Showing posts with label HB Jassin. Show all posts
Showing posts with label HB Jassin. Show all posts

05 June 2021

Bagaimana H.B. Jassin Merawat Sastra Indonesia?


Rak Literasi

Kembang warisan pusat

dokumentasi

“Jassin. Dalam kenangan kita sipat setengah-setengah bersimaharajalela benar. Kau tentu tahu ini. Aku memasuki kesenian dengan sepenuh hati. Tapi hingga kini lahir aku hanya bisa mencampuri dunia kesenian setengah-setengah pula. Tapi untunglah bathin seluruh hasrat dan minatku sedari umur 15 tahun tertuju ke titik satu saja, kesenian.”

Kartu pos bertitimangsa 8 Maret 1944 itu, yang dimuat dalam kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang, dikirimkan Chairil Anwar dalam perjalanannya di Jawa Timur kepada Hans Bague Jassin. Si penyair bohemian itu memang berkawan baik dengan mantan amtenar kelahiran Gorontalo tersebut.

Curahan hati Chairil Anwar dalam kartu pos kemudian disimpan dengan rapi bersama dokumentasi para sastrawan lain oleh Jassin. Koleksi dokumentasi kesusastraan Jassin dari tahun ke tahun semakin banyak, sampai akhirnya dihimpun dalam lembaga bernama Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin yang diresmikan pada 1977.

“Dokumentasi adalah alat untuk memperpanjang ingatan, memperdalam, dan memperluasnya,” kata Jassin dalam acara peresmian lembaga tersebut, seperti dikutip Pamusuk Eneste dalam pengantar di buku yang ditulis Jassin, Surat-surat 1943-1983 (1984: xvii).

Bermula dari Usia 10

Seperti diungkap Pamusuk Eneste, minat Jassin terhadap dokumentasi bukan bermula dari tahun 1940-an, tapi lebih awal lagi, yaitu sekitar tahun 1920-an akhir saat usianya baru menginjak 10. Sejak sekolah di HIS Balikpapan (1927-1929), Jassin sudah menyimpan buku-bukunya secara teratur dan rapi.

“Saya tidak mau ada buku-buku saya yang robek dan rusak,” ujar Jassin saat menceritakannya kepada Pamusuk Eneste.

Eneste menambahkan, saat masih kecil Jassin sempat sakit dan ayahnya mencoba memberi penghiburan dengan bertanya kepadanya tentang keinginannya. Jassin langsung menjawab bahwa ia ingin dibelikan buku.

Setelah tamat dari HIS Balikpapan, Jassin melajutkan ke HBS Medan (1932-1939). Jika sehabis tamasya gurunya menyuruh murid-murid menulis laporan di buku tersendiri, Jassin selalu menyimpannya. Buku-buku dan karangan-karangan sejak sekolah sampai kuliah di Universitas Indonesia ia simpan baik-baik.

“Masih tersimpan buku-buku harian yang dimulai tahun 1932 dan tulisan-tulisan pertama dalam surat kabar dan majalah untuk anak-anak sekolah semasa di sekolah menengah dan kemudian di Universitas Indonesia. Karangan-karangan yang ditugaskan di kelas pun masih tersimpan dengan rapi,” kenangnya dalam Sastra Indonesia sebagai Warga Sastra Dunia (hlm. 257, 1983).

Sejak sekolah di HBS Medan, Jassin sudah menulis di surat kabar dan majalah. Setelah selesai sekolah di Medan, ia tak tak langsung pulang ke Gorontalo, tapi singgah dulu ke Jakarta untuk menemui Sutan Takdir Alisjahbana. Mereka membicarakan kesusastraan, bahasa, kebudayaan, dan sebagainya. Dari Jakarta, ia melanjutkan perjalanan ke Bandung, Yogyakarta, Solo, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang (Makassar), dan akhirnya sampai di Gorontalo.

Sutan Takdir Alisjahbana rupanya terkesan dengan Jassin, sebab beberapa hari setelah tiba di kampung halamannya, Jassin menerima surat dari salah satu pendiri majalah Poedjangga Baroe tersebut yang isinya mengejak untuk bekerja sebagai redaktur buku di Balai Pustaka.

Jassin sebetulnya berminat bekerja di Balai Pustaka, tapi tawaran tersebut tidak langsung diterimanya karena sang ayah melarang bekerja di Jakarta. Selain karena ayahnya masih rindu pada Jassin yang sudah lama merantau, juga karena ia menghendaki Jassin menjadi amtenar di Kantor Asisten Residen Gorontalo.

Selama lima bulan Jassin bekerja sebagai amtenar tanpa digaji satu sen pun. Inilah salah satu hal yang membuatnya tidak betah bekerja di kantor tersebut. Oleh karena itu, maka pada 1 Februari 1940 Jassin datang ke Jakarta, menuju Balai Pustaka untuk melamar kerja.

Berbekal surat dari Sutan Takdir Alisjahbana, ditambah beberapa dokumentasi tulisannya yang telah diterbitkan, serta dokumentasi lain yang pernah ia garap, Jassin akhirnya diterima di Balai Pustaka dan langsung bekerja hari itu juga. Jassin mulai menggarap dokumentasi sastra secara sistematis dan menjadi warisan berharga bagi kesusastraan Indonesia.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan, kata Pamusuk Eneste, adalah peran ayah Jassin, Bague Mantu Jassin, yang memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya.

“Di atas segala-galanya, hemat saya, sang ayah-lah yang mengilhami sang anak […] Jassin sering membacai buku-buku ayahnya, sekalipun ia belum mengerti betul apa yang tertulis di dalamnya” (hlm. xiv).

Melihat Jassin Bekerja

Karya besar Jassin dalam mendokumentasikan sastra ia lewat buku Tifa Penyair dan Daerahnya (1991), dalam bab “Dokumentasi Kesusastraan”.

Ia menyebutkan bahwa salah satu hal penting dalam dokumentasi sastra adalah untuk dimanfaatkan oleh kaum akademisi, terutama para mahasiswa jurusan sastra yang tengah menyusun skripsi dan tugas-tugas lainnya mengenai kesusastraan modern.

“Maka kalau sudah sampai membuat skripsi, sibuklah mahasiswa mencari bahan untuk dijadikan pokok penyelidikannya. Yang memilih jurusan kesusastraan tentu akan mencari bahan-bahan kesusastraan. Ia pertama-tama akan mencari buku-buku karangan pengarang-pengarang yang akan dibahas misalnya, sekadar riwayat hidup pengarang-pengarang itu, pendapat orang mengenai karya-karya mereka, bahan-bahan mengenai latarbelakang sejarah dan masyarakat dan sebagainya,” tulis Jassin (hlm. 157).

Jassin menjelaskan bahwa para pengunjung yang datang ke Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin mula-mula akan melihat lemari-lemari buku dan majalah serta lemari-lemari lain yang berisi map-map berderet-deret. Map-map tersebut disusun secara alfabetis.

Jenis pertama dari map-map tersebut adalah perseorangan yang isinya dokumen-dokumen yang berkaitan dengan individu pengarang: tulisan-tulisannya dalam majalah dan surat kabar, pembicaraan orang mengenai bukunya, riwayat hidupnya, dan sebagainya.

Jenis kedua adalah deretan map yang berisi permasalahan atau sesuatu soal. Misalnya: Angkatan 66, Balai Pustaka, Biografi Pengarang, Gelanggang, Manifes Kebudayaan, Simposium Sastra.

Map-map berikutnya ia terangkan pula beserta contoh detail isinya. Dalam sistem dokumentasi yang masih manual, Jassin juga menjelaskan tentang pentingnya kartu tulisan dan kartu alamat pengarang/instansi/organisasi pengarang. Jassin bahkan menerangkan bagaimana cara menyimpan bahan-bahan dalam map dengan baik.

Dalam penutup catatannya, Jassin menerangkan dua hal penting dan mendasar yang harus diperhatikan dalam dokumentasi sastra. Pertama, ketekunan. Kedua, pemanfaatan dokumentasi tersebut.

Menurut Jassin, modal dasar untuk membentuk dan memelihara dokumentasi adalah ketekunan dan ketelitian mengikuti segala kejadian di lapangan kesusastraan seperti penerbitan buku, tulisan-tulisan dalam majalah, surat kabar, dan lain-lain.

“Dokumentator harus rajin mengumpulkan bahan-bahan itu dan menyimpannya secara sistematis,” tulisnya.

Hal kedua yang tak kalah penting adalah soal pemanfaatan dokumentasi sastra. Sampai hari ini, tak sedikit lembaga yang mempunyai arsip dan dokumen yang bisa diakses publik, tapi justru memperlakukannya sebagai barang mati. Jassin mengharapkan dokumentasi sastra yang ia bangun dijadikan bahan penyelidikan dan hasilnya diterbitkan dalam berbagai publikasi seperti buku, koran, majalah, dan lain-lain.


Warisan Jassin Paling Berharga

“Jassin adalah seorang kritikus yang sudah mendapatkan tempat yang jelas dalam sejarah kesusastraan kita. Penemuannya terhadap karya puisi penyair Angkatan 45, Chairil Anwar, dedikasinya yang luar biasa mendokumentasikan karya sastra, menyebabkan kita harus respek terhadapnya,” tulis Sutardji Calzoum Bachri dalam Isyarat: Kumpulan Esai (2007: 427)

Salah satu kelebihan Jassin sebagai dokumentator sastra adalah ia peduli dengan karya-karya para pengarang yang belum berhasil dan kurang begitu baik. Menurutnya, karya-karya seperti itu akan sangat berarti sebagai bahan sejarah perkembangan pengarang, apabila karyanya sudah diakui baik.

“Surat-suratnya pun, biar hanya secarik kertas kecil, akan menjadi besar artinya ditinjau dari sudut sejarah,” tambahnya.

Pada 11 Maret 2000, tepat hari ini 18 tahun lalu, Jassin meninggal di Jakarta dalam usia 83. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kebesaran militer. Berkat jasanya bagi dunia kesusastraan, ia dijuluki "paus sastra Indonesia"—sebuah julukan yang memang tidak berlebihan.

Warisan terbesar Jassin bagi bangsa adalah hasil kerjanya selama berpuluh-puluh tahun yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin di Jalan Cikini Raya No. 73, kompleks Taman Ismail Marzuki.

Nasib PDS sempat terkatung-katung karena kekurangan dana. Radar Panca Dahana dalam Kebenaran dan Dusta dalam Sastra (2001) sempat juga mengkhawatirkan keberlangsungan hidup kantong literasi tersebut.

“Namun siapa pun mengetahui, warisan besar tersebut seolah menjadi khasanah pustaka kecemasan raksasa. Tidak hanya karena ancaman pemeliharaan yang buruk dan pemanfaatan yang minim, juga kekhawatiran ia tinggal menjadi monumen yang ketinggiannya tak mampu dijangkau” (hlm. 197).

Pada November 2017, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, seperti dilansir 
Media Indonesia, sempat mengunjungi PDS H.B. Jassin dan memutuskan untuk mengelolanya di bawah UPT (Unit Pelayanan Teknis) Khusus. Anis mengatakan, seluruh aset Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin akan diberikan kepada Pemda DKI dan akan dilakukan digitalisasi terhadap seluruh naskah dan arsip. UPT yang mengelola PDS H.B. Jassin, tambah Anis, akan bekerja efektif mulai Januari 2018.

Kamis, 8 Maret 2018, PDS H.B. Jassin terlihat tengah direnovasi. Warung kecil di bawah sudah tergusur. Saya masuk dan menuju ke atas. Tiga orang pengunjung tengah menyigi dokumen sastra yang terdapat dalam beberapa map. Setelah mengisi buku tamu, seorang petugas bertanya, “Mencari apa?”

“H.B. Jassin,” jawab saya singkat. (irf)

01 December 2019

H.B. Jassin dalam Pusaran Kontroversi Terjemahan Alquran



Dalam kepiluan setelah istrinya wafat, Jassin terus membaca Alquran kemudian menerjemahkannya secara puitis. 

Bulan Ramadan adalah bulan diturunkannya permulaan Alquran. Secara umum, kaum muslimin di Indonesia terbagi dua dalam meyakini kapan diturunkannya Alquran yang pertama kali. Pertama, tanggal 17 Ramadan. Kedua, pada malam lailatul qadar, yaitu salah satu malam di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan.

Alquran diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu mula-mula pada abad ke-17 M oleh Syekh Abdul Ra’uf al-Fansuri, seorang ulama asal Singkil, Aceh. Kelak, ulama ini lebih dikenal dengan sebutan Syekh Abdul Ra’uf as-Singkili, saat nama kampung halamannya dilekatkan di belakang nama.

Karya yang ia tulis bernama Turjuman al-Mustafid. Kitab ini sejatinya tidak murni terjemahan, melainkan tafsir Alquran. Ia merupakan kitab tafsir yang paling awal beredar di wilayah Melayu. Meski demikian, kitab ini meletakkan dasar-dasar bagi terjembataninya terjemahan dan tafsir.

Setelah Turjuman al-Mustafid, sampai abad ke-19 nyaris tak ditemukan lagi terjemahan Alquran ke dalam bahasa Indonesia. Baru pada abad ke-20 sejumlah karya terjemahan dan tafsir Alquran kembali dibuat, di antaranya Al-Furqon karya A. Hassan (1928), Tafsir Hidayatur Rahman karya K.H. Munawar Chalil (1935), Tafsir Qur’an Indonesia oleh Mahmud Yunus (1935), Tafsir Al-Qur’an oleh H. Zainuddin Hamid dkk. (1959), Tafsir Al-Qur’anul Hakim karya H.M. Kasim Bakry dkk. (1960).

Pada 1977, terjemahan Alquran karya H.B. Jassin—sosok yang kata Asrul Sani sebagai “tukang kebun” yang merawat segala macam bentuk dan kekhasan sastra Indonesia—diterbitkan oleh penerbit Djambatan dan diberi nama Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia.

Karya ini dilatari oleh meninggalnya sang istri pada 12 Maret 1962. Dalam Majalah Budaja Djaja edisi November 1975, Jassin mengutarakan awal mula perjalanan dirinya menerjemahkan Alquran.

“Terjadilah kehendak Allah subhanahu wata’ala, bahwa istri saya dipanggil ke hadirat Ilahi pada tanggal 12 Maret 1962, kini telah 13 tahun yang lalu. Kejadian ini sangat menggugah kesadaran saya akan arti hidup manusia dalam hidupnya yang singkat di dunia ini. Berbuatlah baik terhadap sesama manusia, bersabarlah, balaslah kejahatan dengan kebajikan, niscaya kejahatan akan berobah menjadi kebajikan,” tulisnya.

Sejak istrinya meninggal, selama 7 hari berturut-turut rumahnya ramai oleh tetangga, kerabat, dan sahabat yang membaca Alquran sampai khatam 30 juz. Saat masuk hari kedelapan, ia disergap getir-sepi. Rumah tak lagi ramai dan istri tak lagi menemani.

Jassin yang berduka terus menerus membaca Alquran. Menurutnya, selama sepuluh tahun lebih setelah istrinya meninggal, baik saat di Indonesia maupun ketika melakukan perjalanan keluar negeri, hari-harinya tak pernah lepas dari Alquran.

Dalam pendahuluan Al-Quranul-Karim Bacaan Mulia cetakan ke-2 (1982) yang sentimental, Jassin mengemukakan bahwa ia merasa tumbuh jiwa dan pengetahuannya karena menyelami hikmah-hikmah yang terkandung dalam Alquran.

Suatu hari, hatinya terbuka untuk mulai menerjemahkan Alquran. Setelah tanggal 7 Oktober 1972, di negeri Belanda, pikiran untuk menerjemahkan Alquran secara puitis timbul ketika Jassin membaca terjemahan Abdullah Yusuf Ali, The Holy Qur’an, yang ia peroleh pada tahun 1969 dari seorang kawannya, Haji Kasim Mansur.

“Itulah terjemahan yang saya rasa paling indah disertai keterangan-keterangan yang luas dan universal sifatnya. Untuk menimbulkan kesan yang estetis, penyair mempergunakan irama dan bunyi. Bukan saja irama yang membuai beralun-alun, tapi juga—jika perlu—irama singkat melompat-lompat atau tiba-tiba berhenti mengejut untuk kemudian melompat lagi penuh tenaga hidup. Bunyi yang merdu didengar, ulangan-ulangan bunyi bukan saja di ujung baris, tapi juga di antara baris, mempertinggi kesan keindahan pada pendengar atau pembaca,” tambahnya.

Kesan dan pengalamannya membaca terjemahan Alquran karya Abdullah Yusuf Ali itulah yang mendorongnya menerjemahkan Alquran secara puitis.

Kontroversi Puitisasi Bacaan Mulia

Dalam menyusun terjemahannya, Jassin mempertimbangkan persajakan Indonesia yang menurutnya kaya akan aneka ragam bunyi, sehingga tidak sukar untuk mencari kata-kata yang bagus kedengarannya demi persajakan di ujung baris, di antara baris, ataupun di tengah baris.

Selain itu, ia juga memperhatikan letak perkataan, tanpa mengubah makna yang terkandung, tapi lebih membuatnya “bertenaga”. Sebagai contoh, dalam pendahuluannya Jassin mengutip surat ke-26 (asy-Syu’araa) ayat 36 yang mengisahkan Fir’aun meminta pertimbangan kepada para pembesarnya apa yang harus dilakukan untuk melawan Musa:

“Mereka menjawab: Suruhlah tunggu (Musa) dan saudaranya, dan kirim ke kota-kota para bentara.”

Menurut Jassin, ayat tersebut akan lebih bertenaga dan penuh ancaman jika baris terakhir disusun ulang sebagai berikut:

“Dan kirim para bentara ke kota-kota.”

Contoh lain yang dalam pandangannya bakal menimbulkan penghayatan estetis secara audiovisual adalah perbedaan pilihan kata dari terjemahan Alquran pada umumnya. Ia mengambil surat ke-61 (ash-Shaff) ayat 2:

“Mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?”

Dapat dipuitisasi menjadi:

“Mengapa kamu katakan apa yang tiada kamu lakukan?”

Karya Jassin ini berujung kontroversi. Majalah Tempo edisi 10 Juli 1982 melaporkan bahwa tidak lama setelah Al Quranul Karim Bacaan Mulia disebarkan pada 1978, berbagai nama serentak muncul di berbagai media massa sebagai penyerang. Bermacam surat datang ke Menteri Agama serta Majelis Ulama Indonesia, meminta terjemahan tersebut dicabut dari peredaran.

Sementara itu, di Surabaya, sebuah “panitia peneliti” lahir sendiri secara spontan—terdiri dari sejumlah ulama Jawa Timur. Bahkan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) mengajukan koreksi. DDII juga mengeluarkan pernyataan bersama dengan Ikatan Masjid Indonesia Jakarta Raya.

Selain itu, dalam waktu yang amat berdekatan, tiga buah buku terbit untuk membahas karya Jassin tersebut, yaitu Koreksi Terjemahan Al Quranul Karim Bacaan Mulia H.B. Jassin (1978) oleh Nazwar Syamsu, Polemik tentang Al Quranul Karim Bacaan Mulia (1979) oleh H. Oemar Bakry, dan Sorotan atas Terjemahan Quran H.B. Jassin (1979) oleh K.H. Siradjuddin Abbas.

Sebagai doktor Sastra Indonesia yang bukan seorang ulama di bidang agama Islam, oleh mereka yang keberatan, Jassin dianggap tidak layak untuk menerjemahkan Alquran. Selain itu, kemampuan bahasa Arab Jassin juga banyak diragukan.

“Bagaimana pula ia bisa dipercaya dalam berbagai ilmu alat yang biasa dipakai ulama buat memahami persis kandungan Quran? Dari kenyataan itu orang jadi sangat mudah melihat (atau mencari) kesalahannya,” tulis Tempo.

Keberanian Jassin memakai nama Bacaan Mulia untuk Al Quranul Karim pun oleh sebagian kalangan—DDII salah satu yang keberatan—dianggap merendahkan.

“Seharusnya kan Quran Wahyu Ilahi,” ujar seorang tokoh DDII, seperti ditulis H. H. Oemar Bakry dalam bukunya.

Nazwar Syamsu menuding Jassin telah mengganti kata “Muslim” hanya dengan “orang yang menyerahkan diri (kepada Tuhan)” dalam satu ayat tentang Ibrahim. Nazwar juga mencurigai Jassin yang menerjemahkan “tafshilal kitab” dengan “menjelaskan al-Kitab”. Menurutnya, seperti dikutip Tempo, “tafshilal kitab” mestinya diartikan “Kitab Penjelasan”.

“Dengan cara Jassin itu, Quran adalah buku yang menjelaskan kitab suci Kristen yang kini disebut Alkitab itu,” tambah Nazwar.

Agus Rois dalam Teror, Catatan Filsafat dan Politik tentang Firman dan Iman (2016), menjelaskan bahwa tahun 1978 umat Islam kembali dibuat berang oleh Jassin (kasus Jassin yang pertama adalah tahun 1968 saat meloloskan cerpen “Langit Makin Mendung” di majalah Sastra). Di jalan-jalan, tulisnya, di bawah kibaran bendera terdengar suara keras, “Seret Jassin!” “Hukum Jassin!”

Meski banyak ditentang, karya Jassin ini malah naik cetak untuk yang kedua kalinya oleh penerbit yang berbeda. Cetakan kedua ini terbit tepat pada hari ulang tahun Jassin yang ke-65. Entah mundur karena reaksi yang keras dari masyarakat atau karena waktu yang sempit jelang ulang tahun Jassin, yang jelas penerbit Djambatan akhirnya mundur dan digantikan oleh Yayasan 23 Januari 1942.

“Kami tertarik pada semangat Jassin dalam menghadapi kritik. Bukan mundur, malah tambah maju,” ujar Katilis Panigoro, sekretaris Yayasan 23 januari 1942.

Selain mendapat banyak penolakan, Jassin juga mendapat dukungan dari Mukhtar Luthfi al-Anshari, ketua panitia Majelais Ulama DKI yang mengoreksi terjemahannya. Menurut Mukhtar Luthfi al-Anshari, kebanyakan ulama hanya berpegang pada sebagian saja kitab-kitab tafsir andalan sebagai perbandingan, di Indonesia terutama mengacu kepada tafsir Ibnu Katsir. Kondisi ini tambahnya, membuat mereka terkejut saat ada terjemahan yang tidak sejalan dengan aliran standar yang telah mereka pilih.

Dalam pengantar untuk cetakan kedua karya Jassin, Mukhtar Luthfi al-Anshari menyebut bahwa hanya ada sekitar 30 “kesalahan khusus”, meski tidak ada yang menyangkut ayat atau materi hukum. Sisanya adalah “kesalahan umum” yang juga ada dalam terjemahan dan tafsir lain karena kurangnya referensi.

Saat memeriksa kritik yang dilontarkan kepada Jassin oleh Oemar Bakry dan Nazwar Syamsu, Mukhtar Luthfi al-Anshari menyatakan bahwa Jassin yang benar.

Panitia koreksi yang diketuai oleh Mukhtar Luthfi al-Anshari dibentuk karena kerasnya protes dari sejumlah kalangan terhadap karya Jassin tersebut. Meski pada cetakan pertama Buya Hamka (ulama cum sastrawan yang dihormati) dan menteri agama mengisi kata pengantar, juga adanya sambutan simpatik dari Prof. Aboebakar Atjeh, pro-kontra bermunculan.

Alquran Berwajah Puisi

Al Quranul Karim Bacaan Mulia hendak naik cetak untuk yang ketiga kalinya pada permulaan tahun 1990-an. Saat memeriksa naskah karya tersebut, Jassin berpikir untuk menampilkan Alquran yang berwajah puisi.

Jassin menemukan susunan sejumlah mushaf Alquran terbitan Indonesia, Turki, Mesir ,dan Arab Saudi yang semuanya berbentuk prosa.

Menurut Islah Gusmian dalam “Kontroversi Alquran Berwajah Puisi karya H.B. Jassin: Studi tentang Cara Penulisan dan Layout Mushaf Alquran” (Jurnal Istiqro’, Vol. 05, No. 01, 2006), bentuk prosa yang Jassin maksud adalah model penulisan ayat-ayat Alquran yang terpaku pada kepentingan memenuhi ruang bidang halaman yang telah ditentukan.

Islah menambahkan bahwa terjemahan ayat-ayat yang satu kesatuan pikiran kadang disambung dengan ayat sebelumnya demi memenuhi ruang kosong yang ada, meski sedikit, dan sisanya bersambung ke baris berikutnya.

“Model penulisan semacam ini, menurut H.B. Jassin bisa mengganggu konsentrasi pembaca dalam merenungi isi dan arti suatu ayat,” tulisnya.

Seperti karya sebelumnya, Alquran Berwajah Puisi juga melahirkan kontroversi di kalangan umat Islam yang menganggap—ya, bahkan sebelum mereka mengetahui bagaimana karya tersebut—bahwa Jassin telah membuat Alquran yang dipuisikan.

“Dan, betul saja, sekali lagi, di tahun 1992, Jassin kembali jadi pesakitan. Ia kembali mendapatkan ancaman. Bukunya Alquran Berwajah Puisi, versi panjang dari Alquran Bacaan Mulia yang mengobrak-abrik tipografi Quran, dengan segera ditentang,” tulis Agus Rois dalam Teror, Catatan Filsafat dan Politik tentang Firman dan Iman (2016).
Beberapa kalangan yang mendukung Jassin mencoba mengajukan pertanyaan: “Apa salah Jassin menyusun Alquran ke dalam baris-baris puisi?”

Mereka menjelaskan bahwa saat Alquran turun di Mekkah, suaranya membelah cahaya, dan batin orang Arab tersentuh oleh keindahan bunyinya. Mereka juga mengutip sebuah sabda nabi yang berbunyi:

“Hiasilah Alquran dengan suara kalian, dengan suara yang merdu dan pelan-pelan, niscaya kalian akan bersama-sama malaikat yang mulai dan taat, siang-malam.”

Namun, tambah Agus, orang-orang terlanjur mengatakan Jassin—yang dikenang sebagai pembela cerpen Langit Makin Mendung yang dituduh melecehkan Nabi Muhammad—adalah kafir yang membuat Alquran tandingan.

Hassan Basri, Ketua MUI waktu itu, menolak diterbitkannya Alquran Berwajah Puisi karena dianggap mempermainkan salah satu mukjizat Nabi Muhammad tersebut. Sementara itu, Fuad Moh. Fachruddin mengaitkan penulisan Alquran Berwajah Puisi dengan perilaku orang-orang Syiah.

Ali Yafie dan Ma’ruf Amin menyatakan ketidaksetujuan terhadap karya Jassin tersebut dengan pertimbangan demi ketenangan umat Islam. Menurut mereka, cara penulisan Alquran merupakan petunjuk langsung dari Tuhan sehingga tidak bisa diubah.

Seperti Alquranul Karim Bacaan Mulia, dalam catatan Islah Gusmian, karya Jassin yang ini pun mendapat dukungan dari beberapa tokoh intelektual Muslim, di antaranya Prof. H. Chatibul Umam (Guru Besar fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah), Ali Audah (sastrawan dan penerjemah sejumlah literatur Arab), dan Abdurrahman Wahid (Ketua PBNU).

“Sejauh tidak ada tanda baca dan kedudukan ayat yang diubah, mereka tidak mempermasalahkan upaya Jassin tersebut,” tulis Islah.

Sebagai pemegang otoritas, MUI dan Lajnah Mushaf Alquran Depatemen Agama menolak format Alquran versi Jassin dengan melayangkan surat resmi kepada sastrawan asal Gorontalo tersebut. Alasan Hassan Basri: naskah versi Jassin tidak sesuai dengan Mushaf Utsmani. Sementara itu, rapat pleno Lajnah Pentashih Mushaf Alquran memutuskan bahwa karya Jassin tersebut dinilai lebih besar mudaratnya daripada manfaatnya.

Keputusan tersebut membuat Alquran Berwajah Puisi yang diterbitkan Djambatan tidak bisa beredar secara luas. Dan karena pemerintah (Departemen Agama) dan MUI menolak karya itu, masyarakat pun akhirnya menganggap karya Jassin sebagai mushaf yang sesat. (irf)



Ket:

-Tayang pertama kali di tirto.id pada 10 Juni 2018
-Foto: bukalapak.com

10 October 2015

Muhidin M. Dahlan dan Tiga Inspirator Besar Literasi

Sebagai pameran buku tertua di dunia, Frankfurt Book Fair tak hanya menjadi ajang niaga antara penjual dan pembeli buku, namun lebih luas lagi. Di sana ada pembacaan karya, diskusi, pameran naskah kuno, pertunjukan seni dan budaya, jual beli copyright buku dan izin penerbitan, serta masih banyak lagi.
Tahun ini, Indonesia yang tampil sebagai Tamu Kehormatan, tak hanya membawa buku dan para penulis, namun juga para pegiat literasi yang selama ini “menghibahkan” dirinya di dunia baca tulis yang posisinya tidak terlalu populer di negeri ini. Salah satu pegiat literasi tersebut adalah Muhidin M. Dahlan atau dikenal juga dengan panggilan Gus Muh.
Gus Muh yang lahir dan tumbuh di Donggala - Sulawesi Tengah, pada perjalanan hidupnya kemudian “hijrah” ke Yogyakarta untuk meneruskan sekolah. Di kota tersebut ia lalu berkhidmat kepada dunia baca tulis, dan total dalam menjalaninya. Namun sebetulnya ketertarikan Muhidin pada buku telah dimulai ketika ia masih berada di kampung halamannya. Ketika dihubungi ia yang pernah tinggal di pesisir pantai barat Donggala itu, menceritakan masa-masa awal persentuhannya dengan buku :
“Saya punya kebun cengkeh, tapi saya tidak kuat memanjatnya. Bahkan memindahkan tangga yang dipakai untuk memetiknya pun saya butuh teman sebaya yang lebih kuat. Saya bisa saja menjadi nelayan, tapi Gus Muh kecil berumur 12 tahun ngos-ngosan mendayung tiap subuh dan senja, untuk mencari ikan-ikan di rumpon. Kerena pertimbangan kekuatan fisik yang lemah itulah saya menemukan buku. Dan ternyata saya kuat membaca lama. Dan Jogja adalah kota terbaik untuk itu. Bukan saja total dalam dunia literasi, tapi juga memilih untuk tinggal sepenuhnya di kota yang mendaku diri kotabuku ini,” tuturnya.
Setelah hijrah ke Yogyakarta, bersama beberapa koleganya, Gus Muh kemudian mendirikan Indonesia Buku (Iboekoe), sebuah yayasan yang berkhidmat di dunia literasi. Dari yayasan ini pula kemudian lahir Radio Buku dan Warung Arsip. Keberadaan pusat literasi ini telah banyak dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dan meskipun mengandalkan semangat sukarelawan, namun eksistensinya teruji sampai hari ini.
Radio Buku mulanya lahir dari obrolan antara Gus Muh dengan Taufik Rahzen. Di tahun 2007 mereka berbicara banyak tentang perlunya keberadaan televisi buku di dunia literasi. Dari obrolan itu Gus Muh kemudian menyiapkan konsep hingga rundown harian dan nama program TVBuku. Namun sayang rencana itu gagal.
Lalu di tahun 2011, karena televisi buku sulit diwujudkan, akhirnya Gus Muh mendirikan Radio Buku. Ia membuka lagi dokumen dan transkrip yang selama ini ia simpan rapi. Dengan pengetahuan yang terbatas tentang dunia radio, ia kemudian mem-breakdown program televisi menjadi radio internet. Untuk mendukung pengelolan awal Radio Buku, ia menggandeng penyiar profesional dari Eltira FM bernama Endah SR untuk jadi tutor, dan dari dia juga akhirnya Gus Muh belajar mencintai ‘sejarah suara’.”
Teks dalam laku membaca dan menulis kerap berseberangan dengan tradisi lisan. Namun Radio Buku sebagai media yang penggerak utamanya adalah lisan dan pendengaran, dalam sudut pandang Gus Muh justru hadir sebagai pelengkap dari ikhtiar untuk membumikan budaya melek aksara.
“Lisan dan aksara adalah dua mata literasi kita yg saling melengkapi. Sedikit memodifikasi Sukarno, yang banyak bicara dan banyak baca. Sukarno nyontohin dua kultur itu. Radio Buku memfasilitasi orang yang jago ngomong, tapi malas baca. Atau jago baca, tapi kurang fasih ngomong juga diberi tempat. Radio Buku kemudian berada di lajur sejarah suara, mengarsipkan suara literasi yang dibutuhkan telinga. Karena radio buku dibangun dari kultur perpustakaan dan pengarsipan, maka dalam perjalanannnya radio ini menjadi semacam laboratorium pengarsipan suara,” terangnya.
Sementara Warung Arsip yang juga ia bertindak sebagai salah satu pendirinya, menghimpun benda-benda literasi yang dalam perjalanan masyarakat Indonesia, mengandung nilai sejarah yang layak untuk disimpan dan dilihat ulang. Arsip-arsip tersebut terentang dari masa kini sampai masa yang jauh ke belakang. Arsip yang berhasil disimpan terekam dalam bentuk buku, koran, majalah, kamera, kaset, dan video. Maka tak heran keberadaan Warung Arsip amat beririsan dengan Radio Buku.
Dalam proses penulisan dan pengarsipan, Gus Muh yang juga telah melahirkan beberapa buku, banyak dipengaruhi oleh para pendokumentasi kawakan yang pernah dimiliki oleh Indonesia, yaitu Pramoedya Ananta Toer, H. B. Jassin, dan Notosutardjo. 

“Pram baru saya temukan pada tahun 2000. Jadi sebelum itu literasi dalam hidup saya adalah gapaian tanpa kompas. Karena Pram yang saya temukan dalam sastra Indonesia, maka Pram yang utama. Orang kedua adalah H. B. Jassin. Orang ketiga adalah Notosutardjo. Ketiga orang itu yang membuat saya tergila-gila dengan ‘praktik purba’ peninggalan abad 20: mengkliping koran,” ungkapnya.

Ketiganya adalah inspirator besar bagi kerja-kerja literasi Muhidin M. Dahlan. Bersama cahaya yang dipendarkan oleh hayat dan karya tiga orang itulah Muhidin menyala-nyalakan literasi di Jogjakarta dan berbagai tempat lainnya.
Kegilaannya pada dunia kliping kemudian ia dikembangkan menjadi proyek pengklipingan nasional dengan skala besar. Bersama kawan-kawannya, ia mencoba berkhidmat untuk meneruskan tradisi tiga orang pendokumentasi tadi dengan mengkliping 100 Tahun Indonesia. Kerja pengarsipan yang membutuhkan dedikasi tinggi itu berhasil mengumpulkan renik peristiwa—setiap hari dan tentang apapun, yang terbentang dari 1 Januari 1908 hingga 31 Januari 2008.
Dalam proyek gigantik yang bernama “Kronik Seabad Indonesia” itu, Gus Muh memimpin sekira 80-an remaja dan mahasiswa Yogyakarta yang dibawa ke Jakarta, lalu bekerja bergantian selama 7 bulan. Dari proyek inilah, salah satunya kemudian lahir buku “Trilogi Lekra Tak Membakar Buku”, yang kehadirannya kemudian terlarang.
Kiprah Gus Muh tak berhenti sampai di situ, ia bersama koleganya di Iboekoe menggagas sebuah kerja literasi yang eksekusinya adalah menulis sejarah kampung dengan melibatkan peran aktif warga. Ihwal ini Gus Muh menjelaskan “Menulis sejarah kampung ‘dari dalam’ terinspirasi dari kata-kata Romo Mangunwijaya saat dia mau berkeringat membikin sekolah dasar di desa; yaitu untuk mengenal sejarah lebih besar, kenali sejarah di sekitarmu. Dan itu mesti dilakukan secara organik. Melibatkan ‘orang dalam’ secara utuh dalam pengerjaannya. Bahkan Iboekoe tak lebih sebagai fasilitator belaka, walau dari awal jadi mesin generator.” Menurut keterangannya, proyek menulis sejarah kampung ini sudah terselenggara di Kediri, Pacitan, Solo, Jepara, Majalengka, dan Donggala.
Gus Muh dalam semesta riwayatnya di dunia literasi, kiranya tak berlebihan jika disebut sebagai orang yang keras kepala. Dalam berbagai keterbatasan, ia seperti tak pernah letih menyalakan obor literasi dengan kerja-kerja kreatif dan berdedikasi. Di ajang Frankfurt Book Fair 2015 sosok ini akan hadir membawa ide-ide segar tentang jejak dan pengembangan dunia literasi, dan darinya, semangat yang menyala itu barangkali akan menular.
Pada pameran buku ini pula Gus Muh menyimpan beberapa harapan yang terkait dengan dunia literasi. “Siapa tahu ada kesadaran balik untuk memperbaiki infrastruktur literasi kita. Barangkali dengan momentum ini, pemerintah bisa menyusun blue print dan ngasih budget besar untuk program penerjemahan 4 arus; nasional ke daerah dan sebaliknya, nasional ke internasional dan sebaliknya. Jika infrastruktur penerjemahan kita baik, kita tak akan segugup ini menjadi tamu kehormatan. Tapi semoga literasi warna/gambar dan bunyi/suara yang sudah mendahului, bisa menutupi kegugupan di literasi teks/buku,” ungkapnya. [irf]


Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

23 September 2015

Menziarahi Kembali "Ziarah"

Dari 18 buku karangan penulis Indonesia yang diterbitkan menjelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, “Ziarah” menjadi buku paling “tua”. Novel karya Iwan Simatupang ini diterjemahkan dalam bahasa Jerman dan akan diterbitkan oleh penerbit Angkor Verlag.
Karya klasik yang sejatinya telah rampung ditulis Iwan tahun 1960 ini baru bisa terbit pada tahun 1969. Novel ini mulanya sempat ditolak penerbit Djambatan. Salah satu alasannya karena dianggap sulit diterima oleh pembaca Indonesia kala itu. Barulah Djambatan bersedia menerbitkannya setelah mendapatkan rekomendasi dari H.B. Jassin.
Sejak terbit, “Ziarah” langsung memicu perdebatan. Seperti dilaporkan oleh Dami N. Toda (Jurnal Susastra, Vol. 2, No. 4, 2006), yang menelusuri diskusi tentang “Ziarah” di berbagai surat kabar, sangat banyak pembaca (termasuk para penulis) yang kesulitan memposisikan novel ini. Bahkan oleh beberapa dosen di Universitas Indonesia, masih merujuk Toda, novel ini ditolak karena tidak diakui sebagai “karya sastra”. Dami N. Toda mengalami bagaimana dosen-dosen menolak penelitiannya mengenai novel “Ziarah”, kecuali H.B. Jassin dan Boen S. Oemarjati.
Kurang satu dekade dari penerbitan pertamanya, “Ziarah” sudah terbit dalam bahasa asing. Pada 1975, Yayasan Lontar menerbitkan edisi Inggris novel ini berdasarkan terjemahan Harry Aveling. Berikutnya, pada 2003, jauh setelah Iwan meninggal, edisi Perancis-nya terbit dengan judul “Pelerinage”. Penerjemahan ke bahasa Perancis ini dilakukan oleh Okke Zaymar dan Jean Maiffredy dan diterbitkan Faustroll, sebuah lembaga nirlaba Perancis yang punya perhatian khusus kepada karya sastra dunia.
Novel yang mengisahkan kehidupan seorang yang di penghujung cerita melamar pekerjaan sebagai opseter pekuburan ini, hingga sekarang, banyak dirujuk sebagai novel dengan kandungan filsafat eksistensialisme. Sebutan sebagai “novel eksistensialisme” ini memang sudah sudah menjadi klise dan juga ditampik oleh beberapa orang. Pada 1970, misalnya, Goenawan Mohamad menampik novel-novel Iwan berpretensi filsafat, namun sebagai “keasiykan akan kata-kata” dan “lanjutan rasa tidak betah dengan kovensi bentuk yang lurus”).
Toh pada akhirnya menjadikan novel ini sebagai salah satu novel dari sedikit novel Indonesia yang mendapatkan “cap” yang kuat. Mungkin seperti “Saman” yang mendapatkan cap sebagai “novel feminis”, atau katrologi Pulau Buru-nya Pramoedya yang di-cap sebagai “novel kiri” atau novel “Ronggeng Dukuh Paruk”. Kita tahu, sebagaimana stereotype, “cap” tidak sepenuhnya bisa diterima namun setidaknya menggambarkan meta-teks perihal bagaimana sebuah naskah dirumuskan oleh “publik”.

Kehadiran kembali novel ini, sebagai novel tertua yang diterjemahkan dan dipamerkan perhelatan pasar buku tertua di dunia, ibarat sebuah ziarah pada karya sastra klasik Indonesia. Di Frankfurt, setiap orang yang hadir di sana, bisa menziarahi lagi “Ziarah”. [irf ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.