Showing posts with label Jilbab. Show all posts
Showing posts with label Jilbab. Show all posts

01 October 2015

Dian Pelangi dan Semangat Lautan Jilbab

Tahun 1980-an, ketika jilbab atau sekarang banyak orang menyebutnya dengan hijab—identitas wanita muslim, masih belum leluasa tampil, budayawan Emha Ainun Nadjib sempat menulis puisi “Lautan Jilbab”. Berikut sepenggal baitnya :
“Jilbab adalah keberanian di tengah hari-hari sangat menakutkan / Jilbab adalah percikan cahaya di tengah-tengah kegelapan / Jilbab adalah kejujuran di tengah kelicikan / Jilbab adalah kelembutan di tengah kekasaran dan kebrutalan / Jilbab adalah kebersahajaan di tengah kemunafikan / Jilbab adalah perlindungan di tengah sergapan-sergapan.”
Pada saat yang bersamaan, Jama’ah Shalahuddin kampus Universitas Gajah Mada mementaskan “Lautan Jilbab”. Pasca pementasan tersebut, Niels Mulder—Sosiolog Belanda yang punya perhatian pada perkembangan Indonesia, mengatakan bahwa sejak itu jilbab perlahan ikut menjadi budaya masyarakat.
Memasuki tahun 2000-an, ketika gelombang dakwah mulai banyak menyentuh para public figure, terutama mereka yang bergiat di budaya populer, perkembangan jilbab semakin tak terbendung. Busana ini mulai beririsan dengan majalah wanita, koran, media sosial, serta perancang busana. Di mana-mana terbentuk komunitas dengan ketertarikan pada jilbab/hijab. Di tengah kondisi seperti inilah, Dian Wahyu Utami, atau lebih dikenal dengan Dian Pelangi—salah seorang perancang busana, hadir dan melahirkan karya-karya yang menarik.
Perempuan kelahiran Palembang ini membawa angin segar terhadap perkembangan mode di Indonesia. Tahun 2010, pasca diwawancara oleh CNN, popularitas Dian semakin melambung. Tak lama berselang, anggota termuda dari Asosiasi Perancang Pengusaha Muda Indonesia (APPMI) itu kemudian meluncurkan buku yang berjudul “Hijab Street Style”. Buku ini berisi berbagai gaya berbusana para muslimah yang ia temui di beberapa negara yang pernah ia kunjungi. Tahun 2014, Dian melahirkan buku “Brain Beauty Belief; Panduan Menjadi Muslimah yang Cerdik, Cantik, dan Baik.”
Di penghujung tahun 2011, Dian diundang ke Paris untuk mengikuti The International Fair of Muslim World di Le Bourget. Selain itu, baru-baru ini juga Dian masuk dalam daftar 500 tokoh mode berpengaruh dunia versi Majalah Business of Fashion. Pengalaman ini semakin membuatnya menjadi salah satu perancang busana yang kian diperhitungkan. Busana hijab rancangan Dian, meski oleh sebagian kalangan dipandang tak selalu syar’I, atau memenuhi kaidah agama, namun setidaknya telah ikut mempopulerkan sebuah budaya yang jauh-jauh hari telah dinyatakan oleh Niels Mulder, yaitu budaya berjilbab di masyarakat Indonesia.
Miranda Risang Ayu dalam buku “Mencari Senyum Tuhan” yang terbit tahun 2008 pernah menulis, “Dan kuturunkan kain ke dadaku. Kuturunkan dia supaya ikut tunduk pandanganku. Kuturunkan kain dari ubun-ubun menyungkup rambutku, supaya terlindung dan selamat aku, dari terik matahari ketika kerontang, pedih musim ketika dingin, serta gerayang panas mata dan tangan orang-orang yang berhati lemah yang berkeliaran sepanjang jalan. Kuturunkan kain ke sekujur tubuhku sapaya terjaga aku, tidak saja dari gangguan orang-orang yang aku temui tetapi juga dari godaan dalam diriku sendiri yang ingin bertingkah. Kain ini menyelematkan aku serta orang-orang di sekelilingku dari daya tarik keperempuananku yang mungkin menipu.”
Barangkali, hari ini, para jilbaber atau hijaber—begitu label yang kerap dilekatkan, belum banyak dan belum sepenuhnya memaknai busananya seperti apa yang dituturkan oleh Miranda Risang Ayu, namun setidaknya semangat itu telah digulirkan. Inilah sepotong mozaik dari wajah Indonesia kontemporer yang hendak dibawa ke Frankfurt.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, dengan hadirnya beberapa karya Dian Pelangi di rangkaian pameran buku tertua di dunia ini, kiranya dapat memberikan gambaran kepada khalayak yang hadir di sana, bahwa Islam sebagai agama anutan mayoritas penduduk di zamrud khatulistiwa, telah dan tengah mewarnai kebudayaan kontemporer warganya. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

18 October 2013

Mencari Senyum Tuhan

Saya lupa lagi tanggalnya, hari itu sedang sabtu. Depok selepas maghrib, dan lampu jalan masih digoda rintik hujan yang menyejukkan bumi. Perut saya digoda lapar, untuk kemudian bersegera membeli mie Aceh yang kurang mantap, tapi porsinya setelan untuk berantem. Kawan saya, si Joni terkapar kekenyangan, lalu menghisap cigaret produksi Philip Morris. Aroma mie masih setia menampar hidung, sebab tempat penggorengannya tidak jauh dari tempat duduk kami. Uang sedang tidak banyak, tapi masih ada. Masih bisa buat membeli beberapa buku tipis yang harganya tidak bikin sesak. Sambil ngobrol saya lempar wacana : "Jon, bagaimana kalau sekarang kita belanja buku?". Joni, kawan saya yang lumayan kutu buku itu langsung menjawab : "Balanja di mana Wa?, geus peuting kieu". Pasti bukan karena lupa pada Gramedia beliau menjawab begitu, pasti karena harga buku-buku di Gramedia yang kurang bersahabat dengan kantong mahasiswa. "Di Eureka Jon !!". Dia yang kuliah di Depok, yang jaket almamaternya berwarna kuning, yang kostannya tidak jauh dari jalan Margonda, adalah dia yang tidak tahu bahwa di jalan Margonda ada toko buku bernama begitu, bernama "Eureka" itu. Lalu kami tidak memperpanjang pembicaraan, karena lihatlah motor Ninjanya yang berwarna merah langsung membawa kami ke Eureka.

Seorang kasir langsung menyambut kami dengan ramah, dengan senyum yang cukup bagus, walaupun hari sudah malam. Sepi tidak ada pengunjung, hanya kami saja yang kemudian melihat-lihat jejeran buku di rak yang bersih dan rapi. Buku yang dijual discount semua, bikin saya berselera berlama-lama. Si Joni mencari buku inspirasi katanya, lalu dia mengacak-ngacak novel dan fiksi yang sejenisnya. Saya mencari buku yang discountnya paling besar, biar nanti kalau membayar paling murah. Ada saya lihat buku agak tipis dengan sampul yang kurang menarik, tapi penulisnya bikin saya akhirnya mendekati.

Tiba-tiba saya ingat beberapa waktu ke belakang, waktu itu masih Mts, sekolah Islam setara dengan SMP. Bapak di rumah berlangganan koran Republika, saya pun ikut-ikutan baca, baca sambil tidur-tiduran, akhirnya mata saya minus tiga. Bapak rajin betul baca koran, terutama tulisan tentang politik dan agama. Di halaman paling belakang, ada sebuah rubrik yang bernama "Resonansi". Tulisannya bagus-bagus kata Bapak, seperti mengajak saya untuk membaca rubrik itu. Lalu saya coba, lalu saya kurang mengerti, bahasanya belum terjangkau anak seusia saya. Tapi saya masih ingat, salah satu penulisnya yang rajin kirim tulisan adalah Miranda Risang Ayu. Nama yang bagus gumam pikir saya waktu itu.

Si Joni masih sibuk mencari novel yang sesuai dengan kondisi kejiwaannya, dan hujan masih gerimis menyelimuti tanah Depok dan sekitarnya, ketika saya akhirnya membeli "Mencari Senyum Tuhan", sebuah buku karya Miranda Risang Ayu.

Niatnya mau berhenti dulu membeli buku, tapi ternyata tidak semudah itu. Sampai jumpa di toko buku selanjutnya. InsyaAllah. [ ]