16 March 2012

Bung


Telah beberapa bulan saya meninggalkan multiply, melupakan blogspot dan berhenti menulis. Apakah saya semacam sedang sibuk?, ah tidak juga. Biasa saja. Jadi sekarang saya mungkin ingin menulis panjang, tapi tidak panjang banget, biasa saja. Menulis apa?, banyak pisan Bung. Sampai saya bingung harus memulainya dari mana?. Ada ide?. Baiklah, jadi begini mulanya :

Keluarga. Siapa yang tidak punya keluarga?, pasti semua punya, walaupun tentu ada juga yang tidak tahu sama sekali anggota keluarganya, karena misalnya dia dibuang ketika masih bayi, laku orang-orang pengecut yang sering kita lihat di layar kaca, yang membuang bayi merah mereka hanya karena mau enaknya saja tapi tidak mau anak. Setiap orang pasti punya ayunan kehidupan itu, ayunan yang mula-mula melindungi anak manusia dari lebat dan teriknya pergaulan hidup. Tapi sekarang saya melihat ayunan itu banyak yang rusak. Pasutri sering sekali bongkar pasang teman hidup. Banyak betul alasannya : karena ketahuan selingkuh, karena sudah jenuh, karena tidak punya keturunan, dan karena-karena yang lainnya. 

Tapi kalau ada tragedy dalam kosa kata hidup berumah tangga, pasti itu adalah perselingkuhan. Suasana yang mungkin khidmat ketika acara akad, seperti seonggok sampah yang begitu mudah dibakar di atas tungku dengan bara perselingkuhan. Mereka yang berselingkuh itu semacam punya dunia sendiri, dunia yang rumit dan juga mungkin indah bagi mereka, saya tidak tahu persisnya seperti apa. Banyak yang mengecam orang-orang seperti ini, para pelaku selingkuh ini, bagaimana menurut Bung?.

Keluarga. Kenapa saya jadi banyak omong tentang keluarga?, padahal saya belum berkeluarga. Biarin, yang penting menulis saja. Seperti beberapa bulan ke belakang ketika saya agak banyak menulis, tulisan tak berstrukstur, loncat-loncat, tidak pernah benar-benar asli. 

Dalam keluarga selalu ada kisah. Salah satunya adalah kepergian orang-orang tercinta. Pergi menuju keabadian, meninggalkan hakikat dunia yang serba sementara. Bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang telah mengabdikan seluruh hidupnya dengan cinta, darah, dan ruh?. Apa gerangan balasan yang pantas diberikan untuk orang yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan, dan membesarkan?. Bahkan jika kau berdo’a di tengah malam gelap dan dingin, melepaskan do’a-do’a terbang ke langit tinggi, hanya untuk kebahagian ibumu di alamnya yang baru, sungguh itu tidak akan sanggup membalas kasih sayang yang mengalir deras yang telah diberikan ibumu. Di zaman khalifah Umar bin Khatab, ada seorang pemuda yang merawat dan berbakti kepada ibunya yang telah tua dengan ikhlas dan sungguh-sungguh, tapi entah kenapa pemuda itu masih sempat bertanya kepada khalifah, “wahai amirul mukminin, apakah pengabdianku telah cukup untuk membalas kebaikan ibuku?”. “Tidak”, jawab khalifah, “karena engkau merawat ibumu sambil menunggu kematiannya, sedangkan ibumu merawat engkau sambil mengharap kehidupanmu”. Kepergian orang-orang tercinta adalah masa ketika kita tersadar bahwa mereka yang telah pergi itu tiba-tiba saja meninggalkan ruang kosong yang sangat besar di kehidupan kita. Memperbaiki atau meningkatkan kualitas hubungan dengan orang-orang tercinta, mungkin sebuah langkah bijak sebelum segalanya terlambat. Kenapa saya menjadi seperti serius begini?, tapi biarin, sekarang mari kita lanjutkan. 

Telah berulang-ulang saya menulis tentang kecintaan saya pada buku, pada kertas yang dilem punggung nya itu. Pada benda yang di dalamnya berderet-deret jajaran aksara, pada benda yang dapat mengapungkan imajinasi, memanjangkan harapan, dan membakar semangat itu. Seperti yang telah saya tulis pada beberapa waktu ke belakang, bahwa yang menumbuhkan minat saya pada buku, mulanya adalah semacam sebuah buku otobiografi seorang mantan mahasiswa yang tidak lulus di dua perguruan tinggi yang berbeda di kota Yogyakarta. Nama penulisnya tidak usahlah saya sebutkan.

Lalu saya bersentuhan dengan buku-buku Pramoedya. Dan buku dia yang pertama ingin saya beli adalah “Bumi Manusia”. Berjompaklah keinginan saya itu sebagai ombak yang menderu di laut luas ketika saya melihatnya di sebuah toko buku ternama di negeri ini. Antara sebentar saya bolak-balik depan dan belakang, membaca apa yang ada di permukan buku itu. Beberapa waktu lamanya saya bertingkah demikian zonder membeli, karena uang sedang tidak ada. Beberapa bulan lamanya saya tidak bisa membeli buku itu, sampai ketika uang sudah ada, maka bersegeralah saya beli buku itu sebagai orang lari ke toilet karena mau ada sesuatu. Buku yang tebal itu saya habiskan dalam waktu yang tidak lama, berbeda dengan kalau saya membaca kitab suci, satu bulan pun belum tentu bisa selesai, saya memang semacam sedang turun imannya waktu itu. Tapi memang sebenarnya bukan waktu itu saja saya mengalami penurunan iman, sebab yang namanya iman pasti bertambah dan berkurang (yazid wayankus). 

Ah, itu mungkin cerita tentang minat. Tentang ketertarikan. Tentang hening senyap perangkap yang terpasang pada sebuah buku. Kalau ada orang yang sedang murung atau bersedih, cobalah beliau itu dikasih sebuah novel yang bagus, kasih dia amsal atau umpama untuk dikunyah dalam kesedihannya. Biar beliau tahu bahwa peserta kehidupan di alam luas ini bukanlah beliau saja. Tapi jangan sekali-kali kau sodorkan novel cabul karangan para aktivis liberal, sebab sungai yang airnya dangkal sangat sulit untuk dijadikan tempat menyelam. Biarkan saja mereka terus berkarya, dan kita harus melawannya dengan karya juga. Biarkan saja mereka mabuk dalam puber intelektual, dan kita harus semakin “merunduk” dalam aktivitas pencarian ilmu. Jangan membakar buku, tapi bakarlah pemahamannya dengan keyakinanmu. Kalau akhirnya hidup hanya terpolarisasi pada dua kutub, maka pilihan itu sangat jelas. 

Pasti Bung sudah tahu, atau setidaknya pernah mendengar kata-kata ini : “pemuda sekarang adalah pemimpin masadepan”. Lalu pemimpin macam apa yang akan kita temui kelak jika candu telah merasuk dan merusak tunas-tunas muda itu?. Di pagi yang masih awal dan sangat manis, terdengar rintihan pemudi yang sedang “operasi” aborsi, hanya karena dia kurang cerdas dengan lupa membawa pil anti hamil. Di halte-halte penuh vandalisme, banyak betul ragam anak muda itu, hampir semuanya menghadirkan cermin buram, kecuali beberapa belia penyuluh di malam kelam, para penyebar kesejukan di tengah sahara bangsa. Ah, cermin buram itu mungkin saya, atau mungkin Bung sendiri, atau mungkin gadis-gadis mekar yang durasi wanginya pendek, karena angin perubahan terlalu cepat hinggap, angin itu adalah kematian, kematian apa?, kematian hati nurani. Saya tidak ingin menjadi ringkih hanya karena dibantai persoalan yang tak habis-habis. Bung sendiri, bagaimana inginnya?. 

Hei Bung, kau dengar itu sedun sedan?, itu bukan orang yang sedang menangis, tapi sedang tertawa, menertawakan komedian banci yang semakin hari makin menjamur. Selera humor kita ternyata hanya sebatas adegan konyol seorang banci ya Bung?, ah, kau pasti tak setuju. Kau pasti punya selera humor lebih tinggi. Atau kau bukan seorang humoris melainkan seorang melankolis?, karena setiap hari tidak pernah absen menonton kawin cerai para artis?. Ah, kau tentu lebih tahu jawabannya Bung. 

Hukuman apa kira-kira yang pantas dikalungkan di leher si pengkhayal?. Panjang angan-angan, idealisme constract, pengagung simbol-simbol, banyak cakap tapi tak pernah meninggalkan jejak. Berbicara dengan orang seperti ini mungkin namanya bukan diskusi, tapi debat kusir. Sudah saatnya meninggalkan para penggerutu, pasukan bersemangat seremoni akan tercecer di belakang. Apakah kau sudah merasa akan masuk surga?, padahal belumlah datang cobaan itu. Yang putus asa kembali mengurung diri di surau-surau dan gubuk-gubuk sambil tersedu sedan mengutuki kehidupan yang tidak ideal. Betapa banyak para pengagum pahlawan sampai akhirnya lupa untuk meneladani. Nasionalisme bisa diframe pada visual pemuda tengik yang tersedu sambil mencium kain bendera. Lalu setelah menjadi anggota laskar di panggung 17-an, pemuda itu kembali tersungkur di got dengan kondisi mabuk berat, dibantai local wine nomor wahid. Inikah pemimpin masadepan itu?, Bung tentu tertawa mendengarnya sebagai bocah sedang bercanda dengan kawannya. 


Ya, saya yakin Bung, suatu saat nanti para belia penyuluh di malam kelam itu akan hadir memenuhi setiap gang di Jakarta, bahkan di seluruh penjuru negeri. Pasukan itu kini tengah bekerja, menahan laju ahzab sekutu. Generasi macam apa yang berbekal kayu, batu, pedang, senapan angin, dan bom Molotov, hanya untuk mempertahan gengsi blok hunian?, nasionalisme turun pangkat : dari gengsi Ambalat mejadi sepetak dua petak wilayah kelurahan. Begitulah jadinya jika tanah yang dipijak telah dijadikan Tuhan. Jargon kebangsaan berleleran dari mulut si Tuan, dan orang-orang perlahan berubah menjadi rakyat kerajaan. Para penyuluh itu bekerja dalam sunyi, mereka senyap tapi tidak diam, bergerak dan terus bergerak, karena diam adalah kematian. Lalu ada segerombol manusia menyerang, menjegal dan memfitnah saudaranya sendiri, sementara kewajiban jadi terlupakan. Proyek kebajikan hanya jadi sampah, sumpah serapah dan kebencian. Terbuat dari apa hati orang-orang yang dengki itu?. Si pintar menjadikan ilmunya hanya menjadi barang koleksi, dan gelar bergerbong-gerbong hasil menuntut ilmu di luar negeri hanya menjadi penghias di selembar surat undangan dengan catatan kaki : “mohon maaf bila ada kesalahan dalam penulisan nama dan gelar”. Yang dituding tidak nasionalis malah pulang ke tanah air dengan membawa ilmu dan bergiat membangun negeri. Ajaib dunia ini, yang bercita-cita besar sering dikerdilkan, dan yang bercita-cita (kalau ada) kerdil sering dibesar-besarkan. 

Kemudian ada angin lalu, semilir bahkan tidak terasa. Bunyi merdu seperti apa yang dapat dihasilkan dari tong kosong yang kelewat sombong?. Setajam apa pun serangan itu, tidak dapat menghentikan laju azzam yang tengah dipupuk. Headline koran-koran dengan huruf menyala setiap hari menyambut pagi, bahkan ketika sesuap nasi belum sampai ke kerongkongan. Ya, perang itu telah berkobar, di gincu-gincu istilah : hak asasi manusia, dunia tanpa teror, kesetaraan gender, kebebasan tanpa batas, dll. Yang tak siap langsung terbunuh dengan serangan kata, padahal belum datang kepadanya serangan senjata. Pembunuhan karakter dilontarkan pers quo vadis, lalu yang bermental klarifikatif bergiat membuat press release. Basa-basi komunikasi dengan media yang penuh benci hasilnya telah terbukti : bahwa media harus dilawan dengan media, apalagi rakyat kerajaan adalah ayam negeri yang gampang digiring, solidaritas salah kaprah, dan rentan kematian massal. Kampus-kampus mesin sekularisme bertekuk lutut ketika angin perubahan berhembus kencang, belia-belia yang resah, teguh berjama’ah, menyeru dan menyuburkan jalan yang hanif itu. Para penguasa korup terlambat menghadang gerakan kembali ke “identitas”, dan perlahan jundi-jundi itu mengantar masyarakat kembali ke haribaan fitrah. Perang abadi bukanlah symbol melawan substansi, bukan pula profan melawan sakral, melainkan kebenaran melawan kebatilan. Maka yang merasa memonopoli kunci-kunci kebenaran silahkan memperhatikan. 

Kemenangan abadi bukanlah di dunia kasat mata, sebab peradaban yang sejati bukan pada tujuh keajaiban dunia, melainkan kemenangan di alam jiwa. Mesjid harapan bukanlah yang megah memakan dana ummat lalu setelah itu dilupakan, melainkan tempat jiwa-jiwa bertemu, saling mengingatkan, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Haruskah pula diwajibkan latihan baris-berbaris di lapangan dengan teriak dan gertak?, sementara lima kali pertemuan dalam sehari telah begitu rapi, disiplin, dan anggun. Diperlukan petani-petani baik dan bisa dipercaya untuk menanam benih, menyiram, menyiangi, merawat, dan menyingkirkan hama dari tunas-tunas muda yang bersemangat itu. Karena burung kecil pun menyukai padi yang sedang berbuah. Tumpukan kertas yang punggungnya dilem kuning idealnya menjadi penggagas perubahan, pembebasan, dan keberanian. Bukan malah menjadi labirin gelap yang membuat si pembaca berputar-putar mencari pintu keluar. Alangkah malang si Tuan yang dimakan senjatanya sendiri, lalu teriak minta tolong di situs-situs jejaring social. Alangkah mudah mengeja huruf-huruf sejarah, mencintai kata-kata bertuah, menggandrungi karya-karya bersengat, tapi efek yang ditimbulkan tidak lebih dari tipikal seorang kolektor barang antik, tragis. 

Hari ini harus kembali ditegaskan, bahwa gradasi adalah warna yang luruh dari warna aslinya. Ketika berjuta petak dan rumah kotak mau memboikot segala tayangan sampah, maka si penebar stigma akan kelimpungan memakan rating yang semakin menukik, dan si modal besar akan angkat kaki dari firma-firma corong itu. Sudah berapa tahun bangsa Tuan merdeka?. Haruskah kembali menjejalkan kata dewasa kepada bangsa yang masih belum bisa menurunkan penumpang dari atas gerbong kereta, menjadikan sungai sebagai kloset, shelter-shelter penuh vandalisme, dan wilayah niaga penuh licik dan dusta?. Siapa yang mau bertanggungjawab?. Tangis bocah akan lebih anggun jika dibandingkan umat yang menangisi keadaan tanpa berbuat sesuatu apa pun. Ya, klaim diri yang paling benar memang begitu manis diucapkan, sambil menunggu Ratu Adil , Satrio Piningit, atau bahkan menunggu kehidupan ideal seperti zaman para penghulu pembawa risalah, sambil menafikan kondisi zaman dan tak pernah membaca tanda-tanda zaman. Dalam gerak ada berkah, karena setiap genangan air selalu menyisakan bau busuk. Setiap penyuluh di malam kelam harus siap terasing, sedikit pengikut, dan mata hati yang sadar jaga. 

Bung, apakah kau masih menjadi pencinta senda gurau?, lalu kau mengutip ayat bahwa dunia ini hanyalah senda gurau dan permainan belaka. Apakah orang-orang serius tidak pernah bercanda?. Sangat parsial jika perspektif hanya dari satu titik, lalu dengan style yakin mendeklarasikan kemerdekaan dan kesenangan hidup, kemudian memvonis orang lain sebagai si pencinta dunia, seolah kau tak mencintai dunia dan sangat pede akan beroleh berkah dari hidup ala seniman tanggung. Berderet generasi seperti tak habis-habis, yang mengeluh sepenuh kesah : “hidup untuk diri sendiri sudah demikian sibuknya, tak terbayangkan jika ditambah dengan hidup untuk orang lain”. Bukan tiba-tiba jika kemudian tetangga begitu acuh dan sinis, sahabat semakin jauh, orang tua dan saudara menjadi lupa, karib kerabat entah kemana. Take a look around. “Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”. Tegur sapa mendo’akan keselamatan kini mahal harganya, karena tak pernah mengenyangkan perut si pengucap, atau anjuran konyol dari seorang ningrat untuk mengubah “assalamu’alaikum” menjadi “selamat pagi”. Maka mati ketawalah bangsa ini seperti kata pengantarnya pada sebuah buku, mengerikan. Telah hadir semenjak beberapa dekade lalu, satu generasi yang terlihat dari gurat wajahnya, sorot matanya, dan senyumnya yang menyimpan kesedihan kepada bangsa yang malang ini, sembari bekerja, berjuang dan meniti jalan dengan sepenuh azzam, mengajak orang-orang kembali ke haribaan fitrah. “Bangkitkan negeri, lahirkan generasi, pemuda harapan, tumbangkan kedzoliman.” (Izzis)

Sekarang dan bahkan seharusnya dari dulu, istilah ‘wanita tuna susila’ punya kembaran : ‘pria tuna susila’, sebab memilih terjerembab bukan monopoli satu gender. Alangkah malang nasib perempuan, dulu banyak dari kaumnya yang pernah melahirkan para aktor pencerah peradaban, kini banyak yang berteriak lantang karena merasa tak kebagian peran, lalu menyalahkan agama langit. Tapi mereka tak berani membuktikan gugutannya itu, yang paling berani pun tak punya nyali untuk memproklamasikan diri keluar dari agama yang hanif ini. Masih diperlukan beribu-ribu lembar catatan sejarah untuk perempuan seperti ini. Padahal sudah sangat jelas derajatnya : “ibu, ibu, ibu, baru bapak”. Tidak akan pernah terdengar kata-kata “surga ditelapak kaki bapak”, bukan?. Yang merasa gembong gerakan kesetaraan gender lalu berkata : “ah, itu cuma rayuan, agar kita tidak melawan”. Dan jalan itu akan selalu terbentang, memanggil para penyuluh di malam kelam untuk selalu siap, taat, dan berjaga di garis depan. Masih banyak lahan gersang untuk dijadikan subur dan produktif, masih banyak “mulut-mulut” lapar menunggu uluran, dan masih diperlukan stok kesabaran yang berlimpah untuk meneruskan perjalanan. 

Di dalam bus transjakarta sangat jelas tertulis “dilarang makan, minum, dan merokok”, tapi aneh ada tong sampah di hampir semua armadanya. Buat apa?. Apakah untuk mentoleransi pelanggaran?, maka suatu hari dapat Tuan temui seorang asing tersenyum ganjil. Ini persis seperti larangan berjualan di trotoar dan bahu jalan, lalu setiap hari, minggu, dan bulan, petugas berseragam menarik retribusi dari jejeran kaki lima itu. Logika yang terpenggal. Dan masih banyak lagi logika-logika lain yang jungkir balik, cenderung mengada-ada, dan sampai sekarang masih ada. Bukan otak para pelakunya yang pandir, tapi telah terjadi cacat virtual yang telah lama dan akut. Tidak perlu menjadi sufi untuk bisa menerbangkan pesawat, apakah seseorang tidak bisa membuat gerbong kereta hanya karena dia seorang agnostic?, dan seorang atheis pun masih bisa menembakkan AK 47. Penyerahan total kepada-Nya : vertical-horizontal, individu-sosial, dan kontemplasi-interaksi, itulah pembedanya. Bukankah apa yang ada di langit dan di bumi semuanya semata-semata hanya tunduk kepada-Nya?. Yang sombong mengklaim bahwa itu hanya kerja ilmiah dan menyebutnya hukum alam, sambil menafikan kekuasaan-Nya. Itulah takdir sejarah yang terpahat sepanjang massa, bahwa al haq selalu banyak penentang dan pembangkang. 

Sore hari sepulang kerja, seorang kawan disambut personil lengkap : istri dengan air muka paling manis sepanjang hari, dan dua orang anak yang bersih dan wangi, siap berhambur ke pangkuan sambil bangga melaporkan hafalan Al qur’annya yang bertambah. Sementara yang lain, setelah menyimpan motor di garasi : mendapati istri masih setia di depan tv mengikuti ghibahtainment terkini, dan anak-anak belum mandi sambil merengek-rengek menagih janji untuk jalan-jalan ke mall. Apa yang menyebabkan budaya keluarga si A dan si B berbeda?, kenapa perilaku keluarga si C dan si D berlainan?. Mungkin harus selalu diingatkan bahwa sekedar memberi makan dan minum saja, seekor kambing pun telah dengan baik menjalankan fungsinya. Bahwa menjadi tua secara biologis saja, seekor ayam pun bisa melakukannya. Ini bukan olok-olok atau deklarasi kesombongan, ini hanya solilokui. Bukan alasan tepat jika Bung pernah tenggelam ke palung laut terdalam, atau terperosok ke sumur tetangga yang gelap dan pengap, lalu itu semua dijadikan modal kesombongan untuk menghakimi hati orang lain. Bom yang meledak di pagi yang masih tenang itu pasti banyak meninggalkan luka, tangis, sumpah serapah, dan kutukan. Adakah setitik pelajaran yang bisa kita ambil di antara bau amis daging yang terbakar dan reruntuhan puing-puing? : bahwa kematian selalu mengintai kita, kapan pun dan di mana pun, bom hanyalah salah satu perantara untuk menuju ke sana. Lalu sudah siapkah kita menghadapinya?, sudah cukupkah bekal kita untuk perjalanan abadi itu?. Oh my God, saya sedang futur...[ ]


Juli '09

untuk generasi yg terasing

Struktur yang Melarikan Diri


Meskipun tidak segila makan sayur asem pakai kecap manis, atau makan kolak pisang pakai nasi, tapi menulis cerita dengan bahan-bahan yang digali dari mata air gradasi : perbatasan antara fakta dan fiksi, adalah ide cerita yang strukturnya seolah-olah melarikan diri. Diperlukan kemampuan membaca dengan teknik Kopaska (Komando Pasukan Katak) untuk menikmati jejaring cerita yang secara kasat mata tampak tak beraturan, beraroma personal, dan terkadang seperti sebuah manuver “undangan”. Barangkali para penganut mazhab komunikasi konservatif tidak akan bisa mengikuti alur cerita, karena mereka berpedoman pada “apa sih sebenarnya yang disampaikan?”. Jika pertanyaan itu tidak menemukan jawaban, maka bagi mereka komunikasi telah gagal. Diperlukan beberapa buku karangan Afrizal Malna untuk mendeteksi struktur yang melarikan diri itu. Di sebuah republik, di mana para penghuninya terbiasa berbicara dengan selubung kabut, maka diperlukan mata yang tak hanya mengfungsikan retina.

Menjunjung tinggi amsal, umpama, dan metafora, bukan berarti menjadi penghuni kastil atau menara gading. Gelaran Idol tidak akan berguna di tengah pusaran perang tulisan. Jika pun ada perlombaan, itu tak lebih dari gorong-gorong saluran untuk membagikan buku. Bertemu dengan beragam kepala tidak bertujuan untuk menyamakan pikiran. Tidak juga untuk membuat seragam dalam tulisan. Tapi ingat sebuah konsekuensi, bahwa kita harus selalu menyediakan ruang untuk dibenci, atau minimal untuk dikritisi. Jika itu tak disiapkan, maka sampai kapan pun akan begitu mudah untuk merasa dipenggal, akan merasa bahwa semua tempat seolah-olah mezbah : altar penyembelihan. Apakah ini terasa keras? : relative. Apakah kita kolam yang luas, atau hanya sebuah gelas?

Tantangan menghadang di muka. Ketika ratusan tulisan mengalir deras, maka dibutuhkan mental kerani yang siap berjaga di palagan arsip. Juga beberapa editor jadi-jadian yang bersedia berdiskusi untuk memilah dan memilih beragam tema untuk ditempatkan pada rumahnya masing-masing. Ini juga semacam struktur yang melarikan diri, sebab jadwal resmi para buruh telah dipahat jauh-jauh hari di lukisan angka yang setia menempel di kalender. Kalau saja tidak diberi kecintaan kepada kata-kata, pasti republik ini sudah dari dulu gulung tikar, dan diganti dengan lapak jual-beli ala kaskus. Tapi batu tapal kita bukan itu, kita tidak berangkat dari sana.

Para pembaca yang sibuk, yang selalu menagih makna dari setiap renik tulisan adalah tamu-tamu yang harus diberi perhatian. Mereka adalah batu bata yang juga ikut membangun republik ini. Dari dulu, di berbagai penjuru, berjuta-juta tulisan telah lahir dengan proses persalinan yang beragam. Berjuta apresiasi dan serapah telah dihambur-hamburkan. Berjuta cerita datang mengilhami, atau hanya narasi basi yang tak layak dicatat di kitab puja-puji. Begitu banyak catatan yang dilahirkan menyerupai aborsi, tapi kita tidak pernah menuntut republik ini dipenuhi olah para ksatria suci. Dan huruf tidak pernah memihak kepada salah satu pihak, karena menulis adalah sebuah gerak. [ ]

10 Feb ‘12

Jarak

Dua kamar. Bersisian. Dibatasi dinding tipis.

Cantik. Asli, Ladya Cheryl terlihat cantik waktu berjalan di red carpet Festival Film Berlin. Sekilas mirip Gong Li, tapi kalau dilihatnya tidak sekilas jadi tidak mirip.

Kamar sebelah terdengar sedikit ribut. Anak-anak itu, yang dalam perkiraan saya masih berusia dalam kepala dua awal, seperti sedang meradang. Tapi suaranya tidak jelas, lagi pula saya sedang konsentrasi dengan Youtube.

Nicholas Saputra, Edwin, dan Ladya Cheryl menjadi pemula di kalangan sineas Indonesia yang menjejakkan kakinya di 17 besar Festival Film Berlin : Kebun Binatang (Postcard from The Zoo).

Seorang lelaki dengan postur militer dan berwarna agak gelap datang, menghampiri kamar sebelah. Dan terdengar agak serempak, “Selamat malam Ndan!”.

Saya lari ke trailer, ah sayang hanya dari belakang. Tapi cukup berani untuk ukuran artis yang dikenal bukan sebagai pemeran film panas. Setelah Babi Buta yang Ingin Terbang, rupanya Edwin dan Ladya masih melanjutkan kerjasamanya.

Dari sebelah, yang dipanggil “Ndan” terdengar mulai bicara, “Tenang, kalian jangan dulu mengambil sikap frontal, biar saya dan kawan-kawan yang lebih tua yang akan maju dulu…” Belum selesai bicara, dia langsung dipotong, “Tapi Ndan, kita ini pergi dari kampung buat kerja, sementara uang sudah habis, tapi kepastian kapan mulai kerja belum juga jelas!.” Ndan kembali mencoba menjelaskan, sekaligus meredam anak buahnya yang mulai meradang.

Setiapkali mengambil gambar manusia, posisi kamera selalu berada di balik kandang, sehingga gambar manusia terhalang barisan jeruji yang menjadikannya seperti terkurung. Persepsi dibalik. Manusia yang terkungkung. Di tangan Edwin, kebun binatang sebagai tempat wisata klasik dan purba terasa begitu sunyi. Sayang soundtracknya bukan No Surprises.

Di tangan Ndan ponsel sedang tersambung dengan nomor yang lain. Ndan sedang melobi atasannya untuk membantu anak buahnya yang terjepit di tengah keputusan yang tidak jelas. “Pak, waktu perusahaan membutuhkan pekerja baru, satpam baru, saya langsung pulang kampung, mengajak anak-anak yang mau kerja di sini. Dan mereka pun antusias, ibu-bapaknya berusaha mencari uang lebih untuk ongkos dan bekal hidup di Jakarta. Tapi sekarang setelah pelatihan itu, setelah panas-panasan ala militer itu, kepastian kerja buat anak-anak belum juga ada. Tolong dibantu Pak, saya tidak enak sama anak-anak.”

Anomali. Mula hidup tidak berpijak dari keluarga. Ladya kecil sedang bermain dengan beberapa ekor anak ayam, di kebun binatang, sendirian. Setelah besar bertemu dengan pesulap. Lalu pesulap menghilang, dan dia hidup sebagai tukang pijat plus. Kemudian dia pulang kembali ke kebun binatang. Kenangan selalu berjarak dengan keadaan sekarang. Seperti Ladya dengan keluarganya dalam samar ingatan, juga dengan masa kecilnya di kebun binatang. Seperti hasrat manusia yang ingin menyentuh kepala jerapah yang tinggi. Di mana-mana hidup selalu ada jarak, juga di keputusan-keputusan yang bimbang, yang mengombang-ambing Ndan dan anak buahnya. [ ]

28/2/2012


Rekonsiliasi

Hujan. Tapi ini tidak tepat. Rokok habis, uang tipis, dan besok wisuda. Lalu apa yang diharapkan dari hujan jika kondisi seperti itu?. Paling hanya menjadi kanal untuk mengalirkan kekesalan. Siapa yang mau menukar cita-cita?. Telah sampailah sekarang di penghujung, tepat beberapa hari sebelum menyerahkan kepala dipenggal kalung, toga, dan topi aneh yang dilemparkan ke udara. Dari tadi malam pertanyaan yang telah lama dipendam ini tak mau juga pergi : untuk siapa sebenarnya ini semua?.

Kawan-kawan telah berlari jauh. Sementara saya seperti labi-labi yang terseok di belakang. Apakah hidup adalah kompetisi?. Kenapa kecepatan harus disamakan dengan oranglain?. Dan jika kecepatan dikurangi maka orang-orang ramai menamainya sebagai ketertinggalan. Tapi memang rohani ini rohani bumi, sebab yang pertama kali dibandingkan selalu saja para pengantar yang hanya sampai di tepi kuburan.

Ada apa dengan pohon?. Apakah mereka tumbuh dengan mata nyalang melihat kiri dan kanan?. Rasa-rasanya mereka tumbuh tanpa menoleh tetangga. Lapar memang memalukan, tapi jatah tak akan pernah habis sebelum hidup selesai. Dan hujan masih menderap di balik jendela. Angin masih menjatuhkan daun-daun pohon mangga.

Darimana mengukur kelas sosial?. Apakah setiap orangtua memproyeksikan anaknya untuk menempati kelas sosial tertentu?. Buruk sangka, mungkin itu yang sering dilekatkan oleh saya, dengan sepenuh kesal, kepada orangtua. Memang tiap generasi punya bahasanya masing-masing, tapi benarkah bahasa kebaikan punya kosa-kata yang berlainan?.

Ponsel berbunyi, tapi saya pura-pura tuli. Mulut sedang tidak minat untuk banyak bicara. Kata-kata tercekat, terbata-bata. Besok wisuda, dan sangat sempurna : tiga tahun diakhiri dan hanya untuk menghadiri seremoni yang kelak diabadikan untuk menjadi lampu kristal pajangan. Berdiri saya di balik jendela, melihat arsiran hujan yang membelah udara. Pikiran-pikiran salah sangka coba saya benamkan. Saya harus berdamai dengan semua ini. Agenda sudah menunggu di muka, dan masalalu saya rayakan bersama mie rebus. [ ]

28/2/2012

Buat Bung yg menguasai Margonda dan sekitarnya

Bunut, 6 Maret 2011

Sebagian bayangan pohon ketapang terlihat jelas di tanah yang lembab, sebagian lagi di jalan yang beraspal. Saya duduk di luar kamar, menghadap ke jalan yang beraspal itu, dua orang perempuan terlihat berjalan menuju entah ke mana. Kupu-kupu kecil berwarna putih terbang rendah dan hampir menyentuh rumput. Langit cerah tapi udara terasa dingin. Di kejauhan, di sebelah timur, garis barisan bukit terlihat membiru. Pemilik safari empat saku masih di dalam, masih terbaring lemah dengan selang infus dan tabung oksigen. Di dalam, udara terasa padat.

Afrizal Malna di tangan, dia menjajah ingatan. Kalau saja tidak ada mimpi dan imajinasi, masadepan tidak lebih dari sekedar angka dan deret turunannya. Sunyi, hanya seekor ekor kucing kurus yang duduk kelaparan. Di rumah sakit jarang ada yang buang sampah sembarangan, dan tong sampah tertutup rapat. Di dalam terdengar suara perawat mengganti tabung oksigen, dan percakapan setengan nada. Panas matahari mengendap pada daun-daun pohon lengkeng, angin berhembus perlahan, dan dingin menggigit pelan-pelan.

Yang duduk menunggu di dalam tidak banyak suara, hanya menunduk, dunianya sudah masuk ke dalam layar ponsel, jejaring sosial telah menyedotnya. Komunikasi berlaksa rupa, derajatnya sungguh mengagumkan, dibutuhkan di setiap halaman waktu manusia. Dalam remang lupa masih saja terdengar suara guru ngaji di kampung, dulu, dulu sekali, beliau pernah berkata, “Bersabarlah, karena sesungguhnya sakit itu menggugurkan dosa-dosa yang telah lalu.” Sementara daun-daun pohon ketapang mulai berguguran seperti ingin memberikan metafora.

Dua generasi dibatasi tembok dingin dan kaca yang lebar, yang satu terbaring dan yang satu lagi sedang duduk. Apa yang membuat dua zaman bisa berdampingan?, salah satunya adalah pengertian. Dee dengan cerdas menulis, bahwa yang sekarang kita sebut embun dulunya adalah bola raksasa yang bening bagai kristal, bahwa yang sekarang kita sebut rumput dulunya adalah pohon raksasa yang tegap berdiri. Terlalu banyak kosa kata yang tidak bisa menghubungkan dua masa, tidak ada kunci pasti yang bisa menyatukan dua generasi.

Tapi saya bukan Pram yang pulang ke Blora dalam “Bukan Pasar Malam”, saya tidak sedang mengenang hal-hal yang telah hilang, saya hanya tengah memperhatikan masadepan yang bersembunyi di balik pohon ketapang. Dan waktu tak pernah surut, bayangan pohon telah bergeser beberapa derajat. Pintu kamar adalah bukti bahwa ada yang datang dan ada yang pergi. Dan pintu itu juga pasti tahu, setelah dzuhur, saya melangkahkan kaki masuk ke kamar. Saya pamit, rahmat kerja sudah menunggu esok hari. Terasa sekali kulit tangannya, kulit tangan pemilik safari empat saku itu telah mulai kendur dan keriput. Dan di luar langit telah berganti, awan hitam mulai menguasai, hujan berhamburan waktu saya masuk mobil. Dalam hati sempat saya merapal pelan sekali :

“Allahumma rabban naasi adzhibil ba'sa asyfi antasy syaafii laa syifaa'a illaa syifaa'uka syifaa'an laa yughaadiru saqaman.”

“Ya Allah Tuhan segala manusia, jauhkanlah penyakit itu dan sembuhkanlah ia, Engkaulah yang menyembuhkan, tak ada obat selain obat-Mu, obat yang tidak meninggalkan sakit lagi.” [ ]