Showing posts with label Hindia Belanda. Show all posts
Showing posts with label Hindia Belanda. Show all posts

23 September 2015

Iksaka Banu dan Hitam Putih Abu-abu Cerita Kolonialisme

Penulis cerita fiksi, di Indonesia, baik dalam bentuk novel atau pun cerita pendek, relatif masih sedikit yang menggarap tentang masa yang jauh ke belakang, masa ketika negara ini masih bernama Hindia Belanda. Yang paling fenomenal dari yang sedikit itu tentu adalah Tetralogi Buku. Sebuah magnum opus dari Pramoedya Ananta Toer itu dengan gemilang mendokumentasikan masa persalinan bangsa di titik yang paling menentukan.
Tahun 2014 terbit kumpulan cerita pendek dengan judul “Semua untuk Hindia” karya Iksana Banu, yang tema dan ide ceritanya mayoritas digali dari masa kolonialisme. Yang menarik dari kumpulan cerita ini adalah mata kisah ditulis dari pandangan orang-orang yang “bukan pribumi”. Jika selama ini narasi sejarah, baik yang berupa teks resmi maupun dalam bentuk fiksi, kerap ditulis dari sudut pandang pribumi dengan pengkutuban antara “kita” dengan gelagak nasionalisme dengan “mereka” sebagai si penjajah, maka Iksana Banu betutur dari sudut sebaliknya.
Cerita seperti ini memang bukan yang pertama kali, sebab—sekadar menyebut contoh, Y. B. Mangunwijaya pun pernah melakukannya dalam novel “Burung-burung Manyar”. Yang paling masyhur, tentu saja, seri terakhir katrologi Pulau Buru karya Pramoedya, "Rumah Kaca", yang memotret kisah pembenihan nasionalisme Indonesia dari sudut pandang pegawai kolonial, Pangemanann.
Dalam “Semua Untuk Hindia” yang menghimpun 13 cerita pendek, Iksana Banu mencoba menghamparkan kisah-kisah, yang meskipun berkait erat dengan sejarah, namun ia tidak menyajikannya dengan semangat “hitam-putih” antara si benar dan si salah. Abu-abu, atau katakanlah perspektif yang lebih kompleks, dalam memandang kolonialisme memang bukan hal dominan dalam cerita-cerita yang mengambil setting Hindia Belanda.
Dalam cerita “Semua untuk Hindia” (yang dijadikan judul buku), dikisahkan bagaimana seorang wartawan Belanda yang bersahabat dengan gadis kecil Puri Kesiman, dengan mata kepalanya sendiri melihat dahsyatnya Perang Puputan.
“Nyaris aku terkulai menyaksikan pemandangan ngeri di mukaku; puluhan pria, wanita, anak-anak, bahkan bayi dalam gendongan ibunya, dengan pakaian termewah yang pernah kulihat, terus merengsek ke arah Batalion 11 yang dengan gugup menembakkan Mauser mereka sesuai aba-aba komandan batalion. Rombongan indah ini tampaknya memang menghendaki kematian. Setiap kali satu deret manusia tumbang tersapu peluru, segera terbentuk lapisna lain di belakang mereka, meneruskan maju menyambut maut.”
Situasi yang melatari cerita itu jelas bukan narasi “hitam-putih”. Seorang wartawan Belanda, yang mempunyai ikatan persahabatan dengan gadis pribumi, merasakan kengerian ketika gadis tersebut akhirnya tewas, atau lebih tepatnya menewaskan diri, dalam sebuah pertempuran yang juga melantakkan kerabat si gadis, yang justru dilumatkan oleh bangsa di mana si wartawan tersebut berasal.
Ada semburat rasa kemanusiaan yang tak bisa ditawar di sana. Bagaimana pun menimbang dan memilih antara sahabat dan negara bukanlah sesuatu yang mudah. Di luar tragedi peperangan yang berkecamuk, Iksana Banu hendak menyorongkan “tragadi lain” yang barangkali sering dilupakan, yaitu kecamuk dalam diri manusia secara personal.
Manusia dalam konteks sejarah kolonialisme mempunyai sisi yang luas. Ia tak melulu dikalkulasi dalam polarisasi yang banal. Tekanan psikologis, kemesraan kemanusiaan, dan tarik ulur identitas dalam pemihakan, --meskipun sering tersapu narasi besar pencatatan sejarah, adalah juga yang hadir secara nyata dalam diri manusia.
Dalam cerita lain yang berjudul “Penunjuk Jalan”, dikisahkan bagaimana seorang dokter tentara Belanda tersesat bersama kawannya yang terluka di sebuah hutan. Di sana mereka bertemu dengan sosok Untung Surapati yang memperkenalkan dirinya sebagai “Pangeran Kebatinan”. Dialog pun terjadi. Dari pembicaraan tersebut terungkap tentang niat Belanda yang hendak membangun suasana negeri asalnya di daerah tropis, namun justru berdampak buruk terhadap sanitasi kota.
"Kota itu (Batavia) menjelma menjadi kota terkutuk. Sungai Ciliwung dicabik menjadi puluhan kanal sehingga arusnya melemah. Lumpur mengendap di sana-sini, menciptakan dinding-dinding parit yang becek. Kalau sedang pasang, seisi laut menerjang kota. Saat surut, bangkai ikan serta kotoran manusia terperangkap di selokan dan parit-parit tadi. Menebarkan udara tidak sehat. Pembesar Batavia mungkin orang-orang romantis yang rindu kampung halaman. Bermimpi memindahkan Negeri Belanda ke sini. Padahal iklim dan tanahnya sangat berbeda. Kanal yang semula digali untuk pengairan dan lalu lintas justru mempercepat penyebaran penyakit ke seluruh kota."
Di sini lagi-lagi terlihat, bahwa kaum kolonial bukanlah sebuah kumpulan manusia dengan isi kepala yang seragam. Ia sebagaimana entitas lain, mempunyai keragaman yang kompleks di berbagai lini, termasuk pemikiran. Namun di luar wacana pemaknaan ulang terhadap teks yang berkisah di masa kolonialisme, kemampuan Iksana Banu dalam menujudkan manusia di periode sejarah tersebut memang patut diapresiasi sebagai sebuah talenta tersendiri.
Mewakili penulis dari sudut penceritaan yang relatif jarang ditempuh oleh penulis lain, pilihan latar waktu, dan kepiawaian dalam meramu keduanya—meskipun baru buku ini saja yang ia lahirkan, barangkali alasan yang membuat karya Iksana Banu hendak dipamerkan di Frankfurt.
Dalam sejarah panjang umat manusia yang penuh oleh luka penindasan dan peperangan, narasi seperti ini memang perlu “dikunjungi” lagi. Bukan untuk menegaskan dendam, tapi sebuah ikhtiar dalam menyemai bibit rekonsiliasi, yang pada akhirnya—bermuara di waktu entah, garis batas seluruh warga dunia itu akan runtuh dan luluh, tak menyisakan apa pun, selain kemanusiaan. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

24 May 2013

Arsip dan Buku Nikah Kang Sastro

Dia tiba sekira jam setengah delapan malam. Dan mula-mula yang ditanyakan Kang Sastro waktu dia datang ke Bandung bukanlah kantong literasi, tapi tempat ngopi yang enak. Saya teringat sebuah tempat di sekitar Dipati Ukur, tempat anak-anak muda betah berlama-lama nongkrong sambil berbicara banyak yang isinya entah tentang apa, tapi saya tak bawa dia ke sana. Saya hanya pergi ke warung sebelah kontrakan dan membeli empat sachet kopi hitam serta dua bungkus rokok. Dia setuju saja saya bawa duduk di balkon, “ini saya kira tempat yang bagus buat ngobrol.” Kang Sastro melihat ke langit, mencari bulan, dia dapati hanya sepotong. “Bung tak sekalian beli kue?,” rupanya dia kasihan melihat dua gelas kopi tanpa berkawan dengan yang bisa mengganjal perut dari serbuan angin malam. Saya balik tanya, “Loh, saya kira Kang Sastro bawa bakpia?.” Dia keluarkan tiga lembar sepuluh ribuan, “lupa, Bung belilah dulu martabak keju di bawah, biar saya menunggu di sini.” Siwalan. Tapi apa boleh bikin, tamu harus dimuliakan, meskipun hanya dengan menuruti kemauannya. Setengah jam berselang saya sudah duduk lagi di sebelahnya.

Dia ini kawan lama, hanya baru sekarang bisa bertemu langsung, selebihnya adalah diskusi di jejaring sosial yang sudah almarhum; Multiply. Dia guru saya yang kedua setelah Muhidin, dan sekali ini dunia boleh dibilang sempit, nyatanya Kang Sastro ini adalah kawannya Muhidin di industri rumahan perbukuan Yogyakarta. Tulisannya melimpah, meskipun belum sebiji buku pun dia punya. Bukan tak mau dan tak mampu untuk menerbitkan buku, tapi dia ingin batu tapal itu dimulai dari pernikahannya.

Begini sekuplet alasannya, “Aing mau bikin buku buat souvenir pernikahan. Bung tahu, gantungan kunci, gelas, patung kecil, kipas absurd, dan semua souvenir mainstream itu tidak terlalu mampu memprovokasi kenangan. Lagi pula alangkah tidak bersopan-santun jika aing tidak bikin buku di hari perbatasan itu.” Dan alasan dia datang ke Bandung adalah meminta saya untuk berduet dalam proyek tersebut. “Kang Sastro ini absurd betul, buat apa saya dibawa-bawa segala dalam proyek ini, saya kira ini bukan ide bagus, tulisan saya hanya akan mengurangi estetika buku saja.” Martabak keju masih menyumpal mulutnya sehingga dia belum bisa menjawab. Lalu sisa manis yang menggigit di kerongkongan didorongnya dengan kopi. Segera membakar rokok dan menghembuskan asapnya ke udara Bandung utara yang selalu dingin. Lalu sederhana pula jawabannya, “sebaik-baik orang adalah yang memberi pekerjaan kepada pengangguran.”

Memang sudah sebulan ini saya tuna pekerjaan. Semenjak ladang mencangkul semakin meresahkan hati, pada akhirnya saya tinggalkan Pulogadung dan bermukim di Bandung, di kota yang kata Pidi : “Inilah Bandung, Tuan. Bagi aku, Bandung bukan cuma masalah geografis, tetapi juga menyangkut perasaan.” Kerja sehari-hari hanya mengkronik dan membaca buku, lalu sekali-kali ikut nonton tv di kamar tetangga jika Persib main. Rupanya alasan ini yang membuat Kang Sastro berbaik hati mengajak saya terlibat dalam proyek personalnya.

Sejujurnya saya merasa tidak enak hati, siapalah saya ini jika dibandingkan dengan dia yang tiap hari bergelut dan berdarah-darah dalam dunia perbukuan, tulisannya pun jauh di atas saya; kualitas sekaligus kuantitas. Ini adalah semacam ajakan guru kepada muridnya dalam proyek di simpang hidup sang guru yang sangat menentukan. Saya pun kesulitan menakar, apakah ini rendah hati atau minder. Tapi Kang Sastro kukuh. Dia bilang, “bantuan aing Bung, jangan banyak pertimbangan.” Tentu ini juga sekaligus sebuah kehormatan bagi saya bisa membantu guru kedua ini. Dia melanjutkan, “boleh cerpen atau esai, asal jangan kumpulan kicauan di twitter.”

Dia minta saya menulis limabelas tulisan dengan judul yang berbeda. Dan dia sendiri, juga akan menulis limabelas tulisan, jika digabungkan jumlahnya akan menunjukkan usia dia waktu nanti merebut anak perempuan orang dari tangan bapaknya. Temanya apa kira-kira?, bebas dia bilang. “Sejauh tidak membawa-bawa resonansi Eyang Subur dan orang-orang yang menjadi objek indutri tv, kau tulislah semaumu.” Kalau sepakbola?, “bolehlah itu, selain karena aing juga bobotoh, sepakbola adalah passion saya sejak kecil.” Lalu pembicaraan perlahan bergulir menjauh dari proyek personal tersebut.

Kampung halaman Kang Sastro akhir-akhir ini dilanda musibah. Pergeseran tanah menggoyang Majalengka. Rumah dia aman. Tapi do’a mah kerap saya panjatkan, katanya. Selepas kuliah dia mengabdikan hidupnya di dunia perbukuan. Kerap menyunting atau juga kerja-kerja lainnya yang masih berkaitan. Di blog, tulisan-tulisannya kerap dibedaki paragraf-paragraf puisi, tapi dia menolak disebut penyair. “Aing mah masih belajar,” katanya sambil menyulut rokok entah batang yang ke berapa, saya tidak menghitungnya.

Sebanyak apapun pembicaraan yang kami hamburkan, tapi dia tak hendak membahas perempuannya. Ihwal ini saya tanyakan karena untuk keperluan bahan sumber tulisan yang akan saya buat. Setidaknya dengan begitu saya bisa mengambil latar, atau karakter yang bisa mendekati. “Tentu saya percaya, Bung ini bukan antek-antek Ilham Bintang yang doyan membikin polusi privasi rumahtangga orang,” perkataannya ini pahit betul, tapi juga sekaligus mengundang senyum. Hanya satu informasi yang mau dia katakan : perempuannya buruh di pabrik tekstil.

Kang Sastro memang tidak membawa bakpia, tapi dia tak lupa membawa titipan saya; beberapa eksemplar harian Kedaulatan Rakyat, koran nomor wahid di Yogyakarta. Edisinya berlain-lainan. Saya ingin tahu bagaimana redaktur harian itu menulis dan memilih warta. Ada juga beberapa artikel yang hendak saya kronik, lumayan menambah sumber yang sejauh ini didominasi oleh Kompas dan Pikiran Rakyat. Ihwal minat ini, seperti juga kepada buku, diprovokasi oleh Muhidin yang bergiat di @radiobuku dan @warungarsip. Tentu, Kang Sastro juga paham belaka dengan kegiatan ini, sebab sudah saya bilang, dia adalah kawannya Muhidin.

Apa yang dilakukan Muhidin dan kawan-kawannya di Yogya, tentu lebih besar, lebih gigantik dari apa yang saya mulai kerjakan. Mereka mengkronik bahkan dari sumber sekelas Medan Priyayi, koran yang terbit di tahun 1800-an, yang dimotori oleh Tirto Adi Suryo, seorang tokoh pribumi yang menggulirkan arus pergerakan mula-mula dalam menggugat kolonialisme. Tokoh yang kemudian dicangkok Pram ke dalam diri Minke dalam Tetralogi Buru yang kesohor itu. Bahkan mereka pun pernah melacak jejak pers nasional dalam tajuk Seabad Pers Kebangsaan yang melibatkan @zenrs, seorang esais muda yang tulisan-tulisannya kuat, lincah, dan lihai dalam beradu argumen, seorang pemilik akun twitter yang kicauannya akhir-akhir ini kerap saya baca.

“Siapa?, Zen?, Zen Rahmat Sugito, bukan?,” dan saya mengiyakan. “Hahaha…., dia mah atuh kawan aing waktu kuliah.” Duhai, sesempit inikah dunia?. Asap rerak berhamburan dari rokok yang kami bakar. Lalu pembicaraan mengenai arsip bergulir dengan dibumbui martabak keju yang masih tersisa.

Dia bilang bahwa di film Everything is illuminated yang bersetting kota perdikan Ukraina, Lutsk, ada satu dialog pendek yang memerikan tentang pentingnya arsip. Dialog itu antara Jonathan Foer, seorang arsiparis sejarah keluarga berusia belia dengan Alex seorang pemandu wisata.

Alex :  “Kenapa kamu mengoleksi benda-benda itu?”
Jonathan : “Karena aku takut, aku akan lupa.”

Dalam rangka menjaga semangat dalam mengkronik, tak lupa saya membaca juga beberapa artikel Muhidin tentang arsip yang dimuat di beberapa harian nasional. Di Jawa Pos edisi Jumat, 29 Juni 2012, Muhidin menulis tentang bobroknya kesadaran arsip para pemangku olahraga terutama sepakbola. Jika sastra punya Pusat Dokumentasi Sastra HB. Jassin, sementara film punya Pusat Dokumentasi dan Informasi Perfilman (Sinematek), serta dunia senirupa kontemporer punya Indonesia Visual Art Archieve (IVAA), dunia sepakbola kita malah teledor dan mampus seperti prestasinya. Ya, dunia sepakbola nasional tak mempunyai Pusat Dokumentasi Sepakbola Indonesia yang berwibawa. Maka tak heran jika sejarawan Freek Colombijn berujar, sepakbola Indonesia itu memang anomali lantaran negeri ini punya 250 juta penduduk yang nyaris semuanya penggila bola, tapi segelintir kecil saja ilmuwan sosial yang menulisnya.

Sementara di Jawa Pos edisi 6 Mei 2012, Muhidin menulis tentang arsip personal yang dikerjakan dengan gayeng dan penuh minat pada akhirnya akan menjadi arsip nasional, seperti yang dilakukan oleh DR. Melani W Setiawan yang pada bulan April 2012 bertempat di Galeri Nasional Jakarta secara resmi mengumumkan kepada publik senirupa arsip personalnya yang berjumlah besar dalam rentang waktu 4 dekade.

Kang Sastro diam saja sambil takzim menghisap rokok waktu saya ceritakan mengenai artikel-artikel tersebut. Mungkin dalam benaknya menggema, “Kau baru membaca tulisan si Muhidin itu?, aing sudah lebih dulu khatam!.”

Saya sambung lagi. Di Koran Tempo edisi 20 April 2012, lagi-lagi Muhidin menulis, sekali ini dengan aroma yang penuh geram. Dalam tulisannya yang berjudul Pengarsipan Total dia menulis, “Kegairahan itu bisa menjadi gerakan nasional yang utuh dan sistemik, seperti yang terjadi di Kanada, jika negara memiliki visi besar : Arsip Total. Pengertian ‘Arsip Total’ di sini adalah ikhtiar nasional menyatukan seluruh kerja kearsipan dari semua lini kebangsaan; mulai dari pemerintah, swasta, hingga ke ranah individu-individu. Ini butuh dana besar tentu saja. Mengharapkan hari-hari ini pemerintah mengeluarkan dana tanpa batas untuk proyek ‘politik arsip’ juga imaji keterlaluan. Tapi dengan ‘cinta-buta’ yang keras kepala ini kita tak bosan-bosan ingatkan pemangku negara soal pentingnya ‘politik arsip’ dengan meminjam kutipan penulis seni Chistine Cocca (2012 : 12) ihwal kebijakan arsip Hindia Belanda yang menjajah kita selama ‘350’ tahun.”

Di ujung tulisannya dia menegaskan, “Ketika pemerintah mengeluarkan dana triliunan untuk sensus penduduk, mengapa tak berpikir efisien dan jangka panjang menggaet komunitas semacam Combine Resources Yogya dan ‘siswa-siswa’ Ono W. Purbo yang pintar-pintar untuk melatih karangtaruna membuat arsip desa berbasis digital. Arsip desa itu tak hanya berguna untuk sensus, tapi untuk segala hal yang terkait dengan usaha ‘penyejahteraan’ warga. Dan yang pasti, data yang dikelola oleh warga sendiri lebih akurat ketimbang data yang dibikin pemerintah pusat lewat ‘relawan-relawan’ musiman bayarannya.”

“Gak sia-sia atuh aing bawa Kedaulatan Rakyat, ya?”. Tak saya jawab. Kini asap rokok saya yang berhamburan. Bandung telah membuat kopi menjadi dingin dan tetap enak sampai tegukan terakhir. Di bawah bunyi-bunyian tukang nasi goreng, tukang sate, dan peluit bambu tukang kue putu sudah lenyap. Itu tandanya malam semakin bergegas mendekati dinihari. Kang Sastro kini yang berbicara. Dengan semangat yang bergelumbang-gelumbang dia bercerita tentang ‘pertempuran’ di sosial media. Sekali waktu dia pernah diserang di facebook. Sang raider mengusik eksistensi kedirian wilayah ladang penghidupannya. Secara tidak langsung Kang Sastro dan kolega-koleganya yang bergelut di industri perbukuan disebut tengah menggali kubur sendiri. Divonis sedang khidmat berharakiri. Maka dengan emosi yang menjompak Kang Sastro melakukan agitasi personal. Sebuah tulisan gahar dia rilis, dia muntah di kanal kata-kata.   
     
Tiba-tiba Einstein datang. Berbicara tentang waktu. Lalu pergi. Ya, ketika Kang Sastro menghabiskan martabak keju potong terkahir, di tempat lain mungkin tukang mie rebus sedang memotong-motong cabe rawit untuk ditaburkan di menu si pemesan. Atau mungkin ada juga sepasang kekasih LDR yang tengah menghabiskan pulsa dan bercinta di luar angkasa. Waktu tidak pernah mengerjakan dua hal berbeda pada orang yang sama secara berbarengan. Dia sangat tertib merawat riwayat yang bergulir dari makhluk yang denyut nadinya belum berakhir.    

 Ah, dan ini Mei, Kang Sastro juga bersemangat membicarakan peristiwa 1998, meskipun di tahun itu dia dan saya masih sama-sama duduk di bangku SMA tahun permulaan, dia lebih tua tiga bulan dari saya. Malam terus beranjak, dan waktu seperti tunduk kepada teori Einstein. Martabak keju dan kopi sudah tandas, meskipun rokok masih tersisa beberapa batang. Mei juga seperti sengaja membuat saya teringat kembali kepada Thukul, penyair kerempeng asal Solo yang hilang di pusaran kerusuhan. Sebuah puisinya lalu saya niatkan untuk menjadi kata pembuka di buku pernikahan Kang Sastro :

"Anjing nyalak
Lampuku padam
Aku nelentang
sendirian

Kepala di bantal
Pikiran menerawang
Membayang pernikahan
(pacarku buruh harganya tak
lebih dua ratus rupiah per jam)

Kukibaskan pikiran tadi dalam
gelap makin pekat
Aku ini penyair miskin
Tapi kekasihku cinta
Cinta menuntun kami ke masa
depan…."

Mata Kang Sastro sudah redup. Payah. Katanya kerani perbukuan, tapi malampun belum pula dijemput subuh, ngantuk sudah menawannya. “Aing kan baru datang dari Yogya, lelah Bung.” Alasan saja. Lalu dia pamit hendak menyempurnakannya di kasur. Meninggalkan saya yang masih duduk di balkon. Langit masih sama seperti tadi. Hanya menayangkan sepotong bulan. [ ]

uwa, mei '13