Showing posts with label kerajaan sunda. Show all posts
Showing posts with label kerajaan sunda. Show all posts

08 August 2021

Wastu Kancana: Pertualangan Calon Raja Sunda

Ketika Perang Bubat meletus yang menewaskan kedua orang tua dan kakak perempuannya, Wastu Kancana masih bocah. Berita duka itu disampaikan kepada Mangkubumi Bunisora Suradipati oleh para darmajaksa utusan Prabu Hayam Wuruk. Para tetua Sunda yang telah lanjut usia marah besar. Mereka menghendaki perang, menyerbu Majapahit.

“Mahapatih jejerih! Gajah atah warah! Gusti Mangkubumi! Najan kami geus cetuk-dawuk! Goréng-goréng gé kami téh kungsi ngalaman jadi Senapatiyuda! Kami sanggup kénéh ngeprik wadyabalad Nagri Sunda pikeun males pulih ngagempur urang Majapait!” ucap Ki Olot, tetua yang paling dituakan, emosinya meluap-luap.  

Namun Mangkubumi Bunisora Suradipati dapat meredam emosi para tetua tersebut. Dia berpikir jika Sunda membalas dendam dengan menggempur Majapahit, maka kehancuran akan menimpa seluruh Jawa. Dengan kesedihan yang mendalam, Mangkubumi Bunisora Suradipati kemudian pamit kepada para tetua hendak menenangkan pikiran sejenak dengan pergi ke Jampang, tempat tinggalnya yang juga terdapat padepokan untuk menggembleng para balamati (pengawal kerajaan) Negeri Sunda.

Namun sehari sebelum dia berangkat, Wastu Kancana yang tinggal di keraton bersama sejumlah pengasuhnya diculik seseorang pada malam hari. Setelah dikejar oleh Mangkubumi Bunisora Suradipati, ternyata yang menculiknya adalah salah seorang pemimpin di padepokan Mandala Binayapanti Jampang. Akhirnya Wastu Kancana justru dititipkan di padepokan tersebut.


Pertualangan di Pakuan Pajajaran dan Lampung

Setelah belajar di padepokan Binayapanti Jampang selama lima tahun, akhirnya Wastu Kancana harus kembali ke Kawali, ibu kota Sunda. Namun, sehari sebelum dia pergi, Mangkubumi Bunisora Suradipati datang ke padepokan itu untuk menyampaikan tragedi yang menimpa orang tua, saudara, dan orang-orang Sunda lainnya yang gugur di palagan Bubat.

Ya, selama lima tahun mendalami ilmu, tragedi itu dirasiakan kepada Wastu Kancana. Setelah mendengarkan semua yang dikisahan pamannya, Wastu Kancana pingsan. Lalu siuman dan muntab.

“Paman! Naha Paman teu males pulih ka si Gajah Mada? Paman leutik burih!” bentak Wastu Kancana.

Namun setelah ditenangkan dan diberi pengertian, Wastu Kancana akhirnya mereda. Dia sebetulnya diminta untuk kembali ke Kawali karena hendak dijadikan raja, penerus ayahnya. Namun Wastu Kancana menolak, dia merasa belum pantas dan masih ingin menambah ilmu di tempat lain.

Ditemani Rakean Hujung, kawannya di padepokan, Wastu kancana akhirnya pergi. Rakean Hujung membawanya ke Pakuan, negeri bawahan Sunda yang dulu terpisah. Mereka menyemar sebagai rakyat biasa, bukan sebagai lulusan Binayapanti Jampang apalagi calon raja.

Di Pakuan ternyata hendak terjadi pemberontakan yang akan menggulingkan raja yang sah. Pelakunya adalah Rakean Mantri Kaladarma beserta gerombolannya. Namun, berkat strategi Rakean Hujung dan Wastu Kancana, pemberontakan itu berhasil digagalkan. Setelah itu, keduanya segera meninggalkan Pakuan.

Mereka kemudian menuju pesisir utara Jawa bagian Barat, hendak mencari pengalaman dengan berlayar. Karena perahu yang ada hanya akan berlayar ke Lampung, maka keduanya terpaksa ikut. Di Lampung, mereka berguru kepada Resi Susuk Lampung.

Di padepokan ini, Rakean Hujung dan Wastu Kancana lagi-lagi menolong tuan rumah dari serangan berdarah yang dipimpin Arai Mongga. Setelah peristiwa itu, keduanya pamitan kembali ke Negeri Sunda.

Bagi Wastu Kancana, selain menambah ilmu, di padepokan Lampung juga dia mulai merasakan jatuh cinta kepada seorang gadis bernama Dewi Sarkati, putri Resi Susuk Lampung. Sayang, keduanya harus berpisah. Namun sebelum berpisah, mereka bertukar cendera mata sebagai kenangan-kenangan akan cinta yang hendak dipisahkan raga.

“Geter rasa geter sukma, sambung sinambungan, tepung dina pasisi jangji nu teu kungsi kalisankeun. Antara Lampung jeung Sunda, jauh pilampaheunana, tapi deukeut geugeut na angenna,” tulis Yoseph Iskandar. (irf)

01 August 2021

Perang Bubat: Sikap Lancung Gajah Mada dan Tewasnya Citraresmi


Yoseph Iskandar menulis roman sejarah tentang Kerajaan Sunda dalam sembilan jilid buku, yaitu:

1. Perang Bubat

2. Wastu Kancana

3. Prabu Wangisutah

4. Tanjeur na Juritan Jaya di Buana

5. Pamanah Rasa

6. Putri Subang Larang

7. Prabo Anom Jayadewata

8. Tri Tangtu di Bumi

9. Ajar Kutamangu

Semuanya insyaAllah akan saya resensi satu persatu secara berurutan. Dan mari kita mulai dari buku yang pertama: Perang Bubat.

Kenapa kisah ini dibuka dengan pertumpahan darah? Saya kira, karena tragedi ini menjadi batu tapal untuk siapa saja yang tertarik dengan cerita tentang Kerajaan Sunda. Peristiwa ini hingga kiwari menjadi akar dari pelbagai pamali dalam hubungan Sunda-Jawa.

Warsa 1356 Masehi, Sunda dipimpin oleh Prabu Maharaja Linggabuana. Dia punya dua anak, yaitu Citraresmi dan Wastu Kancana. Adik Linggabuana bernama Mangkubumi Bunisora Suradipati. Sekali waktu, datang utusan dari Kerajaan Majapahit. Tujuannya untuk melukis Citraresmi sebagai salah satu calon istri yang kelak akan dipilih oleh Prabu Hayam Wuruk.

Singkat cerita, Citraresmi terpilih dan dilamar. Karena saat itu Majapahit adalah kerajaan besar yang banyak negeri bawahannya, maka calon mempelai wanita yang mendatangi calon mempelai laki-laki untuk melaksanakan perkawinan. Hal ini sebetulnya sempat ditolak oleh Mangkubumi Bunisora Suradipati yang menjunjung tinggi harga diri Sunda, namun kakaknya menyetujui permintaan Majapahit.  

Karena punya firasat buruk, maka dengan beberapa alasan akhirnya Mangkubumi Bunisora Suradipati dan Wastu Kancana tidak ikut ke Trowulan, ibu kota Majapahit.

Rombongan dari Sunda berlayar melalui Cirebon. Sesampainya di Trowulan—karena ambisi Sumpah Palapa Gajah Mada—mereka tak langsung disambut ke keraton, melainkan ditempatkan dulu di Lapangan Bubat. Gajah Mada bertekad menaklukkan rombongan Sunda karena hanya kerajaan inilah yang belum sempat ia taklukkan untuk menggenapi Sumpah Palapa.

Prabu Hayam Wuruk tidak setuju dengan rencana mahapatihnya. Namun, tekad Gajah Mada telah bulat, dia hendak menjadikan Citraresmi sebagai upeti sebagai tanda bahwa Kerajaan Sunda mengaku takluk.

Lalu apa yang selanjutnya terjadi? Alih-alih menuruti ambisi Gajah Mada, rombongan Sunda mengobarkan perlawanan. Tentu saja kecamuk saling bunuh yang sangat tidak seimbang, sebab mereka jauh-jauh datang ke Majapahit bukan untuk berperang, melainkan pernikahan. Maka demikianlah, firasat buruk Mangkubumi Bunisora Suradipati menjadi kenyataan.   

Seluruh rombongan Sunda tumpas, termasuk Citraresmi yang menghunjamkan patrem pemberian pamannya ke dadanya sendiri. Pesta perkawinan itu berubah menjadi ladang pembantaian.

Sikap lancung Gajah Mada dalam kisah klasik ini kemudian menjadi semacam api abadi dalam pamali-pamali kultural hubungan Sunda-Jawa.

Karena tidak ikut ke Majapahit, maka Mangkubumi Bunisora Suradipati dan Wastu Kancana selamat dan menjadi penerus Kerajaan Sunda, juga kisah-kisah selanjutnya.

Dalam cerita ini Yoseph Iskandar sempat melontarkan kritik terhadap Mohammad Yamin yang “menemukan” sosok Gajah Mada lewat pecahan celengan yang kemudian menjadi narasi seragam dalam buku-buku sejarah di sekolah. Menurut Yoseph, Yamin jelas salah besar, sebab Gajah Mada tidak mungkin seperti yang Yamin imajinasikan:    

“Béda jeung arca nu dipaké nyampaykeun leungeun kéncana dina sajeroning dirina ngajentul di lawang pendopo. Eta arca nu purah ngajaga panto téh, pangawakanana lintuh bayuhyuh. Pipi karebi, panon sipit. Biwir kandel kedeplik. Sarérétan mah bakal pahili jeung Semar. Teuing arca naon, nu pasti sakur tukang nyieunan karajinan keramik di dayeuh Trowulan, éta arca téh dijieun conto pikeun céngcéléngan.”

Ibarat pertandingan tinju, Perang Bubat adalah pukulan pertama yang telak menghunjam dalam kisah panjang perjalanan Kerajaan Sunda. (irf)

01 July 2021

Pergantian Nama Jalan, 661 Tahun Setelah Perang Bubat

Kisah perang yang melahirkan sentimen antar-suku ini sudah lama berlalu, tapi dianggap masih bertahan dalam ingatan orang-orang Sunda dan Jawa.

Cinta berbalas tuba. Rombongan Kerajaan Sunda yang hendak mengawinkan putri mahkota, Dyah Pitaloka Citraresmi dengan Hayam Wuruk Raja Majapahit, justru dihabisi di lapangan Bubat. Soalnya satu dan menonjok kehormatan: Kerajaan Sunda dianggap takluk dan putri sebagai upeti. Kafilah yang hendak kawin itu tak punya pilihan, selain melawan sampai binasa.

Raja Sunda, Maharaja Linggabuana, beserta para pengawalnya tewas berkalang tanah. Sementara Dyah Pitaloka Citraresmi memilih bela pati dengan menghunjamkan patrem/tusuk konde ke jantungnya. Ia pun tumpas.

“Akhirnya, tempat kediaman orang-orang Sunda dikepung dan diserbu oleh tentara Majapahit. Terjadilah peperangan di Bubat yang menyebabkan semua orang Sunda gugur, tak ada yang ketinggalan,” tulis Haris Daryono Ali Haji dalam Menggali Pemerintahan Negeri Doho: Dari Majapahit Menuju Pondok Pesantren (2016)

Orang Sunda muntab, terutama kepada Gadjah Mada sebagai tokoh kunci pembantaian tersebut yang mengedepankan ambisinya memenuhi Sumpah Palapa, yaitu menaklukkan seluruh Nusantara.

“Lalu si hulubalang, dengan dingin dan menghina, menghancurkan segala harapan mereka. Dari awal dia sudah menentang perkawinan itu, yang dia anggap merendahkan martabat tuannya. Dia menunjukkan pada orang-orang Sunda itu bahwa dia hanya akan membiarkan mereka mempersembahkan sang putri kepada harem istana sebagai upeti dari seorang raja bawahan kepada raja junjungannya,” tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008).

Narasi pengkhiatan ini selama ratusan tahun diproduksi lewat cerita lisan, buku, dan sebagainya. Waktu berlalu, masa berganti, dan nasion bernama Indonesia pun telah berdiri, kiranya kebencian tak sepenuhnya luruh. Proses menjadi Indonesia belum sepenuhnya selesai.

Peristiwa Perang Bubat mula-mula dikabarkan oleh tiga naskah, yaitu Pararaton, Kidung Sundayana, dan Carita Parahyangan.

Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005), berdasarkan Kidung Sundayana menerangkan hal serupa, yakni penyulut peperangan tak seimbang itu adalah Gadjah Mada.

“Pati Madu yang diutus mengantarkan surat lamaran kepada Maharaja Sunda sudah pulang dengan hasil baik. Namun, ketika sang rajaputri diantar ke pura Majapahit, patih Gadjah Mada menganut kehendaknya sendiri, mengajukan syarat. Akibatnya, terjadi peperangan antara orang Sunda dan orang Majapahit,” tulisnya.


Dekat Gedung Sate

Karena peristiwa Perang Bubat tersebut, sampai tanggal 11 Mei 2018, Jawa Barat tak punya ruas jalan yang bernama Majapahit, Hayam Wuruk, apalagi Gadjah Mada. Oleh sebagian masyarakat, nama kerajaan, nama raja serta patih itu dianggap sebagai pamali jika disematkan menjadi nama jalan di Tatar Sunda.

Dalam berbagai naskah, Perang Bubat dikabarkan terjadi pada tahun 1357 Masehi. 661 tahun pasca-kejadian tersebut, Jawa Barat baru memiliki Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) meresmikan nama dua jalan tersebut pada acara bertajuk Harmoni Budaya Jawa-Sunda 2018 yang digelar di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, pada Jumat 11 Mei 2018.

“Putri Raja memakai mahkota, kilaunya menawan mata, Harmoni Budaya Jawa-Sunda bukti kebhinekaan Indonesia,” kata 
Aher mengawali acara tersebut.

Sementara Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, yang juga hadir pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa penamaan jalan di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, dengan nama kerajaan dan rajanya tersebut adalah cara budaya membersihkan kotoran-kotoran.

“Penyelesaian budaya menjadi yang paling baik karena bisa menghaluskan yang kasar dan menjernihkan yang kotor,” 
ujarnya.

Ruas-ruas jalan yang namanya diganti terletak tak jauh dari Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Jalan Majapahit terletak di sebelah barat Lapangan Gasibu. Sementara itu, Jalan Hayam Wuruk menggantikan Jalan Cimandiri yang letaknya di sebelah barat Gedung Sate.

Namun, alih-alih mengganti nama jalan lain dengan Jalan Gadjah Mada selaku tokoh utama dalam peristiwa Perang Bubat, pada acara itu justru diresmikan pula Jalan Citraresmi yang sebelumnya bernama Jalan Pusdai.


Dimulai dari Yogyakarta

Pergantian nama ruas jalan seperti yang dilakukan di Kota Bandung awalnya di Yogyakarta. 3 Oktober 2017, Sri Sultan Hamengkubuwono X meresmikan nama Jalan Padjadjaran, Jalan Siliwangi, Jalan Majapahit, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Brawijaya, dan Jalan Prof. Dr. Wirjono Projodikoro. Nama-nama tersebut menghiasi ruas jalan arteri (ringroad).

Langkah Sultan ini sempat mengundang sejumlah pertanyaan dari beberapa pihak karena secara konteks sejarah, Kerajaan Mataram Islam dengan Kerajaan Sunda berbeda periode. Meski Mataram Islam pada beberapa periode berikutnya amat berkuasa di Tatar Sunda, khususnya Priangan, tapi hegemoni kekuasaan selama dua abad itu barangkali tak melahirkan kebencian separah terhadap tragedi Perang Bubat.

Sultan melihat pergantian nama jalan tersebut sebagai bentuk rekonsiliasi kultural antara Jawa dan Sunda, dan lebih luas lagi Indonesia, terlepas dari kerajaan mana yang bertikai.

“Kami menyadari pemimpin kerajaan terdahulu saling mengalahkan satu sama lain, tapi kemudian bersatu dalam NKRI. Kejayaan Majapahit, Sriwijaya 700 tahun lalu sudah waktunya dibangkitkan di abad 21 ini, dan rekonsiliasi bagi saya merupakan hal penting untuk menatap masa depan,” kata 
Sultan.


Polemik di Surabaya

Sementara di Surabaya, pergantian nama jalan terkait peristiwa Perang Bubat sempat diprotes oleh warga Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari. Kedua nama jalan tersebut akan diganti oleh Jalan Sunda dan Jalan Prabu Siliwangi.

Rabu, 7 Maret 2018, sejumlah warga turun ke jalan dan sebagai bentuk protes mereka membawa secarik kertas bertuliskan “Jl. Soekarwo” serta berfoto di bawah tulisan “Jl. Dinoyo”. Bagi mereka, yang jadi masalah bukan pergantian dengan nama yang berbau Sunda, tapi Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari memiliki sejarah panjang yang mereka banggakan.

“Coba tanyakan kepada para sesepuh warga Dinoyo, jalan tersebut sejak dulu sudah bernama Dinoyo. Coba kalau nama kita diganti begitu saja, jelas kita marah. Karena sudah ratusan tahun jalan ini sudah ada. Menjadi kebanggaan sendiri bagi mereka,” ujar 
Kusnan, pemerhati sejarah dan budaya dari Paguyuban Arek Suroboyo.

Namun, beberapa minggu setelah aksi penolakan tersebut, muncul spanduk tandingan yang menyatakan dukungan terhadap pergantian nama jalan tersebut. Warga yang mendukung menuding bahwa warga yang menolak kemungkinan ditunggangi pihak lain.

Surjo Hadi, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPKM) Keputran mengklaim bahwa seluruh warga Dinoyo mendukung pergantian nama jalan itu. Ia pun meyakinkan bahwa kekhawatiran warga terkait pengurusan surat-surat yang sifatnya administratif tidak akan sulit.

Menanggapi rencana perubahan nama jalan ini, Adi Sutarwijono, Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya mengatakan bahwa selain harus melalui persetujuan DPRD Surabaya, perubahan nama jalan juga harus memiliki latar belakang sejarah sejarah dan sosiologi seperti penamaan yang selama ini telah dilakukan.

Ia menilai perubahan nama Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari dengan nama jalan lain yang dikaitkan dengan peristiwa Perang Bubat kurang kuat secara sejarah dan sosiologis.

“Kalau alasannya itu, ya di-guyu generasi milenial. Wong Bonek sama Bobotoh dan Viking saja akur, kok bawa-bawa perang yang lama banget? Hubungan Pemprov Jatim dengan Jabar kan juga sangat baik,” 
ujarnya.

Pendapat serupa dilontarkan oleh pemerhati sejarah Kuncarsono Prasetyo. Menurutnya, penamaan jalan lahir dari kesepakatan bersama dan ada sejarah yang menyertainya. Ia menambahkan bahwa beberapa nama jalan yang mempunyai akar lokal yang kuat, sejak zaman Belanda tidak pernah diganti, seperti Jalan Tunjungan, Gemblongan, Bubutan, dan sebagainya.

Persoalan di Surabaya memang berbeda dengan yang terjadi di Bandung dan Yogyakarta. Secara sejarah, ringroad (Yogyakarta), Jalan Gasibu, dan Jalan Pusdai relatif kurang memiliki akar kelokalan yang kuat. Kalau pun ada yang agak berat diganti yaitu Jalan Cimandiri, karena jalan tersebut telah ada sejak lama dan dikelompokkan dalam satu wilayah yang nama-nama jalannya adalah nama sungai di Jawa Barat. (irf)

03 October 2017

Kesedihan di Balik Prasasti Batutulis


Di Bogor Selatan, tepatnya di prasasti Batutulis, kesedihan datang berulang. 
Agustus 2002, belum lindap betul dari ingatan saat Said Agil Husin Al Munawar, Menteri Agama di era Presiden Megawati, menginstruksikan penggalian di lokasi situs bersejarah tersebut. Alasannya hebat nian, atas informasi dari seseorang yang namanya dirahasiakan diduga di lokasi prasasti tersebut terdapat harta karun peninggalan Prabu Siliwangi. Jika harta karun itu berhasil ditemukan, maka akan diserahkan kepada negara untuk membayar utang. Tentu saja orang Sunda, khususnya warga Bogor, meradang.

Dalam proses penggalian, alih-alih mendapatkan harta karun, yang terjadi adalah kerusakan lokasi situs yang lokasinya persis di seberang Istana Batutulis. Dalam kasus ini, kesedihan yang paling membekas bukan terutama kerusakan lokasi, tapi ihwal akal sehat yang terguncang: pejabat negara dengan pangkat mentereng Menteri Agama, meyakini ada harta karun peninggalan zaman kerajaan, dan mencoba menggalinya demi membayar utang negara. 

Prasasti Batutulis dibuat Prabu Surawisesa, Raja Sunda yang berkuasa selama 14 tahun (1521-1535 M) untuk mengenang kejayaan ayahnya (Sri Baduga Maharaja/Prabu Siliwangi). Prasasti itu dibuat di tengah kepiluan karena wilayah kekuasaan warisan ayahnya tersebut mulai tanggal satu persatu, direbut hegemoni kekuatan politik baru, yaitu kerajaan Islam.

Perjanjian dengan Portugis

Terdesaknya Kerajaan Sunda yang Hindu dan beribukota di Pakuan Pajajaran, sebetulnya sudah diantisipasi oleh Sri Baduga Maharaja. Bentuk antisipasinya adalah menjalin kerjasama dengan Portugis. Bahkan Surawisesa sendiri yang dua kali diutus pergi ke Malaka menemui Portugis.

Pada 1512, dikutip Hageman dalam Geschiedenis der Sundalanden, menyebutkan ada raja Sunda bernama Samiam datang ke Malaka untuk merundingkan urusan dagang dengan Alfonso d’Albouquerque. Pada 1521, raja tersebut datang untuk yang kedua kali. Karena tertarik menjalin hubungan dagang dengan Sunda, maka Alfonso d’Albouquerque mengutus iparnya, Henrique de Leme, untuk memimpin utusan Portugis pergi ke ibukota Sunda pada 1522. 

Dalam teks yang ditulis orang Portugis itu, ada penumpukan informasi yang bisa mengacaukan persepsi sejarah. Saleh Danasasmita dalam Melacak Sejarah Pakuan Pajajaran dan Prabu Siliwangi menjelaskan bahwa berita Portugis tersebut ditulis dengan jarak yang cukup jauh dari kejadiannya. Mereka menuliskan nama disekaliguskan. Ratu Samiam yang datang ke Malaka pada 1512 dan 1521 disebut “Red e Zunda” (Raja Sunda).

Padahal pada tahun-tahun tersebut, Samiam atau Surawisesa, masih sebagai putera mahkota. Sedangkan pada 1522, ketika utusan Portugis melakukan kunjungan balasan, Samiam telah menggantikan ayahnya sebagai raja Sunda. 

Saleh Danasasmita menambahkan bahwa secara logika tidak mungkin seorang raja pergi berlayar mengarungi samudera yang penuh marabahaya hanya untuk misi dagang dan kerjasama. Jadi, menurutnya, yang pergi ke Malaka adalah Samiam/Surawisesa yang diutus oleh ayahnya. Saat itu, dalam analisis Saleh Danasasmita, ia belum menjadi raja.

Kedatangan utusan Portugis pada 1522 kemudian menghasilkan perjanjian kerjasama yang diabadikan dalam padrão yang tinggalannya masih bisa dilihat sampai sekarang. Perjanjian tersebut bersifat internasional. Naskah perjanjian dibuat rangkap dua (in duplo), dan masing-masing pihak memegang satu lembar.


“Van deze overeenkomst werd een geschrift opgemaakt in dubbel, waarvan elke partij een behield,” (Dari perjanjian ini dibuat tulisan rangkap dua, lalu masing-masing pihak memegang satu), tulis Hageman dari sumber Portugis yang ia kutip.

Isi perjanjian tersebut di antaranya ialah, pertama, Sunda dalam jangka waktu setahun akan memberikan 1.000 karung merica yang ditukar oleh Portugis dengan barang-barang kebutuhan pihak Sunda. Kedua, Portugis diizinkan untuk mendirikan benteng di Pelabuhan Kalapa (Sunda Kelapa). Selain itu, ada satu perjanjian yang sifatnya rahasia, yaitu Sunda dan Portugis akan bersama-sama menghadapi Demak yang mulai merangsek ke barat.

Bertempur dan Terdesak

Dalam naskah Carita Parahiyangan, Surawisesa disebutkan terlibat 15 kali peperangan dalam rangka mempertahankan wilayahnya, terutama di pesisir utara Jawa dari gempuran armada Demak dan Cirebon. Hal itu terjadi hanya dalam kurun waktu 14 tahun kepemimpinannya di Sunda. Perang melawan Demak disinggung dalam naskah tersebut dengan menyebut nama beberapa tempat, di antaranya Wahanten Girang, Ancol Kiyi, dan Kalapa.

Saleh Danasasmita dalam bukunya yang lain, Menemukan Kerajaan Sunda, menjelaskan bahwa perjanjian antara Sunda dan Portugis mencemaskan Trenggana yang waktu itu menjadi Sultan Demak III. Portugis yang berkedudukan di Malaka dan Pasai sudah menguasai Selat Malaka yang menjadi pintu masuk perairan Nusantara sebelah utara. Jika Selat Sunda sebagai pintu masuk yang lain dikuasai juga oleh Portugis akibat perjanjian tersebut, maka otomatis jalur perdagangan laut Demak terputus, padahal jalur tersebut adalah urat nadi kehidupan ekonomi.    

Untuk mengatasi ancaman ini, Trenggana segera mengirimkan armada yang dipimpin senapati Demak, Fadillah Khan. João de Barros (sejarawan Portugis) menyebutnya Faletehan. Sementara Tome Pinto (petualang Portugis) menyebutnya Tagaril yang mungkin ucapan Portugis untuk "Ki Fadil" (julukan Fadillah Khan sehari-hari).

Gabungan pasukan Demak dan Cirebon yang dipimpin Fadillah Khan berjumlah 1.967 orang. Sasaran pertamanya adalah Banten sebagai pintu masuk Selat Sunda. Setahun kemudian, bersama 1452 pasukannya, Fadillah Khan menyerang Pelabuhan Kalapa. Pemimpin yang betugas di Kalapa beserta keluarganya, serta para menteri yang bertugas di pelabuhan, ditemukan tewas. Pasukan bantuan dari Pakuan Pajajaran pun berhasil dipukul mundur.

Portugis yang terikat perjanjian dengan Sunda mencoba mengirimkan bantuan, namun terlambat. Fransisco de Sa yang sedang bertugas membangun benteng di Kalapa diangkat menjadi Gubernur Goa di India. Pasukan yang akan berangkat ke Sunda dengan enam buah kapal dipersiapkan dari Goa. Kapal yang dinaiki De Sa dan berisi peralatan untuk benteng terpaksa ditinggalkan karena diterpa badai di Teluk Benggala.

Bantuan ke Sunda kemudian dilanjutkan dengan bertolak dari Malaka. Karena Banten dikuasai pasukan Hasanudin (Sultan Banten), maka Portugis langsung menuju Pelabuhan Kalapa, yang sialnya — karena situasi telah berubah -- kapalnya terlalu menepi terlalu dekat ke pantai, akhirnya langsung dihajar armada Fadillah Khan.

Di sebelah timur, pasukan Cirebon mencoba bergerak lebih jauh ke selatan, berusaha menggerogoti wilayah Sunda. Dengan bantuan Demak, Cirebon berhasil mengalahkan Galuh. Lalu dua tahun kemudian Kerajaan Talaga, benteng terakhir Kerajaan Galuh berhasil direbut. Meski sebelah timur Citarum telah dikuasi Cirebon, namun mereka masih belum bisa menembus ke barat, ke Pakuan Pajajaran.

Meski digempur habis-habisan, Surawisesa berusaha mati-matian untuk mempertahankan wilayahnya. Maka di sekujur perbatasan antara Sunda dan Cirebon diamuk peperangan yang hebat. Tahun 1531, Surawisesa dan pemimpin Cirebon, Syarif Hidayat, menyepakati perdamaian.

Dalam situasi seperti inilah kemudian Surawisesa mempunyai kesempatan untuk mengurusi masalah dalam negerinya. Beberapa pemberontakan dipadamkam, dan ia mencoba menerawang situasi diri dan kerajaannya.

Kepiluan dalam Upacara Srada

Warsa 1533, bertepatan dengan 12 tahun setelah ayahnya wafat, Surawisesa membuat sakakala berupa tanda peringatan bagi mendiang ayahnya dengan menyebutkan karya-karya sang ayah selama beliau memimpin Sunda.

“Mungkin pemasangan batu-tulis itu bertepatan dengan upacara srada yaitu ‘penyempurnaan sukma’ yang dilakukan setelah 12 tahun seorang raja wafat. Dengan upacara itu sukma orang yang meninggal dianggap telah lepas hubungannya dengan dunia materi,” tulis Saleh Danasasmita.

Tanda peringatan itulah yang hari ini dikenal dengan prasasti Batutulis, dengan terjemahan sebagai berikut: 

“Semoga selamat. Inilah tanda peringatan (untuk) Prabu Ratu almarhum, dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana, dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja ratu penguasa di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. Dialah yang membuat parit (pertahanan) di Pakuan. Dia anak Rahyang Dewa Niskala yang mendiang di Gunatiga, cucu Rahyang Niskala Wastu Kancana yang mendiang di Nusa Larang. Dialah yang membuat tanda peringatan gunung-gunungan, mengeraskan (jalan) dengan batu, membuat hutan samida, membuat Sanghiyang Talaga Rena Maha Wijaya. Ya dialah (yang membuat semua itu). (ditulis) Dalam tahun Saka lima-pandawa-pangasuh-bumi.” (Menemukan Kerajaan Sunda, hlm 47)

Empat setengah abad kemudian, setelah Surawisesa menuangkan kenangan dan kesedihannya, di sekitar lokasi prasasti Batutulis digali atas perintah Menteri Agama. Harta karun tak didapat, Menteri Agama hanya menabur angin dan menuai badai. (tirto.id - irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id
tanggal 24 September 2017

08 June 2017

Kisah Klasik Catatan Perjalanan Bujangga Manik



Salah satu naskah sastra Sunda kuna, bahkan bisa dibilang salah satu naskah yang terpenting, adalah perjalanan Bujangga Manik menyusuri Pulau Jawa dan Bali. Naskah ini ditulis dalam larik-larik delapan suku kata—bentuk terikat dalam puisi cerita Sunda kuno, yang ditulis di atas daun palem yang tersimpan di perpustakaan Bodleian di Oxford (Inggris) sejak 1627 atau 1629.

Bujangga Manik adalah seorang bangsawan Kerajaan Sunda (Pakuan Pajajaran) yang memilih menjadi rahib Hindu-Sunda yang berkelana ke beberapa tempat suci untuk mencari tempat untuk masa akhir hidupnya. Dalam naskah (baris 663-667) yang tertuang di buku Tiga Pesona Sunda Kuna karya J. Noorduyn (Direktur KITLV yang pensiun pada 1991) dan A. Teeuw (Profesor Emeritus bidang Bahasa dan Sastera Melayu dan Indonesia di Universitas Leiden) tertulis:

“Nyiar lemah pamasaran/ nyiar tasik panghanyutan/ pigeusaneun aing paéh/ pigeusaneun nunda raga.”

“Mencari tempat untuk pekuburan/ mencari telaga untuk tenggelam/ tempat untuk kematianku/ tempat untuk meninggalkan badan.”

Bujangga Manik melakukan perjalanannya sebanyak dua kali. Yang pertama dari Pakancilan di Pakuan Pajajaran sampai ke Pamalang di Jawa bagian tengah. Ia pulang karena rindu kepada ibunya. Perjalanan kedua dilakukan dari Pakancilan melewati Jawa bagian tengah, Jawa bagian timur, sampai Bali. Lalu kembali ke Jawa bagian barat dan berhenti di Gunung Ratu, tak jauh dari kaki Gunung Patuha, dan tak pernah kembali lagi. Ia wafat di sana.

Dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda, A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung atau ditulis pada masa Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511.

Kenapa Bujangga Manik memilih menjadi rahib dan meninggalkan kehidupan istana? Dalam Suluk Abdul Jalil Volume 4 diterangkan bahwa kondisi Dayeuh Pakuan Pajajaran waktu itu ibarat surga. Kemakmuran dan kemuliaan tersuguh di ibu kota kerajaan Sunda itu. Namun, hal tersebut hanya dinikmati segelintir kalangan saja yang dekat dengan pusat kekuasaan. Sementara mayoritas masyarakat adalah para kawula dengan status budak belian yang setiap saat bisa diperjualbelikan. Hal itulah yang membuat Bujangga Manik memilih berkelana meninggalkan pusat kekuasaan.

Pada perjalanannya yang kedua, ada satu dorongan tambahan yang membuat Bujangga Manik segera meninggalkan ibunya dan kehidupan di lingkungan istana: dia dilamar seorang perempuan cantik dan ibunya menyarankan untuk menerima lamaran tersebut. Seorang kurir yang bernama Jompong Larang disuruh perempuan yang melamar Bujangga Manik untuk menyampaikan maksudnya, sembari membawa sirih-pinang yang ditata di atas baki, ditutup dengan sapu tangan, dan tersusun begitu rapi, dan rupa-rupa pemberian lainnya. 

Ibunya berkata pada baris 535-545:

“Anaking, haja lancanan/ karunya ku na tohaan/ sugan sia hamo nyaho/ tohaan geulis warangan/ rampés rua rampés ruah/ teher geulis undahagi/ hapitan karawaléa/ buuk ragi hideung teuleum/ ceta hamo diajaran/ na geulis bawa ngajadi/ na éndah sabot ti pangpang/ hanteu papahianana.”   

“Ananda, layanilah dengan serius/ kasihan terhadap puteri/ barangkali ananda tidak tahu/ puteri cantik pantas diperisteri/ cantik rupa baik perilaku/ bahkan berperawakan indah semampai/ gadis pingitan juga setia/ rambut hitam bagai dicelup/ terampil tanpa harus diajari/ cantik bawaan semenjak lahir/ jelita saat masih dikandung/ tiada yang menandingi.”

Mendengar perkataan ibunya, Bujangga Manik bukannya menurut dan menerima lamaran, ia malah menyuruh untuk mengembalikan semua pemberian perempuan yang melamarnya. Ia menganggap bahwa kata-kata ibunya terlalu berlebihan, terlampau memuji, dan hal itu menurutnya adalah perbuatan terlarang. Pada baris 553-562 Bujangga manik berkata:

“Leumpang bawa pulang deui/ leumpang reujeung si Jompong/ ka dalem ka na tohaan/ seupaheun ta bawa deui/ buah reumbeuy bawa deui/ piburateun pihiaseun/ éta bawa pulang deui/ pikaéneun pisabukeun/ kalawan keris maléla/ leumpang bawa pulang deui.”

“Pergi dan bawalah kembali/ sekalian pulangkanlah bersama si Jompong/ ke istana kepada tuan puteri/ sirih-pinang itu bawa kembali/ berbagai persembahan bawa kembali/ bahan obat-obatan dan bahan perhiasan/ itu semua kembalikan lagi/ bahan pakaian dan bahan selendang/ termasuk keris baja/ bawalah pulang kembali.”

Setelah itu Bujangga Manik mengungkapkan isi hatinya kepada sang ibu. Ia mengutarakan bahwa apa yang disarankan ibunya untuk menerima lamaran tersebut adalah jalan yang salah, jalan menuju tempat kematian, jalan ke kuburan, dan menyebarkan kejelekan. Ia merasa tak nyaman, dan ibunya dianggap telah tersesat. Kemudian ia pamit untuk yang penghabisan sebelum kembali melakukan perjalanan. Pada baris 642-650 Bujangga Manik berucap:

“Ambuing karah sumanger/ pawekas pajeueung beungeut/ ambu kita deung awaking/ sapoé ayeuna ini/ pajeueung beungeut deung aing/ mau nyorang picarék deui/ mau ma ti na pangimpian/ pajeueung beungeut di bulan/ patempuh awak di angin.”

“Karena itu, bunda selamat tinggal/ untuk yang terakhir bertatap muka/ kita, bunda bersama denganku/ hanya sehari inilah/ bertatap muka denganku/ tak kan pernah berbincang lagi/ kecuali hanya dalam mimpi/ saling tatap muka di bulan/ bersentuh tubuh di angin.”

Setelah bertahun-tahun menjelajah daerah-daerah di Pulau Jawa dan Bali, Bujangga Manik atau Ameng Layaran kemudian menetapkan tempatnya yang terakhir, tempat untuk berpisahnya raga dan sukma. Pada baris 1396-1407 ia menulis:

“Sadiri aing ti inya/ sacunduk ka Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Caréngcang/ éta huluna Cisokan/ landeuhan bukit Patuha/ heuleut-heuleut Lingga Payung/ nu awas ka Kreti Haji/ Momogana teka waya/ neumu lemah kabuyutan/ na lemah ngalingga manik/ teherna dek sri mangliput/ ser manggung ngalingga payung.”

"Sepergiku dari sana/ sampai ke Gunung Ratu/ Sanghiang Karang Carengcang/ itulah hulu sungai Cisokan/ di kaki Gunung Patuha/ batas antara Lingga Payung/ yang bisa memandang jelas ke Kreti Haji/ berharap semoga terbukti menemukan tanah yang suci/ tempat yang menyerupai tiang permata/ lalu akan kutudungi/ mengembang ke atas bagaikan payung bertiang.”

Lalu ia mendeskripsikan kematiannya. Hal ini yang kemudian menimbulkan pelbagai pertanyaan terhadap naskah ini yang dinilai banyak mengandung masalah kepengarangan. Di luar hal tersebut, berikut bunyi tentang kematian itu pada baris 1443-1452:

“Pati aing hanteu gering/ hilang tanpa sangkan lara/ mecat sakéng kamoksahan/ diri na aci wisésa/ mangkat na sarira ageung/ ngaloglog anggeus nu poroc/ atma mecat ti pasambung/ aci mecat ti na atma/ pahi masah kaleumpangan.”

"Kematianku tanpa sakit/ meninggal bukan karena derita/ melesat menuju kebebasan/ kepergian sang sukma/ keluar dari raga kasar/ copot sesudah yang terakhir/ sukma lepas dari ikatan/ ruh lepas dari sukma/ sama-sama lepas dan pergi.”

Yang menonjol dari naskah ini adalah banyaknya nama tempat yang disebutkan selama perjalanan. J. Noorduyn dalam Perjalanan Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: Data Topografis dari Sumber Sunda Kuno terjemahan Iskandar Wassid, menemukan sedikitnya 450 nama tempat, dan sebagian besar bersesuaian dengan topografi Pulau Jawa. Ia pun kemudian membuat peta topografi Pulau Jawa berdasarkan naskah tersebut.

“Pemaparan ini terutama ditekankan pada penyebutan nama-nama tempat, daerah, sungai, dan gunung yang terletak pada rute atau dekat rute yang disusuri,” tulis J. Noorduyn.

Selain itu, Hawe Setiawan dalam Bujangga Manik dan Studi Sunda memaparkan bahwa naskah ini mempersembahkan sebentuk ungkapan estetis berupa puisi prosais atau prosa puitis dari penghayatan dan pengalaman religius seorang asketis.

“Sebagaimana yang diteliti oleh Teeuw, dalam naskah ini kita mendapatkan idiom, metafora, dan pola persajakan yang menawan,” lanjut Hawe.

Namun demikian, naskah ini bukan berarti tanpa kekurangan. Hawe Setiawan mencatat setidaknya ada empat poin kekurangan dari kisah perjalanan Bujangga Manik tersebut: “(1) Masalah kepengarangan: apakah tokoh yang bernama Bujangga Manik alias Ameng Layaran adalah penggubah naskah ini ataukah semata-mata tokoh cerita? (2) Masalah representasi: apakah kisah dan deskripsi yang terdapat dalam naskah ini merupakan representasi pengalaman ataukah semata-mata merupakan hasil imajinasi? (3) Masalah sudut pandang: mengapa dalam naskah ini berkali-kali terjadi semacam pertukaran sudut pandang penceritaan, yakni dari sudut pandang orang pertama ke sudut pandang orang ketiga dan sebaliknya? (4) Masalah fungsi dan pretensi teks: adakah relasi yang signifikan antara deskripsi latar yang secara topografis sedemikian terperinci dan nilai-nilai spiritualitas yang terkandung dalam naskah ini?” tulis Hawe.

Sementara dalam buku Empat Sastrawan Sunda Lama karya Edi S. Ekadjati, dkk., diterangkan bahwa berdasarkan penelusurannya, sebelum abad ke-17 nama pengarang naskah Sunda hanya dikenal seorang, yaitu bernama Buyut Ini Dawit. Ia seorang pengarang perempuan dari kalangan pertapa di pertapaan Ini Teja Puru di Gunung Kumbang. Karangannya berjudul Sewaka Darma yang ditulis dalam bahasa dan aksara Sunda Kuno dalam bentuk puisi.

“Dalam pada itu, Bujangga Manik menyebut dirinya sebagai penyusun cerita perjalanannya mengelilingi Pulau Jawa dan Pulau Bali dalam bentuk puisi. Dapat diperkirakan dia adalah seorang laki-laki dari kalangan keraton Sunda di Pakuan Pajajaran yang memilih kegiatan agama sebagai jalan hidupnya. Namun masih dipertanyakan, apakah Bujangga Manik itu nama dirinya atau nama julukan semata?” tulisnya.

Terkait beberapa masalah kepengarangan, Hawe Setiawan kemudian memaparkan bahwa masalah-masalah seperti itu perlu dibahas dengan tetap memperhatikan konteks historis dan sosiologis yang melingkupi naskah, setidaknya uraian mengenai masalah-masalah tersebut dapat mendorong pembaca untuk memperhatikan keadaan zaman dan masyarakat yang melahirkan naskah tersebut. (tirto.id - irf/zen)

Tayang pertama kali di tirto.id  

tanggal 27 Mei 2017