Showing posts with label Anak Muda. Show all posts
Showing posts with label Anak Muda. Show all posts

07 June 2015

Anak Muda dan Media Sunda


Di tengah gairah kampanye Kesundaan yang divisualkan dengan baju pangsi, iket, kebaya, dan hal-hal yang tak esensial lainnya, media Sunda yang berusaha menjaga budaya literasi justru hampir sekarat tanpa perhatian yang signifikan. Sebagai contoh, Majalah Mangle yang kini berusia 58 tahun berjalan terseok dengan tren jumlah pembaca yang kian turun. Juga mingguan Galura yang jika dilihat dari sisi bisnis hampir pasti tidak menggembirakan. Dengan jumlah penutur kedua terbesar di Nusantara, Bahasa Sunda mestinya adalah pasar yang jelas bagi media Sunda itu sendiri, namun kenyataannya adalah paradok yang semakin buruk.

Kondisi ini tentu menjadi tanggungjawab Ki Sunda yang peduli dengan perkembangan medianya. Jika dipetakan secara sederhana berdasarkan usia, demografi pengembannya mencuatkan satu identitas yang khas, yaitu anak muda. Di luar kata dan kalimat yang kerap dilekatkan kepada anak muda seperti “pembaharu”, “pelopor”, “agent of change” dan lain sebagainya, dalam kontek Bahasa Sunda, anak muda ini adalah generasi pertengahan yang diapit oleh dua tubir jurang.

Jurang pertama adalah anak-anak yang kini terperangkap dalam sistem pengajaran bahasa yang terdegradasi. Di rumah, di lembaga yang mula-mula menadah pemahamannya terhadap bahasa, para orangtua (ibu dan ayah) yang keduanya pituin Sunda, yang dalam komunikasi antar keduanya menggunakan Bahasa Sunda, justru berbahasa Indonesia ketika berkomunikasi dengan anaknya. Ihwal ini, Ajip Rosidi pernah menulis dalam buku “Kudu Dimimitian di Imah” (Harus Diawali dari Rumah).

Dalam pendadaran pengalamannya, Ajip menemukan dan menyimpulkan, bahwa lembaga utama dan pertama dalam pewarisan bahasa adalah mutlak harus dimulai dari rumah. Laku komunikasi sehari-hari akan menghasilkan pemahaman bahasa yang jauh lebih baik daripada hanya belajar di sekolah, atau pun dari lingkungan pergaulannya. Jika hal penting ini tidak disadari oleh para orangtua, lalu abai, maka Ajip menegaskan, “Lamun para indung-bapa Sunda henteu ngajak nyarita ku Basa Sunda ka barudakna, tanwandě hirupna Basa Sunda ngan baris nepi ka generasina.” (Kalau para ibu dan ayah Sunda tidak mengajak bicara memakai Bahasa Sunda kepada anak-anaknya, tentu keberlangsungan hidup Bahasa Sunda hanya sampai pada generasinya).

Anak-anak Sunda yang dilahirkan dan besar di tengah kedua orangtua yang merasa lebih bangga jika anaknya--dalam percakapan sehari-hari, berbahasa Indonesia, adalah generasi yang tercerabut dari bahasa sěkěsělěr-nya. Ikatan batin luntur, keterampilan lumpuh, lalu harapan seperti apa yang hendak disandarkan kepada anak-anak ini dalam melanjutkan estafet pengelolaan media Sunda? Pondasi yang lemah seperti ini adalah tubir yang punya kengeriannya sendiri dalam keberlangsungan hidup bahasa dan media Sunda.

Sementara di kalangan para senior (untuk tidak mengatakan tua), usia adalah sesuatu yang tak bisa di lawan. Meskipun ada beberapa yang masih produktif sampai di titik yang sudah senja sekalipun, namun satu-persatu barisan ini mulai pensiun dari medan laga kerja media, juga tak sedikit yang sudah kembali ke hadirat-Nya. Tentu jarak antara generasi ini dengan generasi yang seusia dengan para cucunya cukup jauh, dan perlu jembatan untuk menghubungkannya. Di sinilah letak angkatan muda itu.

Dari cerita dan pengalaman para senior, bahwa pada pengelolaannya, media Sunda kerap terabaikan sebagai anak tiri yang seolah tak pernah sudah. Pemerintah sebagai perwakilan negara selalu berada di posisi yang kurang jelas dalam ngamumulě bahasa dan media Sunda. Seperti yang sudah ditulis di atas, pemerintah justru lebih mementingkan tampilan daripada menyentuh persoalan yang sesungguhnya.

Karena di satu sisi pewarisan bahasa menemui jalan yang keliru, dan di sisi lain dukungan dari pemerintah pun kerap membentur setapak buntu, maka tak heran jika media Sunda seolah hanya bertahan dari kematian.

Tapi perspektif di atas bagi anak muda adalah pandangan yang terlalu pesimis. Meskipun diapit oleh dua tubir jurang yang akhirnya memposisikan dirinya (seolah-olah) menjadi generasi—meminjam istilah Sjahrir, “yang apabila diam akan menjadi generasi yang hilang, dan apabila bergerak akan menjadi generasi yang kalah”, namun selalu ada celah untuk berkreasi dan terus produktif.

Anak muda Sunda hari ini, yang pernah dibesarkan di lingkungan keluarga yang masih memuliakan Bahasa Sunda, namun dihadapkan pada kenyataan tentang payahnya keberlangsungan media Sunda, tentu harus bersiasat dengan mengisi dan mengolah ceruk-ceruk lain untuk membebaskan media Sunda itu sendiri dari keterbatasan. Media sosial yang kini begitu memanjakan alur dan arus informasi, adalah salah satu celah untuk mengibarkan ajěn-inajěn Bahasa Sunda.     

Di blog, twitter, facebook, dan kanal-kanal lainnya, anak muda Sunda harus mulai produktif menulis dalam bahasa sěkěsělěr-nya. Di sini, di gorong-gorong media tak berbayar, anak muda tak perlu menengadah dan mengiba perhatian dari pemerintah, namun justru berdikari dengan keras kepala--bahwa dengan niat, minat, dan tekad yang bulat, media Sunda “independen” ini bisa terus hidup dan berkontribusi.

Kata “buntu” mesti segera dipensiunkan dari entry kamus anak muda. Masih banyak jalan yang bisa ditempuh, dan banyak cara yang bisa dilakukan. Di media Sunda formal, anak muda pun bisa berkontribusi dengan cara mengirim naskah-naskah segar dan trengginas. Bahwa media-media itu dinakhodai oleh para senior yang sudah legok tapak gentěng kaděk tak bisa dipungkiri, namun siapa yang bisa menjamin bahwa ketersediaan naskah begitu melimpah? Hal inilah yang perlu didukung oleh anak muda.


Dalam buku Semangat Baru; Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 karya Mikihiro Moriyama, tersirat bahwa sesungguhnya Bahasa Sunda ditemukan, dimurnikan, dan didayagunakan oleh Belanda untuk kemudian berkembang meniti gelombang modernitas. Jika media Sunda diibaratkan bahasa yang didayagunakan itu, maka di tengah keterpurukannya seperti sekarang,  anak muda sudah saatnya mengambil peran sebagai pelaku aktif, bukan malah menjadi pengekor tiada guna dan tanpa tendens. Dan pada muaranya, hirup-hurip bahasa dan media Sunda kita pertaruhkan. [ ]   

18 October 2013

Norwegian Wood

Haruki Murakami penulisnya, dari namanya pasti sudah ketahuan dia orang mana. Saya beli tanggal 1 Mei 2006, sehari sebelum meluncur ke Cengkareng, sehari sebelum bekerja sebagai jongos. Bandung dingin dan berkabut, di jalan Wastukencana saya menenteng buku bersampul putih itu, menunggu angkot Kalapa-Ledeng.

Tadi siang saya sudah pamitan pada kawan-kawan di Sarijadi. Pada kawan-kawan yang masih menganggur, menunggu rahmat kerja di balik tumpukan koran hari sabtu dan rokok yang jarang terbeli sebungkus. Tapi keberangkatannya diundur, kehabisan mobil katanya. Perusahaan travel laku keras, satu kursi pun tidak tersisa buat calon jongosnya pergi ke bandara.

Angkot datang, saya duduk di bangku paling pojok. Mobil masih kosong, masih harus menunggu, agar setoran dapat terkejar. Tapi para mahasiswa sering banyak yang menggerutu kalau angkot berlama-lama, takut kesiangan katanya, padahal di kampus pun jarang ada dosen. Calo teriak-teriak bikin perhatian agar calon penumpang mendengar, nanti dia bakal dikasih uang recehan sama pak sopir, buat beli rokok, upah dari suaranya itu. Sambil berlama-lama menunggu penuh, saya buka buku Norwegian Wood.

Cerita dimulai dengan orang yang melamun di kursi pesawat, ketika hampir landing di Jerman. Sesekali diganggu pramugari yang bertanya dan menawarkan ini-itu, sehingga membuyarkan lamunan si penumpang. Kondisi bandara yang berkabut digambarkan dengan baik, lalu terdengar lagu The Beatles, mengingatkan kembali penumpang itu pada masalalunya waktu kuliah di Jepang, dan pernik kehidupan lain yang pernah ia lalui. Kemudian cerita bergulir ke belakang.

Harus sabar membaca novel ini, sebab Murakami menulisnya dengan tempo lambat dan terkesan tidak mau loncat-loncat untuk mengakhiri cerita. Orang-orang yang nafas membacanya pendek, mungkin akan cepat dihampiri bosan, atau mata yang tiba-tiba berat disergap ngantuk. Jadi harus latihan “pernafasan” dulu. Saya baru membaca setengah, sebab sehari setelah itu saya menjadi jongos yang sibuk : dikuasai oleh banyak betul pekerjaan dan para konsumen travel yang sumbu kesabarannya sangat pendek. [ ]