Showing posts with label Depok. Show all posts
Showing posts with label Depok. Show all posts

07 December 2014

Samping Lalayu Sekar

Saya terpaut sepuluh tahun dengannya. Sebuah jarak yang dipenuhi kabut ingatan. Lamat-lamat dari album foto terekam beberapa gambar tentang perjalanan rantau yang sangat dini. Dia pergi selepas lulus sekolah dasar di kampung. Mula-mula yang disinggahinya adalah sebuah pesantren di Pabelan. Menurut ceritanya, dia menangis hampir tiap hari dalam sebulan pertama menempuh pendidikan di rantau orang. Sementara saya masuk sekolah dasar pun belum.

Sejak itu, riwayat pendidikan formalnya tak pernah kembali ke kampung. Menikah dan berumah tangga pun di luar kota, sampai detik saat nafas terakhirnya melayang, dia jalani semuanya di puak orang.

Komunikasi antara anak pertama dan anak kelima bukanlah jembatan yang mulus, meskipun kami sama-sama anak laki-laki; hanya berdua dari tujuh bersaudara. Saya percaya bahwa tiap generasi mempunyai bahasa dan alam pikirannya sendiri yang berlain-lainan. Seperti ada gap yang tak hendak kami seberangi.

Meskipun demikian, saya banyak berhutang kepadanya. Tak terhitung pertolongan yang mengalir di nadi riwayat hidup yang pernah saya lalui. Dari perspektifnya; anak pertama mesti jadi nakhoda kedua setelah orangtua. Dan saya tak berdaya menolak semua kebaikannya.

Selepas di Pabelan, Surakarta adalah kota kedua perantauannya. Masih di pesantren modern yang ketat, kemampuan bahasa asing diasah di sana. Kelak kalau ada libur panjang dan pulang kampung, latihan mengajar di madrasah tsanawiyah adalah pilihannya.

Sekira tiga minggu sebelum “pasar malam berakhir”, kawan-kawan semasa SMA-nya datang yang disambut dengan linangan air mata. Barangkali haru membuncah di lereng ingatan tentang masa jaya di kampus putih-abu. Memang dia sempat aktif di OSIS, Calung, Band, dll. Dan mengenang hal tersebut dengan orang yang sama, yang datang dari masalalunya, sementara kondisi kesehatan semakin memburuk, memang bukan sesuatu yang mudah.

Do’a dan penyemangat membanjir, lalu terbang merambat ke langit. Sementara rumah sakit masih dalam kondisi kelabu, tentang daya tahan tubuh yang semakin menurun. Saya melemparkan pandangan ke arah gunung Malabar di selatan. Kabut samar-samar menutupi puncaknya. Ya, barangkali puncak geografis itu laksana harapan manusia, semakin tinggi semakin banyak pula halangannya.

Derap detik itu seperti menghitung mundur perpisahan dengan hidup. Saya duduk di pinggir kasur, menatap kakinya yang semakin mengecil. Tak lama nafasnya kembali berat.


Jika SMA dihabiskan di Cibadak-Sukabumi, maka Depok adalah tempat melanjutkan untuk kuliah di Politeknik UI. Kalau kondisi lumayan baik, dia suka cerita masa-masa kuliahnya. Dan satu yang dapat saya simpulkan; baginya, masa kuliah tidak terlampau berkesan. Selepas wisuda, dan sampai akhir hayatnya dihabiskan di jalan berliku dunia perbankan; sesuatu yang justeru tak pernah berhasil saya tembus.

Telah beberapakali saya memandikan jenazah dan menyaksikan raga diantarkan ke liang lahat, keduanya berhasil membuat hati menjadi luluh dan bergetar. Namun sekali ini saya menyaksikan sesuatu yang lebih menggentarkan!

Pada awal sebelum yang penghabisan saya menemaninya di ruang yang hanya merawat satu pasien. Besoknya dia ingin pindah ke ruangan yang dihuni dua orang pasien, biar ada kawan katanya. Saya menuruti saja. Sementara dari semalam kondisi pernafasannya semakin mengkhawatirkan; tak bisa tidur sampai pagi. Di ruangan yang baru pun sama saja, serangan sesak semakin sering.

Kemudian datanglah hari Jum’at. Jam 10 pagi dia melontarkan pertanyaan terakhir. Lalu badai dahsyat datang! Setelah menunggu kekalahan selama 2 jam 15 menit, akhirnya dia tumbang.

Dulu waktu SD sebuah puisi tentang pahlawan yang gugur pernah dia deklamasikan di depan orang banyak. Dan kini dia sendiri telah layu dihadapan sang takdir dan ketentuan yang tak seorang pun mampu menolaknya. Selamat jalan. Semoga kembali dengan jiwa yang tenang. Amin. [irf]  

Dedicated to my old brother   

18 October 2013

Mencari Senyum Tuhan

Saya lupa lagi tanggalnya, hari itu sedang sabtu. Depok selepas maghrib, dan lampu jalan masih digoda rintik hujan yang menyejukkan bumi. Perut saya digoda lapar, untuk kemudian bersegera membeli mie Aceh yang kurang mantap, tapi porsinya setelan untuk berantem. Kawan saya, si Joni terkapar kekenyangan, lalu menghisap cigaret produksi Philip Morris. Aroma mie masih setia menampar hidung, sebab tempat penggorengannya tidak jauh dari tempat duduk kami. Uang sedang tidak banyak, tapi masih ada. Masih bisa buat membeli beberapa buku tipis yang harganya tidak bikin sesak. Sambil ngobrol saya lempar wacana : "Jon, bagaimana kalau sekarang kita belanja buku?". Joni, kawan saya yang lumayan kutu buku itu langsung menjawab : "Balanja di mana Wa?, geus peuting kieu". Pasti bukan karena lupa pada Gramedia beliau menjawab begitu, pasti karena harga buku-buku di Gramedia yang kurang bersahabat dengan kantong mahasiswa. "Di Eureka Jon !!". Dia yang kuliah di Depok, yang jaket almamaternya berwarna kuning, yang kostannya tidak jauh dari jalan Margonda, adalah dia yang tidak tahu bahwa di jalan Margonda ada toko buku bernama begitu, bernama "Eureka" itu. Lalu kami tidak memperpanjang pembicaraan, karena lihatlah motor Ninjanya yang berwarna merah langsung membawa kami ke Eureka.

Seorang kasir langsung menyambut kami dengan ramah, dengan senyum yang cukup bagus, walaupun hari sudah malam. Sepi tidak ada pengunjung, hanya kami saja yang kemudian melihat-lihat jejeran buku di rak yang bersih dan rapi. Buku yang dijual discount semua, bikin saya berselera berlama-lama. Si Joni mencari buku inspirasi katanya, lalu dia mengacak-ngacak novel dan fiksi yang sejenisnya. Saya mencari buku yang discountnya paling besar, biar nanti kalau membayar paling murah. Ada saya lihat buku agak tipis dengan sampul yang kurang menarik, tapi penulisnya bikin saya akhirnya mendekati.

Tiba-tiba saya ingat beberapa waktu ke belakang, waktu itu masih Mts, sekolah Islam setara dengan SMP. Bapak di rumah berlangganan koran Republika, saya pun ikut-ikutan baca, baca sambil tidur-tiduran, akhirnya mata saya minus tiga. Bapak rajin betul baca koran, terutama tulisan tentang politik dan agama. Di halaman paling belakang, ada sebuah rubrik yang bernama "Resonansi". Tulisannya bagus-bagus kata Bapak, seperti mengajak saya untuk membaca rubrik itu. Lalu saya coba, lalu saya kurang mengerti, bahasanya belum terjangkau anak seusia saya. Tapi saya masih ingat, salah satu penulisnya yang rajin kirim tulisan adalah Miranda Risang Ayu. Nama yang bagus gumam pikir saya waktu itu.

Si Joni masih sibuk mencari novel yang sesuai dengan kondisi kejiwaannya, dan hujan masih gerimis menyelimuti tanah Depok dan sekitarnya, ketika saya akhirnya membeli "Mencari Senyum Tuhan", sebuah buku karya Miranda Risang Ayu.

Niatnya mau berhenti dulu membeli buku, tapi ternyata tidak semudah itu. Sampai jumpa di toko buku selanjutnya. InsyaAllah. [ ]

14 May 2012

Perjalanan Malam Memburu Mie Aceh

Saya lupa lagi tanggalnya, hari itu sedang sabtu. Depok selepas maghrib, dan lampu jalan masih digoda rintik hujan yang menyejukkan bumi. Perut saya digoda lapar, untuk kemudian bersegera membeli mie Aceh yang kurang mantap, tapi porsinya setelan untuk berantem. 

Kawan saya, si Joni terkapar kekenyangan, lalu menghisap cigaret produksi Philip Morris. Aroma mie masih setia menampar hidung, sebab tempat penggorengannya tidak jauh dari tempat duduk kami. 

Uang sedang tidak banyak, tapi masih ada. Masih bisa buat membeli beberapa buku tipis yang harganya tidak bikin sesak. 

Sambil ngobrol saya lempar wacana: "Jon, bagaimana kalau sekarang kita belanja buku?"

Joni, kawan saya yang lumayan kutu buku itu langsung menjawab: "Balanja di mana Wa? Geus peuting kieu." 

Pasti bukan karena lupa pada Gramedia beliau menjawab begitu, pasti karena harga buku-buku di Gramedia yang kurang bersahabat dengan kantong mahasiswa.

"Di Eureka Jon !!" 

Dia yang kuliah di Depok, yang jaket almamaternya berwarna kuning, yang kosannya tidak jauh dari Jalan Margonda, adalah dia yang tidak tahu bahwa di Jalan Margonda ada toko buku bernama begitu, bernama "Eureka" itu. 

Lalu kami tidak memperpanjang pembicaraan, karena lihatlah motor Ninja-nya yang berwarna merah langsung membawa kami ke Eureka.

Seorang kasir langsung menyambut kami dengan ramah, dengan senyum yang cukup bagus, walaupun hari sudah malam. 

Sepi tidak ada pengunjung, hanya kami yang kemudian melihat-lihat jejeran buku di rak yang bersih dan rapi. Buku yang dijual discount semua, bikin saya berselera berlama-lama. 

Si Joni mencari buku inspirasi katanya, lalu dia mengacak-ngacak novel dan fiksi yang sejenisnya. Saya mencari buku yang discountnya paling besar, biar nanti kalau membayar paling murah. Ada saya lihat buku agak tipis dengan sampul yang kurang menarik, tapi penulisnya bikin saya akhirnya mendekati.

Tiba-tiba saya ingat beberapa waktu ke belakang, waktu itu masih Mts, sekolah Islam setara dengan SMP. Bapak di rumah berlangganan koran Republika, saya pun ikut-ikutan baca, baca sambil tidur-tiduran, akhirnya mata saya minus tiga.

Bapak rajin betul baca koran, terutama tulisan tentang politik dan agama. Di halaman paling belakang, ada sebuah rubrik yang bernama "Resonansi". Tulisannya bagus-bagus kata Bapak, seperti mengajak saya untuk membaca rubrik itu. 

Lalu saya coba, lalu saya kurang mengerti, bahasanya belum terjangkau anak seusia saya. Tapi saya masih ingat, salah satu penulisnya yang rajin kirim tulisan adalah Miranda Risang Ayu. Nama yang bagus gumam pikir saya waktu itu.

Si Joni masih sibuk mencari novel yang sesuai dengan kondisi kejiwaannya, dan hujan masih gerimis menyelimuti tanah Depok dan sekitarnya, ketika saya akhirnya membeli Mencari Senyum Tuhan, sebuah buku karya Miranda Risang Ayu.

Niatnya mau berhenti dulu membeli buku, tapi ternyata tidak semudah itu. Sampai jumpa di toko buku selanjutnya. InsyaAllah. [ ]