Showing posts with label Sarijadi. Show all posts
Showing posts with label Sarijadi. Show all posts

22 January 2020

Pidi Baiq, Panasdalam, dan Robohnya Multiply Kami

Kira-kira sebelum kawan saya, si Marjo, melanjutkan kuliah ke UI di pengujung 2008, saya masih hafal beberapa lagu Pandal. Puluhan lagunya masih tersimpan di komputer Dell yang  kini baterainya sudah rusak. Lagu-lagu itu menemani saya kira-kira sejak 2003, saat masih kuliah di Ciwaruga dan nganggur di Sarijadi. 

Lagu "Mutiara Bangga" yang kini sering ditulis "Erwin", "Budak Baheula", dan tentu saja "Jatinangor" adalah tiga nomor yang paling sering diputar. Saya mendengarkan Pandal sebelum tahu mereka sering mengacungkan jari kelingking. Juga sebelum tahu jika Alga ternyata salah satu vokalisnya.    

Dulu, Pidi tak dipanggil "Ayah", tapi--setidaknya oleh saya sama si Ardi anak Teknik Energi Polban--dipanggilnya "Pak Haji" karena konon ia telah pergi ke Makkah. Lalu tiba-tiba ternyata Pak Haji punya akun Multiply yang kini telah gulung tikar.

Ketika tulisan-tulisannya di Multiply diterbitkan oleh Mizan dengan tajuk Drunken Monster, saya mulai percaya bahwa tidak semua yang dibukukan akan membawa kebaikan. Kisah-kisah dalam Drunken Monster menjadi garing dari aslinya. Penyuntingan rupanya telah menyunat cita rasa.

Masih banyak yang ingin saya tuliskan, tapi sekarang harus membersihkan dulu debu-debu naskah punya kawan-kawan. Dan Bandung masih dikuasai cuaca mendung, saya ingin makan sayur sop...

09 July 2015

POLBAN dari Kacamata Seorang Lulusan Paria


Membaca mojok.co tentang kampus-kampus, kok ya rasa-rasanya tidak ada yang menulis tentang kehidupan kampus di Bandung. Padahal jelas di Bandung juga banyak sekali ruang untuk para mahasiswa belajar. Tapi entah kemana catatan itu, teks seperti hilang di ruang hampa. Seolah anak-anak Bandung tak biasa menulis, ga doyan berlarat-larat dengan aksara. Astaghfirullah, ini adalah bahaya laten. Kondisi ini bakal menegaskan stereotif tentang Bandung yang cuma terkenal konsumtif. Iya jelas, memproduksi tulisan saja ga becus kok. Maka sebagai anak kandung kampus Bandung, saya tergerak untuk ancrub ke medan ini. Berjihad di ruang publik yang selo ini.

Saya katakan jihad sebab memang tak mudah bagi saya, yang lulus dari kampus dengan kondisi setengah alien. Memangnya Bung dan Nona tahu POLBAN? Apa coba? Tak jarang orang menyebut bahwa POLBAN adalah singkatan dari Polisi Bandung. Dan banyak lagi yang mengkerutkan kening, sebab bagi mereka nama tersebut barangkali seperti rima-rima zaman Orba.

Kondisi ini mewajibkan saya untuk bergerak taktis layaknya Menteri Penerangan, menyuluh masyarakat dengan informasi-informasi yang benar tentang kampus tercinta itu, walaupun sedikit pahit. Tak apa, toh obat juga pahit namun pada akhirnya bisa menyembuhkan. Aih, klasik sekali!

Terlahir sebagai Anak Gajah Duduk Beraroma Tentara

Ketika pemerintah dan industri merasa ada jarak yang begitu jomplang antara lulusan S1 dengan lulusan Sekolah Menengah Atas, maka lahirlah Politeknik. Lembaga pendidikan ini terutama dibentuk untuk menjadi semacam kawah candradimuka bagi para calon buruh berkualitas nomor wahid. Bagaimana tidak, pada mula kelahirannya calon mahasiswa baru ditempa dengan ospek semimiliter lengkap dengan seragam dan kepala botak khas tentara. Kemudian jam perkuliahan dibuat sangat ketat. Dari pagi sampai sore mahasiswa bertungkuslumus di bengkel-bengkel, lab-lab ujicoba, dan ruang-ruang praktek. Semuanya ikhlas demi memenuhi kebutuhan dunia industri.

Konon, lulusan POLBAN gampang diserap oleh pabrik-pabrik. Para pemilik modal tertarik dengan alumninya sebab tampil dengan wajah peranakan. Setengah gajah duduk setengah tentara. Begini penjelasannya : pada awalnya politeknik-politeknik negeri belum mampu berdiri sendiri, sebab infrastruktur dan sistem belum memadai. Maka mereka dititipkan di kampus-kampus besar yang usianya sudah bangkotan. Dan begitulah pada akhirnya, di Bandung hadir sebuah politeknik dengan nama Politeknik ITB, ya Politeknik Gajah Duduk.

Para Aktivis HMSC

POLBAN berdiri di desa Ciwaruga, sebuah desa yang terletak di perbatasan tiga wilayah; Kota Bandung, Kab. Bandung Barat, dan Kota Cimahi. Posisinya sebagai salahsatu jalan perlintasan para wisatawan yang hendak indehoy di Lembang dan di sekujur Bandung Utara yang adem-adem. Jam delapan malam angkutan kota sudah tidak bisa mengangkut warganya yang hendak pulang.

Kampus paling banter hidup sampai maghrib, setelah itu mati. Sisa mahasiswa yang masih berkeliaran bisa dihitung dengan jari. Mereka adalah para aktivis HMSC (Himpunan Mahasiswa Student Centre) yang sangat guyub dan selo. Ngobrol, main gitar, diskusi, makan, mandi, main domino, dan tidur di kampus. Pagi-pagi ketika hari baru datang, dan para mahasiswa serta mahasiswi tengah harum-harumnya, mereka para pejuang HMSC ini kadang masih asyik sarungan sambil ngorehan singkong yang mereka masukan ke bara sisa pembakaran tadi malam.

Mereka, anak-anak HMSC itu layaknya kaum oposan bagi ritme hidup yang kaku di kampus dengan jadwal mirip di barak tentara; dapat E satu saja bisa bikin DO. Atau nilai D melebihi tujuh biji dalam satu semester, siap-siap ditendang. SKS dipaket, dan mesti lulus tepat tiga tahun, tak boleh lebih jika nama ingin tetap harum. Toleransi setahun bagi para pemalas dan kaum lemah iman, lebih dari itu jangan harap masih bisa kuliah di sini!

Anak-anak Ndeso Calon Mesin

Diberkahi letak geografis yang posisinya di pinggiran kota, POLBAN betul-betul pas untuk menempa para peserta didiknya. Ciwaruga, sebuah desa yang dikepung oleh sawah dan kuburan, juga akses transportasi publik yang sangat minim, cocok untuk melatih mahasiswa agar tidak konsumtif. Ah sodara, bukankah Bandung yang gemerlap ini kerap menggoda tunas-tunas penerus bangsa? Maka menjauhkan bibit-bibit unggul ini dari pusat-pusat hiburan dan perbelanjaan adalah langkah mulia.

Anak-anak dicetak ndeso dari pergaulan hedonisme, yang kelak akan mereka panen jika sudah bergaji besar di pabrik-pabrik raksasa nan terkenal. Untuk sekadar tetap menjadikannya manusia, di kampus hadir beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), dan Organisani Intra Kampus macam BEM, Himpunan, dan lain-lain. Sementara KAMMI, HMI, LMND, dan antek-antek kepentingan politik yang lain ditentang habis-habisan. Apa perlunya mereka? Toh, arahnya sudah jelas, begitu lulus mesin-mesin industri sudah siap untuk menampung mereka. Buat apa pula ikut-ikutan politik? Maaf ga ada waktu!

***

Dari kampus inilah saya lulus beberapa tahun ke belakang sebelum tahun 2015. Tiga tahun pas, ga kurang ga lebih, dengan IPK ga jelek-jelek amat. Lumayanlah sebagai balasan bagi kuliah yang tidak terlalu serius, alias asal lulus. Beberapakali sempat bekerja di tempat oranglain, namun nganggur juga ga sebentar, sisanya menghabiskan waktu dengan menulis hal-hal yang saya sukai. Kawan-kawan telah moncer di pabrik-pabrik besar dan lembaga-lembaga pemerintah dengan tingkat kesejahteraan yang bikin calon mertua keras hati lumer pendiriannya. Saya memang tidak suka penyeragaman, jadi menempuh jalan hidup yang berbeda.

Bagi almamater, saya barangkali seorang lulusan paria. Kacingcalang kalau kata orang Sunda, alias penerus tradisi yang tidak diharapkan kehadirannya karena terkena cacat bawaan. Tak apa, toh saya juga tetap punya kontribusi dengan menuliskan ini. Menyuarakan almamater agar orang-orang tak salah lagi dengan menyebutnya sebagai Polisi Bandung. [ ]      

Ingatan yang Berarak di Pujasera POLBAN

15 January 2015

Sepotong Kenangan di Setiabudhi


 Sunyi itu duka

Sunyi itu kudus

Sunyi itu lupa

Sunyi itu lampus

—Amir Hamzah


Sekali ini, di jalanan yang padat merayap dan rintik hujan yang entah kapan akan berhenti, saya merasa sunyi.
Begitu belok dari arah Jl. Gegerkalong Hilir dan masuk ke Jalan Dr. Setiabudhi, jalanan sudah mulai basah. Antrian kendaraan memanjang sampai ke Rumah Mode.
***
Jalan Dr. Setiabudhi sesungguhnya cukup familiar buat saya, dulu semasa kuliah sering melewati jalan ini. Kampus dan kosan saya letaknya di Ciwaruga, dan saya sering memilih lewat Gegerkalong Hilir daripada lewat Sarijadi ataupun Cimahi. Maklum orang Sukabumi, kalau bis berhenti di terminal Leuwi Panjang memang lebih enak langsung naik DAMRI jurusan Leuwi Panjang – Ledeng yang sudah uzur dan mengeluarkan asap pekat dari pantatnya, saya bisa langsung turun di mulut Jalan Gegerkalong Hilir.
Ada beberapa kenangan di Jalan Dr. Setiabudhi ini. Dulu waktu kaset masih berjaya,Borma adalah pilihan utama saya untuk belanja musik. Beberapa kaset yang masih saya ingat di antaranya : Kompilasi Viking Persib Club, Iwan Fals, PHB, Blur, Fastball, The Cardigan, The Corrs, Padi, dan Pure Saturday.
Selain itu, ATM BNI yang letaknya sebelum Borma sering jadi andalan kalau ATM yang di kampus sedang rusak. Pernah suatu kali waktu saya mau ngambil uang, sebelumnya seorang ibu baru selesai dengan keperluannya dari dalam ATM tersebut. Nah, pas saya mau memasukan kartu, ternyata kartu si ibu tadi masih tertinggal di dalam. Asal tahu saja, dulu setiap transaksi yang hendak dilakukan tidak meminta pin berulang-ulang seperti sekarang, yang artinya kalau saja saya berniat menguras uang si ibu tadi, hal tersebut akan sangat mudah. Tapi saya merasa ngeri sehingga akhirnya memanggil si ibu tadi unuk mengambil kartunya yang tertinggal.
Ada perasaan lega setelah kejadian itu, ternyata sisi baik saya masih lebih dominan dibandingkan dengan sisi buruknya.
Selain kartu yang tertinggal, saya juga pernah menemukan sekantong kolak pisang yang masih hangat di mesin ATM tersebut. Waktu itu sedang bulan puasa, mungkin ada seseorang yang habis belanja untuk ta’jil lalu mengambil uang, dan waktu keluar dia lupa dengan belanjaannya. Meskipun harga kolak tidak seberapa, namun entah kenapa saya waktu itu tidak mengambilnya. Hanya dibiarkan saja, lagi pula tidak orang orang di sekitar, jadi tidak bisa menebak-nebak siapa sebenarnya pemilik kolak pisang yang masih hangat itu.
Di Jalan Dr. Setiabudhi juga saya biasanya membeli koran dan majalah. Tukang jualannya nge-lapak di sisi kiri persimpangan Jl. Gegerkalong Hilir – Jl. Setiabudhi. Yang paling sering saya beli adalah tabloid (kemudian menjadi majalah) Marketing yang sering muncul tulisan Hermawan Kertajaya. Kemudian beralih ke majalah Mix. Kedua majalah tersebut sama-sama membahas dunia pemasaran dan penjualan. Meski tak selalu paham semua apa yang ditulis di kedua media itu, namun saya termasuk rajin membeli setiap kali edisi baru terbit. Tadinya sih diniatkan untuk menambah pengetahuan dan membantu dalam mengerjakan tugas-tugas kampus, namun tetap saja prestasi akademik saya gak bagus-bagus amat.
Namun sore ini segala kenangan itu menguap ditelan jalanan yang menyebalkan. Macet di tengah hujan mengapungkan perasaan sunyi. Manusia-manusia sibuk keluar-masuk pusat perbelanjaan mode. Mata saya nanar menatap perempuan-perempuan bercelana pendek sambil menenteng belanjaan, dalam gumam : “euweuh katiris awėwė tėh…”
Sejak di Jl. Dr. Setiabudhi bawah dibangun banyak pusat mode, macet seperti ingin sambung-menyambung sampai Lembang. Seingat saya, dulu yang selalu macet parah di akhir pekan itu hanya dari Ledeng sampai ke Lembang, namun kini tembus sampai ke persimpangan Setiabudhi – Cihampelas – Babakan Siliwangi, bahkan macet sampai juga ke arah Ciumbuleuit.
Yang paling terkenal di jajaran pusat niaga mode itu memang Rumah Mode, namun saya lebih sering menyebutnya sebagai Rumah Macet.
Saat hampir sampai di Jl. Cihampelas, saya berbelok ke kiri. [ ]

04 January 2015

Suatu Pagi dari Ciwaruga


Seno Gumira Ajidarma dalam cerpennya yang sangat terkenal; Sepotong Senja untuk Pacarku, menulis begini :
Kukirimkan sepotong senja ini untukmu Alina, dalam amplop yang tertutup rapat, dari jauh, karena aku ingin memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar kata-kata.
Tadinya saya ingin meniru Seno, sengambil sepotong pagi dan memasukannya ke dalam amplop yang tertutup rapat. Namun tak bisa, lagi pula catatan ini bisa jadi hanya sekadar kata-kata.
***
Ciwaruga. Nama ini tidak asing buat saya. Dulu waktu masih kuliah, saya ngekos di daerah ini, tepatnya di dekat persimpangan POLBAN-Ciwaruga-Cimahi. Pondok Barak nama kosannya, letaknya persis di sebuah tebing yang curam, di belakang-bawah jejeran warung nasi, warung kopi, warung buah-buahan, bengkel, dan pangkalan ojeg. Baru-baru tak jauh dari persimpangan itu ada juga pos polisi kecil yang setiap bulan ada seorang polisi yang menyambangi kosan saya untuk bertemu dengan bapak Rauf (pengurus kosan), entah untuk apa. Konon mengambil “uang jajan” karena kosan kami yang juga kabar burung; listriknya “ngambil dari belakang”.
Sekilas orang-orang akan ngeri jika melihat kosan saya, maklum saja di tebing itu dibangun puluhan kamar dengan pondasi yang terlihat kurang menyakinkan. Saya pun dulu kadang-kadang merasa ngeri, membayangkan bagaimana jika tiba-tiba terjadi longsor.
Kata orang-orang, daerah ini dinamakan Ciwaruga sebab di sana terdapat banyak sekali kuburan. Waruga artinya jasad, ya jasad yang sudah ditanam di dalam tanah. Memang saya juga pernah melihat dengan mata kepala sendiri, bahwa di Ciwaruga memang terdapat banyak kuburan.
Saya pernah pindah kosan ke daerah Ciwaruga bagian atas dekat persimpangan yang mau ke Gegerkalong Hilir. Di halaman belakang kosan saya yang baru itu adalah makam keluarga, jadi kalau saya menjemur baju otomatis kaki menginjak kuburan. Namun karena mungkin sudah terbiasa, saya tidak merasa takut.
Tapi itu sudah lewat hampir sepuluh tahun yang lalu, sebab sekarang saya tinggal di Ciwaruga lebih atas lagi yang arah ke Parongpong, tak jauh dari batas desa. Penghuni resmi kontrakan ini sebenarnya teman saya, namun karena dia sedang pulang ke Sukabumi, maka saya bisa leluasa menempatinya.
Suatu pagi, tepatnya hari Jum’at, karena bosan di kontrakan, dengan menunggangi sepeda motor saya memutuskan untuk pergi jalan-jalan ke atas, ke arah Parongpong.
Mula-mula saya berhenti di daerah Cigugur Girang untuk makan semangkok bubur ayam. Ada sedikit kecewa; buburnya tidak enak, encer betul. Lagi pula bumbunya kurang banyak. Tapi lumayan juga untuk mengganjal perut yang kosong dan menghangatkan tubuh dari cuaca yang cukup dingin.
Jalanan menuju Parongpong rusak; berlubang dan berdebu. Di kiri kanan jalan rumah-rumah penduduk tidak terlalu banyak, tapi menjadi catatan tersendiri buat saya yaitu mulai menjamurnya cluster dan villa di sepanjang jalan tersebut. Memang semakin ke atas pemandangannya semakin bagus, kota Bandung yang dikelilingi gunung di sebelah selatan dapat terlihat dengan jelas. Kabut yang muncul malu-malu dari sesela gunung dan bukit menambah keindahan pemandangan.
Cigugur Girang ini boleh dikatakan adalah sebuah perkampungan dan jauh dari pusat kota, namun saya kaget waktu mengetahui bahwa di pinggir jalan yang tidak terlalu besar dan berlubang itu, terdapat sebuah minimarket modern (entah Alfamart atau Indomaret, saya lupa lagi) dan ATM BCA.
Tak jauh dari sana, The Peak sudah menanti. Di sinilah tempat yang paling pas untuk melihat pemandangan di selatan. Kemudian saya melewati Cihideung yang terkenal dengan kebun bunganya. Tiba-tiba saya ingat Ajip Rosidi yang dulu pernah mukim di daerah Cihideung, namun tepatnya entah di mana. Terus ke utara sampailah saya di sebuah simpang jalan antara Cihideung-Cisarua-Ledeng, tepatnya tak jauh dari terminal Parongpong, dan jalannya bernama Kolonel Masturi. Memang jalan itu kalau diteruskan ke kanan akan tembus ke terminal Ledeng, dan kalau ke kiri akan menuju ke Cisarua yang ujungnya akan tembus ke Padalarang.
Saya mengambil ke kiri, tak jauh dari sana saya melewati komplek militer yang bernama Denkavkud (Datasemen Kavaleri Kuda).  Lalu ada juga Universitas Advent, konon kampus ini adalah kampus teologi. Baik Denkavkud maupun kampus Universitas Advent, sama-sama terlihat rapi dan asri. Dari kampus Advent pemandangan ke selatan sungguh sempurna.
Jalanan kemudian menurun dan memasuki kawasan yang rimbun dengan pepohonan, saya agak mengenalnya, dan ternyata tak jauh dari rimbun pepohonan itu terdapat obyek wisata Curug Cimahi yang dulu sekira tahun 2008 pernah saya kunjungi. Kali ini saya tidak singgah, namun memilih melanjutkan perjalanan.
Di sebelah kanan jalan terdapat Rumah Sakit Jiwa yang cukup luas. Tadinya saya mau foto gerbang utamanya, namun ada dua orang satpam yang berjaga, takut dilarang akhirnya saya urungkan. Di sebelah rumah sakit tersebut terdapat semacam bumi perkemahan, dan di seberang jalan ada komplek rumah yang entah diperuntukkan bagi siapa, mungkin untuk karyawan rumah sakit.
Semakin ke barat udara semakin dingin, lagi pula hujan rintik-rintik mulai turun. Pada sebuah minimarket saya berhenti untuk membeli rokok, tak jauh dari SMP Negeri Cisarua. Kepada karyawan minimarket yang berjenis perempuan saya bertanya ihwal jalan. “Kalau terus ke barat akan tembus ke Padalarang Pak,” jawabnya. Dia menyebut saya bapak, padahal saya belum tua-tua amat; baru 30 lebih dua tahun.
Kemudian perjalanan berlanjut, dan sampailah saya di sebuah persimpangan dekat Sekolah Polisi Cisarua. Sebelum persimpangan tersebut terdapat penunjuk jalan yang menyebutkan bahwa kantor Bupati Bandung Barat berada di sebelah kiri persimpangan. Namun saya tak melanjutkan, melainkan putar balik ke arah Parongpong.
***
Sebelum meluncur langsung ke Ciwaruga, di dekat Denkavkud saya berhenti dulu untuk ngopi. Mantap betul, gorengan dan kopi hitam ditambah rokok adalah perpaduan yang pas di cuaca sedingin itu. Di sebelah saya duduk dua orang tentara yang sedang asyik ngobrol, mungkin mereka habis olahraga jika dilihat dari pakaiannya.
Tak jauh dari warung kopi ternyata ada markas Viking Parongpong, sayang tempatnya lagi tutup. Setelah membayar akhirnya saya kembali ke Ciwaruga.
Perjalanan di sepotong pagi itu cukup mengesankan, sebab saya dimanjakan dengan pemandangan yang menyegarkan mata. Meskipun dulu pernah tinggal selama tiga tahun di Ciwaruga, namun perjalanan kali ini adalah yang pertama. Dan saya ingin mengulanginya. [irf]
Angkot yang melewati Ciwaruga adalah sebagai berikut :
  1. Cimahi – Ledeng (warna hijau)
  2. Gerlong – POLBAN (warna hijau)
  3. Sarijadi – Parongpong (warna kuning)
  4. Sarijadi – Pasantren (warna biru)

19 December 2014

Ajo


Sempat juga, dulu, entah kapan saya lupa lagi, seorang kawan pernah bertanya tentang perempuan cantik, saya jawab saja Leigh Nash. Mantan vocalis Sixpence None The Richer itu memang cantik, terutama waktu membawakan Kiss Me. Gigi kelincinya menebarkan aroma innocent. Tapi sekarang dia sudah tua, lagi pula SNTR sudah bubar, dan kawan saya yang bertanya itu entah di mana, kabar terakhir posisi dia di Medan, jualan Bakpao katanya. 

Tapi saya masih ingat, dia dulu terlambat lulus alias pending gara-gara tugas akhirnya tersendat. Maka ketika saya dan kawan-kawan yang lain di wisuda di Sabuga ITB dan berhias toga macam pakaian Rama Aipama, dia hanya jadi penonton, ceria saja pembawaannya, entah perasaannya.  Di detik-detik ketika akhirnya para wisudawan mulai sibuk mencari kerja, dia malah sibuk di depan layar komputer, sendirian mengejar deadline demi wisuda gelombang kedua. Ralat, dia tidak sendirian tapi ditemani lagu Sway dari Big Runga.

Rokoknya Marlboro merah, tak penting betul saya ceritakan masalah cigarette ini, tapi memang dia tak mau jika harus membakar cigarette produksi Djarum yang aromanya, menurut dia, terlalu pekat. Sikapnya bersahaja-berkawan, dia adalah jenis sahabat yang nyaman di segala kondisi. Pernah sekali waktu, ketika tanggal sudah masuk ke penghujung bulan dan kiriman dari kampung belum datang, uang di kantong tak tersisa sepeser pun. Saya tergeletak tak berdaya di kamar kosan, tiba-tiba batang hidungnya muncul di balik pintu dan sebuah senyum pahit, dia datang dengan tangan penuh oleh kantong berisi dua bungkus nasi Padang dan dua bungkus rokok. “Untuk anak rantau kere macam kau,” katanya.

Beberapa dosen bersikap agak sinis kepadanya. Maklum saja, sebab dia lumayan sering bolos dan tugas sering terkatung-katung tak jelas kapan selesainya. Saya tak sampai hati menasehati, sebab saya tahu pada dasarnya dia cerdas, hanya saja beberapa gelintir setan penggoda kerasan tinggal di dirinya. Sekali saja sempat saya bilang, “kawan, pisau kau itu sebenarnya tajam, tapi mulai berkarat, asahlah sedikit.” Dan dia hanya, lagi-lagi, tersenyum pahit. Barangkali dia menyesal juga pada akhirnya, sebab tidak bisa lulus tepat waktu seperti kawan-kawan yang lain, tapi memang itu sudah terjadi, dan kini hanya menjadi kenang-kenangan bagi hidup yang begitu biru.

“There she goes, there she goes again…,” suara Leigh Nash tengah mengusai kamar ketika dia, lagi-lagi, muncul tiba-tiba dari balik pintu. “Siapa yang pergi kawan?,” tanyanya. “She,” jawab saya. Lalu tawa pun pecah berderai-derai, nikmat betul. “Sejak kapan orang macam kau ditinggal cewe?, yang datang pun kaga pernah ada,” dan kami, saya dan dia tertawa lagi. Selain senyumnya, humor dia pun pahit, tapi tetap menghibur.

Braga, berapa kilometer jaraknya dari Sarijadi?, entah. Sekali waktu, sempat juga kami jalan kaki dari Sarijadi menuju Braga, bertiga, karena ditambah kawan satu lagi : Dani Batax Swasta. Yang ini pun bersahaja-berkawan. Ihwal gelar “Batax Swasta” adalah karena dia tak seperti umumnya orang-orang sekampung dia yang rata-rata bersuara lantang, dia malah kebalikannya. Tapi dia Batak tulen, ibu-bapaknya asli Sumatera Utara, hanya saja sudah terlalu lama tinggal di Bandung, jadi begitulah, dia lebih mirip orang Bandung, suaranya kadang-kadang seperti tertiup angin. Bukan rasis, tapi begitulah kenyataannya.

Malam hari waktu itu, dan hujan masih menyisakan rintik sebab sedari sore mengguyur deras kota Bandung. Kami seperti sedang napak tilas pasukan Siliwangi masa penjajahan yang hijrah berjalan kaki. Bertiga kami berjalan kaki membelah kota Bandung yang dingin sekaligus mengandung aroma romantik aneh yang membias dari lampu-lampu kota, tukang serabi, beberapa perempuan cantik yang nongkrong di Circle-K, dan wajah-wajah para pendukung Persib yang menyaksikan tim kesayangannya lewat pesawat televisi. Dan hidup tidak sama lagi setelah itu, sebab beberapa hari setelah membelah Bandung dengan berjalan kaki, kami akhirnya terpisah dijerat waktu yang mengiris di setiap milisekon hidup.

Sepotong ingatan masih tersisa. Sehari sebelum kami berpisah, kawan yang rokoknya Marlboro merah itu, di kamarnya yang berantakan, dengan mata entah nanar entah syahdu, didapati tengah mendengarkan Alicia Keys : Some People Want It All. Saya Tanya, “Sedang jatuh cinta kau rupanya kawan? Siapa yang kau sukai itu?” Dan dia menjawab pendek, sangat pendek, “She.” [ ]        


    

12 July 2012

Olva Mengintip di Jendela


Saya baru pindah pondokan, anak mahasiswa menyebutnya indekos, tapi karena sudah bukan mahasiswa lagi maka saya lebih senang menyebutnya pondokan alias tempat orang mondok, tempat orang tidur, tempat orang molor. 

Pondokan yang sekarang jauh dari keramaian, kecuali sore banyak anak-anak kecil main bola di bawah, dan sebagian lagi berlari-lari saja entah mengejar apa. Seperti biasa saya berada di lantai dua. Dari jendela kamar pemandangan lurus ke barat, ke arah hutan pinus yang tidak luas, tempat matahari bersembunyi sebelum tenggelam di sore hari. 

Di bawah jejeran pohon pinus terdapat kebun singkong yang menyatu dengan kebun pisang. Di sebelah kebun pisang ada kompleks kuburan, mungkin kuburan sebuah keluarga karena tidak luas seperti TPU pada umumnya. Di sebelah kamar saya juga masih ada kebun singkong yang tidak terurus tapi dipagar dan ada tulisan di depannya : “Dilarang membuang sampah dan barangkal.”

Lalu di bawah tulisan itu ada lagi tulisan yang lain : “Dilarang kencing di sini kecuali gogog”

Sunyi dan terasing. Rumah tetanggga yang jaraknya tidak terlalu dekat sering sepi juga, hanya anjing-anjing peliharaannya yang sering menggonggong entah menegur siapa. Maka dari pagi sampai petang yang terdengar hanya angin. Daun-daun pohon pinus, singkong, dan pisang semuanya bergoyangan seperti berusaha menghibur saya yang melihatnya dari jendela.

Sebenarnya jarak pondokan yang lama dengan yang sekarang tidak terlalu jauh, tapi karena yang dulu berdekatan dengan kamar para mahasiswa jadi suasananya ramai, tidak seperti sekarang para penghuni kamar yang lain sering tidak ada di kamarnya masing-masing.

Pondokan lama bangunannya sangat bersih, sedangkan yang sekarang tebal oleh debu, maklum jalan yang menuju ke pondokan belum diaspal, jadi saat kemarau seperti sekarang debunya beterbangan diterpa angin, dan sebaliknya ketika hujan datang tanahnya menjadi lumpur yang sering betah menempel di sandal dan sepatu. 

Melihat akses dan lingkungannya yang kurang kondusif bagi jiwa mahasiswa yang mayoritas sedang lincah-lincahnya menelan hidup, maka pantas saja pondokan saya yang sekarang kurang laku dan sepi. Dari 14 kamar, yang terisi hanya separuhnya. Itu pun semuanya bukan mahasiswa, tapi para pedagang, buruh, dan pengangguran.

Jika ada yang menyenangkan mungkin suasana sepi dan beranginnya, yang mengingatkan saya pada kampung halaman, pada tempat mula-mula yang sekarang jarang dikunjungi. Dan satu lagi adalah rahasia di balik jendela. Bukan jendela pondokan saya, tapi jendela kamarnya Olva yang sering saya lewati saat pergi ke mesjid. 

Olva pasti perempuan karena saya pernah melihatnya langsung. Sebenarnya nama perempuan itu mungkin bukan Olva karena saya belum pernah kenalan dan menyapanya, jadi hanya menebak saja, menebak nama gadis manis itu. 

Setiap orang harus punya nama, jadi daripada saya kasih nama nona X atau nona Y, maka lebih baik Olva saja. Dan itu sangat cocok dengan bentuk mukanya yang oval.

Pondokan saya cukup jauh jaraknya dengan masjid, harus melewati dulu rumah-rumah yang berjajar di Kompleks Keramik dan melewati gang besar yang cukup panjang. Dan sebelum jalan panjang itu berakhir di masjid, harus melewati dulu beberapa rumah penduduk yang rapi dan bersih. Salah satu rumah itu adalah rumahnya Olva. 

Pertama kali melihatnya dia hanya memakai celana pendek dan baju tanpa lengan. Setelah melihat saya yang ber-dresscode masjid, dia lalu masuk ke rumah dan mengintip saya dari jendela kamarnya. Saya yakin dia yang mengintip dari balik jendela itu, meskipun saya tidak melihatnya secara jelas. 

Terlebih karena hari berikutnya juga begitu, kalau melihat saya pergi ke mesjid dia langsung masuk rumah dan menyelinap ke kamar lalu mengintip lewat jendela.

Apakah mengintip adalah sebuah kesenangan? Jika mengintip seorang gadis yang sedang mandi mungkin iya, tapi itu kelakuan sangat purba dan penyaluran hasrat seks paling rendah. Tapi mengintip orang yang akan pergi ke mesjid di manakah letak kesenangannya?

Ah, mungkin ini hanya perasaan saya saja, atau penglihatan saya yang salah. Untuk lebih meyakinkan,  maka setiap ada kawan saya yang main ke pondokan, mereka saya suruh salat di mesjid dan “menyelidiki” seseorang yang ada di balik jendela itu. 

Kawan pertama yang datang ke pondokan adalah si Ngajat. Meskipun orangnya tidak hobi ke masjid, tapi untuk keperluan “penyelidikan” dia saya paksa sampai mau. Maka dia pun berangkat dengan hati yang mungkin dongkol. 

Sepulang dari masjid dia melapor bahwa benar apa yang saya katakan, ada perempuan bermuka oval yang ketemu di jalan kemudian perempuan itu masuk rumah dan mengintipnya di jendela. 

Meskipun orang yang di balik jendela itu tidak terlihat jelas alias samar, tapi sepertinya si Ngajat pun yakin bahwa orang itu adalah Olva, si pemilik wajah oval yang tadi ketemu di jalan di depan rumahnya. 

Merasa masih kurang yakin dengan satu saksi, maka saya suruh juga kawan yang lain,  yaitu si Kiki. Yang ini agak saleh sehingga tidak susah membujuknya untuk pergi ke masjid waktu azan Asar berkumandang. 

Pulang dari masjid, seperti biasa saya menerima laporan bahwa dia tidak bertemu dengan perempuan yang saya beri nama Olva itu, tapi dia melihat memang ada seseorang yang mengintipnya dari balik jendela. 

“ Huh, dasar perempuan pengintip, beraninya cuma dari balik jendela!” begitu gumam saya setelah menerima laporan si Kiki. 

Kawan-kawan saya yang lain, yang cukup banyak, juga kebagian tugas yang sama seperti si Ngajat dan si Kiki. Rata-rata laporannya sama yaitu ketemu atau tidak dengan Olva di luar rumah atau di jalan, yang pasti suka ada seseorang yang mengintip dari balik jendela yang cukup kusam itu. 

Yakinlah sudah bahwa saya tidak salan kasih nama perempuan itu, yaitu Olva si pengintip dari balik jendela.

Hari selanjutnya saya tidak menyuruh kawan-kawan lagi untuk pergi ke masjid, tapi saya sendiri yang melakukannya, dan si pengintip masih setia dengan perbuatannya. 

Suatu hari saat salat Zuhur baru selesai, di luar masjid telah ramai, telah banyak orang yang mengusung keranda jenazah yang ditutupi kain hijau dan di atasnya ada kembang-kembang yang dironce. 

Keranda jenazah itu kemudian dimasukkan ke masjid untuk disalatkan oleh jemaah yang baru selesai menunaikan salat Zuhur,  termasuk saya. Selesai disalatkan kemudian diiring ke tempat pemakaman yang berada di dekat pondokan saya.

Di antara para pengiring itu terdapat juga Olva si pengintip. “Oh, siapa gerangan yang meninggal sampai dia ikut segala?” begitu tanya saya dalam hati. 

Saya akan coba kenalan dan bertanya langsung padanya, tapi nanti jika acara pemakaman telah selesai. Di tengah upacara pemakaman yang khidmat, saya lihat Olva menangis dan tampaknya sangat terpukul dengan kepergian orang yang meninggal, entah siapanya orang yang wafat itu? 

Karena melihat kondisinya masih sedih, maka saya urungkan untuk berkenalan dan menundanya sampai dia benar-benar tegar dan ceria lagi. 

Dua minggu setelah pemakaman, saya tidak pernah lagi melihat Olva, juga sosok orang yang di balik jendela. Kemana orang itu? Kenapa saya tiba-tiba merindukannya? 

Sore hari selepas salat Asar, karena didorong rasa penasaran yang sangat, saya beranikan diri datang ke rumahnya. Biarin dibilang nekad juga yang penting saya bisa kenalan langsung dan menanyakan tentang sosok yang ada di balik jendela itu.

Karena tidak ada bel, maka saya ketuk pintu sambil bilang "sepadaa..," pintu pun terbuka dan saya disuruh masuk oleh seorang ibu yang pasti sudah tidak muda lagi. 

Darinya, dari ibu itu, saya tahu bahwa perempuan yang pertama kali saya lihat dulu memakai celana pendek dan baju tanpa lengan adalah anaknya. Dan ternyata namanya bukan Olva, tapi lebih panjang dan lebih keren, yaitu Maharani Putri Waskita. Ah, wajar saja saya salah karena asal tebak. Kini dia sedang tidak ada di rumah karena pergi ke Yogyakarta untuk kuliah di Universitas Gajah. 

Dan orang yang sering mengintip di jendela pun ternyata bukan dia, tapi ayahnya yang dua minggu lalu dikuburkan di komplek permakaman dekat pondokan saya.

Ibunya bercerita sambil matanya berkaca-kaca bahwa setiap kali azan berkumandang dan ada orang yang lewat untuk pergi ke masjid, pasti suaminya memperhatikan lewat jendela karena ingin seperti mereka, seperti orang-orang yang pergi ke masjid itu. 

Namun keinginan tinggal keinginan, karena suaminya tidak bisa berjalan lagi akibat lumpuh karena serangan setruk yang sudah datang lebih dari sekali. Ajal suaminya tiba ketika serangan setruk yang ketiga menghampirinya. 

Dan akhirnya ibu itu tidak bisa membendung air matanya lagi. Sedangkan hati saya gerimis mendengarkan kenyataan yang tidak diduga. 

Tiga bulan setelahnya, seperti biasa saya masih rajin pergi ke masjid, apalagi sekarang bulan Ramadan. Bulan saat masjid tiba-tiba menjadi sempit dan gerah karena orang-orang memenuhinya. Bulan ketika lagu-lagu religi laku keras. Bulan di mana acara-acara televisi berlomba bersolek dan menjual tayangan-tayangan beraroma surga. 

Di bulan banyak “perubahan” inilah untuk pertama kalinya semenjak ibu Olva bercerita, saya melihat lagi ada orang yang mengintip di balik jendela. Samar sekali. Entah siapa. [irf]


Kompleks Keramik, Sarijadi
Ramadan 1429 H/2008 M