23 April 2014

Hanyut Bersama Sulak

Jakarta yang kini sedang sibuk mengatasi banjir adalah kota yang didirikan oleh para pemabuk. Mereka adalah raksasa berkulit bayi yang pada mulanya hanya singgah untuk mengisi air minum dan membeli arak. Ketika kemudian mereka membeli tanah kepada seorang pangeran, mereka mendirikan bangunan bercat putih dan memagarinya dengan meriam. Sempat terjadi beberapakali pertempuran demi memperebutkan kota tersebut, dan pemenangnya adalah para pemabuk itu. Namun tragis, karena penduduk kota kebanyakan jorok, pemimpin para pemabuk akhirnya tewas; bukan di medan pertempuran, namun karena sakit perut.

Cerita pembuka dalam kumpulan cerpen A.S. Laksana ini begitu menghayutkan. Kocak, tapi sekaligus sarat dengan muatan sejarah. Jika ditelusur, minimal di Wikipedia, cerita tersebut adalah sejarah Jan Pieterszoon Coen ketika mula-mula mendirikan Batavia. Sulak, begitu A.S. Laksana biasa disapa, bercerita dengan piawai dan menolak sama. Ketika buku kumpulan cerpennya gagal menjadi pemenang di Khatulistiwa Literary Award, banyak orang yang menyayangkan.

Imajinasi begitu dimanjakan di sini. Bagaimana misalnya budaya sekarang yang kerap mempertontonkan laki-laki bergaya perempuan, dan perempuan bergaya laki-laki; mulanya adalah karena cinta yang bertepuk sebelah tangan antara Belatung dan Fira.

Seorang bos bertabiat hidung belang mengejar-ngejar Fira; karyawati baru yang cantik aduhai. Suatu hari ketika Fira sedang jalan-jalan ke awan, si Belatung (begitu Sulak menamai si bos hidung belang) tanpa disangka sebelumnya, malah masuk ke dalam tubuh Fira yang tengah ditinggalkan pemiliknya. Karena bingung tak ada lagi tubuh yang kosong, akhirnya Fira masuk ke tubuh si Belatung yang juga ditinggalkan si empunya. Mereka akhirnya kawin, dan dimulailah budaya tukar-menukar itu.

Masih ingat Ponari? Batu Ponari yang dipercaya orang-orang karena konon dapat menyembuhkan itu ternyata ada riwayatnya yang memanjang ke belakang. Semuanya sebenarnya bermula ketika seorang pejabat yang tak bisa mengendalikan penguinnya, membiarkan burung tersebut menyelam ke dasar palung seorang penyanyi dangdut. Lalu kegiatan menyelam burung tersebut di tonton banyak orang dan menjadi bawah tertawaan, termasuk anak-anak SMP, lewat layar handphone.

Sulak begitu gesit bertutur dan sesekali mengolok-olok. Pada sebuah cerita yang berjudul Bagaimana Kami Selamat dari Kompeni dan Sebagainya ia menyentil ihwal Kaki-dashi atau kalimat pertama yang seringkali dipercaya sebagai lahan perjudian, pertaruhan bagi setiap pengarang. Begini dia menulis:
Setiap tukang cerita pastilah berniat memukau orang sejak kalimat pertama. Itu pula niatku meski pada akhirnya hanya bisa kudapatkan kalipat pertama yang amat sepele: Kata sahibul hikayat, orang-orang Cina menyukai hujan lebat di tahun baru.
Alur cerita yang sering tak terduga, dan gaya bahasa yang khas membuat buku ini seperti sebuah tendangan di tengah parade buku-buku cerita yang membuat ngantuk. “Saya ternyata bukan anak pertama. Kakak saya meninggal sebelum saya lahir,” begitu kata Sulak waktu diwawancarai oleh sebuah majalah edisi Juli 2013. Jawaban itu ia dapat setelah kakeknya meninggal, dan ia membuka peti milik kakeknya tersebut yang berisi sehimpunan catatan tentang kejadian sehari-hari.

Seperti halnya Sulak yang kaget dengan kenyataan identitas kelahirannya, buku ini pun kurang-lebih demikian; menghimpun cerita yang menghantam ruang imajinasi pembaca. Sulak menegaskan, “Hantu ada, kau tahu, karena kita memikirkannya. Begitu pun taman bunga.”

Selamat berimajinasi! [ ]

Odong-odong dan Bidadari

Waktu adik saya masih kecil, dia gemar mendengarkan Tasya menyanyikan lagu anak-anak ciptaan Abdullah Totong Mahmud. Album Libur Telah Tiba diputar berulang-ulang hampir tiap hari, dia selalu ikut bernyanyi dan hapal semua lagu di album tersebut. Masa kecil yang ceria. Lalu waktu seperti datang tergesa, kini adik saya telah masuk kuliah, Tasya sudah besar, A.T. Mahmud telah berpulang, dan lagu anak-anak pun ikut menghilang. Generasi berganti, dan yang baru telah datang.

Kini yang populer adalah lagu-lagu dari boyband bocah yang dipaksa dewasa sebelum waktunya. Mereka menari-nari genit sambil menyebut bidadari yang katanya jatuh dari surga. Entah surga yang mana. Anak-anak sudah fasih berucap cinta-cintaan kepada lawan jenis, dengan yakin dan tak ada sedikit pun ragu atau malu. Sesuatu yang dulu begitu tabu dalam laku anak-anak.
Andai kamu jadi gula, aku pasti semutnya, kan ku seberangi lautan samudera, hei hei kali ini aku jadi galau gini, cepat terima aku, cinta pertamaku.
Aih, orangtua mana yang tak geli mendengar lirik seperti ini dinyanyikan oleh anak-anak?. Sekali waktu pernah juga saya mendengar lagu ini dari keponakan yang masih duduk di kelas dua SD. Begitu menghayati dia menyanyikannya.

Masuk gang kumuh, lewat di komplek perumahan, atau tak sengaja bertemu di jalan dengan anak-anak, lagu-lagu orang dewasa saja yang terdengar diperbincangkan oleh mereka. “Noah keren tau!.” Atau “Aku udah punya CD Kotak mah.” Bagi mereka, barangkali A.T. Mahmud dan ibu Sud adalah semacam alien yang telah punah.

Tapi seperti bidadari yang jatuh dari surga dalam lirik lagu boyband bocah, kini hadir odong-odong yang ibarat diutus dari surga untuk mengkampanyekan kembali lagu anak-anak. Serupa bidadari, dia pun anomali. Di tengah jaman yang melimpah oleh permainan anak-anak yang serba digital, odong-odong muncul dengan bersahaja. Di gang-gang kecil, kendaraan kayuh yang dilengkapi kursi-kursi kecil itu memutar lagu-lagu ceria khas anak-anak.

Dalam kesederhanaan odong-odong, bidadari tidak jatuh dari surga, namun lebih dekat dan nyata, dia adalah Amelia. Lagu yang diciptakan A.T. Mahmud itu terinspirasi dari anak kecil yang riang, sering bertanya, tidak bisa diam, dan ingin tahu banyak hal. Gadis kecil itu adalah anaknya Emil Salim, Menteri Lingkungan Hidup di masa Orba yang tak lain adalah sahabat si pencipta lagu tersebut. Sambil duduk di kursi kecil yang turun-naik akibat kayuhan, anak-anak senang mendengarkan ini  :
O Amelia gadis cilik lincah nian / tak pernah sedih riang selalu sepanjang hari / O Amelia gadis cilik ramah nian / di mana-mana Amelia temannya banyak.
Sekali waktu, Roike, anaknya A.T. Mahmud sedang bermain di beranda rumah. Saat ia melihat ke langit dan melihat bulan, ia segera berlari dan menggandeng lengan ayahnya dan diajak ke luar. Tiba-tiba anak itu berkata, “Pak, ambilkan bulan.” Dari situ lahirlah lagu Ambilkan Bulan Bu. Lagu ini tersedia juga di tukang odong-odong. Untuk apa minta diambilkan bulan?, kata si penggubah, dalam bahasa anak-anak; untuk menemani tidur yang lelap di malam gelap.

Bocah matang karena dikarbit, alias dewasa belum waktunya, mungkin geli dengan lagu ini. Mereka merasa telah menginjak masadepan usia, dan saat-saat lugu dan polos telah tercecer di belakang. Bagi mereka, lirik-lirik murni dunia anak-anak barangkali lebih terdengar sebagai rima-rima jaman jahiliyah, di mana kecenderungan menyukai lawan jenis belum menemukan sumbunya. Kondisi ini menyeret banyak orang saling melempar tanggung jawab tentang cara mendidik. Tak ada yang salah dengan roman jatuh hati kaum Adam dan Hawa, namun semuanya selalu membutuhkan saat yang tepat. Anak-anak terus bertumbuh, mekar, berproses menuju dewasa. Peristiwa alami itu akan terguncang jika terlampau dijejali lirik-lirik picisan yang menyerang langit ceria masa kanaknya.

Di tengah situasi orangtua yang gamang antara membiarkan atau mengarahkan, di gang-gang sempit, odong-odong muncul dalam tampilan kendaraan kayuh yang semenjana, mediocre, dan jadul, namun sekaligus mendidik dan menghibur. Di lereng ingatan bocah-bocah yang gembira dan sambil disuapi ibunya, lagu-lagu anak yang liriknya sesuai dengan usia mereka, masuk ke pendengaran dan tak hendak keluar lagi, persis seperti kumbang yang terperangkap di dalam toples.

Anak-anak tak butuh kata-kata romantic yang bersayap, mereka hanya ingin orang tahu bahwa topinya bundar. “Topi saya bundar, bundar topi saya, kalau tidak bundar bukan topi saya.” Sesederhana itu. Atau tentang cicak yang memakan nyamuk, dalam semesta anak-anak, itu adalah peristiwa yang menarik dan perlu dirayakan dengan gembira, “datang seekor nyamuk, hap hap lalu ditangkap.”

Dalam keringat tukang odong-odong yang tengah mengayuh, mengalir rasa terimakasih para pencipta lagu yang karyanya kembali diperdengarkan, setelah sekian lama terasing dari dunia hiburan yang serba karbitan. Lirik-lirik murni kembali mengalun, dan menyapa telinga anak-anak. Sementara di jejak usaha pencarian rejeki, bagi tukang odong-odong; bocah-bocah dan ibunya yang menemani, laksana bidadari-bidadari pembawa rejeki. Dia tidak jatuh dari surga, namun dekat saja, itulah para penghuni gang sempit dan tetangganya. [ ]

Kiamat di Jakarta



(Dengan permintaan maaf kepada Alan Lightman)

***

Bayangkan jika misalnya dunia berakhir pada tahun 2047, dan seluruh warga Jakarta mengetahuinya.

Setahun sebelum kiamat, DPR RI dibubarkan. Orang-orang yang selama ini mengatasnamakan wakil rakyat antri di studio tv menunggu giliran. Bukan untuk menghadiri kuis kebangsaan, melainkan hendak mengakui segala dosa-dosanya kepada rakyat. Seluruh harta hasil menjarah mereka kembalikan ke kas negara, dan mereka pergi ke desa-desa tepi hutan untuk berladang, sebagian lagi menjadi penyapu jalan, takmir mesjid, kondektur bus kota, mengajar di sekolah-sekolah terpencil, penjaga toilet terminal, dan ada juga yang menjadi pengantar koran.

Dosa-dosa personal diselesaikan di rumah. Di depan istri dan anak-anaknya, mereka mengakui pernah berselingkuh dengan penyanyi dangdut, sekretaris pribadi, bintang film, atau dengan sosialita kurang ternama. Mereka pasrah, tapi tak berani untuk harakiri. Sebelum pengakuan itu, pisau dapur dan obeng kembang sengaja disembunyikan. Mereka menangis, sujud di depan anak-istrinya yang tengah bingung untuk membedakan; ini sinetron atau kehidupan nyata.

Para pengembang perumahan dan apartemen tidak lagi beriklan “sebelum harga naik”. Kerjasama dengan Fenny Rose telah dihentikan. Tak ada lagi ambisi untuk membangun hunian-hunian tepi pantai yang indah, atau di sekitar segitiga emas Jakarta yang potensial. Mereka hanya membangun panti asuhan dan panti wreda. Kesadaran mencuat dalam benak, bahwa dunia akan segera berakhir, dan segalanya akan kembali ke pemilik Agung Alam Semesta.

Sebulan sebelum kiamat, orang-orang hilang korban penculikan ditemukan kuburnya. Para penculik dengan rasa sesal yang sangat besar membeberkan semuanya. Detail peristiwa dan kronologisnya mereka tulis dalam sebuah buku tebal. Di dalam buku itu, selain nama-nama korban,  ditulis juga siapa saja yang menjadi dalang penculikan. Misteri keberadaan Wiji Thukul dan pembunuhan Munir perlahan terkuak, dan kemudian menjadi jelas. Para pegiat HAM yang mengikuti peristiwa tersebut sedikit saja, rupanya menjelang kiamat para pegiat palsu telah bertobat dari kemunafikan, dan memilih untuk tidak ikut-ikutan.

KPU dibubarkan, sebab sudah tidak akan ada lagi pemilu yang memakan biaya besar. Partai politik berubah menjadi majelis-majelis keagamaan, kemudian “diakuisisi” oleh para ustadz, kiai, pendeta, dan habib. Ruang publik bersih dari polusi visual. Gambar-gambar caleg menghilang dari pohon, tiang listrik, tembok gang, gapura, wc umum, tong sampah, dan jembatan penyeberangan. Semuanya sebenar bersih.

Supporter sepakbola tidak lagi bermusuhan. Mereka berkumpul di GBK. Dari Bandung, Malang, Surabaya, Medan, Makassar, Solo, Yogyakarta, Samarinda, Tangerang, Papua, Lamongan, Kediri, Padang, Pekanbaru, dan daerah-daerah lainnya, semuanya hadir mengikuti semacam rekonsiliasi nasional. Sebagai tuan rumah, tentu suporter Jakarta ikut hadir juga. Mereka menangis dan saling berpelukan.  Segala dendam dan kebencian luruh, yang tersisa hanya kata maaf. Memaafkan bekas musuh dan diri sendiri; betapa permusuhan itu telah mereka dijalani selama berpuluh-puluh tahun. Di titik ini kesadaran menggetarkan kemanusiaan. Acara dipungkas dengan bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu adalah anthem terakhir di stadion kebanggaan sebelum kiamat datang. Langit pucat mendengarkan deru syahdu lagu.

Acara tv, tidak lagi menayangkan humor-humor stereoform. Acara musik pagi pun sudah dihapuskan. Anak-anak alay berkumpul di Monas dan membuat lingkaran-lingkaran kecil. Di satu lingkaran ada yang bergantian membacakan puisi Rendra, Chairil Anwar, Acep zamzam Noor, Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Ajip Rosidi, Taufik Ismail, Sutardji, dan Sitor Situmorang. Seseorang telah memfotocopy naskah-naskah puisi itu, dan mereka mencoba menghayatinya.

Sementara di lingkaran yang lain ada seorang perempuan cantik yang memainkan gitar sambil menyanyikan lagu-lagu Payung Teduh, Float, Banda Neira, Frau, The Monophones, dan Mocca. Alay-alay tak satu pun yang tahu liriknya, mereka sebagaimana biasanya, hanya bergoyang pelan dan menepuk-nepukkan tangan. Lagu yang hinggap di pendengarannya begitu asing, tak pernah mereka jumpai di studio televisi.

Sungai Ciliwung dibersihkan. Warga yang hidup di bantaran turun ke sungai yang kotor dan memunguti sampah. Sementara pabrik-pabrik yang selalu menggelontorkan limbah pembuangan ke sungai telah ditutup. Sungai merdeka dari kebodohan manusia justru ketika kiamat akan segera datang.

Di Jakarta sudah tidak dijumpai tukang kerak telor dan mie rebus. Para penjualnya telah pulang ke Garut dan Kuningan. Penjual sate pun demikian, mereka tidak lagi mudik, melainkan pulang permanen ke arah barat Sumatera dan timur Jawa. Yang paling banyak tersedia hanya nasi uduk pindang tongkol, hampir di setiap gang, pagi dan petang, ibu-ibu setengah baya masih menjualnya, termasuk mpok Hindun dekat kontrakan saya. Selebihnya tak dapat diharapkan; warung nasi Padang yang masih buka hanya tinggal di Senen, Kebayoran Lama, dan Mataraman. Restoran, café, dan hotel telah tutup.

Dua minggu sebelum kiamat, jalanan tertib, meskipun tanpa kehadiran polisi. Tak ada lagi suara klakson bersahut-sahutan dan umpatan khas kebun binatang. Pengendara mobil dan motor, ketika lampu merah, tidak melewati zebra cross. Ketika para pejalan kaki lewat, mereka melambaikan tangan, saling menyapa, dan tersenyum.

Sekolah dibubarkan, dan warnet ditutup. Anak-anak sekolah tidak ada lagi yang tawuran dan main game online. Mereka bermain bola sepuasnya. Ada pula yang bersepeda keliling kota tanpa takut diserempet mobil yang sopirnya ugal-ugalan dan setengah mabuk. Anak-anak perempuan menanam dan merawat bunga di rumahnya masing-masing. Buku-buku di perpustakaan dipindahkan ke taman-taman kota, dan tukang becak dengan malu-malu mulai membacanya.

Tak ada lagi yang bekerja lembur, sebab semua perusahaan telah ditutup. Dua minggu terakhir dalam kehidupannya, para pegawai, karyawan, buruh, kuli (kasta yang sebetulnya sama) menghabiskan waktu di rumah bersama keluarganya. Mereka memasak bersama, bercanda dengan anak-anaknya, membersihkan rumah, memutar lagu-lagu favorit, dan melepaskan burung-burung yang selama ini mereka pelihara dalam sangkar. Kasih sayang dan perhatian kepada sesama anggota keluarga tumbuh subur di dua minggu terakhir riwayat kehidupan.

Patung yang ada Pancoran, Bundaran Senayan, dan lapangan Banteng, tiba-tiba hidup dan mereka pergi menuju bundaran HI. Patung Selamat Datang pun turun dari singgasananya. Mereka kemudian duduk melingkar di tepi kolam itu, berbincang tentang Presiden Indonesia, Gubernur Jakarta, serta banjir dan macet yang sudah bosan mereka lihat. Ada yang mengidolakan Bang Ali Sadikin, ada pula yang mengkritik sanjung puja warga terhadap Jokowi, yang menurut mereka terlalu berlebihan.

Sehari menjelang kiamat, Jakarta sunyi dan semua warga terdiam, kecuali satu orang. Dia adalah wak Haji yang dikelilingi tujuh orang pemuda. Mereka duduk di tengah jalan Suprapto, Cempaka Putih. Beliau membacakan sebuah sabda yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :
Sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma, maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat, maka hendaklah dia menanamnya. [ ]

Wangi Hujan

Saya menyukai aroma tanah sehabis hujan, saat bola-bola air masih menggantung di kabel telepon dan pucuk daun. Itu saat yang tepat bagi dua ekor burung untuk terbang menyobek pemandangan awan. Beberapa waktu sebelumnya, angin berhembus kencang, lalu air berebut mencium bumi, melepaskan rindunya. Hari-hari belakangan ini, kerinduan air tumpah juga di Jakarta. Langit kelabu hampir sepanjang waktu. Jalanan becek, dan orang-orang mulai pandai mengumpat.

Arsiran hujan samar-samar terlihat dari jendela kantor yang dikuasai hawa gigil dari pendingin ruangan. Suara klakson dan derum mobil terdengar bersahutan dari jalan raya yang ditawan kemacetan. “Tanabang, Tanabang, Tanabang!,” kondektur bus kota berteriak lantang merayu calon penumpang. Pejalan kaki yang tanpa payung bergerak tergesa. Para pencopet mungkin tengah bersiap melancarkan aksinya. Berlima, berenam, atau bahkan bertujuh; mereka siap memangsa penumpang bus yang kurang waspada.

Adzan ashar hampir dua jam telah lewat, dan hujan membawa kelam yang datang lebih cepat. Komputer sudah dimatikan, tapi kerja belum selesai, dia menagih jatah lagi esok hari. “Pulang Bung, sudah sore,” kawan sebelah hanya mengangkat jempol, pandangannya masih tertuju pada rumus excel. Ada pula suara Benyamin dan Ida Royani dari speaker meja yang lain. Yang punya meja masih sibuk menghitung biaya kuli bongkar muat yang laporannya baru sampai dari kantor cabang. Lamat-lamat memang, tapi saya hafal betul liriknya.

Waktu sampai di lobi, rintik hujan masih turun. Saya menerobosnya sampai masuk ke mikrolet yang hendak berangkat ke Kota. “Mangga Dua, Mangga Dua!. Ayo bu, geser-geser bu!.” Tak sampai lima menit mikrolet telah penuh, lalu meluncur.

Percakapan memenuhi ruang kecil angkutan umum itu. Seorang ibu memulai, “ujan mulu ye mpok, cucian kemarin aje belom pada kering!,” Yang diajak bicara menyahut, “iye, padahal mah udah dikasih Molto, tau tuh, masih wangi apa kagak, soalnye cuma kena angin doang, ga ada mataharinye.” Obrolan ibu-ibu terus berlanjut. Yang duduk di pojok, berhadap-hadapan, dua orang anak baru pulang dari sekolah sore, membicarakan acara live musik pagi. Mereka khawatir hujan turun pas hari H, lalu mengutuknya. Persis di sebelah saya, seorang perempuan muda, berbicara dengan seseorang, lewat ponsel, lawan bicaranya entah di mana. “Halo, masih di Pulo Mas, hujan sayaaang, macetnya jadi parah.”

Saya hanya diam, tak ada orang yang hendak diajak dan mengajak bicara. Seolah-olah saya pendengar setia ragam percapakan mereka. Duduk di belakang sopir menghadirkan pemandangan pinggir jalan yang kurang sempurna, sebab sebagian terhalangi orang yang duduk di dekat pintu, yang menghadap ke belakang. Tapi masih bisa saya lihat sepanjang jalan itu, rahmat hujan mendekap mesra tukang gorengan yang dikerubungi pembeli yang kedinginan. Dingin menghujam, perut segera mengisyaratkan rasa lapar. Gorengan menjadi sasaran. Uap air tampak mengepul dari gerobak tukang mie ayam. Penjual sibuk melayani pembeli yang mulai antri. Penjual sate Padang gesit menjaga bara api yang tengah bekerja menghangatkan potongan daging yang agak keras.

Di tengah gerimis yang masih berkuasa, denyut ekonomi para pedagang makanan itu menemui saatnya. Bagi mereka, hujan bukan untuk dirayakan dengan keluhan, sebab justru ketika pasukan air menyerang, penghasilan mereka cukup menggembirakan. Di titik ini hujan seolah ambigu; diratapi atau disyukuri. Namun barangkali hujan tidak pernah bermuka dua, hanya manusia saja yang menyikapinya berbeda. Di Jakarta, setiap orang seperti selalu membutuhkan kanal untuk mengalirkan keluhan. Dan hujan, seperti juga kemacetan, adalah objek yang tepat untuk dijadikan sasaran segala hamburan kekesalan.

Sebagian penghuni kota ini seolah lupa pada salah satu tokoh kesenian yang namanya diabadikan menjadi nama jalan. Memanjang dari Kemayoran sampai tembus ke Ancol, ya Jalan Benyamin Sueb. Benyamin bersama Ida Royani, pernah dengan riang menyanyikan lagu Hujan Gerimis yang tadi sempat saya dengar di kantor sebelum pulang. Kata “hujan” meskipun hanya sebagai pembuka pantun, namun dapat kita tangkap keriangan itu. Dirayakan dengan gembira.
E ujan gerimis aje, ikan teri diasinin… e jangan menangis aje, yang pergi jangan dipikirin…
E ujan gerimis aje, ikan lele ada kumisnye… e jangan menangis aje, kalo boleh cari gantinye…
Lirik yang sederhana, namun bila mau meresapinya, ini sesungguhnya sama dengan keseharian kita. Pada “yang pergi” adalah juga tentang jemuran yang ditinggalkan rahmat cahaya matahari, tentang jadwal acara musik yang ditinggalkan kepastian cuaca yang cerah, juga tentang jalanan yang ditinggalkan lancar jaya sebab genangan air menghambat laju roda. “Jangan dipikirin”, lanjutnya. Ikhlaskan, lepaskan semua kekacauan hati. Sebab setelahnya, ketika hati telah bisa menerima, selalu ada kesempatan lain yang terhampar menunggu; “kalo boleh cari gantinye.”

Pun demikian dengan hari-hari belakangan ini. Toh dalam seminggu, hujan tidak turun selamanya, adakalanya dua atau tiga hari dalam sepekan matahari bersinar cukup garang. Bersama air yang turun, segala yang “meninggalkan” mestinya ikut luruh, lalu mengalir. Tak ada yang benar-benar hilang dari kehidupan kita, pengganti akan selalu hadir meski dalam wujudnya yang berbeda. Atau jika pengganti pun tidak kunjung datang, ke-ikhlasan sudah lebih dari cukup untuk menambal kehilangan yang sempat disesali.

Di jalan, waktu pulang kerja atau sekolah, ketika fisik dan pikiran telah lelah sempurna, memang tak gampang mengelola emosi. Apalagi kalau hujan. Tapi apakah energi yang mulai menipis itu harus pula digadaikan demi mengalirkan kekesalan?. Ihwal menyikapi hujan, kita bisa belajar dari siapa saja, selain dari lagu tadi, barangkali bisa juga memulainya dari para pedagang makanan kaki lima, yang mencium hujan sebagai wangi yang mengantarkan rejeki. [ ]

Warung Kami Roboh Sendiri(an)

Bu haji, begitu para tetangga memanggilnya, adalah induk semang saya. Saya dan beberapa orang kawan ngontrak deretan kamar miliknya di lantai dua. Gemar berkomentar, begitu kesan saya selama hampir lima tahun tinggal di rumah kontrakannya. Sekali waktu, kawan saya pulang membeli deterjen dari warung sebelah, bu haji berkomentar juga, “Beli deterjen mah mending di Al****rt, belinya sekalian yang banyak, jatohnya jadi lebih murah.” Mulanya kawan saya diam saja, tapi akhirnya dia menjawab, “Ah, bu haji, belanja mah mending di tetangga atuh, kasihan, kalau bukan kita siapa lagi yang akan beli? Kan mereka juga butuh buat makan sehari-hari, dan buat biaya sekolah anaknya. Mahal sedikit mah wajar aja bu haji.”

***

Ada masa, pada beberapa waktu ke belakang, di mana mini market menjadi penunjuk jalan bagi orang-orang yang mencari alamat rumah saudara atau kawannya. “Nah, dari mini market itu, belok kiri, nanti ada rumah berpagar cat hijau. Itu rumahku.” Navigasi semacam itu dulu banyak terjadi. Sekarang ketika mini market jaringannya menggurita, orang-orang mulai agak ragu untuk menggunakannya sebagai penanda. Kini hampir di setiap jalan bermunculan warung-warung modern, minimal dua, karena adanya “persaingan abadi” dua raksasa retail yang warna khasnya hampir sama.

Selain pergeseran sebagai penanda, kini masyarakat pun mulai meninggalkan kebiasaan berbelanja di warung-warung tradisional tetangganya, mereka beralih ke mini market-mini market modern itu dengan beberapa alasan; barangnya lebih lengkap, tempatnya lebih bersih, dan pelayanannya yang ter-standar sesuai SOP. Bahkan sekarang beredar sebuah joke ; jika ingin di sambut ucapan “selamat pagi” datanglah ke mini market.

Ibu-ibu rumah tangga dan para mahasiswa yang biasa melakukan belanja bulanan, yang mulanya hanya datang ke warung-warung tetangga yang cukup besar, kini hampir sudah beralih semua. Tidak ada yang bisa disalahkan dari perilaku konsumen tersebut, sebab pada dasarnya konsumen menginginkan pelayanan yang prima, dan cenderung ingin mengalami berbelanja dengan memilih barang sendiri (swa-layan).  Ada kepuasan di sana. Ada waktu yang cukup untuk menimbang sebelum akhirnya memutuskan membeli barang.

Bandingkan jika berbelanja di warung tradisional yang hampir semua barang diambil oleh di pemilik warung. Kesempatan untuk menimbang, ragu-ragu, antara membeli dan tidak, waktunya sangat pendek, sebab si pemilik warung biasanya menunjukkan air muka yang kurang menyenangkan. Apalagi kalau pemilik warung itu sikapnya “menyebalkan.” Hal ini hampir mustahil ditemui di mini market modern.

Distribusi pun mereka kuasai. Jangankan mengalahkan warung tradisional, bahkan membuat mati perlahan mini market di luar jaringan mereka pun adalah hal yang mudah. Di dekat kontrakan saya di daerah Sumur Batu, ada mini market Badai namanya, para pelayannya sering mengeluh akbat suplai barang yang kerap terlambat, karena para pemasok barang lebih mengutamakan mini market-mini market gurita itu. Belum lagi rayuan-rayuan diskon dan promosi yang seringkali menarik calon konsumen untuk datang lagi berbelanja. Gerakan gurita mini market modern ini dengan cepat merobohkan daya tahan warung-warung tradisional, tak hanya di perkotaan, namun juga merembet sampai jauh ke pedesaan.

Bila dicermati, warung tradisional memang tidak bisa bersaing. Bayangkan sebuah warung yang ditunggui oleh sepasang suami istri. Jika istrinya sedang sibuk dengan urusan domestik rumahtangga; misalnya memasak, mengurus anak, belanja ke pasar, dan mencuci pakaian, tinggal suaminya saja yang melayani para pembeli. Ini sangat darurat dan minimalis. Kalau pun mereka sanggup mempekerjakan satu atau dua karyawan, tentu pelayanannya pun tidak akan sama dengan mini market modern. Belum lagi keterbatasan barang yang dijual. Di titik ini warung tradisional roboh dengan sendirinya karena secara head to head kalah dalam persaingan.

Di sisi lain, jika mengharapkan kebijakan pemerintah untuk membatasi semakin gencarnya serangan mini market modern, ini pun cukup riskan. Kebijakan yang berlaku sekarang, samar-samar, konon membatasi mini market modern hanya di jalan-jalan besar saja. Namun kenyataannya pertumbuhan mini market sangat massif, gencar, bahkan sampai menembus desa-desa. Terlepas dari kebijakan tersebut, gaya hidup masyarakat yang tercermin dalam perilaku berbelanja adalah juga “racun” yang sangat ampuh membunuh warung-warung tradisional. Terlebih sekarang, ketika mini market modern tak hanya menjadi tempat berbelanja, namun juga telah berfungsi sebagai tempat nongkrong sebagai sebuah kebutuhan sosial dan aktualisasi diri, maka dari sudut pandang ini warung-warung tradisional roboh sendirian. Dia telah menjadi anak tiri kebijakan pemerintah dan gaya hidup.

Sebuah pembelaan dengan argumentasi lemah kerap dilontarkan pihak pemilik mini market-mini market modern. Katanya, dengan semakin banyaknya gerai yang dibuka maka akan semakin mengurangi beban pemerintah dalam mengatasi pengangguran. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah mereka membuka gerai tersebut karena kondisi perekonomian masyarakat telah mampu untuk “menghidupi” gerai mereka. Perekonomian rakyat yang berdeyut dan tercermin dari transaksi jual-beli di warung-warung tradisional perlahan mereka terkam dengan rasa keadilan yang tawar.

Kita, termasuk saya, memang tidak bisa lepas dari arus ekonomi dan gaya hidup seperti ini. Namun minimal bisa mengolah rasa dan sebisa-bisa berlaku adil. Mungkin ada barang-barang yang tidak bisa kita dapatkan di warung-warung tradisional milik tetangga, tapi alangkah naïf jika sekadar membeli kecap dan obat sakit perut mesti pergi ke mini market yang mungkin jaraknya lebih jauh dari warung tetangga. Sebab di balik warung tetangga yang lusuh dan kurang penerangan itu, pemilik warung bisa jadi tengah memikul beban biaya anaknya yang sedang sekolah atau sakit. Ada hak tetangga yang harus kita tunaikan, yaitu saling menolong.

Ada kecemasan yang melebihi dari soal rejeki; rasa sosial kita yang perlahan mulai terabaikan. Teringat saya pada sebuah malam waktu pulang ke kampung di pedalaman Sukabumi. Ketika sedang ngopi di warung bersama kawan-kawan lama, seorang remaja lewat dan ditanya oleh kawan saya, “mau pergi ke mana?,” dia menjawab, “mau beli obat nyamuk di In****ret!” [ ]