20 November 2014

PERSIB : Baheula, Anyeuna, Salawasna

Saya pernah bertanya-tanya, kenapa di luar negeri sana ada saja pendukung klub-klub medioker yang begitu setia tanpa tergoda sedikit pun untuk menjadi pendukung klub-klub besar. Saya lupa, karena terlalu sering melihat jersey KW klub besar Eropa di sini, sehingga alpa pada satu hal yang sangat fundamental; bahwa mereka, pada pendukung klub medioker itu adalah pewaris sah dari para tetua moyang mereka yang sudah berdiri di tribun sejak dari dulu. Meski bukan klub medioker, namun hal tersebut terjadi pula pada Bobotoh Persib.

Tak tahu persisnya bagaimana proses pewarisan itu berlangsung, tapi yang saya ingat sekitar tahun 1995, waktu Persib berlaga di Piala Champion Asia, dengan radio kecil bermerek Sony, saya kesal dengan gelombang radio yang kemerosok, timbul tenggelam seperti di sapu angin. 

Dari pelosok selatan Sukabumi, saya dengan penuh antusias mendengarkan siaran radio pertandingan-pertandingan Persib melawan Verdy Kawasaki, Bangkok Bank, Ilhwa Chunma, Thai Farmers Bank, dan Pasay City FC. Di kamar belakang, waktu kawan-kawan saya bermain petak umpet di halaman masjid, saya justeru sibuk memutar-mutar antena radio demi mendapatkan suara yang agak jernih. Ini laga internasional! Dan saya tak boleh melewatkannya.


Persib sudah hampir seperti udara. Di kampung yang jaraknya ratusan kilometer dari Kota Bandung, kalau Persib berlaga, para tetangga pasti ramai membicarakannya. Kang Entang, seorang tetangga yang kebetulan juga pemain bola kelas Kelurahan, paling gencar kalau sudah membincangkan Persib. Kumis tebalnya yang mirip Adeng Hudaya ngajepat gagah. “Tah euy, mun maraneh jadi bek, tempo Roby Darwis. Si eta conto paling alus jang jadi bek!”

Anak-anak, termasuk saya, pasti banyak yang nimbrung mendengarkan obrolan-obrolan tentang Persib itu. Kami tidak mengenal jarak yang terbentang, bagi kami karena Persib bermarkas di Ibu Kota Jawa Barat, maka kami sebagai warga Jawa Barat adalah juga bagian darinya. Sesederhana itu. Tapi kecintaan yag lahir kemudian seringkali tak terbendung. Persib lalu menjadi semacam elan vital bagi para bobotoh yang telah dijodohkan oleh Tuhan dengan klub kebanggaannya. Ya, bukan kami yang memilih Persib, tapi Tuhan yang menakdirkan.

Silahkan tanya bobotoh, sejak kapan mereka mencintai Persib? Pasti mayoritas tidak ingat, sebab sejak lahir pun takdir menjadi bobotoh telah melekat. Ini adalah cinta yang mengalir di urat nadi. Sepakbola telah menjadi neo tribal yang mengakar. Dan saya hanyut dalam arus besarnya. Di titik ini, bobotoh tak akan pernah menghitung untung rugi dalam mendukung klubnya. 

***


Setelah pertarungan sengit di Piala Champion Asia, Persib pasang surut; baik secara prestasi maupun secara financial. Saya seringkali mengikuti beritanya dengan ngeri-ngeri sedap sekaligus ngilu. Yang paling menegangkan adalah waktu persib hampir terperosok ke jurang degradasi! 

Di tengah perjuangan Persib melepaskan diri dari ancaman degradasi, konon saat itu juga anak Mang Ayi Beutik lahir. Dan sebagai bentuk do’a, maka Mang Ayi menamai anaknya dengan sebuah nama yang sangat epic : Jayalah Persibku.

Inilah bentuk totalitas dukungan yang nyata dari seorang bobotoh kepada Persib. Barangkali orang-orang menyebutnya anomali, dan demi Persib Mang Ayi telah mempersetankan komentar miring orang-orang itu.

Akhir yang menyedihkan sebetulnya, bahwa Persib juara setelah 19 tahun penantian justeru ketika Mang Ayi telah tiada :(
Mang Ayi Persib Juara!!

***

Tanggal 8 November 2014, pagi-pagi sekira jam 6, saya sudah berada di depan Gedung Sate. Datang pagi hanya untuk merasa pedih melihat bus-bus yang dipakai rombongan bobotoh ke Palembang hancur. Rivalitas dan permusuhan telah memanen anak kandungnya sendiri. Dunia sepakbola memang keras, dan entah sampai kapan kebencian itu akan tetap subur.

Beberapa bobotoh terluka dan dengan sigap langsung ditolong anggota PMI. Ada juga yang tengah minum kopi dan merokok sambil berbincang-bincang ihwal pengalamannya berperang di tol TB. Simatupang. Katanya, dini hari tadi tol dalam kota tak ubahnya seperti sebuah medan laga yang menegangkan.

Satu jam kemudian saya pulang untuk persiapan siang hari; pesta rakyat!

***

Sebenarnya jadwal resmi arak-arakan tim Persib dimulai pada jam 14.00, tapi saya sedari jam 10.00 telah berada di dekat Gasibu dengan kamera digital di tangan. “Anterin ke Gasibu, takut keburu macet!,” adik saya males sebetulnya, tapi terpaksa juga nganterin kakaknya. 


Betul saja, sisi barat Gedung Sate sudah dipadati bobotoh yang menunggangi kendaraan roda dua. Motor tak bisa jalan, semua tertahan dalam lautan biru. Barangkali untuk mengusir suntuk karena macet, beberapa bobotoh membunyikan klakson dan meraung-raungkan motornya dengan tarikan gas yang memekakkan telinga. Ada juga suara petasan, mercon, dan flare.

Saya bergerak ke depan Gedung Sate yang juga telah dipadati bobotoh beragam umur; dari balita sampai aki-aki hadir di sana. Waktu terus berjalan, menjelang jam dua siang langit mulai kelabu dan mendung. Tak lama kemudian hujan pun turun. Karena tempat berteduh telah habis, maka saya putuskan untuk berlari ke arah jalan Banda. 

Berteduh sebentar sambil jajan cuanki, dan ngobrol dengan rombongan bobotoh Dayeuh Kolot. Kemudian meneruskan perjalanan menuju jalan Riau (Martadinata). Jalanan macet! Menjelang sore saya sampai di jalan Merdeka, tepat di depan BIP. Di sana suasanannya ramai juga. Orang-orang yang hendak atau telah selesai berbelanja ikut menonton bobotoh yang konvoi.   

Saya naik ke jembatan penyeberangan jalan Merdeka, dan menyaksikan konvoi bobotoh yang seolah tiada habisnya. Sepanjang mata memandang ke arah jalan Ir. H. Djuanda, warna biru menguasai. Sementara lagu “Halo-halo Bandung” terus berkumandang. [ ]

Cara Mencairkan Jamsostek

Setiap orang berperang dengan perkakas dan kemampuan yang dia miliki. Memang tak perlu khotbah, toh tukang cuanki pun sudah memahaminya, bahwa hari-hari ke depan dan yang telah berlalu tak lebih dari sebuah palagan. 

Demi apalah ini saya sampai menulis hal macam begini? Tapi kalau dipikir-pikir, barangkali hanya tulisan ini saja yang ada faedahnya bagi banyak orang jika dibanding dengan tulisan-tulisan saya yang lain, yang banyak mubazirnya itu. 

Mula-mula lebih baik mandi dulu, kemudian sarapan demi menghadapi antrian panjang yang membosankan. Berangkat pagi akan lebih baik. Bagi yang merokok cukup membawa satu bungkus saja, kalau-kalau nanti pas bosan menunggu mau membakar dulu cigarette. Kalau punya bawa juga airphone dan buku favorit. Buat apa? Mereka akan sangat bermanfaat kalau nanti sudah ada kantor BPJS.

Yang malu bertanya tidak disarankan datang, sebab ada beberapa hal yang saya yakin akan cukup membingungkan dan memerlukan pertolongan petugas yang bersangkutan. Tanya saja, toh mereka juga ramah-ramah, apalagi di Bandung yang orang-orangnya pada someah hade ka semah.

Dokumen-dokumen yang mesti dibawa ke kantor BPJS Ketenagakerjaan tak kurang dari ini :
1.  Kartu Jamsostek (Asli & Fotocopy)
2.  KTP (Asli & Fotocopy)
3.  Kartu Keluarga (Asli & Fotocopy)
4. Surat Keterangan dari kantor/Paklaring (Asli & Fotocopy)

Biasanya di kantor BPJS sudah ada prosedur bagaimana cara mencairkan/klaim jamsostek yang berbentuk visual yang jelas. Tapi kalau tetap tidak mengerti langsung tanya saja, toh kamu juga makhluk sosial kan?

Sebisa-bisa saya coba jelaskan alurnya di sini :

1. Mengisi form yang telah tersedia (di antaranya termasuk juga form dari Bank Mandiri yang  mesti diisi). Siapkan materai yang 6,000.- sebab ada satu form yang memerlukan itu.

2. Masukkan form yang telah diisi beserta dokumen-dokumen yang telah disebutkan sebelumnya ke dalam map yang juga telah disediakan, dan masukkan ke “dropbox” yang dekat petugas untuk dilakukan pemeriksaan/verifikasi kelengkapan dokumen.

3. Kalau dokumen sudah lengkap petugas pemeriksa dokumen langsung memberi nomor antrian untuk pelayanan di petugas klaim (antrian ini yang lama dan membosankan). Di sinilah fungsinya rokok dan alat-alat hiburan yang lain. Paham kan ya maksud saya?

4. Kalau antrian sudah tepat di nomor kita, petugas klaim akan tanya-tanya seperlunya dan akan memfoto kita lewat kamera yang ada di belakang layar komputer yang dia pakai. “Maaf kakak, saya mohon ijin untuk membidikkan kamera, boleh kah?” begitu kurang lebih greeting-nya kalau di Ambon.

5. Tibalah pada puncaknya (hiperbola sih ini kalimatnya); petugas klaim akan memberi tahu total saldo yang kita punya, dan kapan uang itu akan cair. Biasanya tak lebih dari 3 (tiga) hari setelah hari itu dana sudah dapat kita terima.  

Barangkali ada beberapa pertanyaan tambahan, seperti berikut? Langsung saya jawab saja :

1. Mencairkan Jamsostek bisa di mana saja. Misalnya alamat perusahaanmu yang terakhir di Jakarta dan alamat KTP di Majalengka, tapi klaim-nya di Bandung : saya bilang “bisa kakak!” (asal masa kerjanya tak kurang dari 5 tahun)

2. Lima tahun itu bisa diakumulasi (2 tahun di perusahaan A, dan 3 tahun di perusahaan B) asal make sure aja bahwa keduanya memang terdaptar sebagai anggota Jamsostek (ya iyalah kakak!)

3. Kalau pencairannya via bank (ada opsi lain sih, via Pos juga bisa) dan buku tabunganmu hilang, don’t worry, asalkan ATM-nya masih aktif ga masalah. Akan langsung ditransfer ke ATM dengan pemotongan biaya kliring antar bank bagi yang tabungannya non Mandiri (BCA misalnya. Tenang, kecil kok biayanya)   

Saya kira prosedur dan persyaratannya ga rumit atau nyebelin. Malah masih dalam batas kesabaran yang wajar. Disebabkan ini bukan tulisan berbayar, maka saya sudahi saja. Kiranya bermanfaat bagi saudara dan khalayak ramai yang memerlukannya. [ ]

Berumah di Kineruku

Dulu namanya Rumah Buku. Sekira tahun 2008 saya terdaftar sebagai anggota. Kemudian angin berhembus ke Jakarta, membawa saya ke negeri antah-berantah yang panas, keras, sekaligus berdebu. Rahmat kerja. Ya, rahmat semestinya menjadi semangat, bukan malah memperkosa waktu dengan rutinitas yang beku. Pada pertengahan musim kemarau saya ucapkan sayonara kepada semesta ibu kota. Bagaimana pun lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ada riwayat yang tercatat di sana; tentang cuaca yang rudin, festival film, pasar buku, dan jiwa-jiwa yang saya cintai. 

Pagi ini saya mendapati diri tengah duduk di sebuah meja kayu panjang di teras belakang Kineruku. Masih seperti dulu, udara sejuk menguasai Bandung. Pepohonan berdiri tegar dengan rimbunnya. Deretan buku, film, dan t-shirt band memenuhi ruangan. Ah, saya menghembuskan nafas dan menghirupnya kembali dalam-dalam. Bukankan suasana seperti ini yang saya cari?

Beberapa mahasiswa tengah membaca dan menulis. Mereka yang kampusnya di jalan Setiabudi itu ada sekira tiga orang, perempuan semuanya. Tak lama kemudian ada obrolan mencuat, tapi dalam bisik yang sangat sopan, seperti enggan mengganggu ribuah huruf yang bersemayam. Indah sekali.

Di sini, di sudut Kineruku ini seperti ada sesobek mozaik yang ditemukan. Tentang cinta yang dirawat dalam-dalam pada paragraph-pragaraf hidup yang memancar dari huruf-huruf. Orang-orang selalu bilang, “kau menulislah untuk menambah penghasilan.” Ingin rasanya saya bisikkan kepada kuping-kuping mereka, “kawan, ini adalah minat yang ditakar tanpa pamrih, bukan ambisi saya mengejar pundi-pundi, biarlah dia datang sendiri tanpa mesti dikejar.”

Barangkali saya dianggap naĂŻf, absurd, bahkan munafik. Tapi kejujuran adalah sewujud riasan menor yang tak perlu lagi ditambah kosmetik. 

Kini sudah hampir dzuhur, namun cuaca seperti masih jam tujuh pagi. Oksigen melimpah dari celah-celah hijau daun. Wedang jahe tinggal setengah, dan baru habis batang ke tiga. Kawan-kawan sudah bertelur, dan hidup terus berjalan. Dalam ritus yang pasang surut, ketulusan menjadi urat nadi yang berdenyut. Di sini, di Kineruku saya berumah, dan mencoba merawat apa-apa yang saya cintai. [ ]

11 November 2014

Yang Bergerak di antara Puncak, Jarak, dan Debur Ombak (Prolog)


“Kau ada nasi tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan.” Demikian yang diucapkan Pram waktu datang ke rumah Ajip Rosidi di tahun 50-an. Waktu itu Ajip mengontrak rumah di daerah Kramat Pulo, Jakarta Pusat. Dan pada suatu siang, waktu dia mengetik di ruang depan, terdengar pintu rumahnya diketuk. Waktu ia membuka, Pramoedya Ananta Toer muncul di balik pintu. Karena istri Ajip sedang pulang kampung, maka yang ada hanya nasi dingin tanpa lauk-pauk, lalu Pram makan nasi tersebut hanya dengan mentega.

Kalau ada kawan, yang saya berani berbicara kepadanya seperti Pram bertanya soal nasi kepada Ajip, maka orang itu adalah bung Bawal. Entah kenapa saya selalu tak pernah merasa sungkan untuk meminta tolong dan bantuan kepada dia, sampai pada soal mengisi isi perut sekali pun. Rasa-rasanya dia sudah saya anggap seperti saudara kandung sendiri.

***

Apabila waktu telah sempurna menggerogoti usia, dan ingatan mulai tercerabut dari kenangan masa muda, maka beberapa paragraf yang terbuhul dalam catatan ini barangkali bisa membantu, mungkin sekadar menepismu dari mengerutkan dahi atau menggaruk kepala demi mengingat suara yang ada di ujung ponsel, atau memastikan siapa orang yang berdiri di depanmu itu.

Kita telah selesai membicarakan kecemasan tentang masa depan, tepat sehari setelah buku Laskar Pelangi berada di genggaman. Di halaman 455 formula absurd mencuatkan kebenarannya. “Satu titik dalam relativitas waktu; saat inilah masa depan itu.” Maka apa-apa yang akan dinarasikan selanjutnya, lebih kepada jejalin cerita yang berarak di belakang. Waktu ibarat busur yang ditarik dan siap dilepaskan menembus parade milisekon kejadian yang tidak bisa diulang dalam presisi yang mengagumkan.

Seorang esais di tweetland pernah menghimpun sejumlah catatan ke dalam buku yang dijadikannya sebagai cinderamata di hari pernikahannya. Judulnya tak kurang dari : Traffic Blues; Saat Hujan Menderas dan Jalanan Mulai Tergenang. Dalam segugus keyakinan, saya percaya bahwa tak ada yang lebih puitic melebihi huruf yang hidup. Saya tak sepenuhnya dibesarkan oleh angka-angka, bahkan saya telah memproklamasikan diri di penghujung masa sekolah, bahwa eksakta bukan jalan yang akan saya lalui. 

Prolog ini dimaksudkan sebagai apologi, atau mungkin basa-basi, bahwa saya tidak bisa hadir langsung di hari pernikahanmu; di hari perjanjian yang kuat itu.

Setelah ini pun saya tetap minta maaf, bahwa paragraph selanjutnya adalah parade kata tentang jenak-jenak waktu yang telah banyak mengabarkan peristiwa. Demikian.
Kalau ada rokok di tangan, boleh kita sebatang lagi.

***

Saya bukan sejenis kawan yang pandai menulis surat dengan diksi yang syahdu penuh penghormatan layaknya Hamka dalam roman Di Bawah Lindungan Ka’bah. Begini beliau menulis :

“Sudah saya terima surat Sahabat yang terkirim bulan yang lalu. Mula-mula saya sangat bersedih hati, sebab semenjak kita bercerai-cerai di Jedah, tak pernah saya menerima surat dari engkau lagi. Tetapi setelah surat itu saya terima dan saya baca, hilanglah kesedihan dan kedukaan hati dan merawankan pikiran, yang kerap kali benar kejadian dalam kalangan pemuda-pemuda kita.”    

Tidak. Surat semacam itu hanya dihasilkan oleh seorang ulama cum sastrawan yang kenyang pengalaman di palagannya.  Saya hanya datang dalam compang-camping bahasa, belajar pun baru sehari-dua, tak punya keunggulan di wilayah itu. Tapi jika saya tak silap, bung tentu masih ingat, siapa yang bermain gitar di lorong kosan pak Rauf itu? Malam-malam pula.

Dengan wajah memprihatinkan, seorang pemuda berani-beraninya memainkan beberapa lagu dalam takaran fals yang menjengkelkan, ah tentu saja : itulah bung sendiri!.

Ciwaruga tidak pernah sama lagi setelah itu. Sebab ada yang menghabiskan kacang dalam kondisi sakit gigi menahun, atau kasur busa yang dibuang setelah ada yang muntah dan tumbang di atasnya. Ikan asin memang menyebalkan, dibuatnya seisi perut keluar lagi dengan syahdu, lalu tertawa kekuda-kudaan. Sementara seorang kawan yang kelebihan berat badan doyan sekali nitip membeli makan, dan tak lupa ada seorang pemuda gondrong tanggung yang keranjingan mendengarkan lagu Utopia; Sampai Habis Waktu.

Mula-mula, layaknya layangan yang diproyeksikan angin, kau sewujud anak muda yang gemar menaklukkan puncak-puncak gunung. Tak kurang dari Semeru, Slamet, Sindoro, Sumbing, sampai Rinjani pernah kau daki. Jangan tanya saya ihwal Manglayang, bukankah puncak tak terlalu tinggi itu sudah menjadi rumah kedua bagi kawan-kawan bersyal merah? Ah, maafkan saya yang terlampau payah waktu kita bertiga dengan seorang kawan kosan Sarijadi mencoba menyapa Manglayang.

Dalam kondisi kaki yang sakit, saya bahkan tak sempat ingat sesobek puisi Idhan Lubis yang terkenal itu. Selera melankolik menguap entah ke mana. Padahal dengan posisi saya yang baru saja terjungkal dari medan laga pekerjaan, dan kau masih berjuang dengan beban akademik yang menekan, barangkali cocok juga kalau mengutip puisi itu. Tak lebih begini bunyinya :

Turuti kelok-kelok jalan
Atau tinggalkan kota penuh merah flamboyan

Kini puncak-puncak yang pernah kau taklukkan tengah merindukan anak kandungnya sendiri: seorang pecinta alam yang tak pernah mendandani diri dengan basa-basi. Perjalanan adalah obat mujarab bagi jiwa yang sibuk meladeni rutinitas. Ayahmu bilang, “pergilah jalan-jalan, lepaskan kejenuhanmu itu.” [irf]