11 July 2016

Jalan yang Amat Panjang

Anaknya yang selama itu sehat montok dan menghamburkan tawa dan senyum setiap hari, tiba-tiba jatuh sakit. Tangis bersambung rintih, rintih bersambung keluh dan pekik kesal. Si anak jatuh sakit.

Dengan lesunya si ayah pergi ke mejatulisnya. Dihadapinya mesintulis. Ia mau mengarang hari ini. Tetapi kepalanya kosong. Ia tak punya pokok karangan. Ia kumpulkan niat beberapa saat lamanya. Kemudian menulis terburu-buru.

Waktu ia benar-benar merasa telah lelah menjalani hidupnya yang baru tigapuluh tahun itu, ia pun mendoa diam-diam: berilah aku yang selama ini kucari.

Ia mendoa dengan setulus hatinya. Baginya doa adalah ucapan penyerahan yang mutlak. Ia selalu berusaha untuk tak pernah menyerah. Justru karena itulah, pada waktu hidup dan dunianya yang tanpa penyerahan itu sampai pada suatu titik di mana tak ada terdapat kemungkinan lain, ia insyafi betapa indahnya dan betapa ia kaya dan mampunya memberinya kekuatan baru—penyerahan itu. ia mendoa dengan setulus hatinya!

“Berilah aku yang selama ini kucari,” doanya untuk kesekian kali.
Ia sendiri tak tahu apa yang dicarinya.

Pengarang itu berhenti mengetik. Ia tersenyum. Ia merasa permulaan karangan itu sufah cukup baik—pasti ia dapat honorarium baik untuk itu, setidak-tidaknya voorschot honorarium. Dan anaknya dapatlah dibawanya ke dokter.

Dan ia teruskan tulisannya. Dengan kepala yang kosong daripada pokok karangan itu! Ternyata karangan yang dimulainya menjadi macet. Benar-benar macet. Ia peras otaknya. Ia haus akan kata-kata yang dapat menterjemahkan keadaan pikiran dan perasaannya waktu itu. Tetapi pikirannya dan perasaannya kosong, kata-kata tak keluar dari gudang perbendaharaan.

“Bisa nanti sore pergi ke dokter?”

Ia toleh istrinya.

“Tentu saja,” jawabnya. “Jangan ganggu aku.”

Isterinya pergi, dan ia meneruskan usahanya. Macet juga. Kalau karangan itu macet, si anak tak mungkin pergi ke dokter. Tak mungkin! Ia coba lagi. Macet juga. Ia pukulkan punggung tangan pada landasan meja. Ia tak bersenang hati. Selama itu pukulan semacam itu diartikan oleh isterinya sebagai: pekerjaan terlampau sulit. Memang sulit! Tapi yang lebih benar adalah: ia tak mampu merumuskan pergolakan yang mengamuk dalam jiwanya. Sedang bila ia mau agak jujur, kesulitan yang dihadapinya tidaklah akan begitu hebat. Ia sendiri tahu, bahwa kejujuran hanya membantu meringankan kesulitan dalam banyak hal. 

Tapi di lapangan pekerjaan ini idealisme lebih berkuasa. Ya, idealisme yang sering membesar-besarkan kehendak manusia yang paling sederhana itu! bila masalahnya axioma kepengarangan khusus: tiada karangan, tiada uang! Ada karangan pun belum tentu ada uang. Tiada uang: pangkal bahaya segala macam dari segala penjuru dalam berbagai segi. Si anak mungkin mampus.

Tambah lama ia sebenarnya tambah sadar juga akan kehidupan yang dimestikan mempunyai uang. Di dalam masyarakat dewasa ini. Tetapi ia tetap bercita-cita juga hendak memberikan segala yang paling baik yang dimilikinya pada sidang pembacanya. Dan kini ia merasa tak punyai apa-apa lagi untuk diberikan: kosong, bolong, melompong. Ia miskin cita. Ia miskin dayacipta. Dengan tiada pencadangan lagi, segala-galanya yang mulia dan indah dan berguna, yang ia miliki, telah ia berikan pada masyarakat pembacanya. Dan dalam keadaan jiwa semiskin sekarang ini kebutuhannya yang paling primer terus menuntut: Uang! Uang! Belanja! Ongkos dokter! Makan!

Untuk kedua kalinya ia pukulkan punggung tangan pada dataran meja, waktu disadarinya bahwa kreteknya yang terakhir telah musnah pula menjadi asap. Dan ini tegas-tegas berarti: ia tak dapat bekerja sama sekali.

Hari ini buku hariannya tambah dengan hanya beberapa baris: barangkali lebih baik orang ini memiliki kerja routine yang tiap hari diulang-ulanginya daripada menjadi pengarang yang mana tiap suap nasi yang dimakannya adalah keterangan daripada keutuhan jiwanya sendiri.

Dengan hati mendongkol ia tinggalkan mesintulisnya. Ia masuk ke dalam kamar. Mencium anaknya yang kini kehilangan kemontokan dan kegembiraannya. Ia pandang-pandangi si anak yang menjadi sengsara itu dengan ingus tanpa hentinya mengalir memerahkan bibir anaknya. Untuk kesekian kalinya anak itu diciuminya, kemudian ia kenakan sepatu dan pergi—ke tempat yang ia sendiri tidak tahu. Dalam kesibukan siang hari itu ia tak menemui sesuatu yang mutlak baru. Semuanya seperti kemarin. Hati-hatinya yang gelisah sebentar mencapai ketinggian sebentar, ke dalamnya—tidak produktif, tanpa arti. Waktu bertemu dengan seorang teman dan mendapat beberapa batang rokok dan beberapa lembar perakan, tiba-tiba terbit suatu kejernihan dalam kepalanya—suatu optimism. Dan juga terumuskan olehnya: kita hidup hanya di antara perbuatan memberi dan menerima. Dan kebenaran semacam ini tak perlu dilebih-lebihkan.

Segera ia buru-buru pulang hendak menyelesaikan karangan yang belum pernah selesai dalam kepalanya. Keringat membasahi seluruhnya tubuhnya yang dipanasi matahari dan optimism. Ia hendak kerja! Ia mau tuliskan sesuatu gairah yang menjompak dengan kuatnya dalam jiwanya. Dan ia hendak rumuskan jompakan itu di rumah, di atas kertas, dalam kata-kata yang menarik.

Tetapi di rumah beberapa kawannya telah menyambut kedatangannya: pinjam buku, pinjam uang—yang kini ia sendiri amat membutuhkan. Terlibat dalam obrolan-obrolan sepekan kejadian, terseret dalam perdebatan tentang haridepan kebudayaan Indonesia. Asap rokok memadati hawa ruang depan. dentang-denting cangkir beradu dengan celepek. Tertawa. Akhirnya mereka pulang—pulang meninggalkan kehampaan dalam hatinya.

Jompakan yang hendak dirumuskan itu telah hilang entah ke mana. Kini ia duduk terkulai di atas mesintulis. Hanya desiran lemah terdengar susul-menyusul melalui bibirnya:

“Jahanam! Jahanam!”

Pikirannya tak juga mau bekerja untuk menyelesaikan karangan yang telah dimulainya, karangan yang tak punya tema, tak punya konsepsi—hanya bertema dan berkonsepsi penghidupan sehari-hari: ongkos bagi dokter anaknya. Beberapa waktu lamanya ia tergolek-golek di ambin untuk mencari-cari sesuatu permulaan yang bisa dikerjakan di antara kekacauan-kekacauan yang bergelut dalam hati dan pikirannya. Tetapi keburu isterinya datang padanya dan mengajaknya makan.

“Kangkung lagi!” pikirnya. “Makanan yang tak pernah memberi daya pada tenaga jiwa. Mengapa tidak kacang tanah? Tidak sate kambing yang panas membakar?”

Sekalipun demikian ia tetap berterimakasih kepada isterinya yang walau bagaimanapun juga selalu dapat menyediakan makan baginya.

“Kau harus punya kesabaran,” tiba-tiba isterinya berkata.

Si pengarang hanya tertawa. Dan berkata dalam hatinya: aku hanya ditentukan oleh ledakan-ledakan sesaat yang terjadi dalam jiwaku. Aku bukan pengarang intelektuil. Aku hidup untuk menghidupi, dan menghidupi untuk hidup—bukan pesolek kecerdasan! Seorang pesolek cukup waktu untuk bersabar. Dan pesolek? Pesolek adalah binatang yang paling buas yang tiada kenyang-kenyangnya akan mangsa. Aku tak membutuhkan mangsa.

Ia tersenyum. Kembali kesenangan dan kedamaian mengimbak-imbak dalam hatinya. Tahu-tahu, tanpa menyadari rasa kangkung, ia telah merasa kenyang. Tenaga kerjanya timbul dengan gesitnya. Ia melompat dari kursi dan menuju ke mejatulisnya. Tetapi yang hendak ditulisnya tiada. Dengan kesalnya ia ketikkan kertas-kertas suara hatinya sendiri di bawah tulisan sebermula yang belum juga sudah:

“Berilah aku yang selama ini kucari.”

Tiba-tiba ia mendapatkan pikiran: ini akibat kurang studi. Ini akibat perbuatan yang hanya mengandalkan kekuatan alamiah yang diberikan pada suatu masa dan batas tertentu. Pikiran itu membuat hatinya mendapat kesabaran sedikit. Dan kesabaran itu membuat ia dapat meneruskan bekerja—sedikit. Dan ditulisnyalah kalimat-kalimat tanpa persambungan ide:

Apalagi yang diperbuatnya kalau tidak mendoa lagi. Sejak itu ia terus-menerus mendoa. Ujung dari tiap doa adalah perasaan berterimakasih karena orang masih juga mempunyai kesempatan untuk menerima. Sekalipun yang diterimanya hanya berdikit-dikit. Besok mungkin lebih baik. Dan tiap besok diulurnya lagi harapannya: besok mungkin lebih baik.

Besok? Mengapa besok? Demikian suara pemberontakan daripada manusia yang masing juga tak mau menyerah. Tidakkah kita bisa memasukkan besok ke dalam hari ini?

Ia terkejut. Tulisan itu mengandung pertanyaan yang sebenarnya menjadi pertanyaan dirinya sendiri. Itu benar-benar bukan khas pertanyaan hati bagi tokohnya, tetapi pertanyaan bagi tiap orang, terutama dirinya sendiri. Dan ia pun berbisik pada tokoh yang mulai hidup dalam jiwanya:

“Bisa, kawan. Bisa. Mula-mula kau harus punya kesabaran. Kemudian kau harus kerja. Celakalah kau bila kaya akan kesabaran dan tak mampu kerja.”

Dan kalau seorang pengarang telah dapat berkenalan dan bercakap-cakap dengan tokohnya sendiri, dia akan mengarang terus tanpa henti-hentinya. Tetapi tiba-tiba datang seorang tamu lagi—kawan baru.

“Saudara, sudikah saudara periksakan karangan saya ini?”

Hubungan si pengarang dengan tokohnya telah putus. Si tokoh telah pergi, takkan kembali, telah menjadi almarhum di dalam keabadian yang baka.

Setelah bertahun-tahun hidup di dalam dunia karang-mengarang ia telah memperoleh ketegasan di dalam selera gaya tertentu, sekalipun dapat juga ia menghargai gaya orang lain. Tetapi banyak kali ia merasa mual terhadap tulisan-tulisan yang merambat dan melata-lata tanpa tujuan, tanpa maksud, dan hanya bergenit dengan kata-kata, dan kemudian terjerumus ke dalam pencarian efek daripada perpaduan kata-kata yang hampa.

“Jadi bagaimana pendapat saudara?” tanya si tamu, meminta perhatian, meminta pujian.

Obrolan baru pun terjadilah. Teori baru pun keluarlah. Pada pokoknya tidak lain daripada selimutan atas pendapat si pengarang: ia tak bersenanghati membaca karangan itu.

“Jadi bagaimana harusnya?”

“Saudara,” si pengarang hampir-hampir berteriak karena kehilangan kesabaran. (Selama itu ia sudah kesal dan bosan pada mereka yang menganggap seorang pengarang adalah badan sosial yang tidak resmi). “Dalam pekerjaan ini pendapat orang lain hampir-hampir tak ada artinya. Pekerjaan ini tidak dimulai dari pendapat orang lain—tapi dari diri sendiri.”

Dan si tamu seperti dengan sendirinya, dan seperti sudah semestinya, meminta penjelasan tentang “dari diri sendiri” itu. Dan si pengarang makin kehilangan kesabarannya. Dengan suara berdembam menahan geram ia menjawab:

“Itulah yang harus dijawab sendiri oleh tiap pengarang. Selama dia belum mampu menjawabnya dia takkan mungkin bisa jadi pengarang yang sadar.”

Sementara itu suara batuk anaknya terdengar beruntun-untun. Ia lihat isterinya masuk ke dalam kamar dan mendamaikan kekesalan hati anaknya. Ia dengar suara manusia yang bersahut-sahutan dalam kamar itu. Kemudian mendengking tangis anak kecilnya, gerak tertahan dahak. Anak sekecil itu telah diwajibkan memasuki dunia penyakit orangtua: pilek, panas dingin, bronchitis. Sejenak ia tak dengar suara tamunya yang meminta perhatiannya dengan nada menghiba-hiba.

Waktu isterinya telah berhasil dapat mendamaikan pemberontakan hati anaknya dan keluar membawakan air teh, kembali perhatiannya terpusatkan pada tamunya.

“Artinya,” kata si tamu, “pertanyaan itu pertanyaan pribadi?”

“Ya, saudara, tiap pengarang punya jawabannya masing-masing. Hanya kadang-kadang saja sama.”

Dengan jawaban itu ia yakin, si tamu segera angkat kaki dan merenung-renungkan masalah itu. Tetapi tidak! Si tamu bahkan mulai mengajaknya mengobrol tentang banyak hal. Ia meminta juga banyak perhatian, yang ia hanya sedikit saja bisa memberikan. Si tamu masih tetap mendesak-desakan ceritanya, bahwa di SMP dulu ia selalu mendapat angka tertinggi untuk buah-buah karangannya. Dan ia bangga pada angka-angka yang diperolehnya. Akhirnya terdengar juga suara yang demikian membosankan hatinya.

“Saya amat mengagumi saudara.”

Si pengarang tersenyum. Di dunia ini kekaguman manusia atas sesuatu memang tanda bahwa ia berpikir dan bisa maju. Memang. Tetapi kadang-kadang kata itu dipergunakan untuk banyak arti. Karena itu ia terdiam saja. Biasanya ia menjawab:

“Terimakasih atas perhatian saudara.”

Kembali si pengarang tersenyum. Sekarang ia tidak mengulangi jawaban itu. Sekarang kepalanya justru diamuk oleh masalah yang paling dekat: uang buat pembayar dokter nanti sore. Dia mau menulis! Menulis! Karena hanya menulis itulah pekerjaan yang diketahuinya dan mampu ia kerjakan. Dan dokter hanya mau uang kontan. Dokter mesti dibayar, biarkan pengarang terlampau sering tak dibayar jasanya.

“Pendeknya,” tiba-tiba ia berkata kepada si tamu. “Dokter adalah pekerjaan yang lebih riil daripada pengarang. Dia juga terima duit yang riil. Mengapa saudara tak ingin jadi dokter saja?”

“Saya kira itu adalah pertanyaan pribadi, saudara,” kata si tamu.

“Setidak-tidaknya pertanyaan yang riil. Lebih langsung. Jalannya amat dekat. Tidak terlampau panjang.”

“Apa maksud saudara?” sekarang si tamu bertanya.

“Ah, tidak, sebenarnya ini hanya percakapan dalam hatiku sendiri. Bagaimanapun, jadi dokter lebih riil. Ia, dengan kecakapannya, menghilangkan dan mengurangi penyakit pasien. Itu riil: ia terima uang yang riil. Lagi pula untuk jadi dokter hanya membutuhkan waktu delapan tahun dan uang secukupnya, kemudian buka praktek. Habis perkara. Kalau diri normal memang dalam delapan tahun sudah jadi dokter. Lain dengan pengarang, saudara. Pada permulaan kali ia menjadi plonco, pengarang, dia sudah mulai dengan kesulitan-kesulitan jiwanya sendiri. Dia harus jadi penemu, dokternya sekaligus! Dan itu pun belum tentu berhasil. Dia bedah jiwanya sendiri. Kadang-kadang tak bisa menaruhkan bedahan-bedahan itu pada tempatnya yang lama. Dan untuk selama-lamanya jiwanya akan tinggal bedah!”

Ia lihat si tamu sudah mulai bosan. Tetapi untuk memperlihatkan kesungguhannya, ia memperdengarkan suaranya:

“Tapi, saudara, saya menulis bukan untuk mencari duit.”

“Nama, barangkali?”

Ia mengharapkan tamu itu segera angkat kaki. dan sekali ini harapannya terkabul. Pergilah ia. Untuk seterusnya kawan baru itu tak pernah datang lagi.

Si pengarang kembali menghadapi mesintulisnya. Lambat-lambat dan dnegan kesabaran yang dipaksa-paksakannya, akhirnya karangan itu jadi juga. Dan setelah mencium anaknya ia pergi lagi. Sekarang untuk menjual karangan itu.

Seorang redaktur menerima karangan itu, dan si pengarang dengan setulus hatinya berkata:

“Karangan ini tidak begitu baik, saudara.”

“Asal saudara tak meninggalkan intelegensi saudara, itu sudah cukup. Akhirnya tiap orang mesti hidup.”

“Artinya, bahwa si pengarang sekali itu menerima uang seratus limapuluh rupiah untuk penjualannya hari itu. Ia pulang dengan berseri-seri. Dan sore itu dokter meminta uang tujuhpuluh lima rupiah buat memeriksa anaknya selama seperempat menit. Waktu resep disodorkan pada apoteker, terdengung suara yang tak kenal tawaran:

“Enampuluh lima, tuan.”

Suami, isteri, dan anak itu pulang ke rumah tanpa uang sisa di dalam kantong masing-masing.

“Bagaimana uang belanja besok?” isterinya berkata.

Pengalaman sehari tadi akan terulang dan terulang lagi untuk seterusnya. Sekalipun ia tahu, jalan ke arah rejeki terlampau jauh, ia senang dengan pekerjaannya. [ ]


--Pramoedya Ananta Toer

Majalah Roman No. 7/8 Th. IV

Juli/Agustus 1956 

10 July 2016

Permenungan dan Pengapungan (1)


Surat ini takkan mungkin bisa dikirimkan. Takkan mungkin sampai ke tanganmu. Lihat, dia tetap kutulis, untukmu—kau, yang sedang berbahagia dalam suasana pengantin baru.

Akan tetap terkenang peristiwa yang satu itu: kau datang bersama calon suamimu dan seorang penghulu, yang begitu terburu-buru kuatir tertinggal kereta rejeki.

Tentu saja kau tahu, tak ada keberatan padaku kau memilih seorang suami untuk dirimu sendiri. Juga aku percaya, kau akan tetap ingat pesanku pada calon suamimu sebelum kau menikah di depanku:

“Anak ini anakku yang pertama, anak yang aku sayangi. Dahulu neneknya berharap ia jadi dokter, ternyata ia akan menjabat jadi istrimu. Jadi, setelah nanti kalian menikah, jangan sekali-kali anakku dilarang atau dihalangi kalau dia mau meneruskan pelajarannya. Kedua, tidak aku ijinkan anakku dipukul atau disakiti. Ketiga, anak ini kau pinta padaku untuk diperistri secara baik-baik, kalau karena sesuatu hal kau tidak menyukainya lagi, kembalikan pula dia secara baik-baik padaku.”

Dan sejak itu kau tak pernah datang menjenguk aku lagi. Maaf, aku tak dapat lagi mengingat tanggal dan bulannya. Malah nama suamimu aku tak dapat mengingat sesuku pun, apa pula pekerjaan dan pendidikannya. Walhasil semua itu terserah padamu, kau sudah memilih, juga memilih tanggungjawab.

1969 kau tinggalkan RTC (Rumah Tahanan Chusus) Salemba, pamit untuk memulai hidup sebagai seorang istri. Beberapa kali kau masih melihat ke belakang sebelum pintu raksasa itu mengantarkan kau lepas ke jalan raya. Orang yang setelah pernikahan itu menjadi suamimu beberapa kali masih membungkuk memberi hormat. Dan waktu pintu raksasa itu kembali tertutup habislah sudah basa-basi itu. Kau memasuki bulan madu. Aku juga pergi. Ke pembuangan.

Bagaimana harus dinilai? Karunia? Atau kutukan? Bila orang tak dapat membebaskan diri dari waktu yang tiga dimensi: lalu, kini, dan depan?

Dulu, di penjara Bukitduri, pernah aku belajar menyanyi lagu yang dibuka dengan kalimat “There’s happy land somewhere”—lambang hari depan untuk semua orang. Dengan pimpinan sang harapan, dengan keringat sebagai lambang jerih payah sendiri, dengan masa kini sebagai titik tolak, dengan masa lalu sebagai pesangon, ia bergerak menuju ke “happy land somewhere”. Orang tak tahu pasti. Maka juga disusul oleh “and it’s just a prayer away…”

Betapa indah kadang lagu-lagu itu, kalau suasana tepat dan syaraf pun tidak disibuki oleh tetek-bengek.

Somewhere, anakku. Dan where to? Kau, negeri bahagia di mana kau sesungguhnya? Orang dididik untuk percaya, negeri tujuan memang kebahagiaan itu. Dan kepercayaan yang diperoleh secara mudah bisa juga hilang dengan mudah.

16 Agustus 1969. Kau berbulan madu di happy land yang sudah jelas. Aku ke happy land somewhere: konon ke Pulau Buru di Maluku, sebuah pulau lebih besar dari Bali. Dan besok kalau tidak dibatalkan oleh entah siapa, 17 Agustus. Kami berangkat bersama lebih delapan ratus orang dengan kapal ADRI XV sebagai hadiah ulangtahun Republik Indonesia.

Untuk dapat naik ke kapal dari tigaribu limaratus ton bobot mati ini kami harus datang ke pelabuhan Sodong di Nusa Kambangan, ditentang pelabuhan Cilacap, Wijayapura.

Tiada kan kututup mata kepalaku, juga tidak mata batinku. Kapal ini akan membawa kami bersama masa depan dalam impian, dalam kepercayaan itu. Pulau Buru bukan happy land  somewhere. Dia hanya stasiun perantara. Juga untuk itu dibutuhkan kepercayaan.

Kapal mulai bersuling, lambat-lambat meninggalkan Sodong dan Wijayapura. Kehidupan hutan dan gunung-gemunung Nusa Kambangan nampak mulai bergerak. Dan pantai putihnya makin lama makin menghilang dari jangkauan mata. 

Bila pandangan dilepaskan ke selatan, hanya kebiruan Samudera Hindia yang terbentang, tanpa batas, sampai ke kaki langit. Bila ke utara, yang nampak adalah tebing-tebing terjal pantai selatan Jawa. Jangan dengarkan nafas mesin kapal bobrok yang terengah-engah itu.

Kami sedang berlayar, seperti nenek moyang dulu di jaman migrasi untuk menemukan daratan dan kehidupan baru. Kesadaran sajalah yang membikin diri tahu, kami sedang ada di perairan tanah air sediri, negara maritime dengan tigabelas ribu pulau. 

Kata orang, setiap di antara pulau itu adalah juga milik kami, juga setiap cangkir dari perairan antara dua samudera itu, Hindia dan Pasifik. Itu ajaran klasik di sekolah. Lebih nyata dapat dipegang adalah ucapan Peltu Marzuki di RTC Salemba: “Kalian tak punya hak apa-apa selain bernafas”. (Dan ternyata sudah sekian dari kami hak untuk bernafas pun dirampas).

Ajaran klasik ternyata bisa bermuka dua. Bukan hanya laut, juga seluruh isinya. Seluruh bumi dan isisnya, juga langit, garis lurus sampai akhir tata surya kita. Antara kenyataan dengan janji sudah tak ada status quo. Kapal kami bergoyang dan bergeleng-geleng. 

Kami berlayar dalam ruang dengan pintu besar dari jeriji besi, dan dikunci, dalam sekapan, dalam tiga ruang besar di bawah dek. Melihat langit pun tak lagi ada hak, jangankan memiliki atau ikut memiliki. Seperti orang-orang Cina yang diculik dalam kapal Kapitan Bontekoe, seperti tawanan-tawanan culikan Cina lain dalam kapal-kapal tokoh Michener yang diangkut ke Hawaii, seperti nasib empat juta penduduk Afrika dalam kapal Inggris dan Amerika, menyeberangi Atlantik dibawa ke benua baru.

Di antara depalan ratus teman sekapan  dalam kapal ini, sebagaimana biasa, aku tetap merasa seorang pribadi. Dan pribadi yang masih dapat bergerak dengan sepenuh kesehatan. Terlalu banyak di antara kami belum pernah beranjak dari desanya, tak pernah melihat laut. 

Warganegara negara maritim ini! Kau dengar? Warganegara yang di sekolah dasar diberitahu, mereka keturunan bangsa bahari penjelajah lautan. Sebagian besar di antara kami pada menggeletak di ambinnya atau di geladak begitu kapal memasuki laut lepas—muntah dan muntah, terkulai bergelimpangan.

Ingat kau waktu kita berangkat ke Eropa tahun 1953 dulu? Kau masih kecil berumur tiga tahun. Kau pun tak pernah mabok laut dalam pelayaran selama 26 hari itu. Jangan tertawakan mereka yang dalam tubuhnya menanggung h.o (hongeroedeem : penyakit busung lapar). 

Banyak di antara mereka berasal dari penjara yang selama bertahun hanya memberi jatah makan 3 kali sekaleng semir sepatu. Ada yang dengan tinggi 160 cm, berbobot 29 kg. Betapa mahal memang yang harus dibayar untuk boleh menyebut diri warganegara Indonesia. Teman-teman dari penjara-penjara Jakarta lebih beruntung, intipan mata internasional lebih leluasa. 

Kau belum pernah melihat bagaimana abnormal tingkah dan pikiran tubuh yang kurang dari lima puluh persen berat badan minim yang seharusnya. Dan matanya kelihatan besar melotot, terlalu terlalu besar tapi tak semua yang dilihatnya napak jelas, kulitnya kering, dan perbukuan-perbukuannya seperti tinju kingkong, menolehnya tidak menentu dan lamban, sedang pandangan matanya tertebar ke mana-mana tanpa tujuan pasti. 

Pemandangan biasa di masa pendudukan Jepang memang, dan pemandangan biasa dalam kehidupan tapol RI kurun ini. Namun, bergelimang dalam muntahan sendiri, semangat hidup mereka menyala. Tentu bukan karena porsi pertama di atas kapal nasi sepiring penuh dengan sepotong daging atau sepenuh telor: mereka ingin dapat saksikan akhir segala ini! 

Dan, karena hidup memang indah bagi mereka yang tahu menggunakannya, dan bagi mereka yang punya cita-cita. Ya, biarpun sekarang ini bangun dan tidur pun perlu dapat bantuan teman-teman yang masih sehat atau setengah sehat. Orang-orang semacam kami ini pada setiap tahun belakangan ini menjelang puasa dapat dipastikan diajari oleh ulama yang didatangkan dari dunia bebas, tentang pentingnya berpuasa, menahan lapar, menahan nafsu…

Kau tak pernah menderita kelaparan sejak kecil. Kau anak bangsa merdeka, yang memang tidak patut menderitakan kelaparan hanya karena ketidakbecusan orang lain. Aku sendiri anak bangsa jajahan. Bila dalam hidupku pernah aku alami masa kelaparan yang panjang dan berat, wajarlah itu, biarpun makanku memang tak bisa banyak. Lapar perlu diterima sebagai sahabat yang tidak menyenangkan. 

Dalam sekapan di RTC Salemba dan Tangerang selama hampir 4 tahun memang aku tak begitu lapar berbanding yang lain-lain. Keluarga tetap berusaha mengirim makanan dua atau tiga kali seminggu. Dan sekalipun yang diterima tidak selamanya utuh, dikurangi untuk makan bersama kelompok makan, dan dikurangi lagi untuk dana umum seluruh penjara. 

Betapa keluarga-keluarga itu tidak membiarkan kami mati kelaparan! Dan kelaparan itu sendiri apalah bedanya antara pembunuhan sistematis dengan akibat kerakusan para pejabat? Biar yang berkepentingan yang menjawab. Setidak-tidaknya, dengan jatah penjara saja, orang akan tewas. Volume makan kurang gizi? Volume dan gizi juga senjata di tangan pembunuh. Itu di Jakarta. Bukan di Klaten atau Sukoharjo atau Pacitan atau Kebumen yang jauh dari intipan mata internasional!

Sebelum kapal berangkat meninggalkan Nusa Kambangan, kelaparan sudah bermain drama dalam usus besar. Kepala penjara Karang Tengah di pulau Nusa Kambangan pernah memanggil aku, mengajak bicara-bicara. Kesempatan untuk mengajukan perbaikan makan. Ia tidak berdaya. Kebaikannya, yang aku berterimakasih padanya, kutolak dengan modal yang satu-satunya itu: terimakasih. Ia menawarkan: kalau hanya untuk Pak Pram pribadi dan Pak Prapto, saya sanggup membantu dari dapur saya sendiri. 

Waktu kami dijemur hampir sehari menunggu datangnya kapal di tanah lapang pelabuhan Sodong, sambil menyaksikan teman-teman lain dihantami para petugas karena bertukaran pakaian pembagian—maklum pakaian itu tanpa mengindahkan ukuran badan yang menerima—kelaparan itu sudah sampai pada titik tinggi kegarangannya. 

Kami yang berjongkok pada sejalur pagar bluntas beramai-ramai merengguti daun bluntas penuh debu jalanan dan menggayangnya mentah-mentah tanpa dicuci lebih dahulu. Kalau air untuk mencuci pun ada, kami tak akan bisa meninggalkan barisan tanpa kena hajar. Dan jangan kau muntah melihat kami makan tikus kakus yang gemuk lagi besar itu, atau bonggol batang papaya atau bonggol pisang mentah-mentah, atau lintah darat yang ditusuk dengan lidi. 

Bahkan drs. J. P. bisa menelan cicak hidup-hidup setelah dipotesi telapak kakinya yang empat. Ia ahli menangkap cicak. Dengan ibu jari dan telunjuk ia menjepit tengkuk binatang celaka itu dan hewan perangkak itu pun disorong masuk ke gua tenggorokannya. Keberanian menantang kelaparan adalah kepahlawanan tersendiri.

Kapal kami bukan seperti yang pernah kau tumpangi ke Eropa, Ondenbarneveldt, dengan kecepatan 16 mil/jam itu, bukan seperti Oranje membawamu pulang dari Eropa ke Jakarta. Seperti bumi dengan langit. Kapal-kapalmu dilapisi kayu terpoles mengkilat. Lantainya dibersihkan setiap hari—kapal-kapal Belanda itu. 

Tak ada seekor kecoak nampak merenung atau mondar-mandir menaksir dunia dengan sungutnya yang terlalu panjang. Kapalku dikuasai kecoak, siang dan malam. Kadang aku tersenyum geli mengingat betapa binatang pelari-penerbnag itu, kadang lincah kadang lamban, sudah begitu berjaya dalam ikut membonceng berkuasa atas diri kami.

Kami berasal dari banyak penjara Pulau Jawa. Bukan dari Jakarta saja. Dan rombongan Jakarta mendapat ruangan di hidung haluan. Ujung terdepan, tertinggi berbanding rombongan-rombongan yang lain. Paling depan sekali adalah ruang besar kamar mandi dan kakus. Betapa pun terhina dan dihina tapol RI ini, umumnya masih tahu dan ingat kebersihan yang pernah diajarkan oleh orangtua dan sekolah dasarnya. 

Begitu memasuki ruangan yang ditunjuk, ruangan di mancung hidung haluan di bawah dek, kontan balik kanan jalan, hidung disumbat. Ruangan itu penuh bukitan kotoran manusia. Kapal ADRI XV—kapal yang masih dioperasikan! Ai! Anak cucu bangsa bahari! Tanpa diperintah pun langsung rombongan Jakarta mulai membersihkan ruangan keparat itu. 

Sapu dan tong air disiapkan. Kran-kran air mulai diputar. Genangan air kotoran ternyata menjelma jadi rawa lumpur. Saluran-saluran pembuangan pampat semua. Setan pun mungkin takkan tahu lagi di mana sesungguhnya lubang-lubang pembungan itu. Kok bisa begini? Betong-tong air tak juga mau turun, tak seperti di daerah pasang-surut. Dan bila haluan terangkat ombak, air rawa buatan itu menerjang bendul-bendulnya dan membanjiri ruangan yang ditunjuk untuk kami.

Dan hero-hero kotoran manusia tercengang? Terperangah? Tidak! waktu baru memasuki barak yang ditunjuk di penjara Karang Tengah, Nusa Kambangan, onggokan kotoran manusia juga yang ditemui, di seluruh barak, dari balik bendul pintu sampai ke ruangan kakusnya sendiri. Bedanya lantai barak penjara dari tanah, lanpai kapal ini dari besi karatan.

Kapal kami terus terengah-engah, berderak-derak, tigaribu limaratus ton bobot mati. Meluncur cepat, secepat bersepeda santai keliling kota. Kadang mogok, berhenti, jadi permainan ombak di tengah laut—kapal kami, kapal negara kepulauan terbesar di atas muka bumi!

Sekiranya kapal ini tenggelam—kami akan mati bersama, delapan ratus orang ini—dalam sekapan dengan semua pintu terkunci dari luar. Ah ya, apa salahnya mati? Setidak-tidaknya kami masih bisa memberikan sesuatu pada dunia: cerita sensasi dan bagaimana pertanggunganjawab akan kembali jadi bola volley. 

Berapa saja sudah jumlah dan jenis makhluk telah punah dari muka bumi? Dan tak ada yang meributkan? Berapa saja semut telah mati terinjak-injak setiap detik? Berapa pula serangga lain tumpas kena semprotan insektisida? Siapa meributkan? Juga hati ini tak perlu ribut. Jangan menyesal mengapa punya impian, merasa belum cukup dengan yang sudah ada. 

Sejak peristiwa 1965 itu aku telah kehilangan semua dan segala. Lebih tepat semua dan segala ilusi. Untukku sendiri sudah kumiliki semua dan segala untuk hidupku sebagai bayi. Dan seperti bayi-bayi selebihnya modal untuk berkomunikasiku hanyalah suaraku: jeritan, raungan, keluhan, rengekan. 

Dan bila modal komunikasi itu dirampas, ah ya, siapa yang bisa rampas hak untuk berdialog dengan diri sendiri? Dan yang dirampas itu akan berubah jadi energy lain yang akan mengguris abadi dalam kehidupan. Sentimental? Apa boleh buat, hanya batang kayu yang tak punya sentiment, kata penerjemah Rumania itu membantah seorang anggota Parlemen RI yang pernah datang ke negerinya.

Ya, sayang sekali aku tak dapat saksikan perayaan perkawinanmu. Hadiah kawinmu pun hanya catatan semacam ini, dan tak akan sampai ke tanganmu pula. Empat tahun belakangan ini aku hanya mengikuti tudingan telunjuk orang untuk meninggali sel-sel beton atau kayu. Biar begitu tidak benar kalau tidak pernah ingat padamu. 

Di mana kau tinggal sekarang? Bagaimana kehidupanmu dengan suamimu? Aku tak tahu. Biar tahu pun apalah gunanya bagimu? Tapi empat tahun bukan waktu pendek dalam hidup manusia. Umur kadal pun tak sampai sepanjang itu. Di selku di penjara di Tangerang, lalat yang berhasil kutangkap kukurung dalam plastik. Ia mati tua dalam tiga setengah hari. Empat tahun tanpa tahu duduk perkara sungguh suatu kemewahan berlebihan, seperti lapisan tebal bedak pada muka buruk seorang nenek tua renta.

Entah sudah berapa kali kapal kami dilewati kapal-kapal lain. Mungkin dari kejauhan jadi tontonan yang mengibakan, penderita kusta di tengah-tengah lalu lintas kehidupan yang sehat dan cerah. Setiap saat dalam kesadaranku terdengar nafasnya yang terengah-engah dan persendian-persendianya yang berderak-derak. Dua kali nafasnya tak terdengar dan gigilan mesinnya yang mengeletari kulit bajanya padam. 

Seribu tahun yang lalu pun nenek moyang telah menjelajahi perairan ini—pasti cerita para guru sekolah itu bukan omong kosong—dengan perahu-perahu buatan tangan sendiri, dan pasti lebih bersih dari ADRI XV. Sekali lagi pasti para guru sekolah itu bukan jual koyo. Perahu-perahu layar Bugis, Makassar, dan Madura sampai saat ini pun lebih tertib, sekalipun, dan justru, tidak dibiayai dengan uang negara.

16 Agustus 1969 kutinggalkan kau berbulan madu di Jawa. Aku menuju ke happy land somewhere. Sepuluh jam sebelum mancal baru kami ketahui, happy land somewhere itu konon Pulau Buru di Maluku. Besok 17 Agustus keberangkatan kami: hadiah ulang tahun kemerdekaan RI. Hadiah untuk mereka yang tak jemu-jemunya meyakinkan diri mereka sendiri—juga kami—bahwa kami adalah pengkhianat, pemutarbalik Pancasila. 

Dan selalu, tanpa pernah membuktikan tuduhan mereka sudah menyemburkan tabir asap: harus tahu sendiri, merasa sendiri, (karena itu) introspeksilah, mawas diri, beriman, beragama. Bersembahyang. Berdoa!

Ada yang berdoa memang, ada yang mengharap, kapal ini tenggelam dihantam angin timur, dan kami mampus dimakan hiu. Itu dari golongan yang menganggap: yang mati tidak akan bicara lagi. Anggapan jaman batu berpermatakan pesona kriminal. Memang kami sudah setengah atau seperempat hidup tanpa hak sipil dan tanpa makan cukup—tapi kami semua sudah membuktikan lolos berkali-kali dari lubang jarum kematian. 

Pada punggung masing-masing tergendong kantong, takkan pernah lepas seumur hidup, penuh sesak dengan lambang-lambang pengalaman indrawi dan batini, kristalisasi energy yang tak bakal ikut mampus, lebih abadi dari daging dan tulang bahkan dari gading yang tak kenal retak pun. 

Lambang-lambang itu akan terus bicara dengan bahasanya sendiri, Levenslang Verbannen dalam dua jilid tebal karangan seorang anonimusitu, “Rumah Mati”-nya Dostoyevski, “Boven Digoel”-nya Dr. Schoonheyt, Pandawa di Kurusetra, Koestler dalam bukunya, apa pula judulnya? “Dark in the Aftermoon”? “Mereka yang Dilumpuhkan”, “From Land Hell to Island Hell”, siapa pula pengarangnya? “Laporan dari Tiang Gantungan” Julius Fucik, “Der Prophet”-nya Anna Seghers, dan…

Biar sedikit mengsol, mari aku ceritai kau sesuatu: Rakyat Spanyollah yang pertama-tama bangkit melawan fasisme, jauh sebelum negara-negara yang menamai diri negara demokrasi turun ke medan perang, yang melahirkan Perang Dunia II. Dan waktu Perang Dunia II usai, fasisme Jerman dan Itali dan Jepang digulung, fasisme Spanyol tetap berdiri, bahkan hidup berdampingan secara damai dengan para pemenang PD II, malah ikut dalam persekutuan militer dalam rangka perang dingin. 

Memang suatu dagelan persekutuan militer baru itu. Dalam Konperensi Potsdam regime Franco Spanyol oleh Sekutu dijatuhi hukuman duapuluh tahun. Begitu Perang Dunia II selesai tak ada yang mengingat hukuman yang dijatuhkan, malah berangkulan. 

Pragmatisme Barat itu untuk kesekian kalinya mempertunjukkan jantung dan wajahnya yang demonik. Dan itu akan tetap dipertontonkannya tanpa malu demi kepentingannya. Dan demi alam pikirannya yang pragmatis. Duapuluh tahun setelah benggol-benggol fasis yang tertangkap hidup pada digantung dan ditembak mati, paling tidak duapuluh tahun penjara!

Itu yang nampak dipermukaan. Yang tidak nampak? Adegan-adegan penjara Spanyol dimulai dengan cerita Koestler. Bila malam hari tiba dan giring-giring berbunyi mengunjungi sel, seorang pejuang anti-fasis dengan antaran seorang padre, sampailah dia pada ajal di tangan jagalnya. 

Sampai berapa lama pejuang-pejuang anti-fasis yang lolos dari lubang maut itu mendekam dalam penjara menunggu jatuhnya regim Franco? Dan dalam penantian itu seorang demi seorang terus dibunuhi, dari tahun 1933 sampai 1965? Dan yang mengirim makan para tahanan itu—pada mulanya istrinya, kemudian anaknya, kemudian lagi cucunya. 

Mereka berbaris di depan gerbang penjara Burgos itu, tiga puluh dua tahun, dan regime Franco tak juga runtuh. Penganiayaan dan penindasan terhadap para pejuang anti-fasis tetap belum jadi sejarah….. (bersambung)

---Pramoedya Ananta Toer

* Tulisan ini merupakan salinan dari "Nyanyi Sunyi Seorang Bisu" jilid 1
* Sumber foto : cnnindonesia.com (waktu Pram dibebaskan dari Pulau Buru)

23 June 2016

Melarung Cerita di Jendela


Beberapa saat sebelum meninggal, Lena berpesan kepada Amiru, anaknya, agar ia dimakamkan dekat Sabari dan di pusaranya minta dituliskan “Purnama kedua belas”. Sabari telah meninggal duluan, dan sepanjang hidupnya ia tak percaya cinta. Cinta baginya adalah kata asing: racun penuh tipu muslihat, serupa burung merpati dalam topi pesulap, tempat yang jauh, sangat jauh, dan urusan konyol orang dewasa. Hal itu kemudian goyah dan berbalik pada sebuah ujian masuk SMA; di detik-detik akhir waktu ujian, seorang anak perempuan merebut lembar jawabannya dan setelahnya memberikan sebatang pensil sebagai ucapan terimakasih. Anak perempuan itu bernama Marlena atau Lena, sedetik setelah itu Sabari kemudian percaya kepada cinta yang ia dekap sampai mati.

Sabari yang malang. Lena tak sedetik pun menaruh hati padanya. Ia malah menyebutnya sebagai lelaki bertelinga wajan dan bergigi tupai, tapi Sabari bergeming. Setelah keduanya lulus dari SMA, Lena hidup dengan berganti-ganti pasangan. Sekali waktu rahimnya tak bisa menolak, ia mengandung, dan lahirlah Amiru. Ketika perutnya berisi dan semakin membesar, tak seorang lelaki pun yang mau bertanggungjawab. Di tengah kondisi seperti itu Sabari menawarkan diri, mereka lalu menikah dan tanpa sekali pun berhubungan badan. Amiru kecil diurus oleh Sabari sepenuh kasih, sementara ibunya menghilang entah kemana.

Orang-orang tak mengerti jalan pikiran Sabari, mereka telah menganggapnya gila. Seorang kawannya bilang, “Ri, sikapmu itu merupakan kombinasi antara gizi buruk dan terlalu banyak membaca novel, berbahaya, bisa berlarut-larut. Untuk menyelesaikannya harus ditempuh satu cara yang ekstrem, yaitu berkenalan dengan perempuan lain.”

Sabari hanya tersenyum dan tak menanggapinya. Ia hanya ingat pesan ayahnya bahwa “Tuhan selalu menghitung, dan suatu ketika, Tuhan akan berhenti menghitung.” Petuah ini kemudian sampai juga kepada Amiru, anak Lena dari lelaki entah itu. “Malaikat-malaikat turun untuk melihat niat yang baik,” begitu Amiru mengingat pesan ayahnya.

Berulang-ulang Sabari dikecewakan, disakiti, dan puncaknya ketika Amiru--yang ia rawat dengan curahan kasih sudah agak besar, Lena merebutnya dengan cara paksa. Ketika kemudian Amiru sudah masuk usia remaja dan ia bisa bertemu lagi dengan Sabari, anak Lena itu sering bertanya kepadanya ihwal mengapa ia tak mencari lagi istri selain ibunya. “Dalam hidup ini semuanya terjadi tiga kali. Pertama aku mencintai ibumu, kedua aku mencintai ibumu, ketiga aku mencintai ibumu,” begitu jawab Sabari.

Sikap Sabari yang luar biasa itu akhirnya membuat Lena luluh, namun justru ketika ajal sudah hampir sampai di tenggorokan dan Sabari sudah tiada. “Purnama kedua belas” adalah panggilan sayang Sabari kepada Lena sebagai metafor atas sorot mata istrinya itu.

Sementara Ikal jatuh cinta kepada Aling melalui kuku jari yang indah. Ia melihatnya ketika disuruh membeli kapur di warung seorang Tionghoa. Mereka kemudian saling berkirim surat, bertemu di acara sembahyang rebut, naik komedi putar, dan berpisah karena berbeda keyakinan dan salah paham. Ketika mereka telah dewasa, Ikal berhasil meyakinkan ayahnya ihwal perbedaan keyakinan dan menjernihkan salah paham lewat verifikasi pengalaman yang mendebarkan. Di tengah lapang waktu mereka bertemu kembali, hujan turun. Ikal menengadah dan berkata kepada langit: “Inilah aku! Putra bapakku! Berikan padaku sesuatu yang besar untuk kutaklukkan! Beri aku mimpi-mimpi yang tak mungkin, karena aku belum menyerah! Tak kan pernah menyerah! Tak kan pernah!”

Arai, saudaranya Ikal, berjuang mendapatkan Zakiah Nurmala dengan ikhtiar yang tidak kalah berani. Ia dicampakkan sedari awal. Namun berkali disiakan, berkali juga Arai memutar otak untuk usaha yang lain. Puncaknya ia mendatangi rumah Zakiah Nurmala, malam-malam, membawa gitar, dan menyanyikan lagu “Fatwa Pujangga” di bawah jendela kamar perempuan itu. Kesudahan kisah mereka tidak terlampu menantang imajinasi, mereka saling lebur.

Saya bukan Ikal, Arai, apalagi Sabari. Bukan, saya bukan tokoh-tokoh komikal yang dicintai pembaca itu. Saya hanya berdiri di depan piagam penghargaan, membawa selembar foto, dijadikan pembatas sesuatu, dan mengembalikannya lagi untuk sebuah alasan. Waktu menyimpan lagi foto itu ke tempat semula—persis seperti Sabari kehilangan Amiru karena direbut Lena: saya merasa semua orang telah pergi naik kapal Nabi Nuh, saya ditinggal sendiri, tak diajak. Yang tertinggal hanya dua, saya dan sepi.        

Absurd? Memang. Tapi konon kata orang, cinta itu memahami bukan menjelaskan.

Saya teringat Amir Hamzah, dia sempat menulis “Bertukar Tangkap dalam Lepas”. Ini malah sudah lepas sebelum tertangkap. Juga teringat Chairil Anwar yang pernah menulis “Tak Sepadan”. Entah kenapa saat itu saya teringat puisi-puisi mereka, apakah karena puisi adalah salah satu temuan manusia yang paling indah? Maka dengan sedikit kurang ajar saya menulis juga:      

Aku kira
begini nanti jadinya
kau berbahagia di kebon teh
atau mungkin pergi ke Belanda
sedang aku bikin pathdaily aja gagal
dan ditertawakan orang-orang

Saya tertawa kekuda-kudaan, alasannya selain karena hidup ini senda gurau belaka, juga pernah dinasehati Pramoedya Ananta Toer. “Kau lelaki dan bukan seorang kriminal. Jangan lari, hadapi dan selesaikan persoalanmu dengan baik!” begitu katanya. Sementara dalam kisah Sabari tadi, ia kerap mendengarkan hujan yang menghantam atap seng. Lambat laun bunyi itu membentuk irama, dan sabari menikmatinya. Ayahnya menyebut laku Sabari itu sebagai seni menyenangi hal-hal yang biasa saja. Masih kata ayahnya, pada titik tertentu, seni ini dapat membuat orang menertawakan kesusahan.

Dalam satu jenak waktu, beberapa hal harus diistirahatkan. Dan meski tak mudah, bara pun terpaksa mesti dipadamkan. Bukan karena bergradasi dan akhirnya pudar, tapi saya kira menjadi orang harus sportif. Harus menghormati keputusan yang telah diambil. Persis seperti Inggit melepas Sukarno dengan kata-kata perpisahan, "Selamat jalan. Semoga selamat sampai tujuan." Doa dilayarkan bersama bahtera yang telah jelas arahnya. Soal akan mengabadi atau tidak, biar waktu yang mengujinya.  

Lalu tiba-tiba, jelang subuh ini, saya mendapati diri tengah duduk di jendela sambil menghabiskan batang terakhir. Di luar hanya atap dan gelap. Saya membayangkan tengah memegang botol dan sebuah pesan di dalamnya, serta gelap itu adalah laut. Saya hendak melarung cerita. Akan sampai ke siapa botol itu, waktu kelak yang akan menjawab. Ketika saya mulai ngantuk dan hampir saja tikusruk, lagi-lagi saya teringat Sabari. Ia pernah berkata bahwa “hidup ini memang dipenuhi orang-orang yang kita inginkan, tetapi tak menginginkan kita, dan sebaliknya.” Wilujeng. [irf]  


Postscript : 
Semua cuplikan kisah dan beberapa kutipan di atas diambil dari beberapa buku karya Andrea Hirata.


Mengistirahatkan Realitas Semu




/1/
Saya tidak tahu persisnya, sejak kapan literasi sepakbola Bandung begitu pesat. Tiba-tiba saja di suatu sore, di bilangan Jl.Sulanjana -Bandung, saya menyaksikan para penulis sepakbola, muda usia, berbondong mendengarkan ceramah dari para pengemban dakwah penulisan sepakbola: Pange dan Zen. Duet ini barangkali seperti Duo Serigala: memiliki jamaah yg jumlahnya mungkin tidak main-main.

Saya mula-mula membaca tulisan Pange di beritasatu, citarasanya satire, menyindir, dan kerap diganjar dengan komen-komen emosional dari para fans yang merasa klub idolanya dihina-dinakan. Tapi pembacanya tetap banyak. Pange, jika saya tak keliru, punya posisi tersendiri dalam perkembangan penulisan sepakbola di Indonesia, terutama di era generasi pasca senjakala media cetak.

Sementara Zen--setelah nasib menyelundupkannya dari Jakarta ke Cijambe di bawah kaki gunung Manglayang yang banyak kuda, tak perlu waktu lama menjadi junjungan para penulis sepakbola muda Bandung. Ia yang--meminjam dari Muhidin, "gak bisa terikat, dan tak gampang ditundukkan oleh aturan-aturan organisasi", sabar dan keras mengkader para penulis baru.

Ejawantah dari "gak bisa terikat" dan "tak gampang ditundukkan" ini konon adalah Panditfootball. Bukankan dengan membuat padepokan sendiri ia bisa membuat aturan mainnya sendiri?

/2/
Bagi para wisatawan domestik yang berasal dari Jakarta, Bandung di hari Minggu ketika Persib main, apalagi melawan Persija: barangkali horor! Namun untuk para peminat literasi yang rajin menyusuri gorong-gorong daring kiranya Bandung ini surga, terutama untuk penulisan sepakbola.

Laman-laman penyedia berita dan artikel Persib tak pernah kekurangan naskah. Simamaung misalnya, di rubrik "Arena Bobotoh" selalu ada saja tulisan-tulisan khas bobotoh yang berlanggam Sunda: pekat dengan humor namun sekaligus lada. Ada pula Mengbal, yang meskipun sudah lama "tertidur", namun pernah menjadi rujukan para pelatih lawan untuk membaca strategi Persib. Dan yang "mengerikan" adalah Panditfootball tentu saja. Mereka setiap hari (barangkali) memproduksi tak kurang dari delapan artikel non berita!

Dari semua kantong-kantong itu, nama Zen celakanya tak bisa dilepaskan. Ia begitu populer, jurus-jurusnya dengan mudah ditemukan di para penulis sepakbola Bandung, namanya kerap disebut-sebut di obrolan-obrolan sepakbola. Terakhir, ketika kawan-kawan Komunitas Aleut mengadakan acara ngawangkong tentang "Literasi Sepakbola Bandung" diKedaiPreanger, para pembicara yang hadir juga selalu menyebut nama yang satu itu, yang kiranya sudah serupa hantu gentayangan.

Literasi sepakbola Bandung maju di satu sisi dengan melimpahnya para penulis muda, namun mandeg di sisi yang lain karena belum sepenuhnya terlepas dari nama penulis buku "Simulakra Sepakbola" ini. "Geus tong aing wae atuh, nu ngarora weh, aing mah geus apkir anjir, geus kudu pangsiun nulis mengbal mah," begitu ujarnya sekali waktu.

Dengan lahirnya buku ini saya mencium aroma perpisahan itu. Barangkali ia akan gantung pena untuk tulisan-tulisan sepakbola, dan fokus mengkader pendekar-pendekar muda di padepokannya. Atau barangkali akan berlindung dari realitas semu sepakbola dengan rajin nongkrong lagi di tribun dan lapang-lapang sepakbola tradisional yang kini, di Bandung, keberadaannya semakin terdesak. (irf)

22 June 2016

Kehilangan di Solontongan

Sekira jam 01.30 saya dengan seorang kawan masih ngobrol dan tengah menghabiskan batang terakhir. Pintu Kedai Preanger belum ditutup. Di luar tentu sudah sepi, hanya sesekali pemulung lewat mencari remah rezeki. Ketika kantuk akhirnya hinggap, kami naik ke lantai dua untuk menunaikannya. Waktu terlentang saya baru ingat bahwa lampu belum dimatikan, lantas mencari pistol mau meniru Mr. Bean dengan mematikan lampu dengan cara menembak bolanya, tapi pistol tak ada, maka terpaksa bangun dan membunuh cahaya lewat saklar.

AC dikecilkan, maksudnya jendela agak ditutup agar angin malam tak terlampau semena-mena menggerayangi tubuh, lalu jatuh tertidur. Dalam tidur, manusia tak punya kuasa senoktah pun. Paling keren hanya terhibur dengan bunga tidur yang kadang paduan antara harapan-harapan yang kandas dan Tuhan membuatnya seolah nyata. Maka begitulah, kami terlelap sampai pagi. Sampai adzan subuh terdengar di telinga, seolah kami ini menyisakan sisi reliji yang kadung remuk-redam.

Jam 8 pagi saya turun hendak membeli kopi jagung, namun ketika membuka pintu ternyata susah sekali. Saya coba berulang-ulang, dan tetap tak berhasil. Seseorang kemudian datang, saya membacanya dari derap kaki di luar. Pada percobaan kesekian pintu akhirnya berhasil dibuka. “Wah, ini juga sama digembok dari luar nih,” ujar orang itu sambil memperlihatkan gembok besar. Lalu terdengar pembicaraan riuh di hari sepagi itu. Rupanya tadi malam tetangga sebelah digasak maling. Beberapa unit komputer raib.

Saya bukan Detektif Conan, tapi mengira bahwa para bromocorah itu beraksi tak lama setelah kami tumbang dirampok kantuk. Pelakunya barangkali lebih dari dua orang, sekurangnya tiga. Tetangga kami yang jadi korban itu usahanya adalah biro perjalanan umroh, dan belum terlalu lama menggelar semacam syukuran atas dimulainya usaha tersebut: potong tumpeng yang dibaluri oleh banyak sekali potongan ayam dan kentang balado, saya dan beberapa kawan ikut makan. Sekadar menunaikan kewajiban manusia yang mesti menghormati tetangganya, dan tentu saja didorong rasa lapar.

Sebelum pencurian tersebut, setiap malam ruko tetangga itu tak pernah ditinggali, kecuali oleh makhluk non materi barangkali. Pengamanannya hanya berlapis dua; kunci dalam dan gembok besar di luar. Pengamanan yang ternyata dapat dengan mudah dijebol kawanan maling. Sebelum beraksi, mereka mencantelkan dulu gembok-gembok tak terkunci di setiap ruko yang berjajar di sekitar targetnya. Maka demikianlah, esoknya saya dan tetangga-tetangga yang lain terisolasi di tempatnya masing-masing. Tetangga paling pojok pertamakali keluar karena kawannya datang hendak menjemput untuk pergi entah kemana.

Dilihat dari pintu korban yang rapi, saya membayangkan mereka beraksi dengan membawa mobil dan diparkirkan tepat di depan ruko tersebut. Kemudian tugas dibagikan, seorang diam di balik kemudi sekaligus menjadi pengawas situasi, seorang lagi mencantelkan gembok agar tidak ada pertolongan dari tetangga yang lain sekaligus membantu sang eksekutor membobol dan mengangkut barang curian. Durasi aksi kiranya tak terlalu lama, paling lambat berjalan sekitar 30 menit. Lalu meninggalkan kecewa di hati si pemilik.

Esoknya waktu saya bertemu dengan si pemilik, di wajahnya tergurat kemuraman yang lumayan temaram. “Sudah dilaporkan ke polisi, pak?” Beliau hanya menggeleng, mungkin derajat kepercayaannya terhadap penegak hukum itu tidak terlalu kokoh. Dan hari terus berganti.

Beberapa bulan berselang, di suatu pagi yang tidak terlalu awal, saya hendak menyapu halaman kedai. Saya ambil sapu lidi dan mendapatinya telah berganti. Masih tetap sapu lidi, namun kondisinya memprihatinkan: posturnya pendek dan batang-batang lidinya kaku sehingga tak nyaman untuk diayunkan. Ini jelas ada yang menukarnya, namun entah siapa. Saya tak berani menduga-duga.

Jauh sebelum kasus pencurian dan sapu lidi yang ditukar itu, kaca yang menempel di roda nasi goreng pecah berhamburan. Dari keterangan seorang kawan yang masih terjaga: pada satu malam yang mulai larut, waktu dia terduduk di lantai satu dan pintu kedai sudah tertutup rapat, terdengar suara motor mendekat dengan latar suara tawa bocah-bocah ingusan. Deru motor semakin mendekat dan “praang!!” Kaca rerak berhamburan, sementara si pelaku langsung kabur.

“Kemarin juga di ujung jalan ini ada beberapa kaca yang hancur, salah satunya milik tukang batagor,” kata penjual rokok yang esoknya baru mendengar kabar. Kalau kawan melihat ada spanduk merah menempel di roda nasi goreng kedai, itu adalah saksi penghancuran.

Pada kasus pencurian, sapu lidi yang tertukar, dan penghancuran kaca, meski fragmentaris dan tidak mewakili Jalan Solontongan secara utuh, namun dalam benak saya berdasarkan pengalaman-pengalaman itu, tergambar satu watak dari ruang atau tepatnya ruas jalan, bahwa Jalan Solontongan—seperti juga jalan-jalan yang lain, mempunyai sisi rentan yang sama. Ia dapat dengan mudah memiliki kehilangan. [irf]