Showing posts with label Semangat Baru. Show all posts
Showing posts with label Semangat Baru. Show all posts

09 May 2017

Legenda Lagu Anak Sunda Mengkritik Kekuasaan



Gamelan Degung di Bandung yang mengiringi lagu Sunda, salah satunya Ayang-ayang Gung. FOTO/KITLV.
Lagu yang memuat kritik sosial yang, salah satunya, menyindir kekuasaan bukan baru di Indonesia. Jauh sebelum lagu-lagu kritik Iwan Fals menjadi populer, di tatar Sunda telah hadir lagu "Ayang-ayang Gung". Lagu ini, meski menjadi pengiring permainan anak-anak dengan cara didendangkan bersama-sama dan dibawakan secara ceria, namun sejatinya adalah sindiran keras terhadap pejabat yang haus kuasa sehingga menjilat kaum kolonial.

Menurut catatan Mikihiro Moriyama dalam Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19, yang mula-mula memperkenalkan lagu ini adalah  R. Poeradiredja (ketua editor untuk bahasa Sunda pada kantor Volkslectuur atau Balai Pustaka) dan M. Soerijadiradja (guru bahasa Sunda dan Melayu di Opleidingsschool atau Sekolah Pelatihan di Serang) dalam makalah yang berjudul "Bijdrage tot de kennis der Soendasche taal" yang dipresentasikan pada Kongres Pertama Bahasa, Geografi, dan Etnografi Jawa pada 1919. Berikut lirik lengkapnya:

“Ajang-ajang agoeng—goeng / goeng goengna ramé—mé / ménak ki Mas Tanoe—noe / noe djadi Wadana—na / naha mana kitoe—toe / toekang olo-olo—lo / loba anoe giroek—roek / roeket ka koempeni—ni / nijat djadi pangkat—kat / katon kagoréngan—ngan / ngantos Kangdjeng Dalem—lem / lempa-lempi-lempong / ngadoe pipi djeung noe ompong”

“Dua orang berjalan bahu-membahu / sebuah gong berbunyi keras / seorang bangsawan, Tuan Tanu / dia menjadi Wedana / mengapa dia begitu? / dia adalah seorang penyanjung / banyak orang tidak suka kepadanya / dia dekat dengan pemerintah kolonial / tujuannya ingin menjadi pejabat tinggi / kejahatannya terbongkar / dia menanti Bupati / lempa-lempi-lempong / saling mengadu pipi dengan orang ompong”

Siapa sebenarnya Tuan Tanu dalam lirik tersebut? Dalam Sejarah Kota-kota Lama di Jawa Barat karya Nina Lubis, dkk., dijelaskan bahwa Tuan Tanu atau Letnan Tanujiwa adalah orang yang menyertai Scipio (seorang peneliti Belanda) melakukan ekspedisi ke daerah hulu Cisadane sekira tahun 1680-an. Ia yang waktu itu berkedudukan di Kampung Baru Cipinang (Jatinegara), ketika menemani Scipio, memimpin pasukan pekerja (werktroep) yang dipencar menjadi beberapa kelompok kecil untuk membuka perladangan.

Tahun 1687, Tanujiwa mendapat perintah dari Gubernur Jenderal VOC, Joanes Camphuijs, untuk membuka hutan bekas Kerajaan Pajajaran. Ia akhirnya berhasil mendirikan sebuah perkampungan di Parung Angsana yang kemudian diberi nama Kampung Baru (sekarang Tanah Baru). Kampung inilah yang menjadi cikal bakal tempat kelahiran Kabupaten Bogor. Dari Kampung Baru Cipinang, Tanujiwa kemudian pindah ke tempat ini.

Dari perannya tersebut, terlihat bagaimana dekatnya hubungan Tanujiwa dengan kekuasaan VOC. Dalam versi lain yang kerap dinyanyikan anak-anak, lirik "Ayang-ayang Gung" dipungkas oleh kalimat “Jalan ka Batawi ngemplong” (Jalan Ke Batavia terbuka lebar). Hal ini menyiratkan bahwa jalan menuju kekuasaan (pusat VOC di Batavia) menjadi mudah.

“'Ayang-ayang Gung' adalah nyanyian yang bersumber dari khasanah lagu permainan anak. Teks yang asli sebetulnya merupakan pengkisahan secara kritis terhadap tokoh feodal yang bernama Ki Mas Tanu, seorang antek Kolonial Belanda. Dia (Ki Mas Tanu) menjadi prototipe kesewenang-wenangan kekuasaan, dan menjadi sindiran juga guyonan di kalangan orang-orang Sunda, termasuk anak-anak,” tulis Budi Susanto, S.J. dalam Politik & Postkolonialitas di Indonesia.

Budi Santoso menambahkan bahwa "Ayang-ayang Gung" adalah kritik kesadaran kelas yang terobsesi pikiran kolonial, pikiran feodal,  atau warisan pendahulu yang menganggap bahwa rakyat adalah presentasi hierarki dunia bawah dan pelengkap dunia atas. Rakyat adalah abdi, pelayan, dan berposisi bukan pada level elite politik penguasa atas melainkan sebaliknya.

Narasi feodal dan kedekatan tokoh pribumi dengan kaum kolonial dalam "Ayang-ayang Gung", menurut M.A. Salmoen dalam buku Raden Hadji Muhammad Musa adalah sindiran untuk Hofd Penghulu Limbangan, yaitu Muhammad Musa. Tokoh ini dikenal dekat dengan lingkaran kekuasaan kolonial, terutama persahabatannya yang melegenda dengan Karel Frederik Holle: seorang pengusaha perkebunan, pendorong budaya cetak dalam literasi Sunda, yang sekaligus penasehat kehormatan pemerintah Hindia Belanda untuk urusan pribumi.

“Musa dianggap oportunis dan ambisius; fakta menunjukkan bahwa ia begitu sering tunduk kepada Belanda dan itu dilihat sebagai suatu aib. Beredar rumor bahwa pemerintah kolonial telah memberi ganjaran atas pelayanannya yang setia dalam banyak hal, antara lain, sampai tujuh keturunannya kemudian menjadi bupati,” tulis M.A. Salmoen.
 


Salah satu keturunan Muhammad Musa, yaitu R.A.A. Musa Suriakartalegawa yang menjadi pemimpin Partai Rakyat Pasundan kemudian terkenal karena pernah memproklamasikan Negara Pasundan, juga dikenal dekat pemerintah kolonial. “Selama perang kemerdekaan, ia didukung sepenuhnya oleh pemerintah Belanda,” tambahnya.

Pendapat M.A. Salmoen ini sejalan dengan temuan Mikihiro Moriyama ketika melakukan wawancara dengan salah satu narasumber untuk keperluan penyusunan bukunya. Wawancara yang dilakukan pada 1994 tersebut menyebutkan bahwa "Ayang-ayang Gung" sebenarnya merupakan hasil gubahan Muhammad Musa sendiri. Hofd Penghulu Limbangan tersebut merasa khawatir anaknya akan dikalahkan oleh salah satu lawan politiknya, yaitu seorang lelaki yang bernama Tanu. Ia kemudian menggubah "Ayang-Ayang Gung" sebagai senjata untuk menyerang Tanu. Namun senjata tersebut, terutama menjelang Perang Dunia II pecah, malah berbalik kepada dirinya.

“Kemampuan Tanu dipertanyakan, kelicikannya diejek, tetapi tak pernah terlintas dalam pikirannya Musa bahwa lagu yang dikarangnya akan dikaitkan dengan dirinya sendiri: rupanya senjata makan tuan,” tulis Moriyama.

Di luar beberapa versi yang mengidentifikasi tokoh Tanu, dalam keseharian di tatar Sunda, "Ayang-ayang Gung" cukup populer dan di beberapa daerah masih melekat sampai sekarang. Tahun 1984, ketika Moriyama tinggal di desa Cikalong Wetan di dekat Cianjur, ia mendengar "Ayang-ayang Gung" dinyanyikan anak-anak. Sementara di kampung halaman saya di pesisir selatan Sukabumi, sampai media 1990-an awal, "Ayang-ayang Gung" juga masih sering terdengar didendangkan anak-anak ketika bermain.

Anak-anak ini umumnya bernyanyi dengan riang dan bertepuk tangan dalam lingkaran sambil meneriakkan kata-kata yang berima. Kisah tentang wedana licik dinyanyikan di tengah permainan yang gembira.

“Kebanyakan orang tidak lagi tahu nama Musa, tetapi segelintir orang tua Sunda bercerita kepada penulis bahwa sebetulnya lagu itu tentang Musa sendiri, yang menjadi teman Belanda, seorang lelaki pembohong dan licik,” tulis Moriyama. (tirto.id - irf/zen)


Tayang pertamakali di tirto.id
tanggal 9 April 2017

07 June 2015

Anak Muda dan Media Sunda


Di tengah gairah kampanye Kesundaan yang divisualkan dengan baju pangsi, iket, kebaya, dan hal-hal yang tak esensial lainnya, media Sunda yang berusaha menjaga budaya literasi justru hampir sekarat tanpa perhatian yang signifikan. Sebagai contoh, Majalah Mangle yang kini berusia 58 tahun berjalan terseok dengan tren jumlah pembaca yang kian turun. Juga mingguan Galura yang jika dilihat dari sisi bisnis hampir pasti tidak menggembirakan. Dengan jumlah penutur kedua terbesar di Nusantara, Bahasa Sunda mestinya adalah pasar yang jelas bagi media Sunda itu sendiri, namun kenyataannya adalah paradok yang semakin buruk.

Kondisi ini tentu menjadi tanggungjawab Ki Sunda yang peduli dengan perkembangan medianya. Jika dipetakan secara sederhana berdasarkan usia, demografi pengembannya mencuatkan satu identitas yang khas, yaitu anak muda. Di luar kata dan kalimat yang kerap dilekatkan kepada anak muda seperti “pembaharu”, “pelopor”, “agent of change” dan lain sebagainya, dalam kontek Bahasa Sunda, anak muda ini adalah generasi pertengahan yang diapit oleh dua tubir jurang.

Jurang pertama adalah anak-anak yang kini terperangkap dalam sistem pengajaran bahasa yang terdegradasi. Di rumah, di lembaga yang mula-mula menadah pemahamannya terhadap bahasa, para orangtua (ibu dan ayah) yang keduanya pituin Sunda, yang dalam komunikasi antar keduanya menggunakan Bahasa Sunda, justru berbahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anaknya. Ihwal ini, Ajip Rosidi pernah menulis dalam buku “Kudu Dimimitian di Imah” (Harus Diawali dari Rumah).

Dalam pendadaran pengalamannya, Ajip menemukan dan menyimpulkan, bahwa lembaga utama dan pertama dalam pewarisan bahasa adalah mutlak harus dimulai dari rumah. Laku komunikasi sehari-hari akan menghasilkan pemahaman bahasa yang jauh lebih baik daripada hanya belajar di sekolah, atau pun dari lingkungan pergaulannya. Jika hal penting ini tidak disadari oleh para orangtua, lalu abai, maka Ajip menegaskan, “Lamun para indung-bapa Sunda henteu ngajak nyarita ku Basa Sunda ka barudakna, tanwandě hirupna Basa Sunda ngan baris nepi ka generasina.” (Kalau para ibu dan ayah Sunda tidak mengajak bicara memakai Bahasa Sunda kepada anak-anaknya, tentu keberlangsungan hidup Bahasa Sunda hanya sampai pada generasinya).

Anak-anak Sunda yang dilahirkan dan besar di tengah kedua orangtua yang merasa lebih bangga jika anaknya--dalam percakapan sehari-hari, berbahasa Indonesia, adalah generasi yang tercerabut dari bahasa sěkěsělěr-nya. Ikatan batin luntur, keterampilan lumpuh, lalu harapan seperti apa yang hendak disandarkan kepada anak-anak ini dalam melanjutkan estafet pengelolaan media Sunda? Pondasi yang lemah seperti ini adalah tubir yang punya kengeriannya sendiri dalam keberlangsungan hidup bahasa dan media Sunda.

Sementara di kalangan para senior (untuk tidak mengatakan tua), usia adalah sesuatu yang tak bisa di lawan. Meskipun ada beberapa yang masih produktif sampai di titik yang sudah senja sekalipun, namun satu-persatu barisan ini mulai pensiun dari medan laga kerja media, juga tak sedikit yang sudah kembali ke hadirat-Nya. Tentu jarak antara generasi ini dengan generasi yang seusia dengan para cucunya cukup jauh, dan perlu jembatan untuk menghubungkannya. Di sinilah letak angkatan muda itu.

Dari cerita dan pengalaman para senior, bahwa pada pengelolaannya, media Sunda kerap terabaikan sebagai anak tiri yang seolah tak pernah sudah. Pemerintah sebagai perwakilan negara selalu berada di posisi yang kurang jelas dalam ngamumulě bahasa dan media Sunda. Seperti yang sudah ditulis di atas, pemerintah justru lebih mementingkan tampilan daripada menyentuh persoalan yang sesungguhnya.

Karena di satu sisi pewarisan bahasa menemui jalan yang keliru, dan di sisi lain dukungan dari pemerintah pun kerap membentur setapak buntu, maka tak heran jika media Sunda seolah hanya bertahan dari kematian.

Tapi perspektif di atas bagi anak muda adalah pandangan yang terlalu pesimis. Meskipun diapit oleh dua tubir jurang yang akhirnya memposisikan dirinya (seolah-olah) menjadi generasi—meminjam istilah Sjahrir, “yang apabila diam akan menjadi generasi yang hilang, dan apabila bergerak akan menjadi generasi yang kalah”, namun selalu ada celah untuk berkreasi dan terus produktif.

Anak muda Sunda hari ini, yang pernah dibesarkan di lingkungan keluarga yang masih memuliakan Bahasa Sunda, namun dihadapkan pada kenyataan tentang payahnya keberlangsungan media Sunda, tentu harus bersiasat dengan mengisi dan mengolah ceruk-ceruk lain untuk membebaskan media Sunda itu sendiri dari keterbatasan. Media sosial yang kini begitu memanjakan alur dan arus informasi, adalah salah satu celah untuk mengibarkan ajěn-inajěn Bahasa Sunda.     

Di blog, twitter, facebook, dan kanal-kanal lainnya, anak muda Sunda harus mulai produktif menulis dalam bahasa sěkěsělěr-nya. Di sini, di gorong-gorong media tak berbayar, anak muda tak perlu menengadah dan mengiba perhatian dari pemerintah, namun justru berdikari dengan keras kepala--bahwa dengan niat, minat, dan tekad yang bulat, media Sunda “independen” ini bisa terus hidup dan berkontribusi.

Kata “buntu” mesti segera dipensiunkan dari entry kamus anak muda. Masih banyak jalan yang bisa ditempuh, dan banyak cara yang bisa dilakukan. Di media Sunda formal, anak muda pun bisa berkontribusi dengan cara mengirim naskah-naskah segar dan trengginas. Bahwa media-media itu dinakhodai oleh para senior yang sudah legok tapak gentěng kaděk tak bisa dipungkiri, namun siapa yang bisa menjamin bahwa ketersediaan naskah begitu melimpah? Hal inilah yang perlu didukung oleh anak muda.


Dalam buku Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 karya Mikihiro Moriyama, tersirat bahwa sesungguhnya Bahasa Sunda ditemukan, dimurnikan, dan didayagunakan oleh Belanda untuk kemudian berkembang meniti gelombang modernitas. Jika media Sunda diibaratkan bahasa yang didayagunakan itu, maka di tengah keterpurukannya seperti sekarang,  anak muda sudah saatnya mengambil peran sebagai pelaku aktif, bukan malah menjadi pengekor tiada guna dan tanpa tendens. Dan pada muaranya, hirup-hurip bahasa dan media Sunda kita pertaruhkan. [ ]   

11 February 2015

Kahatur Komunitas Bambu

Semoga dalam haribaan sehat-sentosa senantiasa,

Pada Pesta Buku Bandung yang digelar dari tanggal 30 Januari sampai 5 Februari 2015, saya sempat membeli beberapa buku dari stand Komunitas Bambu. Dua di antaranya adalah buku “Kepulauan Nusantara” karya Alfred Russel Wallace dan “Semangat Baru” karya Mikihiro Moriyama. Pada kedua buku tersebut terdapat kesalahan cetak dan kekurangan cetak. Untuk “Kepulauan Nusantara” pihak penerbit (Kobam) menyertakan secarik kertas yang berisi ralat yang terdiri dari lima poin ihwal kekeliruan cetak, artinya hal tersebut sudah diketahui oleh pihak penerbit. Sedangkan pada “Semangat Baru”, penerbit sepertinya tidak mengetahui kekurangan cetak pada buku yang diterbitkannya.

Di halaman 302, 303, 306, dan 307 tidak ada teks sama sekali alias kosong melompong. Halaman-halaman kosong tersebut tepat berada di lampiran 2 yang isinya adalah ringkasan Wawacan Panji Wulung. Sebagai pembeli dan pembaca, hal ini tentu sangat saya sayangkan. Terlepas dari kewajiban bahwa setiap penjual harus memberikan yang terbaik kepada konsumennya, hal ini pun jadi pertaruhan Komunitas Bambu yang selama ini dikenal sebagai penerbit buku-buku sejarah bermutu, yang dari segi produksi pun nyaris tanpa cela.

Saya tak hendak menukar buku “cacat” ini dengan yang lebih lengkap, hanya saja ke depan mungkin kesalahan-kesalahan seperti ini bisa diperbaiki agar pihak pembeli tidak merasa dirugikan. Lantas barangkali ada pertanyaan, kenapa catatan seperti ini dipublikasikan di blog pribadi, dan bukan dikirim saja via surel ke alamat yang bersangkutan? Saya berpendapat bahwa inilah sejarah, surat sederhana seperti ini pun adalah bagian dari perjalanan Komunitas Bambu, dan saya (si penulis surat) merasa berhak untuk menyimpannya di laman pribadi sebagai arsip.

Sekian saja dari saya, semoga Komunitas Bambu tetap jaya dan mampu konsisten menjadi penerbit buku-buku sejarah berkualitas. Hatur nuhun kana sagala perhatosanna.

Salam,

Irfan Teguh Pribadi  




Foto : Arsip Irfan TP