Showing posts with label Lembang. Show all posts
Showing posts with label Lembang. Show all posts

13 November 2019

Nasib Renta Teleskop Zeiss Bosscha Jelang Satu Abad


Polusi cahaya di Lembang kini menjadi tantangan terbesar bagi Observatorium Bosscha yang selesai dibangun pada 1928 atau 90 tahun lalu.

Carl Zeiss lahir di Weimar, Jerman, pada 11 September 1816. Ia adalah pakar optik yang pada 1846 mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang sistem optik di Kota Jena. Perusahaan inilah yang pada 1921, dikunjungi oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang juragan perkebunan teh di Malabar, Bandung, Jawa Barat.

Bersama koleganya, J. Voute, Bosscha memesan sebuah teleskop fotografik dengan diameter 60 cm dan panjang fokus sekitar 11 meter, untuk digunakan di observatorium yang hendak dibangun di daerah Lembang, Bandung Utara. Teleskop tersebut diyakini merupakan instrumen yang tepat untuk melakukan pengamatan paralaks bintang.

Atas permintaan J. Voute, sebuah teleskop visual yang identik ditambahkan sehingga menghasilkan dua buah teleskop yang dapat bekerja mandiri dalam satu buah tabung. Kelak, teleskop refraktor ganda yang dipesan ini dikenal dengan sebutan Teleskop Zeiss.

Rencana pembuatan observatorium diputuskan pada rapat pertama Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging atau Perhimpunan Astronom Hindia Belanda. Pada pertemuan tersebut, Bosscha bersedia menjadi penyandang dana utama. Observatorium yang mulai dibangun pada 1923 itu berdiri di sebidang tanah yang disumbangkan oleh keluarga Ursone, pemilik perusahaan susu bernama Baroe Adjak.

Warsa 1928, atau tujuh tahun sejak pemesanan, Teleskop Zeiss yang dibawa oleh kapal Kertosono milik Rotterdamsche Llyod, akhirnya tiba di Pelabuhan Tanjung Priok. Kapal itu membawa 27 peti berisi bagian-bagian dari teleskop besar. Peti-peti seberat 30 ton dilayarkan secara gratis dari Belanda yang selanjutnya dibawa ke Bandung dengan menggunakan kereta api.

Dari Bandung, perjalanan dilanjutkan ke Lembang dengan menggunakan sejumlah kendaraan milik pasukan Zeni. Bagian Konstruksi dan Bangunan Jembatan Jawatan Kereta Api (Staatspoorwagen) bertugas menyetel teleskop di dalam bangunan kubah besar yang telah disiapkan.

Pemasangan teleskop menghabiskan waktu beberapa bulan. Setelah selesai dipasang, pada 7 Juni 1928 diselenggarakan acara peresmian Teropong Kubah Besar Zeiss. Acara tersebut dihadiri oleh Gubernur Jenderal Belanda, Andries Cornelis Dirk de Graef, yang kemudian memberikan bintang kehormatan kepada Bosscha.

Pengamatan Bintang Ganda

Dalam rilis tertulis yang dipublikasikan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung (FMIPA ITB) selaku pengelola Observatorium Bosscha, disebutkan bahwa salah satu fungsi Teleskop Zeiss adalah untuk mengamati bintang ganda.

Program yang telah dimulai sejak 1924 ini merupakan program prioritas sejalan dengan laju perkembangan ilmu fisika bintang saat itu. Mula-mula pengamatan bintang ganda di Observatorium Bosscha dilakukan secara visual menggunakan mata telanjang. Para astronom melihat langsung posisi bintang ganda dari teleskop, lalu menentukan posisi dan jarak pisahnya dengan bantuan mikrometer.

Mulai 1946 Teleskop Zeiss dilengkapi dengan plate holder yang dapat menyangga plat fotografi di bidang fokus teleskop. Sejak itu, pengamatan fotografi dimulai hingga pengujung 1999, saat plat fotografi tak lagi diproduksi dan pengamatan beralih menggunakan kamera digital.

Hasil pengukuran posisi bintang ganda tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah dan dimuat dalam katalog bintang ganda, di antaranya di Washington Double Star Catalog, dan Database of Visual Double Star Observed at Bosscha Observatory.

Dalam mini museum yang berada di kompleks Observatorium Bosscha dijelaskan bahwa bintang ganda adalah pasangan bintang yang bergerak di sekitar pusat massa sistem di bawah tarikan gravitasi bersama. Pada banyak kasus, bintang-bintang itu bergerak dalam bentuk orbit elips yang dijelaskan dalam hukum Kepler.

Pengamatan bintang ganda sangat penting bagi astronomi karena informasi tentang gerak sistem hasil interaksi kedua komponen bintang, memungkinkan perhitungan massa bintang. Pengamatan ini memungkinkan penghitungan orbit untuk penentuan massa bintang. Selanjutnya, pengetahuan ini dapat dipakai untuk pengujian teori evolusi bintang.

Mahasena Putra, Lektor Kepala di FMIPA ITB dan mantan Direktur Observatorium Bosscha menjelaskan teori evolusi bintang salah satunya untuk menentukan massa bintang, yang selanjutnya dipakai untuk meramal masa depan bintang.

Jika massa sebuah bintang diketahui, maka keberakhirannya dapat dihitung. Semakin besar massa bintang ketika dilahirkan, maka umurnya akan semakin pendek karena reaksi nuklir di dalamnya akan semakin kencang, yang menyebabkan bintang tersebut cepat meledak dan mati.

Bintang terbentuk dari awan yang bertebaran di alam semesta—bukan awan yang barada di dalam atmosfer bumi—yang mengandung hidrogen, helium dan lain-lain. Mereka akan berkumpul, berputar, dan semakin padat, lalu terbentuklah bintang. Bintang yang lahir atau terbentuk ini mempunyai massa yang berbeda-beda. Seperti halnya makhluk hidup, bintang mengalami kelahiran, bertambah tua dan mati.

Sebagai contoh, imbuh Mahasena Putra, matahari yang merupakan bintang dilahirkan 4,5 miliar tahun yang lalu, dan kini memasuki tengah umur. Ia diperkirakan akan mati 4,5 miliar tahun yang akan datang.

"Bintang seperti matahari [yang massanya ketika dilahirkan kecil] umurnya bisa sampai 9-10 miliar tahun. Kalau bintang yang massanya besar bisa hanya 10 juta tahun, [reaksi nuklirnya] boros, 10 juta tahun akan mati, meledak,” ucapnya.

Perawatan si Zeiss

Teleskop Zeiss merupakan teleskop paling besar dan tertua di Observatorium Bosscha. Meski begitu, performanya masih prima dan masih dapat terus diandalkan. Hal ini tidak terlepas dari perawatan yang dilakukan secara telaten.

Mochamad Irfan, Staf Sains dan Pendukung di Observatorium Bosscha yang bertanggungjawab merawat teleskop tersebut menjelaskan bahwa secara garis besar perawatan ditujukan pada tiga hal, yakni sistem mekanik, sistem kelistrikan, dan sistem optik.

“Secara prinsip sih sederhana, tapi karena ukurannya masif maka pengerjaan [perawatannya] biasanya memakan waktu berhari-hari,” ujarnya.

Teleskop Zeiss yang berada pada bangunan berkubah rancangan Charles Prosper Wolff Schoemaker—yang juga merancang Masjid Cipaganti, Hotel Preanger, Villa Isola, dll—yang sangat ikonik, dilengkapi dengan lantai yang dapat bergerak naik turun. Lantai ini biasanya dinaikkan sampai batas maksimal untuk membersihkan Teleskop Zeiss yang posisinya ditidurkan.

Selain ukurannya yang besar, udara Lembang yang lembab pun menjadi tantangan tersendiri bagi para staf dalam melakukan perawatan teleskop.

Dalam keseharian, setelah dipakai para pengamat bintang, para staf juga selalu memastikan semua benda terletak pada tempatnya dan berfungsi sebagaimana mestinya. Hal ini, imbuh Irfan, dilakukan karena lupa atau lalai bisa menimpa siapa saja, termasuk para pengamat bintang yang memakai ruangan tersebut.

Dalam beberapa peristiwa gempa, meski tidak pernah terjadi kerusakan, para staf di Observatorum Bosscha selalu memeriksa sejumlah bagian di ruangan tempat Teleskop Zeiss berada, untuk memastikan tidak ada kerusakan atau pergeseran sistem mekanik yang bisa membahayakan.

Belakangan, di lantai pertama ruangan berbentuk lingkaran itu dilengkapi dengan peredam suara. Menurut Irfan, agar percakapan di satu sisi tidak terdengar terlalu nyaring di sisi lainnya. Hal ini terbukti saat saya naik ke lantai berikutnya yang tidak dilapisi peredam suara. Percakapan di sisi yang berseberangan dengan posisi saya berdiri, meski dilakukan secara pelan, terdengar sangat jelas.

Perawatan teleskop di kompleks Observatorium Bosscha tidak hanya dilakukan di dalam ruangan, di bagian luar pun rutin dilakukan pembersihan, pengecatan, dan penambalan jika ada atap yang bocor. Saat saya berkunjung, tembok luar bangunan berkubah tempat Teleskop Zeiss berada terlihat cerah karena belum lama dilakukan pengecatan ulang.

“Sekarang [pengecatan tembok] pakai cat yang mahal, karena jika pakai cat murah biasanya hanya bertahan lima tahun,” pungkasnya.

Tantangan Polusi Cahaya

Kondisi pencahayaan, khususnya di sekitar observatorium sangat berpengaruh terhadap hasil pengamatan. Langit yang bersih diperlukan agar pengamatan optimal. Jika pencahayaan lampu tidak ditata dengan baik, maka akan menyebabkan polusi cahaya yang akan mengganggu proses pengamatan astronomi.

Lembang yang dulu merupakan daerah yang sepi, sebagaimana daerah-daerah lain di Bandung Raya, mengalami perkembangan permukiman yang signifikan yang akhirnya menimbulkan polusi cahaya. Hal ini membuat Observatorium Bosscha mendapat tantangan yang tak mudah demi menjaga keberlangsungan perkembangan sains di Indonesia.

Untuk menjawab tantangan ini, ITB selalu pengelola Observatorium Bosscha menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah Jawa Barat, instansi-instansi terkait, dan masyarakat untuk menjamin perlindungan terhadap kawasan ini melalui pelbagai aturan dan imbauan.

Perlindungan terhadap Observatorium Bosscha, secara fisik maupun—secara implisit—pengaturan tata cahaya di sekitarnya, juga tercantum dalam Peraturan Presiden No. 45 Tahun 2018 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung.

Pada pasal 61 ayat 2 menetapkan Observatorium Bosscha sebagai salah satu cagar budaya dan ilmu pengetahuan yang dilindungi. Sementara pasal 99 tentang arahan peraturan zonasi untuk kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, poin (e) menyebutkan ketentuan untuk kawasan Observatorium Bosscha, yakni (1) ditetapkan dengan radius 2,5 kilometer dari Observatorium Bosscha, (2) ketentuan teknis lain lebih lanjut diatur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.

Namun sayang, Perpres yang terdiri dari 121 pasal tersebut tidak secara gamblang menyebut soal pengaturan tata cahaya di sekitar Observatorium Bosscha. Aturan ini hanya disebut dalam pasal 99 poin (e) bagian 2 dengan redaksional “ketentuan teknis lain lebih lanjut diatur sesuai dengan ketentuan perundang-undangan”, yang barangkali bisa ditafsirkan meliputi soal aturan tata cahaya.

Ikhtiar lain yang dilakukan oleh Observatorium Bosscha untuk mengurangi cahaya lampu adalah dengan membagikan tudung lampu kepada masyarakat sekitar yang fungsinya agar pijar cahaya tidak mengarah ke atas yang dapat mengganggu kejernihan langit.

Tahun 2015, saat Direktur Observatorium Bosscha dijabat oleh Mahasena Putra, saya bersama kawan-kawan dari Komunitas Sahabat Bosscha sempat ikut membagikan tudung lampu itu kepada masyarakat.

Di sebuah lapangan tak jauh dari SD Negeri Merdeka yang beralamat di Jalan Peneropongan Bintang, di sela pembagian dan pemasangan tudung lampu, seorang kawan berujar, “[Pembagian tudung lampu] ini seperti menabur garam di laut ya.”

Ungkapannya tentu saja pesimistis, tapi barangkali itulah cara dia merespons polusi cahaya yang sudah sangat masif, dan menentukan nasib keberadaan observatorium. Bisa jadi lokasi observatorium Bosscha Lembang akan digantikan di lokasi observatorium baru skala nasional yang kini sedang disiapkan
 di Kupang, NTT. (irf)



Ket:

- Tayang pertama kali di tirto.id pada 3 Desember 2018

21 April 2017

Ngaleut Gunung Héjo




Beberapa bulan ini Komunitas Aleut jarang melakukan ngaleut dalam kota, diganti dengan momotoran ke beberapa tempat di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Konon ada yang berkomentar dengan nada sinis, ”keur resep ngadatangan tempat angker jeung jujurigan anyeuna mah.” Barangkali benar belaka apa yang pernah dikicaukan seorang kawan, “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.”

Minggu, 16 April 2017, melintasi 5 kota dan kabupaten (Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang), momotoran hendak menuju Gunung Héjo dan Bukit Patenggéng. Dua tempat ini terlihat jelas dari tol Cipularang, dan kerap mengundang rasa penasaran: yang satu khas hutan hujan tropis, dan satu lagi gersang berbatu.

Sekira 15 motor bersiap dari Kedai Preanger, Jl. Solontongan-Buahbatu, sementara satu motor lagi menunggu di daerah Cimindi. Perjalanan seperti biasa aduhai, kecuali ketika melintas di ruas jalan Gado Bangkong: ada razia kendaraan dari kepolisian. Beberapa kawan berdegup kencang, termasuk saya.


Ketika masuk Purwakarta, rombongan beberapa kali berhenti untuk bertanya arah jalan kepada warga. Ya, google maps terbaik adalah manusia: ada sapa, senyum, dan nuhun. Sampai di sini barangkali jelas, kami menemui manusia bukan jurig.

Dari ruas jalan utama yang menghubungkan Bandung dan Purwakarta, rombongan berbelok ke Darangdan, kemudian berbelok lagi ke sebuah jalan desa yang semakin menyempit. Jalan aspal habis diganti makadam. Makadam habis diganti tanah. Tanah habis diganti lagi makadam kecil, mirip setapak. Dan berakhir di pinggir jalan tol. Buntu.

Deru mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi, pembatas jalan, dan perbukitan mengingatkan saya pada 3 Hari untuk Selamanya. Film garapan Riri Riza yang menceritakan sepasang sepupu yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta itu punya satu adagen di jalan tol. Yusuf yang diperankan oleh Nicholas Saputra sempat kencing di pinggir Cipularang yang berbukit.

“Lewat sudah tiga hari tuk selamanya / dan kekallah detik-detik di dalamnya / Tunggu sejuta rasa di hati / yang dulu diingkari / Mungkinkah cinta itu di sana / dua hati merekah...”


Tiga orang datang, baru pulang dari ladang. Sambil membawa petai dan diiringi beberapa anjing mereka bertanya, “mau pada ke mana?” Mereka lalu menyarankan agar motor kami diparkir agak menjauh dari jalan tol. “Rawan di sini mah, belum lama ini ada yang hilang motor,” ujarnya. Beberapa kawan lalu memutuskan untuk tidak ikut jalan ke Gunung Héjo, mereka memilih menunggu motor: kurang makan, kurang minum, kurang rokok, ngantuk, dan jomblo.  

Di kejauhan, Gunung Héjo nampak anggun: rimbun dan teduh. Tempat ini dikenal sebagai wilayah penuh mistis. Konon tempat orang-orang melakukan pesugihan atau munjung dalam bahasa Sunda. Pembangunan jalan tol Cipularang pun tidak lepas dari kisah angker Gunung Héjo. Cerita lisan mengabarkan bahwa rencana pembangunan jalan tol seharusnya menggerus gunung tersebut, namun beberapa kali gagal, sampai akhirnya ruas jalan tol dibelokkan. Beberapa kecelakaan lalu lintas sempat terjadi tak jauh dari Gunung Héjo, hal ini tentu semakin menyuburkan kisah mistis.

Kami berjalan menyusuri pinggir jalan tol yang becek sehabis hujan. Kemudian masuk lorong gelap di bawah jalan yang lembab. Dinding dipenuhi coretan, dan terdengar gemericik air. Dari ujung lorong terlihat undakan yang melemaskan lutut. Ditingkahi udara panas, kami mulai berjalan naik. Keringat membanjir, beberapa kawan nampak seperti baru terjatuh ke sungai: basah kuyup.

Suara burung, tonggeret, dan entah binatang apa lagi menyambut kami. Hawa sejuk mulai menelusup. Sebelum sampai di puncak, ada tangga yang terbuat dari besi ringan berwarna hijau. Kondisinya sudah tidak terlalu baik, pegangannya ringkih dan bergoyang. Setelah tangga habis dilewati, kami disambut pepohonan besar dan tua dengan diameter batang yang melebihi tubuh dua orang manusia. Bebatuan hijau dilapisi lumut. Tanah gembur ditaburi daun-daun yang membusuk.


Nafas tersengal dan putus-putus ketika akhirnya kami sampai di sebuah petilasan. Di papan informasi tertulis bahwa petilasan ini adalah tempat bertemunya Prabu Siliwangi dan Kian Santang, anaknya. Ada sebuah batu dibalut kain putih yang konon merupakan sumbat puseur dayeuh (pusat kota), dan sebuah pondok kecil untuk sekadar duduk serta merebahkan badan. Sedikit bergeser ke Utara, nampak sepetak tanah dilindungi plastik putih, kiranya tempat berteduh orang-orang yang menginap.

Di sekitar petilasan, tepatnya di tebing menuju jurang, sampah berkuasa. Jejak manusia yang tak terbantahkan. Ada juga beberapa botol air mineral yang dipenuhi cairan berwarna kuning tua dan jingga. Apakah itu air seni? Saya tak tak bisa memastikan.

Deru mobil terdengar sampai puncak, merusak suasana hutan yang teduh dan sejuk. Seorang kawan sibuk mencatat nama-nama tumbuhan, hasilnya tak kurang dari 130 jenis. Ada baduyut, kawao, cangkuang, gadung, kosambi, dll. Di tempat yang diselubungi misteri, alam seringkali terlindungi. Manusia takut pamali.

Sekitar pukul dua, kami turun dan kembali ke tempat parkir motor. Persediaan air minum semakin menipis, sementara wajah-wajah masih dibakar matahari. Perjalananan dilanjutkan menuju Patenggéng.


“Sadatang ka kabuyutan / meuntas di Ci Saunggalah / leumpang aing ka baratkeun / datang ka Bukit Pategeng / sakakala Sang Kuriang / masa dek nyitu Ci Tarum”

“Sesampai ke tempat suci / nyebrang di Ci Saunggalah / aku berjalan ke arah Barat / datang ke Bukit Patégéng / sakakala Sang Kuriang / waktu akan membendung Ci Tarum”

Bujangga Manik, anak mahkota Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang merupakan rahib pengelana, menuliskan perjalanannya dengan menyebut banyak sekali nama tempat, salah satunya Patégéng. Salah seorang penulis buku Bandung Purba yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya mencoba mengoreksi nama Patégéng yang disebutkan oleh Bujangga Manik.

Dengan diawali dua kata “Saya menduga”, penulis tersebut menjelaskan bahwa Patégéng seharusnya Patenggéng. Nama itu dikaitkan dengan bentuk bukit tersebut yang tegéng atau tengéng, yang dalam bahasa Sunda dipakai untuk menggambarkan tubuh yang pinggangnya lebih melengkung ke dalam.

Dugaan ini saya kira lemah. Karena bentuk bukit yang terlihat tegéng atau tengéng hanya terlihat dari arah tol Cipularang, sedangkan dari arah lain, misalnya kampung Citukung, bentuk bukit tersebut sama sekali tidak tegéng, malah mengerucut. Sedangkan tol Cipularang sendiri baru selesai dibangun pada 2005 menyambut peringatan Konferensi Asia Afrika ke-50 di Bandung. Selain itu, sebaran permukiman warga pun jarang di wilayah yang membuat bukit tersebut terlihat tegéng.

Di luar toponimi tersebut, dari perspektif geologi, Patenggéng merupakan sumbat lava dari sebuah gunung purba yang meletus jutaan tahun yang lalu. Lava yang hendak keluar keburu membeku dan membentuk batuan. Hujan menghancurkan lapisannya yang rapuh, dan menyisakan batuan keras Patenggéng sekarang.


Kami duduk di pinggir sawah, di atas batuan andesit di kampung Citukung. Beberapa kawan mengguyur kepala dengan air yang mengalir ke sawah dan berbau karat. Obrolan ringan berlangsung ditemani asupan air yang baru dibeli oleh dua orang kawan. Hamparan sawah hijau kekuning-kuningan, rahmat bagi petani di sekitar Patenggéng.

Hari semakin sore dan kami tersadar belum makan siang. Darurat pangan selamat di Jalan Sawit-Bojong, Kampung Cijolang, Desa Linggasari, Kecamatan Darangdan. Sate maranggi, goreng ayam, dan mie instant menjadi menu pilihan. Seorang kawan yang kelaparan (mukanya terlihat pucat) menghabiskan duapuluh tusuk sate. Ketika bayar, si ibu penjual kaget dan tersenyum, “itu teh sendiri atau berdua, neng?”

Sebelum gelap, menjelang sore dijemput malam, perjalanan dilanjutkan ke arah Wanayasa. Setelah salat magrib, hujan mulai turun. Beberapa kawan tidak punya jas hujan, tapi perjalanan harus terus berlanjut. Penglihatan kawan-kawan yang memakai kacamata minus cukup terganggu, termasuk saya. Pedoman hanya lampu belakang motor yang di depan. Sebelum Sagalaherang, motor seorang kawan terjatuh dilanggar ketinggian aspal. Tak ada yang terluka, hanya kaget mendera.


Kami akhirnya sampai di Jalan Cagak, lalu berbelok ke arah Lembang. Dingin. Dingin menekan mendesak. Di Ciater kami berhenti untuk sekadar mengisi perut dengan nasi dan kopi. Lembang yang kami khawatirkan macet ternyata lancar belaka. Para wisatawan mungkin sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Pengisian bensin terakhir dilakukan di Jalan Setiabudi sebelum Cihampelas.

Di titik ini kami berpisah. Sebagian kawan berbelok ke arah Babakan Siliwangi, sebagian lagi ke arah Cihampelas. Tiba di titik awal, di Kedai Preanger, kami langsung minum kopi dan tertawa berderai-derai.              

Rute perjalanan hari itu adalah Buahbatu, Cimahi, Padalarang, Cikalongwetan, Sawit, Wanayasa, Sagalaherang, Jalan Cagak, Ciater, Lembang, Buahbatu. Total jarak yang ditempuh sekira 160 km. Kami ingin melakukannya lagi, dan lagi. [irf]

09 July 2015

POLBAN dari Kacamata Seorang Lulusan Paria


Membaca mojok.co tentang kampus-kampus, kok ya rasa-rasanya tidak ada yang menulis tentang kehidupan kampus di Bandung. Padahal jelas di Bandung juga banyak sekali ruang untuk para mahasiswa belajar. Tapi entah kemana catatan itu, teks seperti hilang di ruang hampa. Seolah anak-anak Bandung tak biasa menulis, ga doyan berlarat-larat dengan aksara. Astaghfirullah, ini adalah bahaya laten. Kondisi ini bakal menegaskan stereotif tentang Bandung yang cuma terkenal konsumtif. Iya jelas, memproduksi tulisan saja ga becus kok. Maka sebagai anak kandung kampus Bandung, saya tergerak untuk ancrub ke medan ini. Berjihad di ruang publik yang selo ini.

Saya katakan jihad sebab memang tak mudah bagi saya, yang lulus dari kampus dengan kondisi setengah alien. Memangnya Bung dan Nona tahu POLBAN? Apa coba? Tak jarang orang menyebut bahwa POLBAN adalah singkatan dari Polisi Bandung. Dan banyak lagi yang mengkerutkan kening, sebab bagi mereka nama tersebut barangkali seperti rima-rima zaman Orba.

Kondisi ini mewajibkan saya untuk bergerak taktis layaknya Menteri Penerangan, menyuluh masyarakat dengan informasi-informasi yang benar tentang kampus tercinta itu, walaupun sedikit pahit. Tak apa, toh obat juga pahit namun pada akhirnya bisa menyembuhkan. Aih, klasik sekali!

Terlahir sebagai Anak Gajah Duduk Beraroma Tentara

Ketika pemerintah dan industri merasa ada jarak yang begitu jomplang antara lulusan S1 dengan lulusan Sekolah Menengah Atas, maka lahirlah Politeknik. Lembaga pendidikan ini terutama dibentuk untuk menjadi semacam kawah candradimuka bagi para calon buruh berkualitas nomor wahid. Bagaimana tidak, pada mula kelahirannya calon mahasiswa baru ditempa dengan ospek semimiliter lengkap dengan seragam dan kepala botak khas tentara. Kemudian jam perkuliahan dibuat sangat ketat. Dari pagi sampai sore mahasiswa bertungkuslumus di bengkel-bengkel, lab-lab ujicoba, dan ruang-ruang praktek. Semuanya ikhlas demi memenuhi kebutuhan dunia industri.

Konon, lulusan POLBAN gampang diserap oleh pabrik-pabrik. Para pemilik modal tertarik dengan alumninya sebab tampil dengan wajah peranakan. Setengah gajah duduk setengah tentara. Begini penjelasannya : pada awalnya politeknik-politeknik negeri belum mampu berdiri sendiri, sebab infrastruktur dan sistem belum memadai. Maka mereka dititipkan di kampus-kampus besar yang usianya sudah bangkotan. Dan begitulah pada akhirnya, di Bandung hadir sebuah politeknik dengan nama Politeknik ITB, ya Politeknik Gajah Duduk.

Para Aktivis HMSC

POLBAN berdiri di desa Ciwaruga, sebuah desa yang terletak di perbatasan tiga wilayah; Kota Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Posisinya sebagai salahsatu jalan perlintasan para wisatawan yang hendak indehoy di Lembang dan di sekujur Bandung Utara yang adem-adem. Jam delapan malam angkutan kota sudah tidak bisa mengangkut warganya yang hendak pulang.

Kampus paling banter hidup sampai maghrib, setelah itu mati. Sisa mahasiswa yang masih berkeliaran bisa dihitung dengan jari. Mereka adalah para aktivis HMSC (Himpunan Mahasiswa Student Centre) yang sangat guyub dan selo. Ngobrol, main gitar, diskusi, makan, mandi, main domino, dan tidur di kampus. Pagi-pagi ketika hari baru datang, dan para mahasiswa serta mahasiswi tengah harum-harumnya, mereka para pejuang HMSC ini kadang masih asyik sarungan sambil ngorehan singkong yang mereka masukan ke bara sisa pembakaran tadi malam.

Mereka, anak-anak HMSC itu layaknya kaum oposan bagi ritme hidup yang kaku di kampus dengan jadwal mirip di barak tentara; dapat E satu saja bisa bikin DO. Atau nilai D melebihi tujuh biji dalam satu semester, siap-siap ditendang. SKS dipaket, dan mesti lulus tepat tiga tahun, tak boleh lebih jika nama ingin tetap harum. Toleransi setahun bagi para pemalas dan kaum lemah iman, lebih dari itu jangan harap masih bisa kuliah di sini!

Anak-anak Ndeso Calon Mesin

Diberkahi letak geografis yang posisinya di pinggiran kota, POLBAN betul-betul pas untuk menempa para peserta didiknya. Ciwaruga, sebuah desa yang dikepung oleh sawah dan kuburan, juga akses transportasi publik yang sangat minim, cocok untuk melatih mahasiswa agar tidak konsumtif. Ah sodara, bukankah Bandung yang gemerlap ini kerap menggoda tunas-tunas penerus bangsa? Maka menjauhkan bibit-bibit unggul ini dari pusat-pusat hiburan dan perbelanjaan adalah langkah mulia.

Anak-anak dicetak ndeso dari pergaulan hedonisme, yang kelak akan mereka panen jika sudah bergaji besar di pabrik-pabrik raksasa nan terkenal. Untuk sekadar tetap menjadikannya manusia, di kampus hadir beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan Organisani Intra Kampus macam BEM, Himpunan, dan lain-lain. Sementara KAMMI, HMI, LMND, dan antek-antek kepentingan politik yang lain ditentang habis-habisan. Apa perlunya mereka? Toh, arahnya sudah jelas, begitu lulus mesin-mesin industri sudah siap untuk menampung mereka. Buat apa pula ikut-ikutan politik? Maaf ga ada waktu!

***

Dari kampus inilah saya lulus beberapa tahun ke belakang sebelum tahun 2015. Tiga tahun pas, ga kurang ga lebih, dengan IPK ga jelek-jelek amat. Lumayanlah sebagai balasan bagi kuliah yang tidak terlalu serius, alias asal lulus. Beberapakali sempat bekerja di tempat oranglain, namun nganggur juga ga sebentar, sisanya menghabiskan waktu dengan menulis hal-hal yang saya sukai. Kawan-kawan telah moncer di pabrik-pabrik besar dan lembaga-lembaga pemerintah dengan tingkat kesejahteraan yang bikin calon mertua keras hati lumer pendiriannya. Saya memang tidak suka penyeragaman, jadi menempuh jalan hidup yang berbeda.

Bagi almamater, saya barangkali seorang lulusan paria. Kacingcalang kalau kata orang Sunda, alias penerus tradisi yang tidak diharapkan kehadirannya karena terkena cacat bawaan. Tak apa, toh saya juga tetap punya kontribusi dengan menuliskan ini. Menyuarakan almamater agar orang-orang tak salah lagi dengan menyebutnya sebagai Polisi Bandung. [ ]      

Ingatan yang Berarak di Pujasera POLBAN

27 May 2015

Komunitas Aleut : Diajar Sejarah Sabari Leuleumpangan


Mun seug dibandingkeun jeung kota-kota nu aya di basisir kayaning Jakarta, Cirebon, Semarang jeung Surabaya, Bandung mah kaasup kota nu kaitung anyar kěněh. Tapi angger wě sok sanajan kitu, ari nu ngaranna kota mah pasti miboga sejarah. Kiwari di Bandung aya sababaraha komunitas nu sok nalumtik ajěn inajěn sejarah Bandung ku cara nu leuwih popilěr. Salahsahijina nyaěta Komunitas Aleut.

Naon ari Komunitas Aleut těh? Kumaha kagiatanna?

Ridwan Hutagalung, Dirěktur Program Radio Mestika FM Bandung, kungsi nyieun acara “Afternoon Café” di radio tempatna gawě. Acara nu diayakeun saminggu sakali ěta sok rajeun ngabahas sejarah Kota Bandung nu sumberna lolobana dicokot tina buku karangan Haryoto Kunto, nyaěta Wadjah Bandoeng Těmpo Doeloe jeung Semerbak Bunga di Bandung Raya.

Tuluy dina tahun 2005, mahasiswa UNPAD Jurusan Sejarah rěk ngayakeun ospěk. Kusabab geus bosen mun acara ospěk dieusi ku hal nu biasa, nya panitia ahirna nyieun acara ospěk těh ku ngadatangan tempat-tempat nu bersejarah di Kota Bandung, tah acara ieu dina prak-prakanna Ridwan diajakan ku panitia pikeun ilubiung. Kusabab mahasiswa těh katempona měrě rěspon anu alus, nya ti dieu tuluy kapikiran pikeun ngadegkeun hiji komunitas. Taun 2006 komunitas diadegkeun nu dingaranan Komunitas Aleut.

Nepika anyeuna, sanggeus kurang leuwih salapan taun, Komunitas Aleut unggal poě Ahad sok masih aprak-aprakan, ngaleut mapay-mapay unggal Juru Kota Bandung khususna, atuh sa-Bandung Raya umumna pikeun nalumtik sejarah. Atuh anggotana gě geus rupa-rupa anyeuna mah, lain ngan ukur mahasiswa. Dina wanci salapan taun ěta geus teu kaitung naon waě anu geus didatangan těh.

Geus karuhan ari mapay gedung-gedung jieunan Walanda mah; samodel Gedung Merdeka, de Vries, Vissěr, Homann, Gedung Balěkota, Gedung Pakuan, Gedung Bank Děnis, jeung sajabana. Lian ti ěta, patempatan anu rada anggang ti kota ogě kungsi sababaraha kali didatangan, kayaning Situ Cisanti, Makam Bosscha di Pangalěngan, Teropong Běntang di Lěmbang, rěl kareta api anu geus teu dipakě nepika Ciwiděy, komplěk tentara di Cimahi, jeung masih rěa deui. Malah mah kungsi ogě ka Ciletuh di Sukabumi anu cenah rěk dijieun situs wisata gěologi ku pamarěntah.

Katompěrnakeun, kusabab ampir kaběh nu aya dina buku ngeunaan Bandung geus didatangan, nya anyeuna sok rajeun maluruh tempat-tempat anu can loba kacatet dina buku, itung-itung sabari diajar liputan. Nu pang anyarna nyaěta nyukcruk Kordon; boh pasarna, masigit, curug Ĕcě, jeung erěl karěta api urut, kaběh diguar babarengan. Atuh teu katinggaleun sabari ngaleut těh sok tunyu-tanya ka kolot-kolot anu susuganan leuwih apal kana sejarah daěrahna sorangan.

Tina hasil ngaleut ěta ku anggotana sok tuluy dijieun tulisan jeung diwawarkeun dina sababaraha sosial mědia; blog, twitter, jeung facebook. Kusabab ngaranna gě sabari diajar, tangtu waě tulisan-tulisan těh sipatna amatiran, lain catetan sejarah anu beurat. Jang ngaronjatkeun pangabisa dina hal tulisan, nya sababarahakali diayakeun workshop nulis pikeun ngasah anggota Komunitas Aleut dina nyatetkeun naon waě pamanggihna salila aleut-aleutan. Anyeuna dina blog aleut.wordpress.com geus leuwih ti 600 tulisan anu geus diwawarkeun, kaasup di jerona #PojokKAA2015 anu eusina ngeunaan hajat KAA anu kakara běrěs kamari.

Dina hajat Konpěrěnsi Asia-Afrika, Komunitas Aleut puguh wě teu mopohokeun, malah mah bisi disebut rikat pisan. Ti tanggal 6 April mula, Komunitas Aleut mah geus nyieun tulisan dina raraga nyambut KAA ěta. Jadi miěling těh enyaan, sabab ti “pra-hari H-pasca”, ngahasilkeun kurang leuwih 50 tulisan anu rencanana mah rěk dijieun buku. Pikeun Komunitas Aleut mah nulis dina raraga miěling KAA těh itung-itung nyieun arsip kota, ieu hiji kasadaran anu kudu tuluy dipirosěa.

***

Poě Sabtu kamari, tegesna ping 16 Měi 2015, Komunitas Aleut jeung Sahabat Bosscha ngayakeun kagiatan babarengan, nyaěta ngabagikeun tutup lampu nu alpukahna Obsěrvatorium Bosscha.  Tutup lampu ěta dibagikeun ka masarakat di sabudeureun peneropongan běntang Bosscha. Naon maksud jeung tujuanna ngabagi-bagikeun tutup lampu těh?

Kiwari nu ngaranna polusi těh lain ngan ukur polusi hawa, cai, atawa sora wungkul. Sorot lampu ogě nu anyeuna geus marakbak, baranang di mana mendi, tětěla geus jadi hiji polusi ogě. Tina paněnjo elmu atronomi mah lampu nu baranang těh ěstu matak ngaganggu kaěndahan langit. Baheula, mangsa listrik can aya, atawa mun běh dieunakeunna mah nu makě listrik can pati loba, tetempoan ka langit těh ěcěs pisan. Pating kariceupna běntang katempo ku panon biasa, teu kudu dibantuan ku teropong běntang ogě ěstu geus cěkas.

Matak teu aněh jelema baheula mah loba nu ngagunakeun běntang keur nangtukeun lalampahan, tataněn, jeung sajabana, da puguh gě baheula mah běntangna masih kěněh katempo jelas.

Tah tutup lampu nu dibagikeun těh tujuanna pikeun ngurangan polusi cahya. Jadi sorot lampu nu ngagebray ka mana mendi těh bisa nojo ka handap hungkul ku ayana tutup lampu mah. Tetempoan ka langit peuting nu sěrab těh bisa dikurangan ku ayana tutup lampu ieu, utamana lampu-lampu nu aya di sisi jalan, di buruan imah, jeung di mana waě nu cahyana nojo langsung ka langit.

Mun dikaitkeun jeung ělmu kasěhatan, urang bisa neren-neren deui yěn saěstuna awak jelema těh mun ti peuting mah dijieun pikeun istirahat. Enya apan baheula mah kitu; beurang jang barangsiar, ana sup peuting mah tara ieuh diparakě gawě, sok langsung wě dipakě jang sarě. Hartina ku baranangna lampu mangsa kiwari, ieu caangna geus arěk sarua jeung beurang, sok padahal awak mah geus waktuna jang direureuhkeun. Tah ku dijieunna tutup lampu ieu, itung-itung ogě ngurangan pating gebrayna lampu pikeun nyumponan kahayang awak nu geus waktuna reureuh tina barangsiar.

***


Komunitas Aleut baris milangkala dina ping 20 Měi. Salapan taun mun umur budak mah nya paling ogě kakara kelas dua atawa tilu SD, anu hartina bolostrong kěněh. Tapi sanajan kitu nya mudah-mudahan wě atuh ku nyěrělěkna waktu, beuki dieu těh beuki nambahan kanyaho, beuki ngaajěnan kana sejarah kota Bandung khususna, atuh nu utamana bisa měrě kontribusi nu alus pikeun balarěa. [ ]

Foto : Arsip Irfan TP