Showing posts with label Karl Marx. Show all posts
Showing posts with label Karl Marx. Show all posts

23 January 2013

Para Penguasa Warung Kopi [6]

Warung kopi tempat bang Bisma dan kawan-kawannya berkumpul, yang kini mulai mereka tinggalkan karena operasi yang belum sepenuhnya saya ketahui, adalah warung kopi generic khas pinggir jalan. Jangan bayangkan warung kopi itu seperti warung kopi yang ada di Manggar, atau seperti warung kopi yang di sangat komersilkan macam Starbuck. 

Kopi dengan berbagai merek (mayoritas dikuasai “tiga huruf pertama alphabet” dan “kapal yang rajin menyalakan api unggun”) menggantung di paku atau di sebilah kayu yang melintang. Pembeli tinggal tunjuk saja kopi mana yang mau diseduh, sebab di penjual pasti punya gunting untuk menuangkan serbuk ajaib itu ke dalam gelas transparan lalu menyiramnya dengan air panas. 

Rasakanlah aromanya, aroma kopi yang dibuat dipabrik, hasil kerjasama yang cantik antara mesin dan buruh berpenghasilan pas-pasan. Ini bukan warung kopi untuk berwisata dan tidak cocok untuk berpose, dipotret, lalu hasilnya dijadikan modal bergaul di facebook dan twitter. Oh lupakan semua itu. Ini adalah warung kopi di mana orangtua para mahasiswa yang ekonominya pas-pasan menitipkan anak-anaknya dari derita kelaparan tengah malam, sebab mie rebus dan gorengan pun menjadi penghuni tetap warung tersebut. 

Di sini, buku Karl Marx, Pram, Tan Malaka, dan doktrin pergerakan politik kampus sangat cocok untuk disuntikkan ke kepala para mahasiswa yang sedang puber politik, kritis, idealis, dan senang beragitasi sambil memakai jaket almamater; semua hal yang akan cepat berlalu dan hanya menjadi kenang-kenangan ketika jadwal kerja telah memenggal kualitas waktu.

Ketika sedang tidak sibuk menyelidiki operasi sunyi bang Bisma dan kawan-kawanya, saya kadang-kadang duduk di warung kopi bu Risna dan memesan segelas susu cap bendera setengah tiang. Saya belum berani membakar cigarette, sebab masih SMP dan takut ketahuan sama bang Bisma. 

Saya hanya duduk dan menikmati susu panas sedikit demi sedikit, sambil melamun tentunya. Pembeli yang lain biasanya orang-orang yang lebih tua dari saya; kalau tak mahasiswa, tukang ojeg, supir angkot trayek kampung, dan beberapa pemuda yang kurang jelas identitasnya (mahasiswa bukan, tapi kerja juga engga, inilah mungkin yang disebut pengangguran, yang konon mengerikan). 

Bu Risna adalah spesies ibu-ibu yang sudah lama ditinggalkan jayanya masa muda tapi belum terlalu tua. Anaknya tiga, yang paling besar sudah kelas satu SMA dan sedang berada di titik norak sebab puber yang membuat suaranya nge-bass telah menggiringnya menjadi anak laki-laki yang gampang jatuh hati kepada lawan jenis sebayanya, tipe ABG yang tidak berkarakter. Yang paling menyebalkan adalah kalau dia sedang pedekate, aih gayanya tak lebih seperti ayam jantan mendekati petelur, kalau dia punya sayap saya yakin sayapnya akan dikembangkan dan berjalan miring. 

Nama panggilannya tak usahlah saya sebutkan, nanti saja. Anak yang kedua masih duduk di SMP kelas dua dan si bungsu di kelas enam SD, ya dua tahun sekali memang, cukup rajin juga bu Risna ini. Semua anaknya berpiranti vertical sama seperti ayahnya, maka kalau bu Risna mau mengklaim dan membanggakan diri bahwa di keluarganya beliaulah yang paling cantik, maka boleh-boleh saja, silahkan mumpung belum tua-tua amat. 

Setiapkali saya duduk di warung kopi itu dan pembeli lain semuanya sudah berusia di atas kepala dua, maka saya seperti petasan cabe yang terperangkap dalam gerombolan dinamit berhulu ledak tinggi. Mereka, para pembeli yang sudah berkepala dua itu (mayoritas mahasiswa juga sudah berusia demikian) , seringkali melirik dengan pandangan yang membuat saya kurang nyaman. Oh status quo, ternyata usia adalah jarak mutlak yang paling laku untuk dijadikan semacam otoritas saling menindas. 

Yang tua menganggap remeh yang muda, yang muda mengolok-olok yang tua, yang menang adalah ego mereka berdua. Di warung kopi itu saya kerap (orang-orang yang pernah mengunjungi Wikipedia menyebutnya) bersolilokui. Ngomong sendiri dalam hati, dan Farid Gaban menyebutnya belajar tidak bicara. Saya merasa terperangkap dalam tubuh seorang anak SMP, entah kenapa. 

***

Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya dan teman-teman sebaya sepermainan adalah barisan pembenci para orangtua yang tidak pernah mengerti bahwa masa menjelang remaja adalah masa yang perlu dirayakan dengan aksi-aksi menyenangkan dan menegangkan agar jerawat tidak sering muncul di sekitar muka. Tapi apa boleh buat, ternyata tidak semua orangtua dapat memehami yang namanya jembatan zaman. 

Maka tak heran jika antar generasi seringkali terjadi deadlock. Seorang ibu bisa ribut dengan anaknya yang masih remaja karena memperebutkan remote tv. Anak remaja maunya nonton sinetron “putri yang tertukar dengan panci”, sedangkan si ibu berminat betul sama film India yang punya resep baku: tari dan nyanyi, ya dalam kondisi sesedih apa pun jangan khawatir sebab para penari selalu bersembunyi di balik pohon lalu berhamburan menghibur tokoh yang sedang bersedih dengan tari-tarian ceria sambil pamer pusar yang tak tak sanggup ditutupi baju sari. 

Sore hari, seorang bapak setengah baya santai dan sedap betul menghisap cigarette pertamanya sambil duduk manis di bangku teras rumah. Anaknya baru saja lulus ke Institut Tekhnologi Gajah Duduk jurusan teknik mesin, padahal anaknya lebih berminat kuliah di Institut Kesenian dan Keindahan mengambil jurusan cinematograpy. Dan begituh, kuasa ayah lebih besar daripada minat anaknya. 

Si bapak berpikir bahwa jurusan teknik lebih menjanjikan demi masa depan yang senang sentosa sejahtera daripada kuliah mengambil seni yang dia pikir masadepannya tak jauh hanya menjadi gembel dan gelandangan kebudayaan. Setahun berlalu si bapak dihidangkan pada satu kenyataan: anaknya DO sebab terlalu sering bolos dan nongkrong di komunitas film indie.

Pada sebuah siang yang bagus oleh baluran rahmat sinar matahari, seorang bocah asyik sendiri memainkan bola dengan kaki dan kepala, bola itu seperti lengket pada kedua kakinya, itulah dia bocah jagoan kampung yang bercita-cita jadi pemain sepakbola profesional. Tapi mimpinya buyar seperti tidur siang yang terganggu suara meriam bambu. 

Bagi orang kampung yang kondisi ekonominya tidak terlalu menggembirakan bercita-cita menjadi atlet professional ibarat Adam dengan buah khuldi; menggoda tapi tidak boleh didekati, apalagi disentuh. Kalau nekad maka akan ditendang dari dunia mimpi dan tersadar ketika jalur hidup merayap pelan, terukur, dan membosankan melalui hierarki bangku sekolah. 

Setelah tamat SMA para orangtua akan merasa gembira jika anaknya berhasil masuk pabrik kapitalis dan menghabiskan sisa umurnya dengan menjadi jongos, toh menjadi atlet pun masih bisa dikejar dengan lari pagi di setiap hari minggu yang ramai oleh obrolan para jongos dan beberapa ambtenaar.

Itulah beberapa kondisi yang terjadi karena deadlock. Rentang usia tiap generasi hanya bisa disambungkan oleh jembatan zaman yang bernama pengertian. Dari titik ini pula mungkin bang Bisma dan kawan-kawannya berangkat, mereka mencoba menjalankan sebuah misi suci dalam bentuk operasi terselubung dan rapi demi menjembatani rentang perbedaan antar generasi. 

Tapi saya belum yakin dengan kesimpulan tersebut, sebab ibarat sebuah puzzle, apa yang mereka lakukan masih jauh dari sebuah lukisan yang sempurna, masih terlalu dini untuk dihujani dengan tafsir tunggal penuh tendensi. Saya harus bersabar, orang sabar disayang bu Risna (loh?, apa hubungannya?). ..... 

04 August 2012

Di Dalam Jiwa Kita (ternyata) Ada Sjahrir dan Hatta, Sayangku...


Ketika pesawat tiba di Banda Neira, Hatta mengepak buku-bukunya, tergopoh-gopoh, ke dalam 16 kotak peti. Sjahrir memutuskan untuk membawa ketiga anak angkatnya. Tiba di pesawat, ternyata ada problem : ruang di pesawat itu terbatas. Para penumpang harus memilih, 16 kotak buku atau ketiga anak itu harus ditinggalkan. Hatta mengalah. 16 kotak buku itu tak jadi dibawa untuk selama-lamanya, kecuali sebuah Atlas yang sempat disisipkan ke dalam koper. Empat puluh tahun kemudian Hatta masih menyesali kehilangan itu.

Enam tahun sebelum pesawat itu tiba, Sjahrir dan Hatta---kedua orang buangan itu--- tinggal dalam satu rumah. Sejak di hari pertama datang, Sjahrir menemui anak-anak, dan anak-anak datang untuk belajar, bermain dan bergurau. Suatu hari seorang dari anak-anak itu menumpahkan vas kembang. Airnya membasahi sebagian buku yang ditaruh Hatta di atas meja. Hatta yang selalu sangat sayang kepada buku-bukunya, selalu rapi dengan benda-benda itu : marah.

Jika Hatta sedang membaca buku atau menulis surat, Sjahrir membawa anak-anak itu berjalan meninggalkan dataran pulau, berlayar, atau mendaki gunung di sebelah sana. Anak-anak, permainan, dan pantai, mungkin itu kiasan terbaik bagi hidup yang spontan, tak berbatas, dengan kebetulan-kebetulan yang mengejutkan dan menyegarkan. Sementara Hatta tenggelam dalam dunianya, dunia buku yang begitu menggoda, mengapungkan, dan mencerahkan.

“Di sini benar-benar sebuah firdaus,” tulis Sjahrir tentang Banda Neira. Anak-anak Banda Neira itu menyeberangi selat melintasi kebun laut, bersama seorang buangan yang tak jelas asalnya dan masadepannya. Pantai itu berubah. Dalam keasyikan bermain, mereka tak tahu apakah pantai itu membatasi laut ataukah pulau, awal penjelajahan atau tempat asal. Pada saat itu, di ruang itu, mistar tak ditarik dan hitungan tak ada.

Di tiap pantai, juga di pantai yang paling tenang, ada dilema dan ambivalensi. Pada hari ketika pesawat itu datang, Sjahrir pergi bersama tiga anak angkatnya, meninggalkan Banda Neira, di pesawat yang mungkin tak diketahuinya hendak tiba di mana. Itulah pilihannya : anak-anak, bukan buku; pergi, bukan berlindung di rumah asal; berangkat ke tempat yang tak terikat, bukan ke alamat yang terjamin.

Tapi tak semua dilema menghilang. Toh dalam pesawat yang melayang itu berkecamuk kontradiksi yang tak terhindarkan. Terbang, perjalanan, penjelajahan, avontur, dan tempat antah berantah, di kabin itu tak mungkin menjadi dasar segalanya. Pesawat itu bukan “the only possible non-stop flight”, bukan untuk “terbang tanpa mendarat”. Pada akhirnya Sjahrir tetap harus mendarat, dengan rencana, sebagaimana pesawat itu akan mendarat dengan kalkulasi. Dunia tak seluruhnya tergelar hanya dalam impuls, dorongan, dan gairah.

***

Bacaan Hatta sangat luas, dan juga minatnya pada sastra. Dia mengutip sajak Heinrich Heine dalam bahasa Jerman. Dia juga menyebut Leo Tolstoy, Karl Marx, Bakunin, serta Dostoyevsky. Dia seperti ingin mengompensasi tubuhnya yang tidak terlalu besar, wajahnya yang dingin berkacamata tebal, serta gaya bicaranya yang membosankan, dia mencari kekuatan pada menulis. Pena adalah senjata dia untuk memerdekakan bangsanya. Bakat menulisnya, dan timbunan bacaannya, kian meluap ketika Hatta kuliah di Belanda. Buku dan perpustakaan tetap menjadi pusat hidupnya. Tapi Hatta bukan cendikiawan di menara gading.

Sekira bulan September tahun 1921, dalam usia yang baru 19 tahun ketika sekolah di Rotterdamse Handelsshogeschool, Hatta mesti membeli sejumlah buku. Tapi dana beasiswa belum diterimanya. Uang saku yang dibawanya dari kampung tak seberapa. Baru sepekan dia tiba di Belanda, negeri yang 8.000 mil dari Bukittinggi, tempat ia lahir dan dibesarkan.

Tanpa uang di saku, ia mendekati rak buku besar di De Westerboekhandel, sebuah toko buku tua di kota itu. Ia mengambil Hartley Withers, Schar, dan beberapa buku karangan T.M.C. Asser. Ia tak tahu dengan apa semua buku itu harus dibayar. Beruntung, pemilik toko buku itu tahu bagaimana harus bersikap pada mahasiswa miskin dari Dunia Ketiga. Bung Hatta menulis, “Dengan De Westerboekhandel aku adakan perjanjian bahwa buku-buku itu kuangsur pembayarannya tiap bulan f 10. Aku diizinkan memesan buku itu terus sampai jumlah semuanya tak lebih dari f 150.”

Pada tahun 1927, akibat tulisan-tulisannya yang tajam mengkritik pemerintah kolonial, Hatta ditahan. Dari ruang penjara yang sempit, dia menulis pidato pembelaan yang nantinya akan dia bacakan selama tiga setengah jam di depan pengadilan. Judul pidato itu, “Indonesia Vrij” (Indonesia Merdeka), menjadi salah satu manifesto politik yang monumental. Di situlah, persis di ulu hati kekuasaan kolonial, dia menusukkan tikamannya.

Ketika pulang ke Indonesia dengan membawa gelar sarjana, Hatta semakin larut dalam kegiatan politik. Dia juga aktif menulis dalam majalah yang didirikan partainya : Daulat Ra’jat.

Dan kembali, akibat tulisan-tulisannya di majalah itu, dia dibuang ke Boven Digul, Irian, sebuah wilayah pembuangan yang sering disebut Siberianya Hindia Belanda. Tapi, dasar Hatta, dia membawa serta 16 peti buku ke tanah pengasingan. Buku-buku itu membuatnya memiliki amunisi cukup untuk meluncurkan tulisan---tembakan salvonya---ke koran-koran di Batavia maupun Den Haag. Dia memang tak bisa dibungkam.

***

Akhir keduanya memang berbeda. Dua corak pribadi itu mengalami kesudahan yang berlainan. Tapi Sjahrir dan Hatta adalah sumbangan sejarah berharga yang bisa kita pelajari dan kita ambil manfaatnya, barangkali bisa menjadi penerang bagi jalan yang akan dilalui. Kita tidak tahu, apakah harapan itu akan terbit atau malah terkubur, sebab hari esok terasa begitu misteri. [ ]

---Dengan permintaan maaf kepada Goenawan Mohamad dan Tim Majalah TEMPO---