22 January 2009

Masyarakat Imunisasi

Satu hal dari banyak hal yang patut disyukuri adalah bahwa kita dianugerahi pengetahuan tentang gaya bahasa. Tentang Metafor. Tentang kiasan. Tentang suatu cara untuk menyampaikan pendapat, ide, kritik dan saran secara tidak vulgar. Menyampaikan partikel gagasan yang disamarkan dengan kekayaan bahasa, dengan tujuan agar "si objek tembak" tidak merasa ditelanjangi. Tidak merasa diserang bertubi-tubi.

Tapi memang zaman minta perubahan. Dia menuntut segalanya serba terbuka. Serba transparan. Serba blak-blakan. Dengan doktrin demokrasi, kebebasan, persamaan hak dan dogma perubahan lainnya menggiring kita untuk akhirnya mentabukan majas. Mengalienasi perumpamaan.

Dan efek yang ditimbulkan dari kondisi itu cukup "mengagumkan". Kita kehilangan rasa peka. Kita menjadi malas berkontemplasi. Gerak reflek kita jadi lamban. Sinyal-sinyal untuk menangkap pesan yang tersirat semakin melemah. Atau mungkin sengaja dilemahkan?.

Dengan berjalannya waktu, individu-individu yang dimuntahkan oleh kondisi ini semakin bertambah dan membentuk komunitas-komunitas kecil, sebelum akhirnya membentuk sebuah masyarakat yang lebih luas. Dan kita adalah anggota sah masyarakat tersebut.

Kita nyaman dengan kondisi seperti ini, sebab tidak direpotkan dengan kegiatan menganalisa pesan-pesan yang berada di balik timbunan kata-kata. Kita adalah masyarakat tabu kiasan. Masyarakat miopy perumpamaan. Masyarakat yang terimunisasi dari kritik dan saran. Masyarakat terdidik yang bebal. [ ]

Adegan Panas


“Nadya sedang mandi pagi itu, ketika seorang laki-laki masuk ke kamar. Di bawah guyuran shower yang dingin dia tidak tahu, laki-laki itu tengah tidur di atas kasur. Aktivitas di kamar mandi di mana-mana sama, gosok ini, gosok itu, guyur ini, guyur itu, semua tidak ada yang istimewa, kecuali jika Nadya membuatnya menjadi istimewa. Laki-laki itu sebenarnya tidak tidur, dia hanya memejamkan mata saja, dia sebenarnya tengah menunggu, menunggu sesuatu yang membuatnya tidak sabar.
Dengan hanya memakai handuk sebatas dada, Nadya kemudian berjalan menuju kamarnya. Sementara karena sudah tidak sabar, laki-laki yang di kasur kemudian membuka baju. Kemudian Nadya masuk kamar dan menutup pintu, lalu memakai baju dan membereskan buku, Nadya kuliah pagi hari. Yang ditunggu laki-laki itu akhirnya datang, kawannya yang bernama Iwan datang membawa minyak angin dan uang logam, bersiap dia mau kerok punggung laki-laki yang tengah terbaring, karena semalam suntuk main PS dengan jendela kamar terbuka, laki-laki itu akhirnya masuk angin dan harus dikerok dengan bantuan kawannya, untung dia kuliah siang hari. Nadya pergi ke kampusnya yang berada di Depok. Sementara laki-laki itu tengah dikerok di kamarnya di Bandung.”

Itu adalah dua adegan tentang dua orang mahasiswa yang berbeda tempat. Nadya dan laki-laki yang masuk angin. Dua adegan dalam satu cerita. Kamu suka adegan yang mana? Yang mandi atau yang dikerok? Oh, mungkin ini tergantung jenis kelamin. Tapi yang pasti kamu adalah seorang sutradara. Ketika kamu menulis, sebenarnya kamu juga tengah membayangkan apa-apa yang kamu tulis itu. Maka cerita yang bergulir adalah potongan-potongan adegan yang sambung-menyambung. Mirip dalam sebuah film. Jalan cerita seperti apa yang kamu inginkan? Itu tergantung bayangan adegan yang ada di kepalamu. Maka sebuah tulisan adalah rangkaian adegan-adegan yang kamu reka-reka sesuai selera kamu. Tapi jika itu bukan fiksi tapi cerita nyata, maka kamu juga pasti sambil mengingat peristiwa yang telah kamu alami atau merangkai berbagai teori dan konsep.

Membayangkan sesuatu yang akan kamu tulis, terkadang membutuhkan mata yang terpejam, atau kamu akan menerawang, melihat-lihat tapi tidak fokus dan kosong, karena pikiranmu sedang tertuju pada bahan tulisan, pada adegan yang akan kamu tuliskan. Kadang-kadang hal itu membuat kamu pusing, karena terlalu banyak adegan yang memungkinkan untuk kamu tulis. Menuliskan seorang Nadya yang sedang mandi saja bisa banyak sekali. Bisa kamu bahas dari masalah sabun dulu, bisa dari baju dulu, bisa dari keluarga Nadya dulu, dan macam-macam yang lain sesuai seleramu. Sehingga hal itu terkadang membuat kening berkerut-kerut dan kepalamu terasa pening, karena tumpukan ide yang menggunung, karena gagasan tumpang tindih di batok kepalamu.

”Adegan Panas” adalah salah satu ide yang keluar dari keputusanmu dalam menuliskan sesuatu, dan hal ini sangat relatif. Tergantung seleramu. Mau dibawa kemana banjir idemu itu? Mau seperti apa jadinya tsunami gagasanmu itu? [irf]

Tangis di Pagi Hari Bulan Oktober

Banyak sekali orang yang mengagumi dan terinspirasi oleh hujan, dari yang banyak itu salah satunya adalah dia. Dengan bunyinya hujan selalu memberi tahu bahwa pucuk daun jambu kedinginan. Hujan juga selalu mengabarkan tentang air yang jatuh di batu dan rerumputan. Hujan bisa membedakan antara atap rumah dan kubah mesjid. Tapi bunyinya tak terdengar di hati manusia, sebab di tempat itu hujan diendapkan pada bagian yang terdalam dan sunyi.

Adalah dia yang berjalan di pagi yang murung itu. Setelah tadi malam sesuatu yang menyesakkan mengusiknya, dia tidak bisa memejamkan mata. Meski bola lampu telah dipadamkan dan tirai jendela telah dirapatkan, tetap saja kantuk tak kunjung tiba menghampirinya. Ada sesuatu yang menari-nari di benak pikirannya, terlebih lagi di langit jiwanya. Maka lihatlah akhirnya dia hanya bisa berdialog dengan bantal yang perlahan mulai basah, bukan oleh hujan tapi airmatanya, sebab selain jatuh di luar, hujan juga telah diendapkan di titik terdalam perasaannya.

Dan di pagi hari bulan oktober yang gerimis itu, dia melangkah menyusuri setapak jalan dan menembus kabut. Harapannya sederhana : hujan tak berhenti jatuh dan tak ada seorang pun yang menyapanya. Tak sedikit pun lintasan pikiran yang mengajaknya untuk sejenak berteduh atau menyapa anak kecil yang berdiri di ambang pintu dengan berseragam sekolah. Dia hanya terus berjalan menunduk, entah apa yang dilihatnya. Yang jelas bukan tanah yang becek dan bebatuan yang basah. Tatapannya jauh menembus itu semua, sejauh angannya yang melayang-layang pada kejadian tadi malam.

Sesekali kawanan burung kecil berkejaran di udara, gerakannya seperti hendak merobek pemandangan awan yang pucat dan murung. Ada juga semilir angin menggoyangkan pucuk tanaman rambat yang membelit pagar rumah anak kecil berseragam sekolah. Deru mobil lain lagi, lamat-lamat terdengar di kejauhan dan akhirnya menghilang. Semua itu menandakan bahwa masih ada kehidupan dan harapan. Tapi sayang tak mampu menghiburnya.

Dalam setapak jalan yang sepi dia menangis lirih, airmatanya berjejalin dengan air hujan yang menetes di pipi. Hujan selalu pintar menyesuaikan dengan suasana hati. Di pagi hari bulan oktober itu dia menangis pelan sekali. Dia tengah menikmati pesona kesedihannya sendiri. [ ]

(Dedicated to Hermi Kusumawaty & Sapardi Djoko Damono)

Hari yang Biasa

Ada satu saat dimana kita merasa tidak berarti. Sangat tidak berarti. Bisa kemarin, sekarang atau besok. Bisa juga dulu atau nanti. Saat dimana kita merasa terpuruk sendirian dalam hari yang biasa. Hari yang jauh dari istimewa. Saat ketika orang-orang menjauh, kabur dari pandangan dan komunikasi. Relasi publik yang selama ini direngkuh hilang teratur dan akhirnya lenyap. Atau mungkin mereka ada, tapi keberadaannya tidak menyisakan apa-apa selain sebuah kehampaan abadi.

Pada waktu suram itu, keluarga menjadi dingin tak ada kehangatan, semua berjalan sendiri-sendiri. Sahabat hilang satu-persatu menuju cita-citanya masing-masing. Percintaan sudah berakhir, lalu dia menjadi mantan, dan apa yang bisa diharapkan dari seorang mantan cinta?. Orang yang diam-diam dikagumi kehilangan karakter, dia menjadi rapuh dan memalukan. Lalu secret admirer kalau ada, mereka pun mundur teratur dan lenyap tak berbekas. Bahkan musuh sebagai relasi publik negatif tiba-tiba hilang entah kemana. Kita jadi seorang asosial. Hidup sendirian dan yang paling penting adalah merasa sendirian dan ditinggalkan. Semua kehilangan rasa.

Lalu kita mencoba melihat media komunikasi, dan ternyata sama saja. Hp, fs, email, blog dan yang lainnya semuanya sunyi, tak ada lalu lintas komunikasi. Semua yang kita senangi menjadi hambar. Ketertarikan, hobi, komunitas, gaya hidup, cita-cita dan semuanya menjadi luntur sebelum akhirnya luruh menyentuh titik nadir yang paling rendah. Buku-buku jadi kehilangan rasa, semuanya hambar dan kaku. Pramoedya tak lagi bisa diandalkan. Tetralogi Buru hanya jadi tumpukan kertas saja. Kemudian musik pun sama, hanya terdengar membosankan. Lagu-lagu jadi sendu dan cengeng. Keadaan seperti sedang berkonspirasi memojokkan ke-aku-an yang selama ini dibanggakan.

Saat seperti itu nampaknya susah untuk dikendalikan dan dicari pengalihannya, karena untuk berkomunikasi dengan Tuhan pun kita selalu gagal dan jauh dari khusuk. Kita benar-benar terasing. [ ]

Begini Saja

Begini saja. Bagaimana kalau lambang Negara, kita ganti dengan tikus bukan burung garuda lagi. Sebab tikus lebih ergonomis untuk menggerogoti dan kemudian lari bersembunyi. Bagaimana kalau setiap pajabat tidak usah bersumpah di bawah kitab suci lagi dan kita ganti dengan proposal tender bermilyar-milyar dengan uang pelicin bermilyar-milyar, sebab itu lebih indah dan menyenangkan. Bagaimana kalau KPK kita bubarkan saja dan pembubarannya kita rayakan di rumah-rumah dinas kediaman. Bagaimana kalau para aktivis yang hilang dan dibunuh kita lupakan saja dan kita tidak usah demonstrasi lagi, tidak usah mengkritisi lagi, tidak usah menegakkan kebenaran lagi sebab kebenaran sudah seperti sebuah jarum yang hilang di tumpukkan jerami.

Bagaimana kalau para korban banjir, lumpur panas, longsor, gempa dan ancaman gunung berapi kita kasih makanan basi saja sebab stok makanan sudah habis dimakan tikus. Bagaimana kalau para anggota dewan kita naikkan semua tunjangannya, sebab gaji mereka hanya mencukupi biaya sehari-hari saja, sedangkan kebutuhan yang lain masih menumpuk : jalan-jalan ke luar negeri, menghidupi istri simpanan, belanja mobil baru dan untuk sewa keamanan jika suatu saat dia di demo para mahasiswa. Bagaimana kalau PEMILU ditiadakan saja dan kita menyibukkan diri untuk mencari minyak tanah, sembako serta kedelai yang murah. Bagaimana kalau ternyata minyak tanah itu benar-benar habis dan kita ganti dengan kayu bakar sisa para cukong pemilik HPH.

Bagaimana kalau kita tidak usah sekolah sebab harganya terlalu mahal, lebih baik menjadi pengangguran saja dan menunggu mereka yang sekolah itu bergabung dengan kita. Bagaimana kalau kita beli perahu karet, sebab kata BMG nanti malam akan turun hujan dan katanya pulau Jawa akan tenggelam. Bagaimana kalau kita semua jadi presiden saja, mengurus diri sendiri dan keluarga sebab negara punya urusannya sendiri. Dan bagaimana kalau tulisan ini tidak usah dibaca, sebab kalian pun sudah tahu dan menyaksikannya sendiri di koran dan di layar kaca. [ ]