20 March 2026

Blora - bagian 2

Tiba-tiba ada orang yang memanggil aku: “Agus. Agus.” Dan aku berhadapan dengan nenek kerdil yang berkerinyut mukanya. “Agus,” panggilnya pula pelan dan dipeluknya aku dengan tenaga tua. Dan dia tersenak-senak menangis. “Engkau masih hidup, Gus? Aku tahu juga engkau masih hidup.” Dan aku perasa lagi. Sebab, aku jadi terharu lagi. Lebih terharu oleh bau pakaian dan badannya yang terlalu tengik. Dan lebih tengik dari pakaianku sendiri. Si Inah ada juga teringat sedikit: tapi tidak seluruhnya. Dan di bawah mataku: rambut putih, kumal, dan masam. Mukanya hilang dalam dadaku. Kuduknya penuh kudis dan pada bahu kanannya tampak tali serat nanas—ke bawah teringat pada karung tikar. Dia pengemis, saudara, dan sebetulnya aku tak mau menyebut pengemis. Sebab, semua orang juga pengemis—lahir atau batin. Tapi memanglah sudah adat dunia, nama yang jelek itu selalu dikasihkan kepada orang yang tak bisa mempertahankan diri. Dan lagi, saudara, orang yang tak punya duit tak boleh masuk jadi anggota masyarakat. Dan mereka dinamai sampah masyarakat. Orang yang di depanku itu adalah pengemis—sampah masyarakat.

“Siapa nenek?” tanyaku jijik.

Tangisnya meningkat. Pegangannya dieratkan, tak aku lepas dari pegangannya. Antara tangisnya terdengar ini:

“Gus, Gus. Engkau tak mau kenal aku lagi? Aku nenek kau.”

Nenekku! Dan aku jadi perasa pula. Ya, nenekku memang sekerdil itu. Kupeluk dia erat-erat. Di pinggir jalan dekat stasiun. Kemudian kami pun berjalan. Berjalan saja. Tangannya tak lepas memegangi aku. Dan oleh pegangan ini kawan-kawan perempuan dulu tak mau tahu lagi. Baik juga. Kami mampir di kuburan bunda. Kuburan yang tak sebersih dulu. Seluruhnya telah tertutup lalang tinggi dan tebal. Berdua kami cari kuburan bunda. Hanya dengan susah payah saja bisa kami dapati. Kemudian kami cabuti rumputnya.

Kalau keadaan pembukaan begini buruk, pujaan jadi barang remasan serdadu, nenek jadi pengemis, kuburan jadi ladang lalang, gampanglah mengira-ngirakan betapa keadaan rumah tanggaku. Dan engkau pun bisa mengira-ngirakan sendiri, saudara.

Dalam mencabuti lalang itu terbayang keadaan dulu, saudara. Ini: tentara Hindia Belanda yang kurang lebih satu resimen lari pontang-panting waktu satu seksi Jepang mendarat di Lasem. Kemudian pertempuran yang hebat terjadi. Dan yang diamuk—teng-teng bensin di sekitar Blora. Dan Jepang masuk dengan amannya. Dan ibuku mati dua bulan kemudian. Begitu besar kepercayaan bunda, Belanda akan mengangkat bapak jadi “schoolopziener”. Kenyataan mengajarkan padanya, beslit tak bisa dibuat oleh pemerintah yang kalah. Dalam menit, jam, hari, bulan, dan tahun yang sama, adikku yang terkecil menyusul pula ke alam baka. Kuburan bunda bersatu lahat dengan adikku itu.

Dengan tangan lesu kuhapus tonggak kepala yang penuh oleh lumpur kering dan muncullah tulisan dari ter yang berbunyi, “Siti Saidah dan Sri Susanti”.

Aku benci pada doa. Tapi sekali ini aku terpaksa mendoa juga dan berbisik, “Bu, anak kau datang.” Dan terbayang ibuku duduk termenung-menung di teritis depan dengan rambutnya yang tipis dibuai-buai angin. Waktu itu aku berumut tujuhbelas. Dan aku bilang, “Bu, aku minta cincin.” Dan ia menjawab, “Apa yang kau minta lagi dari aku? Aku tinggal menunggu mati saja, Muk.” Dan sebulan kemudian matilah ibu. Sejak itu aku tak pernah minta apa-apa lagi sampai sekarang. Saudara, adik-adik dan semua kerabat memanggil aku Muk.

Sekali ini aku tak mau bercerita tentang matahari yang terbit dan terbenam, atau tentang hujan dan badai. Aku sudah bosan. Sekarang aku mau bercerita tentang bunga—aku tak tahu namanya—satu-satunya yang tumbuh di kuburan. Aku petik dia. Dan warnanya biru muda. Warna yang kusukai. Dan aku pasang bunga itu di atas tonggak kepala. Agak lama aku memandangi bunga itu. Dan nenek berdiam diri saja. Tangannya masih jua memegangi lenganku.

Kemudian kami berjalan pula. Tiap bertemu dengan serdadu pendudukan, hatiku kutabahkan. Kalau mereka tahu aku bekas tawanan dan belum minta izin datang di daerah baru, pasti aku ditangkap lagi. Selamat—selamat selalu.      

Kota sepi saja. Tambah masuk ke kampung tambah kerap kami bersua dengan kanak-kanak. Akhirnya kamu melalui sekolahanku dulu Budi Utomo. Untuk lulus kelas tujuh, sepuluh tahun aku duduk di bangku itu. Kini, sekolahan itu bukan kepunyaan bapakku lagi. Sudah dibaktikan bapakku kepada Jepang. Dan bukan lagi nama Budi Utomo yang terpasang di situ. Ganti waktu, ganti keadaan.

Nenek masih tetap memegangi lenganku. Dan jalannya sangat pelan. Kini sampailah kami ke kampung—dulu. Tapi kini kampung orang. Dan tiap muka yang terpapas di jalan, pengap oleh ketakutan. Tiap mata lesu tapi cepat seperti putar dadu oleh kecurigaan. Peluru sangat murah, saudara, dan jiwa tiga kali lebih murah. Dan bertambah banyak Amerika mendatangkan peluru, bertambah turun harga jiwa manusia. Tapi aku tak suka mengumbar kecurigaan.

Dari jauh tampak pagar hidup pekaranganku—kenuning-kuningan. Tapi atap rumahku tak kelihatan lagi. Dan datang saja pikiranku, Komunis yang membakarnya. Bapakku anti komunisme. Dulu aku pernah bertanya begini, “Pak, bagaimana kalau pengajaran di Indonesia diselaraskan dengan pengajaran di Rusia?” Dia menjawab, “Itu? Angkat saja Indonesia ke Rusia dan nanti kau mendapat jawaban sendiri.” Dan aku berdiam diri. Pokok kelapa yang selama ini berdiri di belakang dapur dan sudah bertahun lamanya berjasa mengurangi belanja ibu, kini kulihat sudah gundul, tonggak tinggi yang tak berdaun lagi.

Jalan yang kulalui itu dari batu. Tapi suasana kanak-kanakku lenyap. Tak ada lagi anak-anak bermain bal di tengah jalan dengan tiang goal dari baju dan batu. Sunyi saja. Jalan itu membelok. Dan bila terus saja sampailah di jalan kerbau yang menuju ke Kali Lusi. Jauh di kelokan ini kulihat anak kecil telanjang membawa kapak penangkap belalang. Dan di belakangnya mengikuti ayam kecilnya.

Baru nenekku membuka mulut lagi, “Gus, itu adik kau.”

“Siapa? Cuk?” tanyaku.

Nenek mengangguk. Dan aku berteriak memanggil. Dari jauh dia mengamati. Kemudian berlari-larian kepada aku dengan kaki pincang. Di tengah jalan ia berhenti. Kemudian lari lagi. Aku pun mencepatkan jalan. Cepat aku angkat dia, aku gendong. Umurnya baru tujuh tahun—telanjang bulat.

“Mengapa engkau pincang, Cuk?” tanyaku.

Dan dia menangis. Aku ciumi dia sambil berjalan. Pelan anak itu menjawab, “Kata bapak dimakan borok, Mas.”

Nenek berdiam diri saja.

“Mas, Mbak Kun tiap hari merendam kakiku di air garam. Aku lantas bisa berjalan sedikit. Tapi sekarang jadi pincang.” Dia tersedu-sedan. “Engkau bisa mengobati, Mas? Engkau membawa obat, Mas? Pasti engkau membawa obat.” Tangisnya hilang. “Dulu engkau datang dan aku kaubelikan kambing. Sekarang kambing itu hilang, Mas. Kata Mbak Kun dimakan luak. Engkau mau membelikan lagi, Mas? Engkau mau bukan, Mas?”

Dan adikku menangis lagi—seperti nenek-nenek tangisnya. Aku jadi perasa lagi. Dia toh adikku? Aku toh boleh turut merasakan kakinya yang besar sebelah? Dan aku menjawab menggembirai, “Tentu.” Dan adikku diam.

“Mas, engkau sekarang membawa obat, bukan? Mereka menamai aku si pincang. Aku tak mau, Mas. Tapi mereka menamai saja. Kalu ada engkau, tentu mereka tak berani lagi bukan, Mas? Tak berani lagi, bukan? Pasti mereka kau gebuki, seperti dulu engkau menggebuki Mas Lik karena tak mau mandi. Tapi aku selalu mau mandi, Mas. Engkau membawa obat ya, Mas?”

“Ya, aku membawa obat.”

“Aku juga tahu, engkau mesti membawa obat.”

“Engkau sudah kelas berapa, Cuk?”

Adikku menangis lagi. Lama baru bisa menjawab, “Aku tak bersekolah, Mas.” Dia tersedan-sedan. “Kata bapak aku cengeng. Aku tak cengeng bukan, Mas? Tak cengeng, bukan?”

“Tidak,” dan aku cium pula pada mukanya yang basah oleh air mata—muka yang pucat.

“Kalau begitu, nanti aku boleh ikut ke Jakarta, bukan? Naik mobil dan lihat Pasar Gambir? Bukan, Mas? Aku boleh turut ke Jakarta, bukan?”

“Tentu saja boleh.”

“Aku tahu juga. Pasti boleh. Mana mobil kau sekarang, Mas? Diminta Jepang? Aku selalu tanya pada bapak, engkau tak pulang-pulang juga. Kata bapak engkau ditangkap Nica. Engkau tak ditangkap, bukan? Engkau berani, bukan?”

“Tidak, aku tak ditangkap.”

“Mobil kau tak dirampas Nica, bukan?

“Tidak.”

“Aku tahu juga, bapak bohong.”

“Engkau masih suka menyanyi, Cuk?”

“Tidak boleh, Mas,” tiba-tiba tangisnya meledak sejadi-jadinya. Dan kembali aku ciumi dia.

“Mengapa menangis, Cuk? Siapa yang melarang? Engkau dulu senang menyanyi di pohon jambu.”

“Mas, semua melarang aku menyanyi,” sedu sedan. “Dan pohon jambu sudah dibakar. Dibakar Komunis, Mas.” Sedu sedan. “Sekarang engkau datang. Aku mesti boleh menyanyi lagi.”

Mata Cuk, adikku yang terkecil berseri-seri.

“Mas, Mbak Kun bilang, kalau aku menyannyi ‘Dari Barat samapi ke Timur’ katanya nanti Nica datang dari Barat dan Timur dan membakar kakiku yang pincang. Sekarang tidak lagi. Aku boleh menyanyi bukan, Mas?”

Sedu sedannya yang terakhir lenyap. Dengan suara lantang ia berteriak menyanyi, “Dari Barat sampai....”

Cepat-cepat aku sumbat mulutnya dengan tapak tangan. Ia meronta dan menangis. Tanganku gemetar oleh teriaknya.

“Jangan. Jangan menangis!” aku melarang.

Tangisnya hilang. Tinggal sedu sedan. Dan tanagnku kulepas. Alangkah kurus adikku. Dengan mata benci dipandangnya aku. Dan air matanya tetap menggelinang. Di antara sedu sedannya dia berkata, “Engkau juga melarang, Mas? Ah, jangan gendong aku. Engkau Nica, Mas! Engaku Nica.”

“Tidak, Cuk,” hiburku. Dan matanya telah sebak. “Nanti kakikau kuobati. Kalau sudah sembuh nanti boleh menyanyi lagi.”

Sedan-sedannya terpatah-patah. Dan Cuk mulai gembira lagi.

“Engkau mengajadi aku abese nanti, ya Mas? Seperti dulu Mbak Kus kau ajari. Tapi engkau tak kan mengetuki kepalaku dengan sendok, bukan? Dan aku boleh turut ke Jakarta. Dan naik mobil ya, Mas? Dan melihat kapal...”

“He-e: Mbak Kus masih sekolah, Cuk?”

“Tak ada yang sekolah lagi sekarang, Mas. Mbak Kus sudah pulang dari Pati jalan kaki. Katanya tak ada sekolahan lagi.”

“Mas Lik di mana, Cuk?”

“Dibawa Nica, Mas. Kata tuan, dia pemuda.”

Dadaku berdentam. Oh, dia masih kanak-kanak, baru empat belas. Tapi apakah salahnya? Penjara yang baru kutinggalkan pun berisi dua orang anak seumur itu.

“Bapak di mana, Cuk?”

“Bapak di bawah pohon duat.”

“Tidak dibakar pohon itu?”

“Tidak, Mas. Bapak di situ saja, Mas, menulis dan menembang.”

“Menembang apa?”

“Permadi dan Sumbodro, Mas. Dan menulis saja sampai malam.”

Kami berjalan terus. Nenek tetap berdiam diri. Rumah sudah dekat tapi tak jua tampak atapnya. Di sela-sela pagar hidup yang kuning kecoklat-coklatan aku lihat runtuhan rumahku—tembok dan arang. Dan sama saja seperti di mana-mana. Sampai di belokan jalan, jauh aku lihat sepasukan serdadu sedang berpatroli. Dan adikku menuding ke arah patroli itu.

“Dia datang lagi, Mas. Si tuan. Dia selalu datang ke sini. Aku kerap dikasih permen dan dia senangnya mengobrol dengan Mbak Kus. Bapak tak senang. Dia senang di bawah pohon duat dan menulis dan menembang saja. Dan kalau si tuan datang, Mbak Kus terus lari ke balakang dan menangis dan aku turut menangis.”

“Mengapa menangis, Cuk?”

“Engkau tak datang-datang juga Mas. Dan katanya si tuan mau membawa Mbak Kus, jauh—jauh sekali. Itu, Mbak Kus, Mas!”

Cuk menuding ke arah dekat unggukan batu. Oh, adikku perempuan yang tercantik dan tercerdas. Dia baru berumur enam belas dan baru di kelas dua SMP Pati. Di antara sela-sela pagar hidup yang mati itu kulihat parasnya yang jernih sudah keruh. Dan kulitnya yang kuning kini kehitam-hitaman. Cuk berteriak keras-keras, “Mbak Kus, Mbak Kus! Mas Muk datang.”

Gadis itu berlari-lari ke jalan. Dia masih setangkas dua tahun yang lalu. Segera dipeluknya aku. Berkata gairah, “Engkau datang, Mas. Alangkah lama engkau di penjara. Engkau kurus sekali, Mas, rumah dibakar. Engkau tak punya kamar lagi. Dan buku-buku kiriman kau dulu, semua sudah dirampas Mas To.”

“Mas To siapa?”

“Kawan kau main musik dulu.”

“Mengapa dirampas?” tanyaku.

“Karena, karena, engkau dan Mas Wit tentara.”

“Dia Nica?”

“Komunis. Aku tak bisa belajar lagi, mas. Oh, alangkah tipis lengan kau. Engkau masih mau makan nasi jagung, mas?”

Kami masuk ke dalam pelataran. Dan aku menjawab, “Masih.”

Semua adik datang mengerubung. Kun, Um, Kus, dan Cuk. Bapak meninggalkan pohon duat sambil membawa bukunya. Bertanya, “Selamat, Muk?”

“Pengestu, bapak.”

Dan bapak kembali ke bawah pohon duat.

“Mas Muk,” tegur Kun. “Surat kau melalui Palang Merah setahun yang lalu sudah kuterima.”

“Mengapa tak kau balas?”

“Sudah lima belas kali aku menulis. Tapi surat kau tak datang lagi,” dan ia menarik napas panjang.

“Aku tak pernah menerima.” Kemudian aku berbisik pada Kun, adikku yang sudah berumur delapan belas dan sudah menikah dengan prajurit dari Divisi Djatikusumo—“Mengapa nenek kau biarkan jadi pengemis?”

Nenek yang membisu saja dari tadi tersedan-sedan dan menyembunyikan mukanya ke dalam kainnya. Kemudian dia menjauh, duduk di tengah pintu gubuk dan membungkuk seperti katak. Kun menyinarkan penyesalan pada matanya.

“Mas, makan kami hanya dari tanaman jagung pekarangan yang tak lebar ini. Adik-adikmu yang mengerjakan. Bapak menulis saja di bawah pohon dan tak kan bergerak dari situ bila matahari belum terbenam. Maksudku, aku tak mau memaksa bapak mencangkul. Malah waktu letnan Belanda datang kemari menawarkan pangkat pegawai pengajaran untuk Karesidenan Pati, aku juga yang menjawab, “Bapak sudah tua, aku tak mengizinkan dia bekerja lagi.” Karena itu penghasilan sedikit sekali dan makanan harus dibagi seadil-adilnya. Dan nenek mencuri bagian Cuk. Aku marahi dan dia pergi. Adik-adik bilang, nenek jadi pengemis di stasiun. Mereka kusuruh membawa pulang nenek. Tapi nenek tak mau. Aku sendiri mengajaknya pulang. Dan dia bilang, “Aku tak mau pulang. Aku menunggu Gus Muk.’’ Dan aku bilang, “Mas Muk tak pulang. Dia ditangkap Nica.” Tapi dia tak mau peduli dan selalu tinggal di stasiun.

Nenek menangis. Dalam sedu sedannya.

“Nek,” panggilku. Tapi dia tak peduli. (bersambung)

18 March 2026

Blora - bagian 1


Karya: Pramoedya Ananta Toer

Saudara! Engkau tahu apa yang dicita-citakan oleh setiap tawanan? Engkau pasti tahu! Keluar—mendapat kebebasan kembali, hidup bergaul dengan kawan, saudara dan sesama manusia. Buat saudara, mungkin perkataan “keluar” itu tak memberi kesan apa-apa. Tapi buat tawanan dan bekas tawanan, kata itu alangkah merdu menggairahkan. Sama saktinya dengan lagu kebangsaan.

Dan hari ini, saudara, alangkah senang. Mengapa tidak? Serdadu penjaga berlari-larian masuk ke dalam kamp. Voorman dipanggil. Dan keributan kecil itu semata-mata hanya untuk kesenanganku. Begini, saudara, Voorman kembali dari kantor kamp dan berteriak, “Pram!” aku jua berteriak menyahut. Dan dia meneruskan, “Kau dibebaskan. Kumpulkan semua barang inventaris.” Seperti gagak dilempari batu datang saja seruan dari mulutku, “Oke, oke.”

Aku lari masuk ke dalam selku dan mengemasi pakaian, alat tidur, dan alat makan. Kawan-kawan ramai memasuki sel mengajak tukar pakaian. Dan banyak pula yang berdiri menutup pintu dengan mata kuyu. Ada yang mengucapkan syukur dan ada pula yang menggerutui nasibnya. Dan aku terharu. Memang ada saat-saat manusia akan terharu betapa juapun akan materialistisnya. Terutawa waktu aku berjalan ke kantor kamp dan mereka mengacung-ngacungkan tinjunya sambil memekik lemah, “Merdeka! Merdeka! Jangan lupa pada penjara! Jangan lupa pada perjuangan.” Kemudian teriak nyaring yang tak kan mungkin bisa kulupakan seumur hidup, “Keju enak, bung. Dan susu kental membuat buta!” Dan aku tak bisa menjawab satu per satu. Kepalaku tunduk—tak berani menentang mata kawan-kawan yang masih menderita.

Pintu besi yang pertama dibuka. Aku melalui. Kemudian pintu itu dikunci pula. Dan di belakang penghalang yang setinggi dua meter ini kawan-kawan menurutkan aku dengan matanya yang kuyu. Barang inventaris kuserahkan. Dan semua bawaanku digeledah. Apa yang akan didapatkan dari pada aku? Hanya pakaian yang kupakai dan satu setel lagi dan beberapa buku. Kemudian aku menerima surat ontslag yang pada bagian bawah ada capnya begini, “de facto krijgsgevangenen kamp.” Dan hampir saja aku kena salah lagi. Aku tersenyum membaca tulisan itu. Pandang tajam mengunci senyumku. Sebentar kupandang kawan-kawan yang memoncongkan hidupnya di sela-sela jari besi.

Pintu besi kedua aku lalui. Kawan-kawan di balik pintu masih mengacung-ngacungkan tinjunya. Dan mata yang kuyu jadi berapi-api meneriak pandang, “Merdeka! Merdeka!”

Aku sampai di pintu ketiga. Sekali lagi aku menengok. Kemudian hilanglah kawan-kawan itu dari mataku. Di punggungku tersengkang tas dari terpal. Tas ini kubuat di kamp, sedang bahannya kudapat dari mencuri waktu aku kena kerja paksa di bengkel militer. Isinya satu setel pakaian pendek, satu buku Steinbeck, satu buku Weststrate, satu buku Exupery dan Tagore, dan buku Pelajaran bahasa Prancis yang tak pernah kupegang-pegang—seluruh kekayaan! Dan terkuncilah pintu yang ketiga itu.

Dan sekali lagi aku menengok ke belakang. Oh! Kotak yang aman. Hampir dua tahun aku dikurung dalam kotak itu. Tidak, saudara—aku tak berani menengok lagi. Pelan aku berjalan. Dan tiba-tiba hatiku sedih amat. Dulu aku percaya, kesedihan hanya timbul bila keangkaraan manusia tak terpenuhi. Tapi kali ini aku bersedih hati malah oleh tercapainya keangkaraanku—besar-besaran! Dunia yang penuh rahasia! Dan pada telingaku berdengkingan teriak kawan-kawan yang selalu didengkingkan pada kawan yang dilepas. “Wah, banjir malam ini!” Dan aku bertambah sedih.

Kini aku melihat matahari bebas lagi. Melihat simpang siur bebas pula. Semua yang kulihat serba bebas. Dan terasa sekali olehku, bahwa penglihatan manusia itu tergantung pada keadaan hatinya.

Saudara, engkau tahu apa yang kukerjakan selanjutnya? Mula-mula begini: Aku makan sate di pasar Jatinegara—sekenyang-kenyangnya. Dan kubayar belanja itu dengan satu celana pendek. Cita-cita yang kedua terpenuhi. Kemudian ini: Aku pergi ke toko emas dan menjual cincin kawin. Mau tak mau, saudara. Kalau perahu diterak badai, orang tak boleh sayang kehilangan tiang agung. Seterusnya: buku-buku yang kukasihi melayang pula. Dan akhirnya ke loket. Beli karcis. Melompat ke kereta api. Berjalan, saudara—menuju ke kota kelahiran: Blora!

Aku sendiri tak mengerti, saudara, mengapa sekali ini perjalanan kereta api begitu cepat. Dan yang teringat olehku kini: laut! Laut, saudara. Sudah lama aku tak melihat laut. Dan tiba-tiba membentanglah laut lepas dari jendela kereta. Hanya dua menit. Kemudian hutan menyusul. Sekali lagi tampak pula laut tadi dengan perahunya yang memerak di dasar yang biru. Tapi hanya lima menit. Kereta menjurus pula ke pedalaman. Semarang! Di sini aku pernah antre karcis dua hari dua malam. Tapi sekarang tak perlu lagi. Sebab, Jepang sudah dihukum mati dan digantung di mana-mana. Orang yang kalah perang.

Banyak kota hangus di sepanjang jalan kereta. Banyak dusun mati. Banyak jembatan ringsek dan terpaksa perjalanan putus-putus bersambung dengan titian perahu. Dan aku makin tak mengerti mengapa perjalanan secepat itu. Dan Blora—sebentar lagi sampai. Dulu, aku selalu mendengar desah mesin dan geletar roda pada rel. Tapi kini jalannya tenang saja dan cepat.

Blora! Manis rasa suara itu dalam perasaanku. Saudara, engkaupun akan begitu pula bila sudah bertahun-tahun lamanya tak pernah menginjakkan kaki di tanah kelahiran sendiri. Dan tanah di mana orang tua dan saudara yang dikasihi ada di situ. Tapi, rasa—seperti daerah pedalama—pun tak punya keamanan yang abadi, saudara! Karena, ketakutan itu datang juga jungkir balik dalam benakku. Mungkin seluruh keluarga sudah mati. Oleh Komunis Muso atau oleh TNI atau oleh Belanda. Siapa yang membencanai keluarga itu tak menjadi soal bagiku. Tapi bencana itulah yang aku takuti. Dan ketakutan yang lain ialah ini: gerakan pembersihan yang sama saja ngerinya dengan gerakan pembersihan di mana-mana—dan gerakan gerilya, seperti gerilya lainnya di mana-mana. Dua-duanya sama hebatnya. Dan sekarang memang zaman perang. Kalau perang sudah meletus, orang bosan dan ingin keamanan lagi. Persis seperti ini, saudara, saudara jemu pada kekasih yang selalu berkeluh-kesah dan minta uang. Tetapi kalu kekasih sudah pergi, saudara ingin pula duduk berjajar. Barangkali memang beginilah sifat manusia. Dan dalam segala hal rupa.

Blora, saudara. Blora! Engkau sudah pernah ke Blora? Kota yang termasyhur miskin itu? Nanti kuceritakan. Kini, gunung cadas Kendeng lah nampak. Garang, saudara! Sepetti bangkai raksasa yang mulai pudar—kekuning-kuningan. Dan baunya, saudara! Bau yang mengganggu penduduk di situ. Bau—kemiskinan. Dan seperti sudah tradisi di sini—orang harus hiduo miskin. Sebab di sini, saudara, orang yang kuat membeli daging seminggu sekali tak termasuk rakyat jelata lagi dan sudah termasuk “ndoro”. Tapi jagal tak termasuk dalam istilah ini.

Blora, saudara! Dan aku sampailah. Dan baru mulai di sini ceritaku. Mula-mula yang kulihat ini: stasiun runtuh. Dan ini diruntuhkan oleh pasukan Amir, waktu mereka diserbu oleh TNI. Di depan stasiun berjajar gedung-gedung orang Tionghoa. Semua inipun telah runtuh belaka. Runtuh oleh peluru bikinan Amerika. Dan aku tak peduli siapa yang mengerjakan.

Para penumpang berbaris keluar, dan aku turut serta. Di sudut dekat pintu keluar aku lihat Inah. Engkau belum kenal Inah, saudara. Dia adalah gadis yang tercantik di kampungku. Dan juga yang tersombong. Saudara tahu juga mengapa dia sombong. Karena, dia cantik sekali dan lamaranku ditolak. Suratku dibalas juga. Tapi isinya, saudara, nasihat! Hanya nasihat semata! Sungguh menyakitkan hati. Tapi sekarang dia bukan si cantik dulu. Dia sudah lesam dan badannya reot. Bedak mukanya tebal dan bibirnya semerah cenger jago. Rambutnya tipis, matanya jalang dan tingkahnya genit.

“Mas,” tegurnya.

Dan aku menundukkan kepala. Saudara tahu sendiri sebabnya, bukan? Aku takut diajak kawin. Dan aku diam saja berjalan. Dan dia memanggil lagi. Dan aku menulikan kuping. Dan dia berseru-seru. Aku cepatkan jalan. Tas kempes masih tersengkak di punggung. Dan bawaan lainnya hanya uang setengah rupiah berwarna merah. Tiba-tiba dia keras tertawa terbahak-bahak. Kurang ajar! Aku ditertawakan. Dan tiba-tiba pula panas hatiku timbul. Aku berhenti. Membalikkan badan. Dan dia sudah diremas-remas oleh serdadu pendudukan. Panas hatiku lenyap, cair. Oh! Inilah daerah merdeka yang dimerdekakan.

Sebentar aku duduk di batuan melihat tingkah pujaanku dulu. Dia menggeliat-geliat senang. Dan serdadu itu duduk tak berani berdiri dan tangannya menggerayangi apa saja yang bisa digerayang pada tubuh bekas pujaanku itu. Saudara, terang atau gelap hari itu bukan sesuatu yang menentukan kebenaran. Dan yang terjadi itulah yang benar. Dan sekali ini kebenaran itu tergelar di hari terang benderang: pujaanku dulu diremas-remas serdadu.

Terbit niatku akan membawanya—turut menolong membimbingnya kembali ke dunia yang baik. Dan aku berdiri. Berjalan. Menghampiri pelan. Dan dia tetap terbelit dalam remasan serdadu yang bermata kucing. Tertawa terbahaknya hilang. Geliat senangnya hilang. Dan matanya pudar memandang aku—menitikkan air mata. Dia meronta kuat akan melepaskan diri dari pelukan. Aku makin menghampiri. Aku jadi perasa. Tangannya kupegang erat. Kutarik akan merenggutkan Inah dari kekuasaan serdadu. Dan karena perasaku ini aku mendapat tendang di pinggang.

Dengan kesakitan aku pergi tersipu-sipu. Aku berani bertaruh, tiga hari ujiannya, dan nyeri tendangan itu baru hilang. Kembali aku duduk di batuan tadi. Memandangi Inah masih meronta-ronta. Matanya terpusat kepada aku. Mata yang minta dikasihani. Mata yang menyampaikan kata tentang perjalanan hidupnya sesudah aku meninggalkannya. Aku mengerti juga siratan pandangan itu. Siapakah di antara wanita yang dengan suka rela mau menjual dirinya? Dan mata itu mengatakan, “Jangan aku dipersalahkan mengapa aku jadi begini.”

Tiba-tiba Inah didekapkan pada dadanya. Kakinya terangkat. Dan dia makin meronta. Insyaflah dia akan keadaan dirinya—medan kehidupan yang dibencinya tetapi yang dia harus masuki. Dan dada serdadu itu tertutup oleh tubuh Inah. Berjalan ke jeep-nya. Masih ada juga terdengar seruan pelan, “Mas—Mas—“. Kemudian lenyap seruan itu digulung oleh derum motor. Dan masih jua terbayang olehku. Inah yang reot itu menitikkan air mata. Dan mendadak pertanyaan padaku, saudara. Siapakah yang sebenarnya memiliki hidup manusia ini? Teranglah manusia tak memiliki hidupnya sendiri. Dan siapakah yang memiliki hidup Inah itu? Aku tak sanggup menjawab, saudara. Di mana-mana pun jua, hawa penjara melemahkan ketahanan berpikir. Jawablah sendiri, saudara.

Kuturutkan jeep itu dengan mataku sampai hilang menuruni jembatan kali Lusi. Aku berdiri. Pelan berangkat ke arah tentang jurusan jeep. Gairah kan bertemu dengan rumahtangga dan keluarga merujak kembali. Mobil militer mondar-mandir. Juga cikar yang kulihat di mana aku masih kanak-kanak. Dan runtuhan rumah batu. Dan arang kayu rumah. Dan anak-anak yang telanjang berkeliaran dengan perut kembung. Dan pengemis. Keadaan daerah merdeka yang baru diduduki. Dan di mana-mana sama saja. Kota mati—kota yang tak punya pemuda. (bersambung)

07 August 2025

Surat Perpisahan Acil The SIGIT

 



An ocean I can no longer fathom

Waves I can no longer ride

I find myself away from the bottom

With this feeling I can’t abide

 

A language I can no longer speak

Shivering words that left me weak

A presence I can not attend

Fate that I can not amend

 

This day has left me trembling

Coldness of that morning

The sadness of the mourning

 

The ship’s now sailing the high sea without a word

And I left my heart for you to decide my lord…

 

As I lay rest shield and my armour…

I turn myself ashore… to where I was before…



06 August 2025

Mayit Dina Dahan Jengkol: Janda sebagai Objek

Ini kisah tentang Sari, biasa dipanggil Nok Sari: janda muda dan cantik yang dianggap sebagai penyakit oleh ibu-ibu warga kampung. Sebabnya, para suami mereka, apalagi kaum bujangan, berebut mencari dan mencuri perhatiannya. Mereka, para lelaki itu, biasa berkumpul di warung Bi Isoh yang letaknya tiga rumah dengan kediaman sang janda.

Karena dagangannya jadi laku keras, baik kopi maupun goreng ulen, Bi Isoh jadi salah satu perempuan yang "tak membenci Sari", malah berharap janda itu tak segera menikah agar warungnya terus ramai dikunjungi.

Percakapan-percakapan di warung Bi Isoh selalu tentang Sari, dipadu dengan canda dan tawa yang riuh. Pendeknya, para lelaki itu menjadikan Sari sebagai objek. Saat menggambarkan dialog-dialog tersebut, Ahmad Bakri si pengarang begitu tapis.

Perceraian Sari dengan suaminya mula-mula tak banyak yang menduga. Rumah tangga mereka dianggap biasa. Hanya saja suaminya memang di luar kota untuk mencari nafkah. Dan sebelum mendapatkan rumah yang layak, Sari dititipkan sementara di rumah orang tuanya.

“Muhun [salaki Nyi Sari tĂ©h] ti Bandung ngalih ka Batawi. MĂ©mĂ©h kĂ©nging bumi sina di dieu heula, ongkoh dibaeukeun ku sepuhna, bilih dibabawa mĂ©tak (tinggal di rumah petak) cenah. Pa Mandor tĂ©a atuh, uninga ieuh, teu paya pisan ningali kirang sautik ge,” jawab Bi Isok kepada seorang pemuda.   

Suatu hari, Sari hilang saat mencuci baju di tampian. Darah segar berceceran di sekitar tempat dia mencuci. Warga kampung heboh bukan kepalang. Mereka segera menyusuri sungai untuk mencarinya. Beberapa orang yang melihatnya pada saat-saat sebelum dia menghilang, dipanggil. Dari jawaban-jawaban para “tersangka”, seseorang disuruh untuk menjemput orang yang para “tersangka” sebutkan.

Namun, saat orang yang disuruh itu belum sampai ke tujuan, hal menggemparkan lainnya kembali terjadi.

Berbulan-bulan kemudian, warga menemukan sesosok mayat yang tergantung di dahan pohon jengkol. Kampung yang semula telah reda, kembali geger. Peristiwa ini awalnya tak terbongkar, tersimpan rapi selama berbulan-bulan: antara bunuh diri atau rajapati. 

Novel ini kembali membuktikan kepiawaian Ahmad Bakri dalam membangun rasa penasaran pembaca. Namun, setali tiga uang dengan novela “Dina Kalangkang Panjara” dan “Kacaangan ku PanĂ©kĂ©r”, semuanya tak menggoreskan konflik kejiwaan yang kompleks. Atau tak secanggih cerita Laleur Bodas karya Samsu yang menghadirkan sosok misterius.

Namun demikian, Mayit Dina Dahan Jengkol berhasil memotret keadaan sosial masyarakat Sunda di perkampungan tempo dulu—atau mungkin masih terjadi sampai hari ini—yang memperlakukan janda sebagai anggota masyarakat yang tak diinginkan dan sumber penyakit.     

Sari dalam novel ini menjadi korban berlapis. Dia tak sanggup menggapai cita-citanya meraih hidup bahagia. Kecantikan dan statusnya sebagai janda menjadi kambing hitam. Di tengah sistem sosial yang rapuh bagi perempuan, dia tak berkutik. [irf]

28 July 2025

Nu Harayang Dihargaan: Darpan dan Cerita-Cerita dari Utara

Dalam pengantar buku kumpulan cerpen ini, Duduh Durahman menyinggung soal komposisi nama pengarang, yakni Darpan Ariawinangun. Menurutnya, gabungan kedua nama itu secara kebiasaan bertolak belakang, karena menggabungkan nama yang lumrah dipakai rakyat jelata dengan nama menak.

Nama Darpan, tambahnya, sederajat dengan nama Salhiam, Mang Uham, atau Kang Nurhayi. Sementara Ariawinangun betul-betul nama ningrat. Lain itu, kata Duduh, pengarang kiwari jarang yang memakai nama yang berbau priyayi.

Namun di sejumlah bukunya, pengarang hanya menyantumkan Darpan—nama merakyat itu—tanpa menambahkan nama belakang. Saat menamatkan 15 cerpen dalam buku ini, kiranya tepat jika dia hanya memakai nama Darpan, karena seluruh cerita yang ia reka menggambarkan kehidupan rakyat jelata dengan segala kemalangan dan kepahitannya dalam melakoni hidup.

Darpan lahir pada 4 Mei 1970 di Sungai Ula, Cibuaya, pesisir Karawang. Berbeda dengan sejumlah pengarang Sunda yang lebih senior darinya, yang kebanyakan berasal dari wilayah Priangan, Darpan orang utara. Bahasa Sunda yang ia pakai pun terdapat beberapa perbedaan dengan dialek Priangan. Meski demikian, di bagian akhir buku ini terdapat keterangan “Bahasa Wewengkon”, yakni kosakata yang dipakai Darpan dan mungkin tidak biasa atau jarang didengar orang orang Sunda dari wewengkon/wilayah lain di Jawa Barat.

Sebagai orang pesisir, tak heran jika beberapa cerpennya mempunyai latar kehidupan nelayan dan petambak. Laut, pantai, dan muara menjadi tempat sehari-hari sejumlah tokohnya, bukan sekadar tempat rekreasi seperti misalnya dalam novel Rajapati di Pananjung (1985) karangan Ahmad Bakri.       

Rajapati, Isu Lingkungan, dan Politik

Pada 2010, seorang kawan menulis cerpen yang dimuat di majalah Manglé. Ia menyudahi kisahnya dengan rajapati atau pembunuhan. Menurutnya, pilihan itu diambil karena ia ingin akhir yang fantastis.

Sejauh pembacaan saya terhadap cerpen-cerpen Sunda, rajapati memang beberapa kali muncul di penghujung kisah. Polanya sama, pengarang mula-mula membangun konflik yang eskalasinya kian menanjak, lalu menempatkan tragedi pembunuhan di bagian akhir yang dimaksudkan sebagai klimaks. Awalnya mungkin pembaca tak akan mengira demikian, tapi jika lama-kelamaan akan terbiasa dan mampu memprediksinya.

Cerpen-cerpen Darpan pun tak lepas dari rajapati. Motifnya rupa-rupa. Berseteru dengan anak sendiri gara-gara berbeda pendapat dalam merespons permasalahan sosial yang timbul akibat korupsi perangkat desa dalam cerpen “Taleus Ateul”. Protes dan frustasi akibat proyek pembangunan menggusur kampung dalam cerpen “Peuting nu Hareudang”. Dan cemburu karena istri ditiduri tetangga dalam “Si Ato Miara Jago”.

Selain dalam “Peuting nu Hareudang” yang menceritakan hilangnya sebuah kampung karena pembangunan pabrik, isu lingkungan dan ekonomi juga muncul dalam cerpen “Layung Geus Ririakan”—orang tua yang pendengarannya sudah buruk yang kehilangan sawah karena dijual oleh anaknya kepada orang-orang kaya, dan “Helikopter”—para petambak penghasilannya mulai berkang akibat pencemaran air.

Sedangkan isu politik selain muncul dalam cerpen “Teleus Ateul”, juga hadir dalam “Cikopi Sagelas”—rakyat jelata yang terhindar dari tekanan/sandra politik aparat desa karena anaknya berbeda pilihan dalam pemilihan lurah. Di pengujung kisah, Mang Karma, rakyat kecil itu akhirnya bisa kembali merasakan kehidupan yang tenang tanpa paksaan dan kesenangan semu yang sempat diberikan pemerintah desa.

“Nya ieu dunya aing. Dunya sagelas cikopi isuk-isuk, bari bĂ©bas mikir pigawĂ©eun poĂ© ieu. Henteu dipapaksa ku batur, henteu kudu sieun ku batur. Ah, naha aing salila ieu kaparabunan ku nu teu puguh? Ninggalkeun dunya aing nu sakieu bĂ©bas merdĂ©kana? KĂ©tang aya hikmahna, aing jadi nyaho talajak hiji-hijina jelema. Mangsabodo, saha nu rĂ©k jadi lurah minggu hareup,” kata Mang Karma.

Cerpen lain yang juga memakai tema politik adalah “Nu Luas Ninggalkeun” dan “Patung jeung Hayam”. Meski cerpen “Nu Harayang Dihargaan” memang cukup menonjol sehingga dipilih jadi judul buku ini, yang menurut Duduh Durahman dalam pengantarnya mempunyai kesan “ngagalura, keras jeung kasar, unsur dramatikna kuat... carpon anu pangneundeutna, tapi pepel,” tapi menurut saya pribadi “Patung jeung Hayam” adalah cerpen yang gaya penceritaannya paling unik.

Dalam “Patung jeung Hayam” Darpan begitu tapis menggugat arti kepahlawanan yang pada umumnya hanya berhenti pada simbol. Diceritakan bagaimana pembangunan sebuah patung pahlawan memakan banyak biaya sehingga melebihi dari anggaran semestinya. Akibatnya, warga sekitar patung “katempunan”. Harta benda mereka yang tak seberapa dipakai untuk mendukung pembangunan patung tersebut. Bahkan seekor ayam warga pun akhirnya dirampas.

Lain itu, para pejabat dari kota yang melakukan perjalanan dinas ke desa untuk mengontrol dan memeriksa pembangunan patung kerap minta dilayani dengan berlebihan, salah satunya minta “ayam”.

Kumpulan 15 cerpen ini seluruhnya memotret nasib rakyat kecil yang hidupnya tak putus dirundung malang. Suara Darpan adalah suara wong cilik pesisir utara Jawa Barat dengan segala persoalannya. [irf]

05 July 2025

Pager Ayu

Karya: Dede Mudopar

Tadina mah mugen. Horéam milu. Ngan si Uton mani maksa ngajak ngabaturan. Ngabaturan ka ondangan kawinan babaturanana di Maja.

Kuring jeung si Uton datangna rada pandeuri. Teu bareng jeung rombongan pangantén lalaki. Anjog ka tempat nu boga hajat téh balandongan geus pinuh ku tatamu ti pihak lalaki nu nganteurkeun jeung ti pihak awéwé nu nyampakkeun. Lah rék diuk di tukang wé, ceuk pikir. Tapi si Uton ngabebedol leungeun, séséléké ngajak diuk rada di hareup, tukangeun para sesepuh. Méh atra ningali akadna, cenah.

Katingali pangantén lalaki diuk dina korsi panjang diapit ku lebé jeung ajengan. Nyanghareupan méja nu jangkungna méh satuur. Na méja katangén aya surat kawin jeung kado dibungkus ku kertas nu rupana konéng emas. Jigana jerona mas kawin. Hareupeun éta méja aya deui korsi panjang nu kosong kénéh. Keur diuk pangantén awéwé meureun.

MC muka acara. Terus ngamanggakeun ka pangantén awéwé supaya diuk dina tempat nu geus disadiakeun. Korsi panjang téa. Kurunyung pangantén awéwé diaping ku pager ayu di kénca-katuhueunana.

Kuring merhatikeun panganten lalaki nu ngan katempo tonggongna. Katangén naék turun. Rénghap-ranjug. Geumpeur tayohna. Bisi salah ngomong dina waktu ijab kobul.

Pangangguran kuring ngarérét ka pager ayu katuhueun pangantén awéwé. Ké asa wawuh, ceuk pikir. Ngan saha éta? Di mana? Sugan pédah kahalangan nu make up nu kandél, jadi mani hésé nginget nu diteuteup téh. Uleng mikir. Nginget-nginget bari angger teu leupas neuteup si pager ayu. Inget! Gebeg. Ngagebeg. Yati. Geuning Yati. Enya Yati. Moal salah. Yati.

Geus teu kadéngé sora MC nu ngatur acara. Geus teu maliré deui runtuyan acara nu keur dilakonan. Kuring ngadon ngahuleng bari teuteup teu leupas ti si pager ayu. Tapi nu diteuteupna mah bangun teu sadareun, anteng wé tungkul bari ngiplik-ngiplik kipas. Ngipasan pangantén.

Enya Yati, gerentes haté. Yati nu éta. Nu baheula kungsi tapa salila-lila di jero haté. Yati nu tujuh taun katukang ngeusi sanubari tur teu bisa ditukeuran nu inten. Yati nu tungtungna ngajejewet haté kuring. Yati nu tujuh taun katukang ngudar jangjina. Jangji duaan. Jangji hirup babarengan. Yati nu ingkar tina jangji alatan kagoda ku banda. Kagoda ku harta. Kawin jeung harta.

Harita. Tujuh taun katukang. Yati kawin. Sanggeus kawin, tuluy manéhna pindah ti lembur. Ka Jatitujuh cenah pindahna téh. Dibawa ku salakina. Haté peurih. Peurih pisan. Pikeun ngabangbrangkeun haté nu tatu, kuring ngumbara ka Ciamis. Nya di Ciamis pisan kuring panggih jeung Nani. Nani nu anyeuna jadi pamajikan kuring. Nani nu bisa ngagantikeun Yati. Nani nu asih jeung geugeutna bisa matak poho ka Yati. Yati nu jadi indung budak kuring.

Tapi naha anyeuna nu kapikiran téh ngan Yati? Yati nu aya di hareupeun kuring. Lain Nani nu kapikiran téh. Lain. Tapi Yati. Teu inget ka haté nu kungsi raheut ku manéhna. Nu aya na haté téh ngan asih nu baheula leungit, kahilian ku asih nu anyeuna eunteup deui. Jadi deui. Hejo deui. Nyaliara deui.

“Alfatihah...”

Kuring ngarĂ©njag. Sadar tina lamunan. Bakat husu ngalamun teu sadar geus rĂ©ngsĂ© akad nikah tĂ©h. Du’a panutup gĂ© geus bĂ©rĂ©s. Tuluy dua pangantĂ©n diiringkeun asup ka imah... Angger diaping ku para pager ayu. Yati salah sahijina.

MC ngamanggakeun ka para tatamu supaya parasmanan heula. Si Uton, di gigireun cengkat.

“Hayu dahar heula, No!” ceuk si Uton.

“Nam we ti heula,” tembal kuring. Si Uton ngalĂ©os, muru parasmanan. Kuring ngajentul kĂ©nĂ©h dina korsi. Ngalamun kĂ©nĂ©h. Ngalamunkeun si pager ayu tĂ©a. Yati tĂ©a. Aya nu noĂ©l kana cangkĂ©ng, kuring kagebah tina lamunan, barang dilieuk, geuning... Yati. Yati geus diuk di  gigireun.

“Kang Nono?” nanyana bari neuteup. Teuteupna. Teuteup nu baheula.

“Muhun, Yati?” tembal kuring.

“Muhun, Akang geuning aya di dieu? Damang Kang?” Yati imut. Imut nu baheula.

“Ieu nganteur rĂ©rĂ©ncangan. Alhamdulillah damang. Yati bet aya di dieu? SanĂ©s kapungkur basa ngalih tĂ©h ka Jatitujuh?” omong kuring.

“Pan dua taun kapengker abdi sareng pun lanceuk tĂ©h ngalih ka dieu, ka Maja. NembĂ© sataun di dieu, pun lanceuk ngantunkeun,” tembal Yati. Tungkul. Paromanna robah. Jadi alum.

“Ngantunkeun? Innalillahi,” ceuk kuring bari neuteup. Yati tungkul kĂ©nĂ©h. Geuning Yati tĂ©h geus jadi randa, ceuk kuring na hatĂ©.

“Eu... Yat, tos kagungan sabaraha putra?” tanya tĂ©h, mengpajarkeun jejer omongan.

“Numawi, Kang, abdi mah teu gaduh putra. Ditakdirkeun moal gaduh turunan ku Pangeran. Ari Akang tos kagungan sabaraha?” tanya Yati bari beungeutna cengkat deui. Neuteup deui. Kuring teu langsung nĂ©mbal. Ngahuleng heula. “Gabug” geuning Yati tĂ©h.

“Eu... Akang mah tos gaduh dua. Lalaki sadayana,” tĂ©mbal kuring.

“Euleuh pameget sadayana? KarasĂ©p panginten nya? Jiga ramana,” ceuk Yati. Imut. Imut nu asa bĂ©da. Asa ngagoda. HatĂ© jadi teu pararuguh rarasaan.

“Heuheu... muhun atuh,” tĂ©mbal kuring bari nyĂ©rĂ©ngĂ©h. Yati ngan imut.

“Euh Kang, sindang atuh ka rorompok, da caket ti dieu tĂ©h, tah lebet ka gang nu Ă©ta,” Yati nunjuk ka gang peuntaseun imah nu boga hajat.

“Mangga Yat, sanĂ©s waktos wĂ©, isin ongkoh,” cekeng.

“Ih, iraha sanĂ©s waktos tĂ©h? Yu anyeuna wĂ© sindang heula. Jih isin ku saha da teu aya sasaha. Yu Kang ngobrolna cuang di rorompok wĂ©, mĂ©h rinĂ©h ongkoh ngobrolna,” Yati nĂ©rĂ©wĂ©co.

Kuring ngahuleng. AnĂ©h. HatĂ© nu baheula kungsi ngedalkeun “cadu” kudu ngomong deui jeung Yati anyeuna bet lĂ©ah. HatĂ© nu baheula gorowong ku Yati anyeuna bet jadi cageur ku kabungah. Bungah pĂ©dah panggih deui jeung Yati. Yati nu baheula...

“Mangga atuh,” kuring cengkat. Yati cengkat.

“Antosan heula sakedap, Yat!” ceuk kuring bari ngalĂ©os rĂ©k nĂ©angan si Uton. Kapanggih si Uton keur nyerebung udud na korsi, bĂ©rĂ©s dahar tayohna.

“Ton, bisi rĂ©k balik mah jung wĂ© ti heula. Heug pangbĂ©jakeun ka Nani, kuring balikna peuting, da rĂ©k ka Talaga heula, rĂ©k nyimpang heula ka Wa Haji, kituh. Peupeujeuh nya Ton bĂ©jakeun,” ceuk kuring.

Katingali beungeut si Uton rada kerung. Pinuh kahéran. Kuring langsung ngaléos. Teu ngadagoan jawaban Uton. Muru Yati. Kabetot ku imut Yati. Yati nu baheula... [ ]

 

Jatinangor, 24 Pebruari 2010

 

Eunteung (Bagian 2 - Tamat)


Karya: Dede Mudopar (*) 



Tuluy kuring ngojéngkang ka pipir imah Mang Suma. Gigireun imah Mang Hadi. Dodongkoan. Si Emus nuturkeun. Datang ka pipir. Cingogo deukeut tatapakan. Kaayaan rada caang. Kasorot ku lampu ti gigireun imah Mang Suma. Hulu dielolkeun. Si Emus pindah ka gigireun. Ngelolkeun sirahna. Atra ka dapurna imah si Emus.

Kaayaan pipirna remeng-remeng. Ngan kacaangan ku lampu ti pipir imah Mang Hadi. Katingali aya jalma nangtung hareupeun panto dapur si Emus. Si Ohim. Teu salah. Dedeganna ogé. Tuluy manéhna keketrok. Keketrok sababara kali. Can aya nu muka. Kuring ngarérét heula ka si Emus. Beungeutna geuneuk. Huntuna kekerot. Kulutrak panto dapur si Emus aya nu muka. Nyi Wiwi jigana. Sup si Ohim asup. Kuring teu lemék. Hate bet milu heneg. Milu kekerot.

“Mus, kumaha ieu? Naha cuang buburak waĂ© ku urang?”

Nu ditanya teu némbal. Kabayang kumaha rarasaan si Emus harita.

“Buburak wĂ© lah,” ceuk kuring bari nguniang. Nangtung. Can gĂ© ngalĂ©ngkah, si Emus kaburu metot leungeun.

“Ulah Kang! Keun waĂ©,” si Emus ngomong bari milu nguniang nangtung. Tuluy ngalĂ©os. Kuring kerung. AnĂ©h. HĂ©ran. Asa hayang ambek. Keuheul ku si Emus! Euweuh peujitan kitu si Emus tĂ©h? Gerentes kuring. Kapaksa kuring nuturkeun. Keun hayang nyaho, rĂ©k kumaha cenah. Dituturkeun tĂ©h ngadon ka garduh. Nangkeup tuur deui. Kuring milu diuk gigireunana. Ibun mimiti nyaab. Hawa peuting nu biasana tiis teu karasa. NgahĂ©ab nu aya. Kalah hareudang. Kakara rĂ©k pok ngomong, si Emus miheulaan.

“Kang, ulah waka lapor ka RT nya! Keun waĂ©. Éta mah urusan kuring jeung Nyi Wiwi jeung si Ohim,” pokna.

Kuring teu némbal. Heneg. Da tadi téh rék ngomong rék lapor ka RT. Ari anyeuna si Emus ngomong kitu. Lain lalaki sia mah Mus! Mun ku aing mah geus dicacag tah si Ohim! Dipeuncit ku aing mah! Cekeng na jero haté.

Sora bueuk dina tangkal nangka teu eureun-eureun. Katambahan ku sora daun awi nu katebak angin peuting. Tangkalna milu kaoyagkeun. Ngaréot paadu jeung papadana. Sorana lir jalma nu patingcorowok. Kuring ngadon ngajaranteng. Asup kana lamunan séwang-séwangan.

Geus kadéngé aya nu tahrim di masjid. Si Emus ujug-ujug ngaléos. Teu ngomong heula. Kuring ngan nyérangkeun di tempat diuk. Kuring gé balik. Dibaturan ku nyecepna ibun janari. Nu angger teu karasa tiis. Teu matak niiskeun.

Datang ka imah langsung gogoléran. Teu bisa saré. Kabayang waé kajadian tadi. Kabayang waé beungeut si Emus. Nu geuneuk. Napsu. Tapi euweuh kawani. Si Emus nu euweuh peujitan. Lain lalaki! Danten sia mah Mus! Haté néréwéco waé. Tungtungna mah reup teu inget bumi alam.

Kuring kahudangkeun ku nu garandéng di jalan hareupeun imah. Ngarérét heula kana jam dinding. Geus tabuh sapuluh geuning. Kuring buru kaluar. Aya pamajikan keur guntreng waé jeung tatangga. Di jalan loba jalma lalumpatan ka kulonkeun. Aya ogé nu leumpang rurusuhan. Ka kulonkeun.

“Nyai, aya naon mani asa riweuh kieu?” cekeng nangtung dina golodog.

“Si Ohim aya nu meuncit, Kang!” tĂ©mbalna rada ngagorowok. Kuring reuwas. Buru turun kana golodog.

“Di mana?”

“Di saung deukeut walungan. Tuh mayitna gĂ© di ditu kĂ©nĂ©h. Buru ka ditu! Geus aya pulisi malahan mah, anyeuna ogĂ© geus bung-beng pulisi mah narĂ©angan si Emus, curigauen ka si Ă©ta da ti isuk geus euweuh. Cenah mah tadi isuk-isuk aya nu manggihan di Talaga. NaĂ©k mobil jurusan Bandung. Rurusuhan,” pamajikan nĂ©rĂ©wĂ©co.  

Kuring teu némbal. Asup deui ka imah. Buru disalin. Hareupeun eunteung. Neuteup kalangkang kuring na eunteung. Kolébat si Emus. Kolébat Nyi Wiwi. Kolébat si Ohim. Kolébat bedog. Patingkolébat. Na eunteung. Gidig kuring kaluar. Rurusuhan. [ ]

 

Jatinangor, 16 Maret 2010

(*) Mahasiswa Sastra Sunda Unpad tur aktif di Institut Nalar Jatinangor.

03 July 2025

Awéwé Dulang Tinandé: Kekurangan dan Keniscayaan

Sejauh pengetahuan saya yang amat terbatas, salah satu pertimbangan membuat judul buku kumpulan cerpen adalah diambil dari salah satu cerpen yang paling menonjol dalam buku tersebut. Lain itu, barangkali ada juga yang memutuskan mengambil salah satu judul cerpen yang dianggap mewakili secara keseluruhan—meskipun hal ini terkadang sangat sulit karena beragamnya tema yang terkandung kumpulan cerpen tersebut.

Jika bersandar pada dua alternatif di atas, buku kumpulan cerpen karya Wiranta alias Tjaraka yang berjudul AwĂ©wĂ© Dulang TinandĂ© (2011) rasa-rasanya kurang tepat untuk mewakili isi secara keseluruhan. Juga jika dihubungkan dengan catatan Ajip Rosidi pada pengantar buku ini yang berjudul “Kahirupan Sosial Urang Sunda dina Carita-Carita Tjaraka (Wiranta)”, pemilihan cerpen “AwĂ©wĂ© Dulang TinandĂ©”, hemat saya, tidak pas.

Mari kita urai. Cerpen “AwĂ©wĂ© Dulang TinandĂ©” mengisahkan rumah tangga seorang habib (warga keturunan Arab) yang tinggal di salah satu kecamatan di Cirebon. Rumah keluarga itu tak jauh dari kantor kecamatan. Sekelilingnya dipagar tinggi. Saat musim kemarau melanda, hampir semua tetangganya mengambil air dari sumur rumah keluarga habib yang entah mengapa tidak ikut kering.

Yang menjadi perhatian banyak orang sebetulnya bukan hanya air sumur, tapi juga istri sang habib yang masih muda, ramah, dan cantik. Berita ini akhirnya sampai juga ke telinga sang camat yang kala itu masih bujangan.

Suatu sore, camat berkunjung ke rumah habib dan pintu pagar tinggi dibukakan oleh istri habib. Keduanya kemudian menuju teras rumah dan disambut sang habib yang kakinya tengah sakit. Tuan rumah minta maaf karena belum menghadap camat baru itu ke tempat tinggalnya karena kakinya belum kuat.

Pada kunjungan berikutnya, sang habib ternyata tengah bertandang ke Betawi selama beberapa pekan, kebetulan saat itu bulan puasa. Dari obrolannya dengan istri habib yang cantik itu, camat akhirnya menyimpulkan bahwa istrinya habib adalah awĂ©wĂ© dulang tinanda, atau perempuan yang menerima apa saja perintah dan pemberian suaminya secara ikhlas—pada kasus ini sang suami, yakni habib, usianya jauh lebih tua, sering sakit kaki, dan kerap meninggalkan istri cukup lama.

Kenapa menurut saya cerpen ini kurang tepat diambil sebagai judul buku? Karena dari 19 cerpen yang dihimpun, cerpen “AwĂ©wĂ© Dulang TinandĂ©” tidak ada persaman apapun dengan cerpen-cerpen lainnya, alias hanya berdiri sendirian. Bandingkan misalnya dengan cerpen “Haturan Agan Nunung Rajainten”, “Mustika Ragrag”, “Kalangkang BĂ©ntang”, dan “MĂ©nak Baheula” yang semunya disatukan oleh benang merah kehidupan para priayi atau menak. Malah jika harus mengambil salah satu cerpen tersebut untuk judul buku akan lebih tepat jika mengambil “Kalangkang BĂ©ntang”, sebab judul ini menggambarkan garis batas antara kaum menak dengan cacah atau rakyat biasa.

***

Secara keseluruhan, yang paling menonjol dari buku ini adalah cerpen “Haturan Agan Nunung Rajainten”. Cerita yang disimpan di bagian pertama ini membuatnya secara kualitas begitu berjarak dengan cerpen-cerpen lainnya yang kebanyakan terasa karikatural, atau setengah jadi karena si pengarang seperti ingin segera mengakhiri kisah.

“Haturan Agan Nunung Rajainten” menceritakan hubungan percintaan antara dua orang remaja yang secara sosial beda kelas. Nunung, anak menak. Sementara tokoh abdi (saya) sebagai narator adalah anak rakyat biasa, paling tinggi hanya menak kajajadĂ©n atau menak jadi-jadian.

Hubungan keduanya berlangsung lewat komunikasi atau suara narator yang amat menegaskan batas. Undak usuk basa begitu jelas: mana buat orang lain dan mana untuk diri sendiri. Perhatikan contoh berikut:

“Agan gugah, abdi hudang. Pahareup-hareup bari sili pelong. Agan nyusut lambey, abdi gĂ© nyusutan biwir. Agan nyusutan karinget, abdi gĂ© nyusutan kĂ©sang...”

Di luar itu, cerpen ini juga ditulis secara tuntas, lengkap dengan narasi-narasi yang menjurus seksual, kelakuan para menak yang seenaknya, hingga tragedi yang memaksa para tokohnya untuk ikhlas menerima takdir.

***

Seperti beberapa pengarang Sunda lainnya, Tjaraka juga termasuk angkatan lama, artinya mengalami zaman sebelum perang. Ia lahir di Congéang, Sumedang pada tahun 1902 dan meninggal di Bandung tahun 1983.

Buku kumpulan cerpen para pengarang senior ini adalah ikhtiar para pengarang Sunda generasi yang lebih muda untuk mendokumentasikannya dalam sebuah himpunan. Seluruh cerpen dalam buku Awéwé Dulang Tinandé (2011) diambil dari majalah Manglé. Maka itu, segala kekurangannya adalah keniscayaan dari semangat mengarsipkan warisan literasi sastra Sunda. [irf]

 

02 July 2025

Absur: Rahasia Lelaki Tua yang Penyakitan

Saat saya masih kecil, setidaknya ada dua cerita yang disampaikan mama soal orang yang berpoligami tapi tak mau mengaku kepada istri pertamanya. Dua orang pelaku poligami ini masih terhitung saudara, bahkan tetangga.

Yang pertama, saat didesak oleh istrinya, alih-alih mengaku malah bersumpah yang mengerikan.

“Sok bapa, ngaku wĂ©, da Ema mah tos rido,” kata istrinya.

“Teu, Bapa mah teu rumasa nyandung, mun Bapa ngabohong tujuh turunan Bapa kabĂ©h tumpur!”

Yang kedua sumpahnya tak kalah mengerikan. “DaĂ©k hulu sagedĂ© pedes!” katanya menyangkal bahwa dirinya telah berpoligami.

Barangkali mama memang mengatakan yang sebenarnya, atau mungkin hanya cocoklogi, tapi yang pasti apa yang nyata terjadi seperti berkaitan dengan sumpah-sumpah itu.  

Yang pertama, kehidupan anak-anak dan cucu-cucunya tak kunjung reda dilanda malang. Derita beruntun seperti badai tak hendak berlalu. Kematian tragis, jatuh miskin, kecanduan narkoba, dll.

Sementara yang kedua, entah kenapa, beberapa anaknya tumbuh dengan kepala yang ukurannya tidak biasa, lebih kecil dari manusia pada umumnya. Yang ini malah saat anaknya dari istri kedua telah besar, sengaja mencari saudara-saudara kandungnya sebapak lain ibu. Saat mereka dipertemukan, haru membuncah. Nyata bahwa sumpah bapaknya dusta belaka.

Novel Absur (2018) karya Hanna Djumhana Bastaman yang diterbitkan Pustaka Jaya kurang lebih menceritakan hal yang sama, yakni berpoligami tanpa izin atau sepengetahuan istri pertama.

Kata “absurd” dalam KBBI bermakna “tidak masuk akal; mustahil”. Pemilihan kata ini sebagai judul kiranya karena pola penceritaan alur mundur yang memakai gaya baru, yakni menceritakan pengalaman orang lain dengan menggunakan tokoh yang lain pula. Dalam novel ini konteksnya adalah laku bapak di masa lalu, dijalani oleh sang anak di masa kini—meski hanya dalam mimpi.

Sekali waktu, Aam Ramdani bermimpi bertemu dengan seseorang yang disebut sebagai adiknya. Padahal di kehidupan nyata dia tak punya adik, karena merupakan anak bungsu dari sembilan bersaudara. Penasaran dengan mimpi itu, dia akhirnya menemui kakak-kakaknya yang hanya tersisa dua orang.

Kedua kakaknya sama-sama menginformasikan bahwa Aam memang anak bungsu alias tak punya adik. Namun, dua bulan setelahnya, salah satu kakaknya mengatakan bahwa dia ingat satu peristiwa saat dulu bapaknya yang terserang penyakit gatal dan tak sembuh-sembuh, sempat berobat lama di Cijamblang.

Omih nama kakak Aam yang bercerita itu mengatakan bahwa dulu saat ia berkunjung ke kampung tempat bapaknya diobati secara tradisional, dia melihat seorang perempuan yang sedang mengandung.

“Tah, basa keur ngariung ngobrol katingal gigireun bumi aya awĂ©wĂ© keur sasapu. Sigana keur kakandungan. KadĂ©ngĂ© Mang LebĂ© naros ka Bapa lalaunan ‘bĂ©jakeun?’ cenah bari imut, ‘Entong’ waler Bapa. TĂ©h Één karĂ©rĂ©t jebi saeutik. Saterusna mah uplek deui ngalobrol bari ngaropi,” kata Omih kepada Aam.

“Boa, boa bener Bapa tĂ©h kagungan garwa deui basa keur lalandong tĂ©a...” kata Aam.

“Beralasan ceuk abdi mah. Kahiji, Bapa [harita] can pati sepuh, paling-paling gĂ© 50 atawa awal 60-an. Sahandapeun umur abdi anyeuna. Kadua, aya sataunna teu mulih-mulih bari Ema gĂ© carang angkat ka ditu kawantu dorĂ©sa di jalanna. Sing Ă©mut Bapa tĂ©h putrana aya salapan tangtos anjeunna pameget normal. Malah boa rohaka. Ari katiluna, mun enya ogĂ© aya istri nu ngurus anjeunna tangtu ngaraos ragab, sabab lain muhrim. Apan sakitu nyantrina Bapa mah. PanghadĂ©-hadĂ©na ditikah...,” sambung Aam.

Setelah obrolan itu pikiran Aam tetap terpaut pada mimpinya, ihwal bertemu adik yang misterius itu.

Di usia yang sudah tak muda lagi, Aam kerap terbangun malam hari, salat tahajud, dan zikir sambil menunggu waktu Subuh. Suatu hari, saat zikir menanti Subuh, dia tertidur sembari tetap duduk dan bermimpi melakoni segala apa yang pernah dijalani bapaknya saat dulu berobat di Cijamblang. Dalam mimpinya dia berperan sebagai sang bapak yang berpoligami. Nah, novel ini hampir seluruhnya menceritakan lakon tersebut.

Di luar hal itu, novel ini memotret hal lain yang berkaitan dengan zaman menak. Yakni satu golongan yang karena dianggap berdarah biru sehingga banyak mendapat kemudahan akses terhadap harta dan jabatan. Bagaimana misalnya Bapa-nya Aam tak mendapat kesulitan sama sekali selama berobat. Oleh saudaranya, juga sesama menak, dia disediakan segala kebutuhannya. Bahkan cukup mudah untuk menikahi wanita lain yang usianya bertaut jauh dengan dirinya.

Saya yakin cerita ini juga menggambarkan keadaan sang pengarang—sesuatu yang oleh sebagian orang ditentang, mereka anti untuk mengait-ngaitkan karya dengan kehidupan pribadi pengarang.

H.D. Bastaman lahir di Padaherang yang sekarang masuk wilalah Kabupaten Pangandaran. Dia anak bungsu dari sembilan bersaudara. Bapaknya seorang pengsiunan halipah (khalifah)—pejabat (menak) di era Belanda yang berkaitan dengan urusan agama Islam.

Dengan latar keluarga seperti itu tentu saja dia paham bagaimana kehidupan menak sehari-ini. Maka tak heran jika di sejukur cerita dia lancar menggambarkannya.

Jika di mula catatan ini ada kisah tentang rakyat biasa yang berpoligami dan salah seorang berhasil menyembunyikan kelakuannya terhadap istri-istri pertama mereka, apalagi bagi seorang menak. Mudah saja bukan? [irf]


Wilujeng Énjing: Surat untuk Laki-laki Penakut

Dalam budaya Jawa dikenal istilah bibit (keturunan/asal-usul), bebet (status sosial ekonomi), dan bobot (kualitas diri/kepribadian dan pendidikan) dalam memilih pasangan hidup. Trilogi ini begitu populer hingga kadang menjalar ke suku-suku lain di luar Jawa.

Paham dan kepercayaan yang telah mengakar ini, berpadu dengan omongan saudara dan tetangga, juga salah paham, tak jarang melahirkan rasa minder, tak percaya diri, yang pada akhirnya kerap memakan korban, salah satunya Uca.

Pegawai biasa di salah satu kantor jawatan di Bandung ini sekali waktu bertemu dengan Anah—wanita pegawai kantoran—yang sama-sama hendak mencegat oplet menuju tempat kerjanya masing-masing. Pada pertemuan pertama keduanya langsung saling tertarik, tapi tentu saja tak langsung saling mengenal. Mau kenalan sayang sekali rasa malu lebih besar.

Baru pada pertemuan yang ketiga, keduanya berani saling mengucapkan, “Wilujeng Énjing.” Hanya itu. Tak lebih.

Namun, seiring hari yang terus berganti, mereka akhirnya berkenalan, dekat, dan berpacaran. Di titik inilah konflik mulai muncul. Ya, memang biasanya begitu, kan? Hubungan dua manusia kerap serupa lilin yang rapuh.   

Sekali waktu Uca berkunjung ke tempat tinggal Anah. Dalam perbincangan, sampailah pembahasan pada tempat kelahiran, dari mana berasal.

Anah berasal dari Kuningan, tepatnya di Jalan Pasapén, sebelah barat masjid agung. Singkatnya dia orang kota. Sementara Uca sebaliknya, meski dia juga sama berasal dari Kuningan, tapi kampung halamannya di Ciwaru, tepatnya di Pasirkadempét, jauh di desa.

Karena sadar dari kampung, Uca seketika minder. Padahal menurut Anah, dari mana saja berasal, dari kota atau dari kampung, bukan itu yang utama, melainkan prinsip dan agamanya.

“Tina pok-pokan jeung pasemonna ku abdi katangĂ©n yĂ©n anjeunna tĂ©h isineun pĂ©dah asalna tilembur singkur anu jauh ti kota. Ieu tĂ©h hartina, anjeunna ngarasa leuwih handap batan urang kota pituin, ngarasa henteu satata jeung urang kota. CĂ©k saha henteu kolonial. Pandangan jeung sikep hirup kitu tĂ©h geus teu merenah jaman anyeuna mah. Ku abdi henteu bisa ditarima, da puguh mangrupa warisan jaman kolonial jeung fĂ©odal,” kata Anah kepada Ikah, kawannya.

Rasa rendah diri Uca kian bertambah saat Anah mengaku bahwa dirinya anak seorang pensiunan mantri polisi. Ia menganggap orang tua Anah lebih tinggi derajatnya dibandingkan orang tuanya yang bekerja sebagai petani.

“Apan ku pandangan jeung sikepna kitu tĂ©h ngandung harti yĂ©n anjeunna geus nempatkeun darajat patani leuwih handap batan pangsiunan mantri pulisi, hartina ngahinakeun patani, ngahinakeun sepuhna sorangan anu sakuduna dimulyakeun,” sambung Anah.

Apa yang dirasakan Uca, yakni minder saat tahu pasangannya secara status dan ekonomi lebih dari dirinya, kiranya bukan urusan dia seorang. Kiwari, masih banyak laki-laki yang “kumĂ©ok mĂ©mĂ©h dipacok”, mundur teratur karena merasa keluarganya lebih rendah daripada keluarga pacarnya. Ini tentu saja beralasan, bisa jadi dia khawatir nanti keluarganya dianggap tidak setara dan dihinakan. Tapi bukahkah itu juga bisa dianggap sebagai ketakutan yang berlebihan?

Saya ambil contoh nyata. Adik kawan saya hendak melamar pacarnya yang anak seorang pensiunan TNI AU, orang Bandung kota. Kepada calon mertuanya dia berkata,”Bapak, saya orang kampung, orang Jampang, lembur yang jauh dari pusat Kota Sukabumi. Saya kerja di sebuah toko, dan hendak melamar anak bapak. Kiranya bapak mengizinkan.”

“Jika bapaknya tidak ngasih, ya sudah, yang penting saya sudah sampaikan apa adanya,” kata dia kepada saya saat bersua di kampung, di sebuah mudik lebaran.

Nyatanya sang mertua merestui, kini dia sudah beranak dua. Sehat sentosa.

Kembali ke cerita Uca dan Anah, selain minder, Uca juga ternyata kerap berlaku lancung. Mula-mula dia jadi guru di kampungnya. Tapi karena ingin jadi orang kota, dia akhirnya mengajukan pindah dengan sejumlah uang pelicin.

Di Bandung, saat ditempatkan di sebuah jawatan, dia berkesempatan untuk kuliah dengan dibiayai kantor. Namun, karena ingin hidup mewah, dia sibuk “berbisnis” hingga melupakan kuliah dan bahkan jarang masuk kerja.

Menghadapi dua noda pada diri Uca, yakni minder dan lancung, Anah muntab. Ia yang jujur dan menginginkan suami yang juga jujur—sesuai dengan prinsip hidupnya, akhirnya tak kuasa membendung amarah.  

Bagaimana kesudahannya? Pembaca bisa mengikutinya langsung di novela setebal 43 halaman ini. Ceritanya sederhana, tapi relevan dan menohok bagi setiap laki-laki yang tingkat keberaniannya begitu mengkhawatirkan. [irf]