09 July 2021

10 Lagu Gigi untuk Masa Pandemi

Aria Baron meninggal dunia di pengujung Juni 2021. Mantan gitaris sekaligus manajer Gigi itu menjadi salah satu dari jutaan umat manusia yang menjadi korban pandemi Covid-19. Kabar kematian itu mengingatkan kembali kepada karya-karya Gigi yang telah eksis selama 27 tahun.

Saya tak banyak membeli kaset Gigi, hanya album The Best of Gigi (2002), Raihlah Kemenangan (2004), dan Ost. Brownies (2005): semuanya menemani pada periode kuliah di Ciwaruga. Meski demikian, sejak SMA saya telah mendengar lagu-lagu Gigi.

Belakangan, saya mendengarkan kembali lagu-lagu Gigi. Hari-hari panjang di masa pandemi, membuat orang sempat menengok kembali apa-apa yang pernah menemaninya. Untuk hari-hari seperti itulah saya memilih 10 lagu Gigi yang kiranya cocok didengarkan di kamar dengan jendela lebar, cahaya bagus, pohon mangga mulai berbunga, dan kucing berjemur di jalan beraspal.

Rebahlah, dan atur volumenya sesuai selera:

 

1. Tanpamu Sepi

Lagu ini diambil dari album Baik (1999), tapi sempat diaransemen ulang dalam album Ost. Brownies (2005), dan saya lebih suka yang versi terakhir. Petikan gitar Budjana begitu jernih.



2. 11 Januari

Meski liriknya terbilang biasa saja dan cenderung klise, tapi lagu ini tetap manis. Oh ya, lagu ini diambil dari album Peace, Love & Respect (2007).



3. Kuingin

Diambil dari album perdana, Angan (1994), konon lagu ini salah satu karya yang tercipta ketika para personel Gigi formasi awal mulai kumpul dan bikin lagu.



4. Janji

Menjadi nomor pertama dalam album Dunia (1995), jelas menerangkan bahwa lagu ini menjadi andalan. Salah satu lagu Gigi yang ikonis.



5. Selamat Datang Asmara

Lagi-lagi diaransemen ulang pada album Ost. Brownies (2004). Mulanya masuk dalam album Untuk Semua Umur (2001). Cocok didengarkan oleh mereka yang tengah jatuh cinta, baik untuk yang pertama kali maupun yang sudah berkali-kali. Percayalah, jatuh cinta itu indah.


6. Terbang

Setelah album 2x2 (1997) gagal di pasaran, lagu ini berhasil mendongkrak album berikutnya: Kilas Balik (1998). Kesuksesan Gigi setelah ditinggal Thomas Ramdhan yang kecanduan narkoba dan Ronald Fristianto yang konon kehilangan partner in crime-nya, yaitu Thomas.



7. Damainya Cinta

Nomor dua setelah lagu “Oo..Oo..Oo” di album 3/4 (1996). Cukup romantis.



8. Cinta Terakhir

Tentu saja dari album Ost. Brownies (2005). Mengiringi adu peran antara Bucek Depp dan Marcella Zalianty. Sebuah cerita sederhana dari sutradara Hanung Bramantyo.  


 

9. Andai

Lagu baru yang muncul pada album The Best of Gigi (2002). Lagu pop biasa tentang perselingkuhan dan penyesalan.



10. Yang T’lah Berlalu (Nirwana)

Lagu Gigi yang paling ikonis. Diambil dari album Dunia (1995). Jika seluruh lagu Gigi diperas atau harus memilih satu saja, maka lagu ini layak menjadi pilihan. 


08 July 2021

Ada Sejarah Memilukan di Balik Keindahan Lembah Anai

 Kerja paksa, bencana Alam, pertempuran, dan kecelakaan kereta api menjadi bagian dari riwayat panjang Lembah Anai.

Hampir dua pekan ke belakang, hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah di Sumatra Barat menyebabkan beberapa kerusakan dan banjir. Pada Selasa (11/12/2018) sebuah jembatan di ruas Jalan Lintas Sumatra yang menghubungkan Padang-Bukittinggi ambruk, tepatnya di daerah Kayutanam, Kabupaten Padangpariaman.

Sementara air terjun Lembah Anai yang berada di pinggir ruas jalan tersebut meluap dan membanjiri badan jalan sehingga menghambat laju kendaraan. Sejumlah pengendara motor bahkan hampir hanyut terseret derasnya arus air.

Sebuah video memperlihatkan kejadian tersebut. Air terjun yang biasanya terlihat cantik berubah jadi 
mengerikan. Debit air yang bertambah memenuhi Sungai Batang Suluh yang berhulu di Gunung Singgalang menjadikan air terjun itu mengamuk.

Air terjun Lembah Anai, yang biasanya menjadi salah satu tujuan wisata di Sumatra Barat, terletak di wilayah Nagari Singgalang, Kecamatan Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar. Kira-kira 60 kilometer dari Kota Padang. Pada musim hujan, air terjun ini memang mesti diwaspadai karena letaknya yang sangat dekat dengan ruas Jalan Lintas Sumatra.

Sejak dulu, Cagar Alam Lembah Anai yang ditetapkan pemerintah kolonial lewat surat keputusan No. 25 Stbl No. 756 tanggal 18 Desember 1922 ini menjadi kawasan favorit pelancong yang hendak menikmati keindahan alam pergunungan. Air terjun Lembah Anai hanyalah salah satu dari tujuh air terjun yang ada di kawasan tersebut.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka, ulama cum sastrawan terpandang asal Sumatra Barat, sempat menjadikan kawasan ini sebagai salah satu latar dalam novel Di Bawah Lindungan Kabah (1938) yang diterbitkan Balai Pustaka.

Dalam cerita yang menyedihkan itu, saat Hamid (tokoh utama) belajar di Padang Panjang, ia sempat bermain ke kawasan ini. Namun keindahan alam hanya merawankan hatinya. Ia teringat kepada Zainab, perempuan yang dicintainya.

“Jika dengan teman-teman sama sekolah saya pergi melihat keindahan air terjun di Batang Anai atau mendaki Bukit Tuai, atau Gua Batu Sungai Anduk, bila masa saya melihat keindahan ciptaan alam itu, saya ingat alangkah senang hati Zainab jika ia turut melihat pula,” tulisnya.

Namun, kawasan ini sejatinya tak hanya berupa narasi keindahan. Dalam lintasan sejarah kolonial, kawasan ini juga menghamparkan sejumlah kisah memilukan.


Dari Kerja Paksa hingga Basis Perlawanan

Saat membangun Jalan Lintas Sumatra yang menghubungkan Padang dan Padang Panjang melalui Lembah Anai, menurut Elizabeth E. Graves dalam Asal-usul Elite Minangkabau Modern: Respons terhadap Kolonial Belanda Abad XIX/XX (2007), masyarakat dikenai kerja paksa dan para pekerja kerap harus menempuh waktu berhari-hari menuju proyek pembangunan jalan tersebut.

“[Jalan tersebut] menghubungkan Padang dengan dataran tinggi di Padangpanjang, melalui Lembah Anai, sebuah jalan sempit melewati aliran Batang Anai. Jalan tersebut akan memungkinkan transportasi barang-barang dalam jumlah yang besar dan membantu menghemat ongkos pemerintah dalam bersaing dengan pedagang pribumi,” tulis Graves.

Panjang proyek jalan Anai sekitar 10 mil atau sekitar 17 kilometer. Di banyak tempat, para pekerja harus menyingkirkan batu-batu besar yang menghalangi arah jalan. Para pekerja memang dikerahkan dari sejumlah daerah di sekitar kawasan itu, sebab penduduk setempat jumlahnya tak seberapa. Pada masa itu tidak ada lahan yang cocok untuk pertanian sehingga tak ada kampung atau nagari.

Belanda mengeluarkan perintah yang mewajibkan semua penduduk untuk ikut kerja paksa, kecuali perempuan, orang jompo, dan pemuka agama. Kepala Nagari dan Angku Lareh (pemimpin wilayah dalam era tanam paksa), bekerja melalui penghulu suku mengurus tenaga kerja ini. Setiap orang membawa makanannya sendiri-sendiri. Mereka juga harus menyiapkan sendiri peralatan kerja dan transportasi menuju tempat kerja.

Seperti peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, sejak dulu jalan di kawasan ini sering mengalami masalah karena hujan besar menyebabkan tanah longsor yang menutupi badan jalan. Untuk menutupi biaya ini, Belanda mengeluarkan peraturan kepada para pengguna jalan untuk membayar retribusi sebesar f6 setiap tahun yang dikenal sebagai kloofgelden (uang lewat).

Selain proyek jalan raya, kawasan ini juga dilintasi jaringan transportasi kereta api. Dan pembangunannya lagi-lagi sangat bergantung kepada para pekerja yang berada di nagari yang berada di dataran tinggi. Pada masa kekuasaan Jepang, terjadi kecelakaan kereta api di Lembah Anai yang banyak memakan korban.

Sementara di masa Revolusi, tepatnya saat Agresi Militer Belanda II, kawasan ini menjadi basis perlawanan para pejuang Republik untuk menghambat laju pasukan Belanda yang hendak menuju Padang Panjang dan Bukitinggi.

“19 Desember 1948, mereka mengepung garis pertahanan utama Indonesia di Lembah Anai, yang terletak antara Kayutanam dan Padangpanjang […] Tetapi, mereka menemukan perlawanan sengit, karena pasukan utama Republik dipusatkan di bukit-bukit di atas celah Anai yang terjal dan sempit,” tulis Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi: Sumatra Barat dan Politik Indonesia 1926-1998 (2005).

Para pejuang Republik juga menghancurkan jembatan-jembatan dan menumbangkan pepohonan untuk menghambat gerak maju pasukan Belanda di lembah tersebut. Tak hanya itu, sambil perlahan mundur, mereka juga menghambat pasukan Belanda lewat para penembak yang bersembunyi di celah-celah perbukitan.


Seringnya Kecelakaan Kereta

Pada masa sekarang, terjadi beberapa kali kecelakaan kereta api di kawasan dataran tinggi yang indah ini. Jumlah korbannya pun cukup banyak. Kompas edisi 29 Juni 2000 melaporkan lima gerbong kereta api pengangkut batu bara terlepas dari rangkaiannya dan jatuh di Lembah Anai. Peristiwa ini menewaskan belasan orang dan sembilan luka berat.

“Karena calon penumpang tidak sabar menunggu kereta api angkutan penumpang pukul 12.00, mereka naik kereta api yang khusus mengangkut batu bara. Kereta api tersebut berangkat sekitar pukul 10.30 dari Stasiun Padang Panjang menuju Padang,” tulis Kompas.

Tujuh gerbong yang masing-masing bermuatan 25 ton batu bara itu kehilangan kendali saat melalui turunan tajam. Dua gerbong yang tertinggal di belakang lima rangkaian menabrak gerbong di depannya dan terpental ke luar rel, lalu terjungkal dan menghantam dinding cadas.

“Meski rel peninggalan zaman Belanda ini menerobos beberapa terowongan di bawah bukit [untuk] menghindari tanjakan, tapi masih berbahaya,” tulis Gatra.
(irf)

04 July 2021

Cinta Terakhir Baba Dunja: Bertahan Hidup di Wilayah Terpapar Radiasi Nuklir


Baba Dunja panggilannya. Sementara nama di paspornya tertulis Evdokija Anatoljewna. Dia pernah bekerja sebagai asisten perawat di Malyschi. Setelah pensiun, dia kembali ke kampung halamannya di Tschernowo atau Chernovo, tak jauh dari lokasi bencana Chernobyl tahun 1986, di Uni Soviet (kini masuk daerah Ukraina)—kecelakaan reaktor nuklir terburuk dalam sejarah.  

Sejak bencana itu, kampungnya kosong. Orang-orang mengungsi dan tak ada yang berani pulang karena dianggap memasuki zona kematian. Namun Baba Dunja tak gentar. Dia kembali meski Irina, anaknya yang menjadi dokter bedah dan bekerja di Jerman, melarangnya berkali-kali.  

“Aku sudah tua, tak ada lagi yang bisa membuatku terpapar radiasi, dan kalau pun terpapar, itu bukan akhir dunia,” ujarnya kepada Irina.

“Aku tak akan mengunjungi Ibu di sana.”

“Aku tahu,” ujar Baba Dunja, “tapi kau memang jarang berkunjung.”

“Apakah ini teguran?”

“Bukan. Menurutku itu sesuatu yang baik. Untuk apa seseorang selalu berada di dekat orangtua mereka?” jawab Baba Dunja.

Pada bulan-bulan pertama tinggal di Tschernowo, dia benar-benar hidup sendirian. Lalu beberapa bulan berikutnya datang Sidorow, lelaki sangat tua yang juga sendirian. Sejak itu, perlahan tetangga baru berdatangan dan lampu rumah satu-persatu mulai menyala.

Baba Dunja punya anak dua: Irina tinggal di Jerman, dan Alexej bermukim di Amerika. Cucunya, anak Irina, bernama Laura. Suami Baba Dunja bernama Jagor, telah lama meninggal. Tapi memang dia lebih baik mati, sebab sewaktu masih hidup pun Jagor hampir tak berguna: kerap mabuk dan menghilang dari rumah, meninggalkan Baba Dunja yang kerepotan menjalankan rutinitas harian.

“Aku pergi ke dapur dan minum segelas air keran. Rasanya asin karena air mataku menetes ke dalam gelas. Aku hanya seorang wanita, sama seperti jutaan wanita lainnya, tapi tetap saja sangat tidak bahagia. Aku benar-benar tolol,” keluh Baba Dunja sekali waktu saat dia benar-benar repot dan kecapaian mengurus dua anaknya, kerja di rumah sakit, dan menyelesaikan pekerjaan harian di rumah.

Maka, saat dia melihat foto menantunya—suami Irina—yang botak dan berhidung besar, Baba Dunja berucap, “Suami tak perlu berwajah tampan. Jagor tampan, tapi apa guna ketampanannya bagiku?”

Tetangga Baba Dunja yang lain adalah Marja. Perempuan gemuk dan banyak minum obat, janda yang juga ditinggal mati oleh suaminya yang brengsek.

“Pria itu (suami Marja) baru ditemukan setelah meninggal, dan sekarang Marja menghukum diri dengan mengenang masa lalu bagai lukisan terindah,” kata Baba Dunja.

Mereka cukup dekat, meski suatu hari, Konstantin—ayam jantan milik Marja—mati ketika hendak dibunuh Baba Dunja. Soalnya satu, ayam itu tak berguna dan suka mengacau. Marja sedih dan menangis, persis seperti saat ditinggalkan suaminya. Namun setelah menjadi sup dan berkaldu, dia makan juga ayam itu.

Petrow juga tetangga Baba Dunja. Lelaki tua yang penyakitan dan keranjingan membaca. Waktu tiba di Tschernowo, pada bulan-bulan pertama dia mengetuk semua pintu tetangga untuk meminta bahan bacaan, dan itu mengesalkan. Perbekalannya saat datang amat sedikit, hanya sebuah kantong berisi pakaian dalam dan satu buku tulis.

“Dia (Petrow) pria yang membutuhkan buku layaknya alkoholik membutuhkan minuman beralkohol. Dia merana saat tidak memiliki cukup buku untuk dibaca. Dan tidak pernah tersedia cukup buku untuk dia baca. Tschernowo tidak memiliki perpustakaan umum, dan dia sudah membaca buku yang ada di sini, bahkan buku manual yang usianya lebih tua darinya pun sudah,” kata Baba Dunja.

Selain Sidorow, Marja, dan Petrow, tetangga Baba Dunja yang lain adalah Lenotschka yang biasa saja, dan pasangan Gavrilow yang usianya lebih muda dari baba Dunja dan tak pernah mengerti bagaiman rasanya hidup sendirian. Ya, merekalah satu-satunya pasangan di desa itu.     

Para penghuni desa “berbahaya” ini hidup dari berkebun sayur-sayuran dan buah-buahan. Sesekali pergi ke Malyschi—kota terdekat dari Tschernowo—untuk membeli sejumlah kebutuhan dengan cara saling titip, kecuali pasangan Gavrilow.

Untuk sampai ke Malyschi, Baba Dunja harus berjalan dua sampai tiga jam ke halte bus. Kendaraan ini hanya melewati halte itu sehari sekali. Sopirnya bernama Boris, kerap bercakap dengan Baba Dunja.

“Halte bus dicat hijau dan bersih. Tidak ada yang mau pergi sampai sejauh ini hanya untuk mencoret-coret dinding. Wilayah ini dianggap menakutkan. Pabrik berada di wilayah yang dianggap orang sebagai zona kematian. Tschernowo terletak lebih jauh di dalam zona itu. Halte bus ini penanda perbatasan,” ucap Baba Dunja.

Meski tinggal di daerah berbahaya, Baba Dunja selalu menjawab siapa saja yang mempertanyakan keputusannya untuk hidup di daerah yang rawan terpapar radiasi nuklir:

“Aku sudah menyaksikan semuanya dan tak lagi memiliki rasa takut. Kematian boleh datang menjemput, tapi tolong, datanglah dengan anggun.”

Sekali waktu, ketenteraman desa ini terusik oleh kedatangan orang asing: laki-laki beserta anak perempuannya yang sehat. Baba Dunja dan seluruh tetangganya terseret kasus hukum yang mencerabut mereka dari kehidupannya.

Meski demikian, Baba Dunja, juga para tetangganya, tetap tak bisa dipisahkan dari desa yang berbahaya itu. Bencana Cherbnobyl yang dahsyat tak mampu mengusir mereka selama-lamanya.

Kampung halaman, bagi banyak orang bukan sekadar wilayah geografis, tapi juga semesta sejarah yang menggurat riwayat hidup tiap jiwa yang menghuninya. Maka itu, meski berbahaya, Baba Dunja dan orang-orang tua lainnya, kembali ke desa itu, bertahan hidup, berbagi kisah, dan bersama-sama menyongsong detik akhir.

“Desa ini memiliki sejarah yang berkaitan dengan sejarahku, seperti dua helai rambut dalam kepang yang sama. Kami melewati separuh perjalanan bersama-sama,” pungkas Baba Dunja. (irf)

03 July 2021

Kisah Suka Duka Sukarno di Bogor

Bogor menjadi saksi kisah percintaan Sukarno dengan Hartini, persahabatan dengan Nikita Khrushchev, dan terjungkal dari kekuasaan.

Dari tujuh presiden yang silih berganti memimpin Indonesia, kiranya tak ada yang paling banyak punya warna warni kehidupan melebihi Sukarno. Proklamator kemerdekaan ini kenyang keluar masuk penjara dan tempat pengasingan. Sosoknya yang energik, ekspresif, dan flamboyan, membuat dirinya hampir selalu melahirkan cerita yang menarik, termasuk di beberapa kota yang sempat disinggahi dan ditinggali, termasuk Bogor: tentang cinta, persahabatan, dan saat-saat menjelang lengser.

“Aku mencintaimu, ini adalah takdir”

Setelah menceraikan Siti Oetari dan Inggit Garnasih dan menikahi Fatmawati, serta dikaruniai sejumlah keturunan, Sukarno masih ingin punya istri lagi. Dan dalam catatan sejarah, sampai akhir hayatnya ia mempunyai sembilan istri.

Istri keempatnya bernama Hartini. Perempuan kelahiran Ponorogo ini telah memikat hatinya. Mula-mula mereka bertemu di Salatiga. Hartini yang saat itu telah mempunyai hubungan dengan Dr. Soewondo juga kepincut dengan Sukarno yang kharismatik.

“Tuhan telah mempertemukan kita Tin, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir,” tulis Sukarno dalam suratnya kepada Hartini seperti dikutip Peter Kasenda dalam Bung Karno Panglima Revolusi (2014).

Mereka memakai nama samaran, imbuh Kasenda. Sukarno memakai nama Srihana, dan Hartini memakai nama Srihani. Hal itu dilakukan keduanya karena percintaan mereka dilakukan secara diam-diam, atau Kasenda menyebutnya “jalan belakang”. Hal ini kemudian mendorong Ali Sastroamidjojo menegur Sukarno untuk segera menyelesaikan gosip percintaan itu dengan secepatnya menikahi Hartini.

Sukarno pun menikahi Hartini di Istana Cipanas, Cianjur. Selanjutnya Hartini tinggal di paviliun Istana Bogor. Di situlah dua sejoli ini menorehkan kisah percintaan. Dari Hartini, Sukarno mempunyai dua orang anak, yakni Taufan dan Bayu.

Sebuah fragmen sempat ditulis Cindy Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (2007) tentang Sukarno dan Hartini saat berada di paviliun Istana Bogor ketika menerima tamu, yaitu Duta Besar Amerika di Indonesia, Howard Jones dan istrinya.

"Ini merupakan pertemuan kekeluargaan yang tidak formal. Aku pakai baju sport dan tanpa alas kaki. Hartini membuat nasi goreng, karena dia tahu keluarga Jones sangat gemar nasi goreng ayam dan aku makan mempergunakan tangan. Kami duduk mengelilingi meja menikmati suasana santai dan menyenangkan," ucap Sukarno.

Sukarno seperti ditulis Cindy Adams mengaku bahwa paviliun tempat ia dan Hartini tinggal, tidak seperti dugaan banyak orang yang mengira memiliki kran-kran dari emas murni seperti para pemimpin dunia di negara lain.

“Aku dan istriku Hartini di paviliun kecil kami di Istana Bogor. […] Di kompleks istana itu kami memiliki sebuah bungalow kecil yang memiliki sepasang kamar tidur. Bungalow itu tidak mewah. Sederhana sekali. Tetapi menyenangkan dan itulah rumahku,” katanya.

Menjamu Nikita Khrushchev

Sekali waktu pada 1960, pemimpin Uni Soviet, Nikita Khrushchev, berkunjung ke Indonesia. Oleh Sukarno ia dibawa ke beberapa kota, salah satunya Bogor. Perjalanan dan pengalaman di Bogor ditulis Khrushchev dalam Memoirs of Nikita Khrushchev. Volume 3, Statesman (1953-1964) dengan penuh kegembiraan sekaligus agak muram.

Menurutnya, dalam perjalanan dari Jakarta ke Bogor yang hanya 50 kilometer, menyajikan pemandangan indah. Ia terkesan dengan buah-buahan yang dijajakan pedagang di pasar yang dilewatinya, yang bukan saja belum pernah dinikmati oleh orang-orang Uni Soviet, bahkan melihatnya pun mereka belum pernah.

Lantas ia mengagumi Istana Bogor. Ia terkesan dengan bangunannya dan rumput luas yang terhampar di halaman. Khrushchev teringat masa kecilnya, saat musim semi ketika para petani merayakan Paskah dan semuanya nampak hijau.
Di sekitar Istana Bogor, ia melihat benda-benda hitam besar tergantung di dahan pohon. Saat ditanyakan, ternyata benda-benda itu adalah rubah terbang yang merupakan sejenis kelelawar.

“Sebelum senja, mereka bersiap pergi, lalu semuanya terbang seperti burung hitam musim semi di Rusia. Hewan itu terbang membuat lingkaran di sekitar tempat mereka menghabiskan hari, kemudian terbang jauh mencari makanan. Di pagi hari hewan nokturnal ini kembali,” tulisnya.

Khrushchev ditemani Sukarno berjalan-jalan ke Kebun Raya Bogor yang menurutnya memberi kesan suram, karena matahari tidak menembus kanopi daun di bagian atas. Di bawahnya basah, dan batang-batang pohon ditutupi lumut dengan air yang menetes dari dedaunan.

Ia melihat dua orangutan yang dirantai di dalam kebun raya tersebut. Menurut Khrushchev, kedua orangutan itu dirantai dan hanya terduduk sedih.

“Mengapa Anda membiarkan mereka dirantai? Itu membuat kesan buruk,” tanyanya kepada Sukarno. Namun Sukarno tak menjawabnya.

Museum Zoologi yang letaknya tidak jauh dari Istana Bogor turut dikunjungi Khrushchev. Pelbagai macam kupu-kupu dengan aneka pola dan warna mengejutkan imajinasinya. Seryozha yang biasa dipanggil Sergei, anaknya, yang turut dalam perjalanan itu mempunyai hobi mengoleksi kupu-kupu. Anak itu selalu meminta dibawakan spesimen kupu-kupu setiap kali ayahnya pergi ke luar negeri.

Para pengawal Sukarno mencoba menangkap kupu-kupu untuk memenuhi permintaan Sergei. Dan ketika Sukarno mengetahui bahwa anak sahabatnya gemar mengoleksi kupu-kupu, ia pun ikut menangkap kupu-kupu, mereka berlari-lari dan tertawa lepas.

Sukarno lalu menjamu makan malam. Pelbagai makanan dihidangkan termasuk camilan dan buah-buahan. Dengan memanggil “Kamerad Khrushchev”, Sukarno meminta sahabatnya itu untuk mencicipi durian.

“Saya mengambil sendok, mencedok daging buahnya, dan mengangkatnya ke mulut. Saya langsung kewalahan dengan bau busuk yang menjijikkan. Presiden bersikeras untuk merasakan buah itu. Dia sendiri senang memakannya, dan bagiku sepertinya tidak sopan untuk menolak,” tulis Khrushchev.

Sukarno juga membawanya berjalan-jalan memakai mobil ke perdesaan di Bogor. Khrushchev melihat orang-orang bertelanjang dada dan gubuk-gubuk yang terbuat dari bambu. Baginya, pemandangan itu tidak menyenangkan. Dua hari Sukarno menemani Khrushchev di Bogor, setelah itu mereka kembali ke Jakarta.

Senjakala Putra Sang Fajar

Beberapa tahun kemudian, kenangan manis di Bogor saat bersama Hartini dan persahabatan mesra dengan Nikita Khrushchev berubah drastis. Peristiwa G30S membawa Sukarno ke tubir keruntuhan kekuasaan.

Saat peristiwa itu terjadi, Sukarno berada di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma. Sementara pasukan yang dipimpin Soeharto akan segera mengepung pasukan yang menguasai Halim. Demi keamanan, Sukarno pun terbang ke Istana Bogor. Lalu beberapa hari kemudian ia memimpin sidang kabinet.

Setelah itu, demonstrasi mahasiswa yang dimotori Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) menghebat. Mereka menyerukan Tiga Tuntutan Rakyat atau Tritura yang satu satu isinya adalah menuntut pembubaran PKI, yang dianggap sebagai dalang pembunuhan para perwira Angkatan Darat di Lubang Buaya.

Karena aksi mahasiswa kian bergelombang, akhirnya mereka diundang untuk hadir dalam sidang paripurna kabinet di Istana Bogor pada 15 Januari 1966. Salah seorang eksponen gerakan mahasiswa saat itu, yakni Cosmas Batubara, menceritakan peristiwa itu dalam Cosmas Batubara: Sebuah Otobiografi Politik (2007).

“Kedatangan delegasi KAMI Pusat, KAMI Jaya, dan KAMI UI ke Bogor disambut oleh mahasiswa Bogor dan mahasiswa Bandung yang telah lebih dulu berada di sana. Jalan di sekeliling Istana Bogor melimpah dengan mahasiswa,” tulisnya.

Menurutnya, mahasiswa yang muak dengan pemerintahan Orde Lama menyerang mobil para menteri yang hendak masuk ke Istana Bogor dan meneriakinya “menteri goblok”. Mahasiswa juga menggoyang-goyangkan mobil-mobil itu sehingga para menteri ketakutan.

Karena Sukarno tidak sepatah pun menyinggung Tritura, semua mahasiswa yang datang dari Jakarta kecewa dan tidak bersedia kembali ke Jakarta. Mereka yang berada di sekeliling Istana Bogor itu lebih memilih untuk bertahan di sana.

Situasi semakin gawat, sampai akhirnya Sukarno—meski kontroversial dan menjadi perdebatan di kalangan sejarawan—di Istana Bogor menandatangani Surat Perintah Sebelas Maret pada 1966, yang kemudian menjadi senjata yang justru meredupkan kekuasaannya. Putra Sang Fajar pun jatuh dan beberapa tahun kemudian hayatnya pungkas.

Bogor, yang letaknya tidak terlampau jauh dari Jakarta itu, menghiasi riwayat Sukarno dalam senang dan duka. Dalam sedih dan tawa. (irf)

01 July 2021

Pergantian Nama Jalan, 661 Tahun Setelah Perang Bubat

Kisah perang yang melahirkan sentimen antar-suku ini sudah lama berlalu, tapi dianggap masih bertahan dalam ingatan orang-orang Sunda dan Jawa.

Cinta berbalas tuba. Rombongan Kerajaan Sunda yang hendak mengawinkan putri mahkota, Dyah Pitaloka Citraresmi dengan Hayam Wuruk Raja Majapahit, justru dihabisi di lapangan Bubat. Soalnya satu dan menonjok kehormatan: Kerajaan Sunda dianggap takluk dan putri sebagai upeti. Kafilah yang hendak kawin itu tak punya pilihan, selain melawan sampai binasa.

Raja Sunda, Maharaja Linggabuana, beserta para pengawalnya tewas berkalang tanah. Sementara Dyah Pitaloka Citraresmi memilih bela pati dengan menghunjamkan patrem/tusuk konde ke jantungnya. Ia pun tumpas.

“Akhirnya, tempat kediaman orang-orang Sunda dikepung dan diserbu oleh tentara Majapahit. Terjadilah peperangan di Bubat yang menyebabkan semua orang Sunda gugur, tak ada yang ketinggalan,” tulis Haris Daryono Ali Haji dalam Menggali Pemerintahan Negeri Doho: Dari Majapahit Menuju Pondok Pesantren (2016)

Orang Sunda muntab, terutama kepada Gadjah Mada sebagai tokoh kunci pembantaian tersebut yang mengedepankan ambisinya memenuhi Sumpah Palapa, yaitu menaklukkan seluruh Nusantara.

“Lalu si hulubalang, dengan dingin dan menghina, menghancurkan segala harapan mereka. Dari awal dia sudah menentang perkawinan itu, yang dia anggap merendahkan martabat tuannya. Dia menunjukkan pada orang-orang Sunda itu bahwa dia hanya akan membiarkan mereka mempersembahkan sang putri kepada harem istana sebagai upeti dari seorang raja bawahan kepada raja junjungannya,” tulis Bernard H.M. Vlekke dalam Nusantara: Sejarah Indonesia (2008).

Narasi pengkhiatan ini selama ratusan tahun diproduksi lewat cerita lisan, buku, dan sebagainya. Waktu berlalu, masa berganti, dan nasion bernama Indonesia pun telah berdiri, kiranya kebencian tak sepenuhnya luruh. Proses menjadi Indonesia belum sepenuhnya selesai.

Peristiwa Perang Bubat mula-mula dikabarkan oleh tiga naskah, yaitu Pararaton, Kidung Sundayana, dan Carita Parahyangan.

Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005), berdasarkan Kidung Sundayana menerangkan hal serupa, yakni penyulut peperangan tak seimbang itu adalah Gadjah Mada.

“Pati Madu yang diutus mengantarkan surat lamaran kepada Maharaja Sunda sudah pulang dengan hasil baik. Namun, ketika sang rajaputri diantar ke pura Majapahit, patih Gadjah Mada menganut kehendaknya sendiri, mengajukan syarat. Akibatnya, terjadi peperangan antara orang Sunda dan orang Majapahit,” tulisnya.


Dekat Gedung Sate

Karena peristiwa Perang Bubat tersebut, sampai tanggal 11 Mei 2018, Jawa Barat tak punya ruas jalan yang bernama Majapahit, Hayam Wuruk, apalagi Gadjah Mada. Oleh sebagian masyarakat, nama kerajaan, nama raja serta patih itu dianggap sebagai pamali jika disematkan menjadi nama jalan di Tatar Sunda.

Dalam berbagai naskah, Perang Bubat dikabarkan terjadi pada tahun 1357 Masehi. 661 tahun pasca-kejadian tersebut, Jawa Barat baru memiliki Jalan Majapahit dan Jalan Hayam Wuruk.

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher) meresmikan nama dua jalan tersebut pada acara bertajuk Harmoni Budaya Jawa-Sunda 2018 yang digelar di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, pada Jumat 11 Mei 2018.

“Putri Raja memakai mahkota, kilaunya menawan mata, Harmoni Budaya Jawa-Sunda bukti kebhinekaan Indonesia,” kata 
Aher mengawali acara tersebut.

Sementara Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, yang juga hadir pada kesempatan tersebut mengatakan bahwa penamaan jalan di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, dengan nama kerajaan dan rajanya tersebut adalah cara budaya membersihkan kotoran-kotoran.

“Penyelesaian budaya menjadi yang paling baik karena bisa menghaluskan yang kasar dan menjernihkan yang kotor,” 
ujarnya.

Ruas-ruas jalan yang namanya diganti terletak tak jauh dari Gedung Sate sebagai pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat. Jalan Majapahit terletak di sebelah barat Lapangan Gasibu. Sementara itu, Jalan Hayam Wuruk menggantikan Jalan Cimandiri yang letaknya di sebelah barat Gedung Sate.

Namun, alih-alih mengganti nama jalan lain dengan Jalan Gadjah Mada selaku tokoh utama dalam peristiwa Perang Bubat, pada acara itu justru diresmikan pula Jalan Citraresmi yang sebelumnya bernama Jalan Pusdai.


Dimulai dari Yogyakarta

Pergantian nama ruas jalan seperti yang dilakukan di Kota Bandung awalnya di Yogyakarta. 3 Oktober 2017, Sri Sultan Hamengkubuwono X meresmikan nama Jalan Padjadjaran, Jalan Siliwangi, Jalan Majapahit, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Brawijaya, dan Jalan Prof. Dr. Wirjono Projodikoro. Nama-nama tersebut menghiasi ruas jalan arteri (ringroad).

Langkah Sultan ini sempat mengundang sejumlah pertanyaan dari beberapa pihak karena secara konteks sejarah, Kerajaan Mataram Islam dengan Kerajaan Sunda berbeda periode. Meski Mataram Islam pada beberapa periode berikutnya amat berkuasa di Tatar Sunda, khususnya Priangan, tapi hegemoni kekuasaan selama dua abad itu barangkali tak melahirkan kebencian separah terhadap tragedi Perang Bubat.

Sultan melihat pergantian nama jalan tersebut sebagai bentuk rekonsiliasi kultural antara Jawa dan Sunda, dan lebih luas lagi Indonesia, terlepas dari kerajaan mana yang bertikai.

“Kami menyadari pemimpin kerajaan terdahulu saling mengalahkan satu sama lain, tapi kemudian bersatu dalam NKRI. Kejayaan Majapahit, Sriwijaya 700 tahun lalu sudah waktunya dibangkitkan di abad 21 ini, dan rekonsiliasi bagi saya merupakan hal penting untuk menatap masa depan,” kata 
Sultan.


Polemik di Surabaya

Sementara di Surabaya, pergantian nama jalan terkait peristiwa Perang Bubat sempat diprotes oleh warga Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari. Kedua nama jalan tersebut akan diganti oleh Jalan Sunda dan Jalan Prabu Siliwangi.

Rabu, 7 Maret 2018, sejumlah warga turun ke jalan dan sebagai bentuk protes mereka membawa secarik kertas bertuliskan “Jl. Soekarwo” serta berfoto di bawah tulisan “Jl. Dinoyo”. Bagi mereka, yang jadi masalah bukan pergantian dengan nama yang berbau Sunda, tapi Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari memiliki sejarah panjang yang mereka banggakan.

“Coba tanyakan kepada para sesepuh warga Dinoyo, jalan tersebut sejak dulu sudah bernama Dinoyo. Coba kalau nama kita diganti begitu saja, jelas kita marah. Karena sudah ratusan tahun jalan ini sudah ada. Menjadi kebanggaan sendiri bagi mereka,” ujar 
Kusnan, pemerhati sejarah dan budaya dari Paguyuban Arek Suroboyo.

Namun, beberapa minggu setelah aksi penolakan tersebut, muncul spanduk tandingan yang menyatakan dukungan terhadap pergantian nama jalan tersebut. Warga yang mendukung menuding bahwa warga yang menolak kemungkinan ditunggangi pihak lain.

Surjo Hadi, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPKM) Keputran mengklaim bahwa seluruh warga Dinoyo mendukung pergantian nama jalan itu. Ia pun meyakinkan bahwa kekhawatiran warga terkait pengurusan surat-surat yang sifatnya administratif tidak akan sulit.

Menanggapi rencana perubahan nama jalan ini, Adi Sutarwijono, Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya mengatakan bahwa selain harus melalui persetujuan DPRD Surabaya, perubahan nama jalan juga harus memiliki latar belakang sejarah sejarah dan sosiologi seperti penamaan yang selama ini telah dilakukan.

Ia menilai perubahan nama Jalan Dinoyo dan Jalan Gunungsari dengan nama jalan lain yang dikaitkan dengan peristiwa Perang Bubat kurang kuat secara sejarah dan sosiologis.

“Kalau alasannya itu, ya di-guyu generasi milenial. Wong Bonek sama Bobotoh dan Viking saja akur, kok bawa-bawa perang yang lama banget? Hubungan Pemprov Jatim dengan Jabar kan juga sangat baik,” 
ujarnya.

Pendapat serupa dilontarkan oleh pemerhati sejarah Kuncarsono Prasetyo. Menurutnya, penamaan jalan lahir dari kesepakatan bersama dan ada sejarah yang menyertainya. Ia menambahkan bahwa beberapa nama jalan yang mempunyai akar lokal yang kuat, sejak zaman Belanda tidak pernah diganti, seperti Jalan Tunjungan, Gemblongan, Bubutan, dan sebagainya.

Persoalan di Surabaya memang berbeda dengan yang terjadi di Bandung dan Yogyakarta. Secara sejarah, ringroad (Yogyakarta), Jalan Gasibu, dan Jalan Pusdai relatif kurang memiliki akar kelokalan yang kuat. Kalau pun ada yang agak berat diganti yaitu Jalan Cimandiri, karena jalan tersebut telah ada sejak lama dan dikelompokkan dalam satu wilayah yang nama-nama jalannya adalah nama sungai di Jawa Barat. (irf)