Showing posts with label Okky Madasari. Show all posts
Showing posts with label Okky Madasari. Show all posts

23 September 2015

Usaha Menyapa Ruang Baca Dunia

Sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, meskipun persiapannya tidak terlalu panjang, Indonesia telah dan tengah mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk kesempatan yang dipercayakan tersebut. Beberapa buku berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dan mulai dilirik oleh penerbit luar untuk diterbitkan di negaranya masing-masing.
Setidaknya sudah ada 18 karya yang copyright-nya dibeli terkait pameran buku terbesar di dunia ini, di antaranya; “Amba” karya Laksmi Pamuntjak, “Cantik itu Luka” dari Eka Kurniawan, “Dan Perang pun Usai” tulisan Ismail Marahimin, “Gadis Kretek” karya Ratih Kumala, “Pasung Jiwa” dari Okky Madasari, dan masih banyak lagi.
Keberhasilan ini menambah daftar riwayat panjang karya para penulis Indonesia yang diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Dari sekian banyak karya yang diterjemahkan dalam 30 tahun terakhir, ada dua penulis yang begitu menonjol dalam hal jumlah penerjemahan, yaitu; Pramoedya Ananta Toer dan Andrea Hirata. Kedua pengarang ini, bukunya telah diterjemahkan ke lebih dari 10 bahasa asing.
“Bumi Manusia”, bagian pertama dari Kwartet Buru karangan penulis yang hampir sepanjang hidupnya dinista semesta purba penjara, sejak tahun 1980 telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, di antaranya; “Aarde Der Mensen” (edisi Amsterdam), “Ren Shi Jian (Tiongkok), “This Earth of Mankind” (edisi Australia), “Garten Der Menschheit” (edisi Berlin), “Manniskans Jord” (edisi Swedia), “Ningen No Datchi” (edisi Jepang), “Questa Terra Dell’Uomo” (edisi Milan), “Tierra Humana” (edisi Spanyol), “Menneskenes Jord” (edisi Norwegia), “Le Monde des Hommes” (edisi Prancis), dan lain-lain.
Sementara “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang nanti akan ikut dipamerkan di Frankfurt, seperti halnya karya Pramoedya Ananta Toer, sampai hari ini, juga telah diterjemahkan ke banyak bahasa, di antaranya; “La Tropa Del Arco Iris (edisi Spanyol), “The Rainbow Troops” (edisi Australia), “De Regenboogbende” (edisi Belanda), “Die Regenbogen Truppe” (edisi Jerman), “A Vegletek Szigete” (edisi Hungaria), “La Scuola Ai Confini Del Mondo” (edisi Italia), “Guerreiros da Esperanca” (edisi Brazil), “Gokkusagi Askerleri” (edisi Turki), “Chien Binh Cau Vong” (edisi Vietnam), “Les Guerriers de I’arc-en-ciel” (edisi Prancis), dan lain-lain.
Keberhasilan penerjemahan buku ke ragam bahasa warga dunia adalah jalan untuk meluaskan “suara” yang hendak disampaikan si penulis. Dengan penerjemahan--sekadar menyebut contoh, apa yang ingin Pramoedya Ananta Toer sampaikan lewat tokoh Minke yang membenci feodalisme, juga tokoh Nyai Ontosoroh yang berkarakter kuat, dapat lebih mudah dipahami. Roman dengan narasi yang dibangun di titik persalinan bangsa yang begitu pelik, pada akhirnya dapat mengisi ruang baca warga dunia.
Begitu pun dengan yang ingin disuarakan oleh Andrea Hirata lewat “Laskar Pelangi”. Kaum pinggiran yang termarjinalkan secara pendidikan dan ekonomi, dan negara seolah abai kepadanya, dapat dengan leluasa dibaca oleh warga dunia. Ikal, Lintang, Mahar, dan bocah-bocah SD Muhammadiyah lainnya, yang miskin namun menebarkan semangat belajar berpendar-pendar; berlarian, menelusup ke ruang baca yang lebih luas.

Pramoedya Ananta Toer dan Andrea Hirata, dua pengarang yang mewakili dua zaman yang berbeda, suara-suaranya telah sampai ke pojok-pojok jauh dunia. Kini, di Frankfurt, dengan dialiri semangat yang sama dari dua penulis tersebut, kiranya karya para penulis Indonesia yang lain dapat pula menjangkau pembaca yang lebih luas lagi. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Membela Kemanusiaan Melalui Kesusastraan

Sejak “Entrok”, karya pertama Okky Madasari terbit di tahun 2010, ia kemudian dikenal sebagai seorang penulis perempuan yang menyuarakan kaum minoritas, marginal, dan tertindas. Narasi yang dibangun oleh penulis yang lebih dulu berprofesi sebagai seorang jurnalis ini, adalah tentang orang-orang yang tak berdaya di hadapan kekuasaan; baik kekuasan politik, korupsi, maupun agama.
Dalam sebuh wawancara dengan BBC Indonesia, Okky menjelaskan posisi karyanya, "Saya tentu membuat cerita bukan sekedar untuk senang-senang, bukan sekedar sebagai hiburan, atau justru sebagai pengantar tidur. Sejak awal saya percaya bahwa karya sastra itu seharusnya bisa menyuarakan persoalan-persoalan dalam masyarakat," ungkapnya.
Tahun 2011, penulis yang mengaku dipengaruhi oleh karya-karya Pramoedya Ananta Toer ini menerbitkan novel “86”, sebuah kisah yang menghujam praktek korupsi dan bobroknya sistem hukum serta orang-orang yang berkuasa atas hukum tersebut. Setahun kemudian Okky melahirkan “Maryam”. Karya ini berhasil menerima penghargaan di ajang Anugerah Sastra Khatulistiwa 2012.
“Maryam” menceritakan tentang orang-orang penganut Ahmadiyah di Indonesia yang ditekan dan mengalami pengusiran dari tempat tinggalnya. Diwakili oleh tokoh Maryam yang datang dari keluarga penganut Ahmadiyah, ia pada satu keputusan memilih menikah dengan seorang laki-laki non Ahmadiyah. Sejak semula pernikahan itu tidak direstui oleh orang tua kedua belah pihak. Sampai pada klimaksnya, pernikahan itu tak bisa dipertahankan, mereka bercerai.
Ketika Maryam kembali ke rumah orang tuanya, ternyata mereka dan warga kampung yang lain sudah tidak ada, terusir dari tanah yang selama ini mereka tinggali dan perjuangkan. Ahmadiyah yang menurut kaum mayoritas adalah golongan sesat, tak kuasa membendung “para hakim” dan akhirnya meraka diusir dari tempat tinggalnya sendiri.
Tema yang diusung di novel “Maryam”, praktis membuat Okky menjadi salah satu, atau bahkan satu-satunya yang mengangkat kondisi sosial kontemporer ini. Ia tak sedang memberi solusi, namun menggugah kesadaran para pembaca tentang ketidakadilan yang tengah berlangsung, dan negara selalu tumpul dalam menyelesaikannya.
"Tidak bisa apa yang terjadi di sana kemudian dihentikan. Itu bukan tugas karya sastra," ungkap perempuan kelahiran Magetan ini.
Setahun setelah “Maryam” terbit, Okky kemudian merilis “Pasung Jiwa”. Ini pun lagi-lagi tentang orang-orang yang tak berdaya di hadapan kekuasaan. Kali ini Okky memasukkan isu LGBT dalam kisah yang ia bangun. Sasana, tokoh utama di novel tersebut, setelah kerap melewati kekerasan di sekolahnya, perlahan menjadi laki-laki kemayu. Sisi feminin-nya muncul dan menjadi lebih dominan dari sifat laki-lakinya. Namun di tengah keluarga, Sasana tak bisa bersikap terbuka dan berlaku layaknya lelaki “normal”, ia berbohong kepada dirinya sendiri, ia terpasung oleh kekuasaan anggapan umum. Selain itu, Sasana pun, jika tampil apa adanya di luar keluarga, kerap dirisak oleh sekelompok orang yang membawa panji-panji agama.
Okky yang Oktober nanti, akan tampil juga sebagai salah satu pembicara di sebuah talk show dalam rangkaian Frankfurt Book Fair 2015, menyatakan, "Yang saya lakukan adalah tetap menghadirkan sebuah cerita yang tentu memiliki dampak besar jika para pengambil keputusan itu membacanya," katanya.
Sampai hari ini, karya-karya Okky Madasari telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris. “Entrok” menjadi “The Years of The Voiceless”, “Maryam” jadi berjudul “The Outcast”, dan “Pasung Jiwa” menjadi “Bound”. Ia yang waktu dihubungi tengah berada di Australia menjelaskan, bahwa semua karyanya akan dibawa ke Frankfurt.
Kuasa militer, Ahmadiyah, LGBT, dan bobroknya dunia hukum yang hadir dalam kisah-kisah Okky, tak berlebihan jika karyanya paling mewakili kondisi luka Indonesia yang telah lampau dan paling mutakhir.

Okky telah bercerita. Soal kondisi akan berubah atau tidak menjadi tanggungjawab bersama. Tapi setidaknya, mengutip dari Hannah Arendt, “Derita menjadi tertanggungkan ketika ia menjelma cerita.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.