Showing posts with label Rumah Tangga. Show all posts
Showing posts with label Rumah Tangga. Show all posts

24 October 2017

Pusara

Oleh: Yovantra Arief
Apalagi yang luput untuk diceritakan? Gelas-gelas kosong, isak tangis surut, pelayat beringsut meninggalkan rumah duka dan ayat-ayat suci menguap di udara. Jenazah masih berbaring kaku, asing dari keajaiban.
Suasana berkabung dengan air mata dan doa-doanya terlalu menyedihkan. Aku memandang Togar, teman lamaku sejak kecil, dari kejauhan. Dia setengah mati menahan diri untuk tidak menangis. Padahal dia berhak untuk itu. Kami berdua dan adiknya; Ranto, yang menjadi jenazah sekarang, tak pernah luput satu sama lain semenjak kecil. Aku pun mestinya menangis, tapi tidak. Tuhan—dan Anda juga nanti—tahu aku adalah orang yang menyedihkan. Tidak perlu air mata untuk membuktikan itu.
Para pelayat mulai surut; tinggal keluarga inti, beberapa kerabat dekat dan kekasih yang ditinggal pergi. Aku meminta diri. Togar mengerti lalu mengantar sampai ke pintu. Jabat tangan kami berlanjut jadi pelukan erat. Aku merasakan cairan hangat merembes di punggungku. Samar sebuah isak lolos dari pengawasannya, kemudian dia melepas lengannya dariku dengan wajah seperti yang selalu kulihat: air muka keras dengan keangkuhan yang khas serta segaris senyum yang jarang luput dipasang. “Sering-sering main ke sini,” katanya. “Pasti,” jawabku. Kami saling bertukar salam dan dia kembali menyelinap dalam kesedihannya.
Aku berbalik menelusuri jalan pulang. Pukul dua. Fajar tinggal beberapa jam lagi. Purnama masih bergelayut di mana dia semestinya berada. Begitu pucat, begitu pasi. Begitu mati. Aku terus melangkah tanpa menoleh ke arah rumah duka untuk terakhir kalinya. Aku tidak bisa kembali melihat kesedihan itu. Tidak setelah air mata Togar merembes di punggungku. Aku tidak pernah menyambanginya lagi setelah malam itu.
Mungkin kematian bukanlah hal yang menyenangkan untuk memulai sebuah cerita, tapi sebuah cerita tetap harus dimulai dengan cara apa pun itu. Yang barusan kau baca bukanlah kematian pertama dan, aku bisa memastikan, bukanlah yang terakhir yang pernah bersentuhan denganku. Enam bulan setelahnya, kakek meninggal. Nenek benar-benar terpukul dan nampak kehilangan sebagian besar porsi kehidupannya. Satu tahun kemudian, beliau menyusul. Sebelum kusadari, aku mulai menandai waktu dengan kepergian orang-orang di sekelilingku. Mungkin aku terkesan terlalu muram; terlalu melebih-lebihkan, tapi seperti sudah kubilang sejak awal, pada dasarnya aku memang orang yang menyedihkan.
***
Selepas kuliah aku mulai mengendus rupiah sebagai freelance graphic designer. Nama yang kedengarannya cukup upbeat—mungkin karena ditulis dalam cetak miring—tapi biar aku luruskan terlebih dahulu: kemilau graphic design nyaris hanya sebatas nama. Sebagian lulusan sekolah graphic design terdampar menjadi pengusaha jasa printing kelas menengah dan sebagian besar ilmu yang dibayar dengan harga mahal tersesat tak tersalurkan. Sebagian lain bekerja mati-matian untuk memenuhi tuntutan industri kemasan sekaligus harus berhadapan dengan klien keras kepala, pesaing picik dan perlombaan dengan waktu.

Lama-kelamaan kau akan kelelahan dan ketika rasa lelah itu merongrong batok tengkorakmu, fakta yang tak terelakkan menendang bokongmu: kreativitas yang awalnya kau harapkan akan membantu mendaki tangga karier tak membawamu ke mana-mana. Kreativitas hanya kemampuan membongkar-pasang idiom-idiom klise lawas dari tempat sampah untuk menghasilkan sesuatu yang—nampaknya—baru. Yang benar-benar kau butuhkan adalah kecerdasan sosial.
Secara finansial mungkin pekerjaan ini tidak terlalu memuaskan, tapi tidak ada lagi yang bisa aku lakukan. Aku juga butuh makan dan orangtuaku tidak bisa terus-terusan memanggul tanggung jawab itu. Bekerja adalah hal yang semestinya dilakukan selepas kuliah. Untuk itulah orang rela membuang uang demi pendidikan. Semua orang tahu: lahir, sekolah, kerja, menikah, punya anak, kerja lagi, dan akhirnya, mati.
Hari-hari berlalu. Banyak cerita yang luput. Lima tahun setelah pemakaman Ranto aku berusia dua puluh enam dengan pekerjaan tetap dalam media massa. Wanita datang-pergi, dua tahun ini bernama Asri. Satu tahun lebih muda, cerdas, manis, dan punya senyum menawan ala iklan pasta gigi.
***
Kematian menghadang suatu pagi. Tak diduga dan tak dikenal, bergelimpang begitu saja di tengah jalan dengan sayur-mayur, tangis bocah dan sepeda motor tua. Sebuah truk melanggar sebuah keluarga kecil yang berboncengan di atas motor di perempatan. Sang ibu hanya luka kecil, begitu juga dengan kedua anaknya—bocah laki-laki sekitar lima tahun dan gadis cilik selisih beberapa tahun lebih tua, keduanya berseragam SD. Namun tidak dengan sang bapak. Wajahnya rusak terhantam trotoar dan tubuhnya remuk tergilas roda truk. Dia tewas seketika. Puluhan orang mengerubung, polisi merapikan lalu lintas yang kusut. Beberapa orang ditagih keterangan. Sopir truk bermata merah diamankan. Aku urung bekerja hari itu.
Ibu terkejut melihat kepulanganku, hari masih pagi dan aku sudah pulang dengan awan hitam menggantung di atas ubun-ubun. Aku bilang sedikit tidak enak badan, dia percaya lalu pergi ke kamar mandi. Di atas kasur aku mereka ulang kejadian; bapak menjemput ibu di pasar lalu mengantar kedua anaknya bersekolah. Lampu lalu lintas berubah merah, tapi kedua anaknya sudah hampir terlambat. Tak ada kendaraan lewat di depan. Dia tancap gas. Lalu sopir truk: pertengkaran dengan istri membuatnya tak bisa tidur semalaman, matanya berat meski segelas kopi kental sudah disikat. Lampu kuning, dia mengusap mata dan menggeleng keras mengusir kantuk. Gas diinjak dalam karena kecepatan bisa membuatnya tetap terjaga. Sepeda motor melengang dengan suara terbatuk. Kantuk diusir panik. Rem sempat diinjak, tapi terlambat tetap terlambat.
***
Keputusan itu datang begitu saja. Mendadak menelusup masuk ke kepalaku ketika ia terpelanting di atas bantal. Aku harus keluar dari tempat ini, sangkar yang menjadi tempatku kembali sampai sekarang. Memalukan, kata orang, masih tinggal bersama orangtua. Tapi bukan itu yang jadi alasan. Kejadian di jalan beberapa hari lalu terus menghantui kepalaku. Darah di jalan, anak-anak menangisi kematian ayah di dekapan ibu mereka—begitu intim. Begitu tragis.
Seperti foto di dinding: ibu—dengan gaun merah dan rambut disisir ke belakang—di sebelah kiri; memangku adik yang tidak sempat bersiap untuk difoto, ayah mengenakan jas hitam dan sebuah kumis tipis berdiri kaku di samping ibu, aku di depannya, tujuh tahun, dengan setelan kemeja putih dan tawa lebar. Waktu membuat foto itu usang. Kenangan di dalamnya terasa berjarak. Di dalam bingkai itu aku menemukan sebuah keluarga. Begitu intim. Ketika aku mendapati diriku sendirian di meja makan untuk makan malam: begitu tragis.
Tidak ada drama ketika aku pergi karena aku tidak pergi jauh. Rumahku hanya empat puluh lima menit dari rumah. Ibu masih tertidur waktu aku mengangkut barang terakhir, adik sudah pergi kuliah sedari pagi dan ayah pun tak ada di rumah. Tempat tinggal baruku benar-benar sederhana. Satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi dan satu dapur. Sedikit perabotan… paling tidak aku bisa menyebutnya rumah.
Dua tahun kemudian aku dan Asri menikah.
Hari-hari yang baru menunggu di depan sana. Aku mencintai Asri dan mungkin dia juga begitu. Kebahagiaan-kebahagiaan kecil terus menyisip dari balik selimut, kopi pagi, dan telepon di jam istirahat.
***
Suatu malam aku terbangun dengan keringat dingin. Mimpiku pasti buruk sekali, mujur aku lupa ketika terjaga. Mimpi itu masih menyisakan teror yang merayap di balik kulit. Merobek dinding tipis yang memisahkannya dari realitas dan mengintip dari celah sempit. Mengintai dengan tajam matanya yang entah, menunggu waktunya tiba. Aku tidak tahu apa. Asri tidur meringkuk memunggungiku. Tersesat dalam mimpinya sendiri. Saat seperti inilah, pembaca yang budiman, kesepian nyata-nyata menyelimuti dan kau bisa menggapai tanganmu untuk merangkulnya.
“Jatuh tertidur sungguh mengerikan,” celetuk Patricia Franchini. “Tidur memisahkan manusia. Meski kau sedang tidur bersama seseorang, kau tetap sendiri.”
Hey, siapa Patricia Franchini? Apa urusan dia di cerita ini?
Aku bangkit menuju dapur untuk sekaleng bir lalu duduk di ruang tamu. Dua pasang mata di dinding memandangiku tanpa berkedip. Tapi bukan aku benar yang mereka pandang. Tatapan itu terlempar jauh ke depan, menantang masa depan dan segala kejutan yang disimpannya tanpa bersenjata apa-apa. Mungkin tanpa senjata sama sekali pun tidak sepenuhnya benar. Keduanya membersitkan cinta. Kau bisa melihatnya dari mata Asri yang sedikit sembap karena haru. Hari pernikahan kami benar-benar melepaskan kodratku sebagai makhluk yang—pada dasarnya—menyedihkan. Sampai sekarang pun aku masih merasa asing di depan foto pernikahan kami.
Inikah jawabannya—jalan keluar dari kehilangan dan kematian yang bertubi-tubi? Tiba-tiba aku bertanya-tanya. Cintakah? Kalau benar, apakah benar aku mengalaminya?
Cintakah Ferdinand dan Mariane, Samsul Bahri dan Siti Nurbaya—cintakah strangers in the night yang begitu sendu dinyanyikan Frank Sinatra? Kalau bukan, kenapa aku menitikkan air mata untuk mereka, seperti aku menitikkan air mata ketika Asri mengatakan ‘iya’ untuk lamaranku?

Aku tidak menemukan jawabannya. Cuma ada tanah basah dan nisan dingin. Kaleng bir lolos dari genggamanku lalu menghantam ilalang. Gila, hidupku hanya perjalanan dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Selalu tentang kematian dan kehilangan. Pikiran ini sudah cukup untuk menerormu seumur hidup.
Aku bersimpuh di depan nisan kakek. Nenek dan Ranto nampak tersenyum satu meter di bawah tanah. Dengan pengap dan belatung yang menggerogoti tubuh bagaimana mereka bisa tersenyum—seperti apa wujud tengkorak ketika sedang tersenyum?
Aku menemukan diriku terkapar. Peluh merangkak dari ujung mataku. Tak mengapa. Tak mengapa, tegasku meyakinkan diri sendiri.
Samar lagu mengalun. Sebuah tangan menuntunku untuk berdiri. Senyum pasta gigi itu menemukan pertahanan terakhirku dan meremukkannya dengan hangat. Tangan kanannya menyelinap di pinggangku dan jemari tangan kirinya menyelinap dalam jemariku.
“Sudah lama kita tidak berdansa dengan lagu ini.”
Sudah lama kami tidak berdansa dengan lagu ini. Aku bahkan sudah lupa bagaimana caranya berdansa, tapi perlahan aku menemukan ingatanku dalam setiap langkah.
Aku tidak lagi berjalan gontai dari satu pemakaman ke pemakaman lain. Aku berdansa. Kami adalah dua orang asing yang berdansa tengah malam di atas alunan strangers in the night Sinatra. Tak jauh dari kami Ferdinand dan Mariane berdansa, begitu juga Samsul Bahri dan Siti Nurbaya. Tak ada yang tahu letak cinta, tapi cinta tahu untuk siapa dia ada. Mungkin.

Senyum pasta gigi Asri melumer, tinggal partikel kristal yang berkilauan di sela deretan giginya. Begitu asing. Setelah sekian lama aku hanya jadi penonton dalam hidupku sendiri, aku baru sadar aku tidak pernah sendiri. Selalu ada tangan-tangan yang siap mengangkatku kalau aku jatuh dan aku tak pernah peduli. Aku selalu penuh dengan diriku sendiri. Aku lebih banyak menggunakan ‘aku’ kalimatku. Aku tak tahu apa pun tentang Asri. Aku tak menyisakan banyak kalimat untuk menggambarkan betapa cantik senyumnya, molek kulitnya, bagaimana matanya menyihir kata-kata sampai kehilangan makna. Tentang kesedihannya, kehilangannya… dia pantas untuk itu. Begitu juga dengan Ranto, nenek dan kakek. Ayah, ibu, adik, Togar—
Cerita ini harus ditulis ulang. Mulai dari hari pertama aku bertemu Asri. [ ]
--Tayang di Kompas edisi 3 April 2011

02 January 2013

Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi


Ini adalah salah satu anak rohani Pramoedya Ananta Toer yang terdapat dalam buku Menggelinding. Tulisan-tulisan Pram dalam buku tersebut sangat jarang ditemui di ruang publik. Jika dibandingkan dengan karya-karya Pram yang lain, yang lebih terkenal---misalnya kuartet Buru, tentu catatan ini kalah pamor. Kumpulan tulisan Pram dalam buku Menggelinding adalah tulisan-tulisan awal Pram dalam perjalanan kepenulisannya. Ini hanyalah sebuah usaha untuk mencatat ulang, dan menghadirkannya kembali di sini :


Lembaga Kehidupan Telah Hancur Sebuah Lagi

Sekali ini aku ingin bicara kepada kalian tentang lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia : keluarga!. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup. Titik permulaan di mana tiap suami dan isteri mendapat atau tidak mendapat kebahagiaan. 

Aku telah banyak mengenal keluarga. Dengan mencari hakikat-hakikat yang ada padanya, orang lebih gampang mengerti apakah lembaga kehidupan ini salah pasang ataukah telah bergeser dari tempatnya yang semestinya. Demikianlah pada suatu ketika telah aku perhatikan suatu keluarga yang sebenarnya banyak terdapat di dalam lingkungan kita, banyak juga terdapat di antara kawan-kawan kita sendiri, dan banyak juga terdapat di antara para tetangga kita.

Aku ingin tahu pendapat kalian tentang cerita yang hendak aku bicarakan, cerita tentang lembaga kehidupan yang aku telah perhatikan. Dan sebenarnya demikian cerita itu :

Machmud adalah seorang pemuda yang amat menghormati ibunya. Ia anggap wanita ini sebagai isteri yang ideal : selalu membantu ayahnya dalam tiap kesulitan, siap menggulung lengan baju membantu suami dalam kesempitan keuangan, mendidik anak-anaknya agar kelak tak terlempar dari masyarakatnya mendatang, seorang ibu tumahtangga yang menempatkan segala benda dan hal pada tempatnya yang benar dan layak, dan melakukan pekerjaan sehari-hari tanpa mengeluh atau meminta pujian. Ibu ini menjadi ukuran baginya untuk mengukur nilai seorang perempuan.

Pada waktu ia menginjak alam dewasa, justru ia membutuhkan bantuan ibunya, wanita yang dihormatinya itu meninggal dunia. Akibatnya adalah tentu : ibu tetap hidup di dalam hatinya.

Kemudian ia kawin. Dengan seorang gadis yang menarik hatinya. Di Jakarta.

Sebelum meninggalkan kampung halaman, embahnya memberinya nasihat :

Machmud!. Aku tak tahu berapa tahun kau akan tinggal di Jakarta. Barangkali engkau pun akan menetap di sana. Kelak engkau akan kawin. Hati-hatilah mencari isteri. Pilihan yang salah akan membuat hidupmu menjadi salah. 

Walaupun pada waktu itu Machmud telah memikirkan kawin juga, tetapi pikiran itu masih merupakan cita, belum menjadi sesuatu yang memastikan dan mendesak. Dan waktu itu, ia telah mendapat penghasilan baik dan berkenalan dengan gadisnya, ia ceritakan halnya kepada embahnya.

Machmud, kata embahnya. Dalam suatu perkawinan, cinta itu tidak benar. Mengapa?. Karena ada dua macam wanita. Yang pertama adalah wanita yang hanya bisa dicintai tetapi tak mampu menjadi isteri yang baik---wanita yang hanya baik menjadi kekasih. Yang kedua adalah wanita yang baik untuk menjadi isteri tetapi mungkin tidak bisa dicintai. Untuk mencari isteri aku ikut berdo’a agar kau mendapat isteri yang memang baik menjadi isteri. Datanglah pada waktu-waktu yang tak tertentu ke rumahnya, dan perhatikan rumahtinggalnya, perhatikan sedang apa ia waktu kau dating. Kalau selamanya atau sebagian besar pada kedatanganmu yang mendadak itu rumahtinggalnya berantakan dan dia tak lakukan sesuatu  untuk membereskannya, betapapun juga engkau cinta kepadanya, tak patut kau teruskan niatmu mengawini dia.

Kolot!. Machmud mengejek surat itu sambil mencibirkan bibir.

Sesungguhnyalah. Surat itu tak menyenangkan hatinya, karena sering ia dating pada waktu-waktu tertentu ke rumah gadisnya. Dan ternyata si gadis tak pernah lakukan sesuatu hal untuk membereskan rumahtinggalnya.ia lihat lantai yang berdaki setebal bukutulis, tiang-tiang pintu yang dekil tak pernah digosok, meja-kursi yang berhamburan seperti kulit pisang. Ia teguk habis the yang disediakan kepadanya, walaupun ia lihat gelasnya Nampak berminyak, dan the berbuih. Bahkan pada suatu kali di pagihari ia dapati si gadis masih tidur, walau hari telah jam delapan.

Tetapi ia dapat memaafkan.

Bila cinta tak dapat memaafkan, tak adalah cinta yang berumur panjang!, pikirnya.

Machmud pun kawinlah.

Ia merasa berbahagia dalam hidupnya pernah mempunyai isteri seperti gadisnya. Pagi-pagi benar waktu baru bangun isterinya telah menyediakan kopi. Kemudian sarapan pun menyusul. Ia berangkat kerja dengan perasaan senang. Di rumah pun ia merasa senang tinggal di rumah, karena kedua mertuanya tak pernah ikut campur dengan urusannya. Bahkan kadang-kadang mertua lelaki dapat diajaknya bicara tentang hal-hal yang sedang menjadi pikirannya. Bila ia pulang isterinya telah menyediakan makanan masakannya sendiri. Kadang-kadang ia kagum melihat amarah isterinya karena ia kehilangan nafsu makan. Ia mengerti, si isteri ingin masakannya mendapat perhargaannya penuh.

Beberapa bulan kemudian keadaan telah berubah. Isterinya tak memasak lagi. Yang memasak adalah babu. Isterinya tak mencuci lagi. Yang mencuci adalah babu. Bila ia bangun tidur, mandi, dan siap hendak masuk kerja, isterinya masih tergolek di ranjang. Tak jarang ia harus berangkat sebelum minum dan mendapat sarapan sebagaimana biasa. Tetapi is mencintai isterinya. Dan cinta itu memaafkan dia.

Kemudian mengandunglah isterinya. Ia manjakan wanita yang ia cintai itu. Ia tak pernah ingatkan wanita itu pada kekurangan-kekurangannya. Di hari-hari libur sering ia lihat isterinya duduk di kursi depan hingga jam sepuluh atau sebelas pagi sebelum mandi pagi. Tetapi ini pun ia dapat memaafkan. Dan waktu anak pertama lahir, ia merasa mendapat anugerah besar dari segala maaf yang telah ia berikan kepada isterinya.

Anak kedua lahir.

Anak ketiga lahir.

Bangkitlah kemudian keinsyafannya, bahwa kemurahan hatinya akan maaf itu menyebabkan isterinya menjadi pemalas. Sejak anak pertama lahir hingga ketiga, belum lagi cukup sepuluh kali isterinya pernah memandikan mereka. Tak cukup duapuluh lima kali isterinya menceboki mereka. Ia lihat di hadapan matanya, anak-anaknya yang tumbuh menjadi liar. Ia bertambah lama bertambah tua, bertambah banyak pengalaman yang diperolehnya, tetapi kemajuan yang layak dan wajar ia tak peroleh : pikirannya mati, dibunuh oleh kekesalan dan kerisauan hati.

Jawaban yang diperoleh dari surat embahnya sederhana saja : 

Soal itu soalmu berdua sendiri. Orang lain tak bisa memutuskan atau menentukan. Itu soal pribadi. Segala nasihat akan percuma. Itulah sebabnya dahulu kami harus menerima isteri pilihan orangtua. Mengapa, Machmud?. Karena orangtua tahu, calon menantunya adalah wanita yang baik untuk menjadi isteri dan menjadi ibu dan menjadi ibu rumahtangga. Di rumahtangganya sendirilah lelaki itu mendapatkan segala-galanya. Kalau tidak ia mencari di luar. Bukan akau menganjurkan kepadamu, tetapi amatlah hinanya bagi seorang lelaki yang kematian akal di rumahtangganya sendiri, hanya berhenti sampai di perjuangan batin. Machmud!. Engkau adalah lelaki, engakau harus tentukan sendiri keadaanmu.

Tetapi Machmud tak mampu membelokkan kedaan isterinya.

Kematian pikir menyebabkan penghasilannya tak pernah memadai bagi keperluan sehari-hari. Dan ia lihat isterinya tak pernah memikirkan betapa sulitnya ia mencari penghasilan. Kadang-kadang di malamhari Machmud duduk termenung di kursi luar. Sekali ia mendapat pikiran yang buruk.

Kita terbagi atas tiga golongan : aku, isteriku, dan aanak-anakku. Tiga golongan yangterpisah. Kalu aku mati, soalnya menjadi gampang---terutama bagiku. Kalau isteriku yang mati, soalnya juga menjadi gampang, karena dengan demikian aku bisa bawa anakku kea rah yang kuidam-idamkan bagi mereka. Tetapi kini segala didikan yang kuberikan kepada mereka dihancurkan oleh ibunya sendiri, oleh embahnya sendiri. Dan kalau anak-anakku yang mati, soalnya juga gampang, aku akan ceraikan isteriku.

Pikiran itu diikutinya terus. Akhirnya ia merasa menyesal waktu sadar---soal kematian. Ia mengharapkan kematian di dalam rumahtangganya sendiri.

Tetapi maut tak dapat dipinta oleh mereka yang masih normal. Jadi Machmud tetap hidup, isterinya tetap hidup, dan anak-anaknya tetap hidup.

Dalam masa enam tahun perkawinan itu, Machmud telah berubah menjadi seorang lelaki yang kurus, tua, kehabisan tenaga dan berwajah muram. Pelipisnya dirujaki uban yang berkilau-kilau bila tertimpa cahaya. Ia diam-diam merenungi lantai bila isterinya memanggilnya kakek, dan mengejeknya, bahwa rambutnya tertumpahi rambut bunga jambu.

Sekali waktu ia pulang ke kampung, embahnya memandangnya dengan memendam perasaan pilu. Dan waktu beberapa orang tetangga menengoknya, dan salah seorang dari mereka bilang :

“Orang-orang muda sekarang cepat amat tua!.”

Machmud merasa hatinya tersayat-sayat. Ia tahu orang yang bicara itu belum lagi dikaruniai uban selembar pun dalam umurnya yang limapuluh enam tahun itu. Dan Machmud sendiri? : duapuluh tujuh tahun!.

Ia sadari : soalnya bukan soal tua. Soalnya adalah lembaga kehidupan---rumahtangga itu!. Ia tahu, ia bukan tua, hanya : tubuhnya layu, jiwanya lemas. Bahkan di masa-masa sulit dan tiada jalan keluar ia masih mengharapkan isterinya suka menyapu atau mengepel lantai, atau membereskan buku-buku yang habis dipergunakannya. Ia masih mengharap hanya berpikir untuk maksud yang baik-baik saja : kebahagiaan rumahtangga, pendidikan anak-anak dan pekerjaannya.

Sebaliknya, rasa-rasanya sudah tua sekali tubuhnya dan sudah saatnya ia meninggal dunia. Ia tak sanggup kerja lagi. Nafasnya antara sebentar dirasainya menyesak. Buku-buku kaki dan tangannya lemas, matanya kabur. Ia berhenti dari pekerjaannya. Ia hanya bertiduran di rumah, siang dan malam. Ia minum banyak pel vitamin. Tetapi angan-angannya tetap mengembara tanpa arah. 

Pada suatu sore dating seorang tamu. Ia masih bertiduran dan tak ada hasrat untuk menemuinya. Isteri masuk ke dalam kamar dan berteriak :

“Tidur saja!. Kerja tak mau!. Makan minum tiap hari!.”

Hatinya menangis. Ia bangkit : Ia kenakan sarungnya dan keluar.

Kawan, katanya. Lebih baik jangan bicara. Engkau dengar sendiri tadi. Pulanglah. Aku tak sanggup menemui kau.

Dan ia pun menggolekkan dirinya di ranjang kembali.

Tidur lagi!. Teriak istrinya waktu masuk ke dalam kamar. Kalau begini terus aku tidak sanggup!. Beri aku ijin kerja, kau akan lihat aku bisa hidup tanpa pemberianmu.
Benar-benar Machmud menangis malam itu. Ia merasa malu mendapat tantangan demikian. Ia mengerti, sekarang sudah sampai waktunya ia memutuskan siapa yang harus mengelak antara keduanya : ia atau isterinya.

Mungkin aku. Aku yang telah kehabisan tenaga ini.

Waktu ia bangkit dari ranjang isterinya tidur di sampingnya dan berkata :

“Kalau engkau pergi dari sini bereskan dulu surat-suratnya.”

Ia ingat peringatan itu telah diterimannya tiga kali berturut-turut dalam setahun.
Baiklah, aku yang pergi, kata Machmud.

Dan keesokan harinya ia serahkan kembali isterinya kepada mertuanya beserta surat permohonan cerai untuk penghulu.

Semua sudah aku pikir, jawab Machmud. Dan tentang pendidikan anak-anak itu, katanya dalam hati, selalu mertua juga yang menghancurkannya. Untuk pindah rumah aku tak mampu.

Dengan menjinjing kopornya ia tinggalkan kampungnya, rumahnya, bahkan tek terpikir olehnya ia belum lagi minta diri dari anak-anaknya. Ia tak tahu mesti ke mana. Seorang kawan yangtak diduga-duganya telah mengajaknya tinggal bersamanya.

Sebuah lembaga kehidupan telah hancur sebuah lagi. Aku ingin kalian ikut memikirkan. Bukan untuk mencari kesalahan antara Machmud dan isterinya, tetapi apakah jadinya masyarakat kita bila begitu banyak lembaga kehidupan hancur. Dan apakah pertanggungan jawab yang berkepentingan terhadap anak-anaknya.

Kalian tahu, cerita ini belum lagi selesai, tetapi masalah pertama telah aku kemukakan kepada kalian. [ ]

Pramoedya Ananta Toer
Majalah Roman No. 5 Th. III
Mei 1956  

03 September 2012

Anggi di Atas Sajadah


Anggi tidak mengerti, kenapa ibu membawa dia, kakak, dan adiknya pindah ke kota yang lebih sepi. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Waktu itu, waktu ibunya dengan setengah tergesa membawanya pergi, yang dia lihat hanya mendung dan rusuh di wajah ibu. Anggi ingin menangis, tapi tidak tahu menangis untuk apa, perasaannya tidak menentu. Lalu mobil mulai berjalan dan membawanya menyusuri jalan yang sempit dan macet. Ketika jalan yang menyebalkan itu habis, dia menghirup hawa segar dan udara terasa dingin di tubuhnya. Di sini, di kota barunya yang sepi dan kecil, bersama ibu dan dua orang saudaranya, dia memulai hidup baru. Langkah pertama untuk menggapai semua mimpinya dia lakukan di kota ini.

***      

Masih jelas dalam ingatanku waktu dia berucap, “Pes, aku tidak bermaksud untuk menggurui atau menasehatimu, tapi anggap saja ini saran dari seorang kawan,” aku terdiam tidak mengerti dengan ucapannya. Dia terdengar menarik nafas panjang, lalu berucap lagi, “Pes, bapakmu mengirim kamu ke sini, sekolah ke kota ini, pasti dengan menaruh banyak harapan. Kepercayaannya padamu sungguh luar biasa. Bayangkan, dari daerah, kamu dikirim ke sini untuk menuntut ilmu dengan setiap bulannya disangoni biaya yang tidak sedikit. Nah, maksudku, jangan sampai kepercayaan bapakmu itu kamu sia-siakan. Jangan sampai kamu bermalas-malasan untuk belajar, atau terlalu banyak bermain tak jelas sehingga pelajaranmu banyak ketinggalan.”

Dia sangat tipikal; rajin dan pandai menyaring pergaulan. Anak-anak betah berlama-lama ngobrol dengannya, apalagi kalau ada tugas yang belum selesai, dia pasti dikerubuti. Prestasinya gilang gemilang, ini tidak lepas karena cara belajarnya yang militant. Pernah suatu hari saya dan kawan-kawan yang lain datang ke rumahnya, mau numpang makan sekalian baca-baca majalah bola. Di siang yang terik dan berangin pelan, waktu seperti itu seharusnya pantas untuk dijadikan tidur siang, tapi saya mendapatkannya  tengah mengerjakan PR matematika dan belajar rumus-rumus fisika. Saya mencoba mengikuti kegiatannya, tapi malah pusing, saya buntu, dan sejak itu saya tahu bahwa pelajaran eksak bukan jalan saya. 

Waktu anak-anak mulai belajar merokok, dia tak bergeming. Asap cigarette telah dikutuk untuk menjauhinya, asap racun itu tidak pernah berhasil mengotori paru-parunya yang disesaki oleh nafas penuh semangat. Dia tahu, ibunya akan sangat kecewa jika mendapatinya tengah menghisap rokok, dan karena dia tak mau menyakiti perasaan ibunya, maka dia menjauh dari penghasil cukai terbesar itu. Sebenarnya sikap dia tidak terlalu berbeda dengan kawan-kawan yang lain, tapi saya dapat melihat, dalam dirinya ada semangat yang tak kunjung padam, ada mimpi-mimpi yang tersimpan dengan rapi, dan dia tengah berusaha untuk mewujudkan semuanya.

Selepas SMA kami sangat jarang bertemu, meskipun kuliah pada kota yang sama. Dia di politeknik, saya di politeknik. Dia eksak, saya tata niaga. Dan jalan hidup manusia tidak pernah disetting sama, kami menempuh jalan, kejadian, dan pengalaman yang berbeda. Sekali bertemu dia sempat cerita, bahwa selepas SMA dia diterima di tiga politeknik yang berbeda, lalu kakaknya bilang, “Anggi, kamu mau belajar atau mau main?, kalau kamu mau benar-benar belajar maka pilihlah Politeknik Kanayakan.” Dan Anggi menuruti nasehat kakaknya, lalu selama tiga tahun dia tenggelam dalam seragam biru di dalam bengkel. Waktu saya baru lulus dari Politeknik Ciwaruga, dalam masa menganggur yang menyesakkan,  kami bertemu lagi. Dia sedang berlibur dari tempat kerjanya di Borneo. Senyumnya tidak berubah, masih seperti dulu, dia selalu mengklaimnya sebagai “senyum Pepsodent”, saya diam saja setiap mendengar klaimnya itu, tak apalah, yang penting kawan senang. Lalu setelah itu kami lama tidak bertemu, sebelum April 2009 menghentikannya.

***

Kini Anggi tengah duduk di atas sebuah sajadah, pada seperempat malam yang sunyi, di kamarnya yang hangat oleh cinta dan kasih sayang. Istri dan anak laki-lakinya masih tertidur dengan pulas, mereka adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadanya. Ini adalah kesendirian yang padat dan syahdu, posisi yang terbalik; biasanya istrinya yang melihat dia dan jagoan kecilnya sedang tertidur, lalu istrinya membaluri kedua laki-laki yang tengah tidur itu dengan do’a. Dinding kamarnya penuh dengan foto si jagoan kecil, dan detak jam terus berbunyi. 

Anggi menarik nafas dalam-dalam, lalu melihat betapa damainya wajah kedua orang yang sangat dicintainya itu. Betapa Tuhan telah begitu banyak memberinya anugerah, di hidupnya yang pernah merasakan kesedihan, ternyata Tuhan menggantinya dengan banyak hal yang lebih baik. Kemudian tanpa sengaja, pikirannya terlempar ke masa-masa penuh perjuangan, ke masa-masa ketika usia (sangat) mudanya dipertaruhkan dengan kesungguhan dan kerja keras.            

Dia terkenang dengan rute yang dulu setiap hari dilalui, dengan dada yang gembung oleh semangat, setiap hari, setiap pagi, dia taklukkan kelok-kelok jalan yang menghubungkan dua titik; Gatsu-Kanayakan. Tangannya perlahan menjadi terbiasa dengan alat-alat mekanik yang keras dan pekerjaan yang penuh resiko. Di situ, di bengkel praktikumnya yang dipenuhi manusia berseragam biru, tidak sejengkal pun semangatnya dia biarkan menghilang. Anggi sadar, di kampusnya, masa muda bukanlah soal menyalurkan adrenalin dengan tumbal waktu yang terbuang dan kemalasan, melainkan hari-hari penuh teori hitungan, tugas, dan latihan. Dan dia sudah siap untuk itu, dari awal dia selalu berjaga di garis depan, mamacu dirinya untuk senantiasa menjadi formula ideal antara usaha dan do’a.

Jejentik jam terus berputar, menggilas waktu yang tercecer di belakang. Sudah hampir shubuh, istrinya terlihat menggerakkan badan sebelum akhirnya terlelap lagi. Jagoan kecilnya belum bangun, di malam yang mulai dijemput pagi, anak kecil itu seperti tidak mau mengganggu ayahnya dengan tangis yang pecah, dia seperti tahu bahwa ayahnya baru saja bermesraan dengan Tuhan, dan sekarang tengah bermesraan dengan dirinya sendiri. Di luar, embun mulai hinggap di daun jambu, mangga, dan rambutan. Embun juga hadir di atap rumah, kubah mesjid, jalananan berdebu, dan semesta lainnya. Anggi belum berhenti, kini pikirannya melayang ke masa-masa SMA, dan tiba-tiba dia tersenyum sendiri. 

Masih sangat jelas dalam benaknya ketika sepatu barunya mempermalukan dia di tanah lapang, sepatu Nike kuning stabilo itu memang kurang ajar betul, skill sepakbolanya hancur dan menyentuh titik paling rendah, di tanah lapang itu, di hadapan kawan-kawannya yang bertabiat bagai gerombolan penghancur mental, dia terjatuh tanpa dijatuhkan lawan. Tawa pun pecah, dengan muka murung dia menepi ke pinggir lapang. Dia pun masih ingat pada sebuah acara di ruangan senam, ketika dia dan kawan-kawannya dianggap underdog, mereka malah bisa memberikan pembuktian terbalik, bahwa merekalah yang layak untuk keluar sebagai juara. Ingat acara itu, dia pun ingat pada cabaret. Kemudian semuanya hilang kembali, suara penjaga mesjid mulai terdengar dari pengeras suara, mengingatkan warga bahwa waktu shubuh sebentar lagi.

Sekarang yang hadir hanyalah rasa syukur. Sambil masih duduk di atas sajadah, dia kemudian mengangkat tangan dan mulai berdo’a. Setelah mendo’akan kedua orangtuanya, kedua orangtua istrinya, kemudian dia lanjutkan dengan do’a untuk keluarganya : 

“Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama”

Dan waktu shubuh akhirnya datang, muadzin mulai mengumandangkan seruan kemenangan. Ketika embun sudah mengusai bumi, Anggi mendekati tempat tidur, membangunkan istrinya. Saat mata istrinya mulai terbuka, Anggi hanya tersenyum, tak berkata apa-apa, tapi senyum itu dapat dengan mudah diterjemahkan, dalam hatinya Anggi berkata, “Bangun sayang, sudah shubuh.” [irf]