan untuk dirayakan dengan keluhan, sebab justru ketika pasukan air menyerang, penghasilan mereka cukup menggembirakan. Di titik ini hujan seolah ambigu; diratapi atau disyukuri. Namun barangkali hujan tidak pernah bermuka dua, hanya manusia saja yang menyikapinya berbeda. Di Jakarta, setiap orang seperti selalu membutuhkan kanal untuk mengalirkan keluhan. Dan hujan, seperti juga kemacetan, adalah objek yang tepat untuk dijadikan sasaran segala hamburan kekesalan.

Sebagian penghuni kota ini seolah lupa pada salah satu tokoh kesenian yang namanya diabadikan menjadi nama jalan. Memanjang dari Kemayoran sampai tembus ke Ancol, ya Jalan Benyamin Sueb. Benyamin bersama Ida Royani, pernah dengan riang menyanyikan lagu Hujan Gerimis yang tadi sempat saya dengar di kantor sebelum pulang. Kata “hujan” meskipun hanya sebagai pembuka pantun, namun dapat kita tangkap keriangan itu. Dirayakan dengan gembira.
E ujan gerimis aje, ikan teri diasinin… e jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin…
E ujan gerimis aje, ikan lele ada kumisnye… e jangan menangis aje, kalo boleh cari gantinye…
Lirik yang sederhana, namun bila mau meresapinya, ini sesungguhnya sama dengan keseharian kita. Pada “yang pergi” adalah juga tentang jemuran yang ditinggalkan rahmat cahaya matahari, tentang jadwal acara musik yang ditinggalkan kepastian cuaca yang cerah, juga tentang jalanan yang ditinggalkan lancar jaya sebab genangan air menghambat laju roda. “Jangan dipikirin”, lanjutnya. Ikhlaskan, lepaskan semua kekacauan hati. Sebab setelahnya, ketika hati telah bisa menerima, selalu ada kesempatan lain yang terhampar menunggu; “kalo boleh cari gantinye.”

Pun demikian dengan hari-hari belakangan ini. Toh dalam seminggu, hujan tidak turun selamanya, adakalanya dua atau tiga hari dalam sepekan matahari bersinar cukup garang. Bersama air yang turun, segala yang “meninggalkan” mestinya ikut luruh, lalu mengalir. Tak ada yang benar-benar hilang dari kehidupan kita, pengganti akan selalu hadir meski dalam wujudnya yang berbeda. Atau jika pengganti pun tidak kunjung datang, ke-ikhlasan sudah lebih dari cukup untuk menambal kehilangan yang sempat disesali.

Di jalan, waktu pulang kerja atau sekolah, ketika fisik dan pikiran telah lelah sempurna, memang tak gampang mengelola emosi. Apalagi kalau hujan. Tapi apakah energi yang mulai menipis itu harus pula digadaikan demi mengalirkan kekesalan?. Ihwal menyikapi hujan, kita bisa belajar dari siapa saja, selain dari lagu tadi, barangkali bisa juga memulainya dari para pedagang makanan kaki lima, yang mencium hujan sebagai wangi yang mengantarkan rejeki. [ ]

06 August 2012

Wangihujan Menjelang Malam

Wangi itu mendekapku dalam gigil. Cahaya lampu yang berpendaran dirobek arsiran hujan seperti nuansa sebuah film noir. Aku mencoba menyulut cigarette, tapi dia melarangnya. Mulut menjadi kecut dan asam, hanya tanganku yang merangkul bahunya dalam diam. Tanah yang basah dan wangi permen menyeruak mencucuk penciuman. Langit mulai hitam jelaga, kelip bintang tertutup; tak satu pun. Dalam diam tanpa kata-kata aku ingin menulis, memfosilkan jenak waktu ini untuk dibawa ke masadepan sebagai kenang-kenangan untuk hidup yang begitu biru. Tapi aku sadar, tidak semua kenangan akan menjelma bangunan yang kokoh, adakalanya aku harus mengalah, mengendapkan semuanya demi sesuatu yang lebih penting; lembaga kehidupan yang mengabadi. 

Di sini, di dekat wujudnya yang menebarkan aroma permen, aku melukis impian itu. Segala konflik ingin aku istirahatkan. Aku hanya tajam menatap matanya yang berkilauan nuansa biru. Capucino hangat tinggal setengah, dan pembicaraan belum usai. Memang banyak diamnya, tapi sesekali ada juga pandangan-pandangan terlontar, tentang pikiran yang terkadang kalut, atau pendapat yang jernih. Aku genggam tangannya yang kecil dan sedikit menciut. Aku rasakan ketakutannya yang tersembunyi jauh di balik wajah cerah itu. 

Bulan telah melewati Juni, tapi aku sering ingat Sapardi, begitu juga malam itu. Ya, “Hujan mengenal baik pohon, jalan, dan selokan---suaranya bisa dibeda-bedakan, kau akan mendengarnya meski sudah kau tutup pintu dan jendela. Meskipun sudah kau matikan lampu. Hujan, yang tahu benar membeda-bedakan, telah jatuh di pohon, jalan, dan selokan---menyihirmu agar sama sekali tak sempat mengaduh, waktu menangkap wahyu yang harus kau rahasiakan.”

Tapi sekarang malam terus beranjak, dan aku harus segera mengantarkannya pulang. Tanpa jaket, akhirnya ranger hijau centil itu meluncur, meninggalkan jejak yang terbaca waktu. Wangihujan di belakangku, membuka jaketnya dan menutupi dadaku yang terus-menerus diserang angin malam. Dalam catatan ini, aku mencoba memfosilkannya. Bukan untuk menajamkan pisau, tapi mencoba menumpulkan konflik yang mungkin akan masih meledak. Semoga saja tidak. [ ]   
     

19 July 2010

Kembali Kepada Dingin


Ruangan 3×3 adalah kotak istirahat, tempat saya memadamkan bara yang menyala sendirian. Sepertinya belum ada yang pastas menggantikan aroma kesendirian yang mengapung di tengah catatan, koran bekas, setumpuk buku, dan ricik hujan yang akhir-akhir ini menghunjam Jakarta. Inilah salah satu jenak terbaik untuk berbagi dengan kesenangan menulis, parade kata-kata, dan pemikiran ke dalam. Citarasa kehidupan sosial untuk sementara saya tanggalkan, dia menggantung di balik pintu, tempat beberapa ekor nyamuk berlindung dari serangan tepukan tangan atau obat yang dibakar.

Sudah dari sore mendung menggantung di langit, menampung air sebelum disiramkan ke permukaan bumi. Pintu kamar saya biarkan terbuka, lalu menyapa situs jejaring sosial lewat ponsel tanpa kamera. Dunia dalam genggaman, dan bisa disembunyikan di bawah bantal. Di layar kecil yang menyala saya membaca dan memperhatikan lalu-lintas komunikasi. Meskipun hanya menerka-nerka, sebenarnya para aktivis dunia maya bisa mendeteksi banyak orang tentang identitas, karakter, dan kegiatan hariannya. Inilah lab sosial digital yang garangnya tidak kalah dengan dunia nyata. Ada yang mundur teratur, ada yang menghilang, dan ada juga yang bertahan dengan macam-macam alasan. Tidak ada yang perlu diperdebatkan di sini: siapa menikmati, dia akan menjalani.

Hujan akhirnya turun, menyuburkan banyak inspirasi, puisi, kenangan, ojeg payung, sorak-sorai anak-anak kecil, dan keluh serta serapah. Ada juga yang berteduh di depan warung pulsa, pandangan dan pikirannya datar, sementara tukang es mulai resah menghitung laba. Jakarta sepertinya harus sering diguyur hujan, agar hawa dingin luruh menyelimuti setiap emosi yang bergemuruh. Saya tidak ingin mengingat puisi Sapardi di saat seperti ini, karena akan terlalu kental. Saya hanya ingin tetap duduk di depan layar monitor dan terus mengumpulkan kata-kata, mencoba mengikat makna. Tapi saya selalu gagal, terlalu susah untuk berjejak, umtuk menyemakan frekuensi dengan banyak pihak. Akan kamu temui bahwa ternyata saya tidak pernah bosan menambal-sulam, karena saya telah mencintainya diam-diam.

Sekarang telah banyak peringatan yang dilontarkan untuk mewaspadai musim hujan. Para penjaga pintu air mungkin telah mendengar kabar ini, kabar peringatan ini. Media pun telah banyak yang menurunkan beritanya tentang musim ini. Dan Jakarta selalu punya cerita: hujan satu jam, Thamrin dan Sudirman terendam. Kalau malam tiba, bola-bola api yang terang akan berkilauan di timpa air. Di kotak istirahat ini saya terkadang rindu: berjalan di tengan hujan yang menderu, atau bermain bola tanpa sepatu-di tengah lapang-di bawah guyuran hujan. Dua-duanya akan menyisakan rasa dingin atau bibir yang membiru. Dan ini akan lebih menyehatkan jiwa daripada mengeluhkan hujan sebelum berangkat kerja. [itp]

Foto: favim.com

22 January 2009

Tangis di Pagi Hari Bulan Oktober

Banyak sekali orang yang mengagumi dan terinspirasi oleh hujan, dari yang banyak itu salah satunya adalah dia. Dengan bunyinya hujan selalu memberi tahu bahwa pucuk daun jambu kedinginan. Hujan juga selalu mengabarkan tentang air yang jatuh di batu dan rerumputan. Hujan bisa membedakan antara atap rumah dan kubah mesjid. Tapi bunyinya tak terdengar di hati manusia, sebab di tempat itu hujan diendapkan pada bagian yang terdalam dan sunyi.

Adalah dia yang berjalan di pagi yang murung itu. Setelah tadi malam sesuatu yang menyesakkan mengusiknya, dia tidak bisa memejamkan mata. Meski bola lampu telah dipadamkan dan tirai jendela telah dirapatkan, tetap saja kantuk tak kunjung tiba menghampirinya. Ada sesuatu yang menari-nari di benak pikirannya, terlebih lagi di langit jiwanya. Maka lihatlah akhirnya dia hanya bisa berdialog dengan bantal yang perlahan mulai basah, bukan oleh hujan tapi airmatanya, sebab selain jatuh di luar, hujan juga telah diendapkan di titik terdalam perasaannya.

Dan di pagi hari bulan oktober yang gerimis itu, dia melangkah menyusuri setapak jalan dan menembus kabut. Harapannya sederhana : hujan tak berhenti jatuh dan tak ada seorang pun yang menyapanya. Tak sedikit pun lintasan pikiran yang mengajaknya untuk sejenak berteduh atau menyapa anak kecil yang berdiri di ambang pintu dengan berseragam sekolah. Dia hanya terus berjalan menunduk, entah apa yang dilihatnya. Yang jelas bukan tanah yang becek dan bebatuan yang basah. Tatapannya jauh menembus itu semua, sejauh angannya yang melayang-layang pada kejadian tadi malam.

Sesekali kawanan burung kecil berkejaran di udara, gerakannya seperti hendak merobek pemandangan awan yang pucat dan murung. Ada juga semilir angin menggoyangkan pucuk tanaman rambat yang membelit pagar rumah anak kecil berseragam sekolah. Deru mobil lain lagi, lamat-lamat terdengar di kejauhan dan akhirnya menghilang. Semua itu menandakan bahwa masih ada kehidupan dan harapan. Tapi sayang tak mampu menghiburnya.

Dalam setapak jalan yang sepi dia menangis lirih, airmatanya berjejalin dengan air hujan yang menetes di pipi. Hujan selalu pintar menyesuaikan dengan suasana hati. Di pagi hari bulan oktober itu dia menangis pelan sekali. Dia tengah menikmati pesona kesedihannya sendiri. [ ]

(Dedicated to Hermi Kusumawaty & Sapardi Djoko Damono)