Showing posts with label Jurnalisme. Show all posts
Showing posts with label Jurnalisme. Show all posts

23 September 2015

Cara Sastra Menyiasati Kekuasaan

Ketika rezim Orde Baru merepresi pers, dan banyak peristiwa yang menginjak-nginjak kemanusiaan yang akhirnya luput dari pemberitaan, maka Seno Gumira Ajidarma membuat sebuah kredo yang cukup terkenal, “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara.” Seno yang waktu peristiwa Dili menjadi jurnalis di majalah Jakarta Jakarta, mencoba “berkelit” dari tekanan Orde Baru, dengan tidak mengedepankan tulisan jurnalistik, namun ia hadir dengan cerita-cerita (yang seolah) fiktif.
Buku kumpulan cerpennya yang berjudul “Saksi Mata” berisi kisah-kisah tentang konflik di Timor Timur. Buku itu terbit pertamakali di tahun 1994. Dua tahun kemudian, novel “Jazz, Parfum & Insiden” terbit. Buku ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh Yayasan Lontar ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Jazz, Perfume & the Incident”. Sementara jelang acara Frankfurt Book Fair 2015, buku ini diterjemahkan ke bahasa Jerman dan akan diterbitkan oleh penerbit Angkor Verlag.
Novel “Jazz, Parfum & Insiden” menceritakan seorang wartawan yang tinggal di lingkungan metropolitan dan mesti menuliskan sesuatu yang kritis. Peristiwa yang sedang dihadapi si wartawan tadi adalah seputar konflik di Timor Timur. Di novel ini Seno lebih transparan dalam menyebutkan latar tempat terjadinya kekerasan, juga menyelipkan beberapa laporan jurnalistik yang penah dimuat di majalah Jakarta Jakarta.
Apa yang dilakukan Seno bukan berarti tanpa resiko, meskipun teks untuk mengungkap kebenaran itu berbentuk tulisan fiksi, namun menghadapi rezim militer yang otoriter dengan mata-mata disebar di setiap penjuru negeri, tetap saja membuat langkah Seno dijegal. Ia sebagai wartawan kemudian dipecat dari tempat kerjanya, karena memberikan fakta insiden Dili 12 November 1991.
Dalam buku “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra harus Bicara”, ia memberikan penjelasan, “Kemudian, karena laporan tentang insiden Dili dalam Jakarta Jakarta edisi 288, 4-10 Januari 1992, atas permintaan pihak luar, perusahaan tempat saya bekerja menghentikan saya dan dua kawan lain. Kejadian ini tentu saya anggap sebagai penindasan—oleh suatu kekuasaan yang merasa dirinya melakukan yang paling benar. Saya melawannya dengan cara membuat insiden Dili yang ingin cepat-cepat dilupakan itu menjadi abadi.”
Meskipun karya Seno yang hendak diterbitkan oleh penerbit Angkor Verlag hanya novel “Jazz, Parfum & Insiden”, namun kalau dikaitkan dengan usaha Seno mengungkap peristiwa Dili, sejatinya ada tiga buku yang terkait satu sama lain. Ketiga buku ini di tahun 2010 diterbitkan secara utuh (digabung menjadi satu) oleh penerbit Bentang Pustaka, dan diberi judul “Trilogi Insiden”, yang di dalamnya terdiri dari; Kumpulan cerita pendek “Saksi Mata”, novel “Jazz, Parfum & Insiden”, serta kumpulan esai “Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra harus Bicara”.
Buku trilogi ini kemudian oleh Digital Archipelago yang didukung Galeri Indonesia Kaya diluncurkan dalam bentuk audio. Waktu diwawancara oleh TabloidNova.com, Seno memberikan keterangan, "Ini adalah karya saya yang pertama kali dibuat dalam bentuk buku audio, dengan bantuan banyak sahabat yang mau meluangkan waktu membacakan karya saya, dan memberikan atmosfer berbeda dalam setiap kisah yang dibacakan. Buku audio ini penting bagi sastra Indonesia, juga menarik karena memanfaatkan internet, teknologi komunikasi mutakhir yang paling populer saat ini," ujar Seno.
Insiden Dili yang oleh rezim Orde Baru hendak cepat-cepat diberangus dan dilupakan dengan segera itu, kini lagi-lagi justru mengabadi dengan caranya sendiri. Lewat jejaring internet yang bisa diakses, suara-suara warga Dili yang tulis oleh Seno Gumira Ajidarma akan menggema sampai jauh. Ini bukan soal nasionalisme, namun lebih mendasar lagi, yaitu kemanusiaan.
“Jazz, Parfum & Insiden” sebagai narasi yang dibangun untuk menyingkap noktah merah dalam salah satu perjalanan sejarah Indonesia, sekali ini, akan hadir pula di Frankfurt. Isu kemanusiaan yang universal memang tak dapat dibendung oleh apa pun, termasuk garis batas bangsa dan negara.
Dan inilah ragam wajah Indonesia kontemporer itu, yang salah satunya terus berusaha untuk menyingkap tabir-tabir sejarah yang penuh luka. Seperih dan sepahit apa pun, usaha mencari dan mengungkapkan kebenaran harus tetap mendapatkan tempat -- melalui sastra atau bukan sastra. Menjadi spirit hidup berbangsa. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

21 September 2012

Berhenti di Batas

2005 terasa panas oleh semangat yang mengalir. Mereka berangkat tanpa dibekali helm dan rompi anti peluru. Selain karena tugas profesi, naluri jurnalisme juga terlalu kuat untuk dikalahkan oleh rasa takut yang sebenarnya hadir, tapi cepat terkubur. Tahun ketika saya sedang menjalani saat-saat akhir di bangku kuliah, Meutia dan Budiyanto berangkat ke negara yang sangat panas oleh konflik sektarian pasca rezim Saddam Husein runtuh. Mereka sempat ditanya oleh tentara Irak, “kenapa kalian tidak pakai rompi anti peluru?”, mereka menjawab, “tidak punya”. Lalu tentara Irak bertanya lagi, “kenapa kalian tidak memakai helm anti peluru,” dan lagi-lagi mereka menjawab, “tidak punya”. Tentara Irak tertawa lalu bertanya lagi, ”lalu apa yang melindungi kalian untuk peliputan di medan konflik ini?”, dengan mantap mereka menjawab, “Bismillah.” Jawaban mereka bukanlah sesuatu yang mudah didebat oleh tentara Irak yang mempunyai keyakinan yang sama. Seperti yang dicatat Meutia dalam memoarnya, dia ternyata lupa, bahwa pasrah sesungguhnya adalah sikap penyerahan total kepada Tuhan setelah usaha benar-benar maksimal. 

Dengan persiapan yang sebenarnya kurang maksimal dan semangat reportase yang menyala, mereka berhasil meliput pemilu pertama pasca pendudukan Irak oleh Amerika dan pasukan koalisinya. Bangga tentu saja ada, karena mereka berhasil melaporkan berita dari jantung Irak. Tapi keberhasilan itu bukan tanpa perjuangan dan kejutan-kejutan menegangkan; dua kali mereka berada di bawah ancaman moncong senjata. Lalu tugas selanjutnya datang, peliputan Assyura di Karbala, di basis kaum Syiah. Ini tentu peliputan yang sangat beresiko. Bahaya di atas bahaya. Assyura selalu saja banyak memakan korban jiwa; ledakan bom atau kerusuhan. Meskipun pada awalnya mereka segan kembali lagi ke Irak, tapi ini tugas. Dan akhirnya, sekali lagi, ketakutan akan bahaya yang mengancam itu berhasil mereka pukul mundur, semangat mereka tidak kendur, tekad mereka untuk tetap pergi ke Karbala tidak pernah hancur. Tidak lama setelah itu, kantor mereka di Kedoya, Jakarta Barat, kelabu oleh cemas yang menyesak dada dan gerimis airmata; reporter Meutia Hafiz dan juru kamera Budiyanto diculik oleh pasukan mujahidin di Ramadi, salah satu daerah yang menjadi basis perlawanan kaum Sunni. 

Malam itu, waktu berita mengenai tewasnya wartawan Vivanews.com masih menempel di ingatan, dan televisi sedang memberitakan hilangnya beberapa relawan ketika melakukan   penyisiran di dusun yang hancur oleh awan panas Merapi, saya membaca refleksi Meutia setelah dua tahun terbebas dari peristiwa “168 jam penyanderaan” di Irak. Dengan bahasa yang lincah bertenaga, refleksinya terasa jernih dan berhasil membuka mata, bahwa tidak ada berita yang pantas untuk dibarter dengan nyawa. Di tengah kondisi bahaya, dengan naluri jurnalisme dan semangat peliputan yang membara, terkadang wartawan lupa, bahwa dirinya lebih berharga daripada berita. Batas antara berhenti atau terus maju memburu berita seringkali kabur, dan kenyataan ini telah banyak memberikan bukti, bahwa industry pers seringkali kehilangan orang-orang terbaiknya hanya karena “lupa untuk berhenti”.  Bukankah ini mengerikan?. 

Insting untuk menyelamatkan diri terkadang kabur oleh semangat untuk mendapatkan berita eksklusif yang berisiko tinggi dan bahaya yang selalu mengintai. Insiden buruk yang menimpa wartawan terkadang bermula dari kesalahan kecil dan sepele. Kematian Muhamad Guntur Saefullah, juru kamera SCTV, dan Suherman, juru kamera Lativi, dalam tragedy tenggelamnya kapal Levina, menambah daftar panjang tragedy liputan yang menewaskan para jurnalis. Kita juga tentu belum sepenuhnya lupa pada kasus Ferry Santoro dan almarhum Ersa Siregar dari RCTI, yang disandera kelompok Gerakan Aceh Merdeka. Benar kata Meutia, bahwa setiap jurnalis, terutama yang bertugas di daerah konflik dan rawan bencana, harus senantiasa bertanya pada dirinya sendiri, “kapan harus berhenti?. Kapan harus segera meninggalkan medan liputan ketika bahaya semakin mengancam?.” Peristiwa tertembaknya dua wartawan perang yang sangat dihormati karena pengalaman dan kemampuannya “membaca” medan, Kurt Shorck (Reuters) dan Miguel Gil Moreno (Associated Press), menjadi peringatan bagi siapa saja yang ditugaskan meliput di daerah konflik. Mereka tertembak saat meliput konflik di Sierra Leone pada tahun 2000. Jurnalis terbaik pun, ketika sudah berada di medan liputan, kesulitan menemukan keseimbangan antara insting untuk menyelamatkan diri dan keinginan untuk memperoleh berita ekskulusif. 

Ini tentu tidak hanya berlaku bagi para jurnalis, namun juga para relawan yang tengah mengevakuasi korban di daerah bencana, mereka harus senantiasa sadar jaga dengan kemungkinan terburuk, jangan sampai menyelamatkan nyawa dengan kehilangan nyawa. Saat-saat ini Indonesia seperti sebuah kepulauan dengan rangkaian bencana, hal ini tentu saja membutuhkan para relawan kemanusiaan dan para pengkabar berita yang gesit, kuat, dan tahan banting. Juga tentu saja yang sadar akan insting untuk “berhenti”, agar jangan sampai para pemburu berita menjadi bahan pemberitaan. Cukup mengabarkan duka saja, jangan sampai si pengabar duka menjadi penghuni daftar kedukaan. Selamat bertugas. [ ]

---Dedicated to Hervina