05 October 2015

Kehidupan Warga Kota dalam Karya Muhammad "Mice" Misrad

Setiap hari Minggu, di harian Kompas selalu ada rubrik kartun yang temanya beragam, dari kritik sosial politik sampai parodi kehidupan sehari-hari. Salah satu yang cukup menyita perhatian pembaca yaitu “Mice Cartoon”. Strip komik yang di usung Mice atau Muhammad Misrad adalah tentang kondisi kontemporer kehidupan sehari-hari. Dengan gaya satirenya, Mice memotret bagaimana laku hidup sehari-hari layak bukan hanya untuk ditertawakan, namun juga mencuatkan insight baru yang kerap luput disadari.
Kartunis kelahiran Jakarta 45 tahun lalu itu adalah lulusan Desain Grafis, Fakultas Seni Rupa, Institut Kesenian Jakarta. Mulanya ia berprofesi sebagai grapic desainer di salah satu biro konsultan desain di Jakarta. Sejak tahun 1997, ia memutuskan untuk menggeluti profesi sebagai kartunis. Ia bersama Benny Rachmadi kemudian membuat strip komik di harian Kompas, yang mulai 4 Juli 2010 “pecah kongsi”. Ruang yang semula diisi oleh karya kolaborasi tersebut kemudian diganti oleh “Mice Cartoon”.
Selain rutin mengisi di media cetak, Benny & Mice pun telah beberapakali melahirkan buku, di antaranya; “Jakarta Luar Dalem”, “Jakarta Atas Bawah”, “Lagak Jakarta”, “Talk About Hape”, “100 Tokoh yang Mewarnai Jakarta”, “Lost in Bali 1”, “Lost in Bali 2”, dan lain-lain. Perpisahan Benny dan Mice sempat disayangkan oleh beberapa kalangan, terutama para pecinta kartun yang kadung menjadi penggemar “duet maut” tersebut. Namun mereka berdua kemudian menjawabnya dengan karya yang tidak meninggalkan ciri khas yang selama ini mereka usung, yaitu satire, nakal, dan kocak. Pasca berjalan sendiri, Mice telah menerbitkan beberapa karya, antara lain; “Little Mice, Game Over!!”, dan “Kamus Istilah Komentator Bola“.
“Kalau saya sih sederhana aja, mungkin udah kelamaan kali kita berdua ya, 20 tahun, bosen juga gitu, bosen dalam tanda kutip ya,” ujar Mice ketika diwawancara oleh “Tukar Posisi”-- sebuah portal yang menyajikan pelbagai informasi dan tips, ihwal perpisahannya dengan Benny.
Sejak masih bersama Benny, karya Mice kerap menampilkan potret keseharian yang tajam. Terkait ini Mice menjelaskan, “Banyak yang bilang karya-karya saya itu hasil observasi atau penelitian yang dalam, padahal engga juga sebenarnya. Karena karya saya lebih dekat keseharian, tentang orang Indonesia dan khususnya orang Jakarta dan kota-kota besar, dan tema-tema itu saya tinggal mencomot aja dari kejadian yang nyata.”
Dalam berkarya, tokoh utama yang dibangun Mice untuk menyampaikan pesan-pesannya sering digali dari orang-orang terdekat. Karakter itu ia pertahankan secara konsisiten. “Dan saya tetap bertahan dengan karakter saya sendiri. Saya menciptakan satu karakter baru yang gendut item yg kumisan itu, mungkin pembaca yang ngikutin karya saya tahu lah ya, itu wujudnya memang ada, namanya Leon. Tapi kadang kalau tanpa ditemenin sama si Leon, atau misalnya sedang bosan sendiri, saya menciptakan tandemnya bisa keluarga saya; bisa anak saya, istri saya, dan akhirnya bisa bermacam-macam tokoh yang bisa mendampingi saya”, ujar Mice menjelaskan.
Dalam dunia yang ia geluti, seperti umumnya di berbagai ladang kehidupan, ada suka dan duka yang menyertai. “Kalau karya saya bisa menghibur oranglain sekaligus bisa menghibur diri sendiri, itu yang sangat saya syukuri. Dukanya kalau besok harus terbit, dan belum ada tema yang diangkat atau ide cerita, itu bisa bikin saya guling-gulingan di kasur tiga jam sendiri,” ujar Mice.
Di Frankfurt Book Fair 2015, Indonesia memberikan kesempatan yang cukup lapang kepada para kartunis untuk memamerkan karya-karyanya. Dunia kartun dan komik, di Indonesia--seperti kata Beng Rahadian, sedang indah-indahnya. Hal ini berdasar pada beberapa hal, yaitu; keragaman gaya, keragaman genre dan tema, mulai menjadi media ekspresi populer anak muda, menjadi buruan penerbit, event yang banyak, tumbuhnya komik di institusi pendidikan formal, kekuatan komunitas, berkontribusi dalam pergaulan internasional, menjadi media darling untuk liputan budaya, sosio urban, dan pendidikan, serta yang terakhir—dan ini modal utama dan pertama, yaitu keras kepala para pelakunya.
Di kondisi seperti inilah karya Mice hadir mewarnai dunia kartun Indonesia. Karyanya akan ikut hadir di Frankfurt. Kehidupan sehari-hari warga kota yang kerap berada dalam kegagapan, atau larut mengikuti arus perkembangan zaman, serta peristiwa sehari-hari yang kadang lebih aneh dari fiksi, berhasil Mice potret dalam gambar dan teks yang menggelitik.

Riwayat panjang perjalanannya dalam mengkhidmati dunia kartun, kiranya akan terus berlanjut. Pada sebuah kesempatan Mice menegaskan, “Walaupun saat ini misalnya ada pilihan lain, saya tetap memilih menjadi kartunis.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

04 October 2015

Azhari dan Kisah-kisah Luka dari Aceh

Aceh ialah riwayat panjang tentang luka. Negeri Serambi Mekah ini tak lekang dihajar konflik, sejak dari masa kolonialisme sampai pasca tsunami dahsyat di penghujung 2004, gejolak selalu ada. Kabar yang menguar ke luar hampir selalu diwakili oleh media. Berita bertubi-tubi di koran, majalah, radio, dan layar televisi. Sangat sedikit yang mengabarkannya melalui karya sastra. Pendekatan hingar-bingar media kerap tak menyisakan ruang untuk kisah, yang ada hanya timbunan peristiwa.
Dalam kondisi seperti ini, Azhari--seorang pemuda Aceh, datang dengan berbagai kisah yang memotret serangkaian luka dan kepiluan yang bersemayam di tanah kelahirannya.
Dalam rentang tahun 2001 sampai 2004, beberapa cerita pendeknya kerap dimuat di Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, dan Kompas. Ia menelusup di antara teks berita yang terhampar di surat kabar. Karya yang tercecer tersebut kemudian diterbitkan menjadi buku oleh penerbit AKYPress, dan diberi judul “Perempuan Pala”.
Ada 13 cerita pendek yang dihimpun di buku tersebut. Semuanya berkisah tentang Aceh dengan segala cabik dan bilurnya. Benang merah yang diceritakan Azhari selalu berpangkal pada lembaga kehidupan yang mula-mula, yaitu keluarga. Utamanya tentang ayah dan ibu yang hubungannya menjadi koyak ditelikung konflik.
Maka tak heran jika di halaman persembahan, Azhari menulis: “Untuk perempuan Aceh, dari kampung manapun, yang sedang menunggu lelakinya pulang. Kelak dari ingatan dan mulut kalian akan melahirkan banyak cerita.”
Sebuah ungkapan yang pilu dan begitu mengharukan.
Pada kisah “Yang Dibalut Lumut”, menyeruak dengan tajam aroma kehilangan. Azhari mengisahkan tentang mayat-mayat yang mengapung di sungai, begitu banyak, sampai kehadirannya sudah tidak lagi memicu kekagetan. Hanya satu yang dikhawatirkan Ranie—tokoh utamanya, yaitu kalau bapaknya yang telah hilang mengapung menjadi mayat di sungai itu. Ibunya yang gila, atau dalam bahasa Ranie--“Sebenarnya sejak bapak diculik, ibu memang agak payah, suka mengurung diri di kamar, tak hendak mengerjakan sesuatu apapun,” selalu ia beri ikan bakar, sebab “Ibuku gila, kata orang. Tapi orang gila juga perlu makan kan?”
Ibu Ranie, perempuan yang kerap mengurung diri pasca suaminya diculik dan tak pernah kembali itu, adalah wujud nyata dari kehilangan yang mendalam. Perempuan Aceh, yang meskipun dalam berbagai narasi sejarah diwakili oleh karakter yang kuat semacam Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan Inong Balee—baik sebagai pasukan janda-janda pahlawan pimpinan Malahayati, maupun bagian dari laskar GAM, namun tak sedikit juga yang tak berdaya di hadapan angkara. Mereka, semacam ibu Ranie itu, adalah korban dari kobar perang yang terus berkecamuk.
Dalam kisah lain yang berjudul “Hikayat Asam Pedas”, kali ini seorang nenek yang miskin mesti diringkus oleh pihak yang tengah bertikai. Mulanya Nenek Sani hendak membuat Asam Pedas—masakan khas Aceh yang terbuat dari krimen, ikan laut dengan banyak tulang, dan bumbu rempah-rempah. Karena miskin, ia kemudian mengumpulkan bumbu Asam Pedas itu dari para tetangganya satu persatu. Adapun ikan krimen ia dapatkan dari Pawang Lemplok (seseorang yang dimusuhi orang gunung karena dianggap sebagai kaki tangan penguasa). Maka ketika ia memasak Asam Pedas, dan masakannya itu hampir matang sempurna—sebelum bisa dinikmati, Nenak Sani keburu ditangkap orang gunung yang mencurigai dirinya waktu menemui Pawang Lemplok. Ya, Nenek Sani adalah contoh tentang orang-orang yang tidak tahu apa-apa namun ikut menjadi korban di tengah konflik yang terjadi.
Ada pula cerita “Menggambar Pembunuh Bapak”. Kisah ini kiranya adalah pendadaran yang jitu dalam menggambarkan kondisi Aceh pasca konflik berkepanjangan. Binhad Nurrohmat dalam sebuah catatannya tentang buku “Perempuan Pala” menulis, “Cerita ini gambaran yang menyentuh tentang tragedi yang banyak menimpa lelaki dewasa di Aceh yang terbunuh maupun hilang. Cerita ini secara samar mengatakan tentang hilangnya atau terputusnya tali antargenerasi lewat cara yang sangat memilukan. Ada bibit dendam dan juga percik rindu yang memerihkan batin manusia yang telah tertorehkan sejak usia dini, dan inilah yang kemudian bisa menajid bom waktu yang kelak meledak.”
Buku “Perempuan Pala” karya Azhari yang menjelentrehkan luka Aceh, rupanya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul “Nutmeg Woman” dan terbit di tahun 2015. Beberapa cerita pendek karya penulis kelahiran 1981 ini berhasil meraih penghargaan, di antaranya; “Hikayat Kura-kura Berjanggut” terpilih sebagai salah satu cerita pendek terbaik Indonesia 2009 versi Pena Kencana, sementara “Pengantar Singkat untuk Rencana Pembunuhan Sultan Nurruddin” terpilih di tahu berikutnya pada penghargaan yang sama. Sampai hari ini, selain bahasa Inggris, beberapa karya Azhari telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis, Jerman, Belanda, dan Swedia.

Kisah karya penulis yang pernah menerima fellowship dari International Institute for Asian Studies ini akan hadir di Frankfurt Book Fair 2015, Oktober mendatang. Keberanian untuk menghadirkan luka Aceh di hadapan publik dunia, mencerminkan tentang kondisi Indonesia hari ini, di mana masyarakat dan juga pemerintah telah begitu terbuka terhadap riwayat berdarah di Negeri Serambi Mekah tersebut. Tujuannya tentu bukan hendak menyulut luka baru, namun meneguhkan rekonsiliasi antar pihak yang bertikai, dengan sejumput pesan; bahwa konflik tidak memberikan apa-apa selain kepiluan yang berparade di titian waktu dan generasi. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

01 October 2015

Lily Yulianti Farid dan Kisah Perempuan yang Meledak

“Ketika engkau lahir, malam seperti meledak.” Ini adalah kaki dashi dari cerita pendek berjudul “Ayahmu Bulan, Engkau Matahari” karya Lily Yulianti Farid. Cerita pendek tersebut terhimpun dalam antologi yang berjudul sama, yang terbit di tahun 2012. Di jagat sastra, Lily bukanlah nama lama, ia justru lebih dulu dikenal sebgai seorang jurnalis di berbagai media. Namun minatnya pada cerita—ia mengarang sejak kecil, membuatnya mencoba kembali menulis beberapa kisah.
Buku pertamanya yang berjudul “Makkunrai” diterbitkan pada bulan Maret tahun 2008 oleh Nala Cipta Litera. Seperti sub-judul yang tertera di sampul buku, yaitu “Dan 10 Kisah Perempun Lainnya”, Lily mendadarkan kisah-kisah perempuan dengan berbagai latar usia dan kehidupan dari sudut pandang perempuan. Seperti pada cerita “Dapur” misalnya, penulis hendak mengatakan bahwa posisi perempuan, di luar kodrat biologis, sesungguhnya sama dengan laki-laki. Perempuan berhak untuk memilih dan menentukan nasibnya sendiri, ia punya kehendak bebas yang tak boleh diringkus oleh atau atas nama apapun.
Sementara kisah “Makkunrai” yang juga dijadikan judul buku, adalah tentang perempuan yang tak mau tunduk pada pandangan miring kakeknya—simbol dominasi kaum laki-laki, yang mempercayai kutukan mitos, lantaran perempuan tersebut lahir pada saat adzan Jum’at berkumandang. “Makkunrai” (bahasa Bugis) yang berarti perempuan, menegaskan bahwa di tangan rezim patriaki, perempuan tak pernah kehilangan akal untuk terus melakukan perlawanan.
Sebagai seorang perempuan, dan menulis cerita tentang perempuan, tak membuat Lily kemudian menjadi tak adil menyoal permasalahan yang hadir di kehidupan. Pada kisah “Koruptor di Rumah Nenek Haji”, ia menyorongkan satu wajah lain, bahwa di lingkungan sosial tempat pertarungan ego, perempuan pun bisa menjadi penghuni barisan depan dalam hal mencuri uang rakyat. Korupsi tak pernah membeda-bedakan gender, ia bisa hinggap di jenis kelamin apapun, termasuk perempuan.
Selang beberapa bulan, buku kedua kumpulan cerita pendek karangan Lily terbit. Kali ini dengan judul “Maiasaura” yang diterbitkan oleh Panyingkul! Pada buku keduanya, Lily masih tetap menempatlan sosok perempuan sebagai tokoh sentral. Karyanya ini terdiri dari 9 buah cerita, yang ia tulis dalam kurun waktu April sampai Juni 2008. Profesinya sebagai seorang jurnalis, barangkali membuatnya relatif mudah untuk mendapatkan “bahan mentah” yang kemudian ia susun ke dalam narasi fiksi. Dalam riwayat pendidikan formalnya, mantan wartawan Kompas ini pernah mengambil gelar master pada studi "Gender and Development" waktu menempuhnya di Australia.
Pada zaman pra-sejarah, tepatnya ketika era dinosaurus, tersebutlah Maiasaura, yaitu jenis dinosaurus yang bentuknya menyerupai kadal. Para arkeolog yang meneliti menyebutnya sebagai “good mother lizard”. Sosok ibu baik yang melekat di hewan ini yang kemudian mengispirasi Lily untuk meminjam namanya untuk ditulis dalam kisah yang ia bangun.
Dalam antologi “Maiasaura”, perempuan yang diceritakan Lily tidak hanya sosok lokal, namun berlatar global, Palestina misalnya. Di belahan bumi yang sampai hari ini masih bergolak tersebut, Lily mengisahkan tentang perjuangan seorang perempuan Palestina ketika masuk pos pemeriksaan tentara Israel. Tokoh ini tak jarang mempertaruhkan nyawanya demi bisa melewati pos tersebut. Keluasan dan keragaman latar cerita menegaskan satu hal, bahwa di belahan bumi manapun, konflik antara perempuan dan dunia tempatnya hidup—atau yang terjadi lebih sering penindasan terhadap perempuan, selalu memiliki wajah yang sama. Isu tentang nasib perempuan oleh karenanya menjadi lintas geografis.
Empat tahun berselang, sejak “Maiasaura” terbit, kumpulan cerita pendek “Ayahmu Bulan, Engkau Matahari” lahir di tahun 2012. Buku ini berhasil masuk 10 besar Longlist Kathulistiwa Award 2013. Dan lagi-lagi, kali ini pun Lily tetap konsisten mengabarkan dunia perempuan. Dengan latar beragam usia, budaya, ras, agama, penulis menatah berbagai kisah tentang perempuan yang termajinalkan secara politik, kisah cinta segitiga, persoalan gender, dan pencarian identitas.
Lily yang juga salah satu pendiri Rumata Artspace dan penggagas Makassar Writers Festival, dalam karya-karyanya berhasil menuliskan kegelisahan-kegelisahan perempuan di tengah kehidupan yang kerap tak berpihak. Sapardi Djoko Damono menyebut penulis kelahiran Makassar 1971 ini sebagai “penulis perempuan yang memiliki gaya yang patut diperhitungkan.”
Oktober ini, Indonesia yang menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015, menyediakan ruang yang cukup lapang bagi para penulis perempuan untuk memamerkan karya-karyanya di hadapan publik dunia, termasuk karya Lily Yulianti Farid.


Meskipun belum terlalu lama berkecimpung di ranah sastra Indonesia, namun karya-karya Lily berhasil memperkaya sudut pandang dan gaya berkisah di karangan para pengarang. Kiranya anak-anak ruhani Lily yang telah dilepas bebas ke haribaan pembaca, di tengah “kegelapan” dominasi dunia laki-laki--seperti pada sebuah kaki dashi yang pernah ia tulis; “Ketika engkau lahir, malam seperti meledak.” [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Arswendo Atmowiloto dan Kehangatan Keluarga

Tayangan di televisi Indonesia, hari ini, kerap dianggap banyak menyajikan program yang tak bermutu. Perilaku menyimpang anak-anak, atau kecenderungan “dewasa” sebelum waktunya, seringkali dilekatkan kepada media populer tersebut yang daya jangkaunya memang sangat “mengerikan”. Siapapun bisa mengakses tayangan televisi.
Remotivi, sebuah lembaga pusat kajian media dan komunikasi, pernah membuat video yang menyindir dengan pedas kualitas dan posisi tv yang nyaris nir-manfaat. Dalam video tersebut anak-anak SD bernyanyi, liriknya sebagai berikut :
“Kita jadi bisa pacaran dan ciuman karena siapa? / Kita jadi tahu masalah artis cerai karena siapa? / Kita pintar dandan dibimbing tv / Kita jadi lebay dididik tv / tv bak pelita pembuat gelap gulita / Jasamu tiada…. ‘gimana mau maju, nontonnya itu’.”
Bre Redana, dalam “Catatan Minggu” di harian Kompas menulis, “Sebelum membaca menjadi kebiasaan banyak orang, televisi keburu masuk ke seluruh rumah tangga sampai kampung-kampung. Tak perlu heran kalau televisi kita kampungan. Empati, tepa selira, tidak ada.”
Di tengah kondisi seperti ini, terutama sangat langkanya tayangan yang mendidik, barangkali beberapa di antara kita teringat kembali dan merindukan satu tayangan yang pernah hadir sejak tahun 1996 dan berakhir tahun 2005, yaitu sinetron “Keluarga Cemara”. Sinetron yang diangkat dari buku karangan Arswendo Atmowiloto, menceritakan tentang sebuah kelurga miskin yang ceria menghadapi kehidupan. Alih-alih mengeluh, keluarga ini justru menjalani hari-harinya dengan kerja keras dan penuh kehangatan.
Arswendo, lewat Abah, Emak, Euis, Ara, dan Agil—tokoh-tokoh yang ada si sinetron tersebut, pernah menghangatkan keluarga Indonesia dengan kisah-kisah keseharian, sederhana, dan bertabur kearifan. Keluarga seperti disebut Pramoedya Ananta Toer dalam buku “Menggelinding” sebagai : “Lembaga yang menjadi pangkal. Mula kehidupan manusia. Payung yang melindungi keturunan manusia daripada hujan dan terik pergaulan hidup”—dalam “Keluarga Cemara” benar-benar tampil dengan penuh kegembiraan.
Sebagai sebuah buku, “Keluarga Cemara” pertamakali terbit tahun 1981. Dan di tahun 2013 penerbit Gramedia Pustaka Utama kembali menerbitkannya. Kehadiran (lagi) buku ini, barangkali bisa menjadi wakil dari gambar lain tentang keluarga, yang hari-hari ini—terutama lewat (lagi-lagi) televisi, telah banyak mempertontonkan kehancuran, retak karena perceraian, atau kehangatan semu sebagai tuntutan bingkai kamera.
Dalam kehidupan kontemporer, tak bisa dipungkiri bahwa hubungan antar anggota keluarga, meskipun tidak pecah karena kasus perceraian misalnya, namun keakraban yang biasanya terjalin mulai menjadi usang. Dalam buku “Seekor Burung Kecil di Naha”, Linda Christanty sempat menjelaskan bahwa “Orangtua-orangtua di Indonesia mulai merasa bahwa anak-anak mereka yang di masa kanak-kanak begitu lucu dan manis, telah menjelma menjadi mesin atau robot yang dingin akibat rutinitas. Kebiasaan berkumpul dan sifat komunal makin berkurang begitu masyarakat semakin urban.”
Kiranya kondisi seperti ini, dalam lingkup karya Arswendo, bisa diwakili oleh buku “Dua Ibu” yang mula-mula terbit di tahun 1980, kemudian diterbitkan lagi tahun 2009. Karya ini mengisahkan tentang posisi ibu yang begitu sentral, sehingga tak lekang untuk terus dirindukan. Ibu dengan maqom seperti itu, tidak dimonopoli oleh hubungan darah (ibu kandung), namun bisa juga hadir pada sosok-sosok perempuan yang tulus dalam merawat setiap anak manusia.
Seperti dalam “Dua Ibu”, seorang perempuan dikisahkan tidak hanya merawat anak kandungnya, namun juga delapan anak lain yang tak punya hubungan darah sama sekali dengan dirinya. Waktu yang kemudian menumbuhkan anak-anak menjadi dewasa dan lalu berkeluarga, dalam cerita yang ditulis Arswendo tersebut, ternyata tak sepenuhnya membuat hubungan ibu-anak menjadi kering.
Salah seorang anaknya menulis, “Tiba tiba aku rindu Ibu. Kalau rindu, aku bisa berkaca pada tempat penyimpanan beras. Berkaca di situ, sambil berkata Ibu, aku rindu dan Ibu pasti mendengar dan membalasnya.” Sebuah fragmen yang liris tentang sosok yang tak lindap digerus waktu. Sosok yang tak dilupakan begitu saja, meski “terjebak” dalam derap zaman yang kerap membuat anak “menjadi mesin atau robot yang dingin akibat rutinitas.”
Kehadiran karya-karya Arswendo Atmowiloto di Frankfurt Book Fair 2015, terutama yang memotret tentang kehidupan keluarga, kiranya bisa ditafsirkan sebagai sebuah perlawanan terhadap potret buram keluarga kiwari, yang sepertinya kerap dipersepsikan sebagai sebuah lembaga yang amat rapuh, yang ikatan status dan emosinya rentan dicerai-beraikan.
Manusia dalam kesejatian fitrah, meski telah begitu pekat oleh polusi-polusi hubungan sosial, tetap tak bisa dilepaskan dari yang namanya keluarga, terutama ibu. Ia pasti merindukan kehangatannya. Dalam “Dua Ibu” Arswendo menulis; “Padanya aku tak pernah sangsi bahwa aku mencintainya, dan padanya aku tak pernah sangsi bahwa ia mencintaiku”. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.

Dian Pelangi dan Semangat Lautan Jilbab

Tahun 1980-an, ketika jilbab atau sekarang banyak orang menyebutnya dengan hijab—identitas wanita muslim, masih belum leluasa tampil, budayawan Emha Ainun Nadjib sempat menulis puisi “Lautan Jilbab”. Berikut sepenggal baitnya :
“Jilbab adalah keberanian di tengah hari-hari sangat menakutkan / Jilbab adalah percikan cahaya di tengah-tengah kegelapan / Jilbab adalah kejujuran di tengah kelicikan / Jilbab adalah kelembutan di tengah kekasaran dan kebrutalan / Jilbab adalah kebersahajaan di tengah kemunafikan / Jilbab adalah perlindungan di tengah sergapan-sergapan.”
Pada saat yang bersamaan, Jama’ah Shalahuddin kampus Universitas Gajah Mada mementaskan “Lautan Jilbab”. Pasca pementasan tersebut, Niels Mulder—Sosiolog Belanda yang punya perhatian pada perkembangan Indonesia, mengatakan bahwa sejak itu jilbab perlahan ikut menjadi budaya masyarakat.
Memasuki tahun 2000-an, ketika gelombang dakwah mulai banyak menyentuh para public figure, terutama mereka yang bergiat di budaya populer, perkembangan jilbab semakin tak terbendung. Busana ini mulai beririsan dengan majalah wanita, koran, media sosial, serta perancang busana. Di mana-mana terbentuk komunitas dengan ketertarikan pada jilbab/hijab. Di tengah kondisi seperti inilah, Dian Wahyu Utami, atau lebih dikenal dengan Dian Pelangi—salah seorang perancang busana, hadir dan melahirkan karya-karya yang menarik.
Perempuan kelahiran Palembang ini membawa angin segar terhadap perkembangan mode di Indonesia. Tahun 2010, pasca diwawancara oleh CNN, popularitas Dian semakin melambung. Tak lama berselang, anggota termuda dari Asosiasi Perancang Pengusaha Muda Indonesia (APPMI) itu kemudian meluncurkan buku yang berjudul “Hijab Street Style”. Buku ini berisi berbagai gaya berbusana para muslimah yang ia temui di beberapa negara yang pernah ia kunjungi. Tahun 2014, Dian melahirkan buku “Brain Beauty Belief; Panduan Menjadi Muslimah yang Cerdik, Cantik, dan Baik.”
Di penghujung tahun 2011, Dian diundang ke Paris untuk mengikuti The International Fair of Muslim World di Le Bourget. Selain itu, baru-baru ini juga Dian masuk dalam daftar 500 tokoh mode berpengaruh dunia versi Majalah Business of Fashion. Pengalaman ini semakin membuatnya menjadi salah satu perancang busana yang kian diperhitungkan. Busana hijab rancangan Dian, meski oleh sebagian kalangan dipandang tak selalu syar’I, atau memenuhi kaidah agama, namun setidaknya telah ikut mempopulerkan sebuah budaya yang jauh-jauh hari telah dinyatakan oleh Niels Mulder, yaitu budaya berjilbab di masyarakat Indonesia.
Miranda Risang Ayu dalam buku “Mencari Senyum Tuhan” yang terbit tahun 2008 pernah menulis, “Dan kuturunkan kain ke dadaku. Kuturunkan dia supaya ikut tunduk pandanganku. Kuturunkan kain dari ubun-ubun menyungkup rambutku, supaya terlindung dan selamat aku, dari terik matahari ketika kerontang, pedih musim ketika dingin, serta gerayang panas mata dan tangan orang-orang yang berhati lemah yang berkeliaran sepanjang jalan. Kuturunkan kain ke sekujur tubuhku sapaya terjaga aku, tidak saja dari gangguan orang-orang yang aku temui tetapi juga dari godaan dalam diriku sendiri yang ingin bertingkah. Kain ini menyelematkan aku serta orang-orang di sekelilingku dari daya tarik keperempuananku yang mungkin menipu.”
Barangkali, hari ini, para jilbaber atau hijaber—begitu label yang kerap dilekatkan, belum banyak dan belum sepenuhnya memaknai busananya seperti apa yang dituturkan oleh Miranda Risang Ayu, namun setidaknya semangat itu telah digulirkan. Inilah sepotong mozaik dari wajah Indonesia kontemporer yang hendak dibawa ke Frankfurt.

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia, dengan hadirnya beberapa karya Dian Pelangi di rangkaian pameran buku tertua di dunia ini, kiranya dapat memberikan gambaran kepada khalayak yang hadir di sana, bahwa Islam sebagai agama anutan mayoritas penduduk di zamrud khatulistiwa, telah dan tengah mewarnai kebudayaan kontemporer warganya. [irf]

Postscript : 
Re-post catatan ini dimaksudkan sebagai arsip dari naskah yang telah dipublikasikan di Pulau Imaji, dalam rangka mendukung Indonesia sebagai Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair 2015. Ikuti juga akun @PulauImaji untuk informasi seputar pameran buku tertua di dunia tersebut.