Showing posts with label Ciwaruga. Show all posts
Showing posts with label Ciwaruga. Show all posts

13 July 2021

10 Lagu Mocca untuk Ciwaruga


Barangkali kala itu pengujung 2002. Saat saya tengah mendengarkan Mocca album My Diary di kamar, kawan kosan sekaligus kakak kelas di kampus bilang, “band si Ceplok éta mah.”

Ceplok adalah Ardiansyah, peniup trombon di Mocca. Juga senior saya di kampus Politeknik Gajah Duduk. Dia sering main ke kosan kawannya. Kosan semenjana yang sebetulnya berbahaya karena menempel pada tebing yang menghubungkan jalan raya dan persawahan. Kini kosan itu telah rata dengan tanah.

Demikianlah, album pertama Mocca menemani hari-hari saya yang biasa-biasa saja. Tape pemutar kaset yang dilengkapi radio itu milik si Asep, kawan saya orang Tangerang. Kecil dan warnanya norak. Tapi biar begitu, jika sesekali si Asep membawa barangnya, saya kesepian.

Dua tahun setelah album pertamanya saya hapal di luar kepala, Mocca baru meluncurkan albumnya yang kedua: Friends (2004). Seperti My Diary (2002), album kedua juga saya beli di Borma Setiabudi, di kawasan Bandung Utara yang tidak terlalu sejuk. Tentu saja kaset pita, waktu itu belum ada CD-nya, atau barangkali saya tidak mampu membeli.

Album kedua ini saya habiskan di kosan baru, tapi masih di Ciwaruga. Saya pindah ke kosan si Asep, maksudnya satu kosan tapi beda kamar. Di sini jauh lebih sepi daripada kosan tebing. Isinya hanya bertiga: saya, si Asep, dan Ine anak Akuntansi.

Saya sudah naik ke tingkat dua, komposisi kawan sekelas telah berubah, artinya yang main ke kosan pun mengalami pergantian pemain. Faisal namanya, dipanggil Isal, sementara saya dan kawan-kawan sekelas kerap memanggilnya Iblis Molor. Ya, dia memang jago tidur.

Dia juga hapal lagu-lagu Mocca. Saya pernah berduet dengannya menyanyikan lagu “Swing It Bob!” dari album Friends. Tentu saja sambil menari Samba, Tango, dan Cha cha. Sebuah kegembiraan masa muda yang buru-buru diringkus waktu. Kini dia tetap botak dan masih mendukung Arsenal.

Kemudian tahun ketiga alias tahun terakhir kuliah pun datang. Sementara Mocca tak kunjung mengeluarkan album baru. Saya telah selesai menulis Tugas Akhir alias skripsi, lalu sidang dan lulus. Tak lama kemudian wisuda dan berpisah dengan kawan-kawan.

Dua tahun setelah saya lulus, Mocca mengeluarkan album baru: Colours (2007). Waktu itu saya telah bekerja di Jakarta. Itulah antusisme terakhirnya saya terhadap Mocca, maksudnya setelah itu saya tak lagi mengikuti album-albumnya.

Lalu Arina pergi ke Amerika dan ternyata kembali lagi. Sama seperti saya yang kadang-kadang mendengarkan kembali lagu-lagu Mocca.

Kejayaan masa muda tak akan bisa kembali lagi. Sebagian kawan telah pergi mendahului. Sebagian lagi telah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Meski demikian, 10 lagu ini kiranya dapat mengobati kerinduan kepada Ciwaruga dan kemesraan persahabatan.

Jangan heran jika 6 dari 10 lagu pilihan saya berasal dari album My Diary (2002), karena album pertamalah yang begitu istimewa berarak di lereng ingatan. 


1. Telephone


2. Secret Admirer


3. Dream


4. What If


5. And Rain Will Fall



6. Me and My Boyfriend


7. This Conversation


8. Swing It Bob!



9. The Object of My Affection



10. Let Me Go


22 January 2020

Pidi Baiq, Panasdalam, dan Robohnya Multiply Kami

Kira-kira sebelum kawan saya, si Marjo, melanjutkan kuliah ke UI di pengujung 2008, saya masih hafal beberapa lagu Pandal. Puluhan lagunya masih tersimpan di komputer Dell yang  kini baterainya sudah rusak. Lagu-lagu itu menemani saya kira-kira sejak 2003, saat masih kuliah di Ciwaruga dan nganggur di Sarijadi. 

Lagu "Mutiara Bangga" yang kini sering ditulis "Erwin", "Budak Baheula", dan tentu saja "Jatinangor" adalah tiga nomor yang paling sering diputar. Saya mendengarkan Pandal sebelum tahu mereka sering mengacungkan jari kelingking. Juga sebelum tahu jika Alga ternyata salah satu vokalisnya.    

Dulu, Pidi tak dipanggil "Ayah", tapi--setidaknya oleh saya sama si Ardi anak Teknik Energi Polban--dipanggilnya "Pak Haji" karena konon ia telah pergi ke Makkah. Lalu tiba-tiba ternyata Pak Haji punya akun Multiply yang kini telah gulung tikar.

Ketika tulisan-tulisannya di Multiply diterbitkan oleh Mizan dengan tajuk Drunken Monster, saya mulai percaya bahwa tidak semua yang dibukukan akan membawa kebaikan. Kisah-kisah dalam Drunken Monster menjadi garing dari aslinya. Penyuntingan rupanya telah menyunat cita rasa.

Masih banyak yang ingin saya tuliskan, tapi sekarang harus membersihkan dulu debu-debu naskah punya kawan-kawan. Dan Bandung masih dikuasai cuaca mendung, saya ingin makan sayur sop...

09 July 2015

POLBAN dari Kacamata Seorang Lulusan Paria


Membaca mojok.co tentang kampus-kampus, kok ya rasa-rasanya tidak ada yang menulis tentang kehidupan kampus di Bandung. Padahal jelas di Bandung juga banyak sekali ruang untuk para mahasiswa belajar. Tapi entah kemana catatan itu, teks seperti hilang di ruang hampa. Seolah anak-anak Bandung tak biasa menulis, ga doyan berlarat-larat dengan aksara. Astaghfirullah, ini adalah bahaya laten. Kondisi ini bakal menegaskan stereotif tentang Bandung yang cuma terkenal konsumtif. Iya jelas, memproduksi tulisan saja ga becus kok. Maka sebagai anak kandung kampus Bandung, saya tergerak untuk ancrub ke medan ini. Berjihad di ruang publik yang selo ini.

Saya katakan jihad sebab memang tak mudah bagi saya, yang lulus dari kampus dengan kondisi setengah alien. Memangnya Bung dan Nona tahu POLBAN? Apa coba? Tak jarang orang menyebut bahwa POLBAN adalah singkatan dari Polisi Bandung. Dan banyak lagi yang mengkerutkan kening, sebab bagi mereka nama tersebut barangkali seperti rima-rima zaman Orba.

Kondisi ini mewajibkan saya untuk bergerak taktis layaknya Menteri Penerangan, menyuluh masyarakat dengan informasi-informasi yang benar tentang kampus tercinta itu, walaupun sedikit pahit. Tak apa, toh obat juga pahit namun pada akhirnya bisa menyembuhkan. Aih, klasik sekali!

Terlahir sebagai Anak Gajah Duduk Beraroma Tentara

Ketika pemerintah dan industri merasa ada jarak yang begitu jomplang antara lulusan S1 dengan lulusan Sekolah Menengah Atas, maka lahirlah Politeknik. Lembaga pendidikan ini terutama dibentuk untuk menjadi semacam kawah candradimuka bagi para calon buruh berkualitas nomor wahid. Bagaimana tidak, pada mula kelahirannya calon mahasiswa baru ditempa dengan ospek semimiliter lengkap dengan seragam dan kepala botak khas tentara. Kemudian jam perkuliahan dibuat sangat ketat. Dari pagi sampai sore mahasiswa bertungkuslumus di bengkel-bengkel, lab-lab ujicoba, dan ruang-ruang praktek. Semuanya ikhlas demi memenuhi kebutuhan dunia industri.

Konon, lulusan POLBAN gampang diserap oleh pabrik-pabrik. Para pemilik modal tertarik dengan alumninya sebab tampil dengan wajah peranakan. Setengah gajah duduk setengah tentara. Begini penjelasannya : pada awalnya politeknik-politeknik negeri belum mampu berdiri sendiri, sebab infrastruktur dan sistem belum memadai. Maka mereka dititipkan di kampus-kampus besar yang usianya sudah bangkotan. Dan begitulah pada akhirnya, di Bandung hadir sebuah politeknik dengan nama Politeknik ITB, ya Politeknik Gajah Duduk.

Para Aktivis HMSC

POLBAN berdiri di desa Ciwaruga, sebuah desa yang terletak di perbatasan tiga wilayah; Kota Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Posisinya sebagai salahsatu jalan perlintasan para wisatawan yang hendak indehoy di Lembang dan di sekujur Bandung Utara yang adem-adem. Jam delapan malam angkutan kota sudah tidak bisa mengangkut warganya yang hendak pulang.

Kampus paling banter hidup sampai maghrib, setelah itu mati. Sisa mahasiswa yang masih berkeliaran bisa dihitung dengan jari. Mereka adalah para aktivis HMSC (Himpunan Mahasiswa Student Centre) yang sangat guyub dan selo. Ngobrol, main gitar, diskusi, makan, mandi, main domino, dan tidur di kampus. Pagi-pagi ketika hari baru datang, dan para mahasiswa serta mahasiswi tengah harum-harumnya, mereka para pejuang HMSC ini kadang masih asyik sarungan sambil ngorehan singkong yang mereka masukan ke bara sisa pembakaran tadi malam.

Mereka, anak-anak HMSC itu layaknya kaum oposan bagi ritme hidup yang kaku di kampus dengan jadwal mirip di barak tentara; dapat E satu saja bisa bikin DO. Atau nilai D melebihi tujuh biji dalam satu semester, siap-siap ditendang. SKS dipaket, dan mesti lulus tepat tiga tahun, tak boleh lebih jika nama ingin tetap harum. Toleransi setahun bagi para pemalas dan kaum lemah iman, lebih dari itu jangan harap masih bisa kuliah di sini!

Anak-anak Ndeso Calon Mesin

Diberkahi letak geografis yang posisinya di pinggiran kota, POLBAN betul-betul pas untuk menempa para peserta didiknya. Ciwaruga, sebuah desa yang dikepung oleh sawah dan kuburan, juga akses transportasi publik yang sangat minim, cocok untuk melatih mahasiswa agar tidak konsumtif. Ah sodara, bukankah Bandung yang gemerlap ini kerap menggoda tunas-tunas penerus bangsa? Maka menjauhkan bibit-bibit unggul ini dari pusat-pusat hiburan dan perbelanjaan adalah langkah mulia.

Anak-anak dicetak ndeso dari pergaulan hedonisme, yang kelak akan mereka panen jika sudah bergaji besar di pabrik-pabrik raksasa nan terkenal. Untuk sekadar tetap menjadikannya manusia, di kampus hadir beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan Organisani Intra Kampus macam BEM, Himpunan, dan lain-lain. Sementara KAMMI, HMI, LMND, dan antek-antek kepentingan politik yang lain ditentang habis-habisan. Apa perlunya mereka? Toh, arahnya sudah jelas, begitu lulus mesin-mesin industri sudah siap untuk menampung mereka. Buat apa pula ikut-ikutan politik? Maaf ga ada waktu!

***

Dari kampus inilah saya lulus beberapa tahun ke belakang sebelum tahun 2015. Tiga tahun pas, ga kurang ga lebih, dengan IPK ga jelek-jelek amat. Lumayanlah sebagai balasan bagi kuliah yang tidak terlalu serius, alias asal lulus. Beberapakali sempat bekerja di tempat oranglain, namun nganggur juga ga sebentar, sisanya menghabiskan waktu dengan menulis hal-hal yang saya sukai. Kawan-kawan telah moncer di pabrik-pabrik besar dan lembaga-lembaga pemerintah dengan tingkat kesejahteraan yang bikin calon mertua keras hati lumer pendiriannya. Saya memang tidak suka penyeragaman, jadi menempuh jalan hidup yang berbeda.

Bagi almamater, saya barangkali seorang lulusan paria. Kacingcalang kalau kata orang Sunda, alias penerus tradisi yang tidak diharapkan kehadirannya karena terkena cacat bawaan. Tak apa, toh saya juga tetap punya kontribusi dengan menuliskan ini. Menyuarakan almamater agar orang-orang tak salah lagi dengan menyebutnya sebagai Polisi Bandung. [ ]      

Ingatan yang Berarak di Pujasera POLBAN

26 February 2015

Ngawanohkeun Maněh di Radio Ardan


Poě Seněn kamari, tegesna ping 23 Pěbruari 2015, kuring jeung opat babaturan nu sějěn ti Komunitas Aleut diondang ku Radio Ardan pikeun ngeusi hiji acara nu diběrě jejer #BdgBgt (Bandung Pisan). Saenyana ěta těh lain nu munggaran pikeun Komunitas Aleut mah, sabab saměměhna kungsi ogě diondang ku Ardan dina waktu jeung acara nu sarua, nyaěta ping 28 Oktober 2013.

Naha cenah basana makě “ngawanohkeun” lain “ngenalkeun”? Ceuk pamanggih kuring; dina umur nu geus lumayan lila (ampir salapan taun), Komunitas Aleut pikeun warga Bandung mah pantesna kudu geus aya di tingkat “wanoh” lain kakara di “kenal” wungkul.

Naon alesanna? Kahiji, sabab unggal minggu, tegesna unggal poě Ahad sok aya waě acara ngaleut anu dina prakna tangtu ngulampreng di sababraha juru Kota Bandung, ieu pastina gě sok katempo ku warga Bandung. Nu kadua, apan anyeuna těh jaman geus sakieu majuna, ngawawarkeun běja gě geus teu usum makě toa di masigit (iwal ngumumkeun nu maot), tah hal ieu tangtu diigělan ogě ku Komunitas Aleut ku nyieun sababaraha akun mědia sosial, di antarana waě; twitter, facebook, instagram, path, jeung sajabana.

Ardan těh nyaěta hiji radio nu geus kakoncara pisan di sakuliah Bandung mah, lamun seug aya urang Bandung nu teu apal Ardan tangtu matak hělok. Radio nu miboga frěkuěnsi di 105,9 ieu těh pada dipakarěsěp ku budak ngora utamana dina acara Nightmare Side (carita jurig nu matak purinding puringkak), jeung geus lila deuih ieu acara těh. Kuring gě ti mimiti baheula kuliah di Ciwaruga geus apal kana acara ieu mah.

Atuh basa Komunitas Aleut rěk siaran těh ceuk kuring asa pas pisan. Keur mah nu ngaděngě Ardan těh lolobana budak ngora, katurug-turug deuih hayang ngawanohkeun sajarah ka budak ngora. Dina prakna, nyaěta pukul 10 peuting, barudak katut kuring geus daratang ka Jalan Cipaganti atawa Wiranatakusumah. Di buruan Ardan ngariung sajongjonan. Aya Vecco, Arya, Daniya, Gita, jeung kuring.

Teu lila sup ka jero nu tuluy ditampa ku Kang Handi jeung Těh Eiza. Ngobrol heula sakeudeung sabari maca skrip, tuluy asup wěh ka rohangan nu buni ku kaca pikeun siaran. Rumasa kaasup anyar kěněh jeung can loba kanyaho, kuring mah teu pati loba catur pikeun ngajelaskeun, lolobana mah Arya we jeung Vecco, kajaba kordinator těh maraněhna mah pan geus lila di Komunitas Aleut-na gě, tangtu leuwih rěa kanyahona.

Kurang leuwih 1,5 nepika 2 jam siaran těh, lumayan rada lila, jadi loba ogě běja nu bisa ditepikeun ka “insan muda” (kanca kaum dangu Radio Ardan). Ti mimiti sajarah nepika kumaha carana mun hayang gabung jeung milu ilubiung jeung Komunitas Aleut, kaběh Alhamdulillah katepikeun. Atuh ditempo dina twitter gě teu saeutik nu milu ngabandungan.

Jam 23.59 tengah peuting acara běrěsan. Tuluy dipoto heula jang dokuměntasi. Sanggeus amit atuh bral wě pada balik ka imah sěwang-sěwangan. Kuring balik ka Sarijadi, Vecco balik ka Jl. Logam makě karěta angin atawa sapědah (euweuh kacapě jelema těh). Nu tiluan deui mah teuing baralik ka mana, kuring teu apal.

Nuhun pisan ka Radio Ardan anu tos kersa siaran sareng Komunitas Aleut, mugi kapayun tiasa langkung cool and lovely. [ ]


Foto : Arsip @handiARDAN

15 January 2015

Sepotong Kenangan di Setiabudhi


 Sunyi itu duka

Sunyi itu kudus

Sunyi itu lupa

Sunyi itu lampus

—Amir Hamzah


Sekali ini, di jalanan yang padat merayap dan rintik hujan yang entah kapan akan berhenti, saya merasa sunyi.
Begitu belok dari arah Jl. Gegerkalong Hilir dan masuk ke Jalan Dr. Setiabudhi, jalanan sudah mulai basah. Antrian kendaraan memanjang sampai ke Rumah Mode.
***
Jalan Dr. Setiabudhi sesungguhnya cukup familiar buat saya, dulu semasa kuliah sering melewati jalan ini. Kampus dan kosan saya letaknya di Ciwaruga, dan saya sering memilih lewat Gegerkalong Hilir daripada lewat Sarijadi ataupun Cimahi. Maklum orang Sukabumi, kalau bis berhenti di terminal Leuwi Panjang memang lebih enak langsung naik DAMRI jurusan Leuwi Panjang – Ledeng yang sudah uzur dan mengeluarkan asap pekat dari pantatnya, saya bisa langsung turun di mulut Jalan Gegerkalong Hilir.
Ada beberapa kenangan di Jalan Dr. Setiabudhi ini. Dulu waktu kaset masih berjaya,Borma adalah pilihan utama saya untuk belanja musik. Beberapa kaset yang masih saya ingat di antaranya : Kompilasi Viking Persib Club, Iwan Fals, PHB, Blur, Fastball, The Cardigan, The Corrs, Padi, dan Pure Saturday.
Selain itu, ATM BNI yang letaknya sebelum Borma sering jadi andalan kalau ATM yang di kampus sedang rusak. Pernah suatu kali waktu saya mau ngambil uang, sebelumnya seorang ibu baru selesai dengan keperluannya dari dalam ATM tersebut. Nah, pas saya mau memasukan kartu, ternyata kartu si ibu tadi masih tertinggal di dalam. Asal tahu saja, dulu setiap transaksi yang hendak dilakukan tidak meminta pin berulang-ulang seperti sekarang, yang artinya kalau saja saya berniat menguras uang si ibu tadi, hal tersebut akan sangat mudah. Tapi saya merasa ngeri sehingga akhirnya memanggil si ibu tadi unuk mengambil kartunya yang tertinggal.
Ada perasaan lega setelah kejadian itu, ternyata sisi baik saya masih lebih dominan dibandingkan dengan sisi buruknya.
Selain kartu yang tertinggal, saya juga pernah menemukan sekantong kolak pisang yang masih hangat di mesin ATM tersebut. Waktu itu sedang bulan puasa, mungkin ada seseorang yang habis belanja untuk ta’jil lalu mengambil uang, dan waktu keluar dia lupa dengan belanjaannya. Meskipun harga kolak tidak seberapa, namun entah kenapa saya waktu itu tidak mengambilnya. Hanya dibiarkan saja, lagi pula tidak orang orang di sekitar, jadi tidak bisa menebak-nebak siapa sebenarnya pemilik kolak pisang yang masih hangat itu.
Di Jalan Dr. Setiabudhi juga saya biasanya membeli koran dan majalah. Tukang jualannya nge-lapak di sisi kiri persimpangan Jl. Gegerkalong Hilir – Jl. Setiabudhi. Yang paling sering saya beli adalah tabloid (kemudian menjadi majalah) Marketing yang sering muncul tulisan Hermawan Kertajaya. Kemudian beralih ke majalah Mix. Kedua majalah tersebut sama-sama membahas dunia pemasaran dan penjualan. Meski tak selalu paham semua apa yang ditulis di kedua media itu, namun saya termasuk rajin membeli setiap kali edisi baru terbit. Tadinya sih diniatkan untuk menambah pengetahuan dan membantu dalam mengerjakan tugas-tugas kampus, namun tetap saja prestasi akademik saya gak bagus-bagus amat.
Namun sore ini segala kenangan itu menguap ditelan jalanan yang menyebalkan. Macet di tengah hujan mengapungkan perasaan sunyi. Manusia-manusia sibuk keluar-masuk pusat perbelanjaan mode. Mata saya nanar menatap perempuan-perempuan bercelana pendek sambil menenteng belanjaan, dalam gumam : “euweuh katiris awėwė tėh…”
Sejak di Jl. Dr. Setiabudhi bawah dibangun banyak pusat mode, macet seperti ingin sambung-menyambung sampai Lembang. Seingat saya, dulu yang selalu macet parah di akhir pekan itu hanya dari Ledeng sampai ke Lembang, namun kini tembus sampai ke persimpangan Setiabudhi – Cihampelas – Babakan Siliwangi, bahkan macet sampai juga ke arah Ciumbuleuit.
Yang paling terkenal di jajaran pusat niaga mode itu memang Rumah Mode, namun saya lebih sering menyebutnya sebagai Rumah Macet.
Saat hampir sampai di Jl. Cihampelas, saya berbelok ke kiri. [ ]

04 January 2015

Suatu Pagi dari Ciwaruga


Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya yang sangat terkenal; Sepotong Senja untuk Pacarku, menulis begini :
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata.
Tadinya saya ingin meniru Seno, sengambil sepotong pagi dan memasukannya ke dalam amplop yang tertutup rapat. Namun tak bisa, lagi pula catatan ini bisa jadi hanya sekadar kata-kata.
***
Ciwaruga. Nama ini tidak asing buat saya. Dulu waktu masih kuliah, saya ngekos di daerah ini, tepatnya di dekat persimpangan POLBAN-Ciwaruga-Cimahi. Pondok Barak nama kosannya, letaknya persis di sebuah tebing yang curam, di belakang-bawah jejeran warung nasi, warung kopi, warung buah-buahan, bengkel, dan pangkalan ojeg. Baru-baru tak jauh dari persimpangan itu ada juga pos polisi kecil yang setiap bulan ada seorang polisi yang menyambangi kosan saya untuk bertemu dengan bapak Rauf (pengurus kosan), entah untuk apa. Konon mengambil “uang jajan” karena kosan kami yang juga kabar burung; listriknya “ngambil dari belakang”.
Sekilas orang-orang akan ngeri jika melihat kosan saya, maklum saja di tebing itu dibangun puluhan kamar dengan pondasi yang terlihat kurang menyakinkan. Saya pun dulu kadang-kadang merasa ngeri, membayangkan bagaimana jika tiba-tiba terjadi longsor.
Kata orang-orang, daerah ini dinamakan Ciwaruga sebab di sana terdapat banyak sekali kuburan. Waruga artinya jasad, ya jasad yang sudah ditanam di dalam tanah. Memang saya juga pernah melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa di Ciwaruga memang terdapat banyak kuburan.
Saya pernah pindah kosan ke daerah Ciwaruga bagian atas dekat persimpangan yang mau ke Gegerkalong Hilir. Di halaman belakang kosan saya yang baru itu adalah makam keluarga, jadi kalau saya menjemur baju otomatis kaki menginjak kuburan. Namun karena mungkin sudah terbiasa, saya tidak merasa takut.
Tapi itu sudah lewat hampir sepuluh tahun yang lalu, sebab sekarang saya tinggal di Ciwaruga lebih atas lagi yang arah ke Parongpong, tak jauh dari batas desa. Penghuni resmi kontrakan ini sebenarnya teman saya, namun karena dia sedang pulang ke Sukabumi, maka saya bisa leluasa menempatinya.
Suatu pagi, tepatnya hari Jum’at, karena bosan di kontrakan, dengan menunggangi sepeda motor saya memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke atas, ke arah Parongpong.
Mula-mula saya berhenti di daerah Cigugur Girang untuk makan semangkok bubur ayam. Ada sedikit kecewa; buburnya tidak enak, encer betul. Lagi pula bumbunya kurang banyak. Tapi lumayan juga untuk mengganjal perut yang kosong dan menghangatkan tubuh dari cuaca yang cukup dingin.
Jalanan menuju Parongpong rusak; berlubang dan berdebu. Di kiri kanan jalan rumah-rumah penduduk tidak terlalu banyak, tapi menjadi catatan tersendiri buat saya yaitu mulai menjamurnya cluster dan villa di sepanjang jalan tersebut. Memang semakin ke atas pemandangannya semakin bagus, kota Bandung yang dikelilingi gunung di sebelah selatan dapat terlihat dengan jelas. Kabut yang muncul malu-malu dari sesela gunung dan bukit menambah keindahan pemandangan.
Cigugur Girang ini boleh dikatakan adalah sebuah perkampungan dan jauh dari pusat kota, namun saya kaget waktu mengetahui bahwa di pinggir jalan yang tidak terlalu besar dan berlubang itu, terdapat sebuah minimarket modern (entah Alfamart atau Indomaret, saya lupa lagi) dan ATM BCA.
Tak jauh dari sana, The Peak sudah menanti. Di sinilah tempat yang paling pas untuk melihat pemandangan di selatan. Kemudian saya melewati Cihideung yang terkenal dengan kebun bunganya. Tiba-tiba saya ingat Ajip Rosidi yang dulu pernah mukim di daerah Cihideung, namun tepatnya entah di mana. Terus ke utara sampailah saya di sebuah simpang jalan antara Cihideung-Cisarua-Ledeng, tepatnya tak jauh dari terminal Parongpong, dan jalannya bernama Kolonel Masturi. Memang jalan itu kalau diteruskan ke kanan akan tembus ke terminal Ledeng, dan kalau ke kiri akan menuju ke Cisarua yang ujungnya akan tembus ke Padalarang.
Saya mengambil ke kiri, tak jauh dari sana saya melewati komplek militer yang bernama Denkavkud (Datasemen Kavaleri Kuda).  Lalu ada juga Universitas Advent, konon kampus ini adalah kampus teologi. Baik Denkavkud maupun kampus Universitas Advent, sama-sama terlihat rapi dan asri. Dari kampus Advent pemandangan ke selatan sungguh sempurna.
Jalanan kemudian menurun dan memasuki kawasan yang rimbun dengan pepohonan, saya agak mengenalnya, dan ternyata tak jauh dari rimbun pepohonan itu terdapat obyek wisata Curug Cimahi yang dulu sekira tahun 2008 pernah saya kunjungi. Kali ini saya tidak singgah, namun memilih melanjutkan perjalanan.
Di sebelah kanan jalan terdapat Rumah Sakit Jiwa yang cukup luas. Tadinya saya mau foto gerbang utamanya, namun ada dua orang satpam yang berjaga, takut dilarang akhirnya saya urungkan. Di sebelah rumah sakit tersebut terdapat semacam bumi perkemahan, dan di seberang jalan ada komplek rumah yang entah diperuntukkan bagi siapa, mungkin untuk karyawan rumah sakit.
Semakin ke barat udara semakin dingin, lagi pula hujan rintik-rintik mulai turun. Pada sebuah minimarket saya berhenti untuk membeli rokok, tak jauh dari SMP Negeri Cisarua. Kepada karyawan minimarket yang berjenis perempuan saya bertanya ihwal jalan. “Kalau terus ke barat akan tembus ke Padalarang Pak,” jawabnya. Dia menyebut saya bapak, padahal saya belum tua-tua amat; baru 30 lebih dua tahun.
Kemudian perjalanan berlanjut, dan sampailah saya di sebuah persimpangan dekat Sekolah Polisi Cisarua. Sebelum persimpangan tersebut terdapat penunjuk jalan yang menyebutkan bahwa kantor Bupati Bandung Barat berada di sebelah kiri persimpangan. Namun saya tak melanjutkan, melainkan putar balik ke arah Parongpong.
***
Sebelum meluncur langsung ke Ciwaruga, di dekat Denkavkud saya berhenti dulu untuk ngopi. Mantap betul, gorengan dan kopi hitam ditambah rokok adalah perpaduan yang pas di cuaca sedingin itu. Di sebelah saya duduk dua orang tentara yang sedang asyik ngobrol, mungkin mereka habis olahraga jika dilihat dari pakaiannya.
Tak jauh dari warung kopi ternyata ada markas Viking Parongpong, sayang tempatnya lagi tutup. Setelah membayar akhirnya saya kembali ke Ciwaruga.
Perjalanan di sepotong pagi itu cukup mengesankan, sebab saya dimanjakan dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Meskipun dulu pernah tinggal selama tiga tahun di Ciwaruga, namun perjalanan kali ini adalah yang pertama. Dan saya ingin mengulanginya. [irf]
Angkot yang melewati Ciwaruga adalah sebagai berikut :
  1. Cimahi – Ledeng (warna hijau)
  2. Gerlong – POLBAN (warna hijau)
  3. Sarijadi – Parongpong (warna kuning)
  4. Sarijadi – Pasantren (warna biru)

11 November 2014

Yang Bergerak di antara Puncak, Jarak, dan Debur Ombak (Prolog)


“Kau ada nasi tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan.” Demikian yang diucapkan Pram waktu datang ke rumah Ajip Rosidi di tahun 50-an. Waktu itu Ajip mengontrak rumah di daerah Kramat Pulo, Jakarta Pusat. Dan pada suatu siang, waktu dia mengetik di ruang depan, terdengar pintu rumahnya diketuk. Waktu ia membuka, Pramoedya Ananta Toer muncul di balik pintu. Karena istri Ajip sedang pulang kampung, maka yang ada hanya nasi dingin tanpa lauk-pauk, lalu Pram makan nasi tersebut hanya dengan mentega.

Kalau ada kawan, yang saya berani berbicara kepadanya seperti Pram bertanya soal nasi kepada Ajip, maka orang itu adalah bung Bawal. Entah kenapa saya selalu tak pernah merasa sungkan untuk meminta tolong dan bantuan kepada dia, sampai pada soal mengisi isi perut sekali pun. Rasa-rasanya dia sudah saya anggap seperti saudara kandung sendiri.

***

Apabila waktu telah sempurna menggerogoti usia, dan ingatan mulai tercerabut dari kenangan masa muda, maka beberapa paragraf yang terbuhul dalam catatan ini barangkali bisa membantu, mungkin sekadar menepismu dari mengerutkan dahi atau menggaruk kepala demi mengingat suara yang ada di ujung ponsel, atau memastikan siapa orang yang berdiri di depanmu itu.

Kita telah selesai membicarakan kecemasan tentang masa depan, tepat sehari setelah buku Laskar Pelangi berada di genggaman. Di halaman 455 formula absurd mencuatkan kebenarannya. “Satu titik dalam relativitas waktu; saat inilah masa depan itu.” Maka apa-apa yang akan dinarasikan selanjutnya, lebih kepada jejalin cerita yang berarak di belakang. Waktu ibarat busur yang ditarik dan siap dilepaskan menembus parade milisekon kejadian yang tidak bisa diulang dalam presisi yang mengagumkan.

Seorang esais di tweetland pernah menghimpun sejumlah catatan ke dalam buku yang dijadikannya sebagai cinderamata di hari pernikahannya. Judulnya tak kurang dari : Traffic Blues; Saat Hujan Menderas dan Jalanan Mulai Tergenang. Dalam segugus keyakinan, saya percaya bahwa tak ada yang lebih puitic melebihi huruf yang hidup. Saya tak sepenuhnya dibesarkan oleh angka-angka, bahkan saya telah memproklamasikan diri di penghujung masa sekolah, bahwa eksakta bukan jalan yang akan saya lalui. 

Prolog ini dimaksudkan sebagai apologi, atau mungkin basa-basi, bahwa saya tidak bisa hadir langsung di hari pernikahanmu; di hari perjanjian yang kuat itu.

Setelah ini pun saya tetap minta maaf, bahwa paragraph selanjutnya adalah parade kata tentang jenak-jenak waktu yang telah banyak mengabarkan peristiwa. Demikian.
Kalau ada rokok di tangan, boleh kita sebatang lagi.

***

Saya bukan sejenis kawan yang pandai menulis surat dengan diksi yang syahdu penuh penghormatan layaknya Hamka dalam roman Di Bawah Lindungan Ka’bah. Begini beliau menulis :

“Sudah saya terima surat Sahabat yang terkirim bulan yang lalu. Mula-mula saya sangat bersedih hati, sebab semenjak kita bercerai-cerai di Jedah, tak pernah saya menerima surat dari engkau lagi. Tetapi setelah surat itu saya terima dan saya baca, hilanglah kesedihan dan kedukaan hati dan merawankan pikiran, yang kerap kali benar kejadian dalam kalangan pemuda-pemuda kita.”    

Tidak. Surat semacam itu hanya dihasilkan oleh seorang ulama cum sastrawan yang kenyang pengalaman di palagannya.  Saya hanya datang dalam compang-camping bahasa, belajar pun baru sehari-dua, tak punya keunggulan di wilayah itu. Tapi jika saya tak silap, bung tentu masih ingat, siapa yang bermain gitar di lorong kosan pak Rauf itu? Malam-malam pula.

Dengan wajah memprihatinkan, seorang pemuda berani-beraninya memainkan beberapa lagu dalam takaran fals yang menjengkelkan, ah tentu saja : itulah bung sendiri!.

Ciwaruga tidak pernah sama lagi setelah itu. Sebab ada yang menghabiskan kacang dalam kondisi sakit gigi menahun, atau kasur busa yang dibuang setelah ada yang muntah dan tumbang di atasnya. Ikan asin memang menyebalkan, dibuatnya seisi perut keluar lagi dengan syahdu, lalu tertawa kekuda-kudaan. Sementara seorang kawan yang kelebihan berat badan doyan sekali nitip membeli makan, dan tak lupa ada seorang pemuda gondrong tanggung yang keranjingan mendengarkan lagu Utopia; Sampai Habis Waktu.

Mula-mula, layaknya layangan yang diproyeksikan angin, kau sewujud anak muda yang gemar menaklukkan puncak-puncak gunung. Tak kurang dari Semeru, Slamet, Sindoro, Sumbing, sampai Rinjani pernah kau daki. Jangan tanya saya ihwal Manglayang, bukankah puncak tak terlalu tinggi itu sudah menjadi rumah kedua bagi kawan-kawan bersyal merah? Ah, maafkan saya yang terlampau payah waktu kita bertiga dengan seorang kawan kosan Sarijadi mencoba menyapa Manglayang.

Dalam kondisi kaki yang sakit, saya bahkan tak sempat ingat sesobek puisi Idhan Lubis yang terkenal itu. Selera melankolik menguap entah ke mana. Padahal dengan posisi saya yang baru saja terjungkal dari medan laga pekerjaan, dan kau masih berjuang dengan beban akademik yang menekan, barangkali cocok juga kalau mengutip puisi itu. Tak lebih begini bunyinya :

Turuti kelok-kelok jalan
Atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan

Kini puncak-puncak yang pernah kau taklukkan tengah merindukan anak kandungnya sendiri: seorang pecinta alam yang tak pernah mendandani diri dengan basa-basi. Perjalanan adalah obat mujarab bagi jiwa yang sibuk meladeni rutinitas. Ayahmu bilang, “pergilah jalan-jalan, lepaskan kejenuhanmu itu.” [irf]  

18 October 2013

Mencari Pahlawan Indonesia

Buku ini hilang. Kehilangan buku adalah salah satu seni dalam usaha belajar mencintai tulisan. Jadi tak perlulah kau menangisi buku-buku yang hilang itu, bukankah kau awalnya tidak punya apa-apa?. Tapi memang harus diakui, bahwa orang yang memperlakukan buku dengan tidak bertanggungjawab, bukanlah orang yang nyaman untuk diajak berkawan. Tapi, sikap apa yang lebih baik selain mema’afkan?. Kawan adalah nutrisi abadi, yang kalau dijadikan permen, maka akan saya habiskan sedikit demi sedikit, biar tidak cepat hilang.

Di majalah Tarbawi, di halaman paling belakang, ada rubrik yang bernama Thumuhat (Gelora) yang diisi oleh tulisan-tulisan Anis Matta. Dari kumpulan kolom ini, kini sudah terbit dua buku : “Mencari Pahlawan Indonesia” dan “Serial Cinta”, saya sedang membicarakan yang pertama. Serial kepahlawanan yang kemudian dibukukan ini, sudah lama saya incar, sebab banyak sekali edisi yang saya tidak mengikutinya alias ketinggalan. Maka bergiatlah saya ke toko buku, tapi hasilnya nihil. Sampai akhirnya sebuah poster memberitahu : Pameran Buku Bandung di Jalan Braga.

Mencari buku itu, benar-benar seperti mencari pahlawan Indonesia masa kini : cukup susah. Mungkin jalur distribusinya kurang kuat, makanya bisa begitu. Secara fisik, ukuran bukunya kecil, sehingga harganya pun tidak begitu tinggi, kalau gak salah, harganya 25 ribu. Tidak lebih dari satu hari, buku itu habis saya baca. Lalu disimpan di lemari excel, lalu kamar kostan di Ciwaruga diserang oleh banyak betul mahasiswa : seremonial ngopi, ngerokok, nonton, game, baca buku, nyontek tugas, main gitar, nyanyi-nyanyi, dan buang abu rokok ke atap sebuah sekolah dasar. Dan hilanglah buku itu entah ke mana.

Tapi saya masih ingat : kumpulan tulisan Anis Matta itu seperti menyodorkan sebuah proposal, bahwa tugas kita bukan hanya sebagai penonton sejarah, tapi juga harus sebagai pelaku sejarah. Mencari pahlawan sesungguhnya pencarian ke dalam diri sendiri. Watak dan karakter seorang pahlawan bukanlah sebuah mimpi yang menggantung di langit tinggi, tapi pembangunan kesadaran di semesta diri. Dengan bahasa yang padat dan pilihan kata yang bagus, buku ini bisa menjadi sumbu, sebagai awal sebelum ledakan.

Apakah kau pantas menjadi pah(a)la-wan?. [ ]

03 September 2012

Anggi di Atas Sajadah


Anggi tidak mengerti, kenapa ibu membawa dia, kakak, dan adiknya pindah ke kota yang lebih sepi. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti. Waktu itu, waktu ibunya dengan setengah tergesa membawanya pergi, yang dia lihat hanya mendung dan rusuh di wajah ibu. Anggi ingin menangis, tapi tidak tahu menangis untuk apa, perasaannya tidak menentu. Lalu mobil mulai berjalan dan membawanya menyusuri jalan yang sempit dan macet. Ketika jalan yang menyebalkan itu habis, dia menghirup hawa segar dan udara terasa dingin di tubuhnya. Di sini, di kota barunya yang sepi dan kecil, bersama ibu dan dua orang saudaranya, dia memulai hidup baru. Langkah pertama untuk menggapai semua mimpinya dia lakukan di kota ini.

***      

Masih jelas dalam ingatanku waktu dia berucap, “Pes, aku tidak bermaksud untuk menggurui atau menasehatimu, tapi anggap saja ini saran dari seorang kawan,” aku terdiam tidak mengerti dengan ucapannya. Dia terdengar menarik nafas panjang, lalu berucap lagi, “Pes, bapakmu mengirim kamu ke sini, sekolah ke kota ini, pasti dengan menaruh banyak harapan. Kepercayaannya padamu sungguh luar biasa. Bayangkan, dari daerah, kamu dikirim ke sini untuk menuntut ilmu dengan setiap bulannya disangoni biaya yang tidak sedikit. Nah, maksudku, jangan sampai kepercayaan bapakmu itu kamu sia-siakan. Jangan sampai kamu bermalas-malasan untuk belajar, atau terlalu banyak bermain tak jelas sehingga pelajaranmu banyak ketinggalan.”

Dia sangat tipikal; rajin dan pandai menyaring pergaulan. Anak-anak betah berlama-lama ngobrol dengannya, apalagi kalau ada tugas yang belum selesai, dia pasti dikerubuti. Prestasinya gilang gemilang, ini tidak lepas karena cara belajarnya yang militant. Pernah suatu hari saya dan kawan-kawan yang lain datang ke rumahnya, mau numpang makan sekalian baca-baca majalah bola. Di siang yang terik dan berangin pelan, waktu seperti itu seharusnya pantas untuk dijadikan tidur siang, tapi saya mendapatkannya  tengah mengerjakan PR matematika dan belajar rumus-rumus fisika. Saya mencoba mengikuti kegiatannya, tapi malah pusing, saya buntu, dan sejak itu saya tahu bahwa pelajaran eksak bukan jalan saya. 

Waktu anak-anak mulai belajar merokok, dia tak bergeming. Asap cigarette telah dikutuk untuk menjauhinya, asap racun itu tidak pernah berhasil mengotori paru-parunya yang disesaki oleh nafas penuh semangat. Dia tahu, ibunya akan sangat kecewa jika mendapatinya tengah menghisap rokok, dan karena dia tak mau menyakiti perasaan ibunya, maka dia menjauh dari penghasil cukai terbesar itu. Sebenarnya sikap dia tidak terlalu berbeda dengan kawan-kawan yang lain, tapi saya dapat melihat, dalam dirinya ada semangat yang tak kunjung padam, ada mimpi-mimpi yang tersimpan dengan rapi, dan dia tengah berusaha untuk mewujudkan semuanya.

Selepas SMA kami sangat jarang bertemu, meskipun kuliah pada kota yang sama. Dia di politeknik, saya di politeknik. Dia eksak, saya tata niaga. Dan jalan hidup manusia tidak pernah disetting sama, kami menempuh jalan, kejadian, dan pengalaman yang berbeda. Sekali bertemu dia sempat cerita, bahwa selepas SMA dia diterima di tiga politeknik yang berbeda, lalu kakaknya bilang, “Anggi, kamu mau belajar atau mau main?, kalau kamu mau benar-benar belajar maka pilihlah Politeknik Kanayakan.” Dan Anggi menuruti nasehat kakaknya, lalu selama tiga tahun dia tenggelam dalam seragam biru di dalam bengkel. Waktu saya baru lulus dari Politeknik Ciwaruga, dalam masa menganggur yang menyesakkan,  kami bertemu lagi. Dia sedang berlibur dari tempat kerjanya di Borneo. Senyumnya tidak berubah, masih seperti dulu, dia selalu mengklaimnya sebagai “senyum Pepsodent”, saya diam saja setiap mendengar klaimnya itu, tak apalah, yang penting kawan senang. Lalu setelah itu kami lama tidak bertemu, sebelum April 2009 menghentikannya.

***

Kini Anggi tengah duduk di atas sebuah sajadah, pada seperempat malam yang sunyi, di kamarnya yang hangat oleh cinta dan kasih sayang. Istri dan anak laki-lakinya masih tertidur dengan pulas, mereka adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepadanya. Ini adalah kesendirian yang padat dan syahdu, posisi yang terbalik; biasanya istrinya yang melihat dia dan jagoan kecilnya sedang tertidur, lalu istrinya membaluri kedua laki-laki yang tengah tidur itu dengan do’a. Dinding kamarnya penuh dengan foto si jagoan kecil, dan detak jam terus berbunyi. 

Anggi menarik nafas dalam-dalam, lalu melihat betapa damainya wajah kedua orang yang sangat dicintainya itu. Betapa Tuhan telah begitu banyak memberinya anugerah, di hidupnya yang pernah merasakan kesedihan, ternyata Tuhan menggantinya dengan banyak hal yang lebih baik. Kemudian tanpa sengaja, pikirannya terlempar ke masa-masa penuh perjuangan, ke masa-masa ketika usia (sangat) mudanya dipertaruhkan dengan kesungguhan dan kerja keras.            

Dia terkenang dengan rute yang dulu setiap hari dilalui, dengan dada yang gembung oleh semangat, setiap hari, setiap pagi, dia taklukkan kelok-kelok jalan yang menghubungkan dua titik; Gatsu-Kanayakan. Tangannya perlahan menjadi terbiasa dengan alat-alat mekanik yang keras dan pekerjaan yang penuh resiko. Di situ, di bengkel praktikumnya yang dipenuhi manusia berseragam biru, tidak sejengkal pun semangatnya dia biarkan menghilang. Anggi sadar, di kampusnya, masa muda bukanlah soal menyalurkan adrenalin dengan tumbal waktu yang terbuang dan kemalasan, melainkan hari-hari penuh teori hitungan, tugas, dan latihan. Dan dia sudah siap untuk itu, dari awal dia selalu berjaga di garis depan, mamacu dirinya untuk senantiasa menjadi formula ideal antara usaha dan do’a.

Jejentik jam terus berputar, menggilas waktu yang tercecer di belakang. Sudah hampir shubuh, istrinya terlihat menggerakkan badan sebelum akhirnya terlelap lagi. Jagoan kecilnya belum bangun, di malam yang mulai dijemput pagi, anak kecil itu seperti tidak mau mengganggu ayahnya dengan tangis yang pecah, dia seperti tahu bahwa ayahnya baru saja bermesraan dengan Tuhan, dan sekarang tengah bermesraan dengan dirinya sendiri. Di luar, embun mulai hinggap di daun jambu, mangga, dan rambutan. Embun juga hadir di atap rumah, kubah mesjid, jalananan berdebu, dan semesta lainnya. Anggi belum berhenti, kini pikirannya melayang ke masa-masa SMA, dan tiba-tiba dia tersenyum sendiri. 

Masih sangat jelas dalam benaknya ketika sepatu barunya mempermalukan dia di tanah lapang, sepatu Nike kuning stabilo itu memang kurang ajar betul, skill sepakbolanya hancur dan menyentuh titik paling rendah, di tanah lapang itu, di hadapan kawan-kawannya yang bertabiat bagai gerombolan penghancur mental, dia terjatuh tanpa dijatuhkan lawan. Tawa pun pecah, dengan muka murung dia menepi ke pinggir lapang. Dia pun masih ingat pada sebuah acara di ruangan senam, ketika dia dan kawan-kawannya dianggap underdog, mereka malah bisa memberikan pembuktian terbalik, bahwa merekalah yang layak untuk keluar sebagai juara. Ingat acara itu, dia pun ingat pada cabaret. Kemudian semuanya hilang kembali, suara penjaga mesjid mulai terdengar dari pengeras suara, mengingatkan warga bahwa waktu shubuh sebentar lagi.

Sekarang yang hadir hanyalah rasa syukur. Sambil masih duduk di atas sajadah, dia kemudian mengangkat tangan dan mulai berdo’a. Setelah mendo’akan kedua orangtuanya, kedua orangtua istrinya, kemudian dia lanjutkan dengan do’a untuk keluarganya : 

“Rabbana hablana min azwajina wadzurriyatina qurrata a’yun waj’alna lil muttaqina imama”

Dan waktu shubuh akhirnya datang, muadzin mulai mengumandangkan seruan kemenangan. Ketika embun sudah mengusai bumi, Anggi mendekati tempat tidur, membangunkan istrinya. Saat mata istrinya mulai terbuka, Anggi hanya tersenyum, tak berkata apa-apa, tapi senyum itu dapat dengan mudah diterjemahkan, dalam hatinya Anggi berkata, “Bangun sayang, sudah shubuh.” [irf]