13 July 2016

Nadi Murakami yang Berdenyut oleh Menulis dan Berlari

Selama ini, karya Murakami bagi saya seperti semilir angin di siang terik, perut kenyang, dan sambil mendengarkan irama semenanjung: ngantuk berat. Saya pernah membaca “Norwegian Wood”, “1Q84”, “Hear The Wind Song”, dan “Kafka on The Shore”, semuanya tidak selesai. Saya juga tidak pernah sekalipun mengkhatamkan buku karya para pengarang Jepang lainnya seperti Yasunari Kawabata dan Ryunosuke Akutagawa. Entah kenapa saya merasakan bosan yang akut ketika membaca karya-karya mereka, sampai akhirnya saya membeli “What I Talk About When I Talk About Running”.

Konon para pembacanya sangat menyukai buku ini. Bahkan The New York Times sampai menulis testimoni yang hiperbolis: “Buku ini membuat fans Murakami tergila-gila, bahkan sebelum sampai ke kasir.” Tidak terlampau salah memang, sebab di pengantar untuk bukunya ini Murakami menulis sesutu yang agak tengil:

“Ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa laki-laki sejati tidak akan pernah membahas perempuan yang pernah putus dengannya atau jumlah tagihan pajak yang harus dibayarnya. Sebenarnya kata-kata itu hanya sebuah kebohongan. Aku cuma mengarangnya. Maaf, ya! Namun, kalau memang ada petuah yang seperti itu, menurutku ada satu syarat lagi untuk menjadi pria sejati, yakni tidak membicarakan cara yang dilakukannya untuk menjaga kesehatan.”

Di paragraf berikutnya, Murakami kemudian membatalkan semua “kalimat bijak” itu dengan caranya sendiri yang cukup segar namun agak terkesan pahit, “Sebagaimana yang diketahui semua orang, aku bukanlah pria sejati. Jadi, sebetulnya aku tidak perlu mengkhawatirkan syarat-syarat aneh itu sejak awal.” Boa edan!  

Pada mulanya, Murakami—seperti kebanyakan para pengarang yang lain, kerap menghabiskan berbungkus-bungkus rokok ketika menulis untuk membantu fokus dan konsentrasi. Dalam sehari ia bisa menghabiskan sekitar 60 batang, artinya setara dengan tiga bungkus rokok Marlboro! Tapi kemudian ia sadar bahwa duduk berlama-lama di depan komputer dan menghabiskan begitu banyak rokok tidak baik bagi tubuhnya. “Jika berniat menjalani kehidupan yang panjang sebagai penulis, aku harus mencari cara untuk mempertahankan kebugaran tubuh dan menjaga berat badan yang ideal,” begitu tulisnya sekali waktu. Ia pun kemudian memutuskan untuk berlari dan mulai meninggalkan kebiasaan merokoknya.

Ihwal pilihannya untuk total menjadi seorang penulis pun ia ceritakan juga. Ia punya minat yang besar terhadap musik jazz. Semasa kuliah ia membentuk semacam kelab jazz yang kemudian juga membuka kedai kecil yang jika siang hari menjual kopi, dan malam dijadikan bar: selain menjual makanan juga setiap akhir pekan kerap diadakan pertunjukkan live music. Semua itu ia lakukan sebelum usianya menginjak 30 tahun.

Tak pernah sedikit pun ia berpikir untuk menulis novel, sebelum akhirnya—pada satu kesempatan ketika ia menonton sebuah pertandingan baseball sambil minum bir, tiba-tiba saja keinginan itu terbit. Entah apa namanya, namun keinginan itu muncul dengan sebab yang cukup aneh:

“Aku masih ingat bagaimana cerahnya langit, rasanya sentuhan rumput hijau yang baru diganti, dan suara retakan saat bola beradu dengan tongkat pemukul waktu itu. Sesaat pada kejadian itu, seperti ada sesuatu yang turun dari langit, dan apa pun itu, kupikir aku sudah menangkapnya. ‘Ya! Aku harus coba menulis novel!” begitu terangnya.

Sambil tetap menjalankan bisnisnya, Murakami kemudian mulai menulis novel tipis yang ia kerjakan di sesela kesibukannya. Ia menulis dalam kondisi waktu yang serabutan karena terbagi dengan pekerjaannya yang lain. Dua karya ia hasilkan dengan judul “Pinball, 1973” dan “Hear The Wind Song”. Selain itu, di tengah pengerjan dua novel tersebut, ia pun menerjemahkan beberapa cerpen karya F. Scott Fitzgerald.

Karena dirasa karyanya kurang maksimal, Murakami kemudian memutuskan untuk menghentikan bisnisnya dan total menjadi seorang penulis. Beberapa kawannya menyayangkan keputusan itu, namun tekadnya sudah bulat. Ia jual bisnisnya lalu hidup dalam kepompong rumah dan otomatis mengurangi interaksi sosial. Pada istrinya ia berkata, “Aku ingin bebas selama dua tahun ke depan untuk menulis. Kalau nanti gagal, kita masih bisa membuka toko kecil di suatu tempat. Aku masih muda dan kalau gagal, kita selalu dapat berusaha lagi.” Istrinya hanya menjawab pendek, “baiklah.”

Kembali ke soal berlari. Karena ia ingin lama menjadi penulis, Murakami pun kemudian berolahraga. Dan olahraga pilihannya—yang ia pikir paling tepat dengan karakternya, adalah lari. Sebagai seorang introvert yang tidak terlalu kesulitan jika hidup sendirian—lari sebagai sebuah olahraga yang tidak membutuhkan oranglain, membuatnya jatuh cinta. Ya, ia memang kerap menghindari berbagai jenis olahraga yang berkelompok, seperti sepakbola misalnya.

Dalam perjalanannya, ia pernah berlatih lari di Hawaii, mengikuti ultramaraton sepanjang 100 km di Hokkaido, berlari di siang terik dari Athena ke Marathon, sampai ikut lomba marathon di New York. Selain itu, ia pun telah beberapa kali mengikuti maraton di kota-kota negara lainnya. Semua pengalamannya itu ia catatkan dengan tekun, dan ketika hendak diterbitkan menjadi buku, ia hanya tinggal menyuntingnya sedikit.

Menulis dan berlari. Keduanya hidup di urat nadi Murakami. Maka tak heran jika kemudian ia menulis jurnal, atau semacam memoar tentang berlari. Isinya bukan ajakan untuk menjadi sehat, namun menjelentrehkan minat pribadinya disertai curhat-curhat yang filosofis. Tapi meskipun demikian, ia menolak jika buku ini dikatakan demikian:

“Aku tidak menyebut buku ini sebuah filosofi, meskipun di dalamnya mungkin memang mengandung sejumlah hal yang bisa disebut sebagai pelajaran hidup. Namun, buku ini adalah tentang diriku apa adanya,” demikian ujarnya.

Karena bukan kisah fiktif, buku ini lebih bisa mendekatkan pembaca kepada penulisnya. Dari hamparan memoar berlari, cerita kepenulisan, dan pernyataan-pernyataannya tentang pilihan dan hidup: pembaca dapat mengenal proses kreatif di balik karyanya. Murakami menimbang, membuat pilihan dan menjalankan keputusannya dengan sungguh-sungguh. Hal ini seolah kembali menabalkan satu hal: bahwa berapa pun banyak kutipan yang dirasa cocok buat kita, namun hidup berjalan sesuai apa yang kita kerjakan. [irf]    

Hikayat Keluarga

Saya pulang kampung sebab lebaran datang lagi. Di luar itu, saya tak terbiasa tinggal di rumah. Di rantau pun bukan karena punya kesibukan, apalagi pekerjaan, namun semacam ada garis takdir yang membuat saya memilih untuk menjauh dari kampung dan meninggalkan segala kepompongnya, untuk ditengok sesekali pada lebaran tahun berikutnya.

Pada hari kedua Syawal seorang saudara datang dari Depok. Saudara agak jauh sebetulnya, setidaknya beda generasi dengan saya. Ia, saudara itu adalah sepupunya mama. Orangtua mereka kakak beradik, tujuh bersaudara semuanya, kalau saya tidak keliru. Tiap tahun sepupu mama itu pasti datang ke kampung dan rajin berkeliling untuk menemui saudara-saudaranya, meski tak jarang yang ia temui justru generasi yang telah berganti, sebab sebayanya telah pamit duluan ke alam keabadian, seperti mama saya.

Kakek-nenek mama dan sepupunya, artinya buyut saya, tinggal di satu zaman yang jauh, seperti Sabang dan Merauke, atau cinta tak berbalas; pendeknya mewakili sesuatu yang tak dapat saya jangkau. Hanya dari selembar foto usang saya dapat sedikit meraba bentangan waktu yang menganga.

Buyut saya memiliki tujuh orang anak, tiga perempuan dan empat laki-laki. Kakek saya adalah anak yang keenam. Yang namanya orang, meskipun saudara, tetap saja punya budaya keluarga yang berbeda-beda, juga nasib yang berlain-lainan. Kakek saya yang meninggal pada tahun 1974 konon adalah seorang kiai, meskipun sebetulnya secara usia rasa-rasanya belum pantas betul disebut kiai, beliau wafat di usia 40 tahun.

Namun kabar lisan seperti kebenaran yang tak terbantah. Setiap ketemu orang dan kebetulan membicarakan kakek, ceritanya sama; bahwa kakek betul adalah seorang kiai yang meski ilmunya tidak terlampau luas, namun mempunyai akhlak yang baik. “Kakekmu, setiap kali akan pergi ke masjid, dan di jalan melewati preman-preman yang tengah nongkrong, ia selalu membungkukkan badan dan permisi dengan begitu sopan,” ujar seorang tetangga.

Sekali waktu mama pun pernah cerita, bahwa setiap ada pedagang makanan, terutama ibu-ibu yang sudah tua dan payah, sementara makanannya itu sudah dingin dan tidak enak, kakek pasti membeli sambil berucap, "Aduh, Ibu, enak sekali kuenya.” Mama dan anak-anak kakek yang lain kerap melarangnya untuk membeli kue-kue itu, alasannya jelas; sudah dingin dan tidak enak. Namun kakek bergeming dengan kebiasaannya.

Kakek
Ada pula cerita bibi yang mengatakan bahwa kakek tak pernah mencela dan membicarakan keburukan orang, paling-paling beliau menertawakan karikatur dan gambar-gambar komik. Kalau anak-anaknya tengah ngerumpi dan bergosip, kakek selalu berdesis mengingatkan. Desisan itu hanya menyampaikan dua hal; bahwa bergosip itu tak baik dan tak ada faedahnya.

Namun bagi saya, sosok kakek dan semua kisahnya, tak lebih dari sebuah dongeng. Saya tak sezaman dengannya, dan sedetik pun tak pernah bertemu. Persis seperti Fajar Merah dan bapaknya—penyair Wiji Thukul yang hilang di pusaran reformasi 1998. Segala kisah heroik tentang penyair kere itu baginya sebatas dongeng dari masa yang tak tersentuh.

Nenek meninggal tahun 1980 akibat sebuah paku payung menancap di tangannya, entah yang sebelah kanan atau sebaliknya. Tetanus menyebar dengan begitu cepat. Beliau dikebumikan menjelang magrib dan hujan turun amat deras. Itu terjadi dua tahun sebelum saya lahir. Pernah sekali saya lihat foto beliau yang sudah lapuk, dan kesan yang terbit tak lain adalah bahwa beliau waktu masih mudanya pasti adalah seorang yang cantik. Sisa-sisa kecantikan masih membekas di foto usang itu.

Pasangan kakek nenek yang tak pernah saya jumpai ini memiliki sepuluh orang anak, dan mama adalah anaknya pertama. Beliau kemudian menikah dengan bapak, seorang anak bungsu dari pasangan kakek nenek yang lain. Bapak sejak kecil sudah ditinggalkan wafat oleh kedua orangtuanya. Jadi, saya ini tuna moyang sejak dari mama belum merencanakan kehamilannya yang kelima.

Ya, saya anak kelima dari tujuh bersaudara. Sekarang menjadi lelaki satu-satunya setelah bapak dan kakak yang paling besar meninggal dunia. Cikal belum lama berkalang tanah, penyakit paru menggerogoti masa jaya dan karirnya. Dua tahun saya tunggui ia di rumah sakit, dengan kondisi fisik yang terus merosot secara drastis. Nafasnya tersengal-sengal, oksigen tak mau lepas, dan bobot tubuh yang akhirnya hanya tersisa 40 kg. Ia pergi di penghujung 2014, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak yang masih kecil. Dia, kakak yang baik dan mengayomi itu tutup usia di angka 42.

Sekarang rumah di kampung tak ada penghuninya. Enam bersaudara yang tersisa telah menyebar di rantau orang, sebagian telah punya keluarga dan alamat rumah masing-masing. Rumah tempat saya ditadah mula-mula dan menikmati masa kecil, kini tinggal masalalu yang dingin dan beku. Setahun sekali kembali cair oleh lebaran yang mubarak. Seminggu itu riuh oleh jerit dan lari bocah-bocah yang setidaknya dari satu pihak, sudah tidak lagi mempunyai kakek dan nenek.

Buyut
Kalau bertemu dengan mereka—bocah-bocah kecil itu, saya selalu menjadi juru dongeng. Maklum, saya adalah paman satu-satunya bagi mereka. Sembilan orang anak mengerubungi satu juru dongeng yang terus memutar otaknya agar tidak kehabisan cerita. Dari cerita hantu, perang, silat, sampai kisah orang-orang yang diserang penyakit aneh saya gelontorkan di hadapan mereka. Bocah-bocah itu menyimak dengan takjim, tegang, cemas, dan sesekali tertawa.

Adik saya yang paling kecil masih kuliah di Bandung. Ia bungsu “tak direncanakan”. Usianya terpaut delapan tahun dengan adik saya yang satu lagi. Waktu mama dan bapak meninggal, tentu saja ia yang paling terpukul, sebab usianya belum dewasa dan kakak-kakaknya sudah menikah semua, kecuali saya. Tapi apa yang diharapkan dari seorang kakak laki-laki yang menjalani hidup layaknya pengembara? Tak tentu tinggal dan rejekinya. Jodoh apalagi. Ya, saya memang bukan tipe kakak yang baik untuk menyandarkan hidup dan berkeluh kesah.

Lebaran kemarin saya dipanggil bibi. Ia bertanya ihwal istri. Sebuah pertanyaan yang tak pernah sekalipun ditanyakan oleh orangtua saya sendiri. Dulu paling-paling bapak sekali dua pernah bilang, “kamu mesti banyak tabungan, bukankah suatu saat kamu pun mesti menikahi anak orang?” Namun sekali ini bibi bertanya dengan cukup tendensius. Sebuah pertanyaan yang hanya saya jawab dengan senyuman. Bibi bahkan melanjutkan, bahwa tahun depan ketika lebaran tiba, saya harus sudah menggandeng istri kalau pulang kampung. Saya mengerti akan hal itu. Orangtua mana yang menginginkan anaknya terus-menerus hidup membujang? Namun saya punya perhitungan dan prinsip; bahwa sayalah yang paling berhak memaknai hidup dan eksistensi diri saya sendiri. [irf]

12 July 2016

Famili Tanus yang Buta

Terlepas dari perhitungan politik atau apapun juga, sistem pendidikan di negeri Belanda jauh lebih baik daripada di Indonesia. Bahkan orang-orang cacat, yang kini di Indonesia boleh dikatakan hanya mungkin hidup dari kasihan orang belaka, atau setidak-tidaknya mempergunakan kekurangannya sebagai alat untuk mencari penghasilan, di negeri kecil ini pun mempunyai hak untuk mendapat didikan yang selayaknya, sehingga dengan demikian dalam kehidupan mereka tidak merasa rendah daripada anggota-anggota masyarakat yang lain.

Berpunggung-punggungan dengan rumah kami, antara Oranje Nassaulaan dan Prins Hendriklaan, menggarang dengan megahnya rumah pendidikan anak cacat. Di sebuah jendela belakang gedung mereka ini kadang nampak orang yang telah lanjut usia dan mengalami kerusakan tulang punggung hingga menjadi bongkok, duduk menulis. Besar kemungkinan ia telah berpuluh tahun mengajar di rumah pendidikan ini. Di bawah, di pelataran belakang, anak-anak yang juga cacat bermain-main tidak bedanya dengan anak-anak lain yang sehat tubuhnya. Pemandangan yang dekat ini mengingatkan kami pada para bekas pejuang yang kini cacat dan tidak jarang harus menjual kasihan pada khalayak ramai di sepanjang jalan atau menghampiri pintu-pintu rumah.

Di Amsterdam ini tidak banyak terdapat pengemis. Orang bilang, bahkan untuk boleh menjadi pengemis, orang harus mendapat pengesahan dahulu dari pemerintah setempat. Dengan kaki bunting atau penglihatan yang hilang mereka berdiri di pojok-pojok jalan memutar orgel atau satu rombongan bermain musik. Tempat-tempat operasi mereka juga telah ditentukan oleh pemerintah setempat, demikian menurut pendengaran kami, sehingga tidak semua daerah kotor oleh kaum peminta-minta ini. Orang-orang yang lewat menyedekahkan senan atau lima sen, dan mereka ini dengan hormatnya membungkuk mengucapkan terimakasih. Biasanya mereka ini adalah kurban peperangan yang baru lalu.

Tetapi di rumah-rumah yang biasa, tinggal orang-orang cacat yang tidak perlu hidup demikian. Mereka hidup biasa sebagai orang yang tidak invalide. Dan di waktu pulang atau masuk kantor, jalan-jalan sangat sering terisi sepeda roda tiga dengan bermotor atau tidak.

Mereka ini adalah orang-orang invalide yang berangkat ke tempat pekerjaannya. Di sore hari di atas sepeda roda tiga orang-orang yang bunting kakinya juga berjalan-jalan di park.

Tiap orang yang lewat sudi menolongnya turun untuk mempergunakan tongkat ketiaknya.

Kecucukan (nieuwsgierigheid) kami untuk mengetahui cara hidup mereka menyebabkan pada suatu sore kami pergi mengunjungi keluarga Tanus yang tinggal di daerah timur kota. Rumah-rumah di sini tidak mentereng, paling sedikit bertingkat tiga dan kamarnya sempit-sempit, demikian pula tangganya dan tidak dialasi oleh apa pun juga sehingga tiap saat berderak-derak bila orang lewat. Kami melalui jalan-jalan yang kelabu dan banyak kertas terserak di pinggir jalan, namun tidak lebih kotor daripada jalanan di Jakarta.

Sampai di suatu pintu kami baca nama-nama yang tersusun di tiangnya. Ada sebuah knop di samping nama Tanus, kami tekankan telunjuk. Pintu segera terbuka dan dari lantai tingkat pertama terdengar suara yang ramah. “O, tuan-tuan ini rupanya.” Tangga untuk naik ke tingkat pertama adalah gelap dan sempit. Kami dipersilakan duduk dan diantarkan ke beranda depan. Sikap dan gerak Tanus dan nyonyanya adalah demikian bebas dan tidak ada nampak keraguan sedikit pun. Sampai waktu itu aku belum percaya, bahwa di balik kacamata hitam Tanus tua terpasang mata yang buta sama sekali. Ia menyuguhkan tengteng dengan relanya dan isterinya merenda di dekat pediangan yang tidak dinyalakan. Nyonya buta sejak umurnya yang ketiga belas dan masih dapat mengingat warna-warna dan berbagai macam bentuk benda. Tanus sendiri buta sejak umurnya yang kedua dan tidak bisa mengingat apa pun.

Di belakang kursi bertumpuk buku-buku pengetahuan serta majalah tentang keagamaan, sosial dan ilmu pengetahuan. Ini dapat kuketahui dari nama-nama serta alamat-alamat bukunya yang tercetak dalam huruf-huruf besar. Tetapi serenta kubuka sebuah di antaranya, ternyata tak sebuah huruf pun dapat aku baca, karena tertulis dalam braille.

Tanus bicara banyak tentang budi, tentang pergaulan manusia, tentang kesenian, dan tentang musik ia bilang: “Tidaklah benar bahwa orang-orang buta selamanya musikal sebagaimana banyak orang menyangka. Golongan kami sangat mengutamakan pendengaran, dan karenanya dapat lebih banyak menikmatinya daripada golongan tuan.” Ia juga dapat bercerita tentang peperangan yang baru lalu. Dengan rabaan tangan dan pendengarannya ia memperlajari bahasa Jerman, dan sekalipun belum dapat mempergunakan untuk bicara, tetapi telah dapat mengerti dan mempergunakan untuk membaca.

“Ah, tuan,” katanya pada suatu kali, “dalam hidupnya tiap orang ini mesti pernah atau akan mengalami kehilangan. Dalam hal ini aku dan isteriku kehilangan penglihatanku. Juga dalam hidupnya tiap orang mesti pernah atau akan menemukan sesuatu. Dan dalam hal ini aku menemukan kebahagiaan rumahtangga.”

“Dan bagaimana bisa tuan bicara dengan tiada melihat benda-benda, warna, dan bentuk.”

“Buat kami, orang buta, kami hanya dapat menangkap pengetian-pengetian belaka. Dunia kami adalah dunia pengertian. Tetapi semua itu tidak membuat kami merasa hina atau sengsara.”

Pada jam sepuluh di tengah senja, waktu ini adalah musim panas dan matahari tenggelam pada jam setengah sepuluh malam. Ruangan depan mulai gelap. Seorang gadis masuk ke dalam dan bicara dengan Tanus. Dengan tiada bimbangnya orang buta ini masuk ke dalam kamarnya dan mengambil sebungkus rokok yang kemudian diserahkan kepada gadis itu. Dan Tanus menerima uang serupiah pengganti sebungkus Van Nelle—tak lebih dan tidak kurang daripada harga yang tercantum pada banderol. Di saat itu mengertilah aku bahwa penghasilan Tanus ialah menjual rokok. Waktu kopi kami habis ia menjerang air kembali di atas tungku listriknya, dan kemudian mengisi cangkir kami dan memberinya gula dan susu sekali. Semua dikerjakannya dengan cekatan, tidak lebih lambat daripada pekerjaan pemalas.

Listrik bagi orang buta ini lebih menjamin keselamatannya daripada gas. Bicara tentang listrik dan gas, Tanus bilang: “Tuan, sepanjang pengetahuanku, semua kebakaran yang pernah terjadi tidak sekalipun disebabkan oleh orang buta, tetapi oleh orang yang punya penglihatan. Cobalah pikir betapa ajaibnya. Kami tidak bisa berbuat sembarangan dengan api sebagaimana tuan. Itulah sebabnya.”

Pertanyaan berjalan terus sehingga kami tak melihat apa-apa di sekeliling kami selain lampu-lampu motorboot yang mondar-mandir di kanal di depan beranda di seberang jalan raya. Rupa-rupanya teringatlah tuan rumah, bahwa bagi kami kegelapan mengganggu keseluruhan kami. Waktu jam di sampingnya berbunyi sebelas kali ia terbangkit dari duduknya sedang isterinya terus merenda. “Maaf, tuan, lupa aku menyalakan lampu.” Perabot penerangan yang terdapat di dalam rumah keluarga ini rupa-rupanya hanya untuk orang lain. Dan untuk itu ia harus membayar rekening listrik.

“Berabenya jadi oprang buta ini, tuan, kalau terjadi marabahaya maka kami dululah menjadi kurban.” Kemudian ia bercerita tentang masa pendudukan Jerman, yang mana orang-orang dapat pergi ke lain daerah untuk mencari kentang atau melarikan diri, sedang ia dan isterinya tinggal di rumah, karena air yang menerobosi tanggul-tanggul akan meminta jiwa mereka lebih cepat daripada kelaparan atau serdadu Jerman itu sendiri. Tetapi kami percaya pada kemurahan Tuhan. Orang Jerman tidak selamanya kasar dan ganas. Banyak juga di antaranya yang berbudi. Barangkali tuan-tuan tidak percaya, tetapi ada berbagai orang Jerman yang selalu mengantarkan roti dan makanan lain ke rumah kami.”

Setelah berkata itu ia menundukkan kepalanya dan berdiam diri. Barangkali ia mengucapkan syukur pada Tuhannya yang pemurah itu. “Kami adalah orang-orang Katholik. Orang Katholik tidak menyetujui Nazi, karena mereka membuat perbedaan antara bangsa-bangsa di dunia. Tidak semua serdadu Jerman rela melaksanakan cita-cita Nazi. Dan dari merekalah aku menerima makan.”

Jam duabelas malam kami pulang dan diantarkan hingga ke tangga. Dalam hati kami terbit pertanyaan apakah benar orang ini bisa memperoleh kekayaan budi dari pengajaran dan pendidikan yang pernah diterimanya. Dan dalam perjalanan pulang di atas trem itu terjawab juga, bahwa pengajaran dan pendidikan memang memungkinkan juga. Dan bagaimanakah keadaan lahir dan batin orang-orang yang semacam itu juga dan yang juga kehilangan haknya (karena tiada kesempatan dan penerangan) untuk memperoleh pengajaran dan pendidikan seperti banyak terdapat di Indonesia?

Ah, jawaban itu tidak kuperoleh. Aku gelengkan kepalaku dan mencepatkan langkah setelah trem berhenti. [ ]

--Pramoedya Ananta Toer
Copyright 1953,

Mimbar Penyiaran DUTA

11 July 2016

Demam

Ada juga terdengar olehnya adiknya kecil Tini itu berseru girang, “Mbak Ati datang.” Dan ada juga suara yang dikaguminya dulu—suara yang selalu membangkitkan birahinya:

“Tini…..sudah besar engkau sekarang, ya?”

Kirno mengarahkan matanya ke arah suara itu. Tapi seperti biasanya tak ada apa-apa yang dapat dilihatnya. Dan sekalipun ia rela, kerelaan itu terbit hanya karena terpaksa. Mata, dua-duanya, terpagas oleh peluru, dan sepasang kakinya pun begitu pula. Siapa mau dengan rela menyerahkan kedua mata dan kakinya untuk jadi cacat selama-lamanya? Dan untuk kesekian kalinya perlahan kepalanya diturunkan, runduk ke bawah dan akhirnya berhenti di atas meja keretanya. Kemudian kepala itu diam saja di situ. Terdengar lagi:

“Engkau turut arak-arakan tadi, Tini?” Suara yang mengagumkan hatinya dulu—tapi kini seperti suara-suara lainnya:

“Tentu, mbak, tentu. Dan menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu hari kemerdekaan. Dan kami sesekolah mendapatkan minuman dan kue,” suara adik kecil.

“Alangkah senang, ya? Mana ibu?”

“Ibu di kabupaten—menerima tamu, Tini menyahuti.”

“Bapak?”

“Di sana juga—menerima tamu”

“Mas? Mana mas Kirno?”

“Di dalam, mbak. Tapi, tapi, tapi, mas No sekarang…..”

Dan Kirno menghembuskan nafas keluh seakan-akan dalam keluhannya itu telah terkandung seluruh penderitaan dunia dan isinya. Tapi suara Tini melengking juga di kuping:

“…..tidak bisa jalan kakinya buntung”

“Buntung?” seru suara gadis itu kaget.

“Ya, mbak, dan selama ini dia duduk di keretanya saja. Kalau mau pergi kemana-mana, Tini yang mendorong-dorong kereta itu.”

“O …..,” suara yang kecewa dan pahit.

“Dan juga mas, mas No sudah jadi buta sekarang.”

“Buta?” desis suara gadis itu.

Perlahan-lahan Kirno mengangkat kepala, menegakkan badan, bersandaran pada sandaran keretanya dan keningnya berkerut. Berbisik ia pada dirinya sendiri:

“Ati!” itu saja.

“Kasihan bukan, mbak?” Tini meneruskan.

Ia tak mendengar Ati menjawab. Dan ia berkata dalam kepalanya.

“Dan aku sekarang….. aku sekarang hidup hanya untuk menerima kasihan orang lain.”

Terbayang dalam kepalanya betapa bebasnya dulu mempergunakan kaki dan matanya, sekalipun dalam jaman jajahan. Ya, sekalipun demokrasi dan kemerdekaan tak diteriakkan orang. Dan dalam negara demokrasi dan merdeka ia kehilangan haknya untuk berjalan dan melihat. Ya, sekalipun demokrasi menjamin kebebasan perseorangan. Sekali lagi ia mengeluh. Sekali lagi. Dan sekali lagi.

Terdengar suara yang dipujanya dulu:

“Bawa aku pada mas No”

Terdengar olehnya langkah kaki berselop, dan langkah anak kecil mendekatinya. Buru-buru Kirno menundukkan kepalanya. Badannya membungkuk. Dan kepalanya terletak di atas mejanya—tak bertenaga. Ada juga ia mendengar seruan Ati di depannya:

“Mas No!”

Ada juga terasa olehnya tangan merangkulnya. Ada juga terdengar olehnya sedan gadis yang dulu dicintainya itu—dulu sebelum Belanda menduduki kotanya dan sebelum ia mengundurkan dirinya dengan pasukannya ke hutan-hutan Mantingan. Ada juga terdengar olehnya nafas yang tertahan-tahan. Kemudian ia mengangkat kepalanya kembali. Berbisik:

“Ati-ku. Engkau datang juga akhirnya.”

Dan suara yang gugup terdengar olehnya:

“Mas No, mengapa engkau jadi begini sekarang?”

Kirno tak menjawab. Hanya hafas besarnya juga terdengar terhembus-hembus. Kemudian perlahan-lahan dan dalam Kirno berkata:

“Ati, kawan-kawanku mati seorang-seorang dan dilupakan orang. Dan aku pun mati dilupakan orang sekarang. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang selesai, Ati? Perang selesai dan masing-masing yang masih hidup boleh memperoleh kedudukannya masing-masing dalam masyarakat yang dibentuknya sendiri. Bukankah itu sudah adat dunia sesudah perang, Ati?”

Dan tak ada terdengar olehnya Ati menjawab. Ia meneruskan:

“Engkau boleh bebas pergi ke mana-mana, karena engkau masih ada hak untuk itu. Aku sendiri, Ati…..aku sendiri sudah kehilangan hak-hakku sebagai manusia biasa. Ati-ku bisakah engkau merasakan keadaanku ini? Tak punya hak apa-apa dalam negara yang dulu diperjuangkannya? Dapatkah engkau merasakan? Tapi aku tak mengadu padamu dengan ucapan ini. Dan kadang-kadang, Ati…..kadang-kadang dengan tak terasa sudah keluar saja kandungan hatiku, kandungan otakku.”

Ia diam sebentar. Tiba-tiba ia kehilangan kemurungan dalam ucapannya. Meneruskan dengan suara orang yang masih punya semangat hidup. “Engkau masih cantik seperti dulu, Ati?”

Terdengar olehnya Ati menjawab. Jawaban dengan keluh saja:

“Engkau tak mau menjawab, Ati. Ya, engkau tak mau menjawab, aku mengerti juga mengapa. Ya, Ati…. Aku ini tak lagi mengharapkan engkau, dan engkau tak bisa lagi mengharapkan aku, bukan? Bukan?”

Ati-nya menjawab lagi dengan keluh yang lebih dalam.

“Aku dengar engkau mengeluh lagi, Ati? Ya, aku dengar engkau mengeluh.”

“Mas Kirno,” Ati menyelingi, “Aku tak mengerti apa yang harus kupikir waktu melihat engkau ada dalam keadaan seperti ini.”

Kirno tersenyum. Berkata perlahan-lahan:

“Kadang-kadang orang hanya melihat sesuatu hal saja dengan melupakan kemungkinan-kemungkinan yang bisa timbul, Ati. Dalam hal ini engkau pun salah seperti mereka dan juga seperti aku sendiri. Rupa-rupanya beribu macam kejadian bisa terjadi atas diri satu orang.”
Sejurus mereka tak berkata apa-apa. Kemudian terdengar:

“Ati, maukah engkau menyetelkan radio itu?”

Bunyi radio yang melagukan musik barat terdengar.

“O, lagu itu-itu lagi. Itu-itu lagi. Cobalah carikan pemancar lain.”

Bunyi radio pindah ke pemancar lain. Dan suara pidato yang berkoar terdengar. Pidato itu diselingi oleh suara Kirno:

“Pidato. Adakah orang tak bosan-bosan berpidato tiap hari?”

“Mengapa, mas?” Ati-nya bertanya dengan suara kebingungan.

“Pidato itu…. Hmm, mau rasanya aku membanting radio yang beromongkosong saja itu. carikan gending, Ati!”

Dan Ati mencari pemancar baru. Kini terdengar gending.

“Ya, suara yang lunak itu. Rangkaian suara yang lembut dan menyerah itu musik yang lepas dari waktu yang memburu-buru itu….. aku lebih suka padanya dari pada musik-musik barat.”

“Mengapa engkau sekarang berubah betul, mas?”

“Bukan kemauanku mengapa aku berubah. Bukankan dalam hidupku sekarang ini, Ati, tak ada sesuatu yang dapat kuburu-buru lagi? Bukankah tak ada?”

“Engkau dulu tak pernah berkata-kata seperti sekarang ini, mas Kirno.”

Terdengar Kirno tertawa. Kemudian:

“Ya, dulu. Dulu waktu itu aku boleh merangkul engkau. Waktu itu aku boleh mencium engkau semau hatiku. Waktu itu aku masih merasa berkuasa, bahwa nasib orang terletak pada kemauan dirinya sendiri, Ati. Tapi waktu seperti itu sudah lalu.”

Tini kecil terdengar menyanyi-nyanyi dengan suara lantangnya. Dan suara itu terdengar mendekat oleh Kirno:

“Tini,” ia memanggil.

“Tini di sini, mas…. Apakah yang bisa kuperbuat untukmu?”

“Tini nyanyikan aku lagu kupu-kupu. Matikan dulu radionya.”

Radio mati. Terdengar nyanyian lantang dari Tini. Dan kedua makhluk itu, remaja itu, mendengarkannya dengan kesungguh-sungguhan. Nyanyian mati. Dan Kirno menyusulkan suaranya:

“Aku dulu seperti engkau juga, Tini.”

Dan Tini menangis—meraung.

“Mengapa engkau menangis, Tini?” Ati-nya bertanya.

“Menangis? Mengapa menangis?” Ia bertanya.

“Tidak. Tidak. Aku tidak seperti engkau waktu kecil!” bantah Tini dalam tangisnya yang kekanak-kanakan.

“Dan mengapa pakai menangis segala?” Ia bertanya lunak.

“Karena, karena, karena aku tak mau buntung. Aku tak mau buta,” seru Tini dalam tangisnya.

“Tentu, tentu saja tidak, Tini.” Ia menghibur adiknya. “Engkau tidak boleh bunting dan buta seperti mas. Dan di seluruh dunia ini tak ada orang yang boleh bunting dan buta, Tini. Cuma akulah yang boleh. Cuma akulah. Engkau kelak akan jadi wanita cantik dan berbudi. Dan engkau akan tetap bisa berlonjak-lonjakan, bermain-main dengan kawan-kawanmu.”

Tini berhenti menangis. Tinggal sedusedannya saja mengisi kesunyiannya.

“Engkau mau menyanyi lagi, Tini?” terdengar Ati-nya bertanya.

“Aku tak mau menyanyi lagi,” Tini menyahuti dengan suara patah hati.

“Sekali ini menyanyi untuk mbak Ati, Tini. Maukah engkau?”

Hanya sedusedan Tini terdengar. Ati mengulangi permintaannya:

“Nyanyikan aku lagu gajah-gajah. Engkau sudah belajar lagu itu dari sekolah, bukan?”

“Ya.” Tini menyahuti.

Kemudian terdengar Tini menyanyi lagu kanak-kanak gajah-gajah di antara sedusedannya. Kirno tersenyum-senyum mengagumi suara itu—suaranya sendiri di waktu masih kanak-kanak. Dan Tini itu—juga badan dan dirinya sendiri waktu kanak-kanak. Suara kanak-kanak yang lantang itu menusuk kesunyian yang membentang antara Kirno dan Ati. Dan di antara suara yang bening itu antara sebentar terdengar sedusedan yang tak berdosa.

Lagu itu mati. Dan terdengar olehnya ciuman Ati pada pipi adiknya.

“Alangkah bagus,” Kirno memuji.

“Ya, alangkah bagus,” Ati menambahi.

“Dalam perlombaan nyanyi tadi aku menyanyikan lagu itu juga mbak Ati.”

“O, ya?”

“Dan aku mendapat hadiah grip dan buku tulis dan cium pada pipi kananku dari bu guru.”

“Alangkah baiknya gurumu itu,” Kirno berseru.

“Baik sekali mas,” Tini berseru riang kembali. Tangisnya hilang. Sedusedannya hilang.

Dari luar terdengar kedua orangtua Kirno datang. Orang berdiam diri mendengarkan segala suara dan bunyi yang datang dari luar rumah. Kemudian menyusul suara langkah kaki masuk ke dalam rumah. Dan akhirnya seruan:

“Nak Ati! Sudah lama?”

Terdengar oleh Kirno kedua orangtuanya bercakap-cakap dengan Ati-nya.

“Ya, nak Ati, nasib tak boleh dipinta. Nasib tak bisa dipilih. Begitulah keadaan kakakmu sekarang. Engkau dari mana saja selama ini?”

Dan suara Ati terdengar menjawab:

“Selama ini, ibu, selama ini Ati pergi ke daerah pendudukan.”

“Dan sudah melupakan masmu, engkau tak pernah mengirimkan kabar.”

“Alah-alah, bagaimanakah Ati bisa mengirimkan kabar, ibu?”

“Dan masmu sudah jadi kurban perjuangan sekarang, Ati”

“Ya”

“Dan kurban cinta juga”

“Bukankah engkau tak mau jadi isterinya orang cacat, sekalipun dia cacat oleh perjuangan?”

Tak ada suara. Terasa oleh Kirno, Tini memegangi bajunya. Dan dengan sendirinya saja tangan Kirno menggapai-gapai merangkul adik kecilnya. Kekosongan teras ada di tiap hati. Juga dalam hati Tini kecil. Dan anak kecil itu meraba-raba kuping kakaknya. Dan Kirno tak membantahi rabaan itu. Kemudian terdengar bapaknya bercakap-cakap pada Ati:

“Tidak kurang-kurangnya bapak mendoakan agar engkau danmasmu dilindungi Tuhan selalu dan selamat dalam perjuangannya. Ya, Ati, tiap malam kami selalu berdoa. Dan tak jarang ibumu tak tidur semalam-malaman agar masmu sekalipun tak ada manusia yang berpelindungan di dalam hujan peluru tetap selamat sampai di puncak cintanya.” Kemudian suaranya diarahkan pada isterinya: “Ya, nak Ati, sesungguhnya begitu.”

“Tapi rupa-rupanya Tuhan boleh berkehendak atas makhluknya.”

“Ya,” terdengar suara yang kosong merongga.

Kesunyian menyusul pula. Kemudian terdengar suara yang membantu dan terbata-bata:

“Alah-alah. Apalah gunanya mempercakapkan omong kosong yang tak ada harganya itu? aku sudah buta dan buntung. Dan aku akan tetap buta dan buntung untuk seumur hidup. habis perkara.”

“Nak Ati, aku harap engkau mau memaklumi sifat masmu sekarang. Dia terlampau pemarah sekarang. Ya, dia selalu marah. Hanya bila ia ditemani oleh Tini, baru ia jadi ramah, banyak tertawanya, banyak cakapnya, dan kadang-kadang ia mendongengi adiknya tentang pertempuran-pertempuran yang pernah dialaminya.”

“Ya, bu.” Ati menyahuti suara itu.

“Apa pikirmu tentang masmu itu sekarang?”    

“Apa?” Seru Kirno murka. “Adakah aku ini barang dagangan untuk dipertimbangkan di depan orang banyak?”

Dan oleh seru murka itu tak ada mulut menggetarkan suara. Semua jadi diam sekarang. Dan di kala Tini menyanyi dengan tiada orang yang menyuruh—tiap pendengaran berubah haluan mendengarkan suara lantang Tini kecil yang nyaring dan tak berdosa itu. Kemudian:

“Ati,” Kirno memanggil kekasihnya yang dulu.

“Apa yang bisa kuperbuat untukmu, mas?”

“Sungguh engkau telah mempercakapkan diriku. Engkau sudah tahu keadaanku. Engkau tahu sampai di mana keadaanku di dunia ini sekarang. Ya, sungguh sia-sia engkau mencakapkan diriku. Engkau tinggal di mana sekarang Ati?” katanya kemudian dengan suara kian lama kian lembut.

“Semarang, mas Kirno.”

“Kapan engkau datang?”

“Tadi, tadi jam duabelas.” Ia diam sebentar, kemudian menerangkan, “Aku terpaksa pergi ke daerah pendudukan dahulu, mas. Engkau tahu keadaan keluarga kami, bukan? Dan aku tidak sempat mengucapkan sepatah kata padamu karena waktu itu engkau ada di daerah gerilya.”

“Waktu itu aku sudah menggelepak di rumahnya lurah daerah gerilya. Waktu engkau pergi, aku sudah buta, aku pun sudah tidak bisa berjalan lagi, Ati. Ingin betul aku selalu duduk di sampingmu. Ingin betul aku selalu mendengar suaramu, Ati. Tapi jangan datang padaku hanya dengan suara saja. Ya, hanya suaramu saja yang menunjukkan padaku engkau masih ada. Suara—dan perasaan sedikit. Dan kenang-kenangan sedikit. Pergilah engkau, Ati. Pulanglah engkau. Itu lebih baik untukmu.”

Dan Ati pergi. Ia dnegar juga langkah Ati-nya yang kian menjauh itu. dan ia pun dengar juga Tini mengikuti dari belakang kekasihnya dulu. Akhirnya terdengar percakapan yang tak nyata betul olehnya. Ia mengeluh sekali lagi. Sekali lagi. Ada juga terdengar kedua orangtuanya bercakap-cakap. Kemudian tak terdengar suara apa-apa.

Perlahan-lahan dirundukkan kepalanya ke meja keretanya. As kereta yang bergeseran dengan bos roda kereta menimbulkan bunyi yang meresahkan hatinya. Kemudian kepala itu sampailah di meja kereta—diam, diam saja di situ. Dan keadaan di sekelilingnya masih tetap pekat. Tak ada tertampak seikat cahaya pun.

Kemudian terdengar olehnya beberapa pasang kaki melangkah mendekatinya. Ia tahu betul langkah kaki siapa itu: ibunya, bapaknya, dan Tini. Kemudian:

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang, Kirno,” suara ibunya.

Kirno tak juga mengangkat kepalanya yang terletak di meja keretanya.

“Engkau usir Ati seperti engkau mengusir kucing.”

Tini mendekatinya, merangkul lehernya dan berseru kosong:

“Mas Kirno, mabk Ati menangis waktu mau pergi. Ia kasihan padamu.”

“Bukankah manusia ini punya perasaan yang halus, Kirno?” suara ibunya.

Tubuh Kirno yang membungkuk itu merentak bangun. Berkata kasar:

“Apalah gunanya perasaan halus buatku? Apakah gunanya?”

“Alah-alah,” suara ibunya, “Aku tak menyangka engaku akan jadi sekasar ini sekarang. Tamu yang datang untuk menengok engkau usir, seperti tak ada sesuatu yang engkau butuhkan lagi di dunia ini. Seperti hanya engkau saja yang ada di dunia ini. Bukankah Ati itu masih tetap cinta padamu?”

“Diam!” bentak Kirno garang.

“Apakah gunanya cinta untukku? Aku akan duduk saja di kursi kereta ini. Dengar? Duduk saja untuk sekian tahun atau sekian puluh tahun lamanya, sampai badan ini kejang-kejang dimakan encok dan ambeien—dan menunggu hingga maut datang.”

“Alangkah kasarnya engkau ini sekarang,” suara keluh ibunya.

Kirno mendengus.

“Mas, mbak Ati sudah pergi,” suara Tini kecil yang lunak itu. “Dia menagis. Kasihan padamu, katanya padaku.”

“He-e.”

“Dan dia tanya padaku ‘engkau sudah bisa membaca, Tini?’ Dan aku bilang aku sudah bisa membaca sedikit-sedikit. Dan dia bilang, ‘kalau begitu engkau harus selalu ada di dekat masmu dan membacakan buku untuknya.’ Dan aku bilang, ‘ya.’ Tapi mbak Ati masih menangis juga, mas. Dan dia bilang, ‘Tini harus selalu ada didekat mas Kirno. Kalau mas Kirno butuh apa-apa Tini bisa menolongnya’.”

“He-e.” Kirno mendengar suaranya sendiri.

“Engkau memerlukan apa sekarang, mas?”

“Nyanyimu, Tini.” Kirno tersenyum kekanak-kanakan.

“Engkau bisa menyanyi bagus, Tini. Menyanyilah.”

Terdengar ibunya menyela:

“Tiap hari mau mendengarkan suara adiknya saja, Kirno!” suara itu jadi kasar. “Tak adakah pekerjaan mulia dalam hatimu selain menyiksa diri adikmu dengan kau suruh menyanyi selalu, mengusiri orang yang mendekati engkau karena kasihan dan menggertak-gertak ibu dan bapakmu sendiri?”

“Diam! Dan pergi engkau!” bentak Kirno tak kenal ampun.

“Engkau minta nyanyi apa, mas?” terdengar suara Tini kecil.

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima.”

Kemudian terdengar suara yang nyaring menembus kesenyapan dunia:

“Tujuhbelas Agustus empatpuluh lima. Itulah hari kemerdekaan kita…..”

Tubuh Kirno kian lama kian membungkuk. Akhirnya kepalanya terletak lunglai di meja kursi keretanya. Dan suara nyaring Tini menembus kesenyapan yang membenam seorang makhluk. Dan nyanyian it uterus menembus-nembus dengan iramanya yang tetap. Kemudian nyanyain itu mati. Terdengar:

“Mengapa engkau diam saja, mas?”

Tini mendengar sedan kecil-kecil tak nyata hampir tak terdengar. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Mimbar Indonesia 1950