Showing posts with label bujangga manik. Show all posts
Showing posts with label bujangga manik. Show all posts

08 June 2017

Kisah Klasik Catatan Perjalanan Bujangga Manik



Salah satu naskah sastra Sunda kuna, bahkan bisa dibilang salah satu naskah yang terpenting, adalah perjalanan Bujangga Manik menyusuri Pulau Jawa dan Bali. Naskah ini ditulis dalam larik-larik delapan suku kata—bentuk terikat dalam puisi cerita Sunda kuno, yang ditulis di atas daun palem yang tersimpan di perpustakaan Bodleian di Oxford (Inggris) sejak 1627 atau 1629.

Bujangga Manik adalah seorang bangsawan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) yang memilih menjadi rahib Hindu-Sunda yang berkelana ke beberapa tempat suci untuk mencari tempat untuk masa akhir hidupnya. Dalam naskah (baris 663-667) yang tertuang di buku Tiga Pesona Sunda Kuna karya J. Noorduyn (Direktur KITLV yang pensiun pada 1991) dan A. Teeuw (Profesor Emeritus bidang Bahasa dan Sastera Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden) tertulis:

“Nyiar lemah pamasaran/ nyiar tasik panghanyutan/ pigeusaneun aing paéh/ pigeusaneun nunda raga.”

“Mencari tempat untuk pekuburan/ mencari telaga untuk tenggelam/ tempat untuk kematianku/ tempat untuk meninggalkan badan.”

Bujangga Manik melakukan perjalanannya sebanyak dua kali. Yang pertama dari Pakancilan di Pakuan Pajajaran sampai ke Pamalang di Jawa bagian tengah. Ia pulang karena rindu kepada ibunya. Perjalanan kedua dilakukan dari Pakancilan melewati Jawa bagian tengah, Jawa bagian timur, sampai Bali. Lalu kembali ke Jawa bagian barat dan berhenti di Gunung Ratu, tak jauh dari kaki Gunung Patuha, dan tak pernah kembali lagi. Ia wafat di sana.

Dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda, A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung atau ditulis pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.

Kenapa Bujangga Manik memilih menjadi rahib dan meninggalkan kehidupan istana? Dalam Suluk Abdul Jalil Volume 4 diterangkan bahwa kondisi Dayeuh Pakuan Pajajaran waktu itu ibarat surga. Kemakmuran dan kemuliaan tersuguh di ibu kota kerajaan Sunda itu. Namun, hal tersebut hanya dinikmati segelintir kalangan saja yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sementara mayoritas masyarakat adalah para kawula dengan status budak belian yang setiap saat bisa diperjualbelikan. Hal itulah yang membuat Bujangga Manik memilih berkelana meninggalkan pusat kekuasaan.

Pada perjalanannya yang kedua, ada satu dorongan tambahan yang membuat Bujangga Manik segera meninggalkan ibunya dan kehidupan di lingkungan istana: dia dilamar seorang perempuan cantik dan ibunya menyarankan untuk menerima lamaran tersebut. Seorang kurir yang bernama Jompong Larang disuruh perempuan yang melamar Bujangga Manik untuk menyampaikan maksudnya, sembari membawa sirih-pinang yang ditata di atas baki, ditutup dengan sapu tangan, dan tersusun begitu rapi, dan rupa-rupa pemberian lainnya. 

Ibunya berkata pada baris 535-545:

“Anaking, haja lancanan/ karunya ku na tohaan/ sugan sia hamo nyaho/ tohaan geulis warangan/ rampés rua rampés ruah/ teher geulis undahagi/ hapitan karawaléa/ buuk ragi hideung teuleum/ ceta hamo diajaran/ na geulis bawa ngajadi/ na éndah sabot ti pangpang/ hanteu papahianana.”   

“Ananda, layanilah dengan serius/ kasihan terhadap puteri/ barangkali ananda tidak tahu/ puteri cantik pantas diperisteri/ cantik rupa baik perilaku/ bahkan berperawakan indah semampai/ gadis pingitan juga setia/ rambut hitam bagai dicelup/ terampil tanpa harus diajari/ cantik bawaan semenjak lahir/ jelita saat masih dikandung/ tiada yang menandingi.”

Mendengar perkataan ibunya, Bujangga Manik bukannya menurut dan menerima lamaran, ia malah menyuruh untuk mengembalikan semua pemberian perempuan yang melamarnya. Ia menganggap bahwa kata-kata ibunya terlalu berlebihan, terlampau memuji, dan hal itu menurutnya adalah perbuatan terlarang. Pada baris 553-562 Bujangga manik berkata:

“Leumpang bawa pulang deui/ leumpang reujeung si Jompong/ ka dalem ka na tohaan/ seupaheun ta bawa deui/ buah reumbeuy bawa deui/ piburateun pihiaseun/ éta bawa pulang deui/ pikaéneun pisabukeun/ kalawan keris maléla/ leumpang bawa pulang deui.”

“Pergi dan bawalah kembali/ sekalian pulangkanlah bersama si Jompong/ ke istana kepada tuan puteri/ sirih-pinang itu bawa kembali/ berbagai persembahan bawa kembali/ bahan obat-obatan dan bahan perhiasan/ itu semua kembalikan lagi/ bahan pakaian dan bahan selendang/ termasuk keris baja/ bawalah pulang kembali.”

Setelah itu Bujangga Manik mengungkapkan isi hatinya kepada sang ibu. Ia mengutarakan bahwa apa yang disarankan ibunya untuk menerima lamaran tersebut adalah jalan yang salah, jalan menuju tempat kematian, jalan ke kuburan, dan menyebarkan kejelekan. Ia merasa tak nyaman, dan ibunya dianggap telah tersesat. Kemudian ia pamit untuk yang penghabisan sebelum kembali melakukan perjalanan. Pada baris 642-650 Bujangga Manik berucap:

“Ambuing karah sumanger/ pawekas pajeueung beungeut/ ambu kita deung awaking/ sapoé ayeuna ini/ pajeueung beungeut deung aing/ mau nyorang picarék deui/ mau ma ti na pangimpian/ pajeueung beungeut di bulan/ patempuh awak di angin.”

“Karena itu, bunda selamat tinggal/ untuk yang terakhir bertatap muka/ kita, bunda bersama denganku/ hanya sehari inilah/ bertatap muka denganku/ tak kan pernah berbincang lagi/ kecuali hanya dalam mimpi/ saling tatap muka di bulan/ bersentuh tubuh di angin.”

Setelah bertahun-tahun menjelajah daerah-daerah di Pulau Jawa dan Bali, Bujangga Manik atau Ameng Layaran kemudian menetapkan tempatnya yang terakhir, tempat untuk berpisahnya raga dan sukma. Pada baris 1396-1407 ia menulis:

“Sadiri aing ti inya/ sacunduk ka Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Caréngcang/ éta huluna Cisokan/ landeuhan bukit Patuha/ heuleut-heuleut Lingga Payung/ nu awas ka Kreti Haji/ Momogana teka waya/ neumu lemah kabuyutan/ na lemah ngalingga manik/ teherna dek sri mangliput/ ser manggung ngalingga payung.”

"Sepergiku dari sana/ sampai ke Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Carengcang/ itulah hulu sungai Cisokan/ di kaki Gunung Patuha/ batas antara Lingga Payung/ yang bisa memandang jelas ke Kreti Haji/ berharap semoga terbukti menemukan tanah yang suci/ tempat yang menyerupai tiang permata/ lalu akan kutudungi/ mengembang ke atas bagaikan payung bertiang.”

Lalu ia mendeskripsikan kematiannya. Hal ini yang kemudian menimbulkan pelbagai pertanyaan terhadap naskah ini yang dinilai banyak mengandung masalah kepengarangan. Di luar hal tersebut, berikut bunyi tentang kematian itu pada baris 1443-1452:

“Pati aing hanteu gering/ hilang tanpa sangkan lara/ mecat sakéng kamoksahan/ diri na aci wisésa/ mangkat na sarira ageung/ ngaloglog anggeus nu poroc/ atma mecat ti pasambung/ aci mecat ti na atma/ pahi masah kaleumpangan.”

"Kematianku tanpa sakit/ meninggal bukan karena derita/ melesat menuju kebebasan/ kepergian sang sukma/ keluar dari raga kasar/ copot sesudah yang terakhir/ sukma lepas dari ikatan/ ruh lepas dari sukma/ sama-sama lepas dan pergi.”

Yang menonjol dari naskah ini adalah banyaknya nama tempat yang disebutkan selama perjalanan. J. Noorduyn dalam Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno terjemahan Iskandar Wassid, menemukan sedikitnya 450 nama tempat, dan sebagian besar bersesuaian dengan topografi Pulau Jawa. Ia pun kemudian membuat peta topografi Pulau Jawa berdasarkan naskah tersebut.

“Pemaparan ini terutama ditekankan pada penyebutan nama-nama tempat, daerah, sungai, dan gunung yang terletak pada rute atau dekat rute yang disusuri,” tulis J. Noorduyn.

Selain itu, Hawe Setiawan dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda memaparkan bahwa naskah ini mempersembahkan sebentuk ungkapan estetis berupa puisi prosais atau prosa puitis dari penghayatan dan pengalaman religius seorang asketis.

“Sebagaimana yang diteliti oleh Teeuw, dalam naskah ini kita mendapatkan idiom, metafora, dan pola persajakan yang menawan,” lanjut Hawe.

Namun demikian, naskah ini bukan berarti tanpa kekurangan. Hawe Setiawan mencatat setidaknya ada empat poin kekurangan dari kisah perjalanan Bujangga Manik tersebut: “(1) Masalah kepengarangan: apakah tokoh yang bernama Bujangga Manik alias Ameng Layaran adalah penggubah naskah ini ataukah semata-mata tokoh cerita? (2) Masalah representasi: apakah kisah dan deskripsi yang terdapat dalam naskah ini merupakan representasi pengalaman ataukah semata-mata merupakan hasil imajinasi? (3) Masalah sudut pandang: mengapa dalam naskah ini berkali-kali terjadi semacam pertukaran sudut pandang penceritaan, yakni dari sudut pandang orang pertama ke sudut pandang orang ketiga dan sebaliknya? (4) Masalah fungsi dan pretensi teks: adakah relasi yang signifikan antara deskripsi latar yang secara topografis sedemikian terperinci dan nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam naskah ini?” tulis Hawe.

Sementara dalam buku Empat Sastrawan Sunda Lama karya Edi S. Ekadjati, dkk., diterangkan bahwa berdasarkan penelusurannya, sebelum abad ke-17 nama pengarang naskah Sunda hanya dikenal seorang, yaitu bernama Buyut Ini Dawit. Ia seorang pengarang perempuan dari kalangan pertapa di pertapaan Ini Teja Puru di Gunung Kumbang. Karangannya berjudul Sewaka Darma yang ditulis dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno dalam bentuk puisi.

“Dalam pada itu, Bujangga Manik menyebut dirinya sebagai penyusun cerita perjalanannya mengelilingi Pulau Jawa dan Pulau Bali dalam bentuk puisi. Dapat diperkirakan dia adalah seorang laki-laki dari kalangan keraton Sunda di Pakuan Pajajaran yang memilih kegiatan agama sebagai jalan hidupnya. Namun masih dipertanyakan, apakah Bujangga Manik itu nama dirinya atau nama julukan semata?” tulisnya.

Terkait beberapa masalah kepengarangan, Hawe Setiawan kemudian memaparkan bahwa masalah-masalah seperti itu perlu dibahas dengan tetap memperhatikan konteks historis dan sosiologis yang melingkupi naskah, setidaknya uraian mengenai masalah-masalah tersebut dapat mendorong pembaca untuk memperhatikan keadaan zaman dan masyarakat yang melahirkan naskah tersebut. (tirto.id - irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id  

tanggal 27 Mei 2017 

15 May 2017

Membebaskan "Aing" dari Belenggu Hierarki Bahasa Sunda

Pesan dan keinginan siswa SDN Sukasari 01, Bogor. TIRTO/Andrey Gromico
Salah satu baris dalam naskah sastra Sunda kuna berjudul Carita Parahyangan yang digubah pada akhir abad-16 berbunyi: “Sadatangna sang apatih ka galunggung, carek Batara Ngiang guru: "Na naha beja siya, sang apatih?"

Pada baris di atas, menyelinap kata “siya” atau “sia”. Dalam bahasa Sunda kiwari, kata “sia” dianggap sebagai bahasa Sunda kasar yang tidak pantas digunakan dalam percakapan resmi/formal, juga tidak layak digunakan saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Namun naskah sastra klasik Sunda malah menggunakan kata “sia”.

Penjelasan tata krama mungkin bisa diajukan: bahwa di situ Batara Ngiang Guru yang berbicara, sehingga ia berhak menggunakan kata-kata yang hari ini terasa kasar kepada siapa saja. Namun simaklah petikan naskah Para Putera Rama dan Rawana, yang disusun sebagai lampiran kisah Ramayana, yang diperkirakan digubah pada abad 16:

“Ongkarana sangtabéan/ pukulun sembah rahayu/ aing dék nyaksi ka beurang/ aing dék nyangsi ka peuting/ candra wulan aditia/ deungeun sanghiang akasa/ kalawan hiang pretiwi/ ka batara Nagaraja/ ka nusia Awak Larang/ ka luhur ka sang Rumuhun/ nusia Larang di manggung.”

Petikan yang berasal dari baris 1-11 itu bahkan menggunakan kata “aing” saat sedang berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Sekali lagi: kata “aing”. Padahal kata “aing”, dalam cita rasa kiwari, dianggap sebagai bahasa Sunda kasar dan tidak pantas digunakan kepada orang tua atau orang yang terhormat atau dalam percakapan formal. Lha ini malah kata “aing” digunakan dalam doa?

Undak Usuk Basa sebagai Perkara Kekuasaan

Beni Sastrawidjaya, seorang penganut kepercayaan Sunda Wiwitan yang tinggal di Belanda, menampik untuk menggunakan bahasa Sunda versi kiwari. Kepada Hendi Jo, penulis buku-buku sejarah, Beni menjelaskan alasannya: ”Bahasa yang sekarang dipakai itu bahasa Sunda versi penjajah.”

Bahasa Sunda yang sekarang mengenal undak usuk basa, atau tingkatan berbahasa, juga tata krama berbahasa, mengatur bagaimana cara berkomunikasi dengan orang lain berdasarkan usia, pangkat dan jabatan, atau bahkan garis keturunan, dll. Undak usuk basa adalah hasil interaksi kebudayaan yang, dalam banyak segi, berlangsung dengan tidak seimbang. Dikatakan tidak seimbang karena, salah satunya, melibatkan kekuasaan politik. Kekuasaan yang dimaksud adalah Mataram Islam dan kolonialisme Belanda.

Sobana Hardjasaputra dalam buku Seri Sundalana: Bupati di Priangan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda menerangkan bahwa pada mulanya Priangan hanya terdapat dua daerah yang berdiri sendiri, yaitu Sumedang dan Galuh. Pada 1595 Galuh dikuasai oleh Mataram di bawah pemerintahan Panembahan Senopati. Lalu setelah kekuasaan Mataram beralih ke tangan Sultan Agung, Sumedang pun berserah diri kepada Mataram. Pada perjalanannya, pembagian wilayah Priangan mengalami beberapa perubahan. Pasca pemberontakan Dipati Ukur, berdasarkan Piagam Sultan Agung, Priangan di luar Galuh terdiri dari Sumedang, Sukapura, Bandung, dan Parakan Muncang.

Salah satu dampak dari kekuasaan Mataram di tatar Sunda adalah mulai berubahnya corak produksi. Jika sebelumnya corak produksi masyarakat Sunda cenderung berladang, membangun huma, dan sekaligus berpindah-pindah, maka kekuasaan Jawa mengenalkan corak produksi sawah yang menetap. Dampak perubahan corak produksi itu membuat egaliterianisme sosial dalam masyarakat ladang berpindah karena memerlukan kerja-kerja komunal yang penuh gotong royong dalam suatu sistem kekerabatan, digantikan oleh hierarki sosial yang makin tegas.

Hierarki sosial itu ditegaskan secara konkrit, salah satunya, melalui bahasa. Bahasa Sunda yang sebelumnya tidak mengenal stratifikasi, pelan-pelan mulai mengenal tingkatan yaitu halus, sedang dan kasar. Hal ini melanjutkan, atau mencerminkan, hierarki bahasa yang juga sudah lebih dulu dikenal di pusat-pusat kekuasaan Mataram di Jawa.

Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 menulis, “Orang-orang Sunda sangat terpengaruh kebudayaan Jawa setelah pada abad ke-17 mereka ditaklukkan oleh tetangganya, raja Jawa dari Mataram. Bukan hanya ranah kesenian, tapi juga administrasi pemerintahan, gaya hidup, dan bahasa yang terkena dampaknya: selama hampir duaratus tahun kesusastraan Sunda berkembang menurut estetika Jawa.”

Kendati kekuasaan Mataram tidak bersifat langsung, namun korespondensi penguasa di Priangan dengan Mataram berlangsung dalam bahasa Jawa yang sudah mengenal hierarki. Bahasa Jawa yang hierarkis itu dianggap perlu dikuasai dan bahkan menjadi ukuran kebangsawanan seseorang. Moriyama menyebut bahwa para menak Sunda menggunakan bahasa Jawa karena pertimbangan gengsi.  

Kemurnian Sunda yang Ditentukan Kolonialisme

Dennys Lombard, dalam jilid ketiga mahakarya Nusa Jawa: Warisan Kerajaan Konsentris, menyebut bahwa hierarki bahasa di tlatah Jawa ini sangat kuat. Bahasa Jawa, bahasa Madura, dan bahasa Sunda, kata Lombard, berbeda dengan tingkatan bahasa di wilayah-wilayah lainnya di dunia. Jika di tempat lain, masih menurut Lombard, tingkatan tersebut umumnya terbatas pada pemakaian beberapa kata ganti yang khusus, namun dalam tiga bahasa tadi keseluruhan wacana lisan ditandai perbedaan tingkat.

Kesaksian Tome Pires, pelancong yang mencatat perjalanannya ke berbagai belahan dunia dalam karya legendaris Suma Oriental, memberi kesaksian soal ini. Katanya: "Tidak ada tempat lain di dunia yang sifat angkuhnya menonjol sedahsyat di (pulau) Jawa yang mempunyai dua bahasa, yang satu dipakai oleh kaum bangsawan dan yang lain oleh rakyat."  

Sejumlah sarjana Belanda melanjutkan, sekaligus melampaui, tilasan feodalisme Jawa itu dalam merancang suatu bahasa Sunda baku untuk dijadikan standar. Dikatakan "melampaui" karena sarjana-sarjana Belanda kemudian meyakini bahwa bahasa Sunda tidak semata dialek dari bahasa Jawa, melainkan bahasa yang mandiri. Gagasan kemurnian bahasa Sunda menguar dari sini.

Cendekiawan Sunda sebenarnya juga terobsesi dengan gagasan kemurnian berbahasa ini. Mohammad Moesa, sastrawan Sunda dan Penghulu Besar di Kabupaten Limbangan yang hidup pada abad-19, mengeluhkan bahasa Sunda yang dianggapnya "tidak bersih" (basana tatjan beresih) karena kelewat banyak dipengaruhi oleh bahasa Jawa, Melayu bahkan Arab. Ia percaya bahwa bahasa Sunda sangat kaya dan sudah ada jauh sebelum Jawa, Melayu atau Arab menancapkan pengaruhnya (basa asal nini aki).

Dari sanalah dimulai proyek kebudayaan merancang standar bahasa Sunda untuk digunakan dalam buku-buku pengajaran bahasa yang diperlukan untuk melatih para menak Sunda agar siap pakai dalam tata administrasi kolonial pada abad 19. Mereka lalu mengatur suatu bahasa Sunda yang baik dan benar untuk diajarkan kepada masyarakat Sunda. Strata krama inggil-krama madya-ngoko dalam bahasa Jawa diadaptasi menjadi lemes-sedeng-kasar dalam bahasa Sunda.

Pada 1872, pemerintah kolonial menyatakan bahwa bahasa Sunda yang murni adalah bahasa Sunda yang digunakan di Bandung. Bahasa Sunda Bandung, bersama bahasa Jawa yang dituturkan di Surakarta, bahasa Batak di Mandailing, dan bahasa Melayu yang dituturkan di Malaka dan Kepulauan Riau, ditetapkan sebagai bahasa pendidikan di sekolah-sekolah pribumi Belanda (Peran kamus amat menentukan dalam standarisasi bahasa ini.

Dengan lahirnya standar undak usuk basa Sunda yang mengacu pada strata bahasa Jawa, maka bahasa di luarnya dinilai kasar dan tidak beraturan. Bahasa yang mengikuti standarlah yang dianggap bernilai tinggi untuk digunakan orang Sunda. Rintisan para intelektual Belanda itulah yang terus dipertahankan masyarakat Sunda hingga sekarang (Iip Dzulkifli Yahya, "Tradisi Ngalogat di Pesantren Sunda" dalam Politik & postkolonialitas di Indonesia, hal. 287)

Situasi ini menegaskan ironi pahit: dialek yang dinyatakan paling benar ditentukan bukan oleh penuturnya melainkan oleh penguasa kolonial.

Superioritas dalam Kasar-Halus Bahasa Sunda

Salah satu kata dalam Sunda yang populer digunakan bukan hanya oleh orang Sunda, melainkan juga orang-orang non-Sunda, adalah kata “aing”. Kata ini pantas dibicarakan secara khusus karena, dalam banyak kesempatan, sering memicu perdebatan soal bahasa Sunda yang baik dan benar. Banyak orang Sunda yang menganggap orang non-Sunda tidak paham bahasa Sunda karena dengan seenaknya menggunakan kata “aing”.

Misalnya, Tirto pernah dikiritik karena menurunkan laporan yang diberi judul: “Pak Jokowi, Benerin Sekolah Aing Dong”. Padahal judul itu diambil apa adanya dari tulisan seorang bocah SD yang bersekolah di SDN 1 Sukasari, Kec. Rumpin, Bogor. Kalimat itu dianggap tidak mencerminkan bahasa Sunda yang baik, tidak pantas digunakan dan bahkan, salah seorang pembaca, menganggap para guru di sekolah si bocah telah gagal mengajarkan tata krama.

Membicarakan kata “aing”, juga membicarakan undak usuk basa dalam bahasa Sunda, sering mengabaikan konteks kesejarahan. Yang kadang kala hilang adalah pemahaman bahwa saat seseorang menegaskan mana yang baik dan benar dalam berbahasa, termasuk dalam bahasa Sunda dan penggunaan kata “aing”, di sana praktik kekuasaan sedang beroperasi secara subtil dalam bentuk superioritas kebudayaan.

Terkait hal ini, Mamat Sasmita, mantan pemimpin redaksi majalah berbahasa Sunda Cupumanik, mengutarakan bahwa perbedaan estetika dan penggunaan bahasa Sunda di beberapa wilayah di Jawa Barat, bukanlah sebuah persoalan melainkan sebuah kekayaan.

“Pada dasarnya bahasa mah, kan, tergantung yang menggunakan. Kalau menurut yang menggunakannya tidak kasar, ya berarti tidak kasar. Kalau kata ‘aing’ di wewengkon (wilayah) luar Priangan dalam komunikasi sehari-hari tidak dianggap kasar, berarti memang begitu keadaan bahasanya,” ujarnya kepada Tirto.  

Mamat mempraktikkan keyakinannya itu dalam pengelolaan keredaksian di Cupumanik. “Waktu jadi Pemred Cupumanik saya memuat tulisan dari para penulis di luar Priangan, seperti Indramayu, misalnya. Ya, harus diterima. Kalau hanya memuat bahasa Sunda menurut estetika Priangan saja, kan, artinya memaksakan bahasa kepada orang yang tidak menggunakannya,” ujarnya.

Tentang penggunaan kata “aing”, Mamat Sasmita pun menerangkan apa yang sudah diuraikan Moriyama: bahwa hal tersebut dimulai ketika para ahli bahasa dari Belanda pada abad ke-19 menetapkan bahasa Sunda Priangan sebagai bahasa yang (dianggap) murni. Dengan itulah Mamat hendak menegaskan bahwa yang ia maksud sebagai "estetika Priangan" tidaklah alami melainkan lahir dari kolonialisme sebagai konteksnya. 

"Aing" dalam Tiga Teks Sunda Kuna 

Jika “kemurnian” dinilai dengan konteks yang lain, misalnya dengan merujuk naskah-naskah klasik sastra Sunda, penilaiannya bisa sangat amat berbeda.

Kata “aing” sebetulnya sama sekali tidak dinilai kasar. Dalam tiga naskah Sunda kuna, kata “aing” digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang usianya lebih muda (Pendakian Sri Ajnyana), dengan orang yang lebih tua (Kisah Bujangga Manik: Jejak Langkah Peziarah), dan bahkan ketika berdoa kepada Yang Maha Kuasa (Para Putera Rama dan Rawana).                

Noorduyn dan A. Teeuw dalam Tiga Pesona Sunda Kuna menjelaskan bahwa Pendakian Sri Ajnyana adalah puisi didaktis yang khas; dalam bentuk alegori tentang sosok langitan yang berbuat dosa besar sehingga dikeluarkan dari kahyangan. Contoh penggunaan kata “aing” bisa dilihat pada baris 10-20:

“Saurna sang Sri Ajnyana:/ Adiing, ambet ka dini/ mulah ceurik nangtung dinya/ dini di lahunan aing/ tuluy dirawu dipangku/ Adiing aing ngalahun/ teher direduk na gelung/ buuk panjang dirundaykeun/ teher dikawul na beuheung/ dicium diremek penyu/ diulas-ulas awakna.”

(Sri Ajnyana berkata:/ Adikku, marilah ke sini/ jangan menangis, berdiri di situ/ ke sini ke pangkuanku/ lalu diraih ke pangkuannya/ Adikku, saya memangkumu/ kemudian sanggulnya dilepas/ rambut panjangnya diurai/ lalu dia dipeluknya/ diciumnya dengan penuh mesra/ badannya dibelai-belai.”

Sedangkan dalam Kisah Bujangga Manik: Jejak Langkah Peziarah yang merupakan puisi pencarian renungan dan kebijaksanaan yang pada tingkatannya yang tertinggi mengarah kepada pembebasan diri dari keberadaan duniawi, kata “aing” sebagai contoh komunikasi dengan orang yang lebih tua bisa dilihat pada baris 15-23:

“Ambuing tatanghi tinggal/ tarik-tarik dibuhaya/ pawekas pajeueung beunget/ kita ambu deung awaking/ héngan sapoé anyeuna/ aing deuk leumpang ka wétan/ Saanggeus nyaur sakitu/ indit birit sundah diri/ lugay sila sundah leumpang.”

(Ibunda, tataplah dengan jelas/ dengan sedalam-dalamnya/ untuk yang terakhir bertata muka/ kita, ibunda bersamaku/ hanya tinggal sehari ini/ Ananda akan pergi ke arah Timur/ Setelah berkata begitu/ berjongkok lalu berdiri/ berjalan lalu pergi.”

Sementara dalam kisah Para Putera Rama dan Rawana yang disusun sebagai lampiran kisah Ramayana, kata “aing” bahkan digunakan ketika berdoa di baris 1-11:

“Ongkarana sangtabéan/ pukulun sembah rahayu/ aing dék nyaksi ka beurang/ aing dék nyangsi ka peuting/ candra wulan aditia/ deungeun sanghiang akasa/ kalawan hiang pretiwi/ ka batara Nagaraja/ ka nusia Awak Larang/ ka luhur ka sang Rumuhun/ nusia Larang di manggung.”

(Semoga Yang Maha Kuasa memaafkan/ aku berdoa mohon keselamatan/ aku kan bersaksi kepada siang/ aku kan bersaksi kepada malam/ bulan purnama dan matahari/ dengan sanghiang angkasa/ bersama hiang pertiwi/ kepada batara Nagaraja/ kepada yang mulia Awak Larang/ kepada para arwah di dunia atas/ arwah suci di ketinggian.”

Bahasa yang bebas dari undak usuk basa tak hanya terdapat dalam tiga naskah di atas. Undak usuk basa yang feodalistik, tulis Edi Suhardi Ekadjati dalam Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya (hal. 138), tidak dikenal dalam bahasa Sunda seperti tampak dalam naskah-naskah tua yang ditulis dalam huruf Sunda. Undak usuk mulai kelihatan dalam naskah-naskah yang lebih kemudian.

Jika melihat kronologi, maka bahasa Sunda dalam tiga naskah klasik itu jelas lebih “murni” dibanding naskah-naskah dari zaman setelahnya, termasuk yang telah dibakukan ke dalam undak usuk basa yang sudah dipengaruhi feodalisme Mataraman. Apalagi penggunaan kata “aing”, juga kata “siya/sia” seperti dikutip di pembuka tulisan, berasal dari karya sastra yang pastilah dianggap sebagai karya yang mencerminkan bahasa terbaik pada zamannya.

"Aing" dan Kebanggaan Diri 

Dari paparan di atas, dinamika bahasa tidak terlepas dari hegemoni kekuasaan. Dan kata “aing” menjadi contoh yang jelas bagaimana politik bahasa membentuk penilaian baik-buruk dan kemurnian dalam berbahasa.

Dan berbicara tentang keunikan, tidak ada yang lebih khas selain kata "aing" dalam bahasa Sunda untuk menegaskan kebanggaan.

Cukup tepat jika orang Sunda menggunakan frase "Aing Sunda", atau tagar #AingSunda, saat merespons cuitan akun @TNI_AU yang dianggap meremehkan kesundaan. Kata "aing" di sana menyiratkan Sunda yang egaliter, karena tagar #AingSunda toh memang diutarakan secara terbuka bukan untuk orang per orang dan juga bukan ditujukan kepada orang tua. Selain itu, kata "aing" juga menegaskan kedirian, meneguhkan ego, yang pesan kebanggaannya terasa jauh lebih kental ketimbang "simkuring", apalagi kata "abdi" atau "kaula".

Pengajar sastra Sunda di Universitas Padjajaran, Teddi Muhtadin, kepada Ahda Imran dari Pikiran Rakyat (7 Februari 2010), mengatakan: tak ada kata ganti orang pertama (pronomina persona) yang tepat digunakan untuk mengekspresikan kedirian seperti itu, kecuali kata ”Aing”.

Menggunakan "aing" bukan berarti merayakan kebebasan berbicara dengan seenak perut, melainkan menyadari bahwa bahasa tidaklah hitam-putih. Dan bahwa sebuah kata tidak bisa dinilai semata dengan menggunakan standar yang sudah telanjur (mem)baku bahkan (mem)beku, melainkan harus dilihat pula konteks tulisannya maupun situasi percakapannya.

Juga bukan soal "kemurnian". Bahasa tidak pernah bebas dari pengaruh (kebudayaan) asing. Bahasa yang sanggup bertahan selalu terbuka pada khasanah yang berasal dari berbagai tempat. Bahasa yang murni, pada dasarnya, adalah bahasa yang sudah tidak berkembang lagi. Bahasa yang telah menjadi fosil. Dan membatu. (tirto.id - zen/zen)

Tayang pertamakali di tirto.id  
tanggal 4 Mei 2017 

21 April 2017

Ngaleut Gunung Héjo




Beberapa bulan ini Komunitas Aleut jarang melakukan ngaleut dalam kota, diganti dengan momotoran ke beberapa tempat di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Konon ada yang berkomentar dengan nada sinis, ”keur resep ngadatangan tempat angker jeung jujurigan anyeuna mah.” Barangkali benar belaka apa yang pernah dikicaukan seorang kawan, “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.”

Minggu, 16 April 2017, melintasi 5 kota dan kabupaten (Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang), momotoran hendak menuju Gunung Héjo dan Bukit Patenggéng. Dua tempat ini terlihat jelas dari tol Cipularang, dan kerap mengundang rasa penasaran: yang satu khas hutan hujan tropis, dan satu lagi gersang berbatu.

Sekira 15 motor bersiap dari Kedai Preanger, Jl. Solontongan-Buahbatu, sementara satu motor lagi menunggu di daerah Cimindi. Perjalanan seperti biasa aduhai, kecuali ketika melintas di ruas jalan Gado Bangkong: ada razia kendaraan dari kepolisian. Beberapa kawan berdegup kencang, termasuk saya.


Ketika masuk Purwakarta, rombongan beberapa kali berhenti untuk bertanya arah jalan kepada warga. Ya, google maps terbaik adalah manusia: ada sapa, senyum, dan nuhun. Sampai di sini barangkali jelas, kami menemui manusia bukan jurig.

Dari ruas jalan utama yang menghubungkan Bandung dan Purwakarta, rombongan berbelok ke Darangdan, kemudian berbelok lagi ke sebuah jalan desa yang semakin menyempit. Jalan aspal habis diganti makadam. Makadam habis diganti tanah. Tanah habis diganti lagi makadam kecil, mirip setapak. Dan berakhir di pinggir jalan tol. Buntu.

Deru mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi, pembatas jalan, dan perbukitan mengingatkan saya pada 3 Hari untuk Selamanya. Film garapan Riri Riza yang menceritakan sepasang sepupu yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke Yogyakarta itu punya satu adagen di jalan tol. Yusuf yang diperankan oleh Nicholas Saputra sempat kencing di pinggir Cipularang yang berbukit.

“Lewat sudah tiga hari tuk selamanya / dan kekallah detik-detik di dalamnya / Tunggu sejuta rasa di hati / yang dulu diingkari / Mungkinkah cinta itu di sana / dua hati merekah...”


Tiga orang datang, baru pulang dari ladang. Sambil membawa petai dan diiringi beberapa anjing mereka bertanya, “mau pada ke mana?” Mereka lalu menyarankan agar motor kami diparkir agak menjauh dari jalan tol. “Rawan di sini mah, belum lama ini ada yang hilang motor,” ujarnya. Beberapa kawan lalu memutuskan untuk tidak ikut jalan ke Gunung Héjo, mereka memilih menunggu motor: kurang makan, kurang minum, kurang rokok, ngantuk, dan jomblo.  

Di kejauhan, Gunung Héjo nampak anggun: rimbun dan teduh. Tempat ini dikenal sebagai wilayah penuh mistis. Konon tempat orang-orang melakukan pesugihan atau munjung dalam bahasa Sunda. Pembangunan jalan tol Cipularang pun tidak lepas dari kisah angker Gunung Héjo. Cerita lisan mengabarkan bahwa rencana pembangunan jalan tol seharusnya menggerus gunung tersebut, namun beberapa kali gagal, sampai akhirnya ruas jalan tol dibelokkan. Beberapa kecelakaan lalu lintas sempat terjadi tak jauh dari Gunung Héjo, hal ini tentu semakin menyuburkan kisah mistis.

Kami berjalan menyusuri pinggir jalan tol yang becek sehabis hujan. Kemudian masuk lorong gelap di bawah jalan yang lembab. Dinding dipenuhi coretan, dan terdengar gemericik air. Dari ujung lorong terlihat undakan yang melemaskan lutut. Ditingkahi udara panas, kami mulai berjalan naik. Keringat membanjir, beberapa kawan nampak seperti baru terjatuh ke sungai: basah kuyup.

Suara burung, tonggeret, dan entah binatang apa lagi menyambut kami. Hawa sejuk mulai menelusup. Sebelum sampai di puncak, ada tangga yang terbuat dari besi ringan berwarna hijau. Kondisinya sudah tidak terlalu baik, pegangannya ringkih dan bergoyang. Setelah tangga habis dilewati, kami disambut pepohonan besar dan tua dengan diameter batang yang melebihi tubuh dua orang manusia. Bebatuan hijau dilapisi lumut. Tanah gembur ditaburi daun-daun yang membusuk.


Nafas tersengal dan putus-putus ketika akhirnya kami sampai di sebuah petilasan. Di papan informasi tertulis bahwa petilasan ini adalah tempat bertemunya Prabu Siliwangi dan Kian Santang, anaknya. Ada sebuah batu dibalut kain putih yang konon merupakan sumbat puseur dayeuh (pusat kota), dan sebuah pondok kecil untuk sekadar duduk serta merebahkan badan. Sedikit bergeser ke Utara, nampak sepetak tanah dilindungi plastik putih, kiranya tempat berteduh orang-orang yang menginap.

Di sekitar petilasan, tepatnya di tebing menuju jurang, sampah berkuasa. Jejak manusia yang tak terbantahkan. Ada juga beberapa botol air mineral yang dipenuhi cairan berwarna kuning tua dan jingga. Apakah itu air seni? Saya tak tak bisa memastikan.

Deru mobil terdengar sampai puncak, merusak suasana hutan yang teduh dan sejuk. Seorang kawan sibuk mencatat nama-nama tumbuhan, hasilnya tak kurang dari 130 jenis. Ada baduyut, kawao, cangkuang, gadung, kosambi, dll. Di tempat yang diselubungi misteri, alam seringkali terlindungi. Manusia takut pamali.

Sekitar pukul dua, kami turun dan kembali ke tempat parkir motor. Persediaan air minum semakin menipis, sementara wajah-wajah masih dibakar matahari. Perjalananan dilanjutkan menuju Patenggéng.


“Sadatang ka kabuyutan / meuntas di Ci Saunggalah / leumpang aing ka baratkeun / datang ka Bukit Pategeng / sakakala Sang Kuriang / masa dek nyitu Ci Tarum”

“Sesampai ke tempat suci / nyebrang di Ci Saunggalah / aku berjalan ke arah Barat / datang ke Bukit Patégéng / sakakala Sang Kuriang / waktu akan membendung Ci Tarum”

Bujangga Manik, anak mahkota Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang merupakan rahib pengelana, menuliskan perjalanannya dengan menyebut banyak sekali nama tempat, salah satunya Patégéng. Salah seorang penulis buku Bandung Purba yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya mencoba mengoreksi nama Patégéng yang disebutkan oleh Bujangga Manik.

Dengan diawali dua kata “Saya menduga”, penulis tersebut menjelaskan bahwa Patégéng seharusnya Patenggéng. Nama itu dikaitkan dengan bentuk bukit tersebut yang tegéng atau tengéng, yang dalam bahasa Sunda dipakai untuk menggambarkan tubuh yang pinggangnya lebih melengkung ke dalam.

Dugaan ini saya kira lemah. Karena bentuk bukit yang terlihat tegéng atau tengéng hanya terlihat dari arah tol Cipularang, sedangkan dari arah lain, misalnya kampung Citukung, bentuk bukit tersebut sama sekali tidak tegéng, malah mengerucut. Sedangkan tol Cipularang sendiri baru selesai dibangun pada 2005 menyambut peringatan Konferensi Asia Afrika ke-50 di Bandung. Selain itu, sebaran permukiman warga pun jarang di wilayah yang membuat bukit tersebut terlihat tegéng.

Di luar toponimi tersebut, dari perspektif geologi, Patenggéng merupakan sumbat lava dari sebuah gunung purba yang meletus jutaan tahun yang lalu. Lava yang hendak keluar keburu membeku dan membentuk batuan. Hujan menghancurkan lapisannya yang rapuh, dan menyisakan batuan keras Patenggéng sekarang.


Kami duduk di pinggir sawah, di atas batuan andesit di kampung Citukung. Beberapa kawan mengguyur kepala dengan air yang mengalir ke sawah dan berbau karat. Obrolan ringan berlangsung ditemani asupan air yang baru dibeli oleh dua orang kawan. Hamparan sawah hijau kekuning-kuningan, rahmat bagi petani di sekitar Patenggéng.

Hari semakin sore dan kami tersadar belum makan siang. Darurat pangan selamat di Jalan Sawit-Bojong, Kampung Cijolang, Desa Linggasari, Kecamatan Darangdan. Sate maranggi, goreng ayam, dan mie instant menjadi menu pilihan. Seorang kawan yang kelaparan (mukanya terlihat pucat) menghabiskan duapuluh tusuk sate. Ketika bayar, si ibu penjual kaget dan tersenyum, “itu teh sendiri atau berdua, neng?”

Sebelum gelap, menjelang sore dijemput malam, perjalanan dilanjutkan ke arah Wanayasa. Setelah salat magrib, hujan mulai turun. Beberapa kawan tidak punya jas hujan, tapi perjalanan harus terus berlanjut. Penglihatan kawan-kawan yang memakai kacamata minus cukup terganggu, termasuk saya. Pedoman hanya lampu belakang motor yang di depan. Sebelum Sagalaherang, motor seorang kawan terjatuh dilanggar ketinggian aspal. Tak ada yang terluka, hanya kaget mendera.


Kami akhirnya sampai di Jalan Cagak, lalu berbelok ke arah Lembang. Dingin. Dingin menekan mendesak. Di Ciater kami berhenti untuk sekadar mengisi perut dengan nasi dan kopi. Lembang yang kami khawatirkan macet ternyata lancar belaka. Para wisatawan mungkin sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Pengisian bensin terakhir dilakukan di Jalan Setiabudi sebelum Cihampelas.

Di titik ini kami berpisah. Sebagian kawan berbelok ke arah Babakan Siliwangi, sebagian lagi ke arah Cihampelas. Tiba di titik awal, di Kedai Preanger, kami langsung minum kopi dan tertawa berderai-derai.              

Rute perjalanan hari itu adalah Buahbatu, Cimahi, Padalarang, Cikalongwetan, Sawit, Wanayasa, Sagalaherang, Jalan Cagak, Ciater, Lembang, Buahbatu. Total jarak yang ditempuh sekira 160 km. Kami ingin melakukannya lagi, dan lagi. [irf]