23 September 2015

Abidah dan Cerita-cerita Muslim Perempuan

Di Indonesia, atau setidaknya Pulau Jawa, pesantren sudah lama mewarnai semesta pendidikan dan budaya masyarakat sehari-hari. Sebagai contoh, tahun 1718, di Pasuruan berdiri Pesantren Sidogiri yang digagas para ahli agama Islam dari Cirebon. Berabad kemudian, bahkan sampai hari ini, pesantren tetap memiliki tempat terhormat di mata masyarakat sebagai salah satu penyumbang sumber daya manusia yang mumpuni.
Lembaga pendidikan yang menggali mata air hikmah dan ilmu ke-Islam-an itu, di Indonesia, telah teruji dalam berbagai situasi apa pun. Dalam pasang surut kehidupan berbangsa dan bernegara, pesantren selalu bisa menyesuaikannya dengan cepat. Maka tak heran, jika para pengampu pendidikan di pesantren, dalam hal ini para kiai, ulama, atau pun ustadz; kerap diapresiasi sebagai tokoh-tokoh yang layak dijadikan teladan.
Pada perjalanannya, karena lembaga pendidikan ini terkait langsung dengan Islam, dengan sebuah kesakralan panji-panji ketuhanan, maka hampir tak ada yang berani mengkritisi dan menggugatnya secara terbuka, karena barangkali takut dianggap melanggar batas demarkasi antara makhluk dan khaliq.
“Perempuan Berkalung Sorban” yang terbit tahun 2001, adalah salah satu karya Abidah El Khalieqy kemudian mencoba menghujam di titik ini. Novel yang kemudian diangkat ke layar lebar ini, pada akhirnya memang menjadi kontroversial, dan ini seolah kembali menegaskan bahwa resiko yang ditempuh Abidah masih diintai marabahaya, yang lahir dari sudut pandang lama tentang pesantren yang seolah ma’sum, atau terpelihara dari “dosa”.
Abidah tak berhenti sampai di situ, di tahun 2004 ia kembali melahirkan “Geni Jora” sebuah novel yang bercerita di seputar lingkungan pesantren. Kejora, tokoh utama di kisah tersebut adalah seorang santri putri. Di lingkungan tempatnya belajar, ia menemukan banyak sekali fenomena yang menggiring pada satu kesimpulan, bahwa sebenarnya kehidupan di pesantren ga bagus-bagus amat. Tak “semulia” seperti nampaknya dari luar.
Di luar iklim persaingan belajar yang tidak sehat, pelanggaran terhadap norma-norma lembaga, dan kutub pertemanan di antara santri yang berujung pada permusuhan, Kejora juga menemui kenyataan adanya skandal asmara sejenis (lesbian). Isu mengenai orientasi sex, sampai hari ini--bukan hanya pada teks fiksi, memang kerap muncul di beberapa pesantren, yang terutama memberlakukan rambu-rambu yang sangat ketat dalam pergaulan antara santri laki-laki dan perempuan.
Tak pelak, novel yang ditulis Abidah itu kembali memicu perdebatan dan kontroversi di tengah masyarakat. Menanggapi hal ini, pada wawancara dengan Endah Sulwesi di acara sebuah seminar sastra, Abidah menjelaskan; “Saya sudah terbiasa dengan pro-kontra para pembaca buku saya. Novel ‘Perempuan Berkalung Sorban’ sebenarnya lebih keras kritiknya terhadap Kitab Kuning dan para kyai, yang mereka adalah ‘para penguasa’ yang menciptakan pola pikir dan budaya. Namun saya melihat, ‘para penguasa muda’ memang lebih toleran dan responsif.”
Dari pernyataan tersebut, Abidah jelas bukan hanya sedang menyoroti kondisi kehidupan sehari-hari para santri, namun lebih tajam mengkritisi para pengampu pendidikan yang telah menjadi staus quo dan hampir tak tergoyahkan. “Kekuasaan” yang dibangun oleh aroma feodalisme dan doktrin-doktrin inilah yang coba dibongkar oleh Abidah dalam beberapa kisahnya.

Pasca ledakan film “Perempuan Berkalung Sorban” yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo, oleh beberapa kalangan, Abidah cenderung dicap sebagai pengarang perempuan Islam yang justru menyudutkan Islam, dan melumuri wajah Islam dengan rajah yang buruk.
Hal ini, di tahun 2015 kembali mencuat ketika dalam sebauh acara peluncuran buku Abidah yang berjudul “Aku Istri Teroris”, tersebar informasi bahwa dalam acara yang sama hendak diadakan lomba berbusana mirip istri teroris. Tak butuh waktu lama ketika akhirnya isu ini bergulir dan ramai diperbincangkan, terutama di media sosial. Dan Abidah lagi-lagi dilabeli stigma serupa.
Di zaman yang relatif abai terhadap sikap tabayyun (klarifikasi), setiap ucap dan laku yang seolah informasi akurat, tanpa pikir panjang kerap langsung dikunyah masyarakat tanpa reserve. Dalam kasus ini, sebetulnya Abidah pernah memberikan keterangan ketika diwawancara oleh hidayatullah.com, “Isi novel ini justru membela istri-istri terduga teroris. Sungguh amat sangat salah jika masyarakat mengecam dan mengejek mereka dengan istilah ninja (hanya karena mereka memakai cadar), apalagi penyebutan istri teroris sebagai wanita kejam ataupun ejekan lainnya,” tegasnya.
Dari situasi lebih terbuka dalam melontarkan kritik di satu sisi, dan respon reaktif terhadap kritik di sisi lain—keduanya dalam koridor wacana ke-Islama-an, karya-karya Abidah lahir dan tumbuh. Tak banyak perempuan penulis Islam dalam pergaulan sastra Indonesia yang berani memposisikan dirinya di ruang ini.
Keberanian pilihan Abidah inilah yang patut dibawa dan diperkenalkan di Frankfurt. Bukan semangat sekadar beda dan lalu berharap respon positif dari publik luar, namun soal-soal seperti ini memang layak menjadi bahan dialog bersama dengan warga dunia.
Dalam khasanah kesusasteraan dunia, Islam dan perempuan bukan tema yang asing dan bukan pula hal yang tak menarik. Pembaca Indonesia, misalnya, sudah cukup akrab dengan karya-karya Nawal el-Shadawi atau Marjanee Satrapi. Belum jika menyebut nama-nama yang muncul belakangan seperti Zadie Smith dengan novelnya "White Teeth", Laila Lalami dari Maroko dengan novelnya "Secret Son", hingga Leila Aboulela dari Sudan yang hijrah ke London dan menulis novel berjudul "Minaret".

Seperti yang pernah dilontarkan oleh Seno Gumira Ajidarma, bahwa fungsi sastra adalah untuk mendobrak tabu-tabu, di Jerman nanti, beberapa karya Abidah yang dipamerkan adalah cermin dari sepotong mozaik usaha mendobrak hal-hal yang tabu itu. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

22 September 2015

100 Komik Indonesia Bersiap Menuju Frankfurt

Kesibukan Komite Buku dan Penerjemahan jelang perhelatan Frankfurt Book Fair ternyata masih berlangsung. Beberapa komik yang akan dipamerkan pada Oktober nanti masih digodok mutu penerjemahannya.
Heryani Wahyuningrum, salah seorang anggota Komite Buku dan Penerjemahan, menjelaskan bahwa proses penerjemahan memang mendapatkan bantuan subsidi dari pemerintah.
“Namun pada pelaksanaannya penerbitlah yang mengeksekusi sampai selesai,” ujar Heryani Wahyuningrum.
Dari gambaran itulah hasil penerjemahan (yang prosesnya dibantu oleh pemerintah melalui subsidi pendanaan) kemudian diperiksa kembali. Pemeriksaan itu mutlak dilakukan untuk memastikan bahwa mutu penerjemahannya relatif terjamin baik. Itu juga berlaku untuk komik-komik yang diterjemahkan secara mandiri oleh para penerbit.
Komik Indonesia yang nanti akan dipamerkan di sana terdiri dari beberapa bahasa: Indonesia, Inggris, dan Jerman. Sampai hari ini setidaknya sudah ada 25 komik yang berhasil diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman. Salah satu komik yang sudah berhasil diterjemahkan adalah komik karya Beng Rahadian dan Sheila Rooswitha Putri.
Angka ini akan terus bertambah sampai akhir Agustus nanti. Pada akhir Agustus dan awal September itulah semua komik yang disiapkan sudah benar-benar siap untuk diberangkatkan ke Jerman. Target total komik yang akan dikirim ke Frankfurt, dengan berbagai varian bahasa, semuanya mencapai sekitar 100 buah.
Informasi di atas setidaknya bisa memberikan gambaran perihal pentingnya posisi buku komik Indonesia di mata Komite Nasional Indonesia sebagai guest of honor Franfkurt Book Fair 2015. Komnas menganggap komik adalah bagian penting dunia literasi, yang pantas mendapatkan perhatian yang tidak kalah dengan perhatian terhadap novel maupun karya-karya non-fiksi. Geliat dan pertumbuhan komik Indonesia dianggap mewakili salah satu wajah kekayaan kebudayaan kontemporer Indonesia.
Memasuki dekade 1990an, komik Indonesia memang mulai menggeliat. Di tengah serbuan komik-komik Jepang, beberapa komikus dari Jakarta, Bandung dan Yogyakarya menghidupkan komik Indonesia melalui jalur independen (baca: indie) yang memaksimalkan moda produksi fotokopian.
Memasuki alaf ke-21, geliat komikus Indonesia memasuki arah yang baru dengan berkembangnya internet dan dunia digital. Banyak komikus Indonesia menjadi juru gambar di judul-judul besar DC Comics dan Marvel Comics. Menjadi komikus profesional selanjutnya bukan lagi hal yang jarang.
Kehadiran komik di ajang Frankfurt Book Fair 2015 bukanlah yang pertama kali. Di tahun-tahun sebelumnya, sejak Indonesia hadir di Frankfurt pada 2011, komik sudah diikutkan dalam pameran buku tersebut. Pada gelaran Leipzig Book Fair 2015, yang dimaksimalkan oleh Indonesia sebagai pra-event untuk memperkenalkan diri sebagai guest of honor Frankfurt Book Fair 2015, komik Indonesia pun turut disertakan.

Jelang gelaran Frankfurt Book Fair 2015, sudah ada dua judul komik yang akan dan telah terbit dalam versi Jepang. 12 seri komik “Garudayana” karya Is Yuniarto diterbitkan oleh Digital Catapult, penerbit online dari Jepang. Untuk tahap awal Digital Catapult menerbitkan tiga jilid pertama serial komik ini. Jilid keempat dan kelima direncanakan akan terbit pada bulan November 2015. Satu komik lagi yaitu “Grey & Jingga” karya Sweta Kartika akan diterbitkan oleh penerbit yang sama. [irf ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

(Bukan) Cerita Teroris di Frankfurt

Oktober nanti di Frankfurt, di hadapan publik dunia, Indonesia sebagai tamu kehormatan Frankfurt Book Fair 2015, akan membawa beberapa buku karya penulis perempuannya. Salah satunya karya Linda Christanty. “Jangan Panggil Kami Teroris”, sebuah kumpulan hasil liputan dan investigasi Linda ke beberapa daerah di Indonesia dan Asean, akan mencoba menyapa ruang pembacaan Jerman.
Karya Linda ini diterjemahkan ke dalam Bahasa Jerman, dan akan diterbitkan Horlemann Verlag. Dalam edisi Jerman, buku ini diberi judul “Schreib Ja Nicht, Dass Wir Terroristen Sind!” Sedangkan dalam versi Inggris, Kepustakaan Populer Gramedia akan menerbitkannya dengan judul “Do Not Write We Are Terrorists”.
Seperti karya-karya jurnalisme Linda sebelumnya, kali ini ia pun menyorongkan kisah-kisah yang menuntut daya kritis pembaca dalam menyikapi berbagai hal yang seolah telah menjadi kebenaran umum.
Dalam sebuah wawancara dengan kru 17.000 Island of Imaginations, Linda mengutarakan bahwa sikap kita terhadap terorisme, misalnya, mesti ditakar dengan matang, tidak semata tunduk pada fakta-fakta yang berpolusi opini, karena hal ini akan menggiring kita pada sikap yang tidak adil.
“Kita harus bersikap kritis juga terhadap tidak hanya soal bagaimana orang menggunakan agama untuk melakukan pembenaran, tetapi kita juga bersikap kritis terhadap kata-kata yang diproduksi di dalam konflik global ini,” ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengatakan bagaimana, misalnya, situasi di Palestina atau konflik di Afrika yang harus benar-benar ditimbang, karena sulur sejarah kita ke belakang, yang para pelakunya adalah mereka yang hari ini kerap kita sebut sebagai pahlawan, adalah juga mereka yang pernah dilabeli teroris oleh kaum kolonial.
14 kisah di buku ini mendadarkan bagaimana ketidakadilan ternyata bisa terjadi dengan mengatasnamakan apa saja; demokrasi, komunisme, nasionalisme, suku, bangsa, ataupun agama.
Hal ini Linda menjelaskan, “Bagi saya setiap isme-isme; nasionalisme, kemudian agama apa punlah tidak hanya Islam, ya Kristen, Budha, kemudian Sosialisme, itu adalah sebuah ide atau gagasan, yang bisa kita nilai hanyalah prakteknya. Apakah itu berguna bagi manusia atau tidak, apakah bisa membuat orang hidup dalam damai, saling menghargai, aman, dan terjamin kehidupannya atau tidak.”
Buku ini memberi tempat yang lapang kepada mereka-mereka yang diabaikan, kepedihan yang tak diakui, ketersisihan yang harus ditelan dengan pahit dan kesulitan orang-orang di dalamnya untuk menghadapi dan memahami dunia di sekelilingnya.

Kehadiran buku ini di Frankfurt, hampir pasti, akan menyodorkan wajah Indonesia yang tidak hanya elok, yang mooi dalam citraan eksotisme, melainkan juga memiliki wajah yang bopeng, yang tidak rapi, penuh bilur-bilur luka. [irf ]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

10 September 2015

Teater Rakyat

Oleh : Bre Redana

Beruntung, saya berkesempatan menonton La Bohème di London bulan lalu. Sekarang di Eropa makin jarang diproduksi opera klasik. Dia surut dilibas gebyar musikal, tontonan ringan nyanyi-nyanyi yang memenuhi West End, kawasan gedung-gedung pertunjukan di London. Yang sedang top sekarang musikal berjudul Thriller, tentang kehidupan Michael Jackson.

La Bohème, opera empat babak karya Puccini, digelar di Royal Albert Hall, gedung opera kuno, terletak di South Kensington, di depan kastel Putri Diana dulu yang kini ditempati putranya, Pangeran William, dan istrinya yang cantik, Kate Middleton.

Diakrabi terutama oleh masyarakat Eropa sejak akhir tahun 1800-an, La Bohème biasanya dipentaskan di panggung prosenium. Begitu layar dibuka, orang akan dibuat kagum dengan dekorasi menakjubkan, menggambarkan tempat tinggal kaum bohemian di Perancis pada zamannya, ataupun pesona pusat keramaian Paris, Latin Quarter.

Keistimewaan kali ini, La Bohème dipentaskan di panggung melingkar atau arena. Seperti teater rakyat, sederhana dan dekat penonton. Seperti teater rakyat pula, setiap menjelang pergantian babak, kita melihat para pemain ikut berbenah menata set dan dekorasi panggung. Begitu panggung beres, pelan-pelan mereka masuk lagi ke tokoh yang diperaninya.

Wajar dan menghanyutkan. Cerita yang telah diakrabi sebagian orang ini tetap menyentuh. Saya pribadi, selain tersentuh oleh hubungan cinta kasih tokoh utama Mimi dan Rodolfo, terpesona dengan tokoh Musetta, yang diperankan secara luar biasa oleh Zulimar Lopez-Hernandez. Ketengilan cewek ini mengingatkan pada salah satu teman di Jakarta. Tahu begini, saya ajak dia ke London.

Pertunjukan klasik di manapun selalu melandasi dirinya dengan nilai-nilai yang mutlak. Tentang cinta dalam Le Bohème, misalnya, ia adalah cinta tanpa reserve. Pokoknya cinta sampai mati.

Bentuk pertunjukan yang sewajarnya, nilai-nilai sederhana, hitam adalah hitam, putih adalah putih, menjadikan saya menikmati tontonan ini seakrab saya menikmati wayang, ketoprak, sandiwara keliling, dan lain-lain teater rakyat yang bersama tradisinya saya ikut bertumbuh. Dalam tontonan seperti itu, sebagaimana cerita silat ataupun koboi, tidak ada wilayah abu-abu. Model film koboi yang dengan pistol berisi enam peluru membuat 20 penjahat tersungkur, saya yakin masih banyak penggemarnya.

Soalnya, bawah sadar banyak orang dipastikan masih menyimpan nilai-nilai hitam putih itu. Pokoknya yang benar menang yang salah kalah. Alam bawah sadar ini tidak bisa seketika ditumpas dengan dalih dakik-dakik, bahwa konon sekarang zaman makin kompleks, alternatif tak lagi mudah dicari, pilihan kian sulit.

Seorang peneliti asing belum lama ini bertanya kepada saya, apa perbedaan signifikan kerja kewartawanan sekitar 25 tahun lalu dan sekarang. Saya jawab seadanya. Dulu, kami bertemu narasumber di rumahnya. Karena terpincut primadona ketoprak, saya uber dia sampai rumahnya di desa dekat hutan jati di Blora. Malam-malam pula. Kami terbiasa mengenali orang dalam  gestalt-nya. Kini, kami bertemu narasumber di mal. Sosok itu berada di lingkungan artifisial.

Yang kedua, dulu kami menulis pakai mesin ketik. Kalau petang kantor bergemeretak suara tuts, apalagi beberapa orang punya kebiasaan menekan tuts keras-keras. Ada teman, yang sekarang telah almarhum, kadang mengetik dengan membuka baju, hanya mengenakan singlet. Wartawan-wartawan yang lain tahu kalau dia mengetik dengan bersinglet, tandanya besok tulisannya akan jadi headline.

Saya tambahi jawaban agar kelihatan bermutu, kekuatan ujung jari dalam melakukan gerak motorik menjadikan tubuh sebenarnya juga melakukan krida seiring kerja otak. Orang yang berlatih kanuragan paham hal itu.

Ini beda dengan kerja menggunakan komputer. Komputer berkemampuan memanipulasi otak kita. Memori di otak dan memori artifisial di komputer campur baur, kadang sampai gawat, membuat orang tak lagi paham mana menjiplak mana tidak.

Anda tahu, tanya saya.

Peneliti itu manggut-manggut, tak jelas paham atau bingung. [ ]

Mengapa Bukan Saya

Oleh : Bre Redana

Rasanya hal terpenting yang disampaikan oleh Pak Jakob Oetama, pemimpin Kompas Gramedia, ketika menerima gelar Doktor Kehormatan alias Doktor Honoris Causa dari Universitas Sebelas Maret di Jakarta beberapa waktu lalu adalah pertanyaan: mengapa saya?
Itulah yang kemudian dijawab Mendikbud M Nuh. Dengan segar, menteri yang berlatar pendidikan sains ini mencontohkan rumus matematika, untuk sampai ke kesimpulan mengenai bukti kepantasan tersebut.
Masih dengan agak kocak, ia menyebut Pak Jakob sebagai ”guru”. Ia jelaskan pengertian guru secara etimologis. ”Gu itu artinya kegelapan. The darkness of ignorance. Saya tidak mau menggunakan istilah kebodohan. Dalam kegelapan itu ada ru yang berarti light, sebuah cahaya yang memberi penerangan,” begitu kurang lebih ucapan M Nuh.
Ketika menyebut media massa sebagai dunia yang digeluti oleh Pak Jakob, ia juga menafsirkan pengertian massa dalam ranah sains. Di tengah pengertian massa seperti itu, ia sempat menyebut media sebagai semacam endocrine.
Meski seperti main-main, dengan itu sebetulnya telah ditunjukkan pengertian media yang kompleks, berhubungan dengan kesadaran (conscious mind) manusia. Endocrine adalah zat yang berhubungan dengan kegiatan hormonal dalam tubuh manusia. Melalui kegiatan hormonal ini, tubuh (body) dan otak (mind) terlibat secara terus-menerus dalam suatu interaksi yang melahirkan kesadaran.
Studi neuroscience menjelaskan, implementasi otak berupa pikiran bisa menyebabkan situasi emosi yang implementasinya lewat tubuh. Sebaliknya, tubuh pun bisa mengubah lanskap otak, yang artinya juga mengubah substansi pikiran. Keadaan otak, yang berhubungan dengan situasi mental, berpengaruh pada tubuh. Situasi tubuh terpetakan kembali oleh otak, yang lalu menghasilkan situasi mental. Begitu interaksi tubuh dan otak berlangsung secara terus-menerus, seperti tari tango.
Perubahan sedikit saja pada otak bisa memengaruhi tubuh (dalam hal ini bayangkan, lepasnya hormon tertentu karena panah asmara misalnya, menyebabkan jantung berdebar-debar). Atau sebaliknya, perubahan kecil pada tubuh, taruhlah gigi Anda lepas, akan berpengaruh besar pada otak, begitu otak menerima dan memetakannya sebagai rasa sakit luar biasa.
Interaksi antara tubuh dan otak terjadi lewat perantara kelenjar-kelenjar tertentu, seperti endocrine, yang di dalamnya mengandung organisme yang lebih kompleks lagi. Sederhananya, zat-zat perantara itu bisa disebut sebagai media.
Tafsir media semacam ini sungguh tidak main-main. Bahkan di dalam tubuh manusia sendiri, yang oleh sebagian sistem kepercayaan diyakini sebagai bagian dari dunia (istilahnya dunia kecil, mikrokosmos), media itulah yang menentukan segala-galanya. Dari situ, orang yang berkesadaran, eling, merasa selalu perlu untuk menjaga baik pikiran maupun tingkah laku.
Dalam bahasa Pak Jakob yang sangat diakrabi oleh seluruh anak buahnya adalah kesanggupan dan kemampuan untuk berterima kasih dan bersyukur.
”Praci dina,” begitu Pak Jakob mengutip bahasa Jawa, yang artinya tiada hari tanpa syukur dan terima kasih. Ia melanjutkan, dalam hidup kita tidak ada kata kebetulan, tetapi selalu dalam penyelenggaraan Ilahi (Providentia dei).
Menjaga tingkah laku, menjaga kesantunan, atau secara lebih luas kontrol atas tubuh, adalah bagian dari menjaga otak dan pikiran. Selalu ada pergulatan antara kontrol versus pengumbaran nafsu tubuh, seperti disimbolkan dengan sangat bagus dalam jagat pewayangan lewat keberadaan Pandawa versus Kurawa.
Pengumbaran nafsu tubuh ini dalam masyarakat kontemporer memanifestasi dalam bentuk apa saja, dari konsumsi berlebihan, bermewah-mewah kelewat batas, sampai ke hasrat atas kekuasaan yang membabi buta dan tak tahu malu.
Bagi kalangan ini, pertanyaannya bukan mengapa saya, melainkan mengapa bukan saya… [ ]