27 January 2025

Ziarah ke Makam Pak Tirto

Tak sepeti biasanya, saya baru pulang Sabtu. Lazimnya Kamis atau Jumat sudah kembali ke Sukabumi dengan KA Pangrango. Dari kantor Tirto di Cipete Selatan, saya meluncur sekira pukul 8.00 pagi. Tiba di Stasiun Pasar Minggu, calon penumpang tak begitu ramai. Peron tampak lengang.

Pundak sebelah kanan, juga kiri, bergantian diberati laptop dan baju kotor. Saat itu, memakai travel bag alih-alih ransel adalah keputusan yang patut disesali. Bagaimana tidak, beban jadi tak seimbang, belum lagi saat naik motor, mesti dipegangi agar tak jatuh atau berpindah tangan jika ada tangan jahil yang menyambar.

Penitipan barang di Stasiun Bogor hanya tersedia PopBox, layanan loker pintar yang tak mudah dimanfaatkan oleh generasi milenial. Demikianlah, akhirnya travel bag yang menjadi beban itu saya bawa serta ke TPU Blender, tempat Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo dimakamkan ulang.    

“Oh, yang di Kebon Pedes, ya?” tanya pengemudi ojek online.

Motor matik kemudian membelah Kota Bogor yang panas. Setelah melintasi rel kereta api, tujuan kian dekat. Namun, alih-alih menemukan gerbang utama, motor nyatanya masuk TPU Blender lewat belakang, mengikuti petunjuk warga. Beruntung saya menemukan kantor pengelola TPU tersebut.  

“Pak Tirto pahlawan nasional?”

Saya mengiyakan, motor matik kemudian menembus permakaman. Tak lama kemudian bertemu dengan penjual bunga yang mengerutkan dahinya saat ditanya letak makam Tirto.

“Kompleks makam keluarga Dewi Yull,” saya menegaskan. Barulah dia paham dan menunjukkan letaknya.

Saya sudahi duduk di belakang pengemudi ojek dan menyuruhnya kembali, lalu kasih tabik. Nyatanya, saya mesti bertanya kepada tiga orang lagi sampai akhirnya menemukan makam Tirto dalam kompleks berpagar yang dikunci.

Sabtu siang, 11 Januari 2025, Matahari kian membakar, keringat berleleran. Saat mulai duduk di pinggir sebuah pusara, seorang laki-laki paruh baya bertanya hendak ke siapa. Saya sejenak mencerna pertanyaannya. “Hendak ke siapa?” Kok seperti mau menemui orang hidup, padahal ini di pekuburan.

Setelah tahu maksud saya, dia segera pergi memanggil “kuncen”, orang yang memegang kunci kompleks pekuburan keluarga Dewi Yull yang di dalamnya terletak makam Tirto.

Angin pelit berembus. Pusara begitu padat berdempetan. Tak sekali dua saya menginjak kubur. Memang hampir tak ada celah untuk meniti tanah kosong. Tak begitu jauh, terdengar suara motor melintasi permakaman.

Laki-laki setengah baya telah kembali, sementara “kuncen” belum kelihatan batang hidungnya.

“Kemarin-kemarin juga ada yang datang ke sini, alhamdulillah ngasih duit, lumayan buat beli rokok,” ujarnya.

Tak lama “kuncen” datang, membuka gembok, dan mempersilakan saya masuk ke kompleks makam keluarga Dewi Yull. Dari luar kompleks permakaman keluarga Dewi Yull, pusara Sang Pemula terhalang tembok—bangunan yang melindungi beberapa kubur di luar kompleks tersebut. Maka, jika peziarah melongok dari luar pagar, memang akan terlihat jauh dan tak bisa dijangkau.

Tiga kuntum al-Fatihah saya kirimkan, membubung, menabrak dahan pohon kamboja dan terbang ke langit luas. Langit tanah air merdeka yang berderak-derak diterjang gelombang pasang. Gelombang yang meruntuhkan pagar api jurnalistik.

Saat berdoa, seseorang berdiri di balik punggung. Rohman namanya. Dia mengaku berusia 56 tahun. Mulai menjadi perawat makam keluarga Dewi Yull sejak 2006. Pendahulunya telah meninggal digerogoti usia.

Rohman tak banyak tahu tentang Tirto. Termasuk bagaimana kisah “penemuan” makam Tirto di Mangga Dua, Jakarta, hingga akhirnya dimakamkan ulang pada 30 Desember 1973 di TPU Blender, Bogor. Dia justru banyak bercerita tentang keluarganya. Konon, bapaknya seorang keturunan Tionghoa yang dibuang oleh keluarga karena menikah dengan ibunya yang seorang bumiputra.

Di kiri dan kanan pusara Tirto, terdapat makam istri, anak, dan cucunya. Berturut-turut:

·      Rd. Ajusuhaehar Tirto Adhi Soerjo (wafat 3 Juni 1975 dalam usia sekitar 102 tahun karena tanggal lahirnya tidak diketahui) à istri Tirto

·      R.M. Priatman Tirto Adhi Soerjo (lahir 15 Mei 1905-wafat 1982) à anak Tirto

·      R.A. Siti Halimah Priatman Tirto Adhi Soerjo (wafat 1965) à menantu Tirto

·      H. R.M. Soendarjo, SH bin R.M. Priatman Tirto Adhi Soerjo (lahir 20 Agustus 1930-wafat 12 September 1987) à cucu Tirto

·      Hj. Ramie Modjo, SH binti H. Djamil Modjo (lahir 27 November 1935-wafat 23 April 2019) à istri cucu Tirto

Kira-kira setelah waktu berjalan 45 menit, saya pamit. Rohman dan laki-laki paruh baya yang memanggil Rohman di awal cerita ziarah ini—yang sabar menanti, saya kasih uang rokok. Saat hendak memesan ojek online, saya baru sadar ternyata makam Tirto tak jauh dari gerbang utama atau tempat parkir TPU Blender.

Kepada pengendara ojek online yang datang beberapa menit kemudian, saya minta tolong agar rutenya melewati Jalan Tirto Adhi Soerjo atau yang semula bernama Jalan Kesehatan, lokasinya di Kecamatan Tanah Sareal, masih satu kecamatan dengan TPU Blender.

Pada 10 November 2021, Wali Kota Bogor kala itu, Bima Arya Sugiarto, resmi mengganti Jalan Kesehatan menjadi Jalan Tirto Adhi Soerjo atas permohonan Yayasan Priatman untuk Negeri. Muhidin M. Dahlan alis Gus Muh menduga dipilihnya Jalan Kesehatan karena Tirto sempat belajar di STOVIA—Sekolah Pendidikan Dokter Bumiputra.

Sebelum Zuhur, saya telah kembali ke Stasiun Bogor. Pundak kepayahan, matahari kian garang. Karena terlambat pulang ke rumah alias bergeser satu hingga dua hari dari jadwal biasanya, roti unyil dan asinan jadi terlihat pantas dibawa serta. Tapi karena hal itulah kelelahan makin menjadi karena keduanya berada di luar area stasiun.

Sekira pukul 13.10 bokong telah duduk di bangku tunggu. Dan pukul 14.00 KA Pangrango mulai berjalan ke selatan, melintasi Bogor Paledang, Batutulis, Maseng, Cigombong, Cicurug, Parungkuda, Cibadak, Karangtengah, Cisaat, dan berakhir di Stasiun Sukabumi.

***  

Dua hari kemudian, yakni 13 Januari 2025, karena tidak tahu cerita ihwal pemindahan makam Tirto dari Jakarta ke Bogor, pukul 13.10, lewat DM Instagram, saya mengirim pesan kepada Raden Adjeng Dewi Pudjijati alis Dewi Yull, putri pasangan H. R.M. Soendarjo dan Hj. Ramie Modjo, SH.

Tak kurang, begini pesannya:

 

“Assalamualaikum

Selamat Siang, Bu Dewi

Perkenalkan saya Irfan Teguh, wartawan dari media online Tirto.id. Saya bermaksud untuk menulis ficer/feature tentang Pak Tirto.

Di media kami, tulisan tentang sejarah dan riwayat Pak Tirto, baik sebagai tokoh pers maupun sebagai pahlawan nasional sudah cukup banyak. Hanya saja informasi tentang pemindahan makam Pak Tirto pada 30 Desember 1973 dari Mangga Dua ke Bogor belum banyak kami ketahui.

Maka itu saya hendak mengetahui bagaimana cerita di balik ‘penemuan’ makam Pak Tirto yang wafat pada 1918 dan pemakaman ulangnya di Bogor pada 1973.

Pada Sabtu (11 Januari 2025), saya ziarah ke makam Pak Tirto di TPU Blender dan bertemu dengan Pak Rohman sebagai penjaga makam tersebut. Namun beliau tidak mengetahui persis bagaimana proses pemindahan makam itu.

Saya juga mengunjungi Jalan Kesehatan yang kini telah berganti menjadi Jalan R.M. Tirto Adhi Soejo. Namun lagi-lagi di sekitar ruas jalan tersebut tidak ada yang bisa saya tanya soal riwayat Pak Tirto.

Dengan demikian, kiranya Bu Dewi berkenan, saya bermaksud menimba cerita dan kisah di balik hal-hal yang saya utarakan di atas. Juga dengan ini saya ingin mengonfirmasi apakah betul keturunan dari Pak Tirto dari Boki Fatimah/Prinses Kasiruta di Pulau Bacan memakai marga Sadar Alam atau Sedaralam.

Jawaban dari Ibu Dewi amat berharga bagi saya yang menanti dengan pengharapan yang besar. Terima kasih. Hatur nuhun.”

 

Pesan tak kunjung dibalas. Mengetahui saya sedang menulis tentang Tirto, wapemred melempar satu nomor yang katanya milik Okky, kerabat Tirto, namun tak jelas sebagai apa, entah cucu, buyut, atau yang lain. Omong-omong, wapemred memang pernah terlibat dalam proyek “Seabad Pers Kebangsaan” yang dikomandoi Muhidin M. Dahlan.

Tak banyak tanya, Rabu 22 Januari 2025, saya segera mengirim pesan via WA ke nomor tersebut yang isinya sama seperti yang saya sampaikan ke Dewi Yull via Instagram. Centang satu. Pesan tak juga terkirim. (irf)  

12 October 2024

Moby Dick Rasa Kari Ayam

Sekali waktu, Eka Kurniawan diminta seseorang untuk menyebutkan tiga buku sebagai bekal untuk calon penulis. Eka menjawab, jika calon penulis itu adalah dirinya sendiri sekitar 25 tahun yang lalu, maka ia merekomendasikan buku-buku karya Franz Kafka, Toni Morrison, dan satu lagi antara Moby Dick atau Don Quixote.

“Kafka mah sebenarnya [judulnya] apa aja lah, tapi saya pilih The Castle,” kata Eka.

Moby Dick atau Don Quixote, dua judul ini sangat sering saya dengar, tapi belum kesampaian membacanya. Maka dengan bujet terbatas, meluncurlah saya ke loka pasar hijau, memindai, dan menukar sejumlah rupiah dengan dua buku versi ringkas Moby Dick atau Don Quixote. Empat hari berselang, mereka datang.  

“Takdir Moby Dick di negeri ini tampak mirip novel-novel legendaris lain yang lebih sering disebut daripada dibaca,” tulis Cep Subhan KM dalam pengantarnya.

Alasannya, kata dia, mungkin karena novel ini tebal sehingga belum ada terjemahan lengkapnya dalam bahasa Indonesia. Alasan lanjutannya, pikir saya, barangkali ketebalan itu membuat para penerbit gentar, takut biaya produksi tak sebanding dengan penjualan.

Setelah menyelesaikan Moby Dick versi ringkas dalam sekali duduk, saya yakin bahwa novel ini, tentu dalam versi lengkapnya, menyajikan pertualangan yang dahsyat. Semua material, termasuk plot dan penokohan, juga lanskap cerita, amat menjanjikan: pertualangan, dendam, ikan paus, laut, para penombak, darah, badai, dll.

Perhatikan paragraf pembukanya:   

“Panggil aku Ismail. Mengajar adalah profesiku. Tetapi dari waktu ke waktu, aku merasakan hasrat untuk bertualang. Ketika hasrat itu datang, aku akan meninggalkan ruang kelas dan pergi ke laut. Ketika aku merasa terjatuh, lautan terbuka memiliki sesuatu yang dapat mengangkat kembali semangatku.”

Lalu muncul tokoh Queequeg, si penombak bertato, putra seorang kepala suku yang meninggalkan kampung halamannya untuk melihat dunia. Sukunya tinggal di sebuah tanah yang jauh bernama Aotearoa, yang berartinya “awan putih yang panjang”. Ismail menyebut Queequeg sebagai “raksasa berhati lembut.”

Keduanya bertualang dengan menumpang Kapal Pequod, kapal penangkap paus yang dipimpin Kapten Ahab yang salah satu kakinya buntung dimangsa paus putih alias Moby Dick. Dan atas itulah, dendam kesumatnya menyala sepanjang cerita. Benar-benar bahan cerita yang bagus, bukan?

Para awak kapal lain tak kurang menarik. Ada Starbuck, seorang pria yang kehilangan ayah dan saudara lelakinya di laut. Orang kedua bernama Stubb, seseorang yang tidak suka serius. Lalu ada Flask, dia yang hidup untuk membunuh paus.

Lain itu, ada juga para penombak yang keberadaannya amat penting di kapal pemburu paus. Mereka orang-orang berani, sangat kuat, dengan mata yang jernih dan lengan perkasa. Selain Queequeg, penombak lain bernama Tashtego, seorang Indian Amerika. Dia anggota dari suku New England yang terkenal kuat. Seorang lagi bernama Daggoo asal Afrika. Rekan-rekan Daggoo adalah para pejuang pemberani dari sebuah suku di Afrika.

Sementara penombak pilihan Kapten Ahab adalah seorang pria Arab bernama Fedallah. Dialah si penombak yang bernubuat bahwa dirinya akan mati duluan dan menuntun sang kapten ke dunia selanjutnya.

“Adalah seutas tali, yang akan membunuhmu,” kata Fedallah meramal kematian Sang Kapten.

Moby Dick versi lengkap berisi 135 bab plus epilog. Sementara versi pendek hasil meringkas Janet Lorimer ini hanya berisi 10 bab. Saya membayangkan versi pendek ini ibarat kari ayam, atau soto mie, atau rendang, atau ayam bawang, yang semuanya dalam bentuk mie instan. Sedikit terbayang, mencecap secuil, tapi masih jauh dari wujudnya yang hakiki. [irf]

Selayang Dendang

Belakangan, nyaris setiap tahun, tempat kerja menjadi media partner sejumlah acara musik. Dari Synchronize, Prambanan Jazz, hingga Pestapora. Sejumlah tiket jatah media biasanya digunakan anak-anak mulmed dan sosmed.

Redaksi? Biasanya kami sudah terlalu lelah mengurusi naskah yang berjejal di hampir 15 jam yang dicacah dalam sejumlah sif. Meski demikian, ada juga sesekali reporter yang ikut nonton, biasanya anak muda yang energinya masih penuh meski seharian telah dibantai tenggat.

Editor news hampir bisa dipastikan tak pernah ada yang ikut acara musik. Alasannya cuma dua: tak berminat dan tuntutan keluarga.

Bagi saya, konsep festival barangkali juga berpengaruh untuk terus menunda menyamber tiket-tiket itu. Lagi pula, seumur hidup rasanya baru dua kali saya nonton acara musik. Pertama saat /rif konser di Sukabumi tahun 2000 dalam rangka promosi album Nikmati Aja. Kedua, konser album Roekmana’s Repertoire Tigapagi di De Majestic, Braga, Bandung, tahun 2023.

Kala itu, harga tiket /rif hanya Rp 12.000, seharga rokok Lucky Strike tanpa filter yang biasa dibeli seorang kawan di Jalan Ciwangi, Sukabumi. Konser digelar di sebuah gedung kecil di sisi Lapang Merdeka yang ditutup dengan lagu “Loe Toe Ye”.

Rasa-rasanya, Maggy kala itu masih “segar”, belum terlihat renta seperti Andy, dan masih sangat lincah menggebuk drum. Tapi belakangan karena band ini termasuk salah satu “drunken master”, maka lama-lama Maggy pun terlihat ringkih.

Sedangkan Roekmana’s Repertoire Tigapagi dibandrol dengan harga Rp 200.000, termasuk CD album tersebut sebagai tanda masuk. Artinya saya jadi punya dua CD album itu. Secara keseluruhan konser Tigapagi amat memuaskan, hanya sedikti gangguan kecil saat sejumlah penonton lain di sebelah saya ikut bernyanyi. Bagi saya, lagu-lagu Tigapagi bukan jenis yang layak dinyanyikan bareng-bareng, tapi cukup didengarkan, diresapi, dihayati.

Baru-baru ini, setelah 10 tahun lebih sejak album pertama menetas, Tigapagi akhirnya mengeluarkan album kedua bertajuk Rukiah’s Suites. Temanya masih sekitar 1965 dan Siti Rukiah Kertapati adalah sastrawan serta aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi sayap PKI. Lagu-lagunya pun sepintas masih sama dengan album pertama, harmoni-harmoni yang “Tigapagi banget”.

Album Rukiah’s Suites hanya dicetak dalam bentuk piringan hitam. Ini dikonfirmasi oleh Tigapagi di akun Instagram-nya. Bagi saya dan mungkin mayoritas pendengar yang bisa saja dicap sebagai “rombongan mendang-mending”, hal ini tentu sangat disayangkan. Harga piringan hitam jelas lebih mahal dari cakram padat. Lagi pula tak semua orang punya turntable. Tigapagi sebaiknya tak beranjak menjadi “band mahal dan eksklusif”.

Namun barangkali dalam dua acara musik itu ada juga yang pernah saya hadiri, tapi kemungkinan lupa. Tak apa. Yang cukup saya sesali adalah tak hadir dalam acara dendang sore Semakbelukar di Kineruku pada 2013 saat mereka akhirnya membubarkan diri yang menghancurkan semua alat musiknya. Lalu hanya menyisakan sang vokalis, David Hersya, yang kini mulai aktif lagi membuat sejumlah syair. [irf]


14 September 2024

Puding Telur Bebek

Selasa, sekira pukul 15.45 WIB, koordinator liputan (korlip) sif pagi-siang kirim pesan pendek. Isinya saya harus stop ngedit, rehat dulu, karena katanya selepas Magrib diprediksi akan banjir naskah. Beberapa hari itu memang berita sering menumpuk dari sore menjelang malam.

Saya akhirnya rebahan di kamar. Sementara di ruangan tengah istri menyuapi Daria dengan menu MP ASI hasil daur cipta dari video pendek di TikTok. Bagi orang dewasa, khususnya saya, menunya cukup mengerikan: puding yang dicampur telur bebek. Dari namanya sudah terbayang amisnya.

Awalnya saya tak tahu menu itu. Tapi menjelang Magrib, Daria tiba-tiba muntah. Kira-kira pukul 18.30, saat waktunya saya kembali ke laptop, Daria sudah muntah tiga kali. Saya pikir hanya mual biasa, lagu pula tak enak meninggalkan pekerjaan yang sudah dua jam dijeda.

Tapi saat menyunting satu naskah ekonomi, Daria muntah lagi dan menangis. Isi perutnya sudah cukup banyak terkuras. Ketika naskah hampir rampung diedit, dia lagi-lagi muntah, kini hanya cairan. Saya akhirnya menutup laptop dan segera menghubungi korlip sif sore-malam. Lalu memesan gocar, sementara di luar sudah hujan.

Gocar pertama minta di-cancel karena katanya kejauhan. Kepada pengemudi gocar kedua, saya sampaikan pesan, “Anak saya muntah-muntah.” Dia langsung menjawab, “Siap!”

Sesampainya di RS Hermina, Daria langsung dibawa ke IGD dan muntah-muntah lagi. Sampai akhirnya diinfus, total dia muntah sebanyak sepuluh kali, hingga cairan lambung yang berwarna kuning dan pahit ikut keluar.

Dia sebelumnya tak pernah sakit. Hanya sesekali demam jika habis diberi vaksin imunisasi. Beberapa bulan sempat meraih predikat bayi terlucu se-Baleendah. Jangan heran, memang begitu faktanya.     

Kali ini, pada sakitnya yang pertama, bocah 15 bulan ini punggung lengannya mesti dikoyak jarum infus. Tentu saja dia ngamuk, meski masih dalam tahap wajar. Sebelum tetes pertama air infus masuk ke tubuhnya, wajahnya sudah agak pucat dan lesu, maklum cairan sudah banyak keluar.

Daria dirawat rawat inap dua hari dua malam, di rumah sakit yang pemandangannya langsung ke arah Gunung Gede. Jarum infus sempat lepas karena dia tarik terus. Risikonya mesti disuntik ulang. Dan drama pun berulang. Beruntung setelah itu hingga diperbolehkan pulang oleh dokter semuanya berjalan lancar.

Dua antibiotik cair dibawa sebagai oleh-oleh, menyisakan PR bagaimana caranya membujuk anak mengonsumsi obat lewat mulut. Begitulah jadinya, rangkaian jadwal minum obat diisi dengan pelbagai drama.

Seorang kawan yang juga pejuang MP ASI mengatakan bahwa telur bebek memang tinggi kalorinya dan bagus buat anak. Tapi menurutnya, memasaknya harus sampai matang karena rawan terkena bakteri. Nah, barangkali puding telur bebek itu belum terlalu matang sehingga bakteri menyambar pencernaan dan bertarung melawan sel darah putih.

Namun demikian, itulah perjuangan ibu-ibu yang berkejaran dengan waktu untuk meningkatkan berat badan anaknya. [ ]

 

 

12 March 2024

Jampangkulon – Masjid Agung




Kabar terbaru dari teman-teman di kampung, sekarang Masjid Agung tak begitu makmur seperti dulu. Musababnya, sekarang ada dua masjid lain yang rutin menggelar salat lima waktu.

Pertama, masjid di pesantren yang dikelola Ajat di Gemarasa. Kedua, masjid di pesantren Umar di Panglayungan (Pasirpogor), atau mungkin lebih tepatnya di kompleks Yayasan Pendidikan Nida Bahari.

Dulu, setidaknya sejak saya ingat (kira-kira tahun 1988) sampai mulai merantau pada 1998, dua wilayah ini semua warganya salat lima waktu di Masjid Agung, termasuk salat Jumat dan taraweh—kecuali sebagian ibu-ibu yang salat taraweh di Masjid Nurul Huda atau masjid Pak Deden Daenuri.

Tahun 1986, berdasarkan catatan pada plakat, Masjid Agung Jampangkulon diresmikan oleh Bupati Sukabumi ke-13, Drs. H. Ragam Santika. Bangunannya megah, ditopang enam pilar kokoh di dalam dengan diameter kira-kira 1,5 meter. Pilar-pilar ini menjadi tempat favorit para orang tua untuk bersandar saat mendengarkan ceramah Kuliah Subuh.

Di bagian depan, sisi sebelah kanan, terdapat menara yang menjulang, yang ujungnya dihiasi kubah bawang. Menara ini seluruhnya terbuat dari tembok, termasuk kubah. Di bagian bawah menara, terdapat empat “kaki” yang masing-masing membentuk sudut, tempat bermain anak-anak di waktu petang.

Masjid ini tak punya nama, maksudnya tak seperti masjid-masjid lain yang sering diberi nama Al-Ikhlas, An-Nuur, At-Taubah, Al-Muhajirin, Al-Furqon, dll, tapi cukup diberi nama Masjid Agung Jampangkulon.

Tembok masjid, termasuk menara, secara umum berwarna putih sedikit gading. Sementara jendela dan pintu berwarna merah bata. Dinding bagian dalam hampir sepenuhnya dihiasi kaligrafi Al Qur’an beserta terjemahnya yang terbuat dari karpet hijau beralas triplek putih. Salah satu ayat yang dibuat kaligrafi itu adalah Surat An Nisa ayat 103:

Innaṣ-ṣalāta kānat 'alal-mu`minīna kitābam mauqụtā.

“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”   

Sekeliling masjid dipagar tembok berhias bata-bata bolong bermotif. Atasnya dipasang besi runcing mirip mata trisula. Pengecualian di sisi utara yang sebetulnya menjadi pagar Kantor Urusan Agama (KUA), di atas pagar dipasang paku besar dengan mata paku menghadap ke atas.

Tak seperti pintu dalam yang ada tiga (depan, kiri, kanan), pintu luar hanya ada dua, yaitu depan dan samping kanan (selatan). Di samping utara dibatasi KUA dan tanahnya tinggi.

Tempat wudhu berada di sisi utara bagian belakang, bersebelahan dengan KUA. Mula-mula, tempat wudhu ini hanya petak-petak tembok sedada yang dipasangi beberapa keran. Setelah dipugar, jadi bangunan tertutup yang dalamnya dibagi dua, tapi semuanya untuk wudhu. Lalu dipugar lagi jadi terbuka, hanya toiletnya yang tertutup dan tempat kecingnya dibatasi pintu koboi. Sementara tempat wudhunya dilengkapi tempat duduk yang dilapisi keramik putih. Secara umum lebih terang dan bersih.

Namun usia tempat wudhu terbaru itu tidak lama. Masjid Agung yang diresmikan pada 1986 tersebut dirobohkan dan diganti pada 1996 oleh masjid baru yang dibikin Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) milik Soeharto. Artinya masjid yang diresmikan Drs. H. Ragam Santika hanya berusia 10 tahun, singkat sekali.

Sebelum masjid berganti, beduk dan kohkol berada di samping tempat wudhu, persis di depan pintu menuju ruangan takmir. Diameter beduk yang terbuat dari kulit sapi sekitar 1,5 meter. Seingat saya, beduk tak dipukul lima kali dalam hari, tapi hanya digunakan untuk ngadulag saat bulan puasa dan menjelang Lebaran.

Entah kenapa mereka yang jago ngadulag hanya orang-orang Gemarasa seperti Mang Dadun, Udan, Yadi (Ebod), Hendra, Dede Hendi (Ebod), dll. Secara kebetulan mereka semaunya bertentangga dan bersaudara. Ajaib.

Di bagian belakang masjid, tepatnya di kiri dan kanan mimbar, terdapat dua ruangan yang lumayan luas. Ruangan di sisi utara adalah tempat takmir azan, juga terdapat lemari kaca tempat menyimpan beberapa Al Qur’an. Kami, anak-anak kecil biasanya pupujian (puji-pujian) di ruangan ini. Tapi seingat saya, pupujian hanya terjadi di era Aki Eman Selaeman (kakeknya Roni). Sementara di zaman Mang Rohman dan Mang Aang pupujian tidak ada atau mungkin jarang. Pupujian andalan adalah “Eling-Eling Umat”.

Sementara ruangan di sisi selatan mimbar adalah tempat untuk menyimpan pasaran (keranda) dan tempat pemandian jenazah. Ruangan ini tentu saja tempat yang paling dihindari anak-anak kecil. Apalagi sering tersiar cerita tentang bunyi-bunyi keras pada malam hari di ruangan ini. Cerita tersebut biasanya bermula dari Ceu Titi, warga yang rumahnya persis di belakang masjid.

Di masing-masing ruangan terdapat pintu yang dilengkapi kotak kaca yang menghadap ke ruangan utama masjid. Jika anak-anak ribut atau berlari-larian di dalam masjid, maka Mang Rohman akan mengintipnya dari ruangan takmir lewat kotak kaca di pintu itu.     

Lantai masjid terbuat dari tegel berwarna kelabu. Bagian serambi atau teras tampak mengkilat hitam karena sering diinjak jamaah. Sementara bagian dalam hanya sebagian, karena sisanya ditutupi karpet panjang berwarna hijau.

Tak seperti masjid pada umumnya yang seluruhnya dikelilingi teras, Masjid Agung hanya bagian tengah depan saja. Sisanya bukan teras, karena posisinya lebih rendah dan bukan batas suci. Jadi hanya ubin biasa tempat menyimpan sandal.   

Saat Masjid Agung masih berdiri ataupun ketika dirobohkan, lazimnya anak kampung dengan ekonomi pas-pasan, saya tak punya kamera untuk mengabadikan semuanya. Sebuah riwayat telah berakhir.

Masjid Besar Mihrobul Muslimin

Menjelang kejatuhan Soeharto, Golkar tetap kuat di Wilayah Enam Jampangkulon yang meliputi Jampangkulon, Surade, Kalibunder, Ciracap, Ciemas, dan Lengkong—setelah pemekaran, wilayah ini menjadi sembilan kecamatan, ditambah Waluran, Cibitung, dan Cimanggu.

Barangkali atas dasar itu, YAMP mau membikin masjid di Jampangkulon. Saat itu kondisi Masjdi Agung lama masih baik, hanya saja atap bagian depan sedikit terlihat cekung ke bawah, seperti mau ambrol. Sisanya masih baik, bahkan seperti saya sebutkan di atas, tempat wudhunya masih sangat baru.

Ketika masjid lama diruntuhkan dan masjid baru masih dibangun, tempat ngaji anak-anak pindah ke Pesantren Nurul Huda milik Pak Deden Daenuri. Kami mengaji di lantai dua bagian depan yang menghadap jalan raya. Namun lama-kelamaan Pak Haji Mahmudin atau Pak Amud (guru mengaji kami) menggeser temat ngaji ke rumahnya di sebelah Kantor PLN yang berisik.

Waktu itu listrik di Jampangkulon yang bertenaga diesel belum menyala siang malam. Listrik hanya menyala dari setengah enam sore sampai setengah enam pagi. Maka dulu jika mau membubarkan anak-anak yang sedang bermain sepak bola, orang tua bisanya berteriak, “Geura bubar, listrik geus hurung” (Segera bubar, listrik sudah menyala).



Sumber berisik tentu saja dari mesin diesel. Tapi itu tak menyurutkan kami untuk mengaji. Yang paling diingat, selepas Subuh yang dingin, kami tetap mendatangi rumah guru untuk mengaji kitab Ta’lim Muta’allim, Tijan, Safinah, dan Jurumiyyah.    

Saya tak ingat terlalu pasti, berapa lama waktu yang dihabiskan untuk pembangunan masjid baru, yang jelas dua tahun sejak pembangunan dimulai saya mulai merantau untuk sekolah di Kota Sukabumi.

Belakangan, setelah masjid baru selesai dibangun, pemerintah membuat klasifikasi tipe-tipe masjid. Jika dulu di tingkat kecamatan disebutnya Masjid Agung, maka sekarang menjadi Masjid Besar. Demikianlah, masjid Jampangkulon berubah namanya menjadi Masjid Besar. Lalu DKM-nya menambah nama baru, yakni Mihrobul Muslimin. Maka nama lengkapnya menjadi Masjid Besar Mihrobul Muslimin.

Masjid baru ini tak punya pilar di bagian dalam, tapi ada di bagian luar yang berjejer. Teras terdapat di bagian depan, kiri, dan kanan. Seluruh lantai terbuat dari keramik putih. Tempat wudhu ada dua, di sisi utara dan selatan, masing-masing dilengkapi dengan toilet.

Semua Masjid YAMP terinspirasi dari Masjid Demak. Tak ada kubah bawang, tapi atap berumpak yang di ujungnya terdapat lafaz “Allah”. Sekilas mengingatkan pada ungkapan orang Sunda dulu terhadap masjid, yaitu Bale Nyungcung, karena ujung atapnya runcing.

Sekarang beduk dan kohkol di masjid tak terlalu besar dan biasanya ditempatkan di teras utara atau selatan. Jadi anak-anak tak perlu lagi ke belakang jika hendak ngadulag. Pelataran masjid ditutupi paving blok dan ditanami beberapa pohon berdaun rindang. Pagarnya terbuat dari besi dan tembok.

Kini KUA sudah pindah ke bekas Kantor BRI Jampangkulon di sebelah utara Masjid Besar yang letak tanahnya agak tinggi. Meski bergeser, tapi masih tetap berdekatan. Orang-orang yang menikah di KUA masih mudah menjangkau masjid jika hendak salat berjamaah dengan pasangan barunya yang sudah sah. [ ]