11 July 2016

Demam

Ada juga terdengar olehnya adiknya kecil Tini itu berseru girang, “Mbak Ati datang.” Dan ada juga suara yang dikaguminya dulu—suara yang selalu membangkitkan birahinya:

“Tini…..sudah besar engkau sekarang, ya?”

Kirno mengarahkan matanya ke arah suara itu. Tapi seperti biasanya tak ada apa-apa yang dapat dilihatnya. Dan sekalipun ia rela, kerelaan itu terbit hanya karena terpaksa. Mata, dua-duanya, terpagas oleh peluru, dan sepasang kakinya pun begitu pula. Siapa mau dengan rela menyerahkan kedua mata dan kakinya untuk jadi cacat selama-lamanya? Dan untuk kesekian kalinya perlahan kepalanya diturunkan, runduk ke bawah dan akhirnya berhenti di atas meja keretanya. Kemudian kepala itu diam saja di situ. Terdengar lagi:

“Engkau turut arak-arakan tadi, Tini?” Suara yang mengagumkan hatinya dulu—tapi kini seperti suara-suara lainnya:

“Tentu, mbak, tentu. Dan menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu hari kemerdekaan. Dan kami sesekolah mendapatkan minuman dan kue,” suara adik kecil.

“Alangkah senang, ya? Mana ibu?”

“Ibu di kabupaten—menerima tamu, Tini menyahuti.”

“Bapak?”

“Di sana juga—menerima tamu”

“Mas? Mana mas Kirno?”

“Di dalam, mbak. Tapi, tapi, tapi, mas No sekarang…..”

Dan Kirno menghembuskan nafas keluh seakan-akan dalam keluhannya itu telah terkandung seluruh penderitaan dunia dan isinya. Tapi suara Tini melengking juga di kuping:

“…..tidak bisa jalan kakinya buntung”

“Buntung?” seru suara gadis itu kaget.

“Ya, mbak, dan selama ini dia duduk di keretanya saja. Kalau mau pergi kemana-mana, Tini yang mendorong-dorong kereta itu.”

“O …..,” suara yang kecewa dan pahit.

“Dan juga mas, mas No sudah jadi buta sekarang.”

“Buta?” desis suara gadis itu.

Perlahan-lahan Kirno mengangkat kepala, menegakkan badan, bersandaran pada sandaran keretanya dan keningnya berkerut. Berbisik ia pada dirinya sendiri:

“Ati!” itu saja.

“Kasihan bukan, mbak?” Tini meneruskan.

Ia tak mendengar Ati menjawab. Dan ia berkata dalam kepalanya.

“Dan aku sekarang….. aku sekarang hidup hanya untuk menerima kasihan orang lain.”

Terbayang dalam kepalanya betapa bebasnya dulu mempergunakan kaki dan matanya, sekalipun dalam jaman jajahan. Ya, sekalipun demokrasi dan kemerdekaan tak diteriakkan orang. Dan dalam negara demokrasi dan merdeka ia kehilangan haknya untuk berjalan dan melihat. Ya, sekalipun demokrasi menjamin kebebasan perseorangan. Sekali lagi ia mengeluh. Sekali lagi. Dan sekali lagi.

Terdengar suara yang dipujanya dulu:

“Bawa aku pada mas No”

Terdengar olehnya langkah kaki berselop, dan langkah anak kecil mendekatinya. Buru-buru Kirno menundukkan kepalanya. Badannya membungkuk. Dan kepalanya terletak di atas mejanya—tak bertenaga. Ada juga ia mendengar seruan Ati di depannya:

“Mas No!”

Ada juga terasa olehnya tangan merangkulnya. Ada juga terdengar olehnya sedan gadis yang dulu dicintainya itu—dulu sebelum Belanda menduduki kotanya dan sebelum ia mengundurkan dirinya dengan pasukannya ke hutan-hutan Mantingan. Ada juga terdengar olehnya nafas yang tertahan-tahan. Kemudian ia mengangkat kepalanya kembali. Berbisik:

“Ati-ku. Engkau datang juga akhirnya.”

Dan suara yang gugup terdengar olehnya:

“Mas No, mengapa engkau jadi begini sekarang?”

Kirno tak menjawab. Hanya hafas besarnya juga terdengar terhembus-hembus. Kemudian perlahan-lahan dan dalam Kirno berkata:

“Ati, kawan-kawanku mati seorang-seorang dan dilupakan orang. Dan aku pun mati dilupakan orang sekarang. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang selesai, Ati? Perang selesai dan masing-masing yang masih hidup boleh memperoleh kedudukannya masing-masing dalam masyarakat yang dibentuknya sendiri. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang, Ati?”

Dan tak ada terdengar olehnya Ati menjawab. Ia meneruskan:

“Engkau boleh bebas pergi ke mana-mana, karena engkau masih ada hak untuk itu. Aku sendiri, Ati…..aku sendiri sudah kehilangan hak-hakku sebagai manusia biasa. Ati-ku bisakah engkau merasakan keadaanku ini? Tak punya hak apa-apa dalam negara yang dulu diperjuangkannya? Dapatkah engkau merasakan? Tapi aku tak mengadu padamu dengan ucapan ini. Dan kadang-kadang, Ati…..kadang-kadang dengan tak terasa sudah keluar saja kandungan hatiku, kandungan otakku.”

Ia diam sebentar. Tiba-tiba ia kehilangan kemurungan dalam ucapannya. Meneruskan dengan suara orang yang masih punya semangat hidup. “Engkau masih cantik seperti dulu, Ati?”

Terdengar olehnya Ati menjawab. Jawaban dengan keluh saja:

“Engkau tak mau menjawab, Ati. Ya, engkau tak mau menjawab, aku mengerti juga mengapa. Ya, Ati…. Aku ini tak lagi mengharapkan engkau, dan engkau tak bisa lagi mengharapkan aku, bukan? Bukan?”

Ati-nya menjawab lagi dengan keluh yang lebih dalam.

“Aku dengar engkau mengeluh lagi, Ati? Ya, aku dengar engkau mengeluh.”

“Mas Kirno,” Ati menyelingi, “Aku tak mengerti apa yang harus kupikir waktu melihat engkau ada dalam keadaan seperti ini.”

Kirno tersenyum. Berkata perlahan-lahan:

“Kadang-kadang orang hanya melihat sesuatu hal saja dengan melupakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul, Ati. Dalam hal ini engkau pun salah seperti mereka dan juga seperti aku sendiri. Rupa-rupanya beribu macam kejadian bisa terjadi atas diri satu orang.”
Sejurus mereka tak berkata apa-apa. Kemudian terdengar:

“Ati, maukah engkau menyetelkan radio itu?”

Bunyi radio yang melagukan musik barat terdengar.

“O, lagu itu-itu lagi. Itu-itu lagi. Cobalah carikan pemancar lain.”

Bunyi radio pindah ke pemancar lain. Dan suara pidato yang berkoar terdengar. Pidato itu diselingi oleh suara Kirno:

“Pidato. Adakah orang tak bosan-bosan berpidato tiap hari?”

“Mengapa, mas?” Ati-nya bertanya dengan suara kebingungan.

“Pidato itu…. Hmm, mau rasanya aku membanting radio yang beromongkosong saja itu. carikan gending, Ati!”

Dan Ati mencari pemancar baru. Kini terdengar gending.

“Ya, suara yang lunak itu. Rangkaian suara yang lembut dan menyerah itu musik yang lepas dari waktu yang memburu-buru itu….. aku lebih suka padanya dari pada musik-musik barat.”

“Mengapa engkau sekarang berubah betul, mas?”

“Bukan kemauanku mengapa aku berubah. Bukankan dalam hidupku sekarang ini, Ati, tak ada sesuatu yang dapat kuburu-buru lagi? Bukankah tak ada?”

“Engkau dulu tak pernah berkata-kata seperti sekarang ini, mas Kirno.”

Terdengar Kirno tertawa. Kemudian:

“Ya, dulu. Dulu waktu itu aku boleh merangkul engkau. Waktu itu aku boleh mencium engkau semau hatiku. Waktu itu aku masih merasa berkuasa, bahwa nasib orang terletak pada kemauan dirinya sendiri, Ati. Tapi waktu seperti itu sudah lalu.”

Tini kecil terdengar menyanyi-nyanyi dengan suara lantangnya. Dan suara itu terdengar mendekat oleh Kirno:

“Tini,” ia memanggil.

“Tini di sini, mas…. Apakah yang bisa kuperbuat untukmu?”

“Tini nyanyikan aku lagu kupu-kupu. Matikan dulu radionya.”

Radio mati. Terdengar nyanyian lantang dari Tini. Dan kedua makhluk itu, remaja itu, mendengarkannya dengan kesungguh-sungguhan. Nyanyian mati. Dan Kirno menyusulkan suaranya:

“Aku dulu seperti engkau juga, Tini.”

Dan Tini menangis—meraung.

“Mengapa engkau menangis, Tini?” Ati-nya bertanya.

“Menangis? Mengapa menangis?” Ia bertanya.

“Tidak. Tidak. Aku tidak seperti engkau waktu kecil!” bantah Tini dalam tangisnya yang kekanak-kanakan.

“Dan mengapa pakai menangis segala?” Ia bertanya lunak.

“Karena, karena, karena aku tak mau buntung. Aku tak mau buta,” seru Tini dalam tangisnya.

“Tentu, tentu saja tidak, Tini.” Ia menghibur adiknya. “Engkau tidak boleh bunting dan buta seperti mas. Dan di seluruh dunia ini tak ada orang yang boleh bunting dan buta, Tini. Cuma akulah yang boleh. Cuma akulah. Engkau kelak akan jadi wanita cantik dan berbudi. Dan engkau akan tetap bisa berlonjak-lonjakan, bermain-main dengan kawan-kawanmu.”

Tini berhenti menangis. Tinggal sedusedannya saja mengisi kesunyiannya.

“Engkau mau menyanyi lagi, Tini?” terdengar Ati-nya bertanya.

“Aku tak mau menyanyi lagi,” Tini menyahuti dengan suara patah hati.

“Sekali ini menyanyi untuk mbak Ati, Tini. Maukah engkau?”

Hanya sedusedan Tini terdengar. Ati mengulangi permintaannya:

“Nyanyikan aku lagu gajah-gajah. Engkau sudah belajar lagu itu dari sekolah, bukan?”

“Ya.” Tini menyahuti.

Kemudian terdengar Tini menyanyi lagu kanak-kanak gajah-gajah di antara sedusedannya. Kirno tersenyum-senyum mengagumi suara itu—suaranya sendiri di waktu masih kanak-kanak. Dan Tini itu—juga badan dan dirinya sendiri waktu kanak-kanak. Suara kanak-kanak yang lantang itu menusuk kesunyian yang membentang antara Kirno dan Ati. Dan di antara suara yang bening itu antara sebentar terdengar sedusedan yang tak berdosa.

Lagu itu mati. Dan terdengar olehnya ciuman Ati pada pipi adiknya.

“Alangkah bagus,” Kirno memuji.

“Ya, alangkah bagus,” Ati menambahi.

“Dalam perlombaan nyanyi tadi aku menyanyikan lagu itu juga mbak Ati.”

“O, ya?”

“Dan aku mendapat hadiah grip dan buku tulis dan cium pada pipi kananku dari bu guru.”

“Alangkah baiknya gurumu itu,” Kirno berseru.

“Baik sekali mas,” Tini berseru riang kembali. Tangisnya hilang. Sedusedannya hilang.

Dari luar terdengar kedua orangtua Kirno datang. Orang berdiam diri mendengarkan segala suara dan bunyi yang datang dari luar rumah. Kemudian menyusul suara langkah kaki masuk ke dalam rumah. Dan akhirnya seruan:

“Nak Ati! Sudah lama?”

Terdengar oleh Kirno kedua orangtuanya bercakap-cakap dengan Ati-nya.

“Ya, nak Ati, nasib tak boleh dipinta. Nasib tak bisa dipilih. Begitulah keadaan kakakmu sekarang. Engkau dari mana saja selama ini?”

Dan suara Ati terdengar menjawab:

“Selama ini, ibu, selama ini Ati pergi ke daerah pendudukan.”

“Dan sudah melupakan masmu, engkau tak pernah mengirimkan kabar.”

“Alah-alah, bagaimanakah Ati bisa mengirimkan kabar, ibu?”

“Dan masmu sudah jadi kurban perjuangan sekarang, Ati”

“Ya”

“Dan kurban cinta juga”

“Bukankah engkau tak mau jadi isterinya orang cacat, sekalipun dia cacat oleh perjuangan?”

Tak ada suara. Terasa oleh Kirno, Tini memegangi bajunya. Dan dengan sendirinya saja tangan Kirno menggapai-gapai merangkul adik kecilnya. Kekosongan teras ada di tiap hati. Juga dalam hati Tini kecil. Dan anak kecil itu meraba-raba kuping kakaknya. Dan Kirno tak membantahi rabaan itu. Kemudian terdengar bapaknya bercakap-cakap pada Ati:

“Tidak kurang-kurangnya bapak mendoakan agar engkau danmasmu dilindungi Tuhan selalu dan selamat dalam perjuangannya. Ya, Ati, tiap malam kami selalu berdoa. Dan tak jarang ibumu tak tidur semalam-malaman agar masmu sekalipun tak ada manusia yang berpelindungan di dalam hujan peluru tetap selamat sampai di puncak cintanya.” Kemudian suaranya diarahkan pada isterinya: “Ya, nak Ati, sesungguhnya begitu.”

“Tapi rupa-rupanya Tuhan boleh berkehendak atas makhluknya.”

“Ya,” terdengar suara yang kosong merongga.

Kesunyian menyusul pula. Kemudian terdengar suara yang membantu dan terbata-bata:

“Alah-alah. Apalah gunanya mempercakapkan omong kosong yang tak ada harganya itu? aku sudah buta dan buntung. Dan aku akan tetap buta dan buntung untuk seumur hidup. habis perkara.”

“Nak Ati, aku harap engkau mau memaklumi sifat masmu sekarang. Dia terlampau pemarah sekarang. Ya, dia selalu marah. Hanya bila ia ditemani oleh Tini, baru ia jadi ramah, banyak tertawanya, banyak cakapnya, dan kadang-kadang ia mendongengi adiknya tentang pertempuran-pertempuran yang pernah dialaminya.”

“Ya, bu.” Ati menyahuti suara itu.

“Apa pikirmu tentang masmu itu sekarang?”    

“Apa?” Seru Kirno murka. “Adakah aku ini barang dagangan untuk dipertimbangkan di depan orang banyak?”

Dan oleh seru murka itu tak ada mulut menggetarkan suara. Semua jadi diam sekarang. Dan di kala Tini menyanyi dengan tiada orang yang menyuruh—tiap pendengaran berubah haluan mendengarkan suara lantang Tini kecil yang nyaring dan tak berdosa itu. Kemudian:

“Ati,” Kirno memanggil kekasihnya yang dulu.

“Apa yang bisa kuperbuat untukmu, mas?”

“Sungguh engkau telah mempercakapkan diriku. Engkau sudah tahu keadaanku. Engkau tahu sampai di mana keadaanku di dunia ini sekarang. Ya, sungguh sia-sia engkau mencakapkan diriku. Engkau tinggal di mana sekarang Ati?” katanya kemudian dengan suara kian lama kian lembut.

“Semarang, mas Kirno.”

“Kapan engkau datang?”

“Tadi, tadi jam duabelas.” Ia diam sebentar, kemudian menerangkan, “Aku terpaksa pergi ke daerah pendudukan dahulu, mas. Engkau tahu keadaan keluarga kami, bukan? Dan aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata padamu karena waktu itu engkau ada di daerah gerilya.”

“Waktu itu aku sudah menggelepak di rumahnya lurah daerah gerilya. Waktu engkau pergi, aku sudah buta, aku pun sudah tidak bisa berjalan lagi, Ati. Ingin betul aku selalu duduk di sampingmu. Ingin betul aku selalu mendengar suaramu, Ati. Tapi jangan datang padaku hanya dengan suara saja. Ya, hanya suaramu saja yang menunjukkan padaku engkau masih ada. Suara—dan perasaan sedikit. Dan kenang-kenangan sedikit. Pergilah engkau, Ati. Pulanglah engkau. Itu lebih baik untukmu.”

Dan Ati pergi. Ia dnegar juga langkah Ati-nya yang kian menjauh itu. dan ia pun dengar juga Tini mengikuti dari belakang kekasihnya dulu. Akhirnya terdengar percakapan yang tak nyata betul olehnya. Ia mengeluh sekali lagi. Sekali lagi. Ada juga terdengar kedua orangtuanya bercakap-cakap. Kemudian tak terdengar suara apa-apa.

Perlahan-lahan dirundukkan kepalanya ke meja keretanya. As kereta yang bergeseran dengan bos roda kereta menimbulkan bunyi yang meresahkan hatinya. Kemudian kepala itu sampailah di meja kereta—diam, diam saja di situ. Dan keadaan di sekelilingnya masih tetap pekat. Tak ada tertampak seikat cahaya pun.

Kemudian terdengar olehnya beberapa pasang kaki melangkah mendekatinya. Ia tahu betul langkah kaki siapa itu: ibunya, bapaknya, dan Tini. Kemudian:

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang, Kirno,” suara ibunya.

Kirno tak juga mengangkat kepalanya yang terletak di meja keretanya.

“Engkau usir Ati seperti engkau mengusir kucing.”

Tini mendekatinya, merangkul lehernya dan berseru kosong:

“Mas Kirno, mabk Ati menangis waktu mau pergi. Ia kasihan padamu.”

“Bukankah manusia ini punya perasaan yang halus, Kirno?” suara ibunya.

Tubuh Kirno yang membungkuk itu merentak bangun. Berkata kasar:

“Apalah gunanya perasaan halus buatku? Apakah gunanya?”

“Alah-alah,” suara ibunya, “Aku tak menyangka engaku akan jadi sekasar ini sekarang. Tamu yang datang untuk menengok engkau usir, seperti tak ada sesuatu yang engkau butuhkan lagi di dunia ini. Seperti hanya engkau saja yang ada di dunia ini. Bukankah Ati itu masih tetap cinta padamu?”

“Diam!” bentak Kirno garang.

“Apakah gunanya cinta untukku? Aku akan duduk saja di kursi kereta ini. Dengar? Duduk saja untuk sekian tahun atau sekian puluh tahun lamanya, sampai badan ini kejang-kejang dimakan encok dan ambeien—dan menunggu hingga maut datang.”

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang,” suara keluh ibunya.

Kirno mendengus.

“Mas, mbak Ati sudah pergi,” suara Tini kecil yang lunak itu. “Dia menagis. Kasihan padamu, katanya padaku.”

“He-e.”

“Dan dia tanya padaku ‘engkau sudah bisa membaca, Tini?’ Dan aku bilang aku sudah bisa membaca sedikit-sedikit. Dan dia bilang, ‘kalau begitu engkau harus selalu ada di dekat masmu dan membacakan buku untuknya.’ Dan aku bilang, ‘ya.’ Tapi mbak Ati masih menangis juga, mas. Dan dia bilang, ‘Tini harus selalu ada didekat mas Kirno. Kalau mas Kirno butuh apa-apa Tini bisa menolongnya’.”

“He-e.” Kirno mendengar suaranya sendiri.

“Engkau memerlukan apa sekarang, mas?”

“Nyanyimu, Tini.” Kirno tersenyum kekanak-kanakan.

“Engkau bisa menyanyi bagus, Tini. Menyanyilah.”

Terdengar ibunya menyela:

“Tiap hari mau mendengarkan suara adiknya saja, Kirno!” suara itu jadi kasar. “Tak adakah pekerjaan mulia dalam hatimu selain menyiksa diri adikmu dengan kau suruh menyanyi selalu, mengusiri orang yang mendekati engkau karena kasihan dan menggertak-gertak ibu dan bapakmu sendiri?”

“Diam! Dan pergi engkau!” bentak Kirno tak kenal ampun.

“Engkau minta nyanyi apa, mas?” terdengar suara Tini kecil.

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima.”

Kemudian terdengar suara yang nyaring menembus kesenyapan dunia:

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima. Itulah hari kemerdekaan kita…..”

Tubuh Kirno kian lama kian membungkuk. Akhirnya kepalanya terletak lunglai di meja kursi keretanya. Dan suara nyaring Tini menembus kesenyapan yang membenam seorang makhluk. Dan nyanyian it uterus menembus-nembus dengan iramanya yang tetap. Kemudian nyanyain itu mati. Terdengar:

“Mengapa engkau diam saja, mas?”

Tini mendengar sedan kecil-kecil tak nyata hampir tak terdengar. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Mimbar Indonesia 1950

Jalan yang Amat Panjang

Anaknya yang selama itu sehat montok dan menghamburkan tawa dan senyum setiap hari, tiba-tiba jatuh sakit. Tangis bersambung rintih, rintih bersambung keluh dan pekik kesal. Si anak jatuh sakit.

Dengan lesunya si ayah pergi ke mejatulisnya. Dihadapinya mesintulis. Ia mau mengarang hari ini. Tetapi kepalanya kosong. Ia tak punya pokok karangan. Ia kumpulkan niat beberapa saat lamanya. Kemudian menulis terburu-buru.

Waktu ia benar-benar merasa telah lelah menjalani hidupnya yang baru tigapuluh tahun itu, ia pun mendoa diam-diam: berilah aku yang selama ini kucari.

Ia mendoa dengan setulus hatinya. Baginya doa adalah ucapan penyerahan yang mutlak. Ia selalu berusaha untuk tak pernah menyerah. Justru karena itulah, pada waktu hidup dan dunianya yang tanpa penyerahan itu sampai pada suatu titik di mana tak ada terdapat kemungkinan lain, ia insyafi betapa indahnya dan betapa ia kaya dan mampunya memberinya kekuatan baru—penyerahan itu. ia mendoa dengan setulus hatinya!

“Berilah aku yang selama ini kucari,” doanya untuk kesekian kali.
Ia sendiri tak tahu apa yang dicarinya.

Pengarang itu berhenti mengetik. Ia tersenyum. Ia merasa permulaan karangan itu sufah cukup baik—pasti ia dapat honorarium baik untuk itu, setidak-tidaknya voorschot honorarium. Dan anaknya dapatlah dibawanya ke dokter.

Dan ia teruskan tulisannya. Dengan kepala yang kosong daripada pokok karangan itu! Ternyata karangan yang dimulainya menjadi macet. Benar-benar macet. Ia peras otaknya. Ia haus akan kata-kata yang dapat menterjemahkan keadaan pikiran dan perasaannya waktu itu. Tetapi pikirannya dan perasaannya kosong, kata-kata tak keluar dari gudang perbendaharaan.

“Bisa nanti sore pergi ke dokter?”

Ia toleh istrinya.

“Tentu saja,” jawabnya. “Jangan ganggu aku.”

Isterinya pergi, dan ia meneruskan usahanya. Macet juga. Kalau karangan itu macet, si anak tak mungkin pergi ke dokter. Tak mungkin! Ia coba lagi. Macet juga. Ia pukulkan punggung tangan pada landasan meja. Ia tak bersenang hati. Selama itu pukulan semacam itu diartikan oleh isterinya sebagai: pekerjaan terlampau sulit. Memang sulit! Tapi yang lebih benar adalah: ia tak mampu merumuskan pergolakan yang mengamuk dalam jiwanya. Sedang bila ia mau agak jujur, kesulitan yang dihadapinya tidaklah akan begitu hebat. Ia sendiri tahu, bahwa kejujuran hanya membantu meringankan kesulitan dalam banyak hal. 

Tapi di lapangan pekerjaan ini idealisme lebih berkuasa. Ya, idealisme yang sering membesar-besarkan kehendak manusia yang paling sederhana itu! bila masalahnya axioma kepengarangan khusus: tiada karangan, tiada uang! Ada karangan pun belum tentu ada uang. Tiada uang: pangkal bahaya segala macam dari segala penjuru dalam berbagai segi. Si anak mungkin mampus.

Tambah lama ia sebenarnya tambah sadar juga akan kehidupan yang dimestikan mempunyai uang. Di dalam masyarakat dewasa ini. Tetapi ia tetap bercita-cita juga hendak memberikan segala yang paling baik yang dimilikinya pada sidang pembacanya. Dan kini ia merasa tak punyai apa-apa lagi untuk diberikan: kosong, bolong, melompong. Ia miskin cita. Ia miskin dayacipta. Dengan tiada pencadangan lagi, segala-galanya yang mulia dan indah dan berguna, yang ia miliki, telah ia berikan pada masyarakat pembacanya. Dan dalam keadaan jiwa semiskin sekarang ini kebutuhannya yang paling primer terus menuntut: Uang! Uang! Belanja! Ongkos dokter! Makan!

Untuk kedua kalinya ia pukulkan punggung tangan pada dataran meja, waktu disadarinya bahwa kreteknya yang terakhir telah musnah pula menjadi asap. Dan ini tegas-tegas berarti: ia tak dapat bekerja sama sekali.

Hari ini buku hariannya tambah dengan hanya beberapa baris: barangkali lebih baik orang ini memiliki kerja routine yang tiap hari diulang-ulanginya daripada menjadi pengarang yang mana tiap suap nasi yang dimakannya adalah keterangan daripada keutuhan jiwanya sendiri.

Dengan hati mendongkol ia tinggalkan mesintulisnya. Ia masuk ke dalam kamar. Mencium anaknya yang kini kehilangan kemontokan dan kegembiraannya. Ia pandang-pandangi si anak yang menjadi sengsara itu dengan ingus tanpa hentinya mengalir memerahkan bibir anaknya. Untuk kesekian kalinya anak itu diciuminya, kemudian ia kenakan sepatu dan pergi—ke tempat yang ia sendiri tidak tahu. Dalam kesibukan siang hari itu ia tak menemui sesuatu yang mutlak baru. Semuanya seperti kemarin. Hati-hatinya yang gelisah sebentar mencapai ketinggian sebentar, ke dalamnya—tidak produktif, tanpa arti. Waktu bertemu dengan seorang teman dan mendapat beberapa batang rokok dan beberapa lembar perakan, tiba-tiba terbit suatu kejernihan dalam kepalanya—suatu optimism. Dan juga terumuskan olehnya: kita hidup hanya di antara perbuatan memberi dan menerima. Dan kebenaran semacam ini tak perlu dilebih-lebihkan.

Segera ia buru-buru pulang hendak menyelesaikan karangan yang belum pernah selesai dalam kepalanya. Keringat membasahi seluruhnya tubuhnya yang dipanasi matahari dan optimism. Ia hendak kerja! Ia mau tuliskan sesuatu gairah yang menjompak dengan kuatnya dalam jiwanya. Dan ia hendak rumuskan jompakan itu di rumah, di atas kertas, dalam kata-kata yang menarik.

Tetapi di rumah beberapa kawannya telah menyambut kedatangannya: pinjam buku, pinjam uang—yang kini ia sendiri amat membutuhkan. Terlibat dalam obrolan-obrolan sepekan kejadian, terseret dalam perdebatan tentang haridepan kebudayaan Indonesia. Asap rokok memadati hawa ruang depan. dentang-denting cangkir beradu dengan celepek. Tertawa. Akhirnya mereka pulang—pulang meninggalkan kehampaan dalam hatinya.

Jompakan yang hendak dirumuskan itu telah hilang entah ke mana. Kini ia duduk terkulai di atas mesintulis. Hanya desiran lemah terdengar susul-menyusul melalui bibirnya:

“Jahanam! Jahanam!”

Pikirannya tak juga mau bekerja untuk menyelesaikan karangan yang telah dimulainya, karangan yang tak punya tema, tak punya konsepsi—hanya bertema dan berkonsepsi penghidupan sehari-hari: ongkos bagi dokter anaknya. Beberapa waktu lamanya ia tergolek-golek di ambin untuk mencari-cari sesuatu permulaan yang bisa dikerjakan di antara kekacauan-kekacauan yang bergelut dalam hati dan pikirannya. Tetapi keburu isterinya datang padanya dan mengajaknya makan.

“Kangkung lagi!” pikirnya. “Makanan yang tak pernah memberi daya pada tenaga jiwa. Mengapa tidak kacang tanah? Tidak sate kambing yang panas membakar?”

Sekalipun demikian ia tetap berterimakasih kepada isterinya yang walau bagaimanapun juga selalu dapat menyediakan makan baginya.

“Kau harus punya kesabaran,” tiba-tiba isterinya berkata.

Si pengarang hanya tertawa. Dan berkata dalam hatinya: aku hanya ditentukan oleh ledakan-ledakan sesaat yang terjadi dalam jiwaku. Aku bukan pengarang intelektuil. Aku hidup untuk menghidupi, dan menghidupi untuk hidup—bukan pesolek kecerdasan! Seorang pesolek cukup waktu untuk bersabar. Dan pesolek? Pesolek adalah binatang yang paling buas yang tiada kenyang-kenyangnya akan mangsa. Aku tak membutuhkan mangsa.

Ia tersenyum. Kembali kesenangan dan kedamaian mengimbak-imbak dalam hatinya. Tahu-tahu, tanpa menyadari rasa kangkung, ia telah merasa kenyang. Tenaga kerjanya timbul dengan gesitnya. Ia melompat dari kursi dan menuju ke mejatulisnya. Tetapi yang hendak ditulisnya tiada. Dengan kesalnya ia ketikkan kertas-kertas suara hatinya sendiri di bawah tulisan sebermula yang belum juga sudah:

“Berilah aku yang selama ini kucari.”

Tiba-tiba ia mendapatkan pikiran: ini akibat kurang studi. Ini akibat perbuatan yang hanya mengandalkan kekuatan alamiah yang diberikan pada suatu masa dan batas tertentu. Pikiran itu membuat hatinya mendapat kesabaran sedikit. Dan kesabaran itu membuat ia dapat meneruskan bekerja—sedikit. Dan ditulisnyalah kalimat-kalimat tanpa persambungan ide:

Apalagi yang diperbuatnya kalau tidak mendoa lagi. Sejak itu ia terus-menerus mendoa. Ujung dari tiap doa adalah perasaan berterimakasih karena orang masih juga mempunyai kesempatan untuk menerima. Sekalipun yang diterimanya hanya berdikit-dikit. Besok mungkin lebih baik. Dan tiap besok diulurnya lagi harapannya: besok mungkin lebih baik.

Besok? Mengapa besok? Demikian suara pemberontakan daripada manusia yang masing juga tak mau menyerah. Tidakkah kita bisa memasukkan besok ke dalam hari ini?

Ia terkejut. Tulisan itu mengandung pertanyaan yang sebenarnya menjadi pertanyaan dirinya sendiri. Itu benar-benar bukan khas pertanyaan hati bagi tokohnya, tetapi pertanyaan bagi tiap orang, terutama dirinya sendiri. Dan ia pun berbisik pada tokoh yang mulai hidup dalam jiwanya:

“Bisa, kawan. Bisa. Mula-mula kau harus punya kesabaran. Kemudian kau harus kerja. Celakalah kau bila kaya akan kesabaran dan tak mampu kerja.”

Dan kalau seorang pengarang telah dapat berkenalan dan bercakap-cakap dengan tokohnya sendiri, dia akan mengarang terus tanpa henti-hentinya. Tetapi tiba-tiba datang seorang tamu lagi—kawan baru.

“Saudara, sudikah saudara periksakan karangan saya ini?”

Hubungan si pengarang dengan tokohnya telah putus. Si tokoh telah pergi, takkan kembali, telah menjadi almarhum di dalam keabadian yang baka.

Setelah bertahun-tahun hidup di dalam dunia karang-mengarang ia telah memperoleh ketegasan di dalam selera gaya tertentu, sekalipun dapat juga ia menghargai gaya orang lain. Tetapi banyak kali ia merasa mual terhadap tulisan-tulisan yang merambat dan melata-lata tanpa tujuan, tanpa maksud, dan hanya bergenit dengan kata-kata, dan kemudian terjerumus ke dalam pencarian efek daripada perpaduan kata-kata yang hampa.

“Jadi bagaimana pendapat saudara?” tanya si tamu, meminta perhatian, meminta pujian.

Obrolan baru pun terjadilah. Teori baru pun keluarlah. Pada pokoknya tidak lain daripada selimutan atas pendapat si pengarang: ia tak bersenanghati membaca karangan itu.

“Jadi bagaimana harusnya?”

“Saudara,” si pengarang hampir-hampir berteriak karena kehilangan kesabaran. (Selama itu ia sudah kesal dan bosan pada mereka yang menganggap seorang pengarang adalah badan sosial yang tidak resmi). “Dalam pekerjaan ini pendapat orang lain hampir-hampir tak ada artinya. Pekerjaan ini tidak dimulai dari pendapat orang lain—tapi dari diri sendiri.”

Dan si tamu seperti dengan sendirinya, dan seperti sudah semestinya, meminta penjelasan tentang “dari diri sendiri” itu. Dan si pengarang makin kehilangan kesabarannya. Dengan suara berdembam menahan geram ia menjawab:

“Itulah yang harus dijawab sendiri oleh tiap pengarang. Selama dia belum mampu menjawabnya dia takkan mungkin bisa jadi pengarang yang sadar.”

Sementara itu suara batuk anaknya terdengar beruntun-untun. Ia lihat isterinya masuk ke dalam kamar dan mendamaikan kekesalan hati anaknya. Ia dengar suara manusia yang bersahut-sahutan dalam kamar itu. Kemudian mendengking tangis anak kecilnya, gerak tertahan dahak. Anak sekecil itu telah diwajibkan memasuki dunia penyakit orangtua: pilek, panas dingin, bronchitis. Sejenak ia tak dengar suara tamunya yang meminta perhatiannya dengan nada menghiba-hiba.

Waktu isterinya telah berhasil dapat mendamaikan pemberontakan hati anaknya dan keluar membawakan air teh, kembali perhatiannya terpusatkan pada tamunya.

“Artinya,” kata si tamu, “pertanyaan itu pertanyaan pribadi?”

“Ya, saudara, tiap pengarang punya jawabannya masing-masing. Hanya kadang-kadang saja sama.”

Dengan jawaban itu ia yakin, si tamu segera angkat kaki dan merenung-renungkan masalah itu. Tetapi tidak! Si tamu bahkan mulai mengajaknya mengobrol tentang banyak hal. Ia meminta juga banyak perhatian, yang ia hanya sedikit saja bisa memberikan. Si tamu masih tetap mendesak-desakan ceritanya, bahwa di SMP dulu ia selalu mendapat angka tertinggi untuk buah-buah karangannya. Dan ia bangga pada angka-angka yang diperolehnya. Akhirnya terdengar juga suara yang demikian membosankan hatinya.

“Saya amat mengagumi saudara.”

Si pengarang tersenyum. Di dunia ini kekaguman manusia atas sesuatu memang tanda bahwa ia berpikir dan bisa maju. Memang. Tetapi kadang-kadang kata itu dipergunakan untuk banyak arti. Karena itu ia terdiam saja. Biasanya ia menjawab:

“Terimakasih atas perhatian saudara.”

Kembali si pengarang tersenyum. Sekarang ia tidak mengulangi jawaban itu. Sekarang kepalanya justru diamuk oleh masalah yang paling dekat: uang buat pembayar dokter nanti sore. Dia mau menulis! Menulis! Karena hanya menulis itulah pekerjaan yang diketahuinya dan mampu ia kerjakan. Dan dokter hanya mau uang kontan. Dokter mesti dibayar, biarkan pengarang terlampau sering tak dibayar jasanya.

“Pendeknya,” tiba-tiba ia berkata kepada si tamu. “Dokter adalah pekerjaan yang lebih riil daripada pengarang. Dia juga terima duit yang riil. Mengapa saudara tak ingin jadi dokter saja?”

“Saya kira itu adalah pertanyaan pribadi, saudara,” kata si tamu.

“Setidak-tidaknya pertanyaan yang riil. Lebih langsung. Jalannya amat dekat. Tidak terlampau panjang.”

“Apa maksud saudara?” sekarang si tamu bertanya.

“Ah, tidak, sebenarnya ini hanya percakapan dalam hatiku sendiri. Bagaimanapun, jadi dokter lebih riil. Ia, dengan kecakapannya, menghilangkan dan mengurangi penyakit pasien. Itu riil: ia terima uang yang riil. Lagi pula untuk jadi dokter hanya membutuhkan waktu delapan tahun dan uang secukupnya, kemudian buka praktek. Habis perkara. Kalau diri normal memang dalam delapan tahun sudah jadi dokter. Lain dengan pengarang, saudara. Pada permulaan kali ia menjadi plonco, pengarang, dia sudah mulai dengan kesulitan-kesulitan jiwanya sendiri. Dia harus jadi penemu, dokternya sekaligus! Dan itu pun belum tentu berhasil. Dia bedah jiwanya sendiri. Kadang-kadang tak bisa menaruhkan bedahan-bedahan itu pada tempatnya yang lama. Dan untuk selama-lamanya jiwanya akan tinggal bedah!”

Ia lihat si tamu sudah mulai bosan. Tetapi untuk memperlihatkan kesungguhannya, ia memperdengarkan suaranya:

“Tapi, saudara, saya menulis bukan untuk mencari duit.”

“Nama, barangkali?”

Ia mengharapkan tamu itu segera angkat kaki. dan sekali ini harapannya terkabul. Pergilah ia. Untuk seterusnya kawan baru itu tak pernah datang lagi.

Si pengarang kembali menghadapi mesintulisnya. Lambat-lambat dan dnegan kesabaran yang dipaksa-paksakannya, akhirnya karangan itu jadi juga. Dan setelah mencium anaknya ia pergi lagi. Sekarang untuk menjual karangan itu.

Seorang redaktur menerima karangan itu, dan si pengarang dengan setulus hatinya berkata:

“Karangan ini tidak begitu baik, saudara.”

“Asal saudara tak meninggalkan intelegensi saudara, itu sudah cukup. Akhirnya tiap orang mesti hidup.”

“Artinya, bahwa si pengarang sekali itu menerima uang seratus limapuluh rupiah untuk penjualannya hari itu. Ia pulang dengan berseri-seri. Dan sore itu dokter meminta uang tujuhpuluh lima rupiah buat memeriksa anaknya selama seperempat menit. Waktu resep disodorkan pada apoteker, terdengung suara yang tak kenal tawaran:

“Enampuluh lima, tuan.”

Suami, isteri, dan anak itu pulang ke rumah tanpa uang sisa di dalam kantong masing-masing.

“Bagaimana uang belanja besok?” isterinya berkata.

Pengalaman sehari tadi akan terulang dan terulang lagi untuk seterusnya. Sekalipun ia tahu, jalan ke arah rejeki terlampau jauh, ia senang dengan pekerjaannya. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Majalah Roman No. 7/8 Th. IV

Juli/Agustus 1956 

10 July 2016

Permenungan dan Pengapungan (1)


Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu—kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru.

Akan tetap terkenang peristiwa yang satu itu: kau datang bersama calon suamimu dan seorang penghulu, yang begitu terburu-buru kuatir tertinggal kereta rejeki.

Tentu saja kau tahu, tak ada keberatan padaku kau memilih seorang suami untuk dirimu sendiri. Juga aku percaya, kau akan tetap ingat pesanku pada calon suamimu sebelum kau menikah di depanku:

“Anak ini anakku yang pertama, anak yang aku sayangi. Dahulu neneknya berharap ia jadi dokter, ternyata ia akan menjabat jadi istrimu. Jadi, setelah nanti kalian menikah, jangan sekali-kali anakku dilarang atau dihalangi kalau dia mau meneruskan pelajarannya. Kedua, tidak aku ijinkan anakku dipukul atau disakiti. Ketiga, anak ini kau pinta padaku untuk diperistri secara baik-baik, kalau karena sesuatu hal kau tidak menyukainya lagi, kembalikan pula dia secara baik-baik padaku.”

Dan sejak itu kau tak pernah datang menjenguk aku lagi. Maaf, aku tak dapat lagi mengingat tanggal dan bulannya. Malah nama suamimu aku tak dapat mengingat sesuku pun, apa pula pekerjaan dan pendidikannya. Walhasil semua itu terserah padamu, kau sudah memilih, juga memilih tanggungjawab.

1969 kau tinggalkan RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, pamit untuk memulai hidup sebagai seorang istri. Beberapa kali kau masih melihat ke belakang sebelum pintu raksasa itu mengantarkan kau lepas ke jalan raya. Orang yang setelah pernikahan itu menjadi suamimu beberapa kali masih membungkuk memberi hormat. Dan waktu pintu raksasa itu kembali tertutup habislah sudah basa-basi itu. Kau memasuki bulan madu. Aku juga pergi. Ke pembuangan.

Bagaimana harus dinilai? Karunia? Atau kutukan? Bila orang tak dapat membebaskan diri dari waktu yang tiga dimensi: lalu, kini, dan depan?

Dulu, di penjara Bukitduri, pernah aku belajar menyanyi lagu yang dibuka dengan kalimat “There’s happy land somewhere”—lambang hari depan untuk semua orang. Dengan pimpinan sang harapan, dengan keringat sebagai lambang jerih payah sendiri, dengan masa kini sebagai titik tolak, dengan masa lalu sebagai pesangon, ia bergerak menuju ke “happy land somewhere”. Orang tak tahu pasti. Maka juga disusul oleh “and it’s just a prayer away…”

Betapa indah kadang lagu-lagu itu, kalau suasana tepat dan syaraf pun tidak disibuki oleh tetek-bengek.

Somewhere, anakku. Dan where to? Kau, negeri bahagia di mana kau sesungguhnya? Orang dididik untuk percaya, negeri tujuan memang kebahagiaan itu. Dan kepercayaan yang diperoleh secara mudah bisa juga hilang dengan mudah.

16 Agustus 1969. Kau berbulan madu di happy land yang sudah jelas. Aku ke happy land somewhere: konon ke Pulau Buru di Maluku, sebuah pulau lebih besar dari Bali. Dan besok kalau tidak dibatalkan oleh entah siapa, 17 Agustus. Kami berangkat bersama lebih delapan ratus orang dengan kapal ADRI XV sebagai hadiah ulangtahun Republik Indonesia.

Untuk dapat naik ke kapal dari tigaribu limaratus ton bobot mati ini kami harus datang ke pelabuhan Sodong di Nusa Kambangan, ditentang pelabuhan Cilacap, Wijayapura.

Tiada kan kututup mata kepalaku, juga tidak mata batinku. Kapal ini akan membawa kami bersama masa depan dalam impian, dalam kepercayaan itu. Pulau Buru bukan happy land  somewhere. Dia hanya stasiun perantara. Juga untuk itu dibutuhkan kepercayaan.

Kapal mulai bersuling, lambat-lambat meninggalkan Sodong dan Wijayapura. Kehidupan hutan dan gunung-gemunung Nusa Kambangan nampak mulai bergerak. Dan pantai putihnya makin lama makin menghilang dari jangkauan mata. 

Bila pandangan dilepaskan ke selatan, hanya kebiruan Samudera Hindia yang terbentang, tanpa batas, sampai ke kaki langit. Bila ke utara, yang nampak adalah tebing-tebing terjal pantai selatan Jawa. Jangan dengarkan nafas mesin kapal bobrok yang terengah-engah itu.

Kami sedang berlayar, seperti nenek moyang dulu di jaman migrasi untuk menemukan daratan dan kehidupan baru. Kesadaran sajalah yang membikin diri tahu, kami sedang ada di perairan tanah air sediri, negara maritime dengan tigabelas ribu pulau. 

Kata orang, setiap di antara pulau itu adalah juga milik kami, juga setiap cangkir dari perairan antara dua samudera itu, Hindia dan Pasifik. Itu ajaran klasik di sekolah. Lebih nyata dapat dipegang adalah ucapan Peltu Marzuki di RTC Salemba: “Kalian tak punya hak apa-apa selain bernafas”. (Dan ternyata sudah sekian dari kami hak untuk bernafas pun dirampas).

Ajaran klasik ternyata bisa bermuka dua. Bukan hanya laut, juga seluruh isinya. Seluruh bumi dan isisnya, juga langit, garis lurus sampai akhir tata surya kita. Antara kenyataan dengan janji sudah tak ada status quo. Kapal kami bergoyang dan bergeleng-geleng. 

Kami berlayar dalam ruang dengan pintu besar dari jeriji besi, dan dikunci, dalam sekapan, dalam tiga ruang besar di bawah dek. Melihat langit pun tak lagi ada hak, jangankan memiliki atau ikut memiliki. Seperti orang-orang Cina yang diculik dalam kapal Kapitan Bontekoe, seperti tawanan-tawanan culikan Cina lain dalam kapal-kapal tokoh Michener yang diangkut ke Hawaii, seperti nasib empat juta penduduk Afrika dalam kapal Inggris dan Amerika, menyeberangi Atlantik dibawa ke benua baru.

Di antara depalan ratus teman sekapan  dalam kapal ini, sebagaimana biasa, aku tetap merasa seorang pribadi. Dan pribadi yang masih dapat bergerak dengan sepenuh kesehatan. Terlalu banyak di antara kami belum pernah beranjak dari desanya, tak pernah melihat laut. 

Warganegara negara maritim ini! Kau dengar? Warganegara yang di sekolah dasar diberitahu, mereka keturunan bangsa bahari penjelajah lautan. Sebagian besar di antara kami pada menggeletak di ambinnya atau di geladak begitu kapal memasuki laut lepas—muntah dan muntah, terkulai bergelimpangan.

Ingat kau waktu kita berangkat ke Eropa tahun 1953 dulu? Kau masih kecil berumur tiga tahun. Kau pun tak pernah mabok laut dalam pelayaran selama 26 hari itu. Jangan tertawakan mereka yang dalam tubuhnya menanggung h.o (hongeroedeem : penyakit busung lapar). 

Banyak di antara mereka berasal dari penjara yang selama bertahun hanya memberi jatah makan 3 kali sekaleng semir sepatu. Ada yang dengan tinggi 160 cm, berbobot 29 kg. Betapa mahal memang yang harus dibayar untuk boleh menyebut diri warganegara Indonesia. Teman-teman dari penjara-penjara Jakarta lebih beruntung, intipan mata internasional lebih leluasa. 

Kau belum pernah melihat bagaimana abnormal tingkah dan pikiran tubuh yang kurang dari lima puluh persen berat badan minim yang seharusnya. Dan matanya kelihatan besar melotot, terlalu terlalu besar tapi tak semua yang dilihatnya napak jelas, kulitnya kering, dan perbukuan-perbukuannya seperti tinju kingkong, menolehnya tidak menentu dan lamban, sedang pandangan matanya tertebar ke mana-mana tanpa tujuan pasti. 

Pemandangan biasa di masa pendudukan Jepang memang, dan pemandangan biasa dalam kehidupan tapol RI kurun ini. Namun, bergelimang dalam muntahan sendiri, semangat hidup mereka menyala. Tentu bukan karena porsi pertama di atas kapal nasi sepiring penuh dengan sepotong daging atau sepenuh telor: mereka ingin dapat saksikan akhir segala ini! 

Dan, karena hidup memang indah bagi mereka yang tahu menggunakannya, dan bagi mereka yang punya cita-cita. Ya, biarpun sekarang ini bangun dan tidur pun perlu dapat bantuan teman-teman yang masih sehat atau setengah sehat. Orang-orang semacam kami ini pada setiap tahun belakangan ini menjelang puasa dapat dipastikan diajari oleh ulama yang didatangkan dari dunia bebas, tentang pentingnya berpuasa, menahan lapar, menahan nafsu…

Kau tak pernah menderita kelaparan sejak kecil. Kau anak bangsa merdeka, yang memang tidak patut menderitakan kelaparan hanya karena ketidakbecusan orang lain. Aku sendiri anak bangsa jajahan. Bila dalam hidupku pernah aku alami masa kelaparan yang panjang dan berat, wajarlah itu, biarpun makanku memang tak bisa banyak. Lapar perlu diterima sebagai sahabat yang tidak menyenangkan. 

Dalam sekapan di RTC Salemba dan Tangerang selama hampir 4 tahun memang aku tak begitu lapar berbanding yang lain-lain. Keluarga tetap berusaha mengirim makanan dua atau tiga kali seminggu. Dan sekalipun yang diterima tidak selamanya utuh, dikurangi untuk makan bersama kelompok makan, dan dikurangi lagi untuk dana umum seluruh penjara. 

Betapa keluarga-keluarga itu tidak membiarkan kami mati kelaparan! Dan kelaparan itu sendiri apalah bedanya antara pembunuhan sistematis dengan akibat kerakusan para pejabat? Biar yang berkepentingan yang menjawab. Setidak-tidaknya, dengan jatah penjara saja, orang akan tewas. Volume makan kurang gizi? Volume dan gizi juga senjata di tangan pembunuh. Itu di Jakarta. Bukan di Klaten atau Sukoharjo atau Pacitan atau Kebumen yang jauh dari intipan mata internasional!

Sebelum kapal berangkat meninggalkan Nusa Kambangan, kelaparan sudah bermain drama dalam usus besar. Kepala penjara Karang Tengah di pulau Nusa Kambangan pernah memanggil aku, mengajak bicara-bicara. Kesempatan untuk mengajukan perbaikan makan. Ia tidak berdaya. Kebaikannya, yang aku berterimakasih padanya, kutolak dengan modal yang satu-satunya itu: terimakasih. Ia menawarkan: kalau hanya untuk Pak Pram pribadi dan Pak Prapto, saya sanggup membantu dari dapur saya sendiri. 

Waktu kami dijemur hampir sehari menunggu datangnya kapal di tanah lapang pelabuhan Sodong, sambil menyaksikan teman-teman lain dihantami para petugas karena bertukaran pakaian pembagian—maklum pakaian itu tanpa mengindahkan ukuran badan yang menerima—kelaparan itu sudah sampai pada titik tinggi kegarangannya. 

Kami yang berjongkok pada sejalur pagar bluntas beramai-ramai merengguti daun bluntas penuh debu jalanan dan menggayangnya mentah-mentah tanpa dicuci lebih dahulu. Kalau air untuk mencuci pun ada, kami tak akan bisa meninggalkan barisan tanpa kena hajar. Dan jangan kau muntah melihat kami makan tikus kakus yang gemuk lagi besar itu, atau bonggol batang papaya atau bonggol pisang mentah-mentah, atau lintah darat yang ditusuk dengan lidi. 

Bahkan drs. J. P. bisa menelan cicak hidup-hidup setelah dipotesi telapak kakinya yang empat. Ia ahli menangkap cicak. Dengan ibu jari dan telunjuk ia menjepit tengkuk binatang celaka itu dan hewan perangkak itu pun disorong masuk ke gua tenggorokannya. Keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri.

Kapal kami bukan seperti yang pernah kau tumpangi ke Eropa, Ondenbarneveldt, dengan kecepatan 16 mil/jam itu, bukan seperti Oranje membawamu pulang dari Eropa ke Jakarta. Seperti bumi dengan langit. Kapal-kapalmu dilapisi kayu terpoles mengkilat. Lantainya dibersihkan setiap hari—kapal-kapal Belanda itu. 

Tak ada seekor kecoak nampak merenung atau mondar-mandir menaksir dunia dengan sungutnya yang terlalu panjang. Kapalku dikuasai kecoak, siang dan malam. Kadang aku tersenyum geli mengingat betapa binatang pelari-penerbnag itu, kadang lincah kadang lamban, sudah begitu berjaya dalam ikut membonceng berkuasa atas diri kami.

Kami berasal dari banyak penjara Pulau Jawa. Bukan dari Jakarta saja. Dan rombongan Jakarta mendapat ruangan di hidung haluan. Ujung terdepan, tertinggi berbanding rombongan-rombongan yang lain. Paling depan sekali adalah ruang besar kamar mandi dan kakus. Betapa pun terhina dan dihina tapol RI ini, umumnya masih tahu dan ingat kebersihan yang pernah diajarkan oleh orangtua dan sekolah dasarnya. 

Begitu memasuki ruangan yang ditunjuk, ruangan di mancung hidung haluan di bawah dek, kontan balik kanan jalan, hidung disumbat. Ruangan itu penuh bukitan kotoran manusia. Kapal ADRI XV—kapal yang masih dioperasikan! Ai! Anak cucu bangsa bahari! Tanpa diperintah pun langsung rombongan Jakarta mulai membersihkan ruangan keparat itu. 

Sapu dan tong air disiapkan. Kran-kran air mulai diputar. Genangan air kotoran ternyata menjelma jadi rawa lumpur. Saluran-saluran pembuangan pampat semua. Setan pun mungkin takkan tahu lagi di mana sesungguhnya lubang-lubang pembungan itu. Kok bisa begini? Betong-tong air tak juga mau turun, tak seperti di daerah pasang-surut. Dan bila haluan terangkat ombak, air rawa buatan itu menerjang bendul-bendulnya dan membanjiri ruangan yang ditunjuk untuk kami.

Dan hero-hero kotoran manusia tercengang? Terperangah? Tidak! waktu baru memasuki barak yang ditunjuk di penjara Karang Tengah, Nusa Kambangan, onggokan kotoran manusia juga yang ditemui, di seluruh barak, dari balik bendul pintu sampai ke ruangan kakusnya sendiri. Bedanya lantai barak penjara dari tanah, lanpai kapal ini dari besi karatan.

Kapal kami terus terengah-engah, berderak-derak, tigaribu limaratus ton bobot mati. Meluncur cepat, secepat bersepeda santai keliling kota. Kadang mogok, berhenti, jadi permainan ombak di tengah laut—kapal kami, kapal negara kepulauan terbesar di atas muka bumi!

Sekiranya kapal ini tenggelam—kami akan mati bersama, delapan ratus orang ini—dalam sekapan dengan semua pintu terkunci dari luar. Ah ya, apa salahnya mati? Setidak-tidaknya kami masih bisa memberikan sesuatu pada dunia: cerita sensasi dan bagaimana pertanggunganjawab akan kembali jadi bola volley. 

Berapa saja sudah jumlah dan jenis makhluk telah punah dari muka bumi? Dan tak ada yang meributkan? Berapa saja semut telah mati terinjak-injak setiap detik? Berapa pula serangga lain tumpas kena semprotan insektisida? Siapa meributkan? Juga hati ini tak perlu ribut. Jangan menyesal mengapa punya impian, merasa belum cukup dengan yang sudah ada. 

Sejak peristiwa 1965 itu aku telah kehilangan semua dan segala. Lebih tepat semua dan segala ilusi. Untukku sendiri sudah kumiliki semua dan segala untuk hidupku sebagai bayi. Dan seperti bayi-bayi selebihnya modal untuk berkomunikasiku hanyalah suaraku: jeritan, raungan, keluhan, rengekan. 

Dan bila modal komunikasi itu dirampas, ah ya, siapa yang bisa rampas hak untuk berdialog dengan diri sendiri? Dan yang dirampas itu akan berubah jadi energy lain yang akan mengguris abadi dalam kehidupan. Sentimental? Apa boleh buat, hanya batang kayu yang tak punya sentiment, kata penerjemah Rumania itu membantah seorang anggota Parlemen RI yang pernah datang ke negerinya.

Ya, sayang sekali aku tak dapat saksikan perayaan perkawinanmu. Hadiah kawinmu pun hanya catatan semacam ini, dan tak akan sampai ke tanganmu pula. Empat tahun belakangan ini aku hanya mengikuti tudingan telunjuk orang untuk meninggali sel-sel beton atau kayu. Biar begitu tidak benar kalau tidak pernah ingat padamu. 

Di mana kau tinggal sekarang? Bagaimana kehidupanmu dengan suamimu? Aku tak tahu. Biar tahu pun apalah gunanya bagimu? Tapi empat tahun bukan waktu pendek dalam hidup manusia. Umur kadal pun tak sampai sepanjang itu. Di selku di penjara di Tangerang, lalat yang berhasil kutangkap kukurung dalam plastik. Ia mati tua dalam tiga setengah hari. Empat tahun tanpa tahu duduk perkara sungguh suatu kemewahan berlebihan, seperti lapisan tebal bedak pada muka buruk seorang nenek tua renta.

Entah sudah berapa kali kapal kami dilewati kapal-kapal lain. Mungkin dari kejauhan jadi tontonan yang mengibakan, penderita kusta di tengah-tengah lalu lintas kehidupan yang sehat dan cerah. Setiap saat dalam kesadaranku terdengar nafasnya yang terengah-engah dan persendian-persendianya yang berderak-derak. Dua kali nafasnya tak terdengar dan gigilan mesinnya yang mengeletari kulit bajanya padam. 

Seribu tahun yang lalu pun nenek moyang telah menjelajahi perairan ini—pasti cerita para guru sekolah itu bukan omong kosong—dengan perahu-perahu buatan tangan sendiri, dan pasti lebih bersih dari ADRI XV. Sekali lagi pasti para guru sekolah itu bukan jual koyo. Perahu-perahu layar Bugis, Makassar, dan Madura sampai saat ini pun lebih tertib, sekalipun, dan justru, tidak dibiayai dengan uang negara.

16 Agustus 1969 kutinggalkan kau berbulan madu di Jawa. Aku menuju ke happy land somewhere. Sepuluh jam sebelum mancal baru kami ketahui, happy land somewhere itu konon Pulau Buru di Maluku. Besok 17 Agustus keberangkatan kami: hadiah ulang tahun kemerdekaan RI. Hadiah untuk mereka yang tak jemu-jemunya meyakinkan diri mereka sendiri—juga kami—bahwa kami adalah pengkhianat, pemutarbalik Pancasila. 

Dan selalu, tanpa pernah membuktikan tuduhan mereka sudah menyemburkan tabir asap: harus tahu sendiri, merasa sendiri, (karena itu) introspeksilah, mawas diri, beriman, beragama. Bersembahyang. Berdoa!

Ada yang berdoa memang, ada yang mengharap, kapal ini tenggelam dihantam angin timur, dan kami mampus dimakan hiu. Itu dari golongan yang menganggap: yang mati tidak akan bicara lagi. Anggapan jaman batu berpermatakan pesona kriminal. Memang kami sudah setengah atau seperempat hidup tanpa hak sipil dan tanpa makan cukup—tapi kami semua sudah membuktikan lolos berkali-kali dari lubang jarum kematian. 

Pada punggung masing-masing tergendong kantong, takkan pernah lepas seumur hidup, penuh sesak dengan lambang-lambang pengalaman indrawi dan batini, kristalisasi energy yang tak bakal ikut mampus, lebih abadi dari daging dan tulang bahkan dari gading yang tak kenal retak pun. 

Lambang-lambang itu akan terus bicara dengan bahasanya sendiri, Levenslang Verbannen dalam dua jilid tebal karangan seorang anonimusitu, “Rumah Mati”-nya Dostoyevski, “Boven Digoel”-nya Dr. Schoonheyt, Pandawa di Kurusetra, Koestler dalam bukunya, apa pula judulnya? “Dark in the Aftermoon”? “Mereka yang Dilumpuhkan”, “From Land Hell to Island Hell”, siapa pula pengarangnya? “Laporan dari Tiang Gantungan” Julius Fucik, “Der Prophet”-nya Anna Seghers, dan…

Biar sedikit mengsol, mari aku ceritai kau sesuatu: Rakyat Spanyollah yang pertama-tama bangkit melawan fasisme, jauh sebelum negara-negara yang menamai diri negara demokrasi turun ke medan perang, yang melahirkan Perang Dunia II. Dan waktu Perang Dunia II usai, fasisme Jerman dan Itali dan Jepang digulung, fasisme Spanyol tetap berdiri, bahkan hidup berdampingan secara damai dengan para pemenang PD II, malah ikut dalam persekutuan militer dalam rangka perang dingin. 

Memang suatu dagelan persekutuan militer baru itu. Dalam Konperensi Potsdam regime Franco Spanyol oleh Sekutu dijatuhi hukuman duapuluh tahun. Begitu Perang Dunia II selesai tak ada yang mengingat hukuman yang dijatuhkan, malah berangkulan. 

Pragmatisme Barat itu untuk kesekian kalinya mempertunjukkan jantung dan wajahnya yang demonik. Dan itu akan tetap dipertontonkannya tanpa malu demi kepentingannya. Dan demi alam pikirannya yang pragmatis. Duapuluh tahun setelah benggol-benggol fasis yang tertangkap hidup pada digantung dan ditembak mati, paling tidak duapuluh tahun penjara!

Itu yang nampak dipermukaan. Yang tidak nampak? Adegan-adegan penjara Spanyol dimulai dengan cerita Koestler. Bila malam hari tiba dan giring-giring berbunyi mengunjungi sel, seorang pejuang anti-fasis dengan antaran seorang padre, sampailah dia pada ajal di tangan jagalnya. 

Sampai berapa lama pejuang-pejuang anti-fasis yang lolos dari lubang maut itu mendekam dalam penjara menunggu jatuhnya regim Franco? Dan dalam penantian itu seorang demi seorang terus dibunuhi, dari tahun 1933 sampai 1965? Dan yang mengirim makan para tahanan itu—pada mulanya istrinya, kemudian anaknya, kemudian lagi cucunya. 

Mereka berbaris di depan gerbang penjara Burgos itu, tiga puluh dua tahun, dan regime Franco tak juga runtuh. Penganiayaan dan penindasan terhadap para pejuang anti-fasis tetap belum jadi sejarah….. (bersambung)

---Pramoedya Ananta Toer

* Tulisan ini merupakan salinan dari "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" jilid 1
* Sumber foto : cnnindonesia.com (waktu Pram dibebaskan dari Pulau Buru)