19 December 2014

Ajo


Sempat juga, dulu, entah kapan saya lupa lagi, seorang kawan pernah bertanya tentang perempuan cantik, saya jawab saja Leigh Nash. Mantan vocalis Sixpence None The Richer itu memang cantik, terutama waktu membawakan Kiss Me. Gigi kelincinya menebarkan aroma innocent. Tapi sekarang dia sudah tua, lagi pula SNTR sudah bubar, dan kawan saya yang bertanya itu entah di mana, kabar terakhir posisi dia di Medan, jualan Bakpao katanya. 

Tapi saya masih ingat, dia dulu terlambat lulus alias pending gara-gara tugas akhirnya tersendat. Maka ketika saya dan kawan-kawan yang lain di wisuda di Sabuga ITB dan berhias toga macam pakaian Rama Aipama, dia hanya jadi penonton, ceria saja pembawaannya, entah perasaannya.  Di detik-detik ketika akhirnya para wisudawan mulai sibuk mencari kerja, dia malah sibuk di depan layar komputer, sendirian mengejar deadline demi wisuda gelombang kedua. Ralat, dia tidak sendirian tapi ditemani lagu Sway dari Big Runga.

Rokoknya Marlboro merah, tak penting betul saya ceritakan masalah cigarette ini, tapi memang dia tak mau jika harus membakar cigarette produksi Djarum yang aromanya, menurut dia, terlalu pekat. Sikapnya bersahaja-berkawan, dia adalah jenis sahabat yang nyaman di segala kondisi. Pernah sekali waktu, ketika tanggal sudah masuk ke penghujung bulan dan kiriman dari kampung belum datang, uang di kantong tak tersisa sepeser pun. Saya tergeletak tak berdaya di kamar kosan, tiba-tiba batang hidungnya muncul di balik pintu dan sebuah senyum pahit, dia datang dengan tangan penuh oleh kantong berisi dua bungkus nasi Padang dan dua bungkus rokok. “Untuk anak rantau kere macam kau,” katanya.

Beberapa dosen bersikap agak sinis kepadanya. Maklum saja, sebab dia lumayan sering bolos dan tugas sering terkatung-katung tak jelas kapan selesainya. Saya tak sampai hati menasehati, sebab saya tahu pada dasarnya dia cerdas, hanya saja beberapa gelintir setan penggoda kerasan tinggal di dirinya. Sekali saja sempat saya bilang, “kawan, pisau kau itu sebenarnya tajam, tapi mulai berkarat, asahlah sedikit.” Dan dia hanya, lagi-lagi, tersenyum pahit. Barangkali dia menyesal juga pada akhirnya, sebab tidak bisa lulus tepat waktu seperti kawan-kawan yang lain, tapi memang itu sudah terjadi, dan kini hanya menjadi kenang-kenangan bagi hidup yang begitu biru.

There she goes, there she goes again…,” suara Leigh Nash tengah mengusai kamar ketika dia, lagi-lagi, muncul tiba-tiba dari balik pintu. “Siapa yang pergi kawan?,” tanyanya. “She,” jawab saya. Lalu tawa pun pecah berderai-derai, nikmat betul. “Sejak kapan orang macam kau ditinggal cewe?, yang datang pun kaga pernah ada,” dan kami, saya dan dia tertawa lagi. Selain senyumnya, humor dia pun pahit, tapi tetap menghibur.

Braga, berapa kilometer jaraknya dari Sarijadi?, entah. Sekali waktu, sempat juga kami jalan kaki dari Sarijadi menuju Braga, bertiga, karena ditambah kawan satu lagi : Dani Batax Swasta. Yang ini pun bersahaja-berkawan. Ihwal gelar “Batax Swasta” adalah karena dia tak seperti umumnya orang-orang sekampung dia yang rata-rata bersuara lantang, dia malah kebalikannya. Tapi dia Batak tulen, ibu-bapaknya asli Sumatera Utara, hanya saja sudah terlalu lama tinggal di Bandung, jadi begitulah, dia lebih mirip orang Bandung, suaranya kadang-kadang seperti tertiup angin. Bukan rasis, tapi begitulah kenyataannya.

Malam hari waktu itu, dan hujan masih menyisakan rintik sebab sedari sore mengguyur deras kota Bandung. Kami seperti sedang napak tilas pasukan Siliwangi masa penjajahan yang hijrah berjalan kaki. Bertiga kami berjalan kaki membelah kota Bandung yang dingin sekaligus mengandung aroma romantik aneh yang membias dari lampu-lampu kota, tukang serabi, beberapa perempuan cantik yang nongkrong di Circle-K, dan wajah-wajah para pendukung Persib yang menyaksikan tim kesayangannya lewat pesawat televisi. Dan hidup tidak sama lagi setelah itu, sebab beberapa hari setelah membelah Bandung dengan berjalan kaki, kami akhirnya terpisah dijerat waktu yang mengiris di setiap milisekon hidup.

Sepotong ingatan masih tersisa. Sehari sebelum kami berpisah, kawan yang rokoknya Marlboro merah itu, di kamarnya yang berantakan, dengan mata entah nanar entah syahdu, didapati tengah mendengarkan Alicia Keys : Some People Want It All. Saya Tanya, “Sedang jatuh cinta kau rupanya kawan? Siapa yang kau sukai itu?” Dan dia menjawab pendek, sangat pendek, “She.” [ ]        


    

07 December 2014

Samping Lalayu Sekar

Saya terpaut sepuluh tahun dengannya. Sebuah jarak yang dipenuhi kabut ingatan. Lamat-lamat dari album foto terekam beberapa gambar tentang perjalanan rantau yang sangat dini. Dia pergi selepas lulus sekolah dasar di kampung. Mula-mula yang disinggahinya adalah sebuah pesantren di Pabelan. Menurut ceritanya, dia menangis hampir tiap hari dalam sebulan pertama menempuh pendidikan di rantau orang. Sementara saya masuk sekolah dasar pun belum.

Sejak itu, riwayat pendidikan formalnya tak pernah kembali ke kampung. Menikah dan berumah tangga pun di luar kota, sampai detik saat nafas terakhirnya melayang, dia jalani semuanya di puak orang.

Komunikasi antara anak pertama dan anak kelima bukanlah jembatan yang mulus, meskipun kami sama-sama anak laki-laki; hanya berdua dari tujuh bersaudara. Saya percaya bahwa tiap generasi mempunyai bahasa dan alam pikirannya sendiri yang berlain-lainan. Seperti ada gap yang tak hendak kami seberangi.

Meskipun demikian, saya banyak berhutang kepadanya. Tak terhitung pertolongan yang mengalir di nadi riwayat hidup yang pernah saya lalui. Dari perspektifnya; anak pertama mesti jadi nakhoda kedua setelah orangtua. Dan saya tak berdaya menolak semua kebaikannya.

Selepas di Pabelan, Surakarta adalah kota kedua perantauannya. Masih di pesantren modern yang ketat, kemampuan bahasa asing diasah di sana. Kelak kalau ada libur panjang dan pulang kampung, latihan mengajar di madrasah tsanawiyah adalah pilihannya.

Sekira tiga minggu sebelum “pasar malam berakhir”, kawan-kawan semasa SMA-nya datang yang disambut dengan linangan air mata. Barangkali haru membuncah di lereng ingatan tentang masa jaya di kampus putih-abu. Memang dia sempat aktif di OSIS, Calung, Band, dll. Dan mengenang hal tersebut dengan orang yang sama, yang datang dari masalalunya, sementara kondisi kesehatan semakin memburuk, memang bukan sesuatu yang mudah.

Do’a dan penyemangat membanjir, lalu terbang merambat ke langit. Sementara rumah sakit masih dalam kondisi kelabu, tentang daya tahan tubuh yang semakin menurun. Saya melemparkan pandangan ke arah gunung Malabar di selatan. Kabut samar-samar menutupi puncaknya. Ya, barangkali puncak geografis itu laksana harapan manusia, semakin tinggi semakin banyak pula halangannya.

Derap detik itu seperti menghitung mundur perpisahan dengan hidup. Saya duduk di pinggir kasur, menatap kakinya yang semakin mengecil. Tak lama nafasnya kembali berat.


Jika SMA dihabiskan di Cibadak-Sukabumi, maka Depok adalah tempat melanjutkan untuk kuliah di Politeknik UI. Kalau kondisi lumayan baik, dia suka cerita masa-masa kuliahnya. Dan satu yang dapat saya simpulkan; baginya, masa kuliah tidak terlampau berkesan. Selepas wisuda, dan sampai akhir hayatnya dihabiskan di jalan berliku dunia perbankan; sesuatu yang justeru tak pernah berhasil saya tembus.

Telah beberapakali saya memandikan jenazah dan menyaksikan raga diantarkan ke liang lahat, keduanya berhasil membuat hati menjadi luluh dan bergetar. Namun sekali ini saya menyaksikan sesuatu yang lebih menggentarkan!

Pada awal sebelum yang penghabisan saya menemaninya di ruang yang hanya merawat satu pasien. Besoknya dia ingin pindah ke ruangan yang dihuni dua orang pasien, biar ada kawan katanya. Saya menuruti saja. Sementara dari semalam kondisi pernafasannya semakin mengkhawatirkan; tak bisa tidur sampai pagi. Di ruangan yang baru pun sama saja, serangan sesak semakin sering.

Kemudian datanglah hari Jum’at. Jam 10 pagi dia melontarkan pertanyaan terakhir. Lalu badai dahsyat datang! Setelah menunggu kekalahan selama 2 jam 15 menit, akhirnya dia tumbang.

Dulu waktu SD sebuah puisi tentang pahlawan yang gugur pernah dia deklamasikan di depan orang banyak. Dan kini dia sendiri telah layu dihadapan sang takdir dan ketentuan yang tak seorang pun mampu menolaknya. Selamat jalan. Semoga kembali dengan jiwa yang tenang. Amin. [irf]  

Dedicated to my old brother   

27 November 2014

Insulinde

“Saat kau mencintai sebuah kota, dan sering menjelajahinya dengan berjalan kaki, tubuhmu, apalagi jiwamu, akan mengenal segala sudut jalannya dengan baik.” (Orhan Pamuk : Namaku Merah Kirmizi)

***

Ini tentang penamaan jalan dan daerah. Insulinde atau Archipelago atau dikenal juga dengan Nusantara, di Bandung adalah sewujud nama-nama jalan yang berada di sekitar Departemen van Oorlog (Departemen Peperangan) yang sekarang menjadi Kodam III Siliwangi. Namun ihwal penamaan ini pada akhirnya menjadi identitas dalam penelusuran suatu wilayah.

Kawasan insulinde dihuni nama-nama jalan seperti Jalan Kalimantan, Jawa, Sumatera, Ternate, Seram, Riau, Ambon, Saparua, Bali, Sumbawa, Banda, Bangka, Belitung, Aceh, dan lain-lain. Penamaan ini diberikan sejak dari masa kolonial. Tak heran jika taman yang berada di sekitar jalan-jalan ini disebutnya “Insulinde Park” atau “Taman Nusantara”, yang kemudian lebih dikenal dengan nama “Taman Lalu-lintas”.

Konon Belanda memberi nama jalan-jalan ini dengan nama-nama pulau yang ada di Nusantara, sebagai simbol bahwa pulau-pulau tersebut adalah wilayah yang harus mereka jaga dan pertahankan. Namun terlepas dari informasi tersebut, pemerintah kolonial Belanda memang kerap menamai jalan secara berkelompok, mungkin maksudnya adalah untuk lebih memudahkan dalam menelusuri suatu daerah. 
Hal ini pernah disinggung oleh Us Tiarsa dalam bukunya yang berjudul Basa Bandung Halimunan :

“Ti mimiti Bandung jadi haminteu (gemeente) loba jalan anyar. Ku walanda dibėrė ngaran anyar deuih. Sanajan kitu, teu sagawayah mėrė ngaranna tėh. Ngaran wayang, kabėh ngaran wayang. Ayana di Pasirkaliki ka kulon. Ngaran gunung, ngaran gunung wungkul. Ngaran wahangan, wungkul ngaran wahangan. Ngaran manuk laleutik ayana tėh di Cihaurgeulis. Ari manuk galedė tur garalak ayana tėh di Ciroyom ka kulon. Ngaran bungbuahan ngawungkul bungbuahan, ayana di Kebonwaru Kalėr. Ngaran kekembangan ngagunduk di Cikudapateuh. Ngaran kota mah ayana tėh di Kebonwaru Kidul.”

(Dari awal Bandung jadi gemeente atau kota madya, banyak jalan baru. Oleh Belanda dikasih nama yang baru pula. Meskipun begitu, tidak sembarangan dalam memberi nama jalan. Nama pewayangan, semuanya pewayangan; adanya di daerah Pasirkaliki sebelah barat. Nama gunung, semuanya nama gunung. Nama sungai, semuanya nama sungai. Nama burung-burung kecil adanya di Cihaurgeulis—sekitar Gedung Sate. Kalau nama burung-burung besar adanya di Ciroyom sebelah barat. Nama buah-buahan hanya buah-buahan, adanya di Kebonwaru Utara. Nama-nama kembang berkumpul di Cikudapateuh. Dan nama-nama kota adanya di Kebonwaru Selatan).

Dari diskusi dan berbagi informasi dengan Komunitas Aleut, Jl. Sunda yang mulanya saya sangka termasuk juga ke dalam wilayah insulinde, ternyata pengecualian. Penamaan Jl. Sunda termasuk baru jika dibandingkan dengan nama-nama jalan yang masuk ke dalam wilayah insulinde. 

Sunda sendiri sebetulnya mempunyai beberapa pengertian. Dulu deretan pulau dari Bali dan Nusa Tenggara disebutnya kepulauan Sunda Kecil, sedangkan beberapa peneliti asing justeru menganggap Sunda itu ya Nusantara. Silang sengkarut pengertian ini konon terkait juga dengan bangunan kampus ITB yang kata beberapa orang desainnya “Minang banget”, padahal kita tahu bahwa ITB letaknya di wilayah yang didiami oleh etnis Sunda. Hal ini menjadi masuk akal kalau Sunda diartikan sebagai Nusantara.

Pengertian Sunda kemudian hanya dikenal sebagai sebuah etnik di wilayah Jawa bagian barat, dan juga agama leluhur yang disebut Sunda Wiwitan. Sampai di sini mengertilah kita mengapa Jl. Sunda tidak termasuk ke dalam wilayah insulinde.

Insulinde, seperti keterangan Us Tiarsa di atas, memang hanya salahsatu pengelompokan nama jalan atau wilayah di Bandung. Maka pada permulaannya, atau bahkan sebelum kompleks perumahan banyak dibangun, mengidentifikasi sebuah wilayah di Bandung bisa dengan mudah dilakukan berdasarkan pengelompokkan nama. 

Namun kini hal tersebut jadi agak rumit, sebab banyak nama kompleks perumahan yang namanya sama dengan nama wilayah yang sudah terkenal lebih dahulu. Lagi-lagi Us Tiarsa pernah menjelaskan hal ini masih dalam buku yang sama:

Teu matak sasab jaman harita mah nyanyabaan di kota Bandung tėh. Babari ngapalkeunnana ngaran jalan jeung ngaran lembur tėh. Ngawungkul, sawewengkon-sawewengkon. Asal disebut wewengkonna weh, teu matak hėsė. Anyeuna mah apan matak riweuh. Loba nu sarua. Ngaran jalan nu makė bubuahan, contona, apan di Ahmad Yani aya di Cijerah aya. Margahayu, ngaran lembur di sabudeureun lapang udara lebah Sayati, anyeuna mah dipakė ngaran kompleks di Rancabolang (di tukangeun kompleks pertokoan Metro, Jl. By pass anyeuna). Malah Cipaganti ogė aya deuih di Ciwastra.

Ongkoh anyeuna mah mėrė ngaran patempatan tėh sasat dialus-alus tepi ka matak hėsė nyebutna. Ngaran jalan di kompleks Margahayu Raya ogė apan makė ngaran planėt. Di Gumuruh apan makė ngaran bėntang palak (astrologi). Rėa deuih nu dirobah pėdah kadėngėna teu matak genah kana ceuli. Upamana waė Lemahneundeut Kulon jadi Sarijadi. Ciborėtė jadi Kawaluyaan, Cilokotot jadi Margahayu Permai, Balaindah jadi Balėėndah, jeung sajabana.

---Terjemahan tidak tersedia, tersebab lebih dari satu paragraph; terlampau banyak. Capė euy nerjemahkeunna :D ---

Dalam buku Bandung Purba; Panduan Wisata Bumi, serampangannya penamaan daerah di Bandung belakangan ini pernah disinggung juga. Sebagai contoh, kompleks Bumi Asri kini terdapat di mana-mana; di Padasuka, di Cijerah, dan di Margahayu. Jadi kalau mau mencari alamat rumah atau kantor di Bumi Asri, mesti jelas dulu Bumi Asri yang mana, jangan sampai tertukar, sebab Bumi Asri yang satu dengan Bumi Asri yang lain jaraknya berjauhan.

Contoh lain adalah nama Padasuka. Kini terdapat komplek Padasuka yang letaknya antara Padalarang dan Cimahi. Padahal Padasuka sudah terkenal ke mancanegara dengan angklungnya adalah yang terletak di dekat Cicaheum, tempat Saung Udjo berkesenian.
  
Contoh yang paling lucu barangkali kasus yang terdapat di utara Rajamandala. Dalam Peta Topografi buatan AMS (USA), di hilir sungai Cimeta, ada tempat yang bernama Rancabaeud. Namun waktu ditanyakan kepada orang tua di daerah Ciburahol, apakah masih ada Rancabaeud, orang tua itu tersenyum sambil berkata, “nama tempat itu kini sudah diganti menjadi Rawasari!” Demikian juga di dekat Sayati, ada nama tempat Rancabusiat, kini sudah berganti menjadi Rancakasiat. Kurang lebih seperti itu keterangan dari T. Bachtiar & Dewi Syafriani sebgai pengarang buku tersebut.

“Apa arti sebuah nama?,” kata William Shakespeare. Mesti ada orang yang membisikkan ke kupingnya, mungkin mang Ridwan kamil lebih tepat, katakan kepadanya, “meh teu lieur keleuusss...!” [ ]

26 November 2014

Mang Utuy


Dina raraga nyanghareupan watƩs ahir bulan SƩptember jeung mimiti bulan Oktober, di mana di dinya aya hiji kajadian anu ahƩng, nu pinuh ku rupa-rupa kasieun jeung katineung, kuring alakadarna baris ngabƩbƩrkeun hiji tokoh nu ngilu kageutahan, alatan kungsi milu dina orhanisasi hiji partƩy nu ceunah mah geus wani-wani arƩk ngarebut kakawasaan tina pamarƩntahan anu sah.

Tokoh ieu teu sanƩs deui nyaeta Utuy Tatang Sontani. Numutkeun sababaraha katerangan, anjeunna dibabarkeun di Cianjur ping 1 Mei 1920, sareng ngantunkeun di Moskwa ping 17 September 1979. Basa kajadian taun 1965 di lemahcai keur geunjleung, Utuy jeung sababaraha pangarang katut wartawan nu sanƩsna nuju aya di Beijing, dina raraga ngahadiran hiji acara nu diayakeun ku pamarƩntah Tiongkok. Kusabab Utuy kacatet jadi anggota orhanisasi LƩkra nu aya patalina jeung PKI, janten anjeunna teu tiasa mulih deui ka lemah cai dugi ka ngantunkeunna.

Sababaraha taun ka tukang, sateuacan LĆ©kra ngilu dirarad ku pamarĆ©ntah, dumasar tina seratan Pramoedya Ananta Toer dina buku Menggelinding 1, Utuy mineng pisan katingali nuju ameng sareng putrana paduduan waĆ©. Iwal ti eta, saur Pram, Utuy ogĆ© mineng teu panuju sareng kahirupan jalma-jalma beunghar nu caricing di gedong nu sigrong. Saur anjeunna ka Pram, “Tempo ku anjeun, heueuh gĆ© imah maranehna gedong sigrong, tapi can tangtu di jerona aya buku jang dibaca. Kahirupan urang sabenerna can merdĆ©ka mun kaayaanna tuluy-tuluyan kieu mah!”

Utuy sateuacan asup orhanisasi Lekra geus turun ilubiung dina widang sastera, anjeunna nulis hiji novel nu judulna Tambera. Novel ieu nyaritakeun sajarah nu lumangsung di Maluku dina abad ka-17. Carita ieu kungsi dimuat di koran Sipatahoenan jeung Sinar Pasundan.

Sawatara waktu ti harita, Utuy teras nyerat jeung nerbitkeun kumpulan carita pondok nu dipasihan judul Orang-orang Sial. Nanging nu ngajantenkeun anjeunna kasohor mah nyaeta carita-carita lakon nu di antarana nyaeta : Suling, Bunga Rumahmakan, Awal dan Mira, Sayang Ada Orang Lain, Di Langit Ada Bintang, Sang Kuriang, Selamat Jalan Anak Kufur, Si Kabayan, jeung Tak Pernah Menjadi Tua.

***

Hiji waktu, mangsa pasosore, numutkeun catetan Ajip Rosidi nu jadi baturna, Utuy dongkap ka bumi Ajip sabari nyandak pameunteu nu kiruh, anjeunna teras masihkeun kertas tƩlƩhram. Eusi Ʃta kertas nyaƩta nyuhungkeun Utuy kanggo calik jadi anggota pangurus LƩkra anu baris disusun. TƩlƩhram Ʃta dikintunkeun ku Kongres LƩkra nu munggaran nu diayakeun di Solo.

“Naon masalahna?” saur Ajip.

“Kuring bingung. Ceuk anjeun kumaha? Ditarima atawa ulah?” Utuy kalahka malik naros.

“Kunaon makĆ© bingung?” Ajip naros deui.

Nyak derekdek baĆ© Utuy ngadadarkeun nu jadi cukang lantaran kabingungna. Ajip ngaregepkeun pinuh daria. Saba’da rĆ©ngsĆ© ngabudalkeun nu jadi kabingungna, teras baĆ© Ajip masihan bongbolongan ka nu jadi baturna.

“LĆ©kra tĆ©h orhanisasi budaya PKI. Hartina paham jeung pamadĆ©ganna ngarah ka kĆ©nca. Jadi, dina hal ieu pasualan nu utamana nyaĆ©ta kumaha sikap Utuy kana komunisme? Satuju atawa henteu? Mun satuju teu paduli bisa gawĆ© bareng atawa henteu jeung batur nu lian, anjeun kudu narima tawaran ieu. EngkĆ© sanggeus di jero orhanisasi, anjeun kudu motĆ©kar mikirkeun kumaha carana sangkan bisa nalapung jalma-jalma nu ceuk panĆ©njo anjeun goreng gawĆ©na.”

Teu lami Utuy naros deui, “Anjeun sorangan kumaha? Satuju teu kana komunisme?”

“Lain pasualan kuring ieu mah. Nu ditawaran jadi pangurus LĆ©kra pan anjeun, jadi nu penting kumaha pamadegan anjeun sorangan,” saur Ajip.

Obrolan terus rada manjang antawis dua babaturan Ʃta. Sababaraha poƩ ti harita dina koran diwawarkeun hasil kongres LƩkra di Solo. Nami Utuy teu aya dina rƩngrƩngan pangurus anu anyar disusun. Anjeunna nolak tawaran pikeun jadi pangurus LƩkra.

***

Dina bulan DƩsƩmbƩr taun 1958, di Bandung diayakeun KongrƩs Basa Sunda nu tempatna di gedung YPK di Jalan Naripan. Nu ngahadiran diantawisna aya Ajip Rosidi ti Sumedang, aya ogƩ Boejoeng SalƩh, Ramadhan Karta Hadimadja, Rukasah, Ismail Wiriadinata, jeung Utuy Tatang Sontani ti Jakarta.

Mangsa Utuy ningali Ajip, langsung baĆ© anjeunna mĆ©dol Ajip ka luar terus ngajak leumpang nepika Jalan Braga. Utuy tuluy ningalikeun Negeri SoviĆ©t, hiji majalah citakan ti Kedutaan Besar SoviĆ©t (harita ngaranna acan Rusia) di Jakarta, nu eusi Ć©ta majalah tĆ©h nyaĆ©ta pikeun ngenalkeun nagara SoviĆ©t ka bangsa Indonesia.

Dina eta majalah aya catetan interviu wartawan jeung Utuy. Foto nu dipajang gedƩ pisan. Tapi naha Utuy bet kalahkah bingung jeung muyung?

SihorƩng nu ngajadikeun anjeunna kitu tƩh nyaƩta eusi interviu nu aya dina majalah teu sarua eujeung anu sabenerna basa anjeunna diinterviu ku wartawan ti majalah Ʃta.

“Kuring teu nyaritakeun sababaraha hal nu ditulis dina Ć©ta majalah. Basa ditanya ku wartawan kumaha pendapat kuring ngeunaan sistim tani kolĆ©ktif di Uni SoviĆ©t, ceuk kuring mun cocok jang urang SoviĆ©t nyak alus baĆ©; jelema moal bisa digawĆ© sorangan di gurun pasir, ” kitu pokna.

Tapi orokaya Ʃta majalah tungtungna nulis anu sabenerna teu diomongkeun ku Utuy ka wartawan. Balukarna jadi pangbeurat ka Utuy dina nyorang lalakon ka hareupna.

“Da memang kitu carana komunisme mah!” saur Ajip mairan.

“Enya, tapi hal Ć©ta jadi pasualan. Anjeun apal sorangan, kuring kungsi diondang ka Cina jeung SoviĆ©t, anyeuna kuring baris diondang ka AmĆ©rika, jeung geus aya urang Kedutaan AmĆ©rika nu datang ka imah, malah mah kuring anyeuna keur diajar basa Inggris ka Drs. Lie Tie Gwan. Tapi ku dimuatna foto jeung interviu kuring di majalah Negeri SoviĆ©t, komo jeung kuring saolah-olah ngalus-ngalus komunisme nu sabenerna teu diomongkeung ku kuring, balukarna kuring bisa waĆ© teu jadi indit ka AmĆ©rika!”

Ti dinya duanana teu loba carita deui, bral bae baralik deui ka gedung YPK di Jalan Naripan pikeun ngahadiran KongrƩs Basa Sunda.

***

Sanajan dina sababaraha kasempetan Utuy kungsi teu nyanggupan pikeun jadi anggota LƩkra, tapi tungtungna sanggeus dideukeutan ku HƩndra Gunawan (babaturanna mangsa sakola di Bandung jaman saacan perang), anjeunna asup jadi anggota pangurus LƩkra.

Basa di lemahcai aya kajadian Gestapu jeung loba anggota PKI katut LƩkra nu dipaƩhan, sakumaha nu geus diterangkeun di luhur, dina mimiti ieu tulisan; kaleresan Utuy nuju di Beijing jadi teu kaasup nu diala pati diarah nyawa, tapi balukarna Utuy teu bisa balik deui ka lemahcai pikeun salilana tug dugi ka ngantunkeunna.

Harita basa di Tiongkok aya RƩvolusi Kabudayaan, Utuy jeung sababaraha baturna indit ka Eropa, niatna rek tuluy ka Perancis. Tapi barang nepi ka Rusia, Utuy lirƩn di Ʃta nagara. Dongkapna Utuy di Rusia matak pikabungaheun pikeun urang Rusia anu geus kungsi maca tulisan-tulisanna. Anjeunna teras janten dosen di salah sahiji Universitas di Rusia.

Nuju Ajip kaleresan aya di luar nagri, Ajip nyempetkeun ngalongok Utuy anu nuju teu damang parna. Barang Ajip dongkap ka rumah sakit, Utuy kacida atohna.

“Gering naon?”

“Teu, kuring geus cageur sabab panggih deui jeung anjeun, kuring jadi bisa deui ngawangkong make basa Sunda. Di dieu euweuh nu bisa diajak ngomong basa Sunda,” saur Utuy sabari nĆ©mbongkeung kabungah.

Sababaraha taun di harita, nyaƩta taun 1979; Utuy ngantunkeun sabari teu kungsi panggih heula jeung nu jadi anak pamajikanna. Kanggo ngaajƩnan jasa-jasana, pamarƩntah Rusia ngurebkeun sareng ngadamel makam khusus kanggo umat Islam, nyaƩta kanggo Utuy.

Hawar-hawar kuring inget deui kana cacariosan mang Utuy basa aya kĆ©nĆ©h di lemahcai. Pokna, “Kuring nĆ©angan manusa, tapi nu kapanggih ngan ukur badut.” Wallo’alam, duka naon maksadna. [irf]

Ki Umbara Teu MaƩhan Merebot

Baheula aya hiji carita pondok nu dikarang ku A.A. Navis nu Ć©ta carita tĆ©h loba pisan meunang pujian ti para kritikus sastera, teu bireuk deui Ć©ta carita tĆ©h nyaĆ©ta Robohnya Surau Kami. Nu nulisna telenges pisan ka tokoh-tokoh nu aya di jero carita. Carita Ć©ta tĆ©h saĆ©stuna ngandung sindir-sampir keur balarĆ©a, utamana ka jelema-jelema nu ngan ukur mentingkeun kahirupan ahĆ©rat bari cul ninggalkeun jeung mopohokeun kahirupan dunya nu keur dilakonan.
Aya hiji hal nu sarua antawis carita A.A. Navis jeung kumpulan carita pondok nu dikarang ku Ki Umbara, sandiasmana H. Wiredja Ranusulaksana), nyaƩta duanana sarua ngagunakeun tokoh merebot atawa nu sapopoena sok nungguan masigit. Sakurang-kurangna dina ieu buku aya tilu carita pondok nu dijƩrona nyaritakeun polah jeung lampah merebot.
Tapi mun A.A. Navis mah ngawangun tokoh merebot tƩh hiji jelema nu hirup nyorangan alatan teu rarabi, jeung jang nepikeun pesen lampah nu kurang bener, Ki Umbara mah sabalikna. Tokoh merebot nu diwangun ku Ki Umbara nyaƩta hiji lalaki nu kolot jeung sakumaha ilaharna jelema nu sƩjƩn, merebot ge sarua bogaeun pamajikan.
Merebot nu aya dina carita A.A.Navis ditungtung caritana dipaĆ©han ku pangarangna, ku jalan maĆ©han sorangan, hal Ć©ta alatan manĆ©hna ngarasa teu guna jadi merebot. Dina carita Ki Umbara mah merebot tĆ©h malah jadi tukang mapatahan jeung tukang “ngageuingkeun” ka jalan nu hadĆ©.
Dina carita Teu Tulus PaĆ©h Nundutan dicaritakeun aya hiji jelema nu lamokot ku dosa. Sanggeus manĆ©hna kolot jeung geus pangsiun tina pagawĆ©an, manĆ©hna balik ka lembur. Rasa kaduhung dina hatĆ©na untab-untaban kusabab geus milampah polah nu salah.
Hiji waktu Ʃta jelema panggih jeung merebot. Pondokna carita jelema Ʃta ngabudalkeun kaayaan dirina nu kaduhung teu manggih tungtung, sok sieun teu bisa tobat jeung mun tobat ge sok sieun ibadahna teu ditarima ku Gusti Alloh. Mang merebot teu ƩlƩh gƩlƩng, anjeunna derekdek ngadongengkeuh hiji carita nu tujuanna pikeun mƩrƩ conto atawa eunteung keur jeleme nu disanghareupanna.
Nyak Alhamdulillah saba’da merebot ngadongĆ©ng, Ć©ta jelema tuluy baĆ© nganiatan rĆ©k tobat, tobat nu sabenerna. Ieu meureun aya nu panasaran dongĆ©ng naon nu dicaritakeun ku merebot tĆ©h nepikeun bisa ngarubah niat jelema?, mangga baĆ© Ć©ta mah diaos nyalira tina bukuna :)
Lian ti eta, dua carita pondok nu ngeunaan merebot nu sĆ©jĆ©nna nyaĆ©ta Tukang Teluh Jadi Merebot jeung Mang Merebot Dipinangsaraya. Tina sakabĆ©h caritana nu aya pakuat-pakait jeung kahirupan merebot, Ki Umbara teu maehan tokohna, malah mah anjeunna nĆ©tĆ©lakeun yĆ©n kahirupan merebot tĆ©h lolobana mah rahayu ditangtayungan ku Gusti Nu Kagungan. [ ]

20 November 2014

PERSIB : Baheula, Anyeuna, Salawasna

Saya pernah bertanya-tanya, kenapa di luar negeri sana ada saja pendukung klub-klub medioker yang begitu setia tanpa tergoda sedikit pun untuk menjadi pendukung klub-klub besar. Saya lupa, karena terlalu sering melihat jersey KW klub besar Eropa di sini, sehingga alpa pada satu hal yang sangat fundamental; bahwa mereka, pada pendukung klub medioker itu adalah pewaris sah dari para tetua moyang mereka yang sudah berdiri di tribun sejak dari dulu. Meski bukan klub medioker, namun hal tersebut terjadi pula pada Bobotoh Persib.

Tak tahu persisnya bagaimana proses pewarisan itu berlangsung, tapi yang saya ingat sekitar tahun 1995, waktu Persib berlaga di Piala Champion Asia, dengan radio kecil bermerek Sony, saya kesal dengan gelombang radio yang kemerosok, timbul tenggelam seperti di sapu angin. 

Dari pelosok selatan Sukabumi, saya dengan penuh antusias mendengarkan siaran radio pertandingan-pertandingan Persib melawan Verdy Kawasaki, Bangkok Bank, Ilhwa Chunma, Thai Farmers Bank, dan Pasay City FC. Di kamar belakang, waktu kawan-kawan saya bermain petak umpet di halaman masjid, saya justeru sibuk memutar-mutar antena radio demi mendapatkan suara yang agak jernih. Ini laga internasional! Dan saya tak boleh melewatkannya.


Persib sudah hampir seperti udara. Di kampung yang jaraknya ratusan kilometer dari Kota Bandung, kalau Persib berlaga, para tetangga pasti ramai membicarakannya. Kang Entang, seorang tetangga yang kebetulan juga pemain bola kelas Kelurahan, paling gencar kalau sudah membincangkan Persib. Kumis tebalnya yang mirip Adeng Hudaya ngajepat gagah. “Tah euy, mun maraneh jadi bek, tempo Roby Darwis. Si eta conto paling alus jang jadi bek!”

Anak-anak, termasuk saya, pasti banyak yang nimbrung mendengarkan obrolan-obrolan tentang Persib itu. Kami tidak mengenal jarak yang terbentang, bagi kami karena Persib bermarkas di Ibu Kota Jawa Barat, maka kami sebagai warga Jawa Barat adalah juga bagian darinya. Sesederhana itu. Tapi kecintaan yag lahir kemudian seringkali tak terbendung. Persib lalu menjadi semacam elan vital bagi para bobotoh yang telah dijodohkan oleh Tuhan dengan klub kebanggaannya. Ya, bukan kami yang memilih Persib, tapi Tuhan yang menakdirkan.

Silahkan tanya bobotoh, sejak kapan mereka mencintai Persib? Pasti mayoritas tidak ingat, sebab sejak lahir pun takdir menjadi bobotoh telah melekat. Ini adalah cinta yang mengalir di urat nadi. Sepakbola telah menjadi neo tribal yang mengakar. Dan saya hanyut dalam arus besarnya. Di titik ini, bobotoh tak akan pernah menghitung untung rugi dalam mendukung klubnya. 

***


Setelah pertarungan sengit di Piala Champion Asia, Persib pasang surut; baik secara prestasi maupun secara financial. Saya seringkali mengikuti beritanya dengan ngeri-ngeri sedap sekaligus ngilu. Yang paling menegangkan adalah waktu persib hampir terperosok ke jurang degradasi! 

Di tengah perjuangan Persib melepaskan diri dari ancaman degradasi, konon saat itu juga anak Mang Ayi Beutik lahir. Dan sebagai bentuk do’a, maka Mang Ayi menamai anaknya dengan sebuah nama yang sangat epic : Jayalah Persibku.

Inilah bentuk totalitas dukungan yang nyata dari seorang bobotoh kepada Persib. Barangkali orang-orang menyebutnya anomali, dan demi Persib Mang Ayi telah mempersetankan komentar miring orang-orang itu.

Akhir yang menyedihkan sebetulnya, bahwa Persib juara setelah 19 tahun penantian justeru ketika Mang Ayi telah tiada :(
Mang Ayi Persib Juara!!

***

Tanggal 8 November 2014, pagi-pagi sekira jam 6, saya sudah berada di depan Gedung Sate. Datang pagi hanya untuk merasa pedih melihat bus-bus yang dipakai rombongan bobotoh ke Palembang hancur. Rivalitas dan permusuhan telah memanen anak kandungnya sendiri. Dunia sepakbola memang keras, dan entah sampai kapan kebencian itu akan tetap subur.

Beberapa bobotoh terluka dan dengan sigap langsung ditolong anggota PMI. Ada juga yang tengah minum kopi dan merokok sambil berbincang-bincang ihwal pengalamannya berperang di tol TB. Simatupang. Katanya, dini hari tadi tol dalam kota tak ubahnya seperti sebuah medan laga yang menegangkan.

Satu jam kemudian saya pulang untuk persiapan siang hari; pesta rakyat!

***

Sebenarnya jadwal resmi arak-arakan tim Persib dimulai pada jam 14.00, tapi saya sedari jam 10.00 telah berada di dekat Gasibu dengan kamera digital di tangan. “Anterin ke Gasibu, takut keburu macet!,” adik saya males sebetulnya, tapi terpaksa juga nganterin kakaknya. 


Betul saja, sisi barat Gedung Sate sudah dipadati bobotoh yang menunggangi kendaraan roda dua. Motor tak bisa jalan, semua tertahan dalam lautan biru. Barangkali untuk mengusir suntuk karena macet, beberapa bobotoh membunyikan klakson dan meraung-raungkan motornya dengan tarikan gas yang memekakkan telinga. Ada juga suara petasan, mercon, dan flare.

Saya bergerak ke depan Gedung Sate yang juga telah dipadati bobotoh beragam umur; dari balita sampai aki-aki hadir di sana. Waktu terus berjalan, menjelang jam dua siang langit mulai kelabu dan mendung. Tak lama kemudian hujan pun turun. Karena tempat berteduh telah habis, maka saya putuskan untuk berlari ke arah jalan Banda. 

Berteduh sebentar sambil jajan cuanki, dan ngobrol dengan rombongan bobotoh Dayeuh Kolot. Kemudian meneruskan perjalanan menuju jalan Riau (Martadinata). Jalanan macet! Menjelang sore saya sampai di jalan Merdeka, tepat di depan BIP. Di sana suasanannya ramai juga. Orang-orang yang hendak atau telah selesai berbelanja ikut menonton bobotoh yang konvoi.   

Saya naik ke jembatan penyeberangan jalan Merdeka, dan menyaksikan konvoi bobotoh yang seolah tiada habisnya. Sepanjang mata memandang ke arah jalan Ir. H. Djuanda, warna biru menguasai. Sementara lagu “Halo-halo Bandung” terus berkumandang. [ ]