23 April 2014

Surat untuk Hisanori Kato

Kato San yang baik,

Apa kabarmu sekarang? Sejak terakhir kali kita bertemu di Transjakarta arah Tanjung Priok itu, rasa-rasanya waktu telah melebarkan sayapnya.

Belum berlalu lama tentu saja, tapi sejak pertemuan terakhir di tahun 2011 itu, jarak yang membentang telah membawa saya ke warung roti bakar sendirian. Tak ada lagi obrolan-obrolan kita yang membicarakan banyak hal. Penjual roti bakar pun kini telah berganti, dan mulai sepi pengunjung. 

Apa yang kamu khawatirkan perlahan mulai menjadi kenyataan, selain anak-anak muda, orang-orang tua yang dulu sering kita jumpai pun mulai beralih ke convenience store yang lampunya menyala terang hampir menyilaukan mata. 

Benar katamu, apa enaknya melakukan transaksi jual beli hanya dengan bantuan mesin pembaca barcode, dan menerima  ucapan “terima kasih” dari pelayan yang tanpa ekspresi?

Sambil menyeruput kopi hitam dan menyantap roti bakar rasa coklat, saya saat ini sesungguhnya tengah menikmati cuaca Jakarta yang basah karena hujan. Pohon-pohon yang dulu kamu sukai, kini benar-benar telah berkurang, habis dimakan pembangunan gedung-gedung berpendingin. 

 Meskipun memang kota ini pada dasarnya panas karena berada di pesisir pantai, namun kehilangan pohon dengan begitu massif membuat panas menjadi berlipat-lipat. Maka syukurlah, hujan membuat kota ini menjadi lumayan sejuk. Di kotamu sendiri bagaimana?, apakah hujan sedang turun? Ah maafkan saya yang tidak hafal siklus musim di negaramu.

Kato San, hari Rabu pada tanggal 1 Januari 2014 kemarin, saya hendak pergi ke toko buku yang berada di jalan Matraman. Di halte Senen saya transit dan menunggu bus yang hendak pergi ke arah Kampung Melayu. Rupanya pengalamanmu yang pernah kau ceritakan itu berulang pada saya. 

Katanya semalam, dalam rangka menyambut malam pergantian tahun, bus ini beroperasi 24 jam, sehingga pada siang hari armadanya sangat terbatas, mungkin para sopirnya masih mengantuk atau ada alasan lain, saya tidak tahu. Tapi yang pasti bus sungguh lama datangnya. 

Saya tunggu hampir satu jam, namun bus itu tak kunjung datang juga. Maka dengan kesal saya tinggalkan halte dan setengah berlari mengejar angkot jurusan Senen-Kampung Melayu. Tak lupa saya melambaikan tangan kepada para calon penumpang yang masih sabar menanti kedatangan bus yang entah kapan datangnya. Kau kan masih ingat pengalamanmu itu, bukan?

Apakah kau merindukan saat-saat mengamen di bus jurusan Blok M-Kota? Ya, waktu kau dan kawan Jepangmu mulai berteriak, “kami datang dari Jepang, silahkan dengarkan lagu-lagu kami.” Maka saat lagu selesai dan mereka dengan antusias bertepuk tangan dan hampir semuanya memberimu uang, apakah kau berpikir bahwa orang Indonesia memang ramah dan sangat bersahaja-berkawan? Ah, jangan terlampau yakin. Sikap kami, orang Indonesia ini, kepada orang asing memang selalu begitu. Tapi kepada bangsa sendiri, kadang-kadang, jika ada yang ngamen kami langsung pura-pura tidur.

Saya menulis surat ini sambil mendengarkan permainan piano Jaya Suprana membawakan lagu-lagu Ismail Marzuki. Apa kamu tahu musisi yang satu itu, Kato San?. Atau kamu hanya pernah mendengarkan lagu Ondel-ondel Benyamin Sueb saja selama di Jakarta dulu? Hehehe…

Oh iya, sehabis pulang dari toko buku saya mampir dulu di warung nasi Kapau yang ada di Simpang Lima Senen. Barangkali kau pun pernah makan di sana? Kalau belum pernah, biar saya ceritakan sedikit. Lauk pauk-nya sungguh enak, rasanya pun mungkin cocok dengan lidahmu yang kurang menyukai rasa manis seperti makanan Jawa. 

Ya, tentu saya masih ingat dengan ceritamu waktu kau mengunjungi Yogyakarta dan untuk pertamakalinya  menyantap Nasi Gudeg. Kau kan bilang waktu itu, “sebenarnya, saya suka yang manis-manis, tetapi kalau makanan manis dicampur dengan nasi saya kurang suka.” Seperti di Restoran Padang yang sering kau kunjungi, di warung nasi Kapau pun kau lebih baik menggunakan jari tangan saja waktu menyantapnya, lebih mantap.

Baru-baru saya mulai rutin lagi menulis di blog bersama seorang kawan. Sekali waktu modem saya hilang, pulsa habis, dan jaringan internet di kantor pun diputus. Akhirnya saya pergi mencari warnet, namun seperti juga wartel yang pernah kau ceritakan, di Jakarta kini susah menemukan warnet. Orang-orang sudah beralih ke smartphone untuk mengakses internet. Dunia benar-benar telah berada di genggaman jari. 

Setelah berputar-putar keluar-masuk gang, akhirnya saya menemukan warnet yang jaraknya cukup jauh dari rumah kontrakan. Pengunjungnya sepi, dan jaringannya sungguh menjengkelkan; lelet bukan main. Kau mungkin terpesona dengan sikap nrimo sebagian orang Indonesia pada hal-hal yang kadang menjengkelkan, namun ketahuilah itu hanyalah pandangan subjektifmu saja.

Kato San yang baik,

Selama kita berkawan dan membicarakan banyak hal waktu kau tinggal di Jakarta, saya menangkap semacam kebenaran umum, bahwa orang-orang asing yang tidak terlalu lama tinggal di sini, dan tidak terlampau mengakrabi kehidupan sehari-hari, selalu merasakan kesan yang bagus pada Indonesia, khususnya kota Jakarta. 

Atau semacam apresiasi pada kondisi kontras antara satu budaya dengan budaya yang lain. Maksud saya, seperti halnya turis-turis dari Barat, mereka selalu tertarik dengan hal-hal yang mungkin tidak mereka temui di kehidupan sehari-harinya. Misalnya, mereka terpukau dengan budaya Bali yang religius; persembahan, do’a, dan sesaji setiap hari.

Kau pun saya pikir tak jauh berbeda. Waktu di Jepang orang-orang bilang, “berusahalah dengan baik,” sedangkan di sini seperti yang kau katakan, “janganlah terburu-buru begitu!.” Sebuah budaya yang bertolak belakang sama sekali, kemudian kau terpesona. 

Tidak ada yang salah memang, karena seperti juga orang-orang Melayu dalam buku Edensor karangan Andrea Hirata—nanti kalau kau ke sini lagi saya pinjamkan, mereka juga terpukau dengan keindahan Eiffel di Paris, bahkan pada nama seorang warga Perancis sekali pun! Ya, kontras ragam budaya adalah semacam mataair yang tak henti-hentinya mengalirkan ketertarikan-ketertarikan manusia.

Pada kesempatan ini, saya sebenarnya ingin sekali menulis banyak hal tentang Jakarta hari ini, Jakarta yang setelah kepulanganmu ke negeri leluhur, terus berubah dan menyisakan banyak ironi. Saya tidak tahu, kalau kau datang lagi ke Jakarta, apakah kau masih tetap mencintainya atau malah sebaliknya. Bahwa pada akhirnya kau menulis buku tentang kerinduanmu pada Indonesia saya ucapkan terimakasih. Bagaimana pun, setiap orang berhak mengungkapkan perasaan dan pengalaman hidupnya.

Sampai di sini dulu surat saya, Kato San. Lain waktu insyaAllah disambung lagi.

Salam

Denting Piano untuk Sebuah Fragmen

Kau pun tahu, di saat hujan rajin mengguyur Jakarta akhir-akhir ini, frekuensi saya pergi ke warung kopi menjadi meningkat. Tidak melulu minum kopi memang, adakalanya memesan mie rebus atau bubur kacang ijo. Namun apa pun menunya, selalu saja ada orang yang bisa diajak bicara; entah itu si Ijong (penjual kopi), tukang ojek, mahasiswa berkantong pas-pasan, tukang judi bola, pengangguran, atau sekali waktu pernah juga ngobrol dengan seorang perempuan cantik. Masih muda, umurnya sekira terpaut empat tahun di bawah saya. Tak sempat bertanya tentang nama, pekerjaan dan rumahnya, karena pembicaraan dengan cepat bergulir.

Mula-mula saya terpikat dengan kecantikannya, namun selain itu dia juga punya selera musik yang bagus. Darinya saya kemudian tahu kalo Jaya Suprana, seorang tua yang kerap terlihat berat dan ringkih rupanya pernah belajar piano di Jerman. Waktu beliau masih muda, seorang mahapianis Friderich Gulda pernah berkomentar bahwa pianis dari Indonesia ini memiliki bakat musik dan pianistik “extraordinaire”.

Dalam usianya yang sudah lebih dari 60 tahun, kini Jaya Suprana, seperti kata perempuan cantik itu, “mendayagunakan perbendaharaan teknik pianistik termasuk teknik olah warna bunyi, dan belaian jari-jemari ‘extraordinaire’ pada gamitan pianoforte untuk menafsirkan dan menjabarkan mahakarya-mahakarya penggubah lagu Indonesia yang namanya diabadikan dalam sebuah taman pusat kesenian di Jakarta; Ismail Marzuki.”

Ketika hujan mulai reda, dan malam beranjak, perempuan itu mengeluarkan sebuah CD musik. “Kau cobalah dengar ini, semoga suka. Minggu depan kita ketemu lagi di sini.” Kemudian dia pamit tanpa sempat saya dapatkan nomor ponsel atau PIN BB-nya.

Di kamar kontrakan, sambil rebahan di kasur, saya coba putar CD musik itu. Sementara pikiran melayang ke perempuan cantik tadi. Sebentar saya sempat menebak-nebak ihwal nama, pekerjaan dan alamat rumahnya, namun kantuk sudah tiba di pelupuk mata. Dan saya terbang entah ke mana…

***

Saya setengah tak percaya, perempuan cantik itu tengah duduk di bangku kereta. “Hai”, lambaian tangannya mengantarkan saya untuk mendekatinya. “Kamu dari mana?” hanya senyuman, tak ada jawaban. Ya, senyum yang gilang-gemilang, tak jemu dipandangnya, seperti bintang timur yang sedang mengembang. Dia kemudian mengulurkan tangan, “Aryati.” Hampir saja tangannya saya cium, namun siapa yang berani melakukannya pada seorang seni pujaan seperti dia. Dan pembicaraan mengalir seiring kereta yang terus melaju. Tak terasa kereta telah tiba di station Jatinegara, kami harus berpisah. Sebelum turun, dia menyelipkan secarik kertas ke saku kemeja; sebuah alamat rumah.

Maka sudah dapat ditebak kelanjutannya. Kamar kontrakan tiba-tiba sesak oleh rindu. Wajah yang seperti lukisan menerbitkan imajinasi tentang kumbang dan bulan. Ada perasaan terlampau jauh untuk menjangkaunya. Seorang penggubah lagu menulisnya begini, “mungkinkah bulan merindukan kumbang, dapatkan kumbang mencapai rembulan.”

Namun ditakdirkan terlahir sebagai laki-laki tak ada alasan untuk mundur sebelum bertempur. Esok harinya, ketika hari sedang libur, saya meluncur ke alamat yang tertulis di kertas yang diselipkan Aryati. Dalam perjalanan, sepasang mata bola seperti tengah memperhatikan. Barangkali pemilik sepasang mata bola itu bertanya-tanya, “hendak pergi ke mana kau anak muda?” Ikuti saja, kau pun akan tahu siapa yang akan menyambut di pintu rumah itu. Dengan menunaikan kerinduan ini, saya adalah pahlawan bagi diri saya sendiri.

Hujan titik-titik turun. Sekira dua puluh meter dari gang tempat saya masuk, seseorang tengah melindungi dirinya dengan payung. Resam tubuhnya begitu memesona. Dari perempuan dan payung itu lahirlah fantasi, dan bertubi-tubi sehimpunan pertanyaan; Siapa gerangan?, apakah bidadari dari surga atau burung kenari?. Siapa gerangan?, cendrawasih dari bulan ataukah si bintang siang?.

Saya mempercepat langkah hendak mengejarnya. Tepat di depan sebuah rumah, dia membuka pintu pagar. Lalu wajah yang sedari tadi tersembunyi tiba-tiba menampakkan cantiknya. “Aryati!” Senyuman mengembang, dan di beranda rumahnya kami membicarakan banyak hal. Salahsatu yang saya ingat, kami membicarakan kiprah para srikandi bangsa di masalalu. Waktu Jakarta dikuasai Belanda dan sekutu, di tapal batas Bekasi sebagai basis tentara republik, banyak remaja putri yang bahu-membahu membantu para pemuda. Mereka mengangkat senjata, merawat korban pertempuran, dan sibuk di dapur pusat logistik. Dengan simpati yang dalam, Aryati menyebutnya “Melati di Tapal Batas”.

Namun yang paling saya ingat adalah sedikit perdebatan tentang gender. Saya berjejak pada pendapat bahwa pria ditakdirkan berkuasa atas wanita, dan wanita kerap dijajah pria dari dulu, begitu kenyataannya. Siapa yang bisa menyangkal jika wanita adalah perhiasan sangkar madu?. Aryati tak sepenuhnya setuju. Paras cantiknya kemerah-merahan ketika dia mengungkapkan pendapatnya. Di penghujung kuasa katanya, dia berucap, “Benar wanitu itu lemah, lembut, dan manja. Namun adakalanya pria tak berdaya, dia bisa tekuk lutut di sudut kerling wanita.” Jleb!. Begitu menghujam.

Kemudian hari menjadi sore setelah itu. Saya pamit hendak pulang. Aryati mengantar sampai ke pintu pagar. Setengah berbisik dia berkata, “Besok aku hendak pulang ke Bandung Selatan. Entah kapan kita bisa bertemu lagi, bawalah ini sebagai kenang-kenangan,” dia memberikan sebuah sapu tangan. Hujan pertanyaan begitu deras di kepala. Namun sebelum satu pun terjawab, Aryati telah kembali ke dalam rumah.

Sayap ini terasa patah. Jalan pun berat. Bagaimana caranya mendefinisikan perasaan yang baru kuncup, lalu tiba-tiba layu sebelum benar-benar berkembang. Aryati hendak pergi, dan jarak geografis yang membentang telah menghadang di depan. Hujan kembali turun, sekali ini begitu deras. Pandangan kabur. Pada sebuah belokan yang licin kaki terpeleset, dan tubuh menghantam bumi.

***

Setengah sadar saya mengerang memegangi kepala yang membentur tembok kamar. Rupanya tadi saya bermimpi. Sementara laptop masih memutar denting piano Jaya Suprana memainkan lagu-lagu gubahan Ismail Marzuki. [ ]

Lonceng Kematian Toko Buku

Sekira empat tahun yang lalu, di jalan Sumur Batu, persis di sebelah jembatan terdapat kios buku. Tapi kini sudah berganti menjadi warteg.

Mbak penjaga kios itu sering terlihat terkantuk-kantuk. Pengunjung sepi. Seringkali saya dapati, hanya saya sendiri yang tengah melihat-lihat buku yang berjajar memenuhi rak. Saya membeli beberapa buku dakwah dan pergerakan Islam di sana. Dalam benak sering bertanya-tanya, “dengan pengunjung yang sangat minimal, apakah kios buku ini bisa bertahan lama?” Lalu empat bulan setelah itu, kios buku tutup. Dan empat hari setelahnya, buku berganti dengan menu makan sehari-hari.

Alangkah cepat aksara terenggut dari lalu-lintas ekonomi. Saya sedikit menyesali kematian kios buku ini. Namun kenyaatan tak bisa dipungkiri, orang-orang masih lebih membutuhkan makanan daripada sebuhul imajinasi. Setidaknya di jalan Sumur Batu.

***

Kemarin, sehabis menjenguk seorang kawan di rumah sakit Persahabatan, Rawamangun, untuk kesekian kalinya saya sempat juga singgah ke toko buku Eureka di jalan Balai Pustaka. Tidak seperti biasanya. Jika hari-hari sebelumnya toko buku ini sepi, maka saat itu keadaannya berubah; menjadi sangat sepi.

Seorang mbak kasir yang manis melemparkan senyum, namun terasa getir. Hampir semua barang dikenakan diskon. Rak-rak buku banyak yang kosong, CD musik tinggal tersisa beberapa keping, dan majalah-majalah telah hilang. Tangga menuju lantai dua sudah tidak ada, satpam yang biasa membukakan pintu entah ke mana, dia juga tiada. Waktu saya bertanya ihwal beberapa “kehilangan”, mbak kasir manis menjawab, “mau segera tutup mas.” Dari jawabannya tersimpan nada suara tentang pekerjaan yang akan segera lenyap.
Di pojok ada bocah dan ibunya yang sedang membuka-buka buku pelajaran. Sementara di pojok yang lain seorang bapak sibuk memilih buku-buku entah apa. Saya sendiri pada akhirnya hanya membeli sekeping CD Efek Rumah Kaca; Kamar Gelap. Waktu bayar senyum manisnya timbul lagi.

***

Saya telah mencoba sinis, namun tidak bisa. Ihwal kios dan toko buku yang gulung tikar itu saya pikir karena kesalahan strategi. Posisi tempat menjadi kunci. Bukan salah jalan Sumur Batu dan Balai Pustaka, namun jika kita lihat pasar buku di Senen dan Palasari, adakalanya barang seperti itu memerlukan sistem oligopoly, pasar barang sejenis.

Dengan Gramedia sebagai pengecualian (meskipun Gramedia ITC Cempaka Mas tutup juga), contoh lain adalah tentang sepinya toko Gunung Agung yang terletak di depan Markas Marinir di Kwitang. Toko Gunung Agung lama yang terdapat tidak jauh dari halte bus way Senen cenderung lebih ramai, karena di sebelahnya ada beberapa toko buku kecil yang masih bertahan. Tidak bisa dibohongi, bahwa calon pembeli seringkali membutuhkan pembanding sebelum memutuskan membeli suatu barang.

Di jalan Sumur Batu yang nampak hanyalah warung-warung kecil yang menjual rokok dan sembako. Kalau sore tiba, trotoar dan bahu jalan dikusai tenda-tenda biru para penjaja makanan. Toko buku yang telah gulung tikar persis sendirian di tengah kepungan niaga pangan. Pun begitu, meskipun di ujung jalan Balai Pustaka berjajar warung-warung fotocopy dan ATK, namun posisi Eureka dikepung para penjual makanan.

Harga pun tidak bersaing, dengan jumlah koleksi buku yang sangat lebih sedikit dibandingkan toko buku raksasa, Eureka nyaris tidak punya daya jual yang kuat selain interior yang didesain cukup nyaman. Maka lonceng kematian pun berbunyi. Dalam bauran pemasaran kita mengenal empat pilar; product, place, price, promotion. Kiranya teori lama itu masih ampuh mencekik siapa saja yang abai kepadanya.

Maka pada beberapa kasus toko buku yang sepi pengunjung dan kemudian gulung tikar, muncul sebuah kesadaran bahwa selain minat baca yang masih kurang menggembirakan, juga strategi pemasaran menjadi ujung tombak. Idealisme koyak bersama pasar yang sepi, sementara pemasukan harus tetap terjaga demi keberlangsungan hidup.

Waktu mendengarkan Jangan Bakar Buku dari ERK, saya kira lirik ini bisa ditujukan kepada apa pun, termasuk kepada lemahnya strategi pemasaran :
Kata demi kata mengantarkan fantasi
Habis sudah, habis sudah
Bait demi bait pemicu anestesi
Hangus sudah, hangus sudah [ ]

Antara Taman dan Makam

Barangkali tidak kurang dari dua kali saya pernah melihat mobil tangki itu. Pertama di sekitar Monas, malam hari waktu pulang ke arah Pulo Gadung dengan Transjakarta. Yang kedua di Bandung, di gerbang komplek Batu Nunggal, tepat dari pinggir jalan yang bernama Jalan Waas. Mobil tangki berisi air itu bertuliskan “Dinas Pertamanan dan Pemakaman”. Taman dan makam. Kenapa dua urusan ini digabungkan dalam satu organisasi?. Bukankan taman terkait dengan hal-hal keindahan, dan makam berurusan dengan kematian, sesuatu yang sering dipersepsikan menakutkan?.

Bre Redana sempat menulis, bahwa keindahan dan kematian umumnya hanya dilakukan di ranah filsafat. Para filsuf suka menghubung-hubungkan keduanya, katanya. Dia menambahkan, “apakah pencipta struktur birokrasi pemerintahan di Indonesia ‘seprogresif’ para filsuf pemikirannya?”

Pertanyaan itu, di benak saya, sekarang perlahan mulai mencair. Saya menyangka, jangan-jangan yang memutuskan penamaan dinas itu adalah seseorang yang pada malam pergantian tahun duduk di jemuran, melihat kembang api di udara, dan ber-solilokui, nggremeng, bicara sendiri; dalam hati. Dia melihat ulang masalalunya.

Goenawan Mohamad, dalam Caping edisi 26 November 2013 menulis, “Kadang-kadang orang merasa perlu untuk lepas dari sejarah, telanjang kembali di pulau imajiner yang tak bercatat, karena peradaban bisa menakutkan.”

Tapi memang hanya sebatas “merasa perlu”, sebab pada kenyataannya tak seorang pun bisa melepaskan diri dari jubah sejarah yang telah ditorehkan dan mengiringinya. Kita tak bisa lagi “telanjang” seperti waktu baru lahir, sebab jubah sejarah diciptakan seiring pergerakan waktu, dia adalah satuan saat yang diisi dengan laku badan dan pikiran. Laksana air, sejarah mengalir perlahan, dia menghentak jika hanya ada angin sebagai kehendak.

Setiap pribadi mempunyai setapak jalan untuk dilalui sang sejarah, dan terhenti ketika dijemput mati. Maka masalalu tak jarang dianggap penting untuk mengukur sejauh mana “air” mengalir dan “angin” menghentak. Sebagian orang menyebutnya evaluasi, untuk kemudian melahirkan resolusi. Dari evaluasi ke resolusi biasanya terjadi lompatan yang cukup mengagumkan, berisi tentang rencana-rencana hebat yang akan dilakukan. Namun tak jarang resolusi hanya sebuah orgasme akhir tahun yang kemudian mati mengenaskan karena kehilangan konsentrasi.

Bibit-bibit yang akhirnya tewas disembelih waktu itu pada mulanya disemai dari melihat masalalu. Yang terentang di belakang, sesungguhnya adalah kumpulan peristiwa manis dan pahit. Beauty and death. Taman dan makam. Langit jiwa manusia niscaya benderang dan mendung di sepanjang tahun, dia begitu dinamis.

Para mahasiswa melemparkan topi ke udara sambil berpakaian ala Rama Aiphama demi mengalirkan perasaan gembira telah lepas dari “tirani” kampus. Sebagian sibuk berfoto dan cipika-cipiki dengan teman-teman perempuannya. Kelak foto dengan baju kedodoran itu akan dipajang di ruang tamu dengan bangga. Ibunya bergumam, “inilah anakku, dia lulusan terbaik dan bukan sarjana roti wahai kau Iwan Fals!.” Namun tak lama kemudian mahasiswa itu merunduk lesu sebab panggilan kerja belum juga datang, sementara kiriman dari orangtua sudah dihentikan. Cuaca begitu cepat berubah. Di titik ini kita tak memerlukan seorang filsuf untuk menghubungkan bahwa memang taman begitu dekat dengan makam.

Pada masalalu ada kenangan-kenangan manis yang sayang untuk dibuang, ada pula harapan-harapan yang mati terkubur mengenaskan. Manusia hidup di antara dua situasi tersebut. Ada kesuksesan karir, cinta berlabuh di pelaminan, kehadiran anak, dan liburan yang menyenangkan. Namun sekaligus juga ada aib pribadi yang melongsorkan moral, kegagalan wawancara kerja, cinta kandas tersuruk-suruk, dan jatah cuti yang habis tidak dipakai untuk berlibur. Cuaca riwayat kehidupannya senantiasa berubah, dia seperti ingin membenarkan sebuah ungkapan “bahwa yang abadi hanyalah perubahan.”

Saya  teringat pada nama jalan waktu melihat mobil tangki milik Dinas Pertamanan dan Pemakaman di Bandung. “Waas” adalah bahasa Sunda yang secara harfiah berarti terkenang kepada yang pernah dialami. Sekilas scene saya berdiri di Jalan Waas dan membaca tulisan di mobil tangki itu menjadi terkesan puitik. Seperti simbol-simbol yang dihadirkan untuk berlaku adil dalam memperlakukan masalalu.

Beberapa saat setelah masalalu tiba-tiba menjadi masakini, dan masadepan pun telah menunggu. Rangkaian tiga masa inilah yang ditumbuhi taman dan makam. Resolusi kita susun untuk membuat taman, tapi ketika terlahir premature atau bahkan diaborsi, resolusi pun berubah menjadi makam.

Saya tak hendak mengucapkan Selamat Tahun Baru. [ ]

Keping Rindu

Baru-baru seorang kawan semasa SMA datang ke Jakarta. Dia seorang aparat kepolisian yang bertugas di Kalimantan Tengah. Kami bertemu dan ngobrol sampai larut malam bahkan dini hari. Maklum sudah hampir 12 tahun tidak bertemu. Singkat kata panjang perihal, dia mengajak saya untuk kerja di Kalimantan. “InsyaAllah banyak peluang bagus,” katanya. “Baik, biar saya timbang terlebih dahulu,” jawab saya pendek. Lusa setelah pertemuan itu dia pulang ke tempat bertugasnya.

Ihwal ajakan ini saya utarakan kepada kawan lain yang bekerja di Jakarta. Maka masukan dan nasihat menghambur serupa air hujan. Namun di penghujung bicaranya dia bilang, “Jangankan ke Kalimantan, saya mah di Jakarta juga sering kangen ke kampung halaman. Paling lama juga sebulan, setelah itu pasti pulang ke Sukabumi.” Saya hanya mendengarkan saja.

Di kontrakan bu haji tempat saya tinggal, sepulang kerja sudah nampak si Jun, kawan yang berasal dari Padang Panjang. Sehari-hari dia berdagang di ITC Cempaka Mas. Air mukanya nampak tidak sedang gembira, tidak seperti biasanya. Saya tanya, dan begini rupa jawabannya, “gua udah empat tahun ga pulang ke Padang, udah empat kali lebaran ga ketemu sama ibu gua, kangen juga ternyata.” Amboi, rupa-rupanya dia teringat kampung kelahiran.

Dan sore ini, di mikrolet 53 yang hendak meluncur ke Kota, abang sopir memutar lagu-lagu Batak. Tak paham memang saya artinya, namun ada sepotong lirik berbunyi begini, “Oh tanah Batak…oh tanah Batak…” Barangkali si abang juga tengah teringat tanah moyangnya. Seketika saya teringat sebait sajak Saut Situmorang.
O Jakarta metropolis pertama
Dongeng yang jadi silau mata
Makin sayup kini suara ibu
Dalam hiruk pikuk karnaval aspal hitammu
Dalam lamunan sore, saya menerka, rupa-rupanya kota ini telah menerbitkan kerinduan. Jakarta adalah keping-keping jiwa yang merindu pada tanah asal, tempat mula-mula ari-ari ditadah dan ditanam. Ketika tempat ibu mengayun dan menggendong jauh dipisahkan batas dan waktu, Jakarta mewujud sempurna sebagai tempat rantau yang meruncingkan gundah.

Namun di jalanan, hakikat kerinduan lenyap dalam keberingasan. Orang-orang berlomba saling serobot marka. Klakson bersahutan-sahutan sebagai nada usiran bukan mengingatkan. Waktu lampu merah menyala, pengendara terbiasa berhenti di zebra cross, pejalan kaki menyeberang penuh rasa was-was. Dalam macet yang mencekik, para pengendara motor tiba-tiba mengusai trotoar, sedangkan mobil merampas jalur khusus bus. Tak jarang terjadi perkelahian sesama pengendara roda dua, baku hantam di tengah jalan.

Seringkali saya berpikir, mencoba menghubung-hubungkan, bukankah rasa rindu akan kampung halaman mestinya menebarkan kearifan?. Di kampung, di mana keakraban sosial begitu menyengat dalam keseharian, mengapa tak juga menular ketika raga di rantau orang, terutama di jalanan. Mudik sebagai ritual meluruhkan rindu, yang kerap dibayar mahal dengan beratus-ratus tumbal kecelakaan lalu-lintas, kiranya kemesraan bersua dengan karib-kerabat, handai-taulan, tak dibawa di belantara jalanan yang semakin ganas. Sisi kemanusiaan tergadai, hilang entah ke mana, dia muncul lagi hanya ketika berkumpul dengan keluarga.

Keping rindu tidak kita temukan di jalanan yang terburu-buru. Barangkali saya berlebihan, namun penafsiran seperti apa yang terbit demi melihat bapak tua berlari untuk menyeberang, sedangkan lampu jalan tengah merah. Para pengendara tak kuasa menahan sabar melewati beberapa detik kendaraan terhenti. Di jalanan, peradaban tercermin dengan begitu telanjang.

Majalah Tarbawi edisi 15 Februari 2007, dengan begitu menghujam menulis kajian utamanya : Begitu Keluar Rumah Sering Kita Terlibat Pertikaian Murahan. Ya, rumah di sini, dan kampung halaman di sana; dua tempat yang kerap menyuburkan rindu, tak mampu menjadi “penerang” bagi para pengacau jalanan. Mereka seolah menaruh semua cinta, dan melaju dengan jiwa nirtoleransi. Biarlah, biarlah catatan ini disebut hiperbola.

“Kalau kau pergi, anakku. Siapa lagi kan menghibur hati ibu?” Begitu bait pembuka dalam sajak Andung-andung Petualang Saut Situmorang. Ya, di jalanan, kemesraan seperti itu telah tercerabut, tepat ketika “sang anak” pergi ke rantau dan tidak lagi bisa menghibur hati ibu. [ ]