Showing posts with label Mimpi-mimpi Einstein. Show all posts
Showing posts with label Mimpi-mimpi Einstein. Show all posts

03 September 2017

Alan Lightman dan Dongeng Waktu




Tiga minggu setelah ulang tahunnya yang pertama, tirto.id tutup. Seminggu sebelum tutup, tim riset yang kerap memburu data sampai ke liang semut menemukan satu fakta tak terbantahkan, bahwa kiamat qubro, kiamat yang akan mengakhiri semua kehidupan di dunia, akan datang empat minggu setelah tirto.id ulang tahun.

Di pekan terakhir sebelum tim redaksi dibubarkan, tak ada satu pun berita yang dinaikkan. Ruang indept dan mild report hanya dipenuhi puisi dan beberapa penggal cerita detektif yang terburu-buru. Penulis musik, penulis humor pesantren, dan penulis sejarah paling produktif se-Kemang Timur, semuanya hanya termangu.

Pekerjaan apa yang paling tepat dilakukan ketika semua orang tahu kiamat akan datang dua minggu lagi? Memutar musik punk barangkali sebuah pilihan yang tidak terlalu buruk.

“Apa artinya meneruskan masa kini bila seseorang telah melihat masa depan?” Ujar Alan Lightman.

Waktu adalah uang, kata sebagian. Ia ibarat pedang, tak jeri menebas batang lehermu, kata sebagian lagi. Ia seolah dimensi tak terbantahkan tentang kengerian. Namun di Berne, Swiss, dalam mimpi seorang kerani muda, waktu tak sesederhana itu. Warsa 1905, Albert Einstein bermimpi tentang berbagai hakikat waktu yang menakjubkan.

Tigapuluh dongeng tentang waktu membuat hidup tak terlalu menyedihkan. Kerangkeng waktu yang kaku tidak berlaku di sini. Ada berbagai kemungkinan yang indah sekaligus ganjil, kepiluan hanya bersemayam dalam jambangan.  

“Andaikan waktu adalah soal kualitas dan bukan kuantitas, seperti cahaya malam yang menaungi pepohonan, saat bulan naik dan menyisiri garis-garis pohon. Waktu hadir, tetapi tak bisa diukur,” tulis Einstein dalam satu mimpinya.

Hari-hari yang bergegas, pekerjaan yang datang silih berganti, kerap membuat waktu kehilangan keindahan. Kalaupun ada dan masih tersisa, hanya sekerat senja yang digilai beramai-ramai. Jingga di ufuk barat, menjadi kiblat dan muara refleksi. Di kanal-kanal digital, orang-orang menerangkan diri dengan kata-kata “penikmat senja”, “pemburu senja”, “pencinta kopi dan senja”, dan kalimat serupa lainnya.

Jika waktu adalah soal kualitas, senja tak akan sepopuler sekarang, karena keindahan hadir pula di jendela bus kota yang buram, uap air  hujan melukis kaca yang berdebu. Di halte-halte tempat menunggu, derap sepatu dan aroma parfum yang melumuri baju, adalah keindahan yang lain.

Sekali waktu di bulan Juli 2016 yang basah, saya pergi ke Subang mengendarai sepeda motor. Perjalanan melewati hutan dan jalan makadam yang diselimuti lumpur. Di kiri jalan, bekas longsor menganga. Pohon-pohon tumbang bergeletakan di tubir bukit. Ketika hujan mulai turun, saya disergap kengerian. Ancaman longsor menghantui. Saya pontang-ponting berusaha secepatnya menyelesaikan jalan itu. Namun medan yang berat malah membuat saya terjatuh dua kali.

Di satu titik, hanya berjarak 10 meter dari saya, sebuah pohon tiba-tiba tumbang dan menghalangi jalan. Setelah berhasil disingkirkan dan bisa kembali melanjutkan perjalanan—masih dalam kepungan hujan, saya teringat sebuah adegan di film The Curious Case of Benjamin Button arahan sutradara David Fincher.

Ada sebuah adegan tentang takdir waktu. Perbedaan dua menit menjadi begitu penting bagi orang yang tertabrak mobil. Ketika seseorang tertimpa musibah, hal itu belum tentu terjadi jika ia mempercepat atau memperlambat dua menit langkahnya. Peristiwa begitu presisi dalam satuan waktu. Ia punya takdirnya masing-masing. Dalam kasus saya, dua kali terjatuh adalah gerak memperlambat langkah, dan akhirnya terhindar dari pohon yang tumbang tadi. Saya bergidik membayangkan jika seandainya tak terjatuh dua kali.

Barangkali apa yang saya alami adalah apa yang dimaksud oleh Einstenin berikut, “Di dunia ini, waktu seperti aliran air, kadang terbelokkan oleh secuil puing, oleh tiupan angin sepoi-sepoi.”

Dunia seringkali dipenuhi iri dengki. Atau tentang cita-cita yang kemaruk. Seseorang ingin menjadi orang lain, atau ingin hadir di banyak tempat dalam waktu yang bersamaan. Pilihan bagi yang tak mengerti waktu, kerap melahirkan kebingungan. Jika memilih A, maka B tak diambil. Kalau memilih B, maka A tak didapat. Begitu seterusnya. Bolak-balik menyuburkan rasa bimbang.

Untuk perkara yang sederhana sekaligus rumit ini, Einstein jauh-jauh hari telah menyampaikan solusi bijak bestari bagi siapa saja yang tak becus memilih. Dalam mimpinya yang lain ia menulis:

“Ketika dua waktu bertemu, yang terjadi adalah keputusasaan. Ketika dua waktu menuju arah yang berbeda, hasilnya adalah kebahagiaan. Karena itulah, secara menakjubkan, seorang pengacara, perawat, tukang roti dapat menghendaki satu dunia, tidak keduanya. Tiap waktu adalah benar, tetapi kebenaran itu tidak selalu sama.”

Dunia diisi oleh orang-orang beringatan pendek. Sekarang ingat, besok lusa lupa. Dulu bertengkar ihwal lambang negara, sekarang bersiap perang, barangkali besok sudah tenang lagi. Dan siklus itu akan berulang. Terpujilah para arsiparis yang sepanjang hayatnya dipenuhi gairah menyimpan peristiwa, merawat, dan menjadikannya sadar jaga bahwa waktu terus berulang.

“Janganlah sekali-kali melupakan sejarah,” kutip banyak orang di media sosial. Itu betul belaka, dan diaminkan Einstein dalam mimpinya, “Andaikan waktu adalah suatu lingkaran, yang mengitari dirinya sendiri. Demikianlah, dunia mengulang dirinya sendiri, setepat-tepatnya, dan selama-lamanya.”

Dongeng tentang waktu boleh banyak, tapi hari ini waktu berderap dengan wajah yang relatif kita kenali, atau mungkin sebaliknya, waktulah yang mengenali kita.

Pagi-pagi terbangun oleh alarm entah di mana. Mandi, sarapan, dan berangkat kerja. Sebelum kerja menikmati dulu gosip-gosip manis, menyeduh kopi, lalu menceburkan diri ke dalam pekerjaan yang membosankan namun terus digeluti karena kebutuhan.

Di tempat lain, setiap profesi bergerak dengan irama yang sama. Jadwal yang itu-itu saja. Waktu bergerak linear, mengalir menuju titik akhir yang selalu dikhawatirkan. Einstein menyebutnya sebagai kemutlakan.

“Waktu melaju dengan keteraturan yang sangat rancak, dengan kecepatan yang sangat tepat, pada setiap sudut ruang. Waktu adalah penguasa tanpa batas. Waktu adalah kemutlakan.”

Barangkali dari situlah semua kepiluan bermula. Manusiatak punya daya untuk menolak. Tunduk dan patuh kepada waktu bukanlah sebuah sikap setia, tapi memang tak ada pilihan lain, selain ikut mengalir bersama arusnya.

Untuk mengobati kesedihan, orang-orang menjerat peristiwa dengan kamera, tulisan, dan media pengawet kenangan lainnya. Tapi waktu bukan jenis penyakit yang bisa disembuhkan, ia terus menggerogoti manusia. Tak ada yang imun dari tebasannya. Dan begitulah kehidupan.

“Hidup adalah jambangan kesedihan, tapi adalah lebih terhormat untuk menjalaninya. Tanpa waktu tak akan ada kehidupan,” ujar Einstein. Dan itu bukan dongeng, tapi kenyataan.

Alan Paige Lightman lahir Memphis, Tennese, pada 28 November 1948. Ia adalah seorang fisikawan dan penulis. Karya ilmiahnya memberikan kontribusi mendasar pada astrofisika lubang hitam dan perilaku materi dan radiasi di bawah kondisi suhu dan kerapatan yang ekstrim. Ia mengajar di Harvard University dan Massachusetts Institute of Technology.

Einstein’s Dreams adalah karyanya yang amat populer. Puluhan kali diadaptasi ke dalam bentuk teater, dan menjadi salah satu buku umum paling banyak digunakan di kampus-kampus.

Lewat Einsteins, ia menghamparkan puluhan perspektif tentang waktu. Manusia ringkih menghadapi waktu, dan ia menghiburnya dengan dongeng. Muaranya bukan sekadar hiburan, melainkan kontemplasi yang membuahkan kesadaran, bahwa waktu adalah hakikat, mutlak, dan milik Yang Maha Mutlak.

“Orang-orang yang religius memandang waktu sebagai bukti adanya Tuhan. Tak ada yang tercipta sempurna tanpa adanya Sang Pencipta. Tak ada yang universal yang tidak bersifat ketuhanan. Semua yang mutlak adalah bagian dari Yang Maha Mutlak. Di mana ada kemutlakan, di situlah waktu berada. Karena itulah, para filsuf menempatkan waktu sebagai pusat keyakinan mereka. Waktu adalah pedoman untuk menilai semua tindakan. Waktu adalah kejernihan untuk melihat salah atau benar,” tulisnya.

Dan dalam satu fragmen dongengnya ia menulis dengan rendah hati, “Aku ingin mengerti waktu karena aku ingin mendekati Tuhan.” [irf]

23 April 2014

Kiamat di Jakarta



(Dengan permintaan maaf kepada Alan Lightman)

***

Bayangkan jika misalnya dunia berakhir pada tahun 2047, dan seluruh warga Jakarta mengetahuinya.

Setahun sebelum kiamat, DPR RI dibubarkan. Orang-orang yang selama ini mengatasnamakan wakil rakyat antri di studio tv menunggu giliran. Bukan untuk menghadiri kuis kebangsaan, melainkan hendak mengakui segala dosa-dosanya kepada rakyat. Seluruh harta hasil menjarah mereka kembalikan ke kas negara, dan mereka pergi ke desa-desa tepi hutan untuk berladang, sebagian lagi menjadi penyapu jalan, takmir mesjid, kondektur bus kota, mengajar di sekolah-sekolah terpencil, penjaga toilet terminal, dan ada juga yang menjadi pengantar koran.

Dosa-dosa personal diselesaikan di rumah. Di depan istri dan anak-anaknya, mereka mengakui pernah berselingkuh dengan penyanyi dangdut, sekretaris pribadi, bintang film, atau dengan sosialita kurang ternama. Mereka pasrah, tapi tak berani untuk harakiri. Sebelum pengakuan itu, pisau dapur dan obeng kembang sengaja disembunyikan. Mereka menangis, sujud di depan anak-istrinya yang tengah bingung untuk membedakan; ini sinetron atau kehidupan nyata.

Para pengembang perumahan dan apartemen tidak lagi beriklan “sebelum harga naik”. Kerjasama dengan Fenny Rose telah dihentikan. Tak ada lagi ambisi untuk membangun hunian-hunian tepi pantai yang indah, atau di sekitar segitiga emas Jakarta yang potensial. Mereka hanya membangun panti asuhan dan panti wreda. Kesadaran mencuat dalam benak, bahwa dunia akan segera berakhir, dan segalanya akan kembali ke pemilik Agung Alam Semesta.

Sebulan sebelum kiamat, orang-orang hilang korban penculikan ditemukan kuburnya. Para penculik dengan rasa sesal yang sangat besar membeberkan semuanya. Detail peristiwa dan kronologisnya mereka tulis dalam sebuah buku tebal. Di dalam buku itu, selain nama-nama korban,  ditulis juga siapa saja yang menjadi dalang penculikan. Misteri keberadaan Wiji Thukul dan pembunuhan Munir perlahan terkuak, dan kemudian menjadi jelas. Para pegiat HAM yang mengikuti peristiwa tersebut sedikit saja, rupanya menjelang kiamat para pegiat palsu telah bertobat dari kemunafikan, dan memilih untuk tidak ikut-ikutan.

KPU dibubarkan, sebab sudah tidak akan ada lagi pemilu yang memakan biaya besar. Partai politik berubah menjadi majelis-majelis keagamaan, kemudian “diakuisisi” oleh para ustadz, kiai, pendeta, dan habib. Ruang publik bersih dari polusi visual. Gambar-gambar caleg menghilang dari pohon, tiang listrik, tembok gang, gapura, wc umum, tong sampah, dan jembatan penyeberangan. Semuanya sebenar bersih.

Supporter sepakbola tidak lagi bermusuhan. Mereka berkumpul di GBK. Dari Bandung, Malang, Surabaya, Medan, Makassar, Solo, Yogyakarta, Samarinda, Tangerang, Papua, Lamongan, Kediri, Padang, Pekanbaru, dan daerah-daerah lainnya, semuanya hadir mengikuti semacam rekonsiliasi nasional. Sebagai tuan rumah, tentu suporter Jakarta ikut hadir juga. Mereka menangis dan saling berpelukan.  Segala dendam dan kebencian luruh, yang tersisa hanya kata maaf. Memaafkan bekas musuh dan diri sendiri; betapa permusuhan itu telah mereka dijalani selama berpuluh-puluh tahun. Di titik ini kesadaran menggetarkan kemanusiaan. Acara dipungkas dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu adalah anthem terakhir di stadion kebanggaan sebelum kiamat datang. Langit pucat mendengarkan deru syahdu lagu.

Acara tv, tidak lagi menayangkan humor-humor stereoform. Acara musik pagi pun sudah dihapuskan. Anak-anak alay berkumpul di Monas dan membuat lingkaran-lingkaran kecil. Di satu lingkaran ada yang bergantian membacakan puisi Rendra, Chairil Anwar, Acep zamzam Noor, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Sutardji, dan Sitor Situmorang. Seseorang telah memfotocopy naskah-naskah puisi itu, dan mereka mencoba menghayatinya.

Sementara di lingkaran yang lain ada seorang perempuan cantik yang memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu Payung Teduh, Float, Banda Neira, Frau, The Monophones, dan Mocca. Alay-alay tak satu pun yang tahu liriknya, mereka sebagaimana biasanya, hanya bergoyang pelan dan menepuk-nepukkan tangan. Lagu yang hinggap di pendengarannya begitu asing, tak pernah mereka jumpai di studio televisi.

Sungai Ciliwung dibersihkan. Warga yang hidup di bantaran turun ke sungai yang kotor dan memunguti sampah. Sementara pabrik-pabrik yang selalu menggelontorkan limbah pembuangan ke sungai telah ditutup. Sungai merdeka dari kebodohan manusia justru ketika kiamat akan segera datang.

Di Jakarta sudah tidak dijumpai tukang kerak telor dan mie rebus. Para penjualnya telah pulang ke Garut dan Kuningan. Penjual sate pun demikian, mereka tidak lagi mudik, melainkan pulang permanen ke arah barat Sumatera dan timur Jawa. Yang paling banyak tersedia hanya nasi uduk pindang tongkol, hampir di setiap gang, pagi dan petang, ibu-ibu setengah baya masih menjualnya, termasuk mpok Hindun dekat kontrakan saya. Selebihnya tak dapat diharapkan; warung nasi Padang yang masih buka hanya tinggal di Senen, Kebayoran Lama, dan Mataraman. Restoran, café, dan hotel telah tutup.

Dua minggu sebelum kiamat, jalanan tertib, meskipun tanpa kehadiran polisi. Tak ada lagi suara klakson bersahut-sahutan dan umpatan khas kebun binatang. Pengendara mobil dan motor, ketika lampu merah, tidak melewati zebra cross. Ketika para pejalan kaki lewat, mereka melambaikan tangan, saling menyapa, dan tersenyum.

Sekolah dibubarkan, dan warnet ditutup. Anak-anak sekolah tidak ada lagi yang tawuran dan main game online. Mereka bermain bola sepuasnya. Ada pula yang bersepeda keliling kota tanpa takut diserempet mobil yang sopirnya ugal-ugalan dan setengah mabuk. Anak-anak perempuan menanam dan merawat bunga di rumahnya masing-masing. Buku-buku di perpustakaan dipindahkan ke taman-taman kota, dan tukang becak dengan malu-malu mulai membacanya.

Tak ada lagi yang bekerja lembur, sebab semua perusahaan telah ditutup. Dua minggu terakhir dalam kehidupannya, para pegawai, karyawan, buruh, kuli (kasta yang sebetulnya sama) menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya. Mereka memasak bersama, bercanda dengan anak-anaknya, membersihkan rumah, memutar lagu-lagu favorit, dan melepaskan burung-burung yang selama ini mereka pelihara dalam sangkar. Kasih sayang dan perhatian kepada sesama anggota keluarga tumbuh subur di dua minggu terakhir riwayat kehidupan.

Patung yang ada Pancoran, Bundaran Senayan, dan lapangan Banteng, tiba-tiba hidup dan mereka pergi menuju bundaran HI. Patung Selamat Datang pun turun dari singgasananya. Mereka kemudian duduk melingkar di tepi kolam itu, berbincang tentang Presiden Indonesia, Gubernur Jakarta, serta banjir dan macet yang sudah bosan mereka lihat. Ada yang mengidolakan Bang Ali Sadikin, ada pula yang mengkritik sanjung puja warga terhadap Jokowi, yang menurut mereka terlalu berlebihan.

Sehari menjelang kiamat, Jakarta sunyi dan semua warga terdiam, kecuali satu orang. Dia adalah wak Haji yang dikelilingi tujuh orang pemuda. Mereka duduk di tengah jalan Suprapto, Cempaka Putih. Beliau membacakan sebuah sabda yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat, maka hendaklah dia menanamnya. [ ]