Showing posts with label Taufik Rahzen. Show all posts
Showing posts with label Taufik Rahzen. Show all posts

10 October 2015

Muhidin M. Dahlan dan Tiga Inspirator Besar Literasi

Sebagai pameran buku tertua di dunia, Frankfurt Book Fair tak hanya menjadi ajang niaga antara penjual dan pembeli buku, namun lebih luas lagi. Di sana ada pembacaan karya, diskusi, pameran naskah kuno, pertunjukan seni dan budaya, jual beli copyright buku dan izin penerbitan, serta masih banyak lagi.
Tahun ini, Indonesia yang tampil sebagai Tamu Kehormatan, tak hanya membawa buku dan para penulis, namun juga para pegiat literasi yang selama ini “menghibahkan” dirinya di dunia baca tulis yang posisinya tidak terlalu populer di negeri ini. Salah satu pegiat literasi tersebut adalah Muhidin M. Dahlan atau dikenal juga dengan panggilan Gus Muh.
Gus Muh yang lahir dan tumbuh di Donggala - Sulawesi Tengah, pada perjalanan hidupnya kemudian “hijrah” ke Yogyakarta untuk meneruskan sekolah. Di kota tersebut ia lalu berkhidmat kepada dunia baca tulis, dan total dalam menjalaninya. Namun sebetulnya ketertarikan Muhidin pada buku telah dimulai ketika ia masih berada di kampung halamannya. Ketika dihubungi ia yang pernah tinggal di pesisir pantai barat Donggala itu, menceritakan masa-masa awal persentuhannya dengan buku :
“Saya punya kebun cengkeh, tapi saya tidak kuat memanjatnya. Bahkan memindahkan tangga yang dipakai untuk memetiknya pun saya butuh teman sebaya yang lebih kuat. Saya bisa saja menjadi nelayan, tapi Gus Muh kecil berumur 12 tahun ngos-ngosan mendayung tiap subuh dan senja, untuk mencari ikan-ikan di rumpon. Kerena pertimbangan kekuatan fisik yang lemah itulah saya menemukan buku. Dan ternyata saya kuat membaca lama. Dan Jogja adalah kota terbaik untuk itu. Bukan saja total dalam dunia literasi, tapi juga memilih untuk tinggal sepenuhnya di kota yang mendaku diri kotabuku ini,” tuturnya.
Setelah hijrah ke Yogyakarta, bersama beberapa koleganya, Gus Muh kemudian mendirikan Indonesia Buku (Iboekoe), sebuah yayasan yang berkhidmat di dunia literasi. Dari yayasan ini pula kemudian lahir Radio Buku dan Warung Arsip. Keberadaan pusat literasi ini telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dan meskipun mengandalkan semangat sukarelawan, namun eksistensinya teruji sampai hari ini.
Radio Buku mulanya lahir dari obrolan antara Gus Muh dengan Taufik Rahzen. Di tahun 2007 mereka berbicara banyak tentang perlunya keberadaan televisi buku di dunia literasi. Dari obrolan itu Gus Muh kemudian menyiapkan konsep hingga rundown harian dan nama program TVBuku. Namun sayang rencana itu gagal.
Lalu di tahun 2011, karena televisi buku sulit diwujudkan, akhirnya Gus Muh mendirikan Radio Buku. Ia membuka lagi dokumen dan transkrip yang selama ini ia simpan rapi. Dengan pengetahuan yang terbatas tentang dunia radio, ia kemudian mem-breakdown program televisi menjadi radio internet. Untuk mendukung pengelolan awal Radio Buku, ia menggandeng penyiar profesional dari Eltira FM bernama Endah SR untuk jadi tutor, dan dari dia juga akhirnya Gus Muh belajar mencintai ‘sejarah suara’.”
Teks dalam laku membaca dan menulis kerap berseberangan dengan tradisi lisan. Namun Radio Buku sebagai media yang penggerak utamanya adalah lisan dan pendengaran, dalam sudut pandang Gus Muh justru hadir sebagai pelengkap dari ikhtiar untuk membumikan budaya melek aksara.
“Lisan dan aksara adalah dua mata literasi kita yg saling melengkapi. Sedikit memodifikasi Sukarno, yang banyak bicara dan banyak baca. Sukarno nyontohin dua kultur itu. Radio Buku memfasilitasi orang yang jago ngomong, tapi malas baca. Atau jago baca, tapi kurang fasih ngomong juga diberi tempat. Radio Buku kemudian berada di lajur sejarah suara, mengarsipkan suara literasi yang dibutuhkan telinga. Karena radio buku dibangun dari kultur perpustakaan dan pengarsipan, maka dalam perjalanannnya radio ini menjadi semacam laboratorium pengarsipan suara,” terangnya.
Sementara Warung Arsip yang juga ia bertindak sebagai salah satu pendirinya, menghimpun benda-benda literasi yang dalam perjalanan masyarakat Indonesia, mengandung nilai sejarah yang layak untuk disimpan dan dilihat ulang. Arsip-arsip tersebut terentang dari masa kini sampai masa yang jauh ke belakang. Arsip yang berhasil disimpan terekam dalam bentuk buku, koran, majalah, kamera, kaset, dan video. Maka tak heran keberadaan Warung Arsip amat beririsan dengan Radio Buku.
Dalam proses penulisan dan pengarsipan, Gus Muh yang juga telah melahirkan beberapa buku, banyak dipengaruhi oleh para pendokumentasi kawakan yang pernah dimiliki oleh Indonesia, yaitu Pramoedya Ananta Toer, H. B. Jassin, dan Notosutardjo. 

“Pram baru saya temukan pada tahun 2000. Jadi sebelum itu literasi dalam hidup saya adalah gapaian tanpa kompas. Karena Pram yang saya temukan dalam sastra Indonesia, maka Pram yang utama. Orang kedua adalah H. B. Jassin. Orang ketiga adalah Notosutardjo. Ketiga orang itu yang membuat saya tergila-gila dengan ‘praktik purba’ peninggalan abad 20: mengkliping koran,” ungkapnya.

Ketiganya adalah inspirator besar bagi kerja-kerja literasi Muhidin M. Dahlan. Bersama cahaya yang dipendarkan oleh hayat dan karya tiga orang itulah Muhidin menyala-nyalakan literasi di Jogjakarta dan berbagai tempat lainnya.
Kegilaannya pada dunia kliping kemudian ia dikembangkan menjadi proyek pengklipingan nasional dengan skala besar. Bersama kawan-kawannya, ia mencoba berkhidmat untuk meneruskan tradisi tiga orang pendokumentasi tadi dengan mengkliping 100 Tahun Indonesia. Kerja pengarsipan yang membutuhkan dedikasi tinggi itu berhasil mengumpulkan renik peristiwa—setiap hari dan tentang apapun, yang terbentang dari 1 Januari 1908 hingga 31 Januari 2008.
Dalam proyek gigantik yang bernama “Kronik Seabad Indonesia” itu, Gus Muh memimpin sekira 80-an remaja dan mahasiswa Yogyakarta yang dibawa ke Jakarta, lalu bekerja bergantian selama 7 bulan. Dari proyek inilah, salah satunya kemudian lahir buku “Trilogi Lekra Tak Membakar Buku”, yang kehadirannya kemudian terlarang.
Kiprah Gus Muh tak berhenti sampai di situ, ia bersama koleganya di Iboekoe menggagas sebuah kerja literasi yang eksekusinya adalah menulis sejarah kampung dengan melibatkan peran aktif warga. Ihwal ini Gus Muh menjelaskan “Menulis sejarah kampung ‘dari dalam’ terinspirasi dari kata-kata Romo Mangunwijaya saat dia mau berkeringat membikin sekolah dasar di desa; yaitu untuk mengenal sejarah lebih besar, kenali sejarah di sekitarmu. Dan itu mesti dilakukan secara organik. Melibatkan ‘orang dalam’ secara utuh dalam pengerjaannya. Bahkan Iboekoe tak lebih sebagai fasilitator belaka, walau dari awal jadi mesin generator.” Menurut keterangannya, proyek menulis sejarah kampung ini sudah terselenggara di Kediri, Pacitan, Solo, Jepara, Majalengka, dan Donggala.
Gus Muh dalam semesta riwayatnya di dunia literasi, kiranya tak berlebihan jika disebut sebagai orang yang keras kepala. Dalam berbagai keterbatasan, ia seperti tak pernah letih menyalakan obor literasi dengan kerja-kerja kreatif dan berdedikasi. Di ajang Frankfurt Book Fair 2015 sosok ini akan hadir membawa ide-ide segar tentang jejak dan pengembangan dunia literasi, dan darinya, semangat yang menyala itu barangkali akan menular.
Pada pameran buku ini pula Gus Muh menyimpan beberapa harapan yang terkait dengan dunia literasi. “Siapa tahu ada kesadaran balik untuk memperbaiki infrastruktur literasi kita. Barangkali dengan momentum ini, pemerintah bisa menyusun blue print dan ngasih budget besar untuk program penerjemahan 4 arus; nasional ke daerah dan sebaliknya, nasional ke internasional dan sebaliknya. Jika infrastruktur penerjemahan kita baik, kita tak akan segugup ini menjadi tamu kehormatan. Tapi semoga literasi warna/gambar dan bunyi/suara yang sudah mendahului, bisa menutupi kegugupan di literasi teks/buku,” ungkapnya. [irf]


Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

09 February 2015

Pak Dayat dan Pasar Buku Suci


Tadi pagi seorang kawan mengabarkan bahwa Toko Buku Djawa yang berada di Jl. Braga tutup! Ya, bukan tutup sementara, tapi permanen. Dia melihat buku-buku diangkut ke dalam mobil, entah mau pindah ke mana. Toko buku yang dijaga si mbak yang kurang ramah ini akhirnya menyerah. Ada sekira tiga kali saya singgah ke sana, membeli beberapa buku sejarah dan mendapat berkah senyuman si mbak meskipun minimalis. Rasanya baru saja kemarin saya menyaksikan Toko Buku Eureka di Rawamangun dan Depok meregang nyawa, sekarang ada lagi kantong literasi yang tumbang.

Itu boneka siapa?
Seminggu ke belakang, saya juga mencium aroma kematian—bukan hanya toko buku, tapi pasar buku! Terletak di lantai 2 Pasar Cihaurgeulis yang kumuh, siapa pun akan prihatin begitu berkunjung ke Pasar Buku Suci. Sudah lama saya mendengar ihwal kantong literasi ini, namun entah kenapa perlahan hilang dari perhatian dan ingatan. Baru-baru waktu membuka FB, ingatan yang tercecer itu timbul kembali. Pada sebuah akun FB, seseorang mengabarkan bahwa bahwa salahsatu tokoh buku yang pernah berniaga di Suci telah meninggal dunia.

Adalah Pak Dayat orang yang banyak dikenang itu. Saya tidak pernah bertemu dengannya, apalagi mengenalnya secara pribadi. Tapi dari sejumlah obituari koleganya, saya membayangkan beliau adalah orang yang bersahaja-berkawan. Pada Pesta Buku Bandung yang berakhir tanggal 5 Februari kemarin, kabar duka tentang Pak Dayat pun saya temui di “koran” mini Lawang Buku. Di sana menyebutkan bahwa almarhum sempat berkiprah di Pasar Buku Suci.

Kondisi pelataran
Jejalin kabar inilah yang akhirnya menyeret saya untuk mengingat kembali Pasar Buku Suci, dan menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Sekira pukul 13.15 wib saya sudah sampai di parkiran motor Pasar Cihaurgeulis yang kumuh. Dengan kondisi seperti ini mulanya saya ragu, apakah benar di sini tempat menjual buku? Namun keterangan dari tukang parkir, dan tulisan yang tertera di sebuah bangunan sekarat akhirnya menyakinkan saya, bahwa ya memang di sinilah tempatnya.

Telah puluhan kali saya menyambangi Pasar Buku Palasari, meskipun bangunannya sederhana, namun tak pernah saya merasa seprihatin seperti sekarang. Di tangga sebelum pintu masuk saya disambut sebuah boneka yang tergantung. Kalau akhir-akhir ini banyak film horror yang menggunakan boneka, maka apakah ini juga sebuah simbol horor yang lain? Tangga itu ditutupi oleh atap yang hampir hancur. Besi berkarat di mana-mana, dan tali-tali rafia yang terikat.

Lorong gelap
Di dalam kios buku berjajar dalam lorong yang agak gelap, namun hanya beberapa saja yang masih buka. “Tos aruih tadi sěp, ah da tiiseun panginten,” kata seorang ibu setengah baya yang kebetulan kiosnya masih buka, sambil memilih-milih buku berbahasa Sunda yang tanyakan. Sudah pulang? padahal jam dua pun belum, pikir saya. “Buku-buku Sunda těh sok dicandakan ku nu daragang di UNISBA, janten ieu mah sesa wě, tah geuning ieu aya Ajip Rosidi,” sambung si ibu sambil memperlihatkan buku karangan sastrawan kelahiran Jatiwangi itu.

Suaminya sedang sibuk membantu seseorang yang tengah menyalakan lampu. Tak lama beliau pun ikut bergabung. “Bapak, uninga Pak Dayat? Saurna mah kapungkur nu ngagaduhan kios Tanah Air, “ tanya saya ke si bapak.  Sejenak beliau terdiam sambil mengingat-ngingat. “Pak Dayat nu dedeganna alit saněs? Nyak kunaon kitu?.” Saya jelaskan ihwal “pertemuan” saya dengan Pak Dayat yang akhirnya membawa saya ke sini. “Innalillahi…. tah kitu yuswa mah nyak sěp, padahal mah da anom kěněh Pak Dayat těh,” wajahnya memancarkan kekagetan, begitu juga istrinya. Di sesela perbincangan, saya sempat mengambil beberapa gambar pasar buku tersebut.  

Yang dijual di sini mayoritas adalah buku-buku pelajaran untuk siswa sekolah—dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Waktu saya berkunjung, bisa dipastikan bahwa tidak ada seorang calon pembeli pun kecuali saya. Beberapa pemilik kios yang masih buka nampak berwajah kuyu. Kegembiraan macam apa yang hendak mereka rayakan di tengah barang dagangan yang sepi pembeli? Saya agak manaruh curiga pada lantai yang lumayan bersih, jangan-jangan ini disebabkan karena kurangnya pengunjung.

Setelah mendapatkan lima buku yang diminati dan harganya murah meriah, akhirnya saya pamit. Dari atas nampak lahan parkir yang centang-perenang dan kotor. Genangan air dan sampah bekas orang berjualan ikan masih ada. Aroma di sekitar pasar buku itu jangan ditanya lagi, sebab di bawahnya pasar basah maka bisa dipastikan bau busuk yang khas bertahan sepanjang hari. Dengan kondisi yang menyedihkan ini, Pasar Buku Suci seperti hendak menjemput ajal. Namun semoga saja sangkaan saya itu tidak benar.

Lampu baru nih :-)
Di sepanjang jalan Suci (Surapati-Cicaheum) atau Jl. P.H.H. Mustofa, memang ada kompetitor yang sangat mumpuni, apalagi kalau bukan Bandung Book Centre. Toko buku yang mulanya terkenal di kawasan Palasari ini kini melebarkan sayap niaganya.  Terletak pada bangunan yang sama dengan Giant Hypermarket, Bandung Book Centre cukup memanjakan pengunjungnya.


Maka bagi Pasar Buku Suci, dengan kondisi tempat yang kurang layak, disertai dengan hadirnya kompetitor yang berpengalaman, bertahan hidup pun kiranya sudah sebuah prestasi. Saya tak hendak menyalahkan kehadiran toko buku yang berdekatan dengan Giant, justeru bagus untuk menopang kebutuhan buku para pelajar yang kampusnya berjajar sepanjang Jl. Suci, namun kiranya renovasi dan penataan ulang Pasar Buku Suci menjadi kebutuhan yang mendesak, mungkin sama pentingnya dengan menghadirkan taman-taman kota yang kini dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. [ ]   

Bekas pedagang ikan
    
Foto : Arsip Irfan Teguh Pribadi